Reportase Webinar Outlook Bencana Kesehatan 2020

outlook1

Reportase Webinar

Outlook Bencana Kesehatan 2020

Yogyakarta, 16 Januari 2020


outlook1

Dok. PKMK FK – KMK UGM “Outlook Bencana Kesehatan 2020”

 

Pengantar     

Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK – KMK UGM mengadakan diskusi outlook bencana kesehatan 2020 dengan mengangkat isu rumusan penguatan dinas kesehatan dalam menghadapi bencana dan krisis kesehatan termasuk penguatan pembiayaan, koordinasi lintas program dan kerja sama perguruan tinggi di daerah. Kegiatan ini dilakukan juga melalui webinar dengan sasaran peserta dari dinkes provinsi/kabupaten/kota, rumah sakit, puskesmas, BPBD provinsi/kabupaten/kota, Fakutas Kedokteran/Kesehatan Masyarakat, peneliti, mahasiswa dan pemerhati bencana kesehatan. Dari hasil diskusi outlook terdapat dua poin penting yang menjadi perhatian khusus yaitu penguatan dinkes provinsi dan penguatan peran perguruan tinggi dalam penanggulangan bencana sektor kesehatan.

Pelaksanaan

Peserta yang menghadiri langsung outlook sebanyak 25 orang dan diikuti secara webinar dari 38 titik di Indonesia. Materi yang disampaikan terbagi menjadi dua yaitu outlook krisis kesehatan Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes dan outlook bencana kesehatan Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK – KMK UGM. Kemudian ditanggapi oleh pembahas dan diskusi dengan peserta.

outlook2

Dok. Peserta Webinar “Peserta Webinar dari FK Universitas Tadulako (kiri) dan FK Universitas Alkhairaat (kanan)

 Outlook Pusat Krisis Kesehatan Tahun 2019 – 2020

Materi ini disampaikan oleh dr. Budi Sylvana, MARS selaku Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes Indonesia. Jumlah kejadian bencana tertinggi 2019 terjadi di Jawa Barat, DKI, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Riau. Konsentrasi penduduk Indonesia banyak di provinsi tersebut. Hasil pantauan Pusat Krisis Kesehatan data kejadian bencana pada 2019 terdapat 2.954 bencana. Jumlah korban krisis kesehatan 2019 kurang lebih 2,5 juta jiwa dan lebih dari 1 juta penduduk yang mendapatkan pelayanan kesehatan rawat jalan. Paradigma manajemen bencana sekarang ini adalah pengurangan risiko bencana dengan tidak mengesampingkan program respon. Selama ini rata – rata masalah yang muncul di lokasi pengungsian adalah keterbatasan ketersediaan air bersih. Selama 2015 – 2019 Pusat Krisis Kesehatan telah melakukan intervensi ke Kabupaten/Kota dengan kegiatan asistensi kapasitas kabupaten/kota dalam manajemen krisis kesehatan. Pada 2020 akan difokuskan ke penguatan provinsi yaitu melalui asistensi kapasitas manajemen krisis kesehatan, pendampingan penyusunan peta respon, pendampingan penyususnan rencana kontijensi, table top exercise dan simulasi. Selengkapnya DISINI

outlook3

Dok. Peserta Webinar “Materi Outlook Krisis Kesehatan tahun 2019-2020”

Kaleidoskop dan Outlook Bencana Kesehatan dari Divisi Manajemen Kesehatan PKMK FK – KMK UGM

Materi ini disampaikan oleh dr. Bella Donna M.Kes selaku Kepala Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK – KMK UGM. Secara umum, beberapa kegiatan yang dilakukan oleh divisi adalah respon bencana, call for proposal, kurikulum/pelatihan/buku, kerjasama/pendampingan, konferensi dan publikasi. Penguatan provinsi dalam penanggulangan bencana menjadi tantangan bersama. Ketahanan kesehatan, klaster kesehatan dan rencana kontijensi menjadi kegiatan penting bagi dinas kesehatan. Outlook Divisi Manajemen Bencana Kesehatan 2020 akan melakukan upaya penguatan ketahanan kesehatan di Kabupaten/Kota melalui penyusunan dokumen rencana penanggulangan bencana dan krisis kesehatan yang operasional sesuai dengan ancaman masing – masing daerah (disimulasikan, dikomunikasikan ke lintas sektor). Pada 2020 ada beberapa program yang dilakukan bekerja sama dengan Caritas yaitu pendampingan Sulawesi Tengah melalui perluasan pendampingan ke Kota Palu dan Kabupaten Donggala. Akan dilaksanakan juga Training of Trainer (ToT) untuk pendampingan penyusunan dokumen dinkes, rumah sakit dan puskesmas. Dimana sasaran ToT ini adalah dinas kesehtan dan perguruan tinggi (FK Universitas Tadulako dan FK Universitas Alkhairaat), harapannya setelah pelaksanaan ToT pendampingan ke kabupaten lainnya bisa dilakukan oleh sumber daya lokal. Selengkapnya DISINI

outlook4 

Dok. PKMK FK.KMK UGM “Sesi Materi Kaleidoskop dan Outlook Bencana Kesehatan”

 

Pembahas

dr. Hendro Wartatmo, SpB – KBD

Pengetahuan kita terkait bencana belum terstruktur, pendidikan bencana juga belum menyeluruh. Kita lihat banjir Jakarta, kelihatannya ada ketidaksinkronan early warning system antara BPBD DKI dengan aparat DKI. Artinya ilmu terkait bencana ini belum meluas. Saat ini kita berusaha kearah bagaimana menerapkan ilmu kebencanaan ini.

Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, PhD

Membahas dalam konteks waktu dan ada efek samping dari politik dalam bencana ini. Siap tidak negara, pemerintah dengan masyarakat itu bekerja sama? Kerja sama ini akan rumit pada era teknologi dan digital sekarang ini. Pertanyaan selanjutnya adalah dimana peran perguruan tinggi? Harapannya jangan sampai lengah, karena variasi bencana ini semakin banyak. Kira membutuhkan sumber daya lokal untuk mengembangkan manajemen bencana kesehatan ini di masing – masing daerah.

Sakinah SE, MT

Dinkes Sulawesi Tengah sudah menyusun peta rawan bencana di kabupaten/kota. Contohnya frekuensi bencana banjir di Kabupaten Sigi sangat tinggi. Dinkes juga sudah membentuk tim dalam klaster kesehatan dan sekarang dokumen dinkes disaster plan atau sering disebut dengan rencana kontijensi sudah disusun dan sekarang masih proses tahap revisi dimana penyusunan dokumen tersebut didampingi langsung oleh PKMK FK – KMK UGM. Pada 2020 ini program – program kita di bidang UPT K2T telah didiskusikan juga dengan PKMK FK – KMK UGM dan dalam pelaksanaan program ke depan akan tetap bekerja sama. Pendampingan dari perguruan tinggi ini sangat dibutuhkan. FK Universitas Alkhairaat juga menambahkan bahwa mereka memiliki visi kesehatan matra, jadi sangat mendukung pelaksanaan program penanggulangan bencana kesehatan. Pengembangan melalui kurikulum bencana di universitas akan tetap dilakukan dan tentu tidak lepas dari arahan dinas kesehatan.

outlook5

Dok. PKMK FK-KMK UGM “ Sesi Pembahas dan Diskusi”

Diskusi :

Pada sesi diskusi, peserta menanyakan beberapa hal berikut :

  1. Terkait rancangan kurikulum nasional tentang kebencanaan yang bisa diaplikasikan sebagai panduan. à Fakultas Kedokteran yang memiliki kurikulum bencana itu masih sedikit. Masalahnya berbeda, jikakurikulum untuktrauma itu sudah ada polanya namun kalau di manajemen belum ada. Melihat dari SNI terkait tentang pendidikan kebencanaan kesehatan, kalau untuk UGM sendiri sudah melewati batas-batas SNI yang ada Dikti. Inilah yang menjadi tantangan, harapannya tahun ini kita bisa mengaktikan forum perguruan tinggi untuk menyamaratakan kurikulum bencana kesehatan di fakultas kesdokteran bencana. Perluasan pendidikan ini juga bisa dimasukkan melaluiKKN tematik mahasiswa yang dikirimkan ke daerah rawan bencana.
  2. Pembagian tugas dalam penanggulangan bencana, sistem koordinasi lintas sektor, siapa yang menjadi leading –
    • Pada program BPBD DIY sudah mengembangkan sistem bersama sama dengan sektor lainnya. Akan ada gladi posko dan gladi lapangan untuk melatih sistem. Jadi dari kegiatan tersebut akan terlihat masing – masing peran dari sektor. SK Klaster kesehatan DIY sekarang ini sudah disusun, klaster kesehatan sudah beberapa kali melakukan rakornis, ini merupakan salah satu strategi untuk pembagian tugas dan pemahaman peran masing – masing institusi
    • Pada dinkes DIY terkait klaster kesehatan, mengikuti sistem yang sudah dibentuk oleh BPBD, mengikuti komando yang sudah ditentukan di ICS saat bencana. Dinkes juga mencoba membuat mekanisme pengorganisasian sistem komando bencana ini pada Dinkes Kesehatan Kabupaten/Kota, dan sistem pengorganisasian ini juga menyesuaikan dengan ICS yang ada di BPBD.
  3. Bagaimana pendekatan secara manajemen terkait dengan bencana sosial.
    • Pendekatan yang akan dialkuakn baik itu bencana sosial akan dilakukan Dinkes Provinsi langsung jadi provinsi sebagai aktor atau pelaku pada kabupaten dan kota

 

Reporter : Happy R Pangaribuan

Laporan Kegiatan Sosialisasi dan Persiapan Table Top Exercise Penanggulangan Bencana Sektor Kesehatan Sulawesi Tengah

tot 1

Laporan Kegiatan

Sosialisasi dan Persiapan Table Top Exercise Penanggulangan Bencana Sektor Kesehatan Sulawesi Tengah

7 – 9 Januari 2020


tot 1

Pengantar

Berbagai kegiatan telah dilakukan dalam penguatan sistem manajemen dan kapasitas sumber daya sektor kesehatan dalam penanggulangan bencana Sulawesi Tengah. Salah satunya telah dilakukan kegiatan penyusunan dan pendampingan dokumen dinkes disaster plan (Dinkes Prov. Sulteng dan Dinkes Kab. Sigi), dokumen hospital disaster plan RSUD Tora Bello Sigi dan dokumen puskesmas disaster plan Puskesmas Marawola. Proses penyusunan dokumen tersebut didampingi oleh PKMK FK – KMK UGM dan sudah berproses selama kurang lebih 9 bulan. Tujuan penyusunan dokumen ini sama yaitu untuk meningkatkan koordinasi antar sektor dan lintas program yang terlibat dalam penanggulangan bencana baik pada fase pra bencana, saat bencana dan pasca bencana.

Banyak sektor dan lintas program yang terlibat saat pengaktifan klaster kesehatan dimana semua proses pengaktifan klaster kesehatan tersebut telah tercantum dalam dokumen. Dengan demikian dokumen ini penting untuk disosialisasikan kepada pihak – pihak yang terlibat dan diuji apakah dokumen sudah operasional. Salah satu cara yang dilakukan adalah table top exercise. Kegiatan table top exercise membutuhkan persiapan yang matang seperti pemahaman terhadap dokumen yang akan diuji coba, penyusunan skenario, dan penyusunan pemain. Kegiatan ini menjadi wadah bagi dinas kesehatan, rumah sakit, puskesmas, BPBD, dinas sosial, dan sektor lainnya untuk berdiskusi hal – hal yang perlu dipersiapkan pada table top exercise.

Pelaksanaan

{tab title=”Hari 1″ align=”justify” class=”red” }

Selasa, 7 Januari 2019

Kegiatan diawali dengan pembukaan singkat dari Kepala Dinkes Provinsi Sulteng kemudian dilanjutkan dengan penjelaskan tujuan dari pertemuan. Agenda pertemuan ini adalah refleksi kegiatan PKMK dan Caritas 2019, persiapan TTX Februari 2020 dan finalisasi dokumen dinkes disaster plan. Saat penyusunan dokumen dinkes disaster plan, UPT P2KT Dinkes Provinsi Sulteng belum terbentuk sehingga perlu dilakukan penyesuaian dokumen dengan UPT P2KT. Kadinkes menyampaikan bahwa dokumen ini sudah didukung oleh sekda provinsi.

tot 2

Dok. PKMK FK – KMK UGM “Diskusi internal refleksi kegiatan PKMK dan Caritas 2019, persiapan TTX Februari 2020”

 

{tab title=”Hari 2 ” class=”green”}

Rabu, 8 Januari 2019

Pertemuan di Dinkes Provinsi Sulteng

Kegiatan dibuka kembali oleh Dinkes Provinsi Sulteng. Sulteng menjadi etalase bencana artinya harus benar – benar mempersiapkan perencanaan penanggulangan bencana. Agenda sekarang adalah penyampaian rencana program 2020 dan sosialisasi persiapan table top exercise. Pendampingan disaster plan ini juga akan dilanjutkan pada 2020, harapannya kota Palu bersedia untuk didampingi, jika Donggala juga bersedia akan didampingi secara bersamaan. Dinkes Kota Palu memberikan tanggapan bersedia untuk didampingi, demikian halnya dengan Dinkes Kabupaten Donggala bersedia untuk didampingi rencana ini akan disampaikan ke kepala Dinkes Kabupaten Donggala

Selanjutnya adalah pemaparan persiapan table top exercise yang disampaikan oleh Kepala UPT P2KT. Terkait persiapan table top exercise yang dibicarakan adalah tanggal kegiatan, tempat kegiatan, list pemain, kepanitiaan. Rencana ttx dilaksanakan 3 hari pada Februari 2020.

Pertemuan di RS Tora Belo

Pertemuan ini betujuan untuk mendorong RSUD Tora Bello untuk menyempurnakan dokumen hospital disaster plan. Tim PKMK FK – KMK UGM bersama dengan Dinkes Prov. Sulteng dan Dinkes Kab. Sigi memotivasi RSUD Tora Bello untuk bersama – sama menguji dokumen yang telah disusun. Masing – masing institusi akan mengujicobakan dokumen disaster plan ini, artinya kita sama – sama membuat skenario dan menyelenggarakannya. Direktur RSUD Tora Bello menekankan TTX ini adalah bagaimana kita melihat kejadian lalu. Idealnya pengujian dilakukan di lokasi masing – masing, simulasi sebenarnya sudah dilakukan pada saat kejadian lalu. Beda tempat bencana tentu beda cara menanggulangi. Agar dokumen benar – benar sesuai dengan kebutuhan masing – masing instansi maka TTX sebaiknya dilakukan di masing – masing instansi.

{tab Hari 3 } 

Kamis, 9 Januari 2019

Kegiatan ini terbagi menjadi dua, yaitu sosialisasi dokumen disaster plan dan diskusi skenario kegiatan table top exercise. Pihak eksternal yang mengikuti pertemuan ini adalah BPBD Provinsi, FK Universitas Tadulako, FKM Universitas Tadulako, FK Universitas Alkhairaat, DVI Bidekkes, dan Dinas Sosial Provinsi. Pada pembukaan dari Dinkes Provinsi menekankan kembali bahwa dinkes sudah dibantu dengan adanya dokumen ini, jadi masing – masing institusi harus memahami apa yang menjadi tupoksinya saat bencana terjadi. Selanjutnya sosialisasi dokumen dinkes disaster plan provinsi Sulteng dan Kabupaten Sigi serta pemaparan skenario besar TTX.

tot 3

Masing – masing undangan menyampaikan peran mereka dalam kegiatan ini. Peran Dinsos Provinsi adalah permintaan dapur umum, ada relawan TAGANA (kesehatan, psikologi) yang akan berkoordinasi dengan sub klaster kesehatan jiwa dan ada sub klaster shelter. Peran FK Universitas Tadulako adalah tim bantuan medis dan pelayanan kesehatan RSPDN. Peran FKM Universitas Tadulako adalah ada manajemen bencana dan kesling pasca bencana. Peran FK Universitas Alkhairaat adalah ada TBM arteria dan beberapa mahasiswa dilibatkan ke Sigi dan Prov untuk data informasi. Peran DVI Bidekkes pada kasus pelaporan (data dan informasi) dan permintaan rujukan. BPBD Kab. Sigi sudah mempunyai renkon dan ada kesehatan juga dalam dokumen dimana dokumen renkon tersebut juga sedang direvisi. BPBD akan berperan sebagai komandan.

{/tabs} 

Reporter : Happy R Pangaribuan

Reportase Webinar Peringatan 15 Tahun Tsunami Aceh (2004 – 2019)

15th aceh 1

Reportase

Webinar

Peringatan 15 Tahun Tsunami Aceh (2004 2019)

Webinar di Yogyakarta, Aceh dan Palu

19 Desember 2019


Kegiatan dimulai dengan sambutan oleh Prof. Dr. Ir. Marwan, Wakil Rektor 1 Universitas Syiah Kuala. Prof. Marwan menyampaikan bahwa kebencanaan menjadi isu penting sejak tsunami Aceh, sehingga kita sudah mulai menyadari mitigasi bencana ini penting. Universitas Syiah Kuala sudah mempunyai riset penelitian terkait kebencanan dan sudah menetapkan pendidikan bencana. Sambutan selanjutnya oleh dr. M. Ardi Munir, M.Kes, Sp.OT, FICS, MH Wakil Dekan Akademik Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako. Dr. M. Ardi menekankan bahwa pada 2018 tsunami dan likuifikasi Sulawesi Tengah menjadi peringatan untuk masyarakat supaya lebih kuat dan lebih siap dalam menghadapi bencana. FK Untad mendukung pengembangan kurikulum dalam manajemen bencana. Sambutan terakhir oleh dr. Mei Neni Sitaresmi, Sp.A(K), PhD selaku Wakil Dekan bidang Kerjasama, Alumni, dan Pengabdian Masyarakat FK – KMK UGM sekaligus membuka kegiatan ini secara keseluruhan. dr. Mei Neni juga menekankan kembali bahwa mitigasi menjadi hal yang penting, tujuannya bukan untuk mencegah bencana melainkan sebagai kesiapsiagaan untuk mengurangi kerugian yang terjadi. Secara institusi pendidikan juga FK – KMK UGM sudah mempersiapkannya dengan adanya pusat studi bencana dan kurikulum bencana.

 

Pengantar

Pengantar yang disampaikan terkait mengenang Tsunami 15 tahun lalu oleh dr. Hendro Wartatmo, Sp.B.KBD dan Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, PhD dari FK – KMK UGM. Tsunami Aceh menjadi batu loncatan khususnya untuk FK – KMK UGM dalam memberikan respon dalam bencana. Tanpa diatur terlebih dahulu tim UGM berangkat sebagai tim medis dan tim manajemen. Hal tersebut yang dikembangkan sampai sekarang sehingga produk kita adalah kurikulum terkait kebencanaan pada mahasiswa S1. Selanjutnya Prof. Laksono memperkenalkan 3 buah buku melalui website http://bencana-kesehatan.net/. Buku pertama berjudul 3 Tahun Kegiatan di Aceh mencatat berbagai kegiatan RS Sardjito, Fakultas Kesehatan UGM, dan Fakultas Psikologi UGM dalam misi kemanusiaan. Buku kedua berjudul Satu Tahun Kegiatan di Aceh menceritakan pengalaman pribadi ketika ikut membantu ke Aceh. Buku ketiga berjudul Relawan Kesehatan di Medan Bencana merekam perjalanan tim FK – KMK UGM/RSUP Dr. Sardjito membantu korban bencana selama 15 tahun (2004 – 2018).

15th aceh 1

Dok. FK Unsyah “Pengantar mengenang tsunami 15 tahun”

 

Talkshow 1: Situasi Perkembangan Penanggulangan Bencana (Sektor Kesehatan) di Indonesia.

Pada sesi talkshow 1 ada 3 pembicara yang membahas perkembangan penanggulangan bencana Indonesia dari segi kebijakan, ilmu manajemen klaster kesehatan dan secara globalisasi pasca tsunami Aceh. Pembicara pertama Yudi Satria SST, MPS, SP dari Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA). Banyak hal yang sudah dilakukan di Indonesia untuk membangun kesadaran masyarakat. Sosialisasi terus – menerus diberikani kepada masyarakat, supaya tidak lupa.

Pembicara kedua dr. Budi Sylvana, MARS Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes. Trend meningkat dalam 3 tahun terakhir, terjadi pergeseran ke bencana non alam dan kegagalan teknologi. Dari sisi jumlah korban bencana juga meningkat selama 2019 (Januari – Desember). Logistik bencana belum terjamah dengan baik. SDM kita sudah lengkap dan pembiayaan juga banyak yang membantu. Terdapat 3 program pengurangan risiko bencana oleh pusat krisis yaitu asistensi, peta respon renkon dan TTX simulasi.

Pembicara ketiga dr. Bella Donna, M.Kes selaku Kepala Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK – KMK UGM. Indikator perkembangan ini bisa dilihat dari koordinasi, pengorganisasian, komunikasi dan data informasi. Pertama pada gempa tsunami Aceh dan Yogyakarta hampir mirip, sudah ada pertemuan klaster yang didukung oleh WHO. Relawan yang datang pada saat itu langsung menuju pos kesehatan. Belum ada pelaporan yang jelas. Kedua pada gempa Padang dan erupsi Merapi, manajemen sudah mulai diperbaiki dimana relawan sudah mulai terkelola dengan baik. Ketiga pada gempa Lombok, Palu dan Lampung sudah jauh lebih baik lagi, klaster kesehatan sudah terbentuk. Form form yang ada untuk pelaporan sudah terstandar dan sudah bisa memetakan relawan yang datang berdasarkan peta respon.

15th aceh 2

Dok. FK Unsyah dan FK-KMK UGM “Talkshow 1: Situasi Perkembangan Penanggulangan Bencana (Sektor Kesehatan) di Indonesia”

 

Launching EMT Specialize Cell (EMT SC)

Dalam webinar ini, diluncurkan pula EMT SC yang mengangkat slogan: dari Aceh untuk dunia. Ini bukan satu karier tapi satu panggilan. Kapuskris memberikan ransel relawan EMT kepada anggota secara simbolik. Sampai sekarang terkumpul 100 anggota yang terdiri dari dokter umum, dokter spesialis bedah, perawat, surveilans dan tenaga kesehatan lainnya.

15th aceh 3

Dok. FK Unsyah “Peluncuran EMT Specialize Cell Aceh”

 

Talkshow 2: Kurikulum Manajemen Bencana Kesehatan di Fakultas Kedokteran

Sesi kedua ada 4 pembicara yang membahas tentang kurikulum. Pembicara pertama dr. Hendro Wartatmo Sp.B.KBD dari FK – KMK UGM. Latar belakang kurikulum manajemen bencana di FK – KMK UGM adalah ilmu kebencanaan relatif baru, institusi yang berpartisipasi belum mapan, dan referensi dari luar bervariasi. Partisipasi dalam pendidikan formal ada di S1 FK – KMK, S2 IKM (opsional) dan magister manajemen bencana sekolah pasca sarjana UGM. Konsep kurikulum di FK – KMK akhirnya mengerucut menjadi disaster medicine dan disaster managemen. Disaster medicine dalam aspek teknis berdasar pada emergency medicine dan disaster managemen dalam aspek manajerial berbasis pada manajemen krisis. Penyusunan kurikulum berdasar lesson learnt, berbasis referensi dan ada prioritas, yang belum ada adalah biological disaster dan hazard. Kurikulum mulai diberikan pada mahasiswa S1 FK 2010 sebagai materi intrakulikuler.

Pembicara kedua yaitu Sutono, SKp, M.Sc, M.Kep dari FK – KMK UGM tentang penggunaan kasus bencana sebagai sarana pembelajaran IPE – CFHC di FK – KMK UGM. Komponen-komponen kerja sama dimasukkan dalam kurikulum IPE – CFHC. Kurikulum ini diterapkan pada seluruh mahasiswa FK – KMK UGM. Pengembangan kompetensi lulusan berbasis interprofessional collaborasion (IPE). Tahun keempat CFHC yaitu pengembangan keluarga siaga bencana, 480 mahasiswa belajar bersama (prodi kedokteran, keperawatan dan gizi). Mahasiswa mendampingi keluarga menangani permasalahan keluarga, memanfaatkan fasilitas kesehatan, harapannya agar sudah mencapai profesi masing – masing mereka dapat bekerja sama. Mengenali early warning system dan peta respon adalah 2 dari banyak hal yang harus dikuasai mahasiswa.

15th aceh 4

Dok. FK-KMK UGM “Penyampaian Kurikulum Manajemen Bencana Kesehatan FK-KMK UGM”

Pembicara ketiga ialah Dr. dr.Safrizal Rahman, M.Kes, Sp.OT dari FK Unsyah. FK Unsyah memulai kurikulum terkait bencana sejak 2006 pada mahasiswa program sarjana, pasca sarjana dan doktoral. Harapannya bagi mahasiswa program sarjana terdapat peningkatan pengetahuan dan kesadaran untuk pengembangan karir mereka dalam penanganan bencana. Pada mahasiswa pasca sarjana harapannya bisa memimpin tim medis atau klaster kesehatan pada saat bencana. Terdapat beberapa inovasi mahasiswa dalam pengembangan penanganan bencana ini. Mahasiswa menciptakan satu lampu sebagai early warning system, living room untuk pengungsi dan ransel penampung untuk anak – anak. Selanjutnya harapan bagi mahasiswa program doktoral, mereka sudah mulai bisa mengkritisi kebijakan pemerintah dan kebijakan dunia sehingga mereka juga harus ikut mewarnai sistem kebijakan kebencanaan.

Pembicara keempat adalah dr. Indah Puspasari, MMedEd dari FK Universitas Tadulako. Kurikulum bencana di FK Untad sudah dikembangkan sejak 2008 untuk mahasiswa semester 8 dan pada 2015 untuk mahasiswa semester 6. Sekarang sudah ada pada blok 13 yaitu health system, disaster management and traumatology. Blok ini wajib diikuti oleh mahasiswa. Harapannya mahasiswa bisa menjelaskan sistem manajemen bencana, tahapan mulai dari pre sampai dengan pasca bencana, dan mampu menjelaskan trauma manajemen. Mahasiswa juga mulai mendapatkan ilmu terkait sistem koodinasi dalam penanganan bencana.

Setelah sesi talkshow 2 dilanjutkan dengan penyampaian materi via webinar oleh Dr. Penny Burns tentang The mission and vision of Ocaenia Chapter WADEM. Oceania Chapter bertujuan untuk advokasi dan promosi pengembangan dan peningkatan penanganan bencana dalam penelitian, pengembangan dan aplikasi. Oceania Chapter WADEM sudah membangun kolaborasi dengan para ahli bencana dari berbagai negara sehingga interpretasi dan pertukaran informasi didapatkan melalui jaringan dan publikasi. Sekarang Oceania Chapter WADEM sedang mengembangkan peningkatan penanggulangan bencana di masyarakat. Respon lokal dalam pemulihan bencana sangat penting. Misi saat ini adalah mempromosikan integrasi profesional Primary Health Care lokal ke dalam manajemen bencana untuk memastikan kebutuhan kesehatan primer masyarakat dipertimbangkan dan direncanakan dengan baik.

15th aceh 5

Dok. FK-KMK UGM “Penyampaian Rumusan dan Kesimpulan”

Sesi terakhir Rumusan dan kesimpulan, webinar 15 tahun Pasca Tsunami Aceh: Akan kemana sistem pendidikan dan riset kedokteran kita dalam manajemen bencana? disampaikan oleh Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, PhD. Berbagi isu selama proses diskusi adalah risiko bencana semakin besar, tidak terbatas pada medical emergency unit. Terjadi pembelajaran selama 15 tahun termasuk adanya klaster kesehatan dalam konteks BNPB. Kecepatan yang makin meningkat tapi koordinasi belum baik termasuk adanya duplikasi komando di lapangan. Mitigasi perlu ditekankan. Ada kombinasi antara disaster medicine dan disaster managemen, ada ilmunya sendiri termasuk manajemen logistik bencana sektor kesehatan. Perguruan tinggi mempunyai modal tenaga dan sarana untuk membantu mitigasi dan penanggulangan bencana secara baik. Diharapkan penelitian bencana masuk dalam prioritas nasional, ada buku teks dan modul pendidikan tentang bencana.

Beberapa saran dari peserta :

  • Aceh : Harapannya kerjasama tidak putus disini. Dibutuhkan jurnal disaster managemen bencana sehingga ilmu ini bisa disebarkan secara luas dan penting juga merancang modul-modul tentang kebencanan diamana secara parsial bisa diajarkan juga kepada masyarakat awam.
  • Palu : Kerja sama ini lebih ditingkatkan dan kami berharap terus dilibatkan khususnya kolaborasi perbaikan penanganan bencana di Sulawesi tengah.
  • Yogyakarta : Penting ada workshop pengembangan kurikulum kebencanaan tentang klaster kesehatan yang diikuti oleh fakultas kedokteran, kesehatan masyarakat dan institusi selevel lainnya.
  • Bengkulu : Program studi kesehatan masyarakat Stikes Tri Mandiri Sakti Bengkulu masih kesulitan untuk mendapatkan buku kajian. Selanjutnya mohon dilibatkan jika ada workshop.

Reporter: Happy R Pangaribuan

Laporan Kegiatan Pelatihan Manajemen Pos Klaster Kesehatan dalam Bencana

pos1

Laporan Kegiatan

Pelatihan Manajemen Pos Klaster Kesehatan dalam Bencana

Yogyakarta, 9 Desember 2019


pos1

Pelatihan ini diselenggarakan untuk mendukung koordinasi dan pelaksanaan bantuan medis serta manajemen bencana ke depannya, FK – KMK UGM berencana melakukan penjaringan minat anggota bencana baik di dalam lingkup FK – KMK UGM maupun AHS UGM, manajemen dan dukungan medis. Peserta berasal dari AHS UGM (RSUP Sardjito, RS UGM, RSPAU Hardjulukito, RSUD Wates, RSUP Klaten); Pokja bencana FK – KMK UGM; Departemen FK – KMK UGM dan PKMK UGM. Hal ini juga mendukung rencana strategis Kementerian Kesehatan untuk mempersiapkan Emergency Medical Team (EMT) nasional Indonesia.

Pelaksanaan

Acara dibuka oleh dr Handoyo Pramusinto selaku ketua Pokja Bencana kemudian disusul dengan pengarahan oleh dr. Awalia Febriana, PhD, Sp. KK mewakili Wakil Dekan Bidang Alumni FK – KMK UGM. Mereka menyampaikan manajemen dalam penangan bencana penting untuk dikembangkan karena selama ini sumber daya manajemen masih sedikit.

Penyampaian materi pertama tentang Disaster Management oleh dr. Handoyo Pramusinto. Pemateri menyampaikan sekilas bencana yang pernah terjadi di Indonesia mulai dari tsunami Aceh hingga bencana Palu. Pokja Bencana selalu terlibat membantu penanganan korban bencana. Sejak 2010 sudah ada kurikulum manajemen bencana di level S1 di FK – KMK UGM dimana melalui kurikulum tersebut diharapkan mahasiswa aware bagaimana sikap ketika terjadi bencana. Pokja bencana juga mengembangkan modul atau pelatihan kepada rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya terkait manajemen bencana bidang kesehatan. Capacity building untuk tim manajemen perlu dilakukan secara terus menerus. Materi selengkapnya KLIK DISINI

Materi kedua terkait Public Health Emergency dalam Manajemen Bencana oleh dr. Hendro Wartatmo. Aktivitas penanggulangan bencana ada medical support dan management support. Tim medis ini sangat banyak namun tim manajemen masih sedikit. Tim medis sekarang yang akan diberangkatkan telah menggunakan standar. Penanganan pada masa respon tergantung dengan persiapan yang sudah dilakukan. Public Health Response ini dilakukan dengan pendekatan klaster kesehatan. Pendekatan klaster ini adalah pendekatan manajemen. Pokja bencana mulai memberikan managemen support itu sejak gempa Padang 2009. Modalitas relawan tim medis Pokja Bencana adalah pengetahuan teknis, kesiapan fisik dan motivasi. Materi selengkapnya KLIK DISINI

pos2

Dok. PKMK FK-KMK “Penyampaian materi Disaster Manajemen (kiri) dan materi Public Health Emergency (kanan)”

Materi ketiga tentang Manajemen Klaster Kesehatan oleh dr. Bella Donna. Klaster kesehatan adalah salah satu komponen klaster nasional/ klaster kesehatan ini terdiri dari 6 sub klaster kesehatan dan 3 tim. Konsep klaster kesehatan ini karena butuh koordinasi, kolaborasi dan integrasi. EMT adalah sekelompok tenaga bantuan kesehatan di wilayah yang terkena dampak bencana. kriteria dan kapasitas standar minimal tenterntu (terintegrasi dan kredensialing). Materi selengkapnya KLIK DISINI

Materi keempat terkait Data dan Informasi Kesehatan Saat Bencana oleh Madelina Ariani, MPH. Salah satu pendampingan di klaster kesehatan adalah terkait pengelolaan data dan informasi. Data informasi awal kejadian disampaikan oleh dinkes segera setelah kejadian awal krisis kesehatan diketahui. Data informasi penilaian kebutuhan cepat disampaikan segera setelah laporan awal krisis kesehatan diterima. Beberapa formulir yang ada di data dan informasi adalah alur relawan, formulir registrasi EMT, alur harian data dan informasi. Materi selengkapnya KLIK DISINI

pos 3

Dok. PKMK FK-KMK “Penyampaian materi Manajemen Klaster Kesehatan (kiri) dan materi Data dan Informasi (kanan)”

Sesi Diskusi :

  1. Salah satu kendala dari kami adalah transportasi dari udara ke daerah. Ketika tim hendak berangkat ke daerah terkendala di penjadwalan pesawat dan pemeriksaan logistik. Apakah sudah ada MoU dengan pesawat komersil?
    • dr. Handoyo : Sekarang ini seharusnya kita sudah mempersiapkan MoU termasuk dengan TNI dan juga maskapai. Di Malaysia ada MoU dengan maskapai, sehingga jika ada kepentingan tim dan nasional yang membutuhkan trasnportasi udara. Kita masih bersifat on the spot, memang perlu MoU termasuk MoU dengan relawan, misalnya dengan fakultas kedokteran, fakultas keperawatan.
    • dr. Mei Neni Sitaresmi : yang membedakan kita dengan tim yang lain adalah kita tidak hanya menyediakan tim medis tetapi juga dari segi manajemen. Terkadang kita juga kesulitan untuk mengirimkan tim, sehingga kita penting melakukan handover atau regenerasi tim yang siap ditugaskan. Ketika ada pelatihan kita juga sering diminta sebagai fasilitator. Kita juga sudah ada memiliki draft MoU, namun MoU itu harus lebih tinggi olrh Rektor, Bupati, TNI. MoU ini juga terkait dengan pengabdian masyarakat.
  2. Antara posisi kantor dinas kesehatan dengan pos klaster kesehatan itu mungkin agak jauh. Sebaiknya dimanakan tempat yang pas untuk membuka klaster kesehatan ini?
    • dr. Bella Donna : Pos klaster kesehatan itu bisa di dekat wilayah yang terdampak. Jika dinas kesehatannya cenderung aman maka pos klaster kesehatan bisa dibangun di halaman kantor dinkes. Tempatnya sebaiknya berdekatan dengan dinkes. Untuk penempatan tim medis, ditempatkan di tempat yang aman. Kecuali tim medis memiliki kompetensi untuk pencarian.
  3. Keterlibatan Dinkes dalam pelayanan gizi. Apakah staf gizi itu dilibatkan juga dalam manajemen ini?
    • Madelina Ariani, MPH : Staf gizi juga dilibatkan dalam manajemen. Kadang staf kita tidak terlibat karena perencanaan saat bencana terjadi tidak ada. Pengalaman rekam medik di Lombok itu muncul minggu ketiga, mereka menganggap kalau mereka bukan dokter atau perawat jadi tugasnya apa. Artinya mereka tidak paham apa yang menjadi tugas mereka. Karena tidak ada perencanaan mereka saat bencana terjadi.

pos 4

Dok. PKMK FK – KMK UGM “Latihan mebuat peta respon”

Selanjutnya pembagian kelompok untuk praktek pengisian formulir dan pembuatan peta respon. Peserta dibagi menjadi 3 kelompok dimana setiap kelompok didampingi oleh satu fasilitator. Fasilitator menyediakan skenario kejadian bencana, peserta membuatkan peta respon sesuai dengan scenario tersebut. Dalam skenario digambarkan situasi bencana pada hari pertama, berapa banyak tim relawan yang datang, jumlah korban, dan fasilitas kesehatan yang terdampak. Peserta sangat aktif bertanya dan tertarik dengan pembuatan peta respon ini. Kegiatan ditutup dengan pembagian surat kesediaan peserta untuk terlibat dalam tim manajemen dan siap untuk diberangkatkan jika terjadi bencana.

Reporter : Happy R Pangaribuan

Laporan 4th RCD ARCH Project 2019

h1 rcd

Laporan

4th Regional Collaboration Drill ARCH Project

25-28 November 2019

Bali, Indonesia


ARCH Project adalah singkatan dari ASEAN Regional Capacity on Disaster Health Management, yang merupakan proyek peningkatan kapasitas regional ASEAN dalam manajemen bencana kesehatan untuk mewujudkan one ASEAN one Response, yang dilaksanakan oleh ASEAN, JICA dan National Institute of Emergency Medicine/ NIEM Thailand. ARCH project sudah dimulai sejak 2016 dan direncanakan akan terus berjalan hingga 2025. Ada tiga tahapan yakni tahap pertama 2016 – 2019 yang kegiatannya bertujuan untuk peningkatan kapasitas koordinasi regional ASEAN dan masing – masing negara ASEAN, tahap dua 2019 – 2021 yang kegiatannya bertujuan untuk menetapkan mekanisme yang disepakati dari tahap 1, terakhir tahap tiga yakni 2021 hingga 2015 yang kegiatannya bertujuan untuk memperkuat mekanisme.

Regional collaboration drill (RCD) keempat yang baru dilaksanakan pada 24 – 28 November 2019 lalu di Bali merupakan salah satu kegiatan ARCH Project tahap pertama, sebelumnya sudah ada tiga kali RCD yang dilaksanakan di Thailand, Vietnam, dan Filipina, sedangkan pada 2020 akan dilaksanakan di Myanmar. Tujuan RCD secara umum adalah untuk menguji SOP ASEAN seperti proses pre deployment melalui Web EOC AHA Centre, pengembangan komprehensif tim, dan penjaminan mutu kualitas/ quality assurance. Sedangkan tujuan khusus Indonesia adalah untuk menguji mekanisme penanggulangan bencana nasional diantaranya pengelolaan bantuan luar negeri, mekanisme reception and departure center, dan draft SOP Indonesia tentang EMT gabungan atau composite EMT.

Kerjasama Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan dan FK – KMK UGM dalam ARCH sudah dimulai sejak 2018. Saat itu, pada salah satu meeting ARCH Indonesia menyanggupi menjadi tuan rumah penyelenggaraan RCD yang keempat. Setelah itu sejak awal 2019, FK – KMK UGM mendampingi Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan untuk persiapan penyelenggaraan. Tidak hanya itu, Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan juga melibatkan banyak unit di Kementerian Kesehatan, organisasi profesi kesehatan, LSM, perhimpunan, dan pemerintah daerah dalam penyelenggaraan kegiatan ini. Akhirnya, usaha dan upaya yang telah dilakukan tidak mengkhianati hasil, pada RCD keempat ARCH Project ini, Indonesia mendapat apresiasi yang baik dari ASEAN dan Mentor bahkan tujuan khusus Indonesia berhasil dicapai dan menjadi draft untuk SOP ASEAN ke depannya.

Sangat menarik bukan untuk menyimak lebih lengkap Reportase harian kegiatan ini? Silakan

{slider title=”Reportase hari 1: 25 November 2019″ class=”grey” open=”false”}

h1 rcd

Dok. Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan:
Foto Bersama Delegasi ASEAN Member State (AMS)

            Kegiatan dibuka dengan penyampaian sambutan dari Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan, Direktur Project NIEM, dan Pemerintahan Provinsi Bali. Kemudian dilanjutkan dengan perkenalan seluruh peserta. Peserta yang hadir berasal dari 10 negara yaitu Lao PDR, Cambodia, Indonesia, Singapore, Myanmar, Malaysia, Vietnam, Filipina, Thailand, dan Brunei Darusalam. EMT yang ikut dalam satu tim beranggotakan 5 orang per negara.

Materi pertama disampaikan oleh Bidang Evaluasi dan Informasi Pusat Krisis Kesehatan terkait sistem informasi kesehatan di Indonesia. Pemateri menyampaikan bagaimana pengelolaan data dan informasi yang sudah terbangun dalam penanganan bencana di Indonesia khususnya sektor kesehatan.

            Selanjutnya peserta melakukan praktek pengisian formulir (SASOP dan MDS) yang difasilitatori oleh tim JICA. Peserta terbagi menurut masing masing negara kemudian berdiskusi dan mengisi formulir. Setiap negara didampingi oleh satu fasilitator. Melalui pengisian SASOP peserta belajar bagimana prosedur meminta bantuan EMT dari negara asing (ASEAN) jika di negara mereka terjadi bencana yang sangat besar sehingga membutuhkan bantuan dari negara asing. MDS merupakan formulir tentang data dan informasi korban bencana yang mendapatkan penanganan dari EMT misalnya berapa korban yang ditangani, usia, jenis penyakit, jumlah rujukan, meninggal dan sebagainya. EMT yang melakukan pelayanan kesehatan wajib mengisi formulir tersebut dimana kemudian dilaporkan ke klaster kesehatan.

 h1 rcd 1

Dok. Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan:
Praktek Pengisian Form (SASOP dan MDS)

 Materi selanjutnya tentang komposit tim oleh dr. Achmad Yurianto, Sekertaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan. Pemateri menyampaikan bahwa bencana yang terjadi di Indonesia sangat kompleks dan hampir seluruh wilayah Indonesia berpotensi bencana. Komposit tim ini merupakan salah satu strategi yang dilakukan dalam penanganan bencana secara merata dan cepat. Umumnya relawan yang datang ke lokasi bencana akan bekerja dan ditugaskan bersamaan dengan tim mereka sendiri. Namun, ketika menemukan satu daerah yang membutuhkan pertolongan cepat dengan catatan membutuhkan beberapa spesifikasi tenaga kesehatan maka beberapa relawan yang datang dari berbagai organisasi akan disatukan dalam satu tim yang siap bertugas di daerah tersebut. Artinya mereka harus bersedia bekerja sama dengan EMT yang berasal dari luar organisasi mereka dan tetap bersedia mengikuti aturan yang sudah terbangun.

Reportase oleh Happy Pangaribuan, MPH dan Madelina Ariani, MPH

{slider title=”Reportase hari 2: 26 November 2019″ class=”red” }

h2 rcd

Dok. Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan: Sesi pembukaan

Hari kedua seluruh peserta yang berasal dari Indonesia diwajibkan mengenakan pakaian nasional atau adat Bali sesuai dengan peraturan daerah Bali bahwasanya jika ada acara internasional maka peserta Indonesia harus mengenakan pakaian adat. Sementara bagi peserta dari negara lain sudah disediakan panitia ikon adat bali seperti selendang dan udeng (ikat kepala Bali) . Kegiatan hari kedua dimulai dengan penyampaian materi terkait kebijakan manajemen krisis kesehatan di Indonesia oleh Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan. Indonesia memiliki Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) sebagai koordinator penanggulangan bencana nasional yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah sebagai koordinator provinsi dan kabupaten yang bertanggungjawab kepada Gubernur/Walikota. Manajemen bencana kesehatan diimplementasikan menggunakan klaster kesehatan.

            Selanjutnya adalah kegiatan praktek Reception and Departure Center (RDC). RDC ini sangat berkaitan dengan proses pre deployment yang dilakukan satu minggu sebelumnya menggunakan website EOC AHA Centre di BNPB masing masing negara. Melalui proses pre deployment ini, Indonesia mengijinkan EMT dari AMS memberikan bantuan ke Indonesia. Data data EMT Internasional yang akan masuk ke Indonesia sudah diproses oleh BNPB, Kementerian Kesehatan dan Kementerian terkait lainnya, sehingga pada saat RDC akan lebih mudah.

Kemudian, seluruh peserta diarahkan ke lantai 1 menuju ruangan praktek RDC. Pertama peserta memasuki imigrasi, di sini peserta menunjukkan passport dan petugas imigrasi memeriksa kelengkapan data yang dibutuhkan berdasarkan data EMT yang akan datang ke Indonesia. Setelah dari imigrasi peserta menuju custom untuk pengecekan logistik yang dibawa peserta. Selanjutnya menuju pos pendukung di bandara,karena yang datang adalah EMT maka oleh pos pendukung para EMT ini diarahkan ke bagian kesehatan. Di bagian kesehatan yang bertugas adalah perwakilan kementerian kesehatan/ petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan dan petugas dinas kesehatan. Di sini EMT melaporkan sumber daya kesehatan yang dibawa dan peserta akan menunjukkan LoA dan dokumen terkait lainnya. Setelah pelaporan selesai, setiap negara akan diberikan pendamping EMT atau EMT Accompaniment selama mereka bertugas di Indonesia.

Setelah praktek RDC selesai, peserta kembali diarahkan menuju ruangan. Selanjutnya dr. Achmad Yurianto, Sekertaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan memberikan briefing praktek lapangan di Tanah Ampo Karangasem. dr. Yurianto menunjukkan pos pos pelaksanaan kegiatan melalui peta dan menjelaskan alur mulai dari registrasi kedatangan ke pos klaster, penanganan pasien, proses rujukan pasien, komposit tim, hingga pelaporan kepulangan EMT Internasional.

Reportase oleh Happy Pangaribuan, MPH dan Madelina Ariani, MPH

{slider title=”Reportase hari 3: 27 November 2019″ class=”green”}

h3 rcd 1

Dok. Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan: Sesi penerimaan EMT Internasional di HEOC/ klaster kesehatan

Hari ini adalah praktek lapangan di Tanah Ampo. Praktek penanganan bencana berdasarkan skenario Gunung Agung meletus dengan jumlah populasi terdampak 4.200.100 orang yang tersebar di 9 daerah terdampak. Kegiatan dimulai dengan upacara yang dipimpin oleh Bupati Karangasem. Selanjutnya EMT Internasional didampingi oleh EMT accompaniment menuju pos klaster kesehatan dan terlebih dahulu melakukan registrasi. Petugas registrasi akan mengecek kesesuaian data EMT Internasional dengan data yang sudah dikirimkan oleh Kementerian Kesehatan sesuai dengan EMT registration form, mengecek STR jika diperlukan, membuatkan kartu identitas selama bekerja, memberikan serta menjelaskan formulir formulir seperti medical record, pelaporan harian, dan lainnya kepada EMT, serta mengarahkan EMT untuk mendengarkan briefing dari koordinator klaster kesehatan. Koordinator klaster kesehatan menjelaskan kondisi terkini dampak bencana, menjelaskan alur dan peran penanganan korban bencana.

h3 rcd 2

Dok. Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan: ”Penanganan korban oleh EMT Thailand

Selanjutnya EMT Internasional menuju tenda masing masing untuk melakukan penanganan korban bencana. Korban bencana kemudian diarahkan untuk mendatangi tenda masing masing negara untuk mendapatkan pertolongan. Mereka datang dengan berbagai jenis luka atau penyakit akibat letusan gunung berapi. Jika korban membutuhkan pertolongan lanjutan maka EMT akan melakukan rujukan korban ke rumah sakit terdekat. Proses rujukan diketahui oleh EMTCC.

EMT melakukan pelaporan pelayanan kesehatan setiap hari ke EMTCC. untuk penyesuaian waktu maka dalam latihan ini EMTCC dibagi menjadi 3 ruangan tetapi bukan sub EMTCC yaitu ruangan 1 (Brunei, Kamboja, Indonesia, Laos); ruangan 2 (Malaysia, Myanmar, Filipina); ruangan 3 (Singapura, Thailand, Vietnam). EMTCC meeting dilakukan sebanyak 3 kali. Rapat pertama EMT AMS mengumpulkan laporan harian (MDS form), kemudian manajer data dan informasi EMT CC input data tersebut ke dalam tools MDS sehingga didapatkan feedback pelayanan yang dilakukan oleh seluruh EMT hari asumsi tersebut. Koordinator EMTCC menfasilitasi rapat, menanyakan secara umum bagaimana pelayanan kesehatan EMT dan kendala yang mereka hadapi selama bekerja. Koordinator EMT CC mencatat semua laporan dan mengarahkan penyelesaian masalah atau kendala serta rencana tindak lanjut penanganan korban.

 h3 rcd 3

Dok. Pusat Krisis Kesehatan Kementerian, Kesehatan: Rapat EMTCC dan tim data informasi

            Koordinator EMTCCC menyampaikan informasi dari tim SAR bahwa terdapat satu desa terisolasi yaitu desa Tejakusuma, dimana disana ribuan dari korban yang belum mendapatkan pertolongan. Sehingga rencana selanjutnya EMT harus melakukan Health Need Assessment (HNA) di desa Tejakusuma. Pada rapat kedua hasil HNA tersebut juga dilaporkan kembali ke EMTCC meeting. Skenario selanjutnya korban desa Tejakusuma membutuhkan penambahan tenaga kesehatan 3 dokter, 9 perawat dan 1 ambulans. EMT CC melakukan rapat dengan EMT untuk negosiasi komposit tim. EMT CC menyampaikan kebutuhan di desa Tejakusuma dan mereka bersedia mengirimkan EMT mereka untuk tergabung dalam komposit tim. EMT Internasional dan nasional yang bersedia membantu dan bergabung dengan tim nasional ditugaskan di desa Tejakusuma. Di desa Tejakusuma mereka kemudian bertugas di bawah komando EMT Nasional Type 1 mobile yang terlebih dahulu ada di sana. Di EMTCC meeting ketiga semua peserta melaporkan pelayanan secara keseluruhan dan memberikan dokumen terkait serta melaporkan kalau masa bertugas EMT internasional akan berakhir.

            Seluruh EMT yang habis masa tugasnya harus membuat exit report yang mengkalkulasi seluruh layanan kesehatan yang diberikan, mencatat hal hal penting, termasuk masalah kesehatan masyarakat serta rekomendasi bagi EMTCC dan klaster kesehatan. Pada simulasi ini, kegiatan ini diberikan satu sesi tersendiri yakni exit report di HEOC. Di sini ketua HEOC menyampaikan situation report hari asumsi hari ke 18 pasca erupsi, mengumpulkan semua kartu identitas EMT, mengecek kelengkapan laporan, serta mengucapkan terimakasih atas bantuan internasional kepada Indonesia.

h3 rcd 4

Dok. Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan: Sesi exit report di HEOC

 

Reportase oleh Happy Pangaribuan, MPH dan Madelina Ariani, MPH

{slider title=”Reportase hari 4: 28 November 2019″ class=”blue”}

h4 rcd

Dok. Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan: ”Pengecekan imigrasi pada proses demobilisasi”

EMT internasional menuju ruang Reception and Departure Center (RDC) untuk persiapan kembali ke negara asal (demobilisasi). EMT internasional melapor ke bagian imigrasi, custom dan bagian kesehatan. Di custom, kembali dicek logistik mereka oleh petugas, apakah ada yang ditinggal di Indonesia atau ada membawa logistik lainnya ke luar. Sedangkan di bagian kesehatan, KKP akan mengecek kesehatan, petugas dinas kesehatan bisa mengecek bahwa EMT Internasional sudah ACC klaster kesehatan untuk pulang dari tanda tangan koordinator klaster kesehatan di kartu identitas EMT yang dibawa masing masing anggota EMT.

Setelah proses demobilisasi selesai, peserta kembali ke ruangan untuk melakukan review secara keseluruhan kegiatan mulai dari hari pertama. Setiap negara melakukan evaluasi kegiatan kemudian mempresentasikan hasil evaluasi. Secara keseluruhan kegiatan berjalan dengan baik, kendala yang dihadapi adalah terkait komunikasi ketika melakukan proses rujukan korban, koneksi internet terbatas.

Mentor dari ARCH project dan tim JICA memberi apresiasi kepada Indonesia karena project berjalan dengan baik dan memang sudah dipersiapkan dengan baik. Ada dua hal yang sangat diapresiasi oleh mentor dari ARCH project dan tim JICA. Pertama terkait pengerjaan data dan informasi melalui tools MDS, Indonesia menjadi negara host pertama yang menyiapkan dan melaksakannya dengan sangat baik. Kedua terkait dengan pelaksanaan Komposit Tim yang hanya ada di Indonesia akan diadopsi menjadi SOP se ASEAN dan tetap masuk dalam ARCH project selanjutnya di Myanmar. Indonesia juga berterima kasih kepada para mentor atas semua bimbingan mentor selama persiapan kegiatan ini.

            h4 rcd 2Dok. Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan: Penutupan dari Panitia Indonesia dr Ina Agustina (kiri), Foto Mentor ARCH dan JICA (kanan)

Reportase oleh Happy Pangaribuan, MPH dan Madelina Ariani, MPH

{/sliders}

Materi Dokumentasi Kegiatan  Reportase PPK Kemenkes  Video

 

Reportase oleh : Happy Pangaribuan, MPH dan Madelina Ariani, MPH

Laporan Kegiatan Launching Buku : Relawan Kesehatan di Medan Bencana dan Pameran Ilmiah Manajemen Bencana Kesehatan Indonesia 2019

launcing buku audit

Laporan Kegiatan

Launching Buku : Relawan Kesehatan di Medan Bencana dan Pameran Ilmiah Manajemen Bencana Kesehatan Indonesia 2019

Rabu- Jumat, 30 Oktober – 1 November 2019


launcing buku audit

{tab title=”Pengantar” class=”blue” align=”justify”}

Sejak pertama kali diselenggarakan, pameran ilmiah bencana menjadi kegiatan dan salah satu metode pembelajaran yang disukai oleh mahasiswa dan dirasakan mampu memberikan pemahaman lebih mengenai gambaran penanggulangan bencana bidang kesehatan yang riil bagi mahasiswa. Pokja Bencana FK – KMK UGM juga selalu terlibat dalam penanganan bencana yang pernah terjadi di Indonesia berupa bantuan tenaga medis, logistik dan manajemen klaster kesehatan. Pengalaman – pengalaman tersebut telah didokumentasikan dalam bentuk buku berjudul “Relawan Kesehatan di Medan Bencana” dimana buku ini menceritakan bagaimana kondisi dan penanganan saat bencana dari sektor kesehatan. FK – KMK UGM pada kesempatan ini mengajak semua pihak untuk kembali terlibat dalam Launching Buku “Relawan Kesehatan di Medan Bencana” dan Pameran Ilmiah Manajemen Bencana Bidang Kesehatan di Indonesia.

{tab title=”Launching Buku” class=”blue”}

Launching buku dilaksanakan bersamaan dengan pembukaan pameran ilmiah manajemen bencana bidang kesehatan. MC membuka kegiatan launching dengan membacakan ulang rangkaian kegiatan launching buku dan pelaksanaan pameran. MC juga memperkenalkan penulis buku dan menceritakan sekilas tentang rangkuman isi buku. Selanjutnya sambutan dari dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc, PhD selaku Ketua Blok D.2 Pendidikan Dokter reguler/internasional FK-KMK UGM. Dr Yodi mengatakan bahwa tantangan terbesar bidang kesehatan secara global adalah bagaimana menghadapi bencana. Statistik 2018 menunjukkan korban bencana yang tinggi ada di Indonesia. Lulusan kedokteran Indonesia seyogiyanya siap berperan dalam penanganan bencana. Pokja bencana FK – KMK UGM sudah berinovasi untuk memudahkan mahasiswa dalam pembelajaran bencana melalui pameran ilmiah kebencanaan. Event ini mendorong mahasiswa bisa bertemu langsung dengan para pelaku penanganan bencana di lapangan. Demikian juga halnya dengan adanya buku relawan yang dituliskan oleh tim pokja bencana sangat bagus untuk menambah pengetahuan dalam penanganan bencana.

Selanjutnya adalah pemaparan dari dr. Hendro SpB. KBD, salah satu penulis buku relawan kesehatan di medan bencana. dr. Hendro menyampaikan bahwa buku ini seperti brainstorming atau lesson learnt yang ditangkap oleh para penulis selama bekerja di lapangan. Bahasa yang digunakan dalam buku ini sederhana sehingga mudah dimengerti oleh masyarakat awam. Kekurangan dari buku ini adalah semua penulis masih pemula tidak ada pengalaman menulis sebelumnya. Kelebihan buku ini adalah mencakup pengalaman yang sangat lama sejak 2004 – 2018. Kemudian Pokja Bencana mendapatkan dukungan yang konsistensi dari institusi sehingga pokja bencana dapat berinovasi dalam pengembangan manajemen bencana sector kesehatan di Indonesia. Beberapa produk dari pokja bencana adalah Hospital Disaster Plan, Dinkes Disaster Plan, Puskesmas Disaster Plan dan disaster kit.

Setelah pemaparan selesai, MC mengajak semua penulis untuk duduk di depan dan memulai diskusi dengan peserta. Peserta yang mengikuti webinar yaitu 4 orang.

launcing buku audit 1

Dok. Pokja Bencana “Diskusi dengan penulis buku relawan kesehatan di medan bencana”

{tab title=”Diskusi” class=”green”}

1.      Bagaimana menyusun kebencanaan ini sehingga bisa masuk dalam perkuliahan?

  • dr. Hendro : disusun sesuai dengan bidangnya masing – masing. Tim Pokja Bencana mempunyai keahlian di bidang masing – masing, jadi semuanya saing berkoordinasi untuk mengemas segala pengalaman dan pengetahuan ke dalam pendidikan kedokteran.
  • dr Bella : diawali oleh pembentukan Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) Divisi Manajemen Bencana. Kemudian Prof. Laksono meminta supaya dibuatkan untuk mahasiswa. Awalnya kebutuhannya ada disaster manajemen dikembangkan menjadi disaster medicine.
  • dr Handoyo : penyusunan tersebut tidak mudah, yang dibutuhkan itu fasilitator dan komitmen serta dukungan dari institusi institusi. Jadi kurikulum ini diimplementasikan makin lama makin bagus. Untuk knowledge sudah cukup baik jadi next level ke arah relief.
  • Sutono : di perawatan juga sudah dikembangan disaster manajemen perawat, kemudian kita juga ada council nursing yang memiliki kurikulum sehingga berdasarkan itu kami kembangkan menjadi kurikulum peran perawat saat bencana dan post bencana.
  • dr. Sulanto : yang perlu dipahami adalah kita tidak bisa mencegah bencana, yang bisa dilakukan mengurangi risiko akibat bencana. Bagaimana menyiapkan manusia siap menghadapi bencana. Jogja dimulai dengan memasukkan dalam pendidikan pada kurikulum kedokteran.

2.      Bagaimana melibatkan mahasiswa dalam kebencanaan?

  • dr. Hendro : ilmu kebencanaan di kita belum terstruktur. Pengalaman langsung ke lapangan baru bisa sah jadi petugas atau pengajar kebencanaan. Mahasiswa mana dulu yang dimaksud. Kita bisa melibatkan sesuai dengan kapasitas mereka. Jika mahasiswa kedokteran masih dianggap masyarakat awam. Artinya tergantung dari mahasiswa mana. Jika mahasiswa teknik dari awal dilibatkan mungkin sudah bisa.

{tab  title=”Pameran” class=”red”}

launcing buku audit 2

Dok. Pokja Bencana “Peserta Stand Pameran”

Kegiatan selanjutnya adalah pembukaan acara pameran oleh Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed. Ph.D.,SpOG(K). Prof. Ova menegaskan kembali bahwa tim pokja bisa terus belajar, berkembang menjadi lebih bagus, sudah 25 tahun mampu menuliskan dalam sebuah buku. Musibah bisa suatu kesenangan bisa juga suatu kesedihan bagi kita jadi kita tidak bisa mengatur musibah. Tim ini memberikan semangat bagi kita. Sebagai institusi pendidikan harus siap menyiapkan profesi untuk menanggapi perubahan alam dengan baik dan membawa outcome yang lebih baik. Seluruh peserta diajak ke luar ruangan untuk pemotongan pita sebagai simbol pembukaan pameran.

Selanjutnya peserta bebas mengunjungi pameran. Beberapa organisasi yang mengisi pameran adalah FK – KMK UGM (Pokja Bencana, Divisi Bencana Kesehatan PKMK, Prodi Keperawatan, Prodi Kedokteran Umum, dan Prodi Gizi Kesehatan); Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY; PMI Provinsi Yogyakarta; TBMM FK – KMK UGM; dan Pusbankes 118 PERSI DIY. Pameran dilaksanakan sampai dengan 1 November 2019.

{tab  title=”Penutup” class=”grey”}

Demikian laporan kegiatan Launching Buku dan Pameran Bencana 2019. Kegiatan ini bermanfaat bagi mahasiswa untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang manajemen penanggulangan bencana bidang kesehatan. Pengalaman – pengalaman peserta saat menangani bencana yang dibagikan pada pameran dan juga yang sudah terdokumentasi dalam satu buku bisa menjadi pelajaran untuk perbaikan manajemen bencana kesehatan.

{/tabs}

Reportase Launching dan Bedah Buku Relawan Kesehatan di Medan Bencana

launcing buku

Reportase

Launching dan Bedah Buku Relawan Kesehatan di Medan Bencana

2 Oktober 2019

launcing buku


Pengantar

                Pokja Bencana FK – KMK UGM selalu terlibat dalam penanganan bencana yang pernah terjadi di Indonesia berupa bantuan tenaga medis, logistik dan manajemen klaster kesehatan. Pengalaman – pengalaman tersebut telah didokumentasikan dalam bentuk buku berjudul “Relawan Kesehatan di Medan Bencana” dimana buku ini menceritakan bagaimana kondisi dan penanganan saat bencana dari sektor kesehatan. Berkaitan dengan hal tersebut, FK – KMK UGM menggelar soft launching dan bedah buku “Relawan Kesehatan di Medan Bencana” untuk memperkenalkan karya buku dan mensosialisasikan bagaimana pengalaman relawan kesehatan menolong korban bencana. Narasumber acara ini adalah Suparlan dari Yayasan SHEEP Indonesia; Danang Syamsurizal, ST dari BPBD DIY dan dr. Hendro Wartatmo, Sp.B., KBD mewakili tim penulis buku. Bedah buku dilaksanakan di Ruang Theater, Gedung Perpustakaan lantai 2,FK – KMK UGM pada Rabu, 2 Oktober 2019.

Pelaksanaan

Pemaparan pendahuluan dari dr. Hendro yang menceritakan bagaimana awalnya terlibat dalam penanganan bencana dan akhirnya menulis buku. Semua penulis belum pernah menulis buku. Pada 2016, ada momentum Presiden Joko Widodo menyampaikan saat ini Indonesia perlu meninjau bencana dari segi pendidikan. Maka setelah didiskusikan dengan Prof. Laksono maka disusunlah buku ini. Rencana awalnya pada buku ini akan ditulis tentang pengalaman dan keilmuan bencana. Namun akhirnya diputuskan untuk menulis lesson learnt dulu, selanjutnya buku kedua menulis dari segi keilmuannya. Hal yang menarik adalah sekitar 11 tahun yang lalu dr. Hendro sudah ingin menulis buku dan sudah menentukan judulnya. Ternyata setelah dr. Hendro membuka file – file yang lama ternyata judul yang ditulis dulu sama dengan judul buku ini sementara judul ini diputuskan bersama dengan tim.

Selanjutnya pemaparan dari BPBD DIY oleh Danang. Danang mengatakan bahwa buku ini sangat menarik, enak dibaca dan tanpa sadar mengira buku ini novel padahal berdasarkan kisah nyata. Dalam buku ini, terlihat kerinduan atau panggilan untuk menolong. Buku ini bisa menjadi pembelajaran bagi orang – orang yang terjun menangani bencana. Pesan yang disampaikan buku ini yaitu jika ada niat pasti ada jalan. Pada situasi kritispun masih ditemukan optimisme. Selanjutnya Danang memilah perkembangan penanganan bencana ini per periode, terlihat perkembangan penanganan bencana dari tahun ke tahun.

Selanjutnya pemaparan dari Yayasan Sheep oleh Suparlan. Suparlan menyampaikan bahwa buku ini umurnya lebih tua daripada undang – undang kebencanaan. Ada banyak pembelajaran dalam buku ini. Pertama terdapat pola perubahan model penanganan bencana dimana dulu belum terlihat sistem manajemennya. Model penanganan sekarang, bencana tidak boleh lagi kita tunggu tapi kita sudah harus mempersiapkan bagaimana pentingnya mengurangi risiko bencana. Pelajaran kedua adalah kemauan saja tidak cukup tetapi penting disiapkan rencana kontijensi. Ketiga dalam buku ini juga ada tentang perkembangan informasi teknologi dalam kebencanaan. Bahwa dari teknologi terdapat percepatan penyebaran informasi. Keempat terdapat sistem rotasi pengiriman dan kelengkapan tim. Bagaimana pemenuhan logistik bagi tim juga diceritakan supaya tidak menyusahkan pemerintah setempat. Kelima buku ini juga banyak bercerita tentang klaster kesehatan, dimana sistem klaster kesehatan ini sudah terlihat bagus saat gempa Lombok. Keenam, ada ancaman bencana yang beragam dan terlihat perbedaan penangan bencananya. Ini akan lebih memberikan edukasi jika ini lebih spesifik lagi. Model penanganan bencana sesuai dengan jenis bencananya juga dicantumkan dalam buku ini. Pesan Suparlan yang terakhir adalah bahwa buku ini menggarisbawahi jika terjun ke lokasi bencana tidak hanya bermodalkan nekat akan tetapi perlu ilmu.

Sesi Diskusi I:

  1. Apakah dalam buku disebutkan penanganan bencana kebakaran hutan? Dari pengalaman kami di Kalimantan Tengah dari segi kesehatan belum sama sekali.
  2. dr Hendro menyatakan untuk kebakaran hutan sebenarnya sudah ada sendiri. Type of injury, itu yang perlu dipahami sebelum berangkat ke lapangan jadi sudah bisa diperhitungkan apa yang harus dilakukan. Contohnya kebakaran hutan pasti sudah ada, misalnya efek ke mata dan paru – paru. Perkara sosialisasi ke masyarakat setempat itu juga sudah ada dari Depkes.Tri : apakah dalam buku ini juga diterangkan bagaimana seharusnya kita memberikan pendidikan tentang bencana kepada mahasiswa, masyarakat ataupun kepada relawan?
    • dr Hendro menjawab, belum ada di buku ini. Tapi kami berniat akan menyusun buku terkait keilmuan kebencanaan. Gangguan sosial yang terjadi paling utama dalam kebencanaan adalah gangguan kesehatan pribadi dan gangguan kesehatan masyrakat. Pendidikan ini akan disusun di buku yang kedua tapi khusus bidang kesehatan.
    • Suparlan menambahi terkait pada pendidikan,poin penting yang disampaikan adalah bagaimana mengurangi risiko bencananya. Fokus kita lebih ke masyarakat karena merekalah yang langsung terdampak bencana. Pendidikan kepada masyarakat tentu berbeda dengan kepada relawan. Misalnya kepada relwan akan diberikan edukasi terkait kode etik selama di lapangan. Pendidikan secara luas tentang “pengurangan risiko bencana” ada tiga yaitu ancaman, kerentanan dan kapasitas. Bagaimana ancaman itu dikelola biar tidak menjadi bencana.
  3. Sekar : Bagaimana BPBD mengkoordinir program siaga bencana ini untuk kemudian disosialisasikan kepada masyarakat. Siapa yang berwenang mensosialisasikan. Seberapa kesiapsiagaan masyarakat Indonesia dalam menghadapi bencana?
    • Danang menyatakan terdapat fase informasi pada pra bencana, saat bencana dan saat pemulihan. Informasi pada pra bencana terdapat standar pelaksanaannya juga. Misalnya BPBD harus mengetahui daerah yang berpotensi banjir, kemudian harus tahu syarat rumah yang tangguh gempa. BPBD sudah memanfaatkan teknologi dengan penggunaan beberapa aplikasi sebagai media informasi yang akurat, misalnya tentang perkiraan cuaca dan kondisi di beberapa daerah yang rawan banjir. Kemudian ada juga melalui website dan infografis. Informasi ini juga diberikan kepada masyarakat secara langsung misalnya terkait triase. BPBD selalu melakukan pendekatan kepada masyarakat bahkan dengan spesialis-spesialis tertentu dalam pengembangan informasi terkait kebencanaan ini.

Diskusi Sesi II

  1. Ayu : dari pengalaman yang sudah ada, apakah dibuku ini dituliskan juga saran-saran kepada pemerintah, misalnya apakah peraturan yang sudah ada selama ini dapat diimplementasikan atau masih perlu direvisi?
    • dr Hendro menyatakan jadi rekomendasi kebijakan di buku ini tidak ada karena jarak dari bencana yang terjadi ke penulisan buku ini sudah lama sementara rekomendasi ini perlu update. Rekomendasi kita sampaikan tapi lewat media lain.
  2. Nugroho : apakah ada regulasi tentang rumah yang ditinggal kemudian korslet?
    • Tim penyidik akan menentukan dulu apakah terdebut disengaja atau tidak disengaja, kemudian dilihat apakah menyebabkan kematian atau tidak. Semua ada aturannya.
  3. Ario : berdasarkan evidence based yang ada dibuku ini terkait kebijakan, aspek apa sekiranya yang belum ada regulasinya?
    • dr Hendro menjawab secara umum di bencana itu terdapatdua masalah yaitu di manajemen (disaster management) dan teknis (disaster medicine). Satu masalah di kebijakan itu menurut saya adalah aspek koordinasi. Misalnya antara SAR dan BNPB titik koordinasinya belum terbangun dengan baik
    • Terkait dengan sistem penanggulangan bencana, kita itu sudah bagus, tapi itu benar memang koordinasi ini belum terimplementasi dengan rapi. Setiap daerah berbeda kebijakannya. Kemarin saya baru dari Kalteng, dari segi kesehatan kuranag mereka perhatikan. Mereka fokus bagaimana untuk memadamkan api saja.

Reporter : Happy R Pangaribuan

Reportase Bimbingan Teknis Hospital Disaster Plan

hdp panti rapih 1

Reportase

Bimbingan Teknis Hospital Disaster Plan

H Boutique Hotel


hdp panti rapih 1

Bimbingan teknis dilakukan selama 3 hari, hari pertama penyampaian materi, hari kedua penugasan penyusunan dokumen dan hari ketiga kunjungan lapangan ke RS Panti Rapih. Jumlah peserta sebanyak 7 orang yang berasal dari 6 rumah sakit yaitu RS Tadulako, RS Permata Bunda, RS Mitra Paramedika, RS Sultan Imanuddin, RS. H.L. Manamabai Abdulkadir, dan RSUD Perbatasan Malaka.

Rabu, 28 Agustus 2019

Overview HDP

hdp panti rapih 2Penyampaian materi pertama tentang overview hospital disaster plan (HDP) oleh dr. Sulanto Saleh Danu, SpFK. Rumah sakit perlu memperhatikan potensi bencana yang dihadapi. Bencana yang sering dihadapi adalah bencana dari luar rumah sakit (eksternal). Misalnya gempa di Bantul, tiba – tiba rumah sakit menerima banyak pasien. Apakah kapasitas rumah sakit dapat memenuhi kebutuhan pasien? Untuk meminimalisir hal tersebut, maka perlu disusun dokumen hospital disaster plan. Pada HDP hospital incident command system sesederhana mungkin, komunikasi yang dibangun tidak birokatis.

hdp panti rapih 3Materi kedua tentang pengorganisasian disampaikan oleh dr. Handoyo Pramusinto, SpBS(K). Pemateri menanyakan bencana apa yang pernah terjadi di masing – masing rumah sakit. Kemudian pemateri juga menanyakan apa poin penting yang didapatkan dari materi overview HDP. Peserta juga diberi kesempatan untuk memberikan pendapat apa yang akan dibahas dalam materi pengorganisasian ini. Dalam struktur organisasi ini tidak perlu ada struktur baru, struktur yang dipakai tetap yang ada pada struktur sehari – hari. Namun struktur ini harus lebih sederhana tetapi mencakup semua kebutuhan.

Materi ketiga terkait logistik kesehatan oleh dr. Sulanto. Buffer stock di daerah perlu diperhatikan. Logistik mendukung semua kegiatan operasional saat bencana. Persiapan logistik ada pada sebelum bencana, pada saat bencana dan sesudah bencana. Jenis dan jumlah obat sesuai dengan jenis bencana yang terjadi dan prediksi populasi yang terkena. Dalam persiapan logistik ini juga perlu dipikirkan alternatif gudang logistik jika dalam sehari – hari gudang logistik rumah sakit sempit. Pengelola logistik harus paham tentang manajemen logistik ini mulai dari perencanaan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian.

Materi keempat tentang pengenalan penyusunan HDP disampaikan oleh Happy R Pangaribuan SKM, MPH. Pemateri memaparkan template dokumen hospital disaster plan. Template ini tidak baku, namun sudah disusun berdasarkan kebutuhan penanganan bencana di rumah sakit. Dokumen hospital disaster plan adalah dokumen yang dinamis artinya perlu di – update/revisi setiap tahunnya. Hal lain yang perlu diperhatikan pada template ini adalah kegiatan rencana tindak lanjut, yaitu merencanakan sosialisasi dokumen kepada lintas sektor terkait dan lintas program serta waktu monitoring dan evaluasi dokumen.

 

Kamis, 29 Agustus 2019

hdp panti rapih 4Kegiatan hari ini diawali dengan penugasan pengorganisasian. Semua peserta mencoba menyusun sistem komando sesuai dengan ketenagaan yang ada di rumah sakit. Jika mengalami kesulitan selama pengerjaan, peserta berdiskusi langsung dengan fasilitator dan narasumber. Salah satu kesulitan peserta dalam menyusun sistem komando adalah belum ada tenaga terlatih terkait kebencanaan di rumah sakit, sehingga hal ini menjadi catatan bagi rumah sakit untuk rencana tindak lanjut.

hdp panti rapih 5Materi kelima tentang komponen HDP dalam akreditasi SNARS disampaikan oleh dr. Bella Donna, M.Kes. Pemateri mengawali dengan menanyakan apakah rumah sakit sudah memiliki HDP dan sudah pernah disimulasikan. Sebagian besar rumah sakit peserta belum memiliki HDP. Pemateri menyampaikan kembali bahwa HDP ini penting untuk mengurangi kekacauan yang terjadi di rumah sakit saat bencana. Setiap rumah sakit dalam akreditasi SNARS diwajibkan memiliki HDP. HDP disiapkan kemudian disimulasikan sehingga bisa lolos akreditasi.

hdp panti rapih 6Materi keenam tentang analisis risiko, HIS dan SOP disampaikan oleh Madelina Ariani SKM, MPH. Pemateri menyampaikan bahwa saat melakukan analisis risiko dalam menentukan jenis bencana, peserta jangan takut untuk mencantumkan sebanyak mungkin bencana yang berpotensi mungkin akan terjadi. Dari jenis bencana tersebut maka akan dihitung kembali bencana apa yang menjadi prioritas penanganan. Misalnya di RS Tadulako Palu ada gempa, banjir, tsunami, likuifaksi, kerusuhan antar desa dan kebakaran, maka setelah melakukan analisis risko kemungkinan yang menjadi prioritas adalah gempa.

Materi ketujuh tentang sistem informasi dan manajemen relawan disampaikan oleh dr. Bella Donna. Data dan informasi yang dimaksud ini adalah semua data dan informasi yang dibutuhkan pada saat bencana.Relawan pada dasarnya datang untuk menolong tapi perlu diingat juga bukan untuk membebani fasilitas kesehatan. Seharusnya relawan yang datang sudah memahami apa yang menjadi kewajibannya dan mengikuti prosedur yang ada di rumah sakit. Selanjutnya setelah selesai sesi diskusi peserta melanjutkan pengerjaan penugasan dokumen HDP dan pelatihan teknik penyusunan peta respon.

hdp panti rapih 7

Fasilitator membuat satu skenario gempa, dimana beberapa relawan sudah ada yang datang ke rumah sakit. Perwakilan peserta membagi tugas yang bertanggung jawab di meja penerimaan dan penempatan relawan serta penerimaan logistik. Selebihnya menjadi relawan. Relawan yang datang dari berbagai profesi. Peserta dilatih bagaimana menangani relawan yang datang dan membaca peta respon.

 

Jumat, 40 Agustus 2019

Kunjungan Lapangan Ke RS Panti Nugroho

hdp panti rapih 1

Kegiatan ini diawali dengan pembukaan dari dr. Bella. Bella mengatakan bahwa dalam kunjungan ini peserta aktif untuk berdiskusi. Selanjutnya peemaparan dari dr. Tendean selaku direktur RS Panti Nugroho tentang pengalaman dan kebijakan terkait penanganan bencana di rumah sakit. RS Panti Nugroho tidak luput dari gempa. HDP yang disusun RS Panti Nugroho berdasarkan scenario Gunung Merapi. dr. Tendean menunjukkan peta radius jarak datar Gunung Merapi, menampilkan video simulasi Merapi dan simulasi gempa. Selanjutnya peserta berkeliling untuk melihat fasilitas – fasiltas rumah sakit yang sudah disiapkan jika terjadi bencana. Peserta didampingi oleh ketua bencana pada stuktur organisasi system komando di RS Panti Nugroho.

 

Penutup

Demikian laporan kegiatan bimbingan teknis Hospital Disaster Plan. Kegiatan ini akan bermanfaat untuk meningkatkan kesiapan rumah sakit dalam penanganan bencana. Penyelenggara kegiatan akan memfasilitasi rumah sakit untuk menyelesaikan dokumen berupa konsultasi atau diskusi jarak jauh.

Reporter              : Happy R Pangaribuan

Foto                    : Dokumentasi PKMK FK-KMK UGM

Laporan Kegiatan Refreshing First Aid for Doctors, Nurses, and Midwives Puskesmas Marawola Kabupaten Sigi

marawola report dokter 1

Laporan Kegiatan

Refreshing First Aid for Doctors, Nurses, and Midwives

Puskesmas Marawola –  Kabupaten Sigi


marawola report dokter 1 

Pengantar

Puskesmas Marawola menerima banyak pasien korban gempa Sulawesi Tengah pada September 2019. Tenaga medis puskesmas saling berkolaborasi untuk menangani korban bencana secara cepat dan tepat. Mereka dituntut tetap mampu melakukan pelayanan kesehatan secara menyeluruh saat terjadi gempa. Tenaga medis juga harus memahami penanganan korban bencana berbasis kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, kekacauan/chaos yang terjadi di puskesmas saat bencana dapat dicegah/ diminimalkan sejak dini. Pelatihan ini menyajikan pertolongan pertama saat bencana pada tenaga medis.

Pelaksanaan

Pada Selasa (6/9/2019) Tim Pokja Bencana Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK – KMK) Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan Himpunan Perawat Gawat Darurat dan Bencana Indonesia (HIPGABI) Provinsi Sulawesi Tengah mengadakan refreshing pertolongan pertama pada gawat darurat di Puskesmas Marawola, Kabupaten Sigi. Kegiatan tersebut berlangsung selama 4 Hari. Pada hari pertama kegiatan pertolongan pertama pada gawat darurat berfokus pada materi kegawatdaruratan dengan peserta adalah dokter, perawat dan bidan yang bertugas di Puskesmas Marawola.

Selasa, 6 Agustus 2019

marawola report dokter 2Hari pertama tim langsung disambut oleh kepala Puskesmas Marawola. Materi pertama mengenai Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) dan Initial Assessment disampaikan oleh Sutono, S.Kp., M.Sc., M.Kep. Dalam paparannya, Sutono, S.Kp., M.Sc., M. Kep menyatakan bahwa petugas kesehatan perlu cermat dan teliti dalam mengenali dan menangani korban dengan kondisi gawat darurat. Lebih lanjut dijelaskan bahwa petugas kesehatan harus mengetahui mana korban yang perlu ditangani terlebih dahulu dan mana korban yang memiliki prioritas kedua. Hal tersebut didasarkan pada prinsip yang dinamakan triase.

marawola report dokter 3Pembicara Kedua dalam kegiatan ini adalah Dr. Sri Setiyarini, S.Kp., M. Kes yang menjelaskan mengenai manajemen jalan napas. Sri yang juga sebagai Ketua Departemen Keperawatan Dasar dan Emergensi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada menjelaskan berbagai teknik dalam membuka dan mempertahankan kepatenan jalan napas bagi korban dengan penurunan kesadaran. Pada kesempatan yang sama, Dr. Sri Setiyarini, S.Kp., M.Kes menyatakan penggunaan alat bantu pernapasan yang tidak tepat bagi pasien justru dapat meningkatkan kematian pada pasien sehingga beliau berpesan agar petugas kesehatan selalu meng – update keilmuannya sesuai perkembangan jaman.

marawola report dokter 4Paparan ketiga disampaikan oleh perwakilan dari HIPGABI Sulawesi Tengah, Surianto, S.Kep., Ns., M.Kes. Dengan topik konsep luka dan teknik pembalutan. Dalam penjelasan yang disampaikan bahwa teknik pembalutan yang baik adalah teknik balut yang dapat menghentikan perdarahan yang terjadi, namun tidak menimbulkan gangguan sirkulasi pasca pembalutan. Untuk itu, Surianto, S.Kep., Ns., M.Kes menekankan pentingnya pengecekan nadi, suhu, dan capillary refill pada organ distal setelah selesai dilakukan pembalutan agar tidak terjadi nekrosis.

marawola report dokter 5Materi keempat disampaikan oleh Bayu Fandhi Achmad, S.Kep., Ns., M.Kep. dengan tema Basic Life Support (BLS). Pada kesempatan ini, Bayu menjelaskan mengenai pentingnya Resusitasi Jantung Paru (RJP) untuk dilakukan sesegera mungkin pada korban dengan kondisi henti jantung. Lebih jauh Bayu juga menjelaskan mengenai teknik dalam melakukan RJP.

marawola report dokter 6Pembicara terakhir dalam kegiatan ini adalah Eri Yanuar A.B.S., S.Kep., Ns., M.NSc.IC., dengan tema patah tulang dan pembidaian. Dalam paparannya dijelaskan bahwa petugas kesehatan sering terkecoh oleh fraktur tertutup karena secara fisik tidak terdapat luka di kulit pasien sehingga diharapkan petugas kesehatan lebih teliti dalam melakukan pengkajian patah tulang pada pasien.

Rabu, 7 Agustus 2019

pelatihan hari kedua ini peserta dilatih empat skill yaitu resusitasi jantung paru (RJP), manajemen jalan napas, pembalutan dan pembidaian, serta ambulasi dan transportasi. Pada kesempatan ini peserta secara antusias mencoba praktik keempat skill secara bergantian dan didampingi oleh instruktur sehingga setiap peserta dapat melatih skill – nya secara lebih mendalam.

Sebagian peserta kegiatan pelatihan ini menyatakan bahwa rutinitas pekerjaan yang dijalaninya membuatnya kesulitan untuk meng – update keilmuannya sehingga dengan adanya pelatihan ini membuat pengetahuan dan keterampilan kegawatdaruratan kembali dan dirinya dapat mengasah kemampuan medisnya lebih jauh.

Penutup

Demikian Laporan Kegiatan Refreshing First Aid untuk tenaga medis di Puskesmas Marawola. Kegiatan tersebut direspon positif oleh seluruh peserta yang terdiri dari tim medis Puskesmas Marawola, Kabupaten Sigi. Dengan adanya kegiatan ini dapat menambah wawasan peserta dan menjadi pengingat kembali konsep dan materi kegawatdaruratan medis.

 

Foto                 : PKMK FK – KMK UGM
Reporter           : Bayu Fandhi Achmad

Laporan Kegiatan Refreshing First Aid for Refreshing Basic First Aid Training for Non Medical Staff and Community Puskesmas Marawola Kabupaten Sigi

marawola report 1

Laporan Kegiatan

Refreshing First Aid for Refreshing Basic First Aid Training for Non Medical Staff and Community

Puskesmas Marawola – Kabupaten Sigi

marawola report 1


PENGANTAR

Pada saat bencana terjadi tenaga non medis harus mampu melakukan pertolongan pertama pada korban karena puskesmas pasti menerima pasien dalam jumlah besar. Masyarakat juga perlahan menyadari bahwa mereka tinggal di daerah rawan bencana. Penting bagi masyarakat siap siaga dalam penanggulangan bencana. Belakangan ini bannyak daerah yang mencanangkan program desa tangguh bencana atau masyarakat tangguh bencana. Manajemen penanganan bencana harus berbasis masyarakat karena pada dasarnya saat bencana terjadi yang dilakukan adalah menyelamatkan diri sendiri dan orang terdekat mereka. Pelatihan ini menyajikan terkait pertolongan pertama saat bencana terjadi pada tenaga non medis dan masyarakat.

 

PELAKSANAAN

Kamis, 8 Agustus 2019

Pada Kamis (8/8/2019)Tim dari Pokja Bencana Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK – KMK) Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan Himpunan Perawat Gawat Darurat dan Bencana Indonesia (HIPGABI) Provinsi Puskesmas Sulawesi Tengah mengadakan refresh mengenai pertolongan pertama pada gawat darurat di Marawola, Kabupaten Sigi. Pada Hhri ketiga kegiatan pertolongan pertama pada gawat darurat berfokus pada materi kegawatdaruratan dengan peserta adalah tenaga non medis Puskesmas Marawola dan Masyarakat. Mereka dibagi menjadi dua ruangan, karena mempertimbangkan ada sedikit perbedaan isi materi dan teknis penyampaian materi. Masyarakat yang dimaksud sebagai peserta terdiri dari kader kesehatan, kepala dan perangkat desa di Kecamatan Marawola. Materi yang diberikan sama dan system penyampaian materi dengan role play, narasumber bergantian untuk menyampaikan materi di dua kelas sekaligus.

marawola report 2Materi pertama mengenai Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) oleh Sutono, S.Kp., M.Sc., M. Kep. Dalam paparannya, Sutono, S.Kp., M.Sc., M.Kep menyatakan bahwa masyarakat merupakan pihak pertama yang menjumpai kondisi kegawatan sehingga mereka memiliki peran penting dalam menyelamatkan jiwa saat kondisi kegawatan terjadi di masyarakat. Tenaga non medis juga mereka partner kerja tenaga medis dan masyarakat sehingga SPGDT penting untuk dipahami.

Pembicara kedua dalam kegiatan ini adalah Dr. Sri Setiyarini, S.Kp., M.Kes yang menjelaskan mengenai manajemen jalan napas. Sri juga sebagai Ketua Departemen Keperawatan Dasar dan Emergensi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada menjelaskan mengenai berbagai teknik dalam membuka dan mempertahankan kepatenan jalan napas bagi korban dengan penurunan kesadaran.

Paparan ketiga disampaikan oleh perwakilan dari HIPGABI Sulawesi Tengah, Surianto, S.Kep., Ns., M.Kes. dengan topik konsep luka dan teknik pembalutan. Dalam penjelasan yang disampaikan bahwa teknik pembalutan yang baik adalah teknik balut yang dapat menghentikan perdarahan yang terjadi, namun tidak menimbulkan gangguan sirkulasi pasca pembalutan.

Materi keempat disampaikan oleh Bayu Fandhi Achmad, S.Kep., Ns., M.Kep. dengan tema Basic Life Support (BLS). Pada kesempatan itu beliau menjelaskan mengenai pentingnya Resusitasi Jantung Paru (RJP) untuk dilakukan sesegera mungkin pada korban dengan kondisi henti jantung. Lebih jauh Bayu Fandhi Achmad, S.Kep., Ns., M.Kep. juga menjelaskan mengenai teknik dalam melakukan RJP pada awam.

marawola report 3Pembicara terakhir dalam kegiatan ini adalah Eri Yanuar A.B.S., S.Kep., Ns., M.NSc.IC., dengan tema patah tulang dan pembidaian. Dalam paparannya dijelaskan bahwa masyarakat sering terkecoh oleh fraktur tertutup karena secara fisik tidak terdapat luka di kulit pasien sehingga diharapkan masyarakat lebih teliti dalam melakukan pengkajian patah tulang pada pasien.

 

Jumat, 9 Agustus 2019

Pokja Bencana Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan Himpunan Perawat Gawat Darurat dan Bencana Indonesia (HIPGABI) Provinsi Sulawesi Tengah kembali mengadakan refresh mengenai pelatihan pertolongan pertama pada gawat darurat di Puskesmas Marawola, Kabupaten Sigi. Pada Hari kedua ini kegiatan berfokus pada praktik managemen kegawatdaruratan.

marawola report 4

Pada pelatihan ini peserta dilatih empat skill yaitu resusitasi jantung paru (RJP), managemen jalan napas, pembalutan dan pembidaian, serta ambulasi dan transportasi. Pada kesempatan ini peserta secara antusias mencoba praktik keempat skill secara bergantian dan didampingi oleh instruktur sehingga setiap peserta dapat melatih skill – nya secara lebih mendalam.

Sebagian peserta kegiatan pelatihan ini mengatakan bahwa masyarakat jarang sekali terpapar dengan kegiatan semacam ini sehingga dengan adanya kegiatan pelatihan ini membuat pengetahuan dan keterampilan kegawatdaruratan dapat mengasah kemampuan yang dimiliki yang dimiliki.

Penutup

Pelatihan ini bermanfaat bagi tenaga non medis di puskesmas untuk upgrade pengetahuan dan keterampilan terkait pertolongan pertama saat bencana. Demikian juga bagi masyarakat, melalui peatihan ini masyarakat dapat terlibat dalam sistem penanganan bencana sektor kesehatan.

 

Foto                 : PKMK FK-KMK UGM
Reporter           : Bayu Fandhi Achmad