Reportase Webinar
Outlook Bencana Kesehatan 2020
Yogyakarta, 16 Januari 2020

Dok. PKMK FK – KMK UGM “Outlook Bencana Kesehatan 2020”
Pengantar
Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK – KMK UGM mengadakan diskusi outlook bencana kesehatan 2020 dengan mengangkat isu rumusan penguatan dinas kesehatan dalam menghadapi bencana dan krisis kesehatan termasuk penguatan pembiayaan, koordinasi lintas program dan kerja sama perguruan tinggi di daerah. Kegiatan ini dilakukan juga melalui webinar dengan sasaran peserta dari dinkes provinsi/kabupaten/kota, rumah sakit, puskesmas, BPBD provinsi/kabupaten/kota, Fakutas Kedokteran/Kesehatan Masyarakat, peneliti, mahasiswa dan pemerhati bencana kesehatan. Dari hasil diskusi outlook terdapat dua poin penting yang menjadi perhatian khusus yaitu penguatan dinkes provinsi dan penguatan peran perguruan tinggi dalam penanggulangan bencana sektor kesehatan.
Pelaksanaan
Peserta yang menghadiri langsung outlook sebanyak 25 orang dan diikuti secara webinar dari 38 titik di Indonesia. Materi yang disampaikan terbagi menjadi dua yaitu outlook krisis kesehatan Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes dan outlook bencana kesehatan Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK – KMK UGM. Kemudian ditanggapi oleh pembahas dan diskusi dengan peserta.

Dok. Peserta Webinar “Peserta Webinar dari FK Universitas Tadulako (kiri) dan FK Universitas Alkhairaat (kanan)
Outlook Pusat Krisis Kesehatan Tahun 2019 – 2020
Materi ini disampaikan oleh dr. Budi Sylvana, MARS selaku Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes Indonesia. Jumlah kejadian bencana tertinggi 2019 terjadi di Jawa Barat, DKI, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Riau. Konsentrasi penduduk Indonesia banyak di provinsi tersebut. Hasil pantauan Pusat Krisis Kesehatan data kejadian bencana pada 2019 terdapat 2.954 bencana. Jumlah korban krisis kesehatan 2019 kurang lebih 2,5 juta jiwa dan lebih dari 1 juta penduduk yang mendapatkan pelayanan kesehatan rawat jalan. Paradigma manajemen bencana sekarang ini adalah pengurangan risiko bencana dengan tidak mengesampingkan program respon. Selama ini rata – rata masalah yang muncul di lokasi pengungsian adalah keterbatasan ketersediaan air bersih. Selama 2015 – 2019 Pusat Krisis Kesehatan telah melakukan intervensi ke Kabupaten/Kota dengan kegiatan asistensi kapasitas kabupaten/kota dalam manajemen krisis kesehatan. Pada 2020 akan difokuskan ke penguatan provinsi yaitu melalui asistensi kapasitas manajemen krisis kesehatan, pendampingan penyusunan peta respon, pendampingan penyususnan rencana kontijensi, table top exercise dan simulasi. Selengkapnya DISINI

Dok. Peserta Webinar “Materi Outlook Krisis Kesehatan tahun 2019-2020”
Kaleidoskop dan Outlook Bencana Kesehatan dari Divisi Manajemen Kesehatan PKMK FK – KMK UGM
Materi ini disampaikan oleh dr. Bella Donna M.Kes selaku Kepala Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK – KMK UGM. Secara umum, beberapa kegiatan yang dilakukan oleh divisi adalah respon bencana, call for proposal, kurikulum/pelatihan/buku, kerjasama/pendampingan, konferensi dan publikasi. Penguatan provinsi dalam penanggulangan bencana menjadi tantangan bersama. Ketahanan kesehatan, klaster kesehatan dan rencana kontijensi menjadi kegiatan penting bagi dinas kesehatan. Outlook Divisi Manajemen Bencana Kesehatan 2020 akan melakukan upaya penguatan ketahanan kesehatan di Kabupaten/Kota melalui penyusunan dokumen rencana penanggulangan bencana dan krisis kesehatan yang operasional sesuai dengan ancaman masing – masing daerah (disimulasikan, dikomunikasikan ke lintas sektor). Pada 2020 ada beberapa program yang dilakukan bekerja sama dengan Caritas yaitu pendampingan Sulawesi Tengah melalui perluasan pendampingan ke Kota Palu dan Kabupaten Donggala. Akan dilaksanakan juga Training of Trainer (ToT) untuk pendampingan penyusunan dokumen dinkes, rumah sakit dan puskesmas. Dimana sasaran ToT ini adalah dinas kesehtan dan perguruan tinggi (FK Universitas Tadulako dan FK Universitas Alkhairaat), harapannya setelah pelaksanaan ToT pendampingan ke kabupaten lainnya bisa dilakukan oleh sumber daya lokal. Selengkapnya DISINI
Dok. PKMK FK.KMK UGM “Sesi Materi Kaleidoskop dan Outlook Bencana Kesehatan”
Pembahas
dr. Hendro Wartatmo, SpB – KBD
Pengetahuan kita terkait bencana belum terstruktur, pendidikan bencana juga belum menyeluruh. Kita lihat banjir Jakarta, kelihatannya ada ketidaksinkronan early warning system antara BPBD DKI dengan aparat DKI. Artinya ilmu terkait bencana ini belum meluas. Saat ini kita berusaha kearah bagaimana menerapkan ilmu kebencanaan ini.
Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, PhD
Membahas dalam konteks waktu dan ada efek samping dari politik dalam bencana ini. Siap tidak negara, pemerintah dengan masyarakat itu bekerja sama? Kerja sama ini akan rumit pada era teknologi dan digital sekarang ini. Pertanyaan selanjutnya adalah dimana peran perguruan tinggi? Harapannya jangan sampai lengah, karena variasi bencana ini semakin banyak. Kira membutuhkan sumber daya lokal untuk mengembangkan manajemen bencana kesehatan ini di masing – masing daerah.
Sakinah SE, MT
Dinkes Sulawesi Tengah sudah menyusun peta rawan bencana di kabupaten/kota. Contohnya frekuensi bencana banjir di Kabupaten Sigi sangat tinggi. Dinkes juga sudah membentuk tim dalam klaster kesehatan dan sekarang dokumen dinkes disaster plan atau sering disebut dengan rencana kontijensi sudah disusun dan sekarang masih proses tahap revisi dimana penyusunan dokumen tersebut didampingi langsung oleh PKMK FK – KMK UGM. Pada 2020 ini program – program kita di bidang UPT K2T telah didiskusikan juga dengan PKMK FK – KMK UGM dan dalam pelaksanaan program ke depan akan tetap bekerja sama. Pendampingan dari perguruan tinggi ini sangat dibutuhkan. FK Universitas Alkhairaat juga menambahkan bahwa mereka memiliki visi kesehatan matra, jadi sangat mendukung pelaksanaan program penanggulangan bencana kesehatan. Pengembangan melalui kurikulum bencana di universitas akan tetap dilakukan dan tentu tidak lepas dari arahan dinas kesehatan.

Dok. PKMK FK-KMK UGM “ Sesi Pembahas dan Diskusi”
Diskusi :
Pada sesi diskusi, peserta menanyakan beberapa hal berikut :
- Terkait rancangan kurikulum nasional tentang kebencanaan yang bisa diaplikasikan sebagai panduan. à Fakultas Kedokteran yang memiliki kurikulum bencana itu masih sedikit. Masalahnya berbeda, jikakurikulum untuktrauma itu sudah ada polanya namun kalau di manajemen belum ada. Melihat dari SNI terkait tentang pendidikan kebencanaan kesehatan, kalau untuk UGM sendiri sudah melewati batas-batas SNI yang ada Dikti. Inilah yang menjadi tantangan, harapannya tahun ini kita bisa mengaktikan forum perguruan tinggi untuk menyamaratakan kurikulum bencana kesehatan di fakultas kesdokteran bencana. Perluasan pendidikan ini juga bisa dimasukkan melaluiKKN tematik mahasiswa yang dikirimkan ke daerah rawan bencana.
- Pembagian tugas dalam penanggulangan bencana, sistem koordinasi lintas sektor, siapa yang menjadi leading –
- Pada program BPBD DIY sudah mengembangkan sistem bersama sama dengan sektor lainnya. Akan ada gladi posko dan gladi lapangan untuk melatih sistem. Jadi dari kegiatan tersebut akan terlihat masing – masing peran dari sektor. SK Klaster kesehatan DIY sekarang ini sudah disusun, klaster kesehatan sudah beberapa kali melakukan rakornis, ini merupakan salah satu strategi untuk pembagian tugas dan pemahaman peran masing – masing institusi
- Pada dinkes DIY terkait klaster kesehatan, mengikuti sistem yang sudah dibentuk oleh BPBD, mengikuti komando yang sudah ditentukan di ICS saat bencana. Dinkes juga mencoba membuat mekanisme pengorganisasian sistem komando bencana ini pada Dinkes Kesehatan Kabupaten/Kota, dan sistem pengorganisasian ini juga menyesuaikan dengan ICS yang ada di BPBD.
- Bagaimana pendekatan secara manajemen terkait dengan bencana sosial.
- Pendekatan yang akan dialkuakn baik itu bencana sosial akan dilakukan Dinkes Provinsi langsung jadi provinsi sebagai aktor atau pelaku pada kabupaten dan kota
Reporter : Happy R Pangaribuan


























Penyampaian materi pertama tentang overview hospital disaster plan (HDP) oleh dr. Sulanto Saleh Danu, SpFK. Rumah sakit perlu memperhatikan potensi bencana yang dihadapi. Bencana yang sering dihadapi adalah bencana dari luar rumah sakit (eksternal). Misalnya gempa di Bantul, tiba – tiba rumah sakit menerima banyak pasien. Apakah kapasitas rumah sakit dapat memenuhi kebutuhan pasien? Untuk meminimalisir hal tersebut, maka perlu disusun dokumen hospital disaster plan. Pada HDP hospital incident command system sesederhana mungkin, komunikasi yang dibangun tidak birokatis.
Materi kedua tentang pengorganisasian disampaikan oleh dr. Handoyo Pramusinto, SpBS(K). Pemateri menanyakan bencana apa yang pernah terjadi di masing – masing rumah sakit. Kemudian pemateri juga menanyakan apa poin penting yang didapatkan dari materi overview HDP. Peserta juga diberi kesempatan untuk memberikan pendapat apa yang akan dibahas dalam materi pengorganisasian ini. Dalam struktur organisasi ini tidak perlu ada struktur baru, struktur yang dipakai tetap yang ada pada struktur sehari – hari. Namun struktur ini harus lebih sederhana tetapi mencakup semua kebutuhan.
Kegiatan hari ini diawali dengan penugasan pengorganisasian. Semua peserta mencoba menyusun sistem komando sesuai dengan ketenagaan yang ada di rumah sakit. Jika mengalami kesulitan selama pengerjaan, peserta berdiskusi langsung dengan fasilitator dan narasumber. Salah satu kesulitan peserta dalam menyusun sistem komando adalah belum ada tenaga terlatih terkait kebencanaan di rumah sakit, sehingga hal ini menjadi catatan bagi rumah sakit untuk rencana tindak lanjut.
Materi kelima tentang komponen HDP dalam akreditasi SNARS disampaikan oleh dr. Bella Donna, M.Kes. Pemateri mengawali dengan menanyakan apakah rumah sakit sudah memiliki HDP dan sudah pernah disimulasikan. Sebagian besar rumah sakit peserta belum memiliki HDP. Pemateri menyampaikan kembali bahwa HDP ini penting untuk mengurangi kekacauan yang terjadi di rumah sakit saat bencana. Setiap rumah sakit dalam akreditasi SNARS diwajibkan memiliki HDP. HDP disiapkan kemudian disimulasikan sehingga bisa lolos akreditasi.
Materi keenam tentang analisis risiko, HIS dan SOP disampaikan oleh Madelina Ariani SKM, MPH. Pemateri menyampaikan bahwa saat melakukan analisis risiko dalam menentukan jenis bencana, peserta jangan takut untuk mencantumkan sebanyak mungkin bencana yang berpotensi mungkin akan terjadi. Dari jenis bencana tersebut maka akan dihitung kembali bencana apa yang menjadi prioritas penanganan. Misalnya di RS Tadulako Palu ada gempa, banjir, tsunami, likuifaksi, kerusuhan antar desa dan kebakaran, maka setelah melakukan analisis risko kemungkinan yang menjadi prioritas adalah gempa.


Hari pertama tim langsung disambut oleh kepala Puskesmas Marawola. Materi pertama mengenai Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) dan Initial Assessment disampaikan oleh Sutono, S.Kp., M.Sc., M.Kep. Dalam paparannya, Sutono, S.Kp., M.Sc., M. Kep menyatakan bahwa petugas kesehatan perlu cermat dan teliti dalam mengenali dan menangani korban dengan kondisi gawat darurat. Lebih lanjut dijelaskan bahwa petugas kesehatan harus mengetahui mana korban yang perlu ditangani terlebih dahulu dan mana korban yang memiliki prioritas kedua. Hal tersebut didasarkan pada prinsip yang dinamakan triase.
Pembicara Kedua dalam kegiatan ini adalah Dr. Sri Setiyarini, S.Kp., M. Kes yang menjelaskan mengenai manajemen jalan napas. Sri yang juga sebagai Ketua Departemen Keperawatan Dasar dan Emergensi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada menjelaskan berbagai teknik dalam membuka dan mempertahankan kepatenan jalan napas bagi korban dengan penurunan kesadaran. Pada kesempatan yang sama, Dr. Sri Setiyarini, S.Kp., M.Kes menyatakan penggunaan alat bantu pernapasan yang tidak tepat bagi pasien justru dapat meningkatkan kematian pada pasien sehingga beliau berpesan agar petugas kesehatan selalu meng – update keilmuannya sesuai perkembangan jaman.
Paparan ketiga disampaikan oleh perwakilan dari HIPGABI Sulawesi Tengah, Surianto, S.Kep., Ns., M.Kes. Dengan topik konsep luka dan teknik pembalutan. Dalam penjelasan yang disampaikan bahwa teknik pembalutan yang baik adalah teknik balut yang dapat menghentikan perdarahan yang terjadi, namun tidak menimbulkan gangguan sirkulasi pasca pembalutan. Untuk itu, Surianto, S.Kep., Ns., M.Kes menekankan pentingnya pengecekan nadi, suhu, dan capillary refill pada organ distal setelah selesai dilakukan pembalutan agar tidak terjadi nekrosis.
Materi keempat disampaikan oleh Bayu Fandhi Achmad, S.Kep., Ns., M.Kep. dengan tema Basic Life Support (BLS). Pada kesempatan ini, Bayu menjelaskan mengenai pentingnya Resusitasi Jantung Paru (RJP) untuk dilakukan sesegera mungkin pada korban dengan kondisi henti jantung. Lebih jauh Bayu juga menjelaskan mengenai teknik dalam melakukan RJP.
Pembicara terakhir dalam kegiatan ini adalah Eri Yanuar A.B.S., S.Kep., Ns., M.NSc.IC., dengan tema patah tulang dan pembidaian. Dalam paparannya dijelaskan bahwa petugas kesehatan sering terkecoh oleh fraktur tertutup karena secara fisik tidak terdapat luka di kulit pasien sehingga diharapkan petugas kesehatan lebih teliti dalam melakukan pengkajian patah tulang pada pasien.
Materi pertama mengenai Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) oleh Sutono, S.Kp., M.Sc., M. Kep. Dalam paparannya, Sutono, S.Kp., M.Sc., M.Kep menyatakan bahwa masyarakat merupakan pihak pertama yang menjumpai kondisi kegawatan sehingga mereka memiliki peran penting dalam menyelamatkan jiwa saat kondisi kegawatan terjadi di masyarakat. Tenaga non medis juga mereka partner kerja tenaga medis dan masyarakat sehingga SPGDT penting untuk dipahami.
Pembicara terakhir dalam kegiatan ini adalah Eri Yanuar A.B.S., S.Kep., Ns., M.NSc.IC., dengan tema patah tulang dan pembidaian. Dalam paparannya dijelaskan bahwa masyarakat sering terkecoh oleh fraktur tertutup karena secara fisik tidak terdapat luka di kulit pasien sehingga diharapkan masyarakat lebih teliti dalam melakukan pengkajian patah tulang pada pasien.