Laporan : Tim Klaster Kesehatan FK UGM ke-2 dalam Bakti Sosial di Bima, Nusa Tenggara Barat

TIM Ke 2 tiba di bima

Laporan :

Tim Klaster Kesehatan FK UGM ke-2 dalam Bakti Sosial di Bima, Nusa Tenggara Barat


Pembaca website bencana kesehatan pada 21 Desember 2016 telah terjadi banjir bandang akibat hujan deras yang mengguyur wilayah Bima dan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Akibat hujan deras ini ribuan rmah terendam banjir di Kota Bima, Kabupaten Bima dan Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Fakultas Kedokteran UGM pada 30 Desember 2016 mengirimkan tim klaster kesehatan untuk melakukan penilaian awal dalam kebutuhan dalam bencana banjir bandang di Bima.

{tab Hari 1 |blue}

LAPORAN KEGIATAN HARI PERTAMA
TIM KEDUA-BENCANA BANJIR BIMA

PKMK-Bima, 18 Januari 2017

TIM Ke 2 tiba di bima

Tim kedua yang diterjunkan ke Bima mulai tanggal 18 – 21 Januari 2017 terdiri dari 4 orang yang terbagi menjadi 2 grup yaitu:
1.    Grup 1 terdiri dari Dr. Ir. Agus Maryono dan Rifqi Amrillah Abdi yang berfokus pada penerapan teknologi alat pemanen air hujan
2.    Grup 2 terdiri dari Prof. dr. Hari Kusnanto, DrPH dan Bayu Fandhi Achmad, S.Kep., Ns., M.Kep. yang berfokus pada studi kesehatan lingkungan.
Tim Kedua FK UGM

Tim tiba di Bandara Sultan M.Salahudin Bima jam 14.00 WITA, dijemput oleh Bapak Agus Salim (Mahasiswa FETP UGM-salah satu anggota dari tim pertama yang diterjunkan ke Bima) langsung menuju ke Balaikota untuk menghadap Asisten II Walikota Bima untuk memperkenalkan diri sekaligus menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan tim. Asisten II Walikota Bima sangat mengapresiasi kedatangan tim UGM dan mengucapkan terima kasih telah peduli dan membantu warga kota Bima yang sedang ditimpa musibah berupa bencana banjir.

TIM UGM 2 bakti banjir bima

Tim selanjutnya dibagi menjadi 2 yaitu 1 grup bergerak ke kantor Dinas Kesehatan Kota Bima untuk mempresentasikan teknologi alat pemanen air hujan pada perwakilan PUSKESMAS dan Dinas Kesehatan Kota Bima serta 1 grup bergerak untuk mempersiapkan berbagai alat dan bahan yang akan digunakan untuk pembuatan alat pemanen air hujan tersebut. Dalam presentasi yang dihelat pada pukul 15.00 WITA tersebut, Dr. Ir. Agus Maryono berusaha menyampaikan materi berupa:

  1. Filosofi memanen air hujan
  2. Manfaat memanen air hujan
  3. Keutamaan air hujan dibandingkan dengan air dari PDAM dan sumur bor
  4. Masalah-masalah yang timbul terkait dengan air tanah
  5. Cara membuat alat pemanen air hujan

presentasi panen hujan

Respon peserta terlihat sangat antusias dan tertarik dengan teknologi alat pemanen air hujan tersebut karena dirasa cukup mudah diaplikasikan dengan biaya yang relatif terjangkau. Dari pertemuan tersebut diusulkan bahwa 1 prototipe alat pemanen air hujan akan dipasang di salah satu PUSKESMAS Kota Bima dan 1 prototipe lagi dipasang di Dinas Kesehatan Kota Bima.

Setelah kegiatan tersebut tim bergerak menuju salah satu sungai di kota Bima untuk melakukan pengamatan dan berdiskusi dengan warga sekitar. Kondisi saat ini, warga Kota Bima sudah memulai beraktifitas namun masih terdapat masalah yang dihadapi oleh warga kota Bima yaitu managemen sampah pasca banjir yang masih belum tertangani dengan baik. Sampah domestik masih menggunung dipinggir jalan dan belum sepenuhnya terangkut. Kondisi air tanah juga masih berasa dan berbau tidak sedap sehingga menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi masyarakat. Selain itu kondisi sungai terlihat telah terokupasi oleh pemukiman masyarakat bantaran sungai, bibir sungai sudah dibangun tembok batu sehingga ekosistem sekitar sungai mati.

masalah pasca banjir bima

Rencana hari kedua adalah

  1. Melakukan presentasi dan demonstrasi terkait penerapan teknologi alat pemanen air hujan di kantor walikota Bima
  2. Melakukan survey penyakit dan masalah kesehatan pasca banjir di rumah sakit Bima

 

{tab Hari 2 |green}

LAPORAN KEGIATAN HARI KEDUA

TIM KEDUA-BENCANA BANJIR BIMA

PKMK-Bima, 19 Januari 2017


Sesuai dengan rencana, kami bergerak menuju kantor walikota Bima pada pukul 07.45 WITA. Setiba di kantor walikota kami bertemu Walikota untuk memperkenalkan diri serta maksud tujuan kedatangan tim. Wali Kota Bima memberikan apresiasi positif kepada tim UGM yang peduli kepada warga kota Bima. Tidak lupa, Dr. Ir. Agus Maryono selaku perwakilan dari Tim memberikan buku “Aku Cinta Sungaiku” kepada Wali Kota, untuk selanjutnya dapat diperbanyak dan didistribusikan pada siswa TK ataupun SD di Kota Bima.

bima h2 1

Selanjutnya diadakan presentasi dan demonstrasi alat pemanen air hujan di ruang rapat kantor walikota Bima yang dihadiri oleh perwakilan dari Dinas Kelautan, Dinas Pemukiman, Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKP2), Dinas Pertanian, Dinas Pariwisata, Badan Kepegawaian Daerah (BKD), Dinas Keperindag, Kabag Kesra, Dinas Kesehatan, Kesbangpol, Kabag administrasi pemerintahan, Dinas Pekerjaan Umum, dan Bappeda. Kegiatan tersebut diawali dengan presentasi mengenai restorasi sungai dan pemanfaatan air hujan. Kemudian dilanjutkan dengan demonstrasi mengenai pemanfaatan alat pemanen air hujan. Kegiatan tersebut ditutup dengan sesi tanya jawab dimana banyak pertanyaan yang diberikan, namun hal tersebut menunjukkan bahwa peserta kegiatan memiliki respon dan keterkaitan yang sangat positif terhadap alat pemanen air hujan.

bima h2 2

Setelah kegiatan di kantor walikota Bima, tim bergerak ke bagian surveilans RSUD Kabupaten Bima dan Dinas Kesehatan Kota Bima. Kegiatan tersebut bertujuan untuk mengetahui perubahan pola penyakit yang timbul sebelum dan sesudah banjir terjadi. Hasil yang didapatkan adalah adanya peningkatan kasus tetanus dan campak. Selain itu kondisi kota Bima saat ini sangat berdebu terutama di jalan raya bekas tergenang banjir dan lumpur sehingga perlu antisipasi terhadap kejadian ISPA.

bima h2 3

Pada dasarnya upaya untuk melakukan recovery terhadap banjir di kota Bima terus dijalankan, salah satunya dengan membersihkan sampah dan melebarkan selokan sehingga air dapat berjalan lebih lancar. Tim melihat beberapa petugas dengan menggunakan alat berat berusaha untuk melebarkan selokan sekaligus membersihkan samapah di selokan. Tanah hasil kerukan alat berat diangkut menggunakan truk.

bima h2 4

Pembelajaran penting yang didapat hari ini adalah bahwa pemerintah dan masyarakat harus bersama-sama dalam menangani kejadian banjir di kota Bima, pemerintah tidak perlu malu untuk mengakui bahwa memang tidak ammpu bekerja sendiri dan membutuhkan bantuan dari masyarakat. Kedua adalah perlunya meningkatkan rasa cinta terhadap sungai. Dengan adanya rasa cinta terhadap sungai diharapkan masyarakat akan menjaga sungai dengan baik. Pada dasarnya tidak ada satupun warga yang benci sungai, karena ada semacam kenangan masa kecil ketika melihat sungainya bersih, bisa mandi di sungai, dan banyak ikan disana sehingga itu adalah salah satu motivasi untuk menjaga sungai.

Rencana untuk hari ketiga:
1. Pemasangan instalasi alat pemanen air hujan di Puskesmas pananae dan Dinas Kesehatan Kota Bima
2. Membentuk grup komunikasi Gerakan Restorasi Sungai Indonesia 37 (GRSI 37)

 

{tab Hari 3 |red}

LAPORAN KEGIATAN HARI PERTAMA

TIM KEDUA-BENCANA BANJIR BIMA

PKMK-Bima, 20 Januari 2017


Hari ketiga diawali dengan rapat di Dinas Kesehatan Kota Bima yang dipimpin oleh Sekertaris Kepala Dinas Kesehatan Kota Bima untuk menentukan lokasi dimana alat Pemanen Air Hujan akan dipasang. Hasil rapat ditentukan bahwa Pemanen Air Hujan dipasang di Puskesmas Penanae dan Mpunda. Selanjutnya tim segera bergerak menuju lokasi pertama yaitu Puskesmas Penanae untuk melakukan pemasangan.

Proses Instalasi pemanen hujan

Setelah mendapat izin dari kepala Puskesmas, tim segera melakukan pemasangan alat tersebut. Kendala yang dihadapi adalah hujan yang turun cukup lama sehingga menghambat pemasangan alat tersebut, namun setelah hujan berhenti, tim kembali bekerja seperti biasa. Selanjutnya tim bergerak ke Puskesmas Mpunda untuk proses instalasi alat Pemanen Air Hujan yang kedua.

alat pemanen air hujan

Selain kegiatan pemasangan alat Pemanen Air Hujan, tim juga membentuk grup komunikasi Gerakan Restorasi Sungai Indonesia 37 (GRSI 37) yang terdiri dari perwakilan dari Dinas Kelautan, Dinas Pemukiman, BKP2, Dinas Pertanian, Dinas Pariwisata, BKD, Dinas Keperindag, Kabag Kesra, Dinas Kesehatan, Kesbangpol, Kabag administrasi pemerintahan, Dinas Pekerjaan Umum, Bapedas serta surveilans diseluruh puskesmas Kota Bima. Grup tersebut menunjukkan komitmen bersama untuk melakukan upaya perbaikan lingkungan berupa restorasi sungai, serta berusaha untuk merangkul masyarakat agar bersama-sama menciptakan dan menjaga sungai agar selalu bersih, sehat, dan aman dari banjir.

Tim juga melanjutkan untuk melakukan konfirmasi data kejadian penyakit baik kepada surveilans di Dinas kesehatan maupun berdiskusi dengan masyarakat. Tim mendatangi rumah staf Dinas Kesehatan untuk konfirmasi data perubahan pola penyakit sebelum dan sesudah terjadi bencana banjir. Hal tersebut dikarenakan terdapat kasus campak pascabanjir.
 
cek ph hasil panen air hujan

Rencana dihari keempat:

  1. Memastikan kembali alat Pemanen Air Hujan terlah terpasang dengan baik di kedua lokasi yang telah disebutkan.
  2. Melakukan uji lab terhadap air tampungan meliputi uji ph, bakteri, TDS

 

{tab Hari 4 |grey}

LAPORAN KEGIATAN HARI PERTAMA

TIM KEDUA-BENCANA BANJIR BIMA

PKMK-Bima, 21 Januari 2017


Dalam Proses Penyusunan

 

{/tabs}

 

 {jcomments on}

 

Update Laporan : Tim Klaster Kesehatan FK UGM dalam Bakti Sosial di Bima, Nusa Tenggara Barat

bima 1

Update Laporan :

Tim Klaster Kesehatan FK UGM dalam Bakti Sosial di Bima, Nusa Tenggara Barat


Pembaca website bencana kesehatan pada 21 Desember 2016 telah terjadi banjir bandang akibat hujan deras yang mengguyur wilayah Bima dan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Akibat hujan deras ini ribuan rmah terendam banjir di Kota Bima, Kabupaten Bima dan Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Fakultas Kedokteran UGM pada 30 Desember 2016 mengirimkan tim klaster kesehatan untuk melakukan penilaian awal dalam kebutuhan dalam bencana banjir bandang di Bima.

{tab Hari 1 |blue}

LAPORAN KEGIATAN TIM ASSESSMENT
LOKASI BANJIR BIMA

PKMK-Bima, 30 Desember 2016

Tim Klaster Kesehatan FK UGM tiba di Bandara Sultan M.Salahudin Bima jam 14.00 wita, dijemput oleh dr. Sri Yati (Residen Anak yang sedang referal di RSUD Bima) dan Sdr. Firman mahasiswa S3 FK UGM, menitipkan barang ke penginapan langsung menuju Balai Kota Bima yang saat ini dipakai sebagai “Pos Komando Penanganan Banjir Kota Bima”.

bima 1

Tim melapor ke ruang posko “Klaster Kesehatan” yang dipimpin oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Bima. Selanjutnya  tim Klaster Kesehatan bertemu dengan  Asisten 1 Walikota Bima Drs. M. Farid., M.Si. Tim Klaster Kesehatan  menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan tim ke Bima. Selain itu, direncanakan ada tim lanjutan dengan anggota multi profesi untuk membantu menangani dan memberikan masukan pada pemerintah kota Bima terkait dengan bencana banjir yang dihadapi dan bagaimana langkah ke depannya.  M. Farid  sangat welcome dan berharap tim dari UGM dapat berkontribusi untuk mengatasi tahap rehabilitasi pasca banjir bandang.

kantor walikota bima

Tim Klaster Kesehatan bertemu  dengan ketua IDI Kota Bima : dr. Fatur Rahman. Beberapa informasi yang kami dapatkan adalah stok obat penyakit kulit yang menipis, serta tingginya penyakit kulit, meningkatnya kasus diare khususnya pada anak-anak. dr. Fatur Rahman juga menyampaikan bahwa  baru-baru ini ia dihubungi oleh Prof. Suhardjo yang menyampaikan bahwa tim beliau akan datang ke Bima. Kami sampaikan juga bahwa KAGAMA telah mengirimkan bantuan lewat perwakilan KAGAMA yang ada di Bima (dr. Erma) yang mungkin akan datang 1 atau 2 hari lagi.

audiensi idi bima

Permasalahan yang ditemukan saat ini di posko klaster kesehatan adalah terbatasnya SDM yang melakukan entry data sehingga tim membantu entry data untuk data baru dan data yang sudah lewat tanggal.

Rencana kegiatan hari ke-2, adalah mengikuti rapat koordinasi klaster kesehatan pagi sekitar jam 8.00 WITA. Selanjutnya tim UGM akan menyisir seluruh lokasi pengungsian yang terdata sekitar 36 lokasi pengungsian, dengan tujuan untuk:

  1. Validasi data jumlah pengungsi dan lokasi pengungsian
  2. Identifikasi karakteristik kelompok pengungsian berdasarkan usia, serta kelompok rentan ( BALITA, Bumil dan Busui, Lansia, serta penyakit kronis).
  3. Identifikasi masalah kesehatan yang muncul di kampung / kelurahan yang terkena banjir.
  4. Koordinasi dan kolaborasi pelayanan medis di Rumkit lapangan milik TNI.

Demikian kegiatan tim pada hari pertama serta rencana hari kedua.


Dilaporkan oleh  Sutono dan  Kontributor lapangan : Tim Assesment Banjir Bima

 

{tab Hari 2 |green}

LAPORAN KEGIATAN TIM ASSESSMENT
LOKASI BANJIR BIMA

PKMK- Bima, 1 Januari 2017

Sesuai rencana hari kedua, dan  Tim UGM datang di posko klaster kesehatan untuk ikut rapat koordinasi klaster kesehatan.

Rapat koordinasi

Dr. Yainul Dinkes Propinsi :

Saat ini sudah persiapan masuk recovery tanggal 5 Januari 2017, koordinator lapangan diserahkan ke PJ PsKL sebagai penanggung jawab kegiatan. Fokus kegiatan : masalah lingkungan, sejak kemarin sudah dilakukan kaporisasi (memasukkan serbuk kaporit ke dalam sumur warga). Fungsi puskesmas segera berjalan normal kembali, direncanakan Senin, 2 Januari 2017 sudah buka setidaknya 2 puskesmas karena 2 puskesmas yang lain kondisinya masih belum tuntas dibersihkan (belum layak dipakai).

Ada 4 puskesmas yang terdapak banjir, 2 puskesmas direncanakan bisa berfungsi mulai hari senin tanggal 2 Januari, diharapkan dinkes kota untuk melakukan koordinasi segera  khususnya program pebersihan gedung serta fasilitas pelayanan pasien.

Tim Medis Bantuan

Ada pos 61 pelayanan klinik yang saat ini jumlahnya sudah mulai berkurang banyak. Hal ini sulit dimonitor karena sebagian tim bantuan kesehatan tidak melaporkan diri ketika mereka meninggalkan lokasi pelayanan. Beberapa tim bantuan kesehatan selanjutnya  mengubah strategi dengan pelayanan mobile klinik. Relawan dari Lombok Barat direncanakan akan datang, dengan tim berjumlah 55 orang  yang terbanyak sektor kesahatan, hari ini /besok akan datang. Relawan ini akan diberdayakan untuk program imunisasi campak untuk balita dengan prioritas di wilayah pengungsian.
Instruksi dari  Kadinkes propinsi NTB, bahwa hari ini harus sudah dimulai imunisasi campak untuk balita korban bencana banjir di Bima.

Wilayah Terdampak Terkini

Kelurahan Tanjung masih agak sulit diakses dikarenakan masih tingginya tumpukan lumpur bercampur sampah. Untuk Kelurahan Jatiwangi, saat ini sudah bisa diakses seperti semula.

Sweeping Lokasi Pengungsi

Tim assessment melakukan sweeping di lokasi pengungsian dengan tujuan untuk :

  1. Validasi data jumlah pengungsi dan lokasi pengungsian
  2. Identifikasi karakteristik kelompok pengungsian berdasarkan usia, serta kelompok rentan ( BALITA, Bumil dan Busui, Lansia, serta penyakit kronis).
  3. Identifikasi masalah kesehatan yang muncul di kampung / kelurahan yang terkena banjir.

Pelaksanaan sweeping lokasi pengungsian, sampai jam 15 baru sempat mengunjungi 12 lokasi pengungsian (yang mestinya 33 lokasi) dengan hasil :
Menemukan balita yang dicurigai menderita campak dan merujuk pasien yang ke RS Lapangan yang selanjutnya pasien dirawat ada 1 orang, dan menyusul ada 1 pasien lagi dikirim ke RS Lapangan TNI dari lokasi yang sama.

h2 campak

Survey lokasi juga mendapatkan data tentang jenis makanan untuk pengungsi yang relatif sama (nasi bungkus), tidak ada makanan khusus untuk balita. Mereka juga mengatakan bahwa tidak ada makanan pengganti ASI yang dibagikan di lokasi pengungsian.

nasi bungkus

Data lain tentang kesehatan lingkungan, hampir seluruh lokasi pengungsian berada di masjid kampung sekitar lokasi bencana. Penumpukan lumpur bercampur sampah serta material bangunan yang sampai saat ini masih menumpuk menambah buruknya sanitasi lingkungan. Sebagian warga masih membersihkan lumpur yang masuk ke rumah, serta peralatan RT yang masih bisa berfungsi. Manajemen evakuasi lumpur dan sampah oleh dinas terkait masih sangat kurang, sehingga tumpukan lumpur dan sampah ini mulai dari dalam rumah, sepanjang gang masuk kampung, hingga ke pinggir jalan besar. Bau sampah membusuk merata di sebagian lokasi banjir Bima. Konfirmasi kepada tokoh masyarakat korban banjir mengatakan bahwa saat ini terjadi problem yang dilematis terkait pembuangan lumpur dan sampah karena Bima tidak mempunyai pembuangan sampah akhir. Mereka juga mengeluhkan tentang terbatasnya fasilitas yang dimiliki oleh dinas terkait (PU) seperti truk sampah, dan tempat pembuangan sampah sementara.

kondisi bima pasca banjir

Pelayanan Medis

Anggota tim UGM (dr Sari) bersama dr Sri Yati memberikan pelayanan medis di Rumkit lapangan TNI. Jumlah pasien yang dilayani (khusus Wanita) lebih dari 100 orang dengan keluhan terbanyak adalah penyakit kulit, ISPA, chepalgia serta keluhan lain.
kolaborasi tenaga medis

Koordinasi dan kolaborasi pelayanan medis di Rumkit lapangan milik TNI.
Tim UGM bergabung ke Rumkit lapangan TNI untuk mengikuti rapat koordinasi yang diikuti seluruh komponen klaster kesehatan baik petugas Puskesmas, pegawai dinkes kota, Tim kesehatan TNI, perwakilan dari Dinkes Propinsi NTB (dr. Jainul) dan  LSM. Rapat dipimpin oleh Kepala Dinkes wilayah Kota. Beberapa hasil yang penting dari rapat adalah bagaimana merespon instruksi Menteri Kesehatan untuk melaksanakan imunisasi dengan segera. Permasalahan yang muncul adalah sebagian besar vaksin rusak akibat coolboxnya rusak terendam air dan vaksin sudah tidak mungkin dipakai. Tim perwakilan dari dinkes propinsi (dr Jainul) berjanji untuk segera bisa menyiapkan dan memenuhi kebutuhan Vaksin dengan prioritas untuk balita di lingkungan pengungsian. Permasalahan lain adalah terbatasnya sepatu boots untuk masuk lokasi terdampak banjir dan lokasi pengungsian. Tim UGM berusaha untuk membantu dengan menghubungi perwakilan KAGAMA (dr Erma ) yang ada di Bima untuk bisa membantu hal ini. Malam itu juga, dr Erma sudah memberikan solusi dengan menyediakan sepatu boots untuk petugas kesehatan dengan jumlah terbatas, sambil menunggu bantuan yang telah dikirim oleh KAGAMA UGM karena belum sampai di lokasi.
Rapat dibubarkan pukul 18.30 dengan kesepakatan bahwa vaksinasi Campak akan dilaksanakan selambat-lambatnya tanggal 3 Januari dengan mobilisasi vaksin dari luar kota Bima (Dompu) serta menambah relawan juru imunisasi yang rencananya akan datang dari Lombok Barat.

Follow Up ke Lokasi Pengungsi

Sebagian Tim UGM sehabis rapat koordinasi, menuju lokasi pengungsi di Masjid “Nurul Mubin” Kelurahan Penaraga Bima, untuk melihat pola tidur anak balita serta mengidentifikasi solusi mencegah penularan penyakit Campak di lokasi pengungsian. Malam itu didapatkan 4 anak yang menderita demam, sementara diberikan antipiretik sambil dilakukan observasi pada hari berikutnya.

Rencana Kegiatan Hari Berikutnya

  1. Rapat koordinasi di Klaster Kesehatan
  2. Visite pasien yang dirujuk ke RSUD khususnya, rencana untuk melakukan tes serologi dengue.
  3. Sweeping lokasi pengungsi (menyelesaikan tugas hari sebelumnya)
  4. Entry data di Posko klaster kesehatan balaikota

Dilaporkan oleh Sutono dan Kontributor Lapangan : Tim Assesment Bencana Banjir Bandang Bima

{tab Hari 3 |red}

LAPORAN KEGIATAN TIM ASSESSMENT
LOKASI BANJIR BIMA

PKMK- Bima, 2 Januari 2017

Rapat Koordinasi Klaster Kesehatan di Balai Kota

Rapat dipimpin oleh perwakilan Dinkes Kota Bima dengan fokus pada mobilisasi tenaga untuk melakukan jemput bola dengan melakukan   vaksinasi Campak untuk anak balita di lokasi pengungsian. Sesuai rencana awal gerakan vaksinasi bersama akan dilaksanakan pada tanggal 3 Januari 2017, tetapi karena urgensinya bahwa vaksinasi harus sesegera mungkin maka program tersebut  diputuskan untuk dilaksanakan segera pada hari ini. tim juru imunisasi dibantu oleh tim kesehatan dari lombok Barat.

Tim UGM tetap melakukan sweeping dan validasi data di lokasi pengungsian. Masih ada sekitar 21 lokasi pengungsi yang belum  tervalidasi datanya serta melakukan observasi terhadap balita di lokasi pengungsian yang menderita panas. Pasalnya,  sebelumnya ditemukan kasus campak yang bisa menular dengan cepat.

Visite RSUD Bima (RSUD Kabupaten) sebagai RS Rujukan (tipe C)
Tim UGM  dan  Residen anak (dr Sri Yati) yang sedang stase di RSUD Bima, melakukan visite pasien yang berasal dari kota Bima. Pasien tersebut adalah pasien yang  satu hari sebelumnya dirujuk dari RS lapangan TNI. Rencana dr Citra mau membantu melakukan tes serologi dengue, tetapi gagal karena buffer dan stiknya berbeda sehigga tidak bisa berfungsi.

Tim sempat melakukan assessment (singkat) terkait persiapan rumah sakit menghadapi bencana. Informasi dari tim medis yang bekerja di IGD, tim siaga bencana sedang akan dibentuk tetapi baru sebatas untuk kepentingan akresitasi. Hospital Disaster Plan (HDP) juga tampaknya belum ada.

h3 1

Sweeping Lokasi Pengungsi

Tim UGM dibagi 2 tim, dr Sari membantu memberikan pelayanan medis di RS lapangan TNI, sedangkan tim yang lain melakukan sweeping dengan fokus balita yang diduga menderita Campak. Campak jadi fokus perhatian Dinkes Kota Bima karena sudah ditemukan kasusnya di lokasi pengungsian kelurahan Penaraga. Saat ini juga sudah dimulai vaksinasi campak dengan sasaran balita yang tinggal  di lokasi pengungsian.
Sweeping dilakukan di 14 lokasi pengungsian. Kemudian, didapatkan data di beberapa wilayah pengungsi ditemukan kasus diare berdarah, pengungsi dengan bayi riwayat BBLR dengan tidak mendapatkan ASI ekslusif. Droping MP ASI dan makanan suplemen untuk bumil, serta bantuan logistik masih belum merata.
Pola  sanitasi higienis di lingkungan pengungsi sangat kurang yang berpotensi timbulnya penyakit kulit dan ISPA.

h3 2 sanitasi

Lokasi pengungsi yang masih ada penghuninya tinggal 8 lokasi. Penghuni di masjid Baitul Hamid 26 KK, Masjid Nurul Mubin, Kos Penatoi 5 KK, Masjid An-Nur Munggunau, dengan balita 15, masjid Sultan Salahudin Paruga, SMP 13 Bima 3 KK, Danateraha 7 KK, 23 jiwa dengan balita 7. Dengan temuan ada 7 balita belum tervaksin karena kurang sosialisasi.

Data di Posko Klaster Kesehatan
Dr Citra dibantu Agus Salim mahasiswa FETP IKM UGM sampai saat ini masih terlibat dalam entri dan validasi data dasar korban dan pengungsi yang setiap hari berubah. Analisa data stasistik dikerjakan oleh dr Citra yang sampai saat ini masih berlangsung.

Rencana kegiatan hari ke Empat

1.    Rapat koordinasi di Klaster Kesehatan
2.    Pelayanan medis di RS lapangan TNI
3.    Sweeping lokasi pengungsi
4.    Observasi 5 puskesmas untuk kesiapan mulainya pelayanan  dasar
5.    Kunjungan tempat pembuangan sampah
6.    Entry data dan analisa data di Posko klaster kesehatan balai kota


Dilaporkan oleh Sutono dan Kontributor Lapangan : Tim Assesment Bencana Banjir Bandang FK UGM

{tab Hari 4 |grey}

LAPORAN KEGIATAN TIM ASSESSMENT
LOKASI BANJIR BIMA

PKMK FK UGM – Bima, 3 Januari 2017-

Rapat Koordinasi

Fokus rapat adalah koordinasi tim kesehatan adalah persiapan seluruh puskesmas (5 puskesmas) terdampak banjir di Bima yaitu Puskesmas Penanae, Asakota, Mpunda, Paruga dan 1 puskesmas Rasanae Timur kembali berfungsi normal. Masa tanggap darurat sampai   5 Januari 2017 sudah selesai sehingga Kadinkes berharap semua sistem pelayanan kesehatan termasuk fungsi Puskesmas harus sudah kembali normal. Saat ini rapat difokuskan segera memulihkan fasilitas kesehatan dan akan didukung oleh TNI. Hasil rapat :

  1. Kendali koordinasi pelayanan kesehatan oleh dinkes kota sehingga secara teknis setiap kepala bidang harus bertanggung jawab. Bidang pelayanan kesehatan (yankes) hari ini harus sudah menyiapkan diri besok sudah melayani kesehatan dasar, Promkes sosialisasi masyarakat agar mereka mengetahui bahwa Puskesmas telah berfungsi dengan pemasangan spanduk di depan unit pelayanan. Ruangan puskesmas harus disterilisasi minimal dengan sinar UV.
  2. Fungsi rujukan kembali berfungsi normal. Manajemen RSUD Kabupaten Bima sudah dikonfirmasi, untuk pasien yang harus dirawat dan dirujuk ke RSUD Kab. Bima,  karena RS lapangan TNI  mulai hari ini sudah tidak merawat pasien.
  3. RS lapangan masih perlu bantuan dokter untuk itu tim UGM tetap ikut dalam pelayanan RS lapangan
  4. Promkes menggunakan mobil keliling melakukan sosialisasi puskesmas, perilaku sehat dan lain-lain
  5. Kaporisasi, abatisasi dan fogging akan segera dilakukan di seluruh kota Bima dengan prioritas daerah yang kerusakannya paling parah. Ada 1200 sumur yang harus di-treatment, akan dibantu oleh TNI

Pelayanan Medis

Pelayanan medis di RS lapangan TNI tetap di-back up oleh tim UGM.  dr. Sari tetap memberikan pelayanan di poliklinik kesehatan yang sampai saat ini jumlah pengunjung masih banyak. Rata-rata per hari masih lebih dari 200 pengunjung sampai hari ini yang terdiri dari anak dan dewasa, ibu hamil dan lansia. Pelayanan dibagi dalam 2 shift pagi dan sore. Tim UGM yang terlibat selain dr Sari juga ada dr. Sri Yati dokter residen anak yang sedang stase di RSUD Kabupaten Bima. Dalam pelayanan medis, seluruh tenaga medis diharapkan sambil melakukan sosialisasi kepada pasien dan pengunjung bahwa RS Lapangan akan segera ditutup, dan dianjurkan untuk memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan di puskesmas yang sudah mulai memberikan pelayanan kesehatan.

Observasi dan Visitasi Puskesmas

Puskesmas yang masih belum memungkinkan untuk operasional adalah puskesmas Paruga. Puskesmas tersebut baru saja dibersihkan oleh TNI bersama petugas puskesmas setempat, tetapi tiba-tiba terjadi  hujan lebat yang mengakibatkan banjir susulan yang sempat masuk di bagian belakang puskesmas. Air masuk ke beberapa ruang puskesmas sekitar 5 – 10 cm.
Puskesmas yang lain seperti Penanae, Asakota, Mpunda dan Rasanae Timur dalam observasi tim sudah bisa operasional untuk memberikan pelayanan, setidaknya pelayanan dasar.

Khusus untuk puskesmas Asakota (Puskesmas yang akan dikembangkan menjadi RSUD Kota Bima) dengan kelas RS Pratama.  Dari pengamatan tim, hanya ruang IGD yang sudah memungkinkan untuk digunakan (operasional). Hal yang menarik adalah calon RS ini, belum mempunyai sistem manajemen, model pelayanan, IT, HDP dan lain-lain l sehingga perlu mendapatkan prioritas penanganan pendampingan seperti program Aceh waktu pendampingan RS Cut Nyak Dien Meulaboh.

h4 1 keruksakan calon rsud kota bima

Tempat Pembuangan Sampah

Lokasi pembuangan sampah di Ule (lokasi wisata pantai) adalah pembuangan sampah liar, karena tidak ada rekomendasi pemerintah daerah.  Observasi yang kami lakukan tampak sampah menumpuk di kanan kiri jalan sepanjang lebih kurang 500 meter, dengan bau yang sangat menyengat, dan  sarang lalat. Kondisi ini  menimbulkan masalah kesehatan baru bagi masyarakat sekitar maupun pengunjung lokasi wisata pantai tersebut.
Lokasi pembuangan sampah yang kedua yang kami amati adalah di Amahami yang masuk di kelurahan Dara, kecamatan Rasanae Barat, Kota Bima. Lokasi pembuangan sampah persis di belakang  pompa bensin Amahami. Potensi longsor Longsong karena tidak ada dam penahan, mungkin berpotensi juga terjadi kebakaran, mengingat tumpukan sampah bisa menghasilkan gas metana. Sampah organik yang tertimbun mengalami dekomposisi secara anaerobik. Proses itu menghasilkan gas metana (CH4). Sampah yang dibakar juga akan menghasilkan gas karbondioksida (CO2). Gas CH4 mempunyai kekuatan merusak 20 kali lipat dari gas CO2. Gas metana (CH4) terbentuk karena proses fermentasi secara anaerobik oleh bakteri metana (bakteri anaerobik) dan bakteri biogas yang mengurai sampah-sampah yang banyak mengandung bahan organik sehingga terbentuk gas metana (CH4) yang mudah terbakar.

Peristiwa ledakan gas yang terbentuk di bawah tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) Leuwigajah, Kabupaten Bandung sebagai contoh. Bencana longsor yang terjadi di TPA tersebut terjadi karena adanya akumulasi panas dalam tumpukan sampah yang pada akhirnya menimbulkan ledakan yang sangat hebat. Faktanya karena ledakan inilah maka sampah-sampah tersebut longsor dan menimbun puluhan rumah disekitarnya. (Rahmadani, 2010). Terlebih tumpukan sampah ini lokasinya persis di belakang stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), sehingga potensial hazard-nya semakin tinggi. Hal ini sudah kami laporkan dalam rapat koodinasi pagi ini dan oleh kepala dinas kesehatan akan dilaporkan pada rapat koordinasi multi sektor di BPBD Balaikota.

h4 2 kelola sampah

Manajemen data di Posko Klaster Kesehatan
Tim surveilans seperti hari-hari sebelumnya tetap membantu melakukan entry data dan pengolahan data untuk koran dan pasien yang berkunjung ke fasilitas pelayanan kesehatan lapangan, posko pengungsian serta pos pelayanan LSM.


Dilaporkan oleh Sutono dan Kontributor Lapangan: Tim Assesment FK UGM Bencana Banjir Bandang Bima

{/tabs}

 

 

 

ASM Penggunaan Logistik Medik Pada Bencana

border-page

Term of Reference
Dalam rangka Annual Scientific meeting (ASM) Fakultas Kedokteran 2017

Kelompok Kerja (Pokja) Bencana FK UGM bekerjasama dengan
Divisi Manajemen Bencana Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan FK UGM
Menyelenggarakan seminar mengenai:

Penggunaan Logistik Medik Pada Bencana :
Study Kasus Tetanus Pada Gempa Bumi Yogyakarta tahun 2006

Kamis, 9 Maret 2017
Gedung Senat Lantai 2 KPTU Fakultas Kedokteran UGM

border-page

Latar Belakang

Gempa Tektonik yang mengguncang Yogyakarta dan sekitarnya pada Sabtu, 27 Mei 2006 pukul 05.55 WIB selama 57 detik merupakan gempa terbesar setelah peristiwa gempa pada 23 Juli 1943 di wilayah yang sama. Yogyakarta merupakan daerah yang rawan terhadap gempa bumi, disamping karena faktor goncangan gempa yang cukup besar yaitu 5,9 Skala Richter, ternyata bangunan di Yogyakarta umumnya tidak dirancang tahan gempa sehingga jumlah korban dan kerugian menjadi cukup besar, baik korban nyawa maupun kerugian harta benda.

Pada Gempa Tektonik tahun 2006 banyak korban yang meninggal  karena tetanus. Penderita tetanus umumnya menderita luka akibat tertimpa reruntuhan bangunan dan terkena benda tajam. Sebanyak 27 orang korban gempa di kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta meninggal akibat tetanus. Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul pada saat itu, sekitar 75 persen dari 36 korban gempa yang menderita tetanus meninggal dunia.

Menurut Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan gempa Aceh memiliki kemiripan dengan gempa Yogyakarta pada 2006 lalu. Kedua gempa sama-sama disebabkan aktivitas sesar yang bersifat mendatar. Perbedaan kedua gempa hanya terletak pada waktu berlangsungnya goncangan. Gempa Aceh terjadi dalam waktu 15 detik sementara gempa di Yogyakarta terjadi selama 57 detik. Diperkirakan banyak  korban yang tertimbun reruntuhan bangunan.

Logistik medik, seperti obat-obatan, peralatan medis habis pakai, peralatan untuk tindakan medik, maupun peralatan perawatan, merupakan penunjang utama tindakan medis mulai dari yang ringan sampai yang berat (operasi besar). Seperti kejadian bencana gempa di DIY (Bantul), Jawa-Tengah (Klaten) dan Aceh (Pidie Jaya) banyak sekali tindakan operasi yang cukup besar, seperti kasus-kasus traumatik (patah tulang) dan kasus tetanus sangat memerlukan tindakan cepat. Untuk pengelolaan logistik medik diperlukan suatu tim yang terkoordinasi dan jaringan informasi antar posko atau pengguna logistik medik dengan demikian pada fase preparedness dan response dapat dipersiapkan dan direncanakan logistik medik yang sesuai kebutuhan, jumlah yang mencukupi, suplai logistik medik yang terjamin serta terinventarisasi dengan baik.
Melalui rangkaian kegiatan Annual Scientific Meeting Fakultas Kedokteran UGM tahun 2017 yang bertemakan “Pencegahan dan Pengendalian Resistensi Antimikroba”, maka Pokja Bencana FK UGM bekerjasama dengan Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM bermaksud menyelenggarakan seminar yang berjudul “Penggunaan Logistik Medik Pada Bencana: Studi Kasus Tetanus pada Gempa Yogyakarta untuk Pencegahan Tetanus pada Gempa Pidie Jaya 2016”. Melalui seminar sehari ini, kita akan membahas mengenai kebijakan logistik medik dan logistik non medik pada bencana yang digunakan terutama untuk kasus-kasus tetanus. Diharapkan penanganan kasus tetanus di Yogyakarta bisa menjadi pembelajaran bagi penanganan kasus tetanus di Aceh dengan koordinasi tim kesehatan dan logistik kesehatan yang lebih baik lagi.

Tujuan kegiatan

1.    Mensosialisasikan lebih luas mengenai Guideline Logistik Medik dan Donasi  yang telah disusun WHO
2.    Terciptanya kesepahaman yang sama dalam konsep pengelolaan logistik medik saat bencana
3.    Terbentuknya pemahaman mengenai penanggulangan kasus infeksi pada saat bencana

Topik Materi Seminar

1.    Monitoring Kegiatan Layanan Kesehatan pada saat bencana
2.    Guideline logistik medik dan donasi pada saat bencana
3.    Kasus infeksi pada saatbencana
4.    Studi kasus tetanus pada gempa Yogyakarta pada 2006
5.    Kasus tetanus pada Gempa Pidie Jaya, Aceh pada 2016

place Tempat, Waktu, dan Jadwal Kegiatan

Kamis, 9 Maret 2017
Ruang Senat KPTU Lantai 2 Fakultas kedokteran UGM
Pukul 08.00- 13.00 WIB

Waktu Kegiatan
08.00 – 08.30 Registrasi
08.30- 08.40 Pembacaan Safety Briefing
08.40 – 09.00

Pembukaan

  1. Sambutan oleh Ketua Pokja Bencana FK UGM:
    dr. Handoyo Pramusinto, Sp.BS
  2. Sambutan dan Pembukaan oleh Dekan Fakultas Kedokteran:
    Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed,Sp.Og(K),PhD

 Reportase

09.00– 09.10 Coffee Break

09.10–10.40

Sesi 1: Kebijakan Logistik Medik

  1. Pembicara 1: dr Achmad Yurianto
    Monitoring Kegiatan Layanan Kesehatan Saat Bencana:
    Pusat Krisis Kesehatan RI 
    Materi
  2. Pembicara 2: Yulian Yogadita, S.Farm. Apt
    Guideline Logistik Medik dan Donasi saat Bencana:
    WHO Indonesia
    Materi
  3. Diskusi
    Moderator:

Reportase

10.40-12.30

Sesi 2: Logistik Medik Pada Bencana

  1. Pembicara 1: dr. Sulanto Saleh Danu, Sp.FK
    Teori Pengelolaan Logistik Medik Saat Bencana
    PKMK FK UGM 
    Materi
  2. Pembicara 2:  dr. Handoyo Pramusinto, Sp.BS
    Kasus Infeksi Saat Bencana
    POKJA BENCANA FK UGM
    Materi
  3. Pembicara 3:
    Studi Kasus Tetanus pada Gempa Yogyakarta tahun 2006
    Dinas Kesehatan Kab. Bantul

    Materi
  4. Pembicara 4: dr. Hasnani, M.Kes
    Kasus Tetanus pada Gempa Pidie Aceh Jaya 2016
    Materi
  5. Diskusi
    Moderator: Sutono S.Kep

Reportase

12.30- 12.40 Penutupan
12.40- selesai ISHOMA

 

Peserta

Seminar ini mengharapkan kehadiran rekan-rekan dari:

  1. Kementerian Kesehatan
  2. Manajemen dan Tim Penanggulanan Bencana di Rumah Sakit se Jawa dan Bali
  3. Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten Kota di Indonesia
  4. Fakultas Kedokteran, Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat, dan Fakultas Farmasi
  5. Mahasiswa S2 dan S3 yang tertarik dengan isu manajemen bencana kesehatan
  6. Peneliti bidang manajemen bencana
  7. LSM yang bergerak di bidang bencana dan emergensi
  8. Pemerhati Bencana, dan
  9. Perseorangan.

Fasilitas

  • Seminar kit
  • SKP IDI/IAKMI
  • Makan siang dan coffe break

Biaya registrasi

  1. Umum : Rp. 500.000,00/orang
  2. Alumni FK UGM: Rp. 300.000,00/orang
  3. Mahasiswa aktif s2 s3 : Rp. 150.000,00/orang
  4. Peserta Webinar: Rp. 200.000,00 /orang
  5. Peserta Webinar Instansi : Rp. 750.000,00/ isntansi (dengan peserta yang akan mendapatkan sertifikat sebanyak 5 orang).
  • Pendaftaran peserta dapat dilakukan online melalui website bencana kesehatan www.bencana-kesehatan.netatau secara offline dengan mengemail ke [email protected].
  • Pembayaran peserta dapat dilakukan dengan cara tunai di gedung sekretariat atau melalui transfer ke rekening panitia :
  • Bank BNI, no.Rek: 0203024192, atas nama: Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM
  • (Bukti setor wajib di fax ke +62274 549425/ email ke[email protected])

Pendaftaran ASM FK 2017: POKJA Bencana


 

 Sekretariat

Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM
Gedung IKM Lantai 2 Sayap Utara,
Jalan Farmako Sekip Utara, Yogyakarta 55281 Indonesia
Phone/fax: +62 274 549425
Email:[email protected]

Kunjungi Website kami:
www.bencana-kesehatan.net

Contact person:

Dewi Catur Wulandari
Mobile: +62 818 263653
Email:[email protected]
Intan Anatasia N.P
Mobile: +62 87838679382
Email:[email protected]

Mewujudkan SPGDT-S dan SPGDT-B Terintegrasi Pra, Intra dan Inter Hospital Secara Nasional

Notulensi INDO HCF Expert Meeting:

Mewujudkan SPGDT-S dan SPGDT-B Terintegrasi Pra, Intra dan Inter Hospital Secara Nasional

http://bpbd.pemkomedan.go.id/foto_berita/66DSC_0550.JPG

Jakarta. INDO HCF menyelenggarakan expert meeting pada 1 Desember 2016, forum ini telah lama menggerakkan banyak diskusi terkait kegawatdaruratan. Kali ini, INDO HCF mengundang para ahli dari bidang terkait, yaitu Prof. Dr. dr. Idrus Paturusi, SpB, SpOT; Prof. Dr. dr. Aryono D Pusponegoro Sp. B (K)-BD, FINACS, FRCS (Ed); dr. Hendro Wartatmo, Sp.BD; David Handojo Muljono, MD, Sp.PD, FINASIM, Ph.D, serta dr. Tri Hesty Widyastoeti Marwotosoeko, Sp.M (Direktur Pelayanan Kesehatan Rujukan, Ditjen Pelayanan Kesehatan Kemenkes). Pertemuan ini bukan yang pertama, upaya INDO HCF untuk concern terhadap isu kesehatan telah dilakukan berulang kali, antara lain:  penelitian terkait pelayanan JKN di puskesmas (KIA), serial diskusi panel JKN, isu strategis, serta berbagai penelitian dan pelatihan yang terkait bidang tersebut.

Faktanya, hingga saat ini banyak pakar di bidang kesehatan tetapi tidak bisa dimanfaatkan di daerah.

Ide terlaksananya expert meeting kali ini ialah bagaimana menurunkan angka emergensi di Indonesia. Menurut WHO dalam kematian akibat lalu lintas nomor 3, setelah Tiongkok dan India. Harapannya, forum semaca ini dapat mengumpulkan komunitas terkait, diskusi bersama dan akhirnya saling terinformasikan. Masalah utama dalam penanganan bencana ialah tidak ada info tenaga medis yang akurat, tegas dr. Supriyantoro (Ketua INDO HCF) dalam sambutannya. Selain itu, perlu juga dilakukan penguatan di tingkat masyarakat dan hal tersebut menjadi tanggung jawab bersama. Tema yang diambil kali ini yaitu SPGDT yang harapannya bukan hanya membentuk call center. Masih muncul pula isu dalam rujukan, seharusnya ini menjadi tanggung jawab RS, merujuk, menginformasikan keadaan dan mengirim pasien. Pernyataan dari Supri ialah perlukah ada wadah untuk merumuskan banyak hal untuk kebijakan-kebijakan RS.

Direktur Pelayanan Kesehatan Rujukan, Kementrian Kesehatan RI menyatakan, dalam manajemen bencana kita tidak ada manajemen resiko yang benar-benar baik. Dalam pemaparannya terkait Kebijakan Pemerintah dalam Pemerintah SPGDT-S dan SPGDT-B, harapannya  dalam penanganan korban dapat mempercepat waktu penanganan korban. Kita harus banyak mencontoh pengalaman Tokyo, yang dapat mengirim ambulans maksimal 10 menit sejak dipanggil. Hal ini sudah ditiru Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) Tulungagung yang tidak banyak mengalami kemacetan.

Public safe center wajib dibentuk di seluruh daerah, di 540 kabupaten namun baru127 yang terhubung dengan call center 119. Latar belakang pentingnya SPGDT:

  1. Berubahnya pola penyakit (kecelakaan menduduki urutan ke-2 saat ini)

  2. Meminimalisir  kecacatan atau kematian.

Kemenkes membutuhkan masukan dari pakar dan asosiasi profesi. Masukan untuk masalah terkait pasien dapat disampaikan ke bagian layanan kesehatan (yankes) dan khusus untuk masalah terkait bencana dapat disampaikan ke Pusat Krisis Kesehatan (PKK) baru ke yankes.

dr. Hendro Wartatmo, Sp. BD (FK UGM) menyatakan SPGDT sudah dimulai sejak terbitnya peraturan Sekjen pada 2003. Pada periode 1996-2004, SPGDT dijalankan melalui Pusbankes 118 PERSI DIY. SPGDT merupakan perpaduan antara unit-unit pelayanan kesehatan. Sementara, call center adalah konsekuensi logis, bagian dari komponen saja. Nama awal SPGDT ialah Deklarasi Makkasar tahun 2000, mama kedua yaitu Brigade Kesehatan Bencana. Pengalaman Hendro, Tim Bantuan Bencana UGM mendarat di Meulaboh, pasca tsunami, menumpang pesawat Mensos saat itu. Tim pertama berangkat, iuran dari kantong pribadi. Jika sudah ada sistem, pemberangkatan tidak sulit, terang Hendro. Kemudian, program ini dilanjutkan hingga 2 tahun dan dinamai Aceh Supporting Program dan di-back-up oleh FK UGM serta RS Sardjito.

Saat ini tim Pokja Bencana UGM mengembangkan secara teknis dan manajemen. Manajemen bencana telah menjadi intrakurikuler di FK UGM di program S1 dan S2. Hendro juga menjadi anggota World Association Disaster and Management (WADEM) agar dapat terus berkontribusi pada upaya penanganan dan manajemen bencana di Indonesia. Hendro memaparkan seharusnya insider commander berasal dari BNPB.

David Handojo Muljono, MD, Sp.PD, FINASIM, Ph.D (FK Univ. Hasanudin) memaparkan “Memasyarakatkan SPGDT sehari-hari dan efisien”. Handojo menyatakan masih banyak praktek membawa pasien ke RS dengan kendaraan umum/pribadi. Sayangnya baru 4,7% dari seluruh daerah di Indonesia yang memiliki layanan  gawat darurat. Sebaiknya ada pelatihan yang diinisiasi pemerintah, agar terjadi keterpaduan antara pemerintah dan masayarakat dalam kegawatdaruratan,

Prof. Dr. dr. Aryono D Pusponegoro Sp. B (K)-BD, FINACS, FRCS (Ed) memaparkan “Kontroversi dalam penanggulangan kegawatdaruratan”. Salah satu fakta yang menjadi kontroversi ialah di beberapa daerah call center tidak bisa ditelpon karena listrik mati. Aryono berpendapat komandan dalam penanganan bencana atau insider commander sebaiknya polisi sebagai komandannya, karena ia memiliki fungsi secara law and order. Untuk setiap daerah/kota harus membentuk public safety center, ada polisi, ambulans dan damkar.

Pengalaman di lapangan. pasca bom Bali 1, Aryono berhasil melatih 3000 pecalang, sehingga saat bom Bali 2 pecalang. Menurut Aryono, triase harus dilatihkan ke pihak pengamanan hotel jika ada ancaman kecelakaan/bencana di sekitar hotel. Poin yang dapat disimpulkan, sejauh ini tenaga penanganan bencana di Indonesia masih not well organized dan not well trained.

Beberapa poin penting. Pertama perlu dipikirkan juga untuk evakuasi korban di daerah terpencil dan perbatasan, bagaimana sistemnya. Kedua,  pelibatan masyarakat selalu bisa coba dilakukan, seperti di Jatim yang telah terbentuk Forum Pengurangan Bencana. Di Sleman, saat erupsi stakeholder berhasil menggerakkan komunitas melalui Jalin Merapi (radio komunitas). Selain itu, perlu tokoh dari pemerintah yang mau terjun memimpin, seperti di negara tetangga, Malaysia, Wakil Perdana Menteri yang langsung mengkoordinir setiap kasus emergensi bencana nasional. Ketiga, permintaan dari peserta yaitu BNPB ialah pemerintah tergerak untuk menyusun pelatihan agar Tim Reaksi Cepat diberi pelatihan yang akan bermanfaat di lapangan. Sayangnya sudah ada BPBD daerah yang memiliki ambulans, namun tidak ada paramedisnya. Keempat, kelemahan dalam penanganan bencana ialah sistem dan integrasi yang belum kuat. Tantangan ke depan ialah pengembangan flying healthcare untuk menjawab kebutuhan di pulau-pulau yang terisolasi atau sulit dijangkau melalui transportasi darat. Prof Idrus menambahkan, ke depan, perlu dilakukan pengorganisasian relawan (W).


pdf icon Materi Presentasi

Job Vacancy

Daftar Job

  1. Community Disaster Management Team Leader
    Care Australia KLIK DISINI https://www.care.org.au/careers/membutuhkan seorang Community Disaster Management Team Leader yang akan ditempatkan di Goroka, Papua New Guinea. Deadline pengumpulan lamaran adalah 11 Desember 2016.
  1. GIS Developer
    Bagi Anda yang menyenangi GIS maka inilah kesempatan Anda untuk bergabung dengan Asian Disaster Preparedness Center. Peluang sebagai GIS Developer selama 1 tahun atau lebih. Deadline pengumpulan adalah 12 Desember 2016. Info selengkapnya  pada KILIK DISINI

Pembukaan Pameran Ilmiah Manajemen Bencana Kesehatan di Indonesia

pameran ilmiah

Pembukaan Pameran Ilmiah
Manajemen Bencana Kesehatan di Indonesia

Lobby Auditorium Fakultas Kedokteran UGM
Senin, 31 Oktober 2016

Reportase oleh Intan Anatasia N.P.


 

pameran ilmiah

Pameran ilmiah manajemen bencana kesehatan merupakan kegiatan rutin yang  dilaksanakan ke-6 kalinya di Fakultas Kedokteran UGM. Pameran ini diadakan oleh Pokja Bencana FK UGM dan Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM. Pembukaan pameran ilmiah manajemen bencana kesehatan diawali dengan sambutan oleh Ketua Pokja Bencana FK UGM, dr. Handoyo Pramusinto, Sp.BS. Dalam sambutannya, Handoyo menyampaikan bahwa harapannya di tahun depan pameran ini bisa disertai dengan simulasi bencana.

Sambutan kedua disampaikan  oleh Dr. dr. Andreasta Meliala, DPH., M.Kes, MAS, Ketua Blok D2 Pendidikan Dokter regular/internasional.  Dalam sambutannya, Andre  menyampaikan bahwa senang sekali dengan adanya kegiatan pameran yang rutin dilaksanakan ini karena bermanfaat ntuk mahasiswa dalam mendukung proses pembelajaran. Andre juga menyampaikan terima kasih kepada Dekan Fakultas Kedokteran UGM, Pokja Bencana, divisi manajemen bencana PKMK FK UGM beserta seluruh pihak yang telah mendukung sehingga terlaksananya pameran ini. Beliau berharap dari POKJA Bencana FK UGM akan mengadakan praktek simulasi bencana di FK UGM tahun depan untuk melihat kesiapsiagaan mahasiswa terhadap bencana.

Sambutan ketiga diberikan oleh Dr .dr. Wahyudi Istiono, M.Kes selaku perwakilan CFHC. Dalam sambutannya, Wahyudi memaparkan mengenai kegiatan CFHC dalam kebencanaan. Salah satunya adalah sudah melakukan simulasi bencana bersama mahasiswa FK UGM. Salah bentuk refleksi dari kegiatan kebencanaan adalah mahasiswa diminta untuk membuat poster mengenai bencana dan dipamerkan di Pameran Ilmiah Tentang Manajemen Bencana Indonesia pada tahun ini.

Sambutan keempat diberikan oleh perwakilan dekanat FK UGM, Dr. dr. Ibnu Purwanto, Sp. PD K-HOM. Dalam sambutannya, Ibnu merasakan bahwa banyak sekali manfaat dari pameran ini untuk menambah pengetahuan mahasiswa FK UGM mengenai bencana mengingat banyaknya bencana yang telah terjadi di Indonesia. Harapannya agar pameran ini bisa terus dilaksanakan dan semakin meningkat tiap tahunnya.

Setelah sambutan, perwakilan dekanat  FK UGM didampingi ketua Pokja Bencana FK UGM, Ketua Blok D2 pendidikan dokter, perwakilan CFHC beserta kepala divisi manajemen bencana FK UGM memotong pita sebagai tanda dibukanya pameran ilmiah manajemen bencana kesehatan di Indonesia. Setelah pemotongan pita, perwakilan dekanat FK UGM berkeliling menuju stand MER-C, ASB, FK UGM dan Tim Bantuan Medis Mahasiswa FK UGM, serta PMI.

Bimtek Peningkatan Kemampuan Petugas Dan Penyusunan Dokumen Penanggulangan Bencana Di Puskesmas

Yogyakarta, 24 Oktober 2016
Reportase oleh Intan Anatasia N.P

Doc. PKMK FK UGM. dr. Bella Donna, M.Kes saat memberi materi

PKMK-FK UGM– Wilayah Kabupaten Seman secara geografis dan geologis termasuk daerah rawan bencana, baik yang disebabkan karena peristiwa alam maupun karena faktor manusia. Bencana alam yang dapat terjadi di kabupaten Sleman, seperti gempa bumi, gunung meletus, angin puting beliung, banjir, petir dan tanah longsor. Dengan latar belakang dan kondisi seperti itu, maka semua pihak dituntut peran sertanya dalam mengantisipasi dan menghadapi segala resiko bencana yang bisa ditimbulkan sewaktu-waktu. 

Puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan bertanggung jawab di wilayah kerjanya. Kondisi sehat, aman dan sejahtera merupakan idaman masyarakat pada masa ini maupun masa yang akan datang. Hal ini dikarenakan semakin meningkatnya kejadian gawat darurat sehari-hari di masyarakat, kejadian gawat darurat, baik akibat bencana alam maupun manusia. Demi mewujudkan kondisi sehat dan aman di masyarakat tersebut perlu dilakukan penanganan terpadu. Maka, diperlukan dokumen penanggulangan bencana tingkat puskesmas. Dokumen diperlukan sebagai pedoman dalam penanggulangan suatu kejadian bencana sehingga memantapkan kesiapan jajaran petugas Pusat Kesehatan Masyarakat dalam memberikan pelayanan kesehatan pada penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana.

Pada 24 Oktober 2016 telah diadakan Bimbingan Teknis Peningkatan Kemampuan Petugas dan Penyusunan Dokumen Penanggulangan Bencana Di Puskesmas oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman. Acara ini dibuka oleh dr. Patimah Hariyati sebagai Kasie Kesehatan Khusus di Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman. ”Puskesmas merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan saat bencana terjadi. Oleh karena itu, puskesmas harus sigap dan siaga menghadapi kondisi bencana” ujar Patimah. Peserta BIMTEK kali ini merupakan pemegang program PPPK di 25 Puskesmas.

Bimbingan Teknis ini melibatkan Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan sebagai narasumber. Selaku pembicara pertama dalam BIMTEK ini adalah dr. Sulanto Saleh Danu, Sp,FK yang memaparkan mengenai pemahaman tentang peran dan fungsi puskesmas dalam penanggulangan bencana. Sesi diskusi pertama dr. Sulnato Saleh Danu Sp.FK menyarankan untuk puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan saat terjadi bencana diharapkan melakukan penyuluhan mengenai bencana pada masyarakat dan sering melakukan simulasi bencana agar semakin siap dalam menghadapi bencana yang akan datang. Peserta menanyakan, “Bagaimana mengkoordinasikan relawan yang akan ikut membantu saat bencana?”. Mengenai relawan yang biasa turut hadir dalam penanggulangan bencana, puskesmas harus mempunyai form registrasi yang d idalamnya memastikan relawan yang datang memang mempunyai kompetensi dalam membantu pelayanan kesehatan saat bencana terjadi, ujar dr. Sulanto Saleh Danu Sp.FK.

dr. Sulanto Saleh Danu Sp.FK

Pembicara kedua dalam BIMTEK ini adalah dr. Bella Donna, M.Kes sekaligus sebagai kepala divisi manajemen bencana PKMK FK UGM. Pada BIMTEK ini Bella menyampaikan pengorganisasian dan sistem komando dalam penanggulangan bencana dan mitigasi bencana di tingkat puskesmas. Dalam materinya kali ini Bella menekankan tentang pentingnya pengorganisasian dan sistem komando saat terjadi bencana faktanya banyak kegagalan penanggulangan bencana karena lemahnya koordinasi dari setiap pihak yang terlibat. Dalam sesi diskusi ada pertanyaan dari salah satu peserta mengenai struktur organisasi tim bencana di puskesmas, “Apakah struktur organisasi tim bencana dapat menggunakan struktur organisasi yang telah ada di puskesmas sehari-hari?”, tanya salah satu peserta. Menurut Bella, struktur organisasi tim bencana bersifat fleksibel hanya perlu ditambahkan saja koordinator yang mengurusi relawan dan pemulangan pasien saat bencana terjadi karena hal inilah yang membedakan dengan struktur organisasi sehari-hari.

Pada sesi terakhir dari BIMTEK yang diadakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman dilakukan penugasan mengenai penyusunan dokumen Primary Health Care Disaster Plan. Masing-masing peserta diberikan lembaran tugas berisi pertanyaan yang akan membantu dalam menyusun dokumen Primary Health Care Disaster Plan. Setelah selesai mengerjakan, perwakilan dari peserta diminta untuk mempresentasikan hasil dari penugasannya. Harapan dari BIMTEK ini agar Puskesmas segera memiliki SK dalam penanggulangan bencana, memiliki dokumen dalam penanggulangan bencana dan memiliki dokumen mitigasi dalam penanggulangan bencana di wilayahnya.

Reportase GLADI BENCANA KEGAGALAN TEKNOLOGI DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TAHUN 2016

batan simulasi

Reportase

GLADI BENCANA KEGAGALAN TEKNOLOGI

DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TAHUN 2016

Yogyakarta, 31 Agustus 2016

Reportase oleh Intan A.

PKMK-FK UGM– Keberadaan reaktor nuklir di wilayah DIY membuat masyarakat harus tetap waspada. Adanya teknologi tersebut memiliki resiko kebencanaan yang tinggi. Oleh karena itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY menggelar latihan kedaruratan bencana kegagalan teknologi nuklir. Kegiatan ini melibatkan Badan Tenaga Nuklir Yogyakarta, PKMK FK UGM dan instansi-instansi terkait lainnya.

batan simulasi

Doc. Tribun Yogyakarta. Pers conference

“Pelatihan ini kami gelar agar masyarakat semakin waspada. Kalau dari pihak BATAN (Badan Tenaga Nuklir) personilnya sudah mengerti tentang potensi bencana nuklir, sedangkan masyarakat umum belum,” kata Kepala BPBD DIY Krido Suprayitno saat ditemui di Kantor BATAN Caturtunggal, Depok, Rabu (31/8).

Saat ini pemukiman warga di sekitar Reaktor Nuklir Kartini Batan DIY sudah semakin padat. Bahkan penghuni kawasan tersebut didominasi oleh mahasiswa atau masyarakat yang pada dasarnya merupakan pendatang baru dan tidak mengetahui keberadaan reaktor nuklir di kawasan Caturtunggal ini.

Meski instalasi nuklir tersebut telah dibangun dengan standar keselamatan dan operasional tertentu berikut rencana kontijensi, tetap diperlukan upaya mencegah resiko kecelakaan dan bencana. Di antaranya dengan melakukan latihan penguatan ketangguhan dalam kedaruratan. Rangkaian kegiatan latihan bencana dari BPBD ini terdiri atas beberapa kegiatan yaitu Table Top Exercise (TTX), Command Post Exercise (CPX), Field Training Exercise (FTX), serta After Action Review (AAR).

Table Top Exercise digelar pada 31 Agustus 2016 melibatkan 150 personil penanganan bencana. Hasil diskusi akan digunakan sebagai masukan untuk menyusun materi gladi posko. Dari situ, dilanjutkan gladi lapang dan simulasi yang melibatkan 500 personil dari BPBD, PKMK FK UGM, kepolisian, militer, BATAN, dan juga masyarakat sekitar.

Kepala Pusat Sains dan Teknologi Akselerator BATAN, Susilo Widodo mengatakan, di antara sekian banyak potensi bencana teknologi,nuklirsebetulnya memiliki resiko paling kecil mengingat ada standar prosedur ketat yang diterapkan. Ia juga menyebut, potensi bencananuklirdi Yogyakarta sebenarnya mendekati nol persen meski di instansinya ada reaktornuklirKartini yang sudah berdiri sejak 1979. Namun begitu, dirinya sepakat bahwa upaya kontijensi dan kewaspadaan serta kesiapsiagaan bencana tetap diperlukan. Termasuk juga pemahaman masyarakat umum terhadap keberadaan BATAN. “Dengansimulasi lapangan, harapannya ada penyempurnaan SOP dan koordinasi antar instansi. ini penting dilakukan,” katanya.

batan simulas hdpi

Divisi Manajemen Bencana PKMK-FK UGM sebagai tim yang membangun konsep penanganan bencana khususnya di sektor kesehatan, dan institusi pendidikan juga ikut terlibat di kegiatan ini. Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM dalam kegiatan ini melakukan pendampingan khususnya pada Sektor Kesehatan. PKMK FK UGM diwakili oleh dr. Bella Donna dan dr. Sulanto Saleh Danu menjadi observer dan evaluator pada kegiatan ini.

Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM memberikan pendampingan pada Tim Kesehatan BATAN, Dinas Kesehatan dan Rumah Sakit mengenai pentingnya membuat SOP untuk penanganan bencana pada kegagalan teknologi. Dengan terbentuknya SOP ini diharapkan masing-masing instansi mengetahui tugas dan fungsinya saat terjadi kegagalan teknologi di BATAN.

 

 

Reportase: SEMINAR NASIONAL HOSPITAL DISASTER PLAN

border-page

Reportase: 

SEMINAR NASIONAL
HOSPITAL DISASTER PLAN

(PENYUSUNAN RENCANA PENANGGULANGAN BENCANA DI RUMAH SAKIT)

Rabu, 7 September 2016

border-page

hdp 7 septmber

PKMK-Yogya. Seminar Hospital Disaster Plan (HDP) telah dilaksanakan pada Rabu, 7 September 2016 di FK UGM. Acara ini diinisiasi oleh Pokja Bencana PKMK FK UGM. Acara dibuka oleh Kepala Divisi Manajemen Bencana PKMK yaitu dr. Bella Donna, M. Kes. Tujuan penyusunan Hospital Disaster Plan (HDP) ialah RS memiliki respon yang baik saat terjadi bencana. Seminar ini diharapkan bisa memberikan bekal agar mahasiswa dan umum siap menghadapi bencana, selain untuk pembelajaran.

Sesi 1

dr. Ina Agustina Isturini (Kasubid Evaluasi Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes RI) menyatakan telah ada kebijakan nasional untuk HDP. Salah satunya UU No 24 Tahun 2007  yang mengatur tentang penanggulangan bencana agar pemerintah dapat melindungi masyarakat dari ancaman bencana (salah satunya RS yang aman saat terjadi bencana). Sementara, untuk kesepakatan internasional terkait RS yang aman, antara lain kesepakatan yang diinisiasi WHO SEARO, Yogyakarta Declaration 2012, Sendai Framework 2015, sebelumnya tahun 2012 OKI dan Negara Asia Pasifik juga mendukung upaya ini.

RS berperan di seluruh tahap bencana, pra (pengurangan resiko), tanggap darurat (siap, mudah diakses, tetap aman dan berfungsi maksimum, siap dimobilisasi, tetap menyediakan layanan penting), pasca bencana (segera memperbaiki sarana prasarana membangun lebih baik atau build back better, tujuannya jika bencana terjadi lagi, situasi akan lebih baik). Kemudian, RS juga berperan dalam meningkatkan fungsi layanan kesehatan. Resiko bencana berbanding terbalik dengan kapasitas, namun berbanding lurus dengan kerentanan. Kerentanan ini juga bisa berasal dari struktur dan non struktur bangunan, misalnya letak lampu yang berada di atas persis bed  pasien harus diperhitungkan agar tidak mengganggu keselamatan pasien (jatuh atau yang lain). Kapasitas ini erat dengan kemampuan manajerial pemerintah dalam penanganan bencana. Salah satu tujuan HDP ialah mengurangi hazard dengan memiliki sistem pencegahan, menerapkan standar K3, melindungi pasien, pengunjung dan lingkungan. RS juga berfungsi sebagai jembatan perdamaian, tidak boleh memihak. Sehingga dalam situasi konflik, RS harus mampu melayani secara maksimal. Permenkes No 64 Tahun 2012 mengatur penanggulangan krisis kesehatan di tiap level. Sehingga peran Mentri Kesehatan dan Kadinkes Provinsi ialah memetakan unit yang ada. Sementara Kadinkes Kabupaten/Kota berfungsi memfasilitasi unit/fasilitas kesehatan. Pusat Penanggulangan Krisis (PPK) Kementrian Kesehatan terbagi dalam 9 PPK regional dan 2 PPK subregional. Tantangan seputar HDP ialah RS atau fasyankes yang aman belum menjadi komponen kunci dalam akreditasi, sehingga program yang terkait dengan hal ini berjalan sendiri dan tidak berkelanjutan. Kedua, SDM yang mampu memahami dan menyusun HDP masih kurang. Ketiga, HDP belum menjadi penilaian dalam akreditasi.

Susi Runtiawati, BE, SE, MKM (Kepala Bidang Sarana dan Prasarana RS Sardjito) memaparkan seputar Hubungan K3 dan HDP. RS Sardjito sudah memiliki HDP dan terakreditasi JCI. Dalam implementasi kerja K3, RS harus melakukan drili atau simulasi. Namun, di lokasi lain, Kadang K3 masih digabung dengan santitasi, teknik dan lain-lain. Fungsi utama K3 ialah melakukan advokasi dan sosialisasi  misalnya agar aman atau tidak terkena radiasi. Lalu diikuti dengan alat medis yang siap pakai dan tidak beresiko. Komitmen kebijakan K3 ialah bagaimana pengorganisasian K3? Bagaimana kajian atau penelitiannya? Bagaimana monev-nya?

Kesulitan K3 ialah saat sosialisasi harus mampu menyentuh banyak lapisan, baik staf RS maupun pengunjung. Perlu memaparkan seluruh bahaya yang mungkin muncul di RS, baik medis maupun non medis. Kemudian perlu membangun kesadaran seluruh pihak agar selalu waspada, mengurangi kepanikan dan mempelajari jalur evakuasi yang ada jika bencana terjadi.

Bangunan yang ada pun harus memenuhi standar evakuasi, misal gedung tinggi dengan kaca harus dilengkapi teralis, agar resiko jatuh dan bunuh diri dapat diminimalkan. Upaya lain yang dapat dilakukan ialah, semaksimal mungkin mengurangi resiko ergonomis saat dokter mengoperasi lebih dari tiga jam. Lalu, jika memadamkan api, jangan menyemprot ke arah dan lidah api, yang tepat ialah mengikuti arah angin atau sudut 30 derajat.

Diskusi

Jika menilik substansi maka HDP sudah termasuk di semua regulasi terkait RS yang telah ada (penanggulangan, pra dan pengurangan resiko). Sejumlah tema muncul dalam diskusi, namun yang cukup mencuri perhatian ialah penyusun HDP ialah seluruh elemen yang terlibat di RS. Sehingga HDP ini sangat tergantung pada situasi dan kemampuan masing-masing RS. Namun, siapa yang akan menghidupkannya? Tentu saja jawabannya ialah K3 karena K3 yang akan mensosialisasikan dan banyak melakukan drill terkait HDP ini, misal simulasi di bangsal jiwa, simulasi rawat jalan, simulasi penculikan bayi dan lain-lain. PPK menyatakan, PPK sempat menyusun hospital safety index dan hasilnya banyak RS yang tidak aman terhadap bencana.  Misalnya jika terjadi flu burung dalam skala luas di negara kita, maka banyak faskes yang belum mampu menangani hal tersebut. Untuk jalur evakuasi bangunan baru, sebaiknya ada jalur tersendiri yang menghubungkan gedung di atas lantai 3 ke bawah, misal dengan jalur langsung.

Sesi 2

dr. Adib A Yahya, MARS (PERSI) yang merupakan surveyor dan instruktur di penyusunan HOPE RS memaparkan pengalamannya dalam penerapan HDP di Indonesia. Selama ini, masih banyak RS yang meniru HDP RS tetangga tanpa memperhitungkan kebutuhan internal. Faktanya, HDP harus disusun dengan struktur yang jelas, agar pengorganisasiannya mudah. Setelah HDP disusun, perlu dilakukan pelatihan ke seluruh staf. Setelah pelatihan, perlu dilakukan pencatatan. Salah satu kunci dalam penanggulangan bencana ialah mengurangi rasa panik yang pasti muncul.

dr. Hendro Wartatmo, SpBKBD ((Pokja Bencana FK UGM) menyatakan HDP merupakan kumpulan protap atas respon bencana. Sehingga, dalam HDP perlu dituangkan kerjasama antara tim medis dan tim manajemen yang ada di RS. Salah satu isu yang mengemuka ialah belum banyak RS yang melakukan search capacity saat pra bencana, pasalnya jika bed hanya ada 700 sementara pasien yang datang ada 2 ribu, maka perlu disiapkan sejumlah tempat yang dapat digunakan untuk merawat pasien, misal aula, lobby dan lain-lain. Adib menambahkan pengalamannya saat di Seoul, Korea terdapat satu RS yang memasang colokan listrik dan jalur oksigen tiap 2 meter di aulanya, hal ini dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan pasien saat terjadi bencana.  Hendro juga menambahkan, sebaiknya HDP ini masuk dalam kategori penilaian akreditasi KARST atau JCI agar pewujudkan RS aman dapat segera tercapai.

Diskusi

Salah seorang peserta dari Poso menanyakan, bagaimana penyusunan HDP di lingkungan konflik semacam Poso? Adib menyatakan untuk lingkungan khusus seperti wilayah konflik, HDP perlu melibatkan militer dan masyarakat, karena dibutuhkan dukungan semua pihak agar RS menjadi tempat yang aman untuk berobat.

Pada masa pra bencana perlu diupayakan adanya jejaring antar RS dan faskes dalam satu wilayah, misalnya di Jogja ada Pusabankes 118, dimana antar satu dan lain ambulance saling terhubung. Sehingga, saat terjadi kecelakaan pesawat di Jogja pada 2008, kurang dari satu jam, sudah ada 40 ambulance yang berkumpul di bandara. Saat di bandara pun, ambulance tersebut telah terkoordinir dengan baik (W).