Reportase Webinar Logistik Medik Pada Bencana

webinar logistik bencana

Reportase

Webinar Logistik Medik Pada Bencana

30 Maret 2017


webinar logistik bencana

Webinar series divisi manajemen bencana PKMK FK UGM untuk Maret mengangkat topik Kesiapsiagaan Logistik Medik pada Bencana: Refleksi Seminar ASM Pokja Bencana 9 Maret 2017. Webinar tersebut dimoderatori oleh Intan Anastasia, S.Far., Apt., M.Sc dan materi yang pertama disampaikan oleh dr. Sulanto Saleh-Danu, Sp.FK dari Pokja Bencana FK UGM.

Logistik merupakan suatu hal yang penting dalam segala aspek, hal yang sama berlaku saat keadaan bencana. Bencana merupakan suatu keadaan yang bisa datang setiap saat, sementara sebagai penentu berhasil atau tidak penanganan bencana tersebut berdasarkan logistiknya. Salah satu dampak bencana adalah munculnya suatu penyakit menular/ infeksi. Fakta yang terjadi pada bencana di Bantul yakni berkembangnya penyakit infeksi, bantuan yang berlimpah, tidak ada bantuan vaksin, bahan/ obat kadaluarsa pendek, buffer stock belum terseragamkan, dan adanya inkoordinasi antara bantuan logistik.

Pada saat bencana, terjadi banyak organisasi dan lembaga yang memberikan bantuan dan pertolongan. Dalam kegiatan bantuan atau pertolongan tersebut dibutuhkan suatu logistik yang memadai. Salah satu penyakit yang terjadi pada saat bencana di Bantul adalah tetanus, yang disebabkan oleh faktor kebersihan, kejatuhan puing-puing rumah, tertusuk paku yang berkarat, dan lain-lain.

Terdapat 3 fase dalam penanganan bencana, yaitu pra bencana, respon bencana, dan pasca bencana. Kegiatan yang dilakukan pada saat pra bencana seperti assesment tingkat risiko dimana dari BNPB telah memiliki buku panduan yang dapat digunakan sebagai acuan. SDM pun harus dipersiapkan, terutama skill dalam penanganan bencana sehingga pada saat bencana terjadi maka tim telah siap. Logistik juga harus dipersiapkan sebelum terjadinya bencana. Dalam 3 fase tersebut diperlukan logistik dan kebutuhan yang berbeda-beda.

Penanganan bencana pada setiap daerah diperlukan manajemen bencana, disaster plan, serta terdapat rumah sakit yang telah memiliki Hospital Disaster Plan (HDP). Rencana persiapan yang sangat matang diperlukan dalam mitigasi, selain itu juga tetap perlu disiapkan untuk rencana cadangan. Tim surveilans dan tim Rapid Health Assesment (RHA) perlu dipersiapkan untuk berangkat ke medan bencana dengan tujuan untuk mendapatkan data dan mengetahui situasi pada lokasi bencana.

Logistik yang diperlukan dalam bencana bukan hanya dalam kesehatan yakni obat dan peralatan penunjang kesehatan, melainkan juga diperlukan logistik non kesehatan seperti: air, makanan, kebutuhan administrasi, tempat berlindung dan kelistrikan, kebutuhan pendidikan, dan seterusnya. Kebutuhan yang diperlukan oleh relawan juga diantaranya tenaga yang terlatih, transportasi, komunikasi dan aksesibilitas, serta peta lokasi.

Donasi akan sangat banyak berdatangan pada saat bencana, sehingga diperlukan pengecekan seperti item yang diberikan, jumlahnya, siapa donaturnya, kadaluarsa, dan lain-lain. Perlu diperhatikan juga untuk penyimpanan, sehingga diperlukan gudang penyimpanan obat dalam tiap kabupaten. Gudang tersebut juga dipastikan untuk daya tampungnya, lokasi, fasilitas, dan pendingin untuk obat tertentu.

Pembicara kedua oleh Danang Samsu, ST yang merupakan manager Pusdalob BPBD DIY. Logistik sangat penting dalam segala hal, karena tanpa logistik maka kegiatan tidak akan berjalan. Manajemen logistik juga diperlukan mulai dari saat penerimaan, penyimpanan obat, distribusi, hingga pertanggungjawaban yang mungkin diperlukan penghapusan obat juga. Untuk wilayah DIY juga telah dibentuk klaster logistik oleh BPBD, dimana untuk jangka panjang akan bekerjasam dengan klaster kesehatan dalam penanganan bencana. Dalam klaster harus terdapat 1 komando, agar koordinasi lebih mudah dan tidak mengurangi kekacauan.

Pertanyaan pun banyak diajukan oleh peserta webinar baik yang hadir pada lokasi maupun yang mengikuti secara online. BPBD saat ini telah menyiapkan desa tangguh bencana dimana warga juga dilatih mengelola logistik, sehingga diharapkan warga tetap dapat bertahan setidaknya 3 hari tanpa bantuan dari luar. Saat ini juga telah dipersiapkan logistik untuk makanan, dimana bekerja sama dengan toko, supermarket serta supplier dan dipastikan untuk logistik tersebut akan selalu baru.

Undang – Undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, menyatakan bahwa penanggung jawab pada bencana adalah pemerintah daerah. Uji kompetensi diperlukan agar pemda lebih percaya diri untuk memimpin, karena selama ini justru dari NGO atau lembaga eksternal yang mengatur dan memberikan komando. Peraturan tersebut dapat digunakan untuk dasar dalam proses hukum bahkan sampai ke pidana apabila terdapat lembaga atau organisasi yang tetap tidak mau menurut.

 

Reporter: Wisnu Damarsasi, MPH

Reportase Sesi 1. Kebijakan Logistik Medik Seminar Penggunaan Logistik Medik pada Bencana

sesi1 asm

Reportase Sesi 1. Kebijakan Logistik Medik

Seminar Penggunaan Logistik Medik pada Bencana:
Study Kasusu Tetanus pada Gempa Yogyakarta untuk Pencegahan pada Gempa Pidie Jaya 2016

Kamis, 9 Maret 2017
Gedung Senat Lantai 2 KPTU Fakultas Kedokteran UGM

sesi1 asm
Sesi 1 ini ditujukan untuk membahas kebijakan logistik medik. Untuk itu, narasumber yang dihadirkan berasal dari regulator baik di tingkat nasional maupun internasional. Narasumber kali ini adalah dr. Achmad Yurianto yang merupakan Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes dan Bapak Yulian Yogadhita, S.Farm, Apt dari WHO Indonesia.

dr. Hendro Wartatmo, Sp.BD selaku penasihat Pokja Bencana FK UGM, menjadi moderator pada sesi ini. Dalam pengantarnya beliau teringat bahwa pada suatu kejadian bencana beliau dan tim pernah menerima obat-obatan berbahasa Jepang dan tidak ada bahasa inggris juga yang bisa dimengerti. Kedepannya harusnya sudah tidak ada lagi pengalaman yang seperti ini.

achmad

Bahasan kita hari ini sebenarnya dapat kita rangkum dalam upaya monitoring layanan kesehatan pada saat bencana. Hal ini benar-benar strategis dan berkaitan sekali dengan perencanaan dan peningkatan kapasitas pada saat terjadi bencana. Menyinggung yang disampaikan oleh moderator tadi mengenai permasalahan label obat bantuan, itu menunjukkan kalau pada saat itu, kita memang belum siap termasuk merencanakan penerimaan bantuan logistik medik pada saat bencana.

Kaitannya dengan penanganan logistik, setiap daerah di Indonesia harusnya sudah merujuk pada DAK Bidang Kefarmasian yang sudah mengharuskan setiap daerah memiliki perencanaan buffer stock. Harusnya, setiap daerah memperhitungkan dengan benar buffer stock ini berdasarkan kontijensi krisis kesehatan dan bencana yang ada di daerahnya.

Sedangkan penanganannya berbasis klaster. Kita ada di klaster kesehatan yang terdiri dari sub-sub klaster lagi. Sub klaster yang berkaitan dengan logistik ini adalah sub klaster layanan kesehatan.

Peran pengurangan risiko bencana dibidang kesehatan ini merupakan asset yang harus dikelola oleh dinas kesehatan. Bukan pada masa responnya tapi pada saat pemulihan dininya dan kembali lagi pada masa pra bencana sebagai bentuk kesiapsiagaan.

sesi webinar who

Pemateri kedua memaparkan tentang internal dan external preparedness, koordinasi, dan pembelajaran dari gempa Nepal. Beliau lebih banyak membahas mengenai kasus yang pernah dialami seperti pemusnahan obat bantuan pada gempa Padang dan gempa Jogja. Obat yang dimusnahkan jumlahnya hingga 10 ton dan membutuhkan dana yang besar.

Menyambung permasalahan penerimaan bantuan obat yang tidak sesuai dan logistik medik lainnya, erat kaitannya dengan upaya peningkatan kapasitas petugas penerimaan logistik di lapangan. Biasanya yang menerima adalah BNPB atau TNI diluar sektor kesehatan. Artinya, upaya peningkatan kapasitas penerimaan bantuan ini juga harus memperhatikan peningkatan kapasitas lintas sektor, tidak hanya petugas kesehatan.

Logistik dalam ICS mendapat perhatian serius karena ketika itu menjadi bencana internasional maka WHO menjadi koordinator kesehatannya yang menerima bantuan ini. Jika tidak sesuai kebutuhan maka bisa untuk ditolak. Pertanyaannya, bagaimana kompetensi SDM penerima logistik dan sistem perencanaan penyimpanannya, distribusinya, pelaporannya di tingkat nasional dan daerah? Ini yang harus masuk dalam perencanaan tiap-tiap daerah sesuai dengan kontijensi yang disepakati.

tanya jawab

Masuk ke sesi diskusi, dr. Wiliam dari Medicuss Foundation, Pak Sutono dari PSIK FK UGM, dan Pak Budi dari RS PKU serta Pak Dodi dari PKK. Secara umum diskusi seputar kekacuan penanganan pada saat bencana, standar obat-obatan yang harus disiapkan untuk rumah sakit seperti apa, serta lemahnya koordinasi lintas sektor dalam penanganan bencana di daerah. Dapat dirangkum bahwa the most problem in disaster respond was not-single resources but control and coordination. Bagaimana kerjasama lintas sektor hingga pengaturan di sektor kesehatan sendiri harus dikuatkan dengan seringnya melakukan kontak dan kerjasama.

Reportase: Madelina A

Reportase Sesi 2. Kebijakan Logistik Medik Seminar Penggunaan Logistik Medik pada Bencana (2)

sesi2

Reportase Sesi 2. Kebijakan Logistik Medik

Seminar Penggunaan Logistik Medik pada Bencana:
Study Kasusu Tetanus pada Gempa Yogyakarta untuk Pencegahan pada Gempa Pidie Jaya 2016

Kamis, 9 Maret 2017
Gedung Senat Lantai 2 KPTU Fakultas Kedokteran UGM

sesi2

Pada sesi kedua seminar tentang logistik medik ASM 2017 dimoderatori oleh Sutono, S.Kp., M.Sc, M.Kep. Materi pertama dipaparkan oleh dr. Handoyo Pramusinto, Sp.BS tentang kasus infeksi saat bencana. Jurnal tentang bencana yang saat ini sering dibahas oleh peneliti yakni tentang cara mencegah dan mengendalikan natural disaster. Banyak penyakit yang muncul pada saat bencana, seperti diare, tetanus, demam, infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) dan hal tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga bencana di negara lain.

Faktor resiko yang menyebabkan munculnya penyakit pada saat bencana antara lain populasi yang terlalu banyak, minim air bersih dan sanitasi yang buruk. Untuk itu pencegahan dan pemberantasan penyakit menular merupakan termasuk tindakan yang dilakukan di pengungsian. Pemerintah pun telah membuat suatu pendoman teknis penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana serta lesson learnt penanganan krisis kesehatan.
Tercatat pada gempa bumi yang terjadi di Yogyakarta dan Jawa Tengah beberapa kasus tetanus, dan terbanyak di RS Sardjito sebanyak 22 kasus. Prosentase penderita tetanus mayoritas terjadi pada usia di atas 50 tahun sebanyak 70,43% dan apabila dilihat dari gender maka terbanyak pada pria sebanyak 57,75%.
Materi kedua dipaparkan oleh dr. Ninik dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul yang membahas tentang bencana gempa bumi yang terjadi di Kabupaten Bantul. Tahun 2016 terjadi bencana gempa bumi di Kabupaten Bantul yang berpengaruh pada kualitas air yang langsung menjadi kurang baik dan berdampak timbulnya penyakit. Pada saat bencana tersebut dibuat dapur umum, dimana tidak dapat dikontrol untuk kualitas makanan dan bantuan nasi bungkus yang dimakan pada esok harinya sehingga menyebabkan diare.

Kasus tetanus juga terjadi karena terkena reruntuhan bangunan akibat gempa, dimana atap rumah warga banyak yang menggunakan seng serta paku yang bertebaran. Warga Bantul banyak yang memelihara sapi di dekat rumahnya, sehingga pasca bencana warga lebih fokus pada rehabilitasi rumah serta binatang peliharaan dan tidak memperhatikan luka yang dialami. Warga pun masih sangat minim pengetahuan tentang perawatan dan komplikasi akibat luka.
Kasus tetanus di Bantul mayoritas terjadi pada usia di atas 45 tahun sebanyak 60%, hal ini terjadi karena pada saat itu belum ada kebijakan imunisasi dasar lengkap seperti sekarang ini. Apabila dilihat dari gender maka 80% terjadi pada pria karena perempuan terpapar imunisasi lebih banyak. Selama kurang dari 24 hari pasca bencana, telah terjadi 50 kasus tetanus ditemukan.

Penerimaan logistik medis pasca bencana banyak berdatangan dari berbagai sumber baik dari dalam maupun luar negeri, sehingga perlu adanya pengelolaan yang tepat. Distribusi obat tidak hanya diberikan kepada fasilitas kesehatan namun juga ke posko-posko yang banyak muncul secara mendadak. Pengelolaan logistik tersebut menggunakan sistem 1 pintu baik penerimaan maupun pendistribusian.

Persediaan obat tetanus pada gudang obat yang dimiliki Dinas Kesehatan Bantul sangat minim. Sementara bantuan yang berdatangan tidak ada yang memberikan pengobatan untuk tetanus, hanya antibiotik dan analgesik saja. Namun terdapat solusi karena selama bencana sesuai kebijakan nasional untuk pengadaan diperbolehkan secara langsung tanpa melalui tender.

Permasalahan yang terjadi yakni obat dari donatur seringnya tiba-tiba datang tanpa adanya koordinasi dan obat yang dikirim tidak semua bagus, karena ada yang waktu kadaluarsanya pendek. Pemusnahan obat pun sempat dilakukan yang dianjurkan oleh WHO kurang lebih 10 ton. Berdasarkan dari pengalaman tersebut maka dilakukan perubahan pada gudang obat dimana dibuat 10-20% buffer stock oabt serta obat untuk kebutuhan rutin yang mencukupi selama 18 bulan. Jumlah persediaan Anti Tetanus Serum ATS) pun sekarang lebih diperbanyak, serta pengadaan ATS yang menggunakan e-katalog untuk pengirimannya dilakukan 3 kali. Hal ini dengan tujuan agar memiliki tanggal kadaluarsa yang berbeda.

Materi ketiga tentang kasus tetanus pada gempa bumi Pidie Jaya tahun 2016 dipaparkan oleh dr. Hasnani, M.Kes dari P2KK Aceh yang dilakukan menggunakan media webinar. Pada bencana tersebut, dinas kesehatan Aceh berkoordinasi dengan RSU Zainal Abidin Banda Aceh dalam hal menerima pasien, serta mendirikan pos koordinasi kesehatan. Fase tanggap darurat hari ke-2 maka telah dibentuk tim kesehatan, dimana seluruh divisi dari Dinkes Aceh bergabung bersama tim P2KK Aceh pada klaster kesehatan. Bantuan segera datang setelah bencana terjadi, baik dari dalam maupun luar negeri. Sejumlah tim relawan membantu dalam situasi yang timbul akibat bencana. Diketahui terdapat kurang lebih 1.174 relawan yang telah terjun dalam bencana.

Fasilitas kesehatan banyak yang mengalami kerusakan, terutama yang paling banyak terjadi yaitu puskesdes. Banyak penyakit juga yang timbul akibat bencana, seperti ISPA, diare, penyakit kulit, dan penyakit lain. Cakupan imunisasi pada gempa Pidie Jaya melingkupi imunisasi campak sebesar 95,02% dari target 5.500 balita, dan imunisasi tetanus sebanyak 67,63% dari 275 relawan. Tidak ditemukan kasus tetanus baik sebelum bencana maupun dari para relawan pada masa tanggap darurat.
Materi terakhir disampaikan oleh dr. Sulanto Saleh Danu, Sp.FK tentang logistik medik pada bencana. Erat hubungannya antara bencana dengan infeksi, dimana infeksi terjadi apabila muncul gejala patologis. Besar kecilnya logistik dalam bencana dipengaruhi oleh macam bencana, besar kekuatan, lokasi bencana, jumlah korban dan populasi penduduk.

Dampak dari bencana menimbulkan trauma, komplikasi, dan penyakit seperti tetanus. Sementara tindakan pasca bencana pada korban maka perlu dilakukan triase, perawatan luka, stabilisasi, serta tindakan pencegahan. Berdasarkan dari beberapa bencana yang terjadi di Indonesia, maka sangat perlu dilakukan pengelolaan logistik baik medis maupun non medis. Tiap bencana selalu berdampak pada kesehatan manusia, banyak penyakit yang akan timbul, salah satunya yaitu yang diakibatkan oleh infeksi. Penatalaksaan infeksi sendiri diperlukan anti infeksi, vaksin serum dan pendukung lainnya.

Reporter: Wisnu Damarsasi

Reportase Sesi Pembukaan Seminar Penggunaan Logistik Medik pada Bencana

pembukaan asm bencan

Reportase Sesi Pembukaan

Seminar Penggunaan Logistik Medik pada Bencana:
Study Kasus Tetanus pada Gempa Yogyakarta untuk Pencegahan pada Gempa Pidie Jaya 2016

Kamis, 9 Maret 2017
Gedung Senat Lantai 2 KPTU Fakultas Kedokteran UGM

pembukaan asm bencan

Seminar rutin tahunan yang diselenggarakan kerjasama antara Pokja Bencana FK UGM dengan Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM ini merupakan partisipasi dalam rangka Annual Scientific Meeting FK UGM setiap tahunnya. Tahun 2017, Pokja Bencana mengambil tema yang lebih spesifik, merujuk pada tema ASM Pusat, yakni tentang penggunaan logistik medik dalam bencana.

Permasalahan logistik dalam bencana menarik untuk didiskusikan sebab penggunaan dan pendistribusian yang tidak tepat dapat menimbulkan masalah kesehatan. Berbeda dengan seminar-seminar sebelumnya, seminar kali ini kita fokus pada satu kasus yakni kasus tetanus, kata dr. Handoyo Pramusinto, Sp.BS selaku Ketua Pokja Bencana FK UGM dalam sambutannya.

handoyo

dr. Handoyo mengapresiasi kepada seluruh peserta, klien, dan pemerhati bencana semuanya yang berhadir secara langsung ataupun yang melalui webinar dalam seminar ini. Kita membutuhkan diskusi dan sharing yang banyak dari seluruh rekanan bencana dalam seminar ini.

Sambutan dan pembukaan disampaikan oleh dr. Mei Neni Sitaresmi, SP. A(K), Ph.D selaku perwakilan dekanat FK UGM. Beliau mengatakan bahwa upaya kesiapsiagaan bencana sangat dibutuhkan agar penanganan respon dan pasca bencana lebih optimal, salah satunya dengan penyiapan logistik. Kaitannya dengan kasus tetanus pada kejadian gempa menarik untuk dibahas karena berkaitan sekali dengan ketersediaan logistik vaksin misalnya, bagaimana perencanaan, pendistribusian, dan cakupannya pada masa bencana.

dr. Mei Neni Sitaresmi

Harapan beliau seminar ini menjadi pembelajaran yang bagus karena mempertemukan antara guideline dan kebijakan yang ada dengan pengalaman rekan sekalian di lapangan pada saat bencana. Bisa jadi dari seminar ini nantinya didapatkan masukan upaya perbaikan penanganan logistik medik pada saat bencana kedepannya.

Reportase: Madelina A

 

TERM OF REFERENCE (TOR) WEBINAR SERIES FEBRUARI 2017

TERM OF REFERENCE (TOR)
WEBINAR SERIES FEBRUARI 2017

 Kesiapan Logistik Medik pada Bencana: Refleksi Seminar ASM Pokja Bencana 9 Maret 2017

Kamis, 30 Maret 2017  Pukul 13.00 – 15.00 WIB
Lab Leadership IKM FK UGM

Oleh divisi Manajemen Bencana, Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK)fakultas Kedokteran UGM


PENGANTAR

Permasalahan logistik memang selalu menarik untuk didiskusikan. Seperti yang telah kami diskusikan pada Seminar Penggunaan Logistik Medik pada Bencana (Studi Kasusu Tetanus pada Gempa Yogyakarta untuk Pencegahan pada Gempa Pidie Jaya 2016), 9 Maret lalu.

Pada webinar kali ini, kita akan lebih fokus membahas kesimpulan, saran, dan masukan dari hasil seminar tersebut. Selain itu, kita akan lebih mempertajam mengenai isu, kebijakan, dan pelaksanaan distribusi logistik medik pada saat bencana.

Judul  : Kesiapan Logistik Medik pada Bencana 
Pembicara  : dr. Sulanto Saleh Danu, Sp.FK 
Moderator  : Intan AnatasiaNP, MSc, Apt 
Hari/tanggal  : Kamis, 30 Maret 2017 
Pukul : 13.00 – 15.00 WIB

 

analytics, audience, presentation, training icon  PESERTA YANG DIHARAPKAN

  • Kementerian Kesehatan (Pusat Krisis Kesehatan)
  • BNPB
  • BPBD
  • Dinas Kesehatan
  • Rumah Sakit
  • Fakultas Kedokteran, Kesehatan, dan Keperawatan
  • Group EMT Indonesia
  • Mahasiswa
  • Peneliti
  • LSM
  • Dsb

 

agreement, arrangement, document, register, registration, sign, write icon  PENDAFTARAN DAN INFORMASI

Lelyana
Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK UGM
Mobile           : 081329760006
Ph                : 0274-549425
Fax               : 0274-549424

 

TOR: ARAH KEBIJAKAN PENANGGULANGAN BENCANA SEKTOR KESEHATAN

WEBINAR SERIES FEBRUARI 2017

 ARAH KEBIJAKAN PENANGGULANGAN BENCANA SEKTOR KESEHATAN

SELASA 28 FEBRUARI 2017 PUKUL 13.00 – 15.00 WIB
Oleh Divisi Manajemen Bencana, PKMK FK UGM

{tab title=”TOR” class=”info” align=”justify” }

PENGANTAR

Memasuki bulan kedua di tahun 2017 ini, menarik untuk membahas arah kebijakan penanggulangan bencana sektor kesehatan di Indonesia. Tentu banyak tantangan yang harus dihadapi oleh sektor kesehatan; bagaimana mempersiapkan dan siaga pada saat pra bencana, respon sigap, dan tegar untuk bangkit kembali pada masa recovery.

Menariknya, bencana merupakan salah satu determinan dalam sektor kesehatan sebab bencana dapat menimbulkan dampak kerugian bagi sektor kesehatan. Pertanyaannya bagaimana sektor kesehatan mampu menghadapi bencana dan krisis kesehatan? Jika secara sistem masih banyak yang harus dibenahi (fasilitas, SDM kesehatan, sarana dan lain-lain) maka kira-kira hal apakah yang harus diprioritaskan untuk siap menghadapi bencana. Hal inilah yang akan kita diskusikan bersama dalam webinar series kebijakan ke dua bulan Februari ini.

Judul             : Arah Kebijakan Penanggulangan Bencana Sektor Kesehatan: Penguatan Fasilitas    Kesehatan   
Pembicara      : dr. Bella Donna, M.Kes
Moderator : Madelina Ariani, SKM, MPH
Hari/tanggal : Selasa, 28 Februari 2017
Pukul            : 13.00 – 15.00 WIB

Penelitian mengenai kesiapsiagaan sektor kesehatan dalam menghadapi bencana serta pengalaman dalam mendampingi fasilitas kesehatan dalam menyusun rencana menghadapi bencana akan kami sampaikan dan kita diskusikan dalam kesempatan ini.

analytics, audience, presentation, training icon  PESERTA YANG DIHARAPKAN

  • Kementerian Kesehatan (Pusat Krisis Kesehatan)
  • BNPB
  • BPBD
  • Dinas Kesehatan
  • Rumah Sakit
  • Fakultas Kedokteran, Kesehatan, dan Keperawatan
  • Group EMT Indonesia
  • Mahasiswa
  • Peneliti
  • LSM
  • dan sebagainya

 

agreement, arrangement, document, register, registration, sign, write icon  PENDAFTARAN DAN INFORMASI

Lelyana
Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK UGM
Mobile           : 081329760006
Ph                : 0274-549425
Fax               : 0274-549424

{tab  title=”Reportase” class=”danger” }

Reportase Webinar Divisi Manajemen Bencana

Selasa, 28 Febuari 2017
Ruang Leadership, FK UGM

webinar bencana Divisi Manajemen Bencana PKMK FK menyelenggarakan kegiatan webinar series yang dilaksanakan setiap bulan. Pada bulan ini mengangkat topik tentang “Arah Kebijakan Penanggulangan Bencana Sektor Kesehatan: Penguatan Fasilitas Kesehatan”. Pembicara dalam webinar ini adalah dr. Bella Donna, M.Kes dan dimoderatori oleh Madelina Ariani, SKM, MPH.

Indonesia merupakan negara yang kepulauan dimana sangat sering menjadi sorotan terutama dalam bidang kesehatan. Akses merupakan suatu permasalahan yang sangat mendasar di Indonesia, terutama pada daerah terpencil yang ada di Indonesia timur. Pada keadaan normal, masyarakat di daerah tersebut kesusahan dalam mengakses pelayanan kesehatan karena terkadang harus menyeberang ke pulau lain dan hal tersebut membutuhkan waktu serta usaha yang lebih. Sehingga apabila terjadi suatu bencana di daerah tersebut akan semakin mempersulit masyarakat untuk mendapatkan pertolongan. Apabila terjadi bencana maka suasana akan sangat kacau.

Puskesmas dan rumah sakit menjadi fasilitas yang diharapkan dapat memberikan pertolongan termasuk saat bencana. Untuk itu perlu dikaji mengenai kesiapan fasilitas kesehatan tersebut baik dari segi gedung, SDM, maupun peralatan yang tersedia. Hal tersebut merupakan suatu tantangan yang terjadi saat ini, mengingat Indonesia merupakan negara yang rawan bencana. Harapan dari tantangan tersebut yakni kekacauan yang timbul akibat bencana akan lebih singkat dan segera teratasi.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Nusa Tenggara Timur dan Ambon, diketahui bahwa salah satu desa yang berada di Ambon (sampel penelitian), SDM kesehatan pada fasilitas kesehatan belum siap apabila menghadapi bencana. Bukan hanya SDM, melainkan juga fasilitas dan gedung pun belum memadai untuk menerima korban suatu bencana. Penelitian yang dilakukan oleh Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan (PPKK) juga menyebutkan bahwa kesiapsiagaan fasilitas kesehatan yang tersedia di Indonesia dalam bencana mayoritas masih rendah. Bahkan daerah yang sering mengalami bencana, masih terdapat fasilitas kesehatan yang tidak memahami dan mengetahui mengenai Hospital Disaster Plan (HDP).

Salah satu peserta webinar menanyakan tentang posisi tim medis dalam bencana dan dr. Bella menjelaskan bahwa dalam Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNBP) terdapat klaster kesehatan, dimana dalam klaster tersebut pada saat bencana maka tim medis dari suatu fasilitas kesehatan dapat bergabung ke dalam tim yang dimaksud. Tim medis dari suatu fasilitas kesehatan hanya perlu melaporkan diri pada klaster kesehatan yang terdapat pada lokasi bencana.

HDP untuk saat ini masih dipandang sebelah mata oleh manajemen rumah sakit. Hal ini bukan tanpa sebab, karena dalam akreditasi rumah sakit hanya memiliki nilai sebesar 20% sehingga beranggapan tidak terlalu penting dan hanya pemborosan anggaran. Bencana merupakan suatu hal yang tidak dapat diduga dan dapat terjadi dimana pun dan kapan pun saja, sehingga rumah sakit sebaiknya mempersiapkan diri akan hal itu. Permenkes No. 69 Tahun 2014 tentang Kewajiban Rumah Sakit dan Kewajiban Pasien menyebutkan bahwa rumah sakit mempunyai kewajiban berperan aktif dalam memberikan pelayanan kesehatan pada bencana dan melakukan mitigasi dampak bencana.

 

Reporter: Wisnu Damarsasi

{/tabs}

Reportase: LUNCH SEMINAR DAN WEBINAR LAPORAN KEGIATAN GEMPA PIDIE JAYA DAN BANJIR BANDANG BIMA

mei neni wadek fk

LUNCH SEMINAR DAN WEBINAR LAPORAN KEGIATAN GEMPA PIDIE JAYA DAN BANJIR BANDANG BIMA

Yogyakarta, 8 Februari 2017
Reportase oleh:  Intan Anatasia

PKMK Yogyakarta.


Acara webinar ini dibuka oleh dr. Mei Neni Sitaresmi, Sp.A(K).Ph.D selaku Wakil Dekan Bidang Kerja Sama, Alumni, dan Pengabdian Masyarakat. Mei menyampaikan Fakultas Kedokteran UGM tetap menjalankan Tri Dharma dengan memberangkatkan Tim Bencana untuk melakukan kontribusi di Gempa Pidie Jaya dan Banjir Bandang Bima. Harapannya dari laporan kegiatan ini kita bisa sama-sama belajar untuk melakukan rencana tindak lanjut ke depannya.

 mei neni wadek fk

Acara selanjutnya adalah Pengenalan Mengenai Kelompok Kerja Bencana (POKJA BENCANA) Fakultas Kedokteran UGM  oleh dr. Handoyo Pramusinto, SpB. Handoyo mengharapkan agar Surat Keputusan dari Universitas Gadjah Mada segera turun untuk legalitas dari Pokja Bencana FK UGM. Handoyo juga menjelaskan bahwa POKJA BENCANA ini terdiri dari beberapa komponen yaitu dari RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, Rumah Sakit Akademik UGM, termasuk juga dari lintas bidang karena tim ini terdiri dari klinis/kedokteran, surveilans, promosi kesehatan, gizi dan kesehatan jiwa. Pokja Bencana FK UGM mempunyai harapan untuk terintegrasi dengan DERU UGM dan Pusat Studi Bencana Alam.

handoyo 

Masuk ke acara inti yaitu penyampaian Laporan kegiatan Tim Klaster Kesehatan Gempa Pidie Jaya oleh dr. Hendro Wartatmo, SpB.KBD. Hendro menyampaikan alasan mengapa tim berangkat ke Pidie Jaya pada fase recovery, karena saat fase akut biasanya sudah banyak tim yang datang untuk membantu sehingga diambil keputusan untuk berangkat pada fase recovery setelah tim assessment mendapatkan penilaian kebutuhan awal. Koordinasi dilakukan selama 5 hari sebelum keberangkatan. Hendro menceritakan pada hari pertama tim menyambangi Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) untuk berdiskusi dan melakukan pemetaan daerah terdampak. Pertemuan ini dipimpin langsung oleh Kepala Pusdalops BPBA Aceh. Pertemuan ini juga membahas plan of action di Pidie Jaya.

Selanjutnya tim menuju pos kesehatan di RSUD Pidie Jaya. Di pos kesehatan, sudah ada tim Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, Dinas Kesehatan Kabupaten Pidie Jaya, dan Kemenkes. Kembali dilakukan koordinasi dengan klaster kesehatan yang sudah ada, sebagian tim juga melakukan pengecekan lokasi RSUD, dan sebagain lagi mendirikan tenda. Seluruh tim akan bermalam di lokasi ini. Hendro menunjukan pula foto-foto bangunan seperti bangunan Rumah Sakit Pidie Jaya yang hancur.

Pada hari ketiga masih melanjutkan rencana operasi bahwa hari ini tim layanan kesehatan diberangkatan ke Puskesmas Cubo dan tim health management support berada di pos kesehatan untuk mengikuti rapat koordinasi dengan pihak terkait. Hendro menyempatkan untuk tetap menikmati keindahan di daerah Pidie Jaya dan menikmati kuliner durian di Pidie Jaya. Kerja dari tim  pertama dilanjutkan kembali oleh tim kedua dimana kegiatan yang dilakukan berupa pendampingan Primary Health Care Disaster Plan (PHCDP) dan Pelatihan Penanganan Luka. Di akhir paparannya, Hendro Wartatmo menyampaikan lesson learnt yang bisa diambil dari kegiatan ini adalah bahwa respon pada fase akut saat sudah cukup cepat, tim kesehatan sudah aktif di hari pertama dan networking lokal sudah ada. Masih ada hal yang perlu diperbaiki yaitu kondisi di Pidie Jaya sudah tidak baik bahkan sebelum bencana contohnya IPAL di RSUD Pidie Jaya kondisinya semakin parah setelah gempa terjadi. Komunikasi saat kondisi bencana sangat sulit walaupun akhirnya berjalan lancar maka harus disadari pentingnya menjaga komunikasi.

 Dok. PKMK FK UGM. Laporan Kegiatan Gempa Pidie Jaya dan Banjir Bandang Bima

Masuk ke sesi kedua yaitu Laporan Kegiatan Tim Klaster Kesehatan Banjir Bandang Bima yang disampaikan oleh Sutono S.Kep.,M.Sc. Sutono menyampaikan rasa bangganya kepada alumni-alumni di Universitas Gadjah Mada yang responsif untuk menyebarkan berita bencana ke Divisi Manajemen Bencana sehingga bisa segera merespon untuk melakukan tindakan ke lokasi bencana. Sutono menjelaskan mengenai alasan untuk berangkat ke Bima karena sudah ada laporan bahwa ada 4 puskesmas yang lumpuh dan tidak bisa melakukan pelayanan.

Tujuan tim Bima berangkat yang pertama adalah mengidentifikasi permasalahan di sektor kesehatan dan menyiapkan tim lanjutan untuk membantu korban bencana di kota Bima. Tim langsung menyisir 33 lokasi pengungsian yang belum di-follow up untuk mendata jumlah pengungsi dan mendapatkan data kelompok rentan yang ada. Dari hasil survey ditemukan berbagai penyakit setelah hari kedelapan banjir seperti myalgia, dermatitis dan ISPA. Identifikasi potensi Kejadian Luar Biasa seperti demam berdarah dan dicurigai leptospirosis akibat manajemen sampah yang buruk.  Terdapat juga korban yang meninggal diakibatkan oleh infeksi tetanus. Masih banyak desa yang belum mendapatkan vaksin sehingga ditemukan disalah satu yang mengalami campak.

Fasilitas kesehatan di Bima belum mendapatkan pengetahuan dalam membuat perencanaan penanggulangan bencana di fasilitas kesehatan. Tim pertama merekomendasikan untuk manajemen air, potensi wabah, pembuatan regional disaster plan agar sektor kesehatan bisa melakukan persiapan. Tim kedua yang diterjunkan ke Bima mulai 18 – 21 Januari 2017 terdiri dari 4 orang yang terbagi menjadi 2 grup yaitu: Grup 1 terdiri dari Dr. Ir. Agus Maryono dan Rifqi Amrillah Abdi yang berfokus pada penerapan teknologi alat pemanen air hujan. Grup 2 terdiri dari Prof. dr. Hari Kusnanto, DrPH dan Bayu Fandhi Achmad, S.Kep., Ns., M.Kep. yang berfokus pada studi kesehatan lingkungan. Tim selanjutnya dibagi menjadi 2 yaitu 1 grup bergerak ke kantor Dinas Kesehatan Kota Bima untuk mempresentasikan teknologi alat pemanen air hujan pada perwakilan puskesmas dan Dinas Kesehatan Kota Bima serta 1 grup bergerak untuk mempersiapkan berbagai alat dan bahan yang akan digunakan untuk pembuatan alat pemanen air hujan tersebut. Prof. dr. Hari Kusnanto juga melakukan survey keliling untuk melihat permasalahan kesehatan lingkungan di kota Bima. Tim kedua masih merekomendasikan untuk tim berikutnya untuk mengelola air di kota Bima dan mengelola lingkungan kota Bima bisa tertata dan mencegah banjir datang. Harapannya akan ada program jangka panjang untuk membangun kota Bima.

Dok. PKMK FK UGM. Sesi Tanggapan dan Diskusi

Pada sesi Diskusi dan Tanggapan,  dr. Mei Neni Sitaresmi, Sp.A(K).Ph.D menanggapi mengenai kesulitan komunikasi birokrasi di daerah bencana dan mengapresiasi pengorbanan dari tim yang sudah meluangkan waktu untuk ke daerah bencana bahkan saat hari libur nasional. Mei juga menyampaikan pentingnya sektor kesehatan untuk menjalin kerjasama dengan lintas sektor dan kearifan lokal yang ada di masing-masing daerah bencana. Tanggapan kedua diberikan oleh Dr. rer. nat. dr. BJ Istiti Kandarina menyampaikan peran aktif dari Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada Kedokteran (KAGAMA Dok) di setiap daerah untuk selalu bertukar informasi terutama yang berkaitan dengan bencana dan selain itu juga sangat tertarik dengan cerita dari kearifan lokal di masing-masing daerah bencana.

Tanggapan diberikan oleh Prof. dr. Yati Soenarto Sp.A (K) mengenai harapannya untuk kegiatan ini tidak hanya sekali saja pergi ke daerah bencana dan kemudian hit and run namun harus dilakukan secara berkesinambungan serta membantu untuk pasca terjadinya bencana. Tanggapan selanjutnya diberikan oleh Kudiyana yang berasal dari Dinas Kesehatan Provinsi Yogyakarta mengenai dana siap pakai yang digunakan saat terjadi bencana. Dana siap pakai untuk membantu masih sangat sulit birokrasinya maka perlu ada evaluasi bersama pemerintah daerah mengenai dana bantuan ini.

Acara ditutup oleh dr. Mei Neni Sitaresmi, Sp.A(K) yang menyampaikan kesimpulan dimana koordinasi sangat penting bahkan sebelum tim bencana itu berangkat. Selain itu, kesinambungan juga sangat penting agar yang kita kerjakan dapat berkelanjutan dan terintegrasi sehingga dapat meningkatkan SDM yang ada didaerah bencana. Hal-hal yang kita kerjakan sangat baik didokumentasikan baik seperti acara webinar dan juga menjadi bahan-bahan penelitian.

 

Materi Presentasi:

Sarasehan Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM

Dok.PKMK FK UGM. Pembukaan oleh dr. Bella Donna, M.Kes

Sarasehan Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM

Yogyakarta, 8 Februari 2017

Reportase oleh:  Intan Anatasia

PKMK Yogyakarta.


 Dok.PKMK FK UGM.  Pembukaan oleh dr. Bella Donna, M.Kes

Divisi Manajemen  Bencana PKMK FK UGM telah menyelenggarakan kegiatan Sarasehan Divisi Manajemen Bencana  dan Lunch Seminar Laporan Kegiatan Gempa Pidie Jaya dan Banjir Bandang Bima. Kegiatan ini diwebinarkan, sehingga peserta yang tidak datang hadir langsung, tetap dapat memantau secara langsung. Acara sarasehan ini dibuka oleh dr. Bella Donna, M.Kes selaku kepala Divisi Manajemen Bencana. dr. Bella Donna menyampaikan tujuan diadakan sarasehan ini untuk mempererat hubungan antara Divisi Manajemen Bencana dengan rekanan dan klien, mendiskusikan lesson learnt penanggulangan bencana sektor kesehatan pada tahun 2015/2016 dan arah kebijakan penanggulangan bencana sektor kesehatan pada tahun 2017/2018. dr. Bella Donna juga menyampaikan pada sesi siang akan diselenggarakan webinar mengenai laporan kegiatan Gempa Pidie Jaya dan Banjir Bandang Bima oleh tim UGM yang bertugas.

Sarasehan dimulai dengan Perkenalan Tim Divisi Manajemen Bencana dan Konsultan di Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM yang disampaikan oleh Intan Anatasia N.P.,M.Sc.,Apt.  Dalam hal ini, disampaikan struktur dari penasehat, kepala divisi, konsultan dan peneliti serta asisten konsultan yang terlibat dalam Divisi Manajemen Bencana hingga saat ini.

Selanjutnya disampaikan mengenai Pengantar Refleksi 2015/2016 dan Outlook Manajemen Bencana 2017 oleh dr. Bella Donna, M.Kes. Bella menyampaikan bahwa Indonesia kembali dikejutkan dengan bencana gempa bumi yang berkekuatan 6 SR pada pukul 05.03 WIB di Kabupaten Pidie Jaya Provinsi Aceh, setelah Tsunami yang terjadi sekitar 12 tahun lalu. Ada sekitar 1009 kejadian bencana yang terjadi di Aceh sejak tahun 1815-2016. Tetapi pulau Jawa masih menempati rangking pertama dalam jumlah kejadian bencana terbanyak di Indonesia (sumber: Pusat Data Informasi dan Humas – BNPB). Perjalanan kesiapan penanggulangan bencana di Indonesia selama tahun 2016 semakin meningkat. Sumber daya manusia di sektor kesehatan semakin sadar bahwa dibutuhkan peningkatan seluruh kapasitas. Salah satu bentuk yang dilakukan dengan penyusunan rencana kontijensi yang sudah dilakukan Dinas Kesehatan serta kesiapan rumah sakit (HDP) dan puskesmas di Indonesia. Bukan hanya hal tersebut, melalui Permenkes No 19 Tahun 2016 Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu juga dikembangkan menjadi salah satu sistem yang terkordinasi dari pre Hospital, Inter Hospital dan Intra Hospital. Melihat hal ini, maka dibutuhkan sumber daya baik tenaga medis maupun para medis yang terampil dan siap jika dibutuhkan sewaktu-waktu.  Untuk itu, sudah dilakukan pertemuan dan rencana ke depan agar tiap kabupaten, provinsi dan tingkat nasional wajib menyiapkan Tim Reaksi cepat ( Emergency Medical Team) sesuai dengan panduan WHO, dan siap terjun saat terjadi krisis kesehatan ataupun bencana.

Berdasarkan Prioritas dan perubahan paradigma ke arah kesiapsiagaan, dalam kebijakan penanggulangan bencana di tahun 2017 pada fase pra bencana sesuai dengan “Sendai Framework” yaitu pengurangan risiko bencana dengan penguatan kapasitas masyarakat dan pemerintah lokal. Maka Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM juga melakukan aksi ini melalui beragam kegiatan yang bekerja sama dengan Kemenkes, WHO, rumah sakit, puskesmas, BPBD, Pemda dan lintas fakultas dalam memberikan pendampingan guna membantu fasilitas kesehatan dan sumber daya manusia agar siap dalam menghadapi krisis kesehatan. Melalui Deklarasi UGM kampus tangguh bencana, maka pengembangan kurikulum manajemen bencana masih akan tetap dilakukan dan selalu dievaluasi agar Fakultas Kedokteran khususnya bisa memiliki mahasiswa yang memahami peran mereka jika masuk dalam situasi bencana. Tidak hanya mahasiswa, tetapi pihak Ilmu Kesehatan masyarakat (IKM) di Fakultas Kedokteran akan membangun sistem keselamatan kerja terhadap dosen, staf, satpam, petugas yang sehari-hari bertugas saat jam kerja dan di luar jam kerja, agar siap menghadapi kegawatdaruratan. Harapannya tidak hanya di lingkungan IKM tetapi seluruh civitas di lingkungan FK akan terbangun sistem keselamatan kerja dan bangunan yang aman (safety building).
 
Dok. PKMK FK UGM. Pemaparan Kegiatan Divisi Manajemen Bencana oleh Madelina Ariani, SKM.,MPH.

    Acara kedua adalah Pemaparan Kegiatan Rutin dan Program Divisi Manajemen Bencana tahun 2017 yang disampaikan oleh Madelina Ariani, SKM., MPH. Pada sesi ini disampaikan mengenai kegiatan rutin dan unggulan dari Divisi Manajemen Bencana, Paket Pendampingan Pelatihan, Kerjasama Divisi Manajemen Bencana, Program Divisi Manajemen Bencana 2017, Pengenalan Webinar dan Video, serta Peluang Kerja Sama yang dibuka oleh Divisi Manajemen Bencana. Madelina Ariani juga menjelaskan mengenai paket-paket pelatihan dan pendampingan yang diberikan oleh Divisi Manajemen Bencana yaitu terdiri dari In House Training Hospital Disaster Plan (HDP), Seminar dan Sosialisasi HDP, Workshop HDP, Review HDP, Simulasi Bencana di Rumah Sakit, Pelatihan Primary Health Care Disaster Plan (PHCDP), Pengembangan Kurikulum Bencana Kesehatan, Sosialisasi HDP/PHCDP untuk Dinas Kesehatan, dan workshop lainnya. Rekanan yang pernah bekerja sama dengan Divisi Manajemen Bencana FK UGM antara lain Pusat Krisis Kesehatan Kementrian Kesehatan, WHO, Dinas Kesehatan, Pemda, universitas baik di dalam maupun luar negeri, Fakultas-fakultas yang ada di UGM, LSM, rumah sakit, puskesmas, BNPB, BPBD, World Vision dan lain-lain. Program dan kegiatan yang akan dilaksanakan oleh Divisi Manajemen Bencana pada 2017 antara lain seminar, workshop dan bimbingan teknis,  Launching Buku Bencana, Perkuliahan, Pameran Ilmiah Bencana Kesehatan, Webinar Series, dan Community of Practice. Selain itu, disampaikan juga oleh Madelina Ariani mengenai pembelajaran webinar dan kebutuhan pembuatan video yang juga bisa difasilitasi dan didiskusikan dengan Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM.  Besar harapan dari Divisi Manajemen Bencana untuk senantiasa menjalin kerjasama dengan klien-klien yang membutuhkan jasa konsultasi dan pendampingan mengenai manajemen bencana.

Pada sesi Diskusi dan Tanggapan, dr. Achmad Yurianto selaku Kepala Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan menyampaikan rasa senangnya selama ini telah bekerja sama dengan Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM. Harapan ke depannya dapat dibuat juga kebijakan-kebijakan baru yang berkaitan dengan manajemen bencana, melakukan pelatihan dan pendampingan di daerah, pengembangan kurikulum perguruan tinggi, melakukan pengabdian masyarakat dan menyusun buku pembelajaran manajemen bencana.  Ada pula tanggapan dari RSUD Wonosari dan Rumah Sakit Panembahan Senopati Bantul yang sangat senang diundang hadir di acara Sarasehan Divisi Manajemen Bencana dan menyatakan sangat menunggu untuk bisa mendapatkan pendampingan prehospital dan simulasi bencana di rumah sakit mereka.

Dok.PKMK FK UGM. Tanggapan dari RSUD Wonosari dan RS Panembahan Senopati Bantul

Acara terakhir pada kegiatan sarasehan ini adalah Pengenalan Website Bencana Kesehatan yang dikelola oleh Divisi Manajemen Bencana Kesehatan oleh Intan Anatasia N.P.,M.Sc.,Apt. Disampaikan kepada peserta acara ini bahwa Divisi Manajemen Bencana mempunyai website www.bencana-kesehatan.net yang selalu meng-update kejadian bencana dan keilmuan manajemen bencana.

Dok. PKMK FK UGM. Pengenalan Website Bencana Kesehatan oleh Intan Anatasia N.P.,M.Sc.,Apt.

Tim 2 Kesehatan: Program DIY Peduli Gempa Pidie Jaya (Pijay )Aceh

Reportase Tim 2 Kesehatan: 

Program DIY Peduli Gempa Aceh/Pijay


{tab Hari 1 |red}

Laporan hari 1:

Tim 2 Kesehatan: Program DIY Peduli Gempa Aceh/Pijay

Senin, 23 Januari 2017

Tim kedua yang diberangkatkan ke Pidie Jaya kali ini berfokus pada penguatan sistem kesehatan pasca bencana khususnya untuk puskesmas.  Tiga kegiatan yang dilakukan adalah:

  1. Pendampingan penyusunan rencana penanggulangan bencana di Puskesmas atau Primary Health Care Disaster Plan (PHCDP). Pesertanya terdiri dari Kepala Puskesmas, TU, operasional, logistik, dan keuangan di masing-masing puskesmas.
  2. Pelatihan perawatan luka. Pesertanya adalah dokter, bidan, perawat yang berada baik di IGD maupun diperawatan, poned, dan poli di masing-masing puskesmas.

Penelitian kondisi kesehatan lingkungan di salah satu puskesmas yakni Puskesmas Cubo

Tim yang diberangkatkan berasal dari Fakultas Kedokteran dan Rumah Sakit Sardjito. dr. Handoyo sebagai ketua tim. Tim terdiri dari:
PHCDP

1.    dr. Handoyo Pramusinto, Sp.BS
2.    dr. Bella Donna, M.Kes
3.    Madelina Ariani, SKM, MPH

Perawatan Luka

1.    Riyantinah, S.Kep. Ns, ETN
2.    Lucia Anik Purwaningsih, S.Kep, Ns, M.Kep, ETN

Penelitian Kesehatan Lingkungan

1.    Muhammad Irsyad, SKM

Lokasi operasi berpusat di Kecamatan Bandarbaru. Ada dua puskesmas di sini yakni Puskesmas Bandar Baru dan Puskesmas Cubo. Kecamatan Bandar Baru termasuk wilayah garis patahan gempa sehingga banyak wilayahnya yang mengalami dampak hebat.

 h1 2 tim 2 fk ugm aceh jaya

Pagi hari, kami berkunjung ke Puskesmas Cubo dan Bandarbaru. Kami mendiskusikan mengenai rencana pendampingan dan pelatihan selama beberapa hari ini. Selain itu, kembali kami menyusur fasilitas yang dimiliki puskesmas, termasuk juga jumlah SDM yang ada.

Hari pertama, tim memulai pendampingan dan pelatihan pada pukul 14.00 – 16.00 WIB di Puskesmas Bandar Baru. Puskesmas Bandarbaru adalah Puskesmas Perawatan yang berjarak kurang lebih 30 menit dari pusat kota Pidie Jaya. Kegiatan hari pertama ini ditujukan untuk berkenalan, berdiskusi, serta menyampaikan gambaran kegiatan, tujuan, dan harapan setelah kegiatan selesai. 
 
h1 3 tim 2 fk ugm aceh jaya
h1 4 tim 2 fk ugm aceh jaya

Pukul 16.00 WIB kami melanjutkan perjalanan ke Dinas Kesehatan Kabupaten Pidie Jaya untuk bertemu dengan Kepala Dinas Kesehatan Kab. Pijay. Dalam diskusi sore yang menarik ini, kami membahas rencana pendampingan dan pelatihan, rencana pengembangan sistem kesehatan pasca bencana, serta tindak lanjut kedepannya. Tambahan dari hasil diskusi ini adalah kami diminta untuk dapat memberikan pelatihan juga kepada puskesmas-puskesmas dari kecamatan lainnya pada siang hari. Kami menyanggupi saja.

h1 6 tim 2 fk ugm aceh jaya

Rencana kegiatan esok

Esok, kami akan memulai kegiatan tepat pukul 09.00 di Puskesmas Bandar Baru. Kegiatan dibuat Paralel antara PHCDP dan Perawatan Luka. Sedangkan, penelitian kesehatan lingkungan difokuskan ke Puskesmas Cubo.

{tab Hari 2 |blue}

 

Laporan hari 2:

Tim 2 Kesehatan: Program DIY Peduli Gempa Aceh/Pijay

Selasa, 24 Januari 2017

Pukul 09.00 WIB kami telah tiba di Puskesmas Bandarbaru. Beberapa peserta sudah ada di ruangan dan siap menerima materi dan pelatihan.

Pendampingan Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana di Puskesmas atau PHCDP dimulai dengan penjelasan gambaran dokumen PHCDP oleh Madelina. Jika Puskesmas Bandar Baru dan Cubo menyusun dokumen ini dengan benar maka Kabupaten Pidie Jaya dapat berbangga diri karena masih sedikit puskesmas di Indonesia yang memiliki dokumen ini. Meski demikian, harapannya bukan hanya berakhir pada dokumen, tetapi puskesmas berkomitmen untuk mengimplementasikannnya.

h2 1 tim 2 fk ugm aceh jaya

Materi mengenai overview PHCDP dan kaitannya dengan akreditasi puskesmas, pengorganisasian, evakuasi disampaikan oleh dr. Handoyo. Materi disampaikan dengan santai dan sambil berdiskusi dengan peserta. Pada dasarnya, mau bencana atau tidak, kesiapsiagaan dan penjaminan mutu pelayanan seperti ini tetap dibutuhkan untuk pasien dan petugas, termasuk juga dalam penilaian akreditasi.

Kedua puskesmas memang belum memiliki sistem kesiapsiagaan bencana seperti ini, sehingga perencanaan harus dilakukan secara matang sesuai dengan fasilitas yang ada, baik untuk alur evakuasi, alur komuniskasi, hingga penentuan fasilitas yang akan digunakan selama bencana. Untungnya, warga Aceh, termasuk Kabupaten Pidie Jaya sudah terbiasa dengan kejadian bencana sehingga sistem informal sebenarnya sudah berjalan. Namun, belum terdokumentasikan dengan baik yang dapat digunakan oleh siapapun yang membaca kemudian ataupun yang bertugas.

dr. Bella menambahkan materi mengenai penentuan fasilitas puskesmas untuk bencana. Melihat hampir semua fasilitas kesehatan, khususnya puskesmas, pada gempa kemarin masuk katagori aman dan bisa digunakan maka kedepannya kita bisa menetapkan fasilitas-fasilitas ini untuk puskesmas. Beberapa fasilitas yang perlu dikondisikan puskesmas pada saat bencana adalah untuk pos komando, ruang media, ruang informasi, ruang relawan, ruang hijau, ruang merah, dll.

Selanjutnya, kegiatan berlanjut dengan penugasan. Penugasan hari ini adalah mengenai pengorganisasian. Masing-masing puskesmas didampingi untuk menentukan SDM yang ditempatkan pada struktur organisasi tim bencana. Struktur ini bukan struktur yang baru melainkan hanya struktur yang disesuaikan dengan kondisi sehari-hari tetapi digunakan pada saat bencana.

Pelatihan Perawatan Luka dihadiri oleh lebih dari 40 orang peserta. Peserta adalah dokter, perawat, dan bidan yang bertugas baik di IGD, Poli, rawat inap, poned, dan ruangan lainnya.

Pelatihan ini diberikan berdasarkan kebutuhan daerah pasca gempa yang masih banyak menangani kasus ini. Selain itu perawatan luka memang dibutuhkan pada situasi dan pasien normal (red: tidak dalam situasi bencana). pelatihan bertujuan untuk meningkatkan sikap profesionalisme dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan luka sesuai dengan standar.

Semua kebutuhan pelatihan disiapkan oleh puskesmas termasuk peralatan. Materi yang diberikan meliputi:

  1. Healing Process on Wound (acute and cronic)
  2. Konsep Dasar Penanganan Luka Akut dan Kronis
  3. Standart Precaution on Wound
  4. Wound Bed Preparation
  5. Pengkajian Dasar Luka
  6. Pencucian luka
  7. Pemilihan topical therapy
  8. Perawatan luka paska bedah
  9. Ulkus  DM
  10. Traumatic Wound
  11. Surgical site Infection
  12. Penanganan luka bakar
  13. Penatalaksanaan luka dekubitus
  14. Praktek penanganan luka akut dan kronis

Kesehatan lingkungan
Hari ini, kami melakukan wawancara dan penggalian data penyakit yang berkaitan dengan lingkungan di Puskesmas Cubo.

Rencana kegiatan esok

  1. Workshop pendampingan penyusunan rencana penanggulangan bencana di tingkat puskesmas (PHCDP)
  2. Praktek perawatan luka

Reportase oleh:
Madelina Ariani

{tab Hari 3 |green}

 

Laporan hari 3:

Tim 2 Kesehatan: Program DIY Peduli Gempa Aceh/Pijay

Rabu, 24 Januari 2017

h3 1 tim 2 fk ugm aceh jaya

Pagi ini, kami kembali ke Puskesmas Bandar Baru. Kegiatan bertempat di lantai 2 ruang rawat inap. Gedung ini baru seminggu diresmikan. Lantai 1 digunakan untuk perawatan dan lantai dua kami gunakan sebagai tempat pelatihan dengan ruangan lain masih ada yang dilakukan perbaikan oleh tukang. Situasi pendampingan dan pelatihan berjalan kondusif.

Selama kami disini, kami mengalami dan melihat situasi banjir ketika hujan lebat terjadi. Tepatnya pada Senin, 23 Januari lalu. Hujan yang terjadi dari sore hingga malam hari menyebabkan air sungai meluap ke jalan raya penghubung antara Kabupaten Pidie dan Kabupaten Pidie Jaya. Meski tidak sampai memutus transportasi tetapi arus yang cukup deras dan tinggi (sebatas ban mobil Avanza) menyebabkan kemacetan yang lumayan malam hari itu.

Dalam kata lain, bencana gempa memang merupakan sesuatu yang baru bagi masyarakat sekitar Pidie Jaya tetapi bencana alam seperti banjir sudah sering terjadi di sini. Berdasarkan hasil diskusi, sistem komunikasi dan jejaring antar fasilitas kesehatan juga sudah berjalan di kabupaten ini. Namun, sistem tersebut belum tertuang dalam SOP atau dokumen tertulis yang dapat dibaca atau dilaksanakan oleh siapa saja kedepannya.

Pendampingan Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana di Puskesmas atau PHCDP

Kegiatan hari ini kami lanjutkan dengan pengerjaan tugas-tugas seperti tugas pengorganisasian, tugas penentuan fasilitas, tugas penyusunan SOP, penyusunan latar belakang, penentuan hazard dan lainnya. Contoh dokumen dan penugasan lainnya kami cetak sehingga setiap peserta seperti mengerjakan tugas mandiri tetapi tetap dalam satu kelompok.

Kegiatan lebih banyak pada diskusi perencanaan kedepannya. Penggalian kasus-kasus seperti peliputan media, bantuan yang datang tidak sesuai kebutuhan, penyaluran bantuan, kedatangan relawan, pelaporan kasus dan lainnya mampu sedikit demi sedikit menyadarkan peserta bahwa perencanaan kesiapsiagaan itu sangat diperlukan di tangkat puskesmas.

Pelatihan Perawatan Luka

Pelatihan perawatan luka hari ini lebih banyak ke praktek. Menariknya, kasus yang dibutuhkan ada di ruang perawatan Puskesmas Bandarbaru sehingga dapat praktek langsung ke pasien. Semua peserta antusias dengan pelatihan perawatan luka. Mereka menyadari bahwa mereka membutuhkan penyegaran mengenai perawatan luka pasien.

Siang harinya, kami berpindah tempat pelatihan ke Puskesmas Meredue. Di sini, tidak kalah banyak pesertanya. Dokter, perawat, dan bidan dari Puskesmas Tringgading, Puskesmas Meredue, Puskesmas Liang, Puskesmas Bandardua berkumpul disini. Materi yang sama dengan Puskesmas Bandar baru juga diberikan dalam sesi siang ini.

Rencana kegiatan esok

  1. Konsultasi PHCDP dengan tim bencana Puskesmas Bandar Baru dan Puskesmas Cubo
  2. Pelatihan Perawatan Luka di Puskesmas Meredue
  3. Siang hari, kerja bakti pembersihan IGD Puskesmas Cubo

Reportase oleh:
Madelina Ariani

 

{tab Hari 4 |green}

 

Laporan hari 2:

Tim 2 Kesehatan: Program DIY Peduli Gempa Aceh/Pijay

Kamis, 25 Januari 2017

 

Kami melanjutkan pelatihan perawatan luka di Puskesmas Meredue. Kegiatan berlangsung dari pagi hingga pukul 11.30. Kegiatan hari ini mix antara praktek dan teori. Beberapa peserta mengeluhkan waktu pelatihan yang singkat. Namun kami menyampaikan bahwa pelatihan di Puskesmas Meredue sebenanrnya tidak termasuk dalam rencana operasi kami, tetapi ketika berdiskusi dengan Dinas Kesehatan maka dilaksanakan pelatihan ini sebagai trigger dan penyegaran untuk pelatihan serupa kedepannya bagi puskesmas di kecamatan lainnya selain Kecamatan Bandar Baru.

h4 2 tim 2 fk ugm aceh jaya
Pelatihan perawatan luka di Puskesmas Meredue ditutup oleh Kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Pidie Jaya, Pak Said. Beliu memberikan banyak motivasi kepada seluruh petugas (peserta). Tahun 2017, beberapa puskesmas ditetapkan untuk akreditasi, sehingga beliau sangat menghimbau seluruh petugas benar-benar serius dalam memperhatikan mutu dan standar layanan di puskesmas. oreantasinya tidak hanya untuk akreditasi tapi memang itu dibutuhkan untuk keselamatan pasien dan juga petugas kita, himbau beliau. Pak Said juga berterimakasih dengan tim DIY Peduli Gempa Aceh/ Pijay untuk datang kedua kalinya. Kedepannya, kita tetap harus bekerjasama untuk membangun sistem kesehatan yang kuat baik untuk situasi normal maupun bencana, tambah beliau.

h4 3 tim 2 fk ugm aceh jaya

Diskusi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Pidie Jaya berlanjut hingga makan siang. Disini kami mendapat banyak informasi mengenai rencana-rencana pasca bencana hingga tantangan dalam layanan kesehatan.

 
h4 4 tim 2 fk ugm aceh jaya

h4 5 tim 2 fk ugm aceh jaya

Sekitar pukul 12.30, kami tiba di Puskesmas Cubo, disana sudah menunggu petugas jaga IGD. Semuanya laki-laki. Bersama-sama kami membersihkan dinding, atap, dan menyusun ulang peralatan di IGD. Selain itu, juga mengajarkan bagaimana penggunaan alat sterilisator yang pernah kami sumbangkan pada tim 1 yang datang pada Desember 2016 lalu. SOP penggunaan kami print dan ada juga yang dilaminating dan ditempel di dinding.

Hari ini, kami memutuskan kembali ke Banda Aceh, untuk beristirahat sat hari dan kembali ke Jogja hari berikutnya. Kepulangan kami diantarkan oleh Kepala TU Puskesmas Cubo dan staff.

Dokumen PHCDP masih kami tunggu hasilnya dalam dua minggu kedepan. Selanjutnya melalui jarak jauh (webinar atau teleconference) kami akan membantu revisinya.

Reportase oleh:
Madelina Ariani

{/tabs}