19thWorld Congress on Disaster and Emergency Medicine
23 April, Cape Town, South Africa
{tab Mass Gathering |orange align_justify}
Reporter: Madelina Ariani
Dok. PKMK: Kristine Gebiie dan suaminya dalam 19th WCDEM 23 April 2015
Hari ketiga ini dalam kongres masih diisi oleh kegiatan parallel oral presentasi. Ada enam kelas kecil untuk oral presentasi, dan kali ini saya akan melaporkan kelas oral presentasi dengan topik kesehatan masyarakat atau public health.
Saya senang sekali dapat berada di kelas ini, sebab kelas ini dimoderatori langsung oleh Kristine Gebbie dengan wakil nya Emmanuel Ahiabie. Kristine panggilannya adalah seorang dosen di perguruan tinggi Australia dan telah beberapa tahun ini juga menjadi board WADEM. Penelitian-penelitian Gebbie mengenai pendidikan bencana di perguruan tinggi ilmu keperawatan atau disaster nursing education dapat kita lihat dan baca lengkapnya dari jurnal yang terindeks di google scholar. Akhir sesi ini saya dapat langsung bertemu denan Gebbie dan berdiskusi mengenai penelitiannya yang saya ketahui dan menanyakannya langsung kepadanya mengenai pengembangan kurikulum berbasis kompetensi untuk keperawatan dan mahasiswa kesehatan. Dari sini saya ketahui bahwa beliau juga konsen dalam pengembangan public health disaster education and program.
Kembali ke kelas oral presentasi, ada Sembilan presenter yang berkesempatan memaparkan hasil penelitia, analisis, dan studinya kepada hampir 50 peserta yang hadir dalam ruangan kecil ini. Penelitian pertama sudah menarik perhatian yakni mengenai kebutuhan layanan kesehatan pada masa kegawatdaruratan, apakah itu sebuah fakta dan memang kebutuhan atau hanya sebuah mitos? Dari judulnya saja sudah sangat menarik dan hasil penelitiannya ternyata menunjukkan bahwa dugaan selama ini bahwa kebutuhan layanan kesehatan akan menurun pada saat kegawatdaruratan konflik karena masyarakat takut untuk keluar rumah ternyata tidak terbukti. Layanan kesehatan tetap saja dibutuhkan. Bahkan pada layanan kesehatan untuk orang tua cenderung meningkat. Bruria Adini dari Israel sebagai peneliti menyarakan untuk penelitian lebih lanjut terutama untuk melihat hubungan antara ketahanan masyarakat dan jaminan aman dari pemerintah dengan kebutuhan layanan kesehatan.
Dalam konteks Indonesia, kita masih yakin bahwa memang kebutuhan akan layanan kesehatan pada masa bencana akan jauh lebih tinggi dari pada layanan kesehatan pada saat situasi normal. Kita masih perlu menganalisis data untuk melihat dan membuktikan asumsi ini.
19thWorld Congress on Disaster and Emergency Medicine
24 April, Cape Town, South Africa
{tab Hospitals and Health System |orange align_justify}
Reporter: Madelina Ariani
Dok. PKMK: Suasana presentasi topik hospital, preparedness and management
Pagi ini adalah kelas terakhir untuk oral presentasi. Masih sama seperti hari sebelumnya, hari ini kelas oral presentasi masih dibagi menjadi enam kelas. Kami memutuskan untuk masuk ke kelas dengan topik Hospital and Health System. Selain itu, perwakilan Divisi Manajemen Bencana, PKMK FK UGM, Oktomi Wijaya melakukan presentasi hasil penelitiannya.
Oktomi menjadi pembicara ketiga dalam sesi ini. Dalam kesempatan ini, dia memaparkan mengenai pentingnya hasil penelitian yang dilakukannya untuk menyusun kesiapsiagaan penanggulangan bencana bagi rumah sakit karena Padang merupakah daerah yang diprediksikan akan mengalami bencana Mentawai Megathrust. Status kesiapsiagaan rumah sakit tempat penelitiannya masih menunjukkan nilai yang masih rendah padahal rumah sakit tersebut merupakan rumah sakit rujukan satu-satunya jika rumah sakit pemerintah kollaps pada saat bencana.
Penelitian Oktomi mendapat banyak tanggapan dari peserta dan moderator. Mendengar ancaman mentawai megathrust dan hasil penelitian ini, mereka sangat tertarik untuk bertanya, berdiskusi, dan memberikan masukan. Hasil penelitian ini sudah disampaikan juga kepada pihak rumah sakit, harapannya dapat menjadi masuka bagi mereka untuk menyusun kebijakan persiapan menghadapi bencana yang akan terjadi.
Penelitian lainnya tidak jauh berbeda, semua menyampaikan dan menampilkan cara dan hasil ukur dari pengukuran kesiapsiagaan rumah sakit. Sesi ini dimoderatori oleh Knok Andress dan Emma Sacks.
19thWorld Congress on Disaster and Emergency Medicine
24 April, Cape Town, South Africa
{tab Haitian Relief |orange align_justify}
Reporter: Oktomi Wijaya
Dok.PKMK: Starry Sprenkle Hyppolite,PhD, 24 April 2015
J/P HRO terlibat dalam membantu masyarakat Haiti pada saat tanggap darurat, dan lebih dari itu adalah melaksanakan pembangunan yang berkelanjutan. Program pembangunan berkelanjutan dilaksanakan melalui 4 program yang terintegrasi : manajemen relokasi dan pengungsi, rekonstruksi dan rehabilitasi, bantuan medis dan pembangunan masyarakat. JP HRO focus pada pembangunan masyarakat marginal yang terdampak oleh gempa Haiti. JO HRO tidak hanya memberikan bantuan pada masa tanggap darurat saja, tetapi juga membangun pembangunan masyarakat Haiti yang berkelanjutan dengan bertansisi menuju masyarakat Haiti yang tangguh dan mempunyai daya lenting yang tinggi melalui peningkatan kesiapsiagaan dan pemmbangunan infrastuktur. Pembangunan berkelanjutan dilaksanakan memalui pengembangan sumber daya manusia melalui pendidikan dan pelatihan.
{tab Penutupan |green align_justify}
Reporter: Oktomi Wijaya
Acara 19th World Congress on Disaster and Emergency Medicine ditutup oleh Professor Marvin L. Bimbaum dengan membacakan Cape Town Statement.
Dok PKMK: Prof. Marvin L. Bimbaum, 24 April 2015
Isi dari Cape Town Statement adalah sebagai berikut:
“Whereas the 19th World Congress on disaster and Emergency Medicine of The World Association for Disaster and Emergency Medicine Society of South Africa was convened in Cape Town South Africa, 21-24th 2015”
Whereas the theme of the congress was “Creating Capacity and Building Resilience”
Whereas the congress was attended by more than 850 participant.
Whereas the deliberation of the United Nations International Strategy for Disaster Reduction developed the Sendai Framework for Disaster Risk Reduction 2015-2030 during March 2015
Whereas The Sendai Framework addresses many issues related to health before, during, and following disasters
Whereas information and discussion by the participants in the 19th WCDEM affirmed the health related goals, strategies, and priorities outlined within the Sendai Framework
Therefore, be it revolved that the Congress participants endorse the precepts outlined in the Sendai Framework and support continuing and renewed initiatives to assist in meeting the health related goals and priorities as outlined in the Sendai Framework for Disaster Risk Reduction 2015-2-13-
Date: 24 April 2015
Cape Town South Africa
Setelah pembacaan Cape Town Statement, diberikan penghargaan kategori Global Leadership Emergency for Public Health yang dianugerahkan kepada Professor Virginia Murray, sementara penghargaaan 19th wcdem best poster presentation diberikan kepada : Rebecca Forsberg dengan judul poster “A case study of the high speed train crash outside Santiago de compostela spain”.
Dok. PKMK: Prof. Virginia Murray, 24 April 2015
Acara 20th World Conference akan dilaksanakan di Toronto Kanada pada tahun 2017.
{tab Post Kongres |red align_justify}
Reporter: Madelina Ariani
Malam ini adalah malam terakhir kami berada di kota dengan pemandangan alam yang begitu indah. Bebatuan alam dari Table Mountain seakan mengokohkan daratan yang berada di pinggiran samudera Atlantik ini. Penduduk yang ramah dan siap membantu juga menjadi kesan tersendiri setelah seminggu berada di kota ini. Malam ini kami memutuskan beristirahat dikamar apartemen saja dan mempersiapkan segala kebutuhan untuk kepulangan esok ke tanah air. Namun, dari Kementerian Kesehatan, oleh Bapak Sekjen, mengajak perwakilan UGM untuk turut hadir dalam jamuan makan malam bersama Konsulat Jendral Republik Indonesia untuk Cape Town di rumah kediaman beliau. Tidak banyak pikir, disamping juga begitu senang, kami ikut dalam jamuan ini.
Perjalanan menggunakan mobil kearah selatan Cape Town. Akhirnya kami sampai juga ke rumah Kediaman Konsulat Jendral Republik Indonesia untuk Cape Town, Bapak Abdul Rachman Dudung. Kerahaman dan senyum sapa khas Indonesia langsung kami dapatkan dari Bapak Konsulat Jendral RI dan Ibu. Melangkah memasuki rumah ini, mata langsung dimanjakan dengan ukiran, lukisan, dan patung dari Indonesia. Semua jenis kerajinan dan hiasan dari nusantara sepertinya ada di rumah ini.
Setelah seminggu lepas dari makanan Indonesia, disinilah pertama kali kami melihat kue Onde-Onde. Khusunya lagi, ternyata kue ini khusus dibuat sendiri oleh Ibu Konsulat Jendral. Begitu juga dengan hidangan yang lainnya, khas Indonesia dan dibuat sendiri oleh Ibu.
Dalam pertemuan ini, Bapak Abdul Rachman Dudung sempat menanyakan mengenai konferensi yang kami hadiri di Cape Town ini, mengenai World Congress on Disaster Emergency and Medicine. Hal ini kemudian mendapat tanggapan dari Bapak Sekjen Kementerian Kesehatan, dr. Untung Suseno Sutarjo, M.Kes bahwa memang banyak hal yang baru yang kami dapatkan dari kongres ini, salah satunya mengenai mass gathering plan, terutama kasusnya untuk jamaah haji misalnya.
Pembaca website bencana kesehatan, barangkali ini menjadi akhir dari reportase kami selama mengikuti kegiatan 19th WCDEM di Cape Town Afrika Selatan. Lebih dari semua yang telah kami usahakan untuk disampaikan melalui reportase ini ke para pembaca sekalian adalah bagaimana kita semua dapat bekerjasama untuk perbaikan penanggulangan bencana kesehatan di Indonesia. Jangan segan untuk berdiskusi dan menghubungi kami melalui website bencana kesehatan ini.
Semoga WCDEM yang ke 20 nanti kita dapat bertemu kembali. WCDEM ke dua puluh nanti akan dilaksanakan di Toronto, Kanada. Selain itu, harapannya akan semakin banyak kontribusi dari kita sebagai penggiat bencana sektor kesehatan untuk manajemen bencana kesehatan di dunia. Inilah saatnya kita bekerja untuk ketangguhan Indonesia menghadapi bencana.
19thWorld Congress on Disaster and Emergency Medicine
21 April, Cape Town, South Africa
{tab Capacity Strategy |orange align_justify}
Reporter: Oktomi Wijaya
Pembicara pertama pada plenary session hari pertama adalah Dr. Manzila Tarande, Regional Advisor, WHO/AFRO. Manzila memberikan presentasi tentang disaster risk management in Africa: Lessons from Ebola Outbreak in West Africa. Manzila menyampaikan ada empat tantangan masalah kesehatan di Afrika, yaitu: meningkatkan ancaman ebola di Afrika, meningkatnya kejadian penyakit tidak menular, masalah sosial determinan kesehatan, dan pembiayaan jaminan kesehatan (Universal Health Coverage). Dengan tantangan yang ada, maka beberapa hal yang menjadi prioritas bagi WHO/AFRO (2015-2020): meningkatkan keamanan kesehatan (health security) dengan menyelesaikan permasalahan ancaman virus ebola, menyelesaikan permasalahn determinan sosial ekonomi kesehatan, dan usaha pencapaian jaminan kesehatan (Universal Health Coverage).
Pembelajaran yang didapat dari epidemi ebola ini adalah kesiapsiagaan krisis kesehatan untuk menghadapi epidemi ebola merupakan kunci utama, selanjutnya pentingnya membangun sistem peringatan dini dan surveillans untuk mendeteksi, dan merespon epidemik serta pentingnya kerjasama dan komitmen internasional dalam mengatasi krisis kesehatan.
Pembicara pada plenary sesi kedua adalah Dr. Michel Yao, WHO Representative, Central African Republic. Dr Yao menyampaikan materi tentang International response to epidemics and emergencies. Yao menjelaskan agar respon terhadap epidemi dan krisis kesehatan dapat berjalan dengan baik maka diperlukan kerjasama dan koordinasi yang baik.
Pembicara ketiga adalah Jonathan Abraham dari Emergency Risk Management and Humanitarian Response Department, WHO. Dalam pemaparannya, Jonathan Abraham menyampaikan lima pesan kunci untuk bidang kesehatan dalam Sendai Framework yaitu: hasil dari pengurangan risiko bencana tidak hanya menyelamatkan jiwa manusia saja, tetapi juga kesehatan, pendekatan semua hazard (termasuk epidemi dan pandemi), isu safe hospital sebagai prioritas utama, investasi di sektor kesehatan, dan target dan indikator yang fokus pada kesehatan.
Pembicara keempat pada plenary session hari pertama adalah Professor Virginia Murrey yang mempresentasikan tentang Global Direction in DisasterHealth. Professor Virginia Murray memaparkan tentang empat prioritas aksi dalam pengurangan risiko bencana dalam Sendai Framework, yaitu : memahami risiko bencana, memperkuat pemerintahan untuk mengurangi risiko bencana, investasi dalam pengurangan risiko bencana untuk resiliensi, serta memperkuat kesiapsiagaan untuk respon yang efektif.
Pembicara kelima adalah dari WHO yang menyampaikan materi tentang Stop Attacks on Health Workers. Meningkatnya kejadian penyerangan yang dilakukan terhadap tenaga kesehatan memanggil para komunitas humanitarian untuk melakukan advokasi terkait dengan keselamatan tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan. dengan banyaknya kejadian penyerangan ini, WHO telah melakukan advokasi dengan mengusulkan solusi kepada UN General Assembly dan World Health Assembly.
Pembicara keenam adalah Dr Ute Enderlein, Country Emergency Preparedness and and Response, WHO Regional Office for Europe. Dr Ute menyampaikan materi tentang Safe Hospital Initiative. Ute menyampaikan rumah sakit memegang peran yang vital dalam menyelamatkan jiwa manusia pada saat bencana. WHO telah membuat acuan penilaian indeks keselamatan rumah sakit untuk bencana. Penilaian hospital safety index ini didasarkan pada empat elemen, yaitu ancaman bencana, keselamatan struktural, non struktural dan fungsional. Dengan penilaian ini, maka rumah sakit dapat menilai kesiapan rumah sakit dalam menghadapi bencana.
Pembicara ketujuh adalah DR Maurizio Barbeschy yang memberikan presentasi tentang Building Capacities for Mass Gathering, Dalam presentasinya, Dr Maurizio menyampaikan pentingnya membangun kapasitas untuk mass gathering. Maurizio mencontohkan salah satu keterlibatan WHO dalam Mass Gathering ketika World Cup dilaksanakan di Afrika Selatan tahun 2010. Tantangan dalam mass gathering adalah diperlukannya keterlibatan multi sektoral dalam mitigasi risiko serta kendala komunikasi risiko semakin sulit dengan dimensi internasional seperti perbedaan kebudayaan dan bahasa.
Pembicara kedelapan berasal dari WHO yang memberikan presentasi tentang Foreign Medical Teams. Dalam pemaparannya, pembicara menjelaskan tentang lesson learnt dari bencana yaitu respon yang masih belum tepat waktu, kompetensi tenaga kesehatan dalam bencana yang masih kurang, lemahnya koordinasi dan kurangnya kapasitas nasional untuk mengatur tim bantuan kesehatan asing. Terkait dengan isu tim bantuan kesehatan asing pada saat bencana, maka WHO membuat standar dan pengaturan tim bantuan kesehatan asing.
Pembicara terakhir adalah Marvin L Bimbaum, MD, PhD (Board of Director WADEM). Marvin menyampaikan materi tentang Global Directions inDisaster Health, WADEM perspectives. Marvin menyampaikan tentang misi dari WADEM yaitu peningkatan global terhadap pre-hospital dan layanan kesehatan emergency, kesehatan masyarakat dan kesiapsiagaan krisis kesehatan. Agar misi WADEM tercapai maka diperlukan perubahan budaya, membangun bukti serta perlunya membangun kerjasama baik itu dengan donor dan organisasi akademik.
19thWorld Congress on Disaster and Emergency Medicine
22 April, Cape Town, South Africa
{tab Gift of the givers foundation |orange align_justify}
Reporter: Bella Donna
Dr Imtiaz Sooliman dari LSM “Gift of The Givers Foundation” bercerita mengenai pengalamannya dalam membantu beberapa negara yang mengalami bencana. LSM ini adalah organisasi bantuan bencana terbesar asal Afrika di benua Afrika. Sampai saat ini organisasi telah berhasil memberi bantuan sekitar 41 negara di seluruh dunia, termasuk Afrika Selatan. Bantuan LSM ini adalah murni kemanusiaan dan tanpa syarat.
Mereka juga memberikan bantuan tanpa memandang ras, agama, warna kulit, kelas, afiliasi politik atau batas geografis. Organisasi ini membanggakan diri mereka karena tujuan pada pendekatan yang netral untuk semua mereka yang membutuhkan. Kegiatan mereka tidak menghakimi dan berpikiran terbuka untuk setiap situasi. Sementara itu juga, mereka berusaha untuk bekerja dengan pemerintah sebagai cara untuk memastikan bahwa bantuan yang disampaikan kepada mereka yang terkena dampak langsung dan yang paling membutuhkan, organisasi secara aktif menghindari politik dengan cara apapun.
Gift of the Gifers Foundation ini didirikan pertama kali oleh dr Imtiaz berdasarkan instruksi dari Sufi Sheik, Muhammad Saffer Effendi al Jerahi (guru spiritual) di Istanbul, Turki (1992). Sejak awal kelahiran LSM ini, mereka telah banyak membantu kemanusiaan di beberapa Negara seperti yang telah disebutkan diatas. Bantuan yang dilakukan seperti tim bantuan segera pada “search and rescue”, tim medis, peralatan medis, bantuan medis, obat-obatan, vaksin, obat anti malaria, makanan dan juga minuman serta suplemen.
Pada tahun 1992 kejadian perang di Bosnia mereka membantu melakukan Rumah Sakit berjalan (mobile hospital). Disini mereka juga membawa container yang berisi obat-obatan, peralatan medis, tenda dan juga selimut dari tahun 1992-1995. Kemudian,tTahun 2002 perang di Iran mereka juga membantu seperti di Bosnia, begitu juga 2008-2009 pada perang di Gaza dan 2013 perang di Syria. Selain perang mereka juga membantu untuk keadaan bencana seperti gempa Haiti, Typhoon di Phillipina, gempa Pakistan, Zimbabwe, Nigeria, Congo, Mozambic, Somalia dan tsunami di Sri Lanka.
Organisasi ini benar-benar berkomitmen untuk mengurangi penyakit-penyakit yang menimpa orang-orang bagi siapa saja dan siap untuk melayani serta sepenuhnya netral dan tidak menghakimi dalam pendekatan kepada orang-orang dan segala situasi. Pendekatan yang dilakukan mereka adalah memungkinkan organisasi ini untuk membangun jembatan antara orang-orang dari budaya dan agama yang berbeda, melahirkan rasa dan niat baik, harmonis dalam kerjasama, toleransi dan saling menghormati.
Untuk itu, WADEM memberikan penghargaan kepada dr Imtiaz sebagai keluhuran dan kerja keras serta pengalaman yang begitu membanggakan dalam kemanusiaan.
19thWorld Congress on Disaster and Emergency Medicine
Reporter: Madelina Ariani
21 April, Cape Town, South Africa
Meriah sekali pertemuan kesembilan belas asosiasi bencana bidang kesehatan dunia atau World Association on Disaster Emergency and Medicine ini. Sejak dari halaman depan CTICC atau Cape Town International Convention Center sudah ramai peserta. Apalagi ketika menaiki lantai kedua, begitu panjang antrian peserta WCDEM yang melakukan registrasi. Luar biasa, karena kongres ini mampu mengumpulkan lebih dari 41 negara yang terlibat dan berpartisipasi dan lebih dari 600 peserta memenuhi ruangan kongres.
Auditorium 2 CTICC menjadi ruangan utama untuk melakukan pembukaan dan beberapa sesi panel dan pleno juga. Sekitar setengah jam sebelum pembukaan, ruangan hampir terisi penuh, untung saja kami mendapatkan beberapa baris bangku kosong di deretan kedua terdepan, sehingga tim dari PKMK FK UGM ( Bella Donna, Madelina, dan Oktomi) dan rombongan Kementerian Kesehatan RI bisa mendapatkan tempat duduk yang dekat dengan podium.
Seluruh pembicara yang memberikan sambutan dalam sesi pembukaan ini mengucapkan terimakasih kepada seluruh peserta yang begitu antusias berkumpul selama empat hari ini untuk membicarakan dan mendiskusikan masalah bencana. Terlebih, disampaikan terimakasih kepada penyelengara kegiatan ini yakni WADEM dan EMSSA. Juga untuk Cape Town, South Afrika yang bersedia sebagai tuan rumah dalam kongres kesembilan belas ini.
Hyogo framework telah berakhir dan berganti dengan Sendai Framework, dan kita kali ini berkumpul dalam WCDEM untuk juga bersama-sama melakukan upaya untuk pengurangan risiko bencana. Sesuai dengan tema besar kita kali ini, Creating Capacity and Building Resilience. Di akhir sambutannya, Paul Arbon juga menyampaikan bahwa apa yang kita lakukan sebagai professional disini dapat dilaksanakan dan diterjemahkan dengan baik di tingkat lokal negara masing-masing.
Paul Farren memberikan sambutannya. Menarik, karena ini dalam acara bencana maka kita harus tahu bagaimana cara menyelamatkan diri ketika terjadi bencana, sehingga Paulmenjelaskan mengenai jalan keluar dan sedikit mengenai penyelamatan diri. Paul Farren juga menghimbau untuk selama empat hari ini kita bisa fokus untuk acara ini sehingga ilmu yang diberikan bisa benar-benar bermanfaat.
Terakhir, perwakilan panita menjelaskan mengenai jalannya kegiatan selama empat hari ini. Ada panel-panel yang harus kita pilih sesuai dengan bidang kita, begitu juga dengan knowledge sharing dari oral presentasi, lalu mengenai stand yang ada di ruang pameran, serta banyak workshop pagi hari. Poster ilmiah yang terkumpul sekitar 80-an lebih dan berasalah dari peneliti diseluruh Negara yang terlibat pada kongres ini. Banyak kegiatan kongres dan pertemuan ilmiah bencana yang dipublikasikan juga dalam kegiatan ini yang akan dilaksanakan baik penghujung tahun 2015 dan juga 2016.
Beberapa link yang bisa pembaca website bencana simak tentang sponsor dan pihak yang terlibat dalam kongres ini:
Reportase 19thWorld Congress on Disaster and Emergency Medicine
21-24 April, Cape Town, South Africa
World Congress Disaster Emergency Medicine (WCDEM) ke-19, telah selesai dilaksanakan di Cape Town, Afrika Selatan pada 21-24 April 2015. Sebelumnya pergelaran WCDEM ke-18 dilaksanakan di Manchester. Tim Pokja Bencana PKMK FK UGM mendapat kesempatan dalam WCDEM Ke-19 ini, kegiatan ini merupakan kongres disaster yang cukup membanggakan. Dua abstrak yang kami kirimkan keduanya diterima sebagai “oral presentation”.
Setelah mendapatkan dana dari berbagai tempat, maka kami menyiapkan segala sesuatunya untuk keberangkatan kami. Awal pertama yang kami bayangkan adalah situasi yang membahayakan baik keamanan dan penyakit yang ada di Afrika saat ini. Ternyata?
Setelah perjalanan dari Yogyakarta ke Jakarta dan 8 jam dari Jakarta ke Dubai, lalu transit selama 7 jam di Dubai, kami melanjutkan perjalanan sekitar 10 jam menuju Cape Town. Lelah tapi menyenangkan karena membayangkan akan bertemu dengan banyak kolega bencana kesehatan dari berbagai negara. Baik yang sebelumnya mereka pernah berkunjung ke Divisi Manajemen Bencana, PKMK FK UGM ataupun kolega yang selama ini dijalin melalui email.
Setelah turun dari pesawat dan menukarkan uang ke mata uang Rand, kami naik taksi menuju apartemen. Apa yang kami takutkan langsung berubah setelah mobil melaju menuju apartemen, karena yang kami lihat adalah pemandangan yang luar biasa bagusnya.
Kami melupakan kelelahan kami dan segera setelah membereskan urusan hotel serta meletakkan barang di kamar, kami langsung menuju Victoria & Alfred Waterfront (sebelumnya kami sudah melacak tempat-tempat yang akan kami kunjungi di Capetown melalui internet).
V&A Waterfront diambil dari nama Pangeran Alfred, anak kedua ratu Victoria yang membangun pelabuhan ini di tahun 1860. Tempat ini sekarang selalu dan wajib dikunjungi karena keindahan situasinya bahkan kita dapat menyewa boat untuk memancing ikan serta menikmati aneka ragam makanan seafood dan pernak pernik khas Afrika.
Tidak lupa juga kami belanja kebutuhan kami seperti beras, telur dan sayuran untuk kebutuhan kami sehari-hari.
Pada hari kedua kegiatan kongres belum dimulai tetapi sore ada undangan pertemuan kegiatan dari WHO CC yang akan saya ikuti (Bella). Karena itu pagi kami sudah menyewa mobil untuk pergi ke Table Mountain yang merupakan salah satu dari tujuh keajaiban alam didunia.
Table Mountain adalah gunung yang puncaknya rata mirip sebuah meja sehingga disebut ‘gunung meja’. Untuk mencapai ke puncaknya, kami harus naik kereta gantung (Cable Car). Di kereta gantung isinya banyak tetapi kita tidak perlu khawatir tidak bisa melihat seluruh keindahan di luar karena kereta tersebut memutar secara perlahan hingga 360 derajat, sehingga kita bisa melihat semua keindahan yang ada di luar kereta sepanjang perjalanan mencapai puncak. Kami tidak berhenti menahan nafas dan bersyukur berulang-ulang melihat indahnya ciptaan Tuhan. Sesampai di puncak yang areanya begitu luas, kita bisa melihat dari atas seluruh kota Cape Town yang begitu menakjubkan sehingga udara yang sangat dingin sudah tidak kami hiraukan lagi.
Setelah puas menikmati pemandangan dan foto-foto kami melanjutkan perjalanan menuju Simon’s Town untuk melihat penguin. Melihat penguin saya langsung ingat film Happy Feet, lucu dan menyenangkan melihat mereka berjalan dan bergoyang.
Kami tidak lama disana karena harus mengejar acara di Cape Town, sehingga kami langsung menuju Cape Point untuk melihat pertemuan hangatnya laut India dan dinginnya laut Antartika. Untuk melihat situasi ini kami kembali naik kereta ke puncak tetapi tidak setinggi Table Mountain serta jenis keretanya menggunakan rel yang menanjak naik. Sesampai di atas, kami masih naik tangga untuk mencapai mercusuar yang usianya sudah cukup tua dan kembali kami dibuat terkagum melihat keindahan pemandangannya.
Di Cape Point kami bertemu dengan tim dari Kemenkes dan Konjen Cape Town.
Setelah puas foto-foto kami langsung menuju Tanjung Harapan tepatnya di ujung pulau afrika selatan ini (Cape of Good Hope). Nama Cape of Good Hope (Tanjung Harapan) diberi oleh John II raja Portugal yang terinspirasi dan diambil dari perjalanan seorang pengawas gudang yang diberi tugas menjadi kepala pelayaran untuk mencari rute perdagangan India bernama Bartholomeus Diaz yang akhirnya menemukan Tanjung Harapan pada Mei 1488. Saat supir yang membawa kami menerangkan situasi ini, saya jadi ingat pelajaran sejarah pada waktu di SMP.
Akhirnya kami kembali menuju Cape Town dengan arah yang berbeda pada waktu datang sambil tidak lupa berhenti untuk berfoto di tempat-tempat indah lainnya sepanjang perjalanan kembali ke apartemen, seperti Chapman Peak berjalan menyusuri lautan dan di bawah bebatuan tepat diatas kepala kita. Tidak lupa singgah melihat sunset di Camps bay.
19th WORLD CONGRESS ON DISASTER AND EMERGENCY MEDICINE
21-24 April 2015, cape town, south africa
Perhelatan akbar asosiasi penggiat bencana sektor kesehatan dunia atau World Association on Disaster Emergency and Medicine (WADEM), World Congress on Disaster Emergency Medicine (WCDEM) tahun 2015 ini diselenggarakan di Cape Town, Afrika Selatan. Kongres dua tahunan ini telah dilaksanakan ke 19 kalinya terhitung sejak tahun 1976. Kongres yang dihadiri lebih dari 1000 peserta dari 40 negara ini mengangkat tema mengenai Creating Capacity, Building Resilience. “Bencana bisa menimpa kapan dan dimana saja tetapi sering kali masyarakat belum siap untuk menghadapinya”, Ungkap Lee A Wallis, Local Organising Committee WCDEM 2015 mengenai tema yang diangkat tahun ini.
Bagi penggiat bencana di sektor kesehatan, WCDEM adalah kongres yang ditunggu-tunggu. Selama 4 hari (21-24 April 2015) mendatang akan banyak pelajaran dan penyelesaian praktis untuk penanggulangan bencana sektor kesehatan yang dihasilkan dari kongres ini. Pembaca website bencana kesehatan, silakan simak perkembangan mengenai kongres ini pada website berikut, Klik Disini http://wcdem2015.org/ dan pembaca sekalian dapat menyimak reportase perjalanan dan kegiatan kami di kongres ini sejak minggu depan (22 April 2015).
Seminar Kaitan Peningkatan Risiko Bencana dengan Pencapaian MDGs
Senin, 16 Maret 2015 || Ruang Senat lantai 2 Gedung KPTU Fakultas Kedokteran UGM
dr. Hendro Wartatmo merupakan konsultasn senior di Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM, juga sebagai konsultan bedah di RS Sardjito Yogyakarta, dalam kesempatan kali ini menjadi moderator untuk sesi 3 mengenai penguatan peran sektor kesehatan dalam menghadapi risiko bencana pasca MDGs.
dr. Ina dari PPKK Kemenkes menerangkan mengenai risiko yang dihadapi sektor kesehatan dan penguatan ketahanan yang harus juga dilakukan oleh sektor kesehatan. Penguarangan risiko bencana yang tidak memadai akan memperburuk krisis kesehatan yang terjadi.
Memang ada sedikit perbedaan antara bencana dan krisis kesehatan. Penanggulangan yang dilakukan oleh PPKK sebagai leader dalam penanganan bencana sektor kesahatan dilakukan dalam beberapa tahap tetapi tetap dalam satu rangkaian pase penanganan bencana. Pada tahap tanggap darurat kita melakukan RHA, kemudian hasil ini akan kita lakukan ERNA atau A2 yang merupaka laporan awal untuk melakukan kegiatan operasional segera. Dan terakhir kita menyususn Ina DRI atau Indonesia Disaster Recovery Indeks. Memang ada perbedaan data bencana antara BNPB, PPKK, dan WHO misalnya, karena indikator yang digunakan berbeda. Kalau PPKK khusus untuk bencana yang kemudian menimbulkan ancaman krisis kesehatan. data di PPKK lebih sedikit dari BNPB karena memang hanya mencatat data bencana yang berdampak pada krisis kesehatan.
Menarik, pembicara membahas mengenai analogi berfikir kesiapsiagaan bencana. Misalkan pada situasi normal standar peralatan yang dibutuhkan untuk layanan kesehatan sekian. Maka dapat kita prediksi jika terjadi bencana maka keadaan layanan kesehatan pasti dibawah standart. Jika suatu daerah tidak memiliki kesiapsiagaan sektor kesehatan yang baik maka sudah dipastikan pada saat bencana terjadi maka status layana kesehatan akan jauh di bawah standar. Untuk itulah diperlukan peningkatan upaya kesiapsiagaan layanan kesehatan termasuk peralatan sehingga jika terjadi bencana sekalipu, layanan dan peralatan kesehatan masih berada di atas standar.
dr. Handoyo Pramusinto, beliau menyampaikan mengenai peran perguruan tinggi dalam penguatan sektor kesehatan dalam menghadapi peningkatan risiko bencana pasca MDGs ini. Pada intinya perguruan tinggi terlibat dalam penyediaan data-data penelitian dan rumusan rekomendasi kebijakan. Mendukung pemerintah dalam upaya kesiapsiagaan penanggulangan bencana dan krisis kesehatan. Setelah kita mengetahui bahwa koban yang paling banyak dalam bencana adalah ibu dan anak maka kita dapat berperan untuk mengadvokasi populasi rentan ini.
Pembahas sesi ini adalah Prof. Laksono Trisnantoro seorang pakar kebijakan kesehatan. Dalam bahasannya beliau sangat menghimbau dan mengajak seluruh individu dan tim yang menamakan dirinya sebagai penggiat bencana untuk dapat berperan aktif dalam mengadvokasi pemerintah dalam hal ini kementerian kesehatan untuk memperhatikan masalah kebencanaan dan krisis kesehatan.
Adanya dana penelitian merupakan upaya konkrit dari pemerintah untuk mendukung upaya advokasi kita bersama, misalnya. Masalahnya, kita bergerak di tahap mitigasi atau kesiapsiagaan, sedangkan bencana atau ancaman bencana masih terjadi di masa depan, tapi merupakan tantangan bagi kita bersama untuk dapat menyakinkan pemerintah dan pengambil keputusan untuk sadar mengenai masalah bencana dan krisis kesehatan yang dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat ke depannya.
Kita membutuhkan adanya advokasi yang menggunakan kebutuhan masyarakat sebagai dasarnya. Pertemuan kita kali ini harus menjadi rekomendasi kebijakan yang bermanfaat bagi kesehatan masyarakat.
Beberapa pertanyaan pada sesi diskusi:
Bagaiman sistem koordinasi PPKK dalam satu regional sehingga semua kebutuhan daerah dipenuhi oleh PPKK regional?
Apa tantangan PPKK yang sudah melakukan pelatihan untuk SDM di daerah?
Apa perbedaan krisis kesehatan dan bencana?
Memang sistem regional dalam pusat penanggulangan krisis akan dilakukan evaluasi kembali bagaimana efektivitasnya dan kondisinya selama ini. Memang harusnya regional yang bertanggungjawab dengan daerah-daerah di bawah regionalnya. Ini memang perlu kita kaji lagi bagaiamana sebaiknya.
Iya, tantangannya adalah mutasi yang cepat di daerah. Pindah-pindah SDM kesehatan di daerah menyulitkan monitoring evaluasi pelatihan yang kami berikan.
Ini pertanyaan yang menarik, selama ini bencana adalah bagian dari krisis kesehatan. Namun, dengan paradigma seperti ini, sektor kesehatan agak kesulitan dalam penanganannya yang membutuhkan koordinasi bersama dengan sektor lain. Sehingga ke depannya kita mengupayakan meluruskan persepsi bahwa krisis kesehatan salah satunya disebabkan oleh bencana sehingga penanganan bencana harus memperhatikan penanganan dampak krisis kesehatan yang ditimbulkannya juga.
Kegiatan seminar ini kemudian ditutup oleh dr.Bella Donna. Dan diakhir kegiatan kembali beliau mengingatkan bahwa aka nada tahap tiga pasca seminar ini untuk kita bersama-sama merekomendasikan kebijakan yang terkait mengenai kesehatan ibu dan anak serta peningkatan risiko bencan yang mempengarhi capaian target kesehatan masyarakat.