Setiap awal tahun Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan rutin melaksanakan outlook kebijakan dan Manajemen Kesehatan. Diskusi outlook manajemen bencana kesehatan tahun 2016 ini dimoderatori oleh Madelina Ariani, SKM, MPH. Diskusi diawali penyampaian refleksi dan outlook manajemen bencana oleh dr. Bella Donna, M.Kes selaku Kepala Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM. Bella menyampaikan bencana yang terjadi pada tahun 2015 lebih banyak disebabkan oleh bencana yang berhubungan dengan perubahan iklim seperti banjir, tanah longsor, dan kebakaran hutan. Bencana kebakaran hutan merupakan bencana yang memiliki dampak paling parah. Kebijakan penanggulangan bencana sektor kesehatan tahun 2016 masih akan berfokus pada pengurangan risiko bencana sesuai dengan Sendai Framework.
Diskusi outlook kebijakan manajemen bencana kesehatan menghadirkan pembicara yaitu Danang Samurizal, ST dari BPBD DIY. Danang menyampaikan koordinasi penanggulangan bencana dilaksanakan pada fase pra bencana, sedangkan pada saat tanggap darurat yang berlaku adalah sistem komando. Danang menegaskan untuk menciptakan koordinasi yang bagus maka diperlukan sebuah perencanaan yang dituangkan dalam Rencana Penanggulangan Bencana. Terkait dengan dana penanggulangan bencana, Danang menyampaikan dana on call memang terpusat di BNPB, sedangkan di daerah untuk penanggulangan bencana masuk dalam belanja tidak terduga.
Pembicara kedua dr. Achmad Yurianto, Kepala Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Achmad menyampaikan berdasarkan hasil assessment kesiapsiagaan sektor kesehatan di 34 Kabupaten/Kota, masih banyak daerah yang belum siap. Untuk tahun 2016, sesuai dengan renstra kebijakan sektor kesehatan masih pada isu pengurangan risiko bencana. Pendekatan penanggulangan bencana yang digunakan oleh PPKK antara lain pendekatan faktor hazard, kerentanan masyarakat dan kemudian peningkatan kapasitas masyarakat. Selanjutnya, penanggulangan bencana dilaksanakan dengan pendekatan klaster kesehatan. untuk mengkoordinasikan semua kapasitas. Koordinasi akan lebih bagus jika dikumpulkan dalam satu klaster sehingga kapasitas terebut bisa berkolaborasi dengan baik.
Pembicara ketiga Rimawati, SH, M.Hum, Dosen Fakultas Hukum UGM itu menyoroti isu kebakaran hutan yang hampir terjadi setiap tahun yang meresahkan masyarakat juga negara tetangga. Perlu adanya sanksi tegas bagi pelaku pembakaran hutan. Sanksi yang diberikan dapat berupa sanksi perdata, pidana dan sanksi administratif. Peran lintas Sektor-SKPD dalam penegakan hukum terhadap isu pengendalian kabut asap dapat berupaya preventif seperti sosialisasi, advokasi dan evaluasi dan dapat juga upaya represif dengan penegakan regulasi penanganan bencana. dr Handoyo Pramusinto, Sp.BS selaku ketua pokja bencana menyoroti rencana penanggulangan bencana di daerah dan rumah sakit. Handoyo menyatakan bahwa dalam Permenkes No 64 Tahun 2013 mengatur peran kementerian kesehatan, dinas kesehatan provinsi dan kabupaten dalam penanggulangan krisis kesehatan. Dalam Permenkes tersebut belum ada yang mengatur peran rumah sakit dan masyarakat dalam penanggulangan krisis kesehatan, Handoyo mengusulkan agar Permenkes dapat direvisi.
Pembicara terakhir adalah dr. Iskandar Leman dari Masyarakat penanggulangan Bencana di Indonesia. Iskandar menyampaikan bahwa sekarang kita fokus pada pengurangan risiko bencana dengan membentuk masyarakat yang tangguh bencana. Iskandar memandang sangat penting untuk memasukkan agenda penguatan kapasitas masyarakat dalam penanggulangan bencana. Kementerian memiliki banyak program desa binaan, tetapi berjalan sendiri-sendiri sehingga program-program ini perlu diintegrasikan (Oktomi Wijaya).
Puskesmas Desa Talaga, Kecamatan Huamual, Kabupaten Seram Bagian Barat.
Dok. PKMK: Proses Praktek Triase Korban
Di sesi ini peserta diajak untuk dapat melakukan tindakan seperti yang sudah diberikan pada sesi pagi, mengenai triase, stabilisasi, dan pembidaian. Masyarakat diminta membawa peralatan yang ada di desa untuk pelatihan ini, seperti sarung, bambu, kain kerudung, dan karung beras. Peserta yang terdiri dari tenaga kesehatan di puskesmas dan masyarakat ini lah yang diharapkan nantinya dapat menjadi kader untuk mengajarkan kembali kepada warga mengenai pertolongan pertama kegawatdaruratan di masyarakat.
Telah ditentukan tujuh kasus yang akan diberikan kepada korban. Kemudian, kelompok lainnya bertugas menjadi petugas triase. Korban di sebar lalu kemudian petugas kesehatan dan masyarakat menolong korban sesuai dengan kegawatdaruratannya. Meski ini hanya simulasi, tetapi peserta serius dalam melakukan triase kepada korban. Meski didapatkan kekeliruan dalam menentukan tingkat kegawatdaruratan dana prioritas pasien, namun pada akhirnya peserta memahaminya melalui penjelasan instruktur.
Dok. PKMK: Praktek Pembidaian
Selanjutnya, peserta diajak untuk mempraktekkan teknik pembidaian, teknik mengangkat korban, dan stabilisasi. Pada dasarnya seluruh peserta mampu untuk melakukan tindakan penyelamatan korban. Yang dirasakan sulit bagi peserta mengenai mengangkat korban, faktor kebiasaan yang masih salah dalam mengambil atau mengangkat beban menjadi penyebabnya. Masih banyak peserta yang mengangkat menggunakan otot pinggung ketimbang otot kaki atau betis yang benar.
Dok. PKMK: Penutupan
Kegiatan kali ini diakhiri dengan pengarahan dan refleksi dari Kepala Puskesmas Desa Talaga, Beliau memberikan catatan bagi masukan dari narasumber dan pengalam hari ini kaitannya dengan persiapan bencana dan wacana berkembangnya puskesmas menjadi puskesmas perawatan pada tahun 2016. Baik sarana prasarana, perlatan, dan kapasitas SDM harus ditingkatkan untuk hal ini. Penutupan diakhir dengan foto bersama.
Pameran Ilmiah Manajemen bencana kesehatan merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan di Fakultas Kedokteran UGM bekerjasama dengan Pokja Bencana FK UGM dan Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM. Pembukaan Pameran ilmiah Manajemen Bencana Kesehatan diawali dengan sambutan oleh Ketua Pokja Bencana FK UGM, dr. Handoyo Pramusinto, Sp.BS. Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa tujuan dari pelaksanaan pameran ini adalah untuk mendukung kegiatan perkuliahan blok 4.2 “Sistem Kesehatan dan Manajemen Bencana”. dr. Handoyo merasakan bahwa pameran tahun ini mengalami kemajuan dari pameran tahun sebelumnya. Hal ini tidak terlepas dari dukungan dari FK UGM yang mendanai pameran ini.
Sambutan kedua disampaikan oleh Ibu Putu Eka Andayani, SKM, M.Kes, sekretaris Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan (PKMK FK UGM). Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa ada kemajuan dalam pameran kali ini dari pada tahun sebelumnya. Beliau berharap kegiatan pameran yang rutin dilaksanakan ini bermanfaat buat mahasiswa dalam mendukung proses pembelajaran. Beliau menyampaikan terima kasih kepada Dekan Fakultas Kedokteran UGM, Pokja Bencana, divisi manajemen bencana PKMK FK UGM berserta seluruh pihak yang telah mendukung sehingga terlaksananya pameran ini.
Sambutan Ketiga diberikan oleh dekan FK UGM, Prof. Dr.dr. Teguh Aryandono, SpB(K)Onk. Dalam sambutannya beliau merasakan bahwa rasanya baru kemare n pameran ilmiah manajemen bencana dilaksanakan, tidak terasa begitu cepat sudah pameran lagi. Apa makna dari semua ini, bahwa pameran bencana merupana suatu agenda rutin yang dilaksanakan secara baik dan berhasil. Beliau berharap dengan adanya pameran ilmiah manajemen bencana ini bermanfaat bagi mahasiswa, mahasiswa memanfaatkan pameran ini untuk memperdalam pengetahuan tentang penanggulangan bencana.
Setelah sambutan, dekan FK UGM didampingi ketua Pokja Bencana FK UGM, Sekretaris PKMK FK UGM beserta kepala divisi manajemen bencana FK UGM memotong pita sebagai tanda dibukanya pameran ilmiah manajemen bencana kesehatan di Indonesia. Setelah pemotongan pita, Dekan FK UGM berkeliling menuju stand Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), PK MKM FK UGM dan Tim Bantuan Medis Mahasiswa FK UGM, serta PMI.
Workshop Klaster Kesehatan dan Transportasi dalam Penanggulangan Bencana Gempa Bumi Di Kabupaten Ende
Senin, 12 Oktober 2015 Hotel Grand Wisata Ende
Dok. PKMK: (dari kiri) Pembicara Dinas Kesehatan Kab. Ende, BPBD Kab.Ende, Fakultas Teknik UGM, Fakultas Kedokteran UGM, dan Moderator dari Fakultas Kedokteran UGM
Pembaca sekalian, menarik sekali bahasan sesi 1 ini. Dari sesi 1 kita mendapat paparan mengenai situasi bencana di Kabupaten Ende serta bagaimana koordinasi untuk layanan kesehatannya. Dalam kesempatan ini, empat pembicara yang dihadirkan berasal dari Dinas Kesehatan Kabupaten Ende, Badan PenanggulanganBencana Daerah Kabupaten Ende, Bidang Transportasi dari Fakultas Teknik UGM, dan Bidang Kesehatan dari Fakultas Kedokteran UGM.
Dinas Kesehatan yang diwakili oleh Sislawus Bendu dari Bidang Penanggulangan Masalah Kesehatan (PMK) Kabupaten Ende. Sislawus menyampaikan bahwa ancaman krisis kesehatan dari penyakit dan terdampak bencana alam tinggi di Ende. Mereka sudah pernah mengalami dampak banjir, tanah longsor, dan wabah penyakit dalam lima tahun ini. Memang belum ada koordinasi yang resmi dengan badan di luar dari kesehatan, tetapi dalam struktur internal antar bidang di dinas kesehatan sudah melakukan kerjasama.
BPBD Kabupaten Ende diwakili oleh sekertaris, Agustinus memaparkan beberapa kegiatan BPBD selama ini, seperti simulasi dan pelatihan. Hal yang menjadi tantangan kerja BPBD selama ini adalah paradigma mengenai bencana dan musibah. Banyak kejadian yang sebenarnya musibah tetapi harus ditanggulangi BPBD karena masyarakat menginginkan hal tersebut. Inilah yang menjadi salah satu tantangan sosialisasi peran BPBD dalam penanggulangan bencana di daerah.
Pertanyaannya, bagaimanakah koordinasi layanan kesehatan selama ini yang dirasakan oleh BPBD dengan sektor kesehatan? Menarik sekali menyimak jawaban BPBD yakni masih belum ada kesamaan persepsi mengenai istilah bencana dan krisis kesehatan, belum ada rencana kontijensi yang dibuat bersama-sama, dan selama ini koordinasi layanan kesehatan hanya dilakukan pada saat respon.
Pembaca sekalian, setelah menyimak bahasan Dinas Kesehatan dan BPBD akhirnya kita mendapatkan gambaran mengenai pelaksanaan koordinasi layanan kesehatan terkait bencana di Kabupaten Ende. Evaluasinya adalah koordinasi telah dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan dan BPBD secara sederhana dalam bentuk kerjasama pelatihan. Ke depannya, Dinas Kesehatan dan BPBD merasa butuh untuk melakukan kerjasama dan koordinasi untuk penanggulangan bencana.
Paparan dari pembicara lokal di atas melengkapi rasa ingin tahu kita mengenai kesiapsiagaan daerah Kabupaten Ende dalam penanggulangan bencana. Selain itu, dapat kita identifikasi juga apa saja kebutuhan mereka dalam pengembangan klaster kesehatan dalam penanggulangan bencana.
Pembicara selanjutnya berasal dari UGM, Joko Murwono dari bidang transportasi Fakultas Kedokteran UGM. Paparan Joko lebih mengenai bahaya gempa, bangunan dan retakan. Joko juga menjelaskan mengenai jalur evakuasi, jalan, dan transportasi. Memang jika kita ingin ideal maka akan banyak konsekuensinya antara lain anggaran dan pembangunan tetapi ini mau tidak mau harus dikoordinasikan bersama untuk kebaikan Kabupaten Ende.
Terakhir, Bella Donna dari bidang kesehatan Fakultas Kedokteran UGM menjelaskan mengenai pentingnya sistem klaster kesehatan dibangun untuk Kabupaten Ende. Dalam paparannya, Bella juga menjelaskan mengenai tujuh klaster lainnya yang harus di bawah komando BPBD. Dalam kesempatan ini, juga menghimbau sekali agar momen seperti ini dapat dimanfaatkan untuk membangun koordinasi terutama untuk membangun klaster kesehatan.
Sulanto Saleh Danu juga dari bidang kesehatan Fakultas Kedokteran UGM berlaku sebagai moderator memberikan kesempatan kepada 5 penanya. Banyak cerita, usulan, dan pertanyaan dari peserta kepada empat pembicara. Ada saran untuk membangun sistem komunikasi tanggap darurat bencana, barangkali hal ini dapat mencontoh koordinasi program kesehatan ibu dan anak yang dilaksanakan oleh rumah sakit hingga puskesmas. Ada pertanyaan mengenai kapan kita akan mengeksekusi koordinasi dan kerjasama untuk klaster kesehatan di Kabupaten Ende ini.
Terakhir Sulanto Saleh Danu memberikan kesimpulannya bahwa Kabupaten Ende memerlukan kesiapan SDM yang masih banyak dan perlu dilatih. Menjawab pertanyaan siapa yang harusnya melakukan koordinasi maka yang menjadi koordinator adalah BPBD. Anggaran juga menjadi hal yang perlu kita pikirkan, pada saat apapun perlu tetap kita aanggarakan terutama untuk peingkatan kapasitas. Pemda juga harus terlibat dalam pengaturan pembangunan daerah.
Workshop Klaster Kesehatan dan Transportasi dalam Penanggulangan Bencana Gempa Bumi Di Kabupaten Ende
Senin, 12 Oktober 2015 Hotel Grand Wisata Ende
Dok. PKMK: fasilitator dan peserta sedang melakukan diskusi untuk menyusun rencana tindak lanjut pengembangan klaster kesehatan
Sore hari, setelah peserta mendapatkan bekal materi dari para narasumber dari dua sesi sebelumnya maka mereka diminta untuk membuat rencana tindak lanjut untuk pengembangan klaster kesehatan untuk Kabupaten Ende. Pada sesi ini, peserta dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama menyusun tentang klaster kesehatan untuk daerah. Pesertanya berasal dari BPBD, Dinas Kesehatan, RSUD Kab. Ende, dan PMI. Kelompok kedua menyusun rencana penanggulangan bencana bagi puskesmas. Peserta kelompok dua merupakan dokter dan perawat di puskesmas Kab. Ende.
Pada dasarnya, penugasan ini dilakukan sebagai langkah awal para “aktor” dalam penanggulangan bencana untuk saling berkoordinasi untuk penyusunan klaster kesehatan. Sedangkan bagi puskesmas, pertemuan ini menjadi upaya peningkatan kesadaran puskesmas sebagai lini utama dalam pelayanan kesehatan pada saat bencana.
Masing-masing kelompok kemudian mempresentasikan hasil diskusinya. Kemudian, untuk dinas kesehatan, RSUD, dan BPBD menyatakan bahwa mereka sadar selama ini koordinasi belum sesungguhnya terbangun dan belum ada rencana kontijensi yang dibuat bersama-sama. Mereka juga mengidentifikasi program-program terkait bencana di sektor kesehatan yang telah ada lalu merencakanan kegiatan atau program apa yang harus ada untuk penanggulangan bencana sektor kesehatan. Presentasi ini kemudian dikomentari oleh para narasumber.
Tepat pukul 17.00 WITA kegiatan ini resmi ditutup oleh Prof. Joko dari Fakultas Teknik UGM. Joko sangat berharap kegiatan ini tidak hanya berhenti hari ini. Koordinasi harus terus dilakukan dan keterlibatan universitas lokal juga sangat diharapkan untuk keberlajutan kegiatan penanggulangan bencana di Kabupaten Ende.
Workshop Klaster Kesehatan dan Transportasi dalam Penanggulangan Bencana Gempa Bumi Di Kabupaten Ende
Senin, 12 Oktober 2015 Hotel Grand Wisata Ende
Dok. PKMK: fasilitator dan peserta sesi 2
Pembicara pertama pada sesi kedua Workshop Klaster Kesehatan dan transportasi adalah Syahirul Alim, PhD yang menyampaikan materi tentang analisis risiko kesehatan pada bencana. Syahirul menyampaikan bahwa daerah yang memiliki potensi bencana harus membuat analisis risiko bencana. Analisis risiko bencana diperlukan untuk menentukan prioritas dalam penanggulangan bencana.
Langkah pertama dalam melakukan analisis risiko bencana adalah melakukan identifikasi potensi ancaman bencana. Potensi ancaman bencana dapat berupa bencana alam, kegagalan teknologi, wabah penyakit dan terorisme. Langkah kedua adalah menilai tingkat risiko. Untuk menilai risiko dilakukan dengan mengalikan potensi kemungkinan terjadi bencana dengan dampak bencana. Dari hasil perkalian antara potensi bencana dan dampak maka bisa didapatkan tingkat risiko yang dibagi ke dalam tiga kategori yaitu, risiko tinggi, sedang dan rendah. Langkah ketiga dalam melakukan analisis risiko adalah dengan pengendalian risiko bencana. ada lima hierarki dalam pengendalian bencana: eleminasi, substitusi, rekayasa teknik, administrasi dan alat pelindung diri. Langkah keempat adalah melakukan monitoring dan tinjauan ulang terhadap pengendalian risiko yang telah dilakukan.
Pembicara kedua adalah dr. Sulante Saleh Danu, Sp.FK yang membahas tentang Regional Disaster Plan (RDP). Beliau menekankan dalam penyusunan RDP perlu seorang manager. Idealnya manager untuk tim penyusun HDP adalah BPBD. Tim Penanggulangan Bencana Sektor Kesehatan terdiri dari lintas sektor seperti BPBD, Dinas Kesehatan, Polri, TNI, SAR, PMI, dan lain-lain. Tim Penanggulangan bencana sektor kesehatan dikomandai oleh seorang komandan dan terdapat empat bidang yaitu operasional, logistik, perencanaan dan keuangan.
Membangun Kemandirian Industrialisasi dan Teknologi Berbasis Riset Kebencanaan Indonesia
Gedung Graha Sabha Pramana Universitas Gadjah Mada
Reportase oleh Madelina Ariani
Pembaca website bencana kesehatan, senang sekali bahwa dihari kedua kemarin untuk kita sektor kesehatan telah mendapat wadah dalam bencana, yakni Epidemi dan wabah penyakit sebagai bencana non alam. Dengan hal ini kedepannya kita tidak bekerja sendiri jika menghadapi epidemi dan wabah.
Pembaca website bencana kesehatan, hari ini adalah hari penutupan PIT IABI. Agenda hari ini adalah pleno terbuka, munas, pameran dan dialog publik, serta penutupan. Pleno dari bidang kesehatan di sampaikan oleh Prof. Edi Raharjo yang berbicara mengenai ahli kesehatan dalam kebencanaan. Diantaranya beliau membahas mengenai
WASH/ water, sanitation, and hygiene yang berdasarkan dari pengalaman Gempa Haiti.
SPGDT bahwa jika korban sudah harus diatur penempatannya mulai dari triase di lapangan dan transport.
Siangnya berlangsung penutupan PIT IABI 2015. Penyampaian pesan disampaikan oleh Deputi Kesiapsiagaan BNPB dan Wakil Rektor UGM. Dalam pesannya, melalui IABI harapannya semua kalangan dapat bersatu untuk bersumbangsih menciptakan Indonesia yang tangguh bencana. Dalam kesempatan ini, juga diumumkan mengenai pelaksanaan PIT IABI 2016 mendatang di ITB. Seluruh peserta berdiri untuk menyanyikan lagu nasional Padamu Negeri. Selamat berjumpa pada PIT IABI ketiga tahun 2016. Semoga semakin besar konstribusi civitas kesehatan dalam riset kebencanaan ke depannya.
Membangun Kemandirian Industrialisasi dan Teknologi Berbasis Riset Kebencanaan Indonesia
Gedung Graha Sabha Pramana Universitas Gadjah Mada
Reportase oleh Madelina Ariani
Masih dalam rangkaian PIT IABI 2015, hari kedua masih dibuka pameran untuk umum di lantai 1 GSP. Fakultas Kedokteran melalui Pokja Bencana Kesehatannya berpartisipasi dalam pameran ini bersama fakultas lain yang ada di UGM. Kami terlibat dalam tiga pase bencana yakni preparedness, response, dan recovery. Modul Hospital Disaster Plan dan Regional Disaster Plan, serta buku kurikulum manajemen bencana kesehatan untuk mahasiswa S1 di Fakultas Kedokteran juga kami pamerkan dalam kegiatan ini. RS Sardjito juga terlibat dengan memamerkan peralatan kesehatan dalam bencana serta mannequin atau boneka yang digunakan untuk pelatihan pertolongan pertama, dan masih banyak yang lain.
Di hari kedua ini, IABI khusus mengadakan pertemuan tertutup untuk anggota dan pengurus IABI saja. Sehari ini, masing-masing pokja membahas mengenai blue print riset kebencanaan yang akan dikembangkan selama tiga tahun ke depan. Pokja Epidemi, wabah, dan kesehatan dalam bencana dihadiri lebih dari 20 orang anggota. Masih dipimpin oleh Pak I Nyoman Kandun dan Kristijogo, diskusi mengenai agenda riset epidemi dan wabah sebagai bencana non alam berjalan dengan lancar.
Banyak masukan dan isu bencana kesehatan yang masuk dari praktisi rumah sakit, pemerintah, fakultas-fakultas kedokteran dan kesehatan, serta dari LSM kesehatan. beberaoa diantaranya adalah masalah emerging diseases yang lintas negara, kesiapan fasilitas kesehatan dalam menghadapi bencana, msalah tumpeng tindih peran antar penggerak bencana, serta masukkan sektor kesehatan dalam semua jenis ancaman bencana. Sore hari, blue print selesai direvisi dan harapannya ini dapat menjadi acuan riset kebencanaan sektor kesehatan di tahun-tahun ke depan.
Membangun Kemandirian Industrialisasi dan Teknologi Berbasis Riset Kebencanaan Indonesia
Gedung Graha Sabha Pramana Universitas Gadjah Mada
Pembaca website bencana kesehatan, senang sekali selama tiga hari di akhir Mei ini kita dapat berkumpul dalam suatu event besar penggiat kebencanaan di Indonesia dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan Riset Kebencanaan yang kedua tahun ini. Kegiatan ini terselenggara atas kerjasama Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) dengan UGM, BNPB, dan Kemenristek Dikti yang bersama-sama mengusung tema PIT “Membangun Kemandirian Industrialisasi dan Teknologi Berbasis Riset Kebencanaan Indonesia”
Sejak pagi, Gedung pertemuan terbesar di UGM, Graha Sabha Pramana telah ramai peserta kegiatan yang datang dari dalam dan luar Yogyakarta. Masuk ke lantai dua, kita dapat melihat penuhnya peserta hingga podium bagian atas. Seperti PIT sebelumnya, PIT tahun ini juga dihadiri oleh banyak penggiat bencana baik dari instansi pemerintah, NGO, maupun masyarakat, serta peserta dari universitas-universitas di Indoensia yang bertambah.
Sambutan pertama disampaikan oleh ketua AIBI, Prof. Dr. HA Sudibyakto, MS. Sudibyakto menyampaikan bahwa ia senang sekali penyelenggaraan PIT kedua dapat terselenggara dan UGM bersedia menjadi tuan rumah. Kesadaran masyarakat akan ancaman bencana perlu ditingkatkan selalu, dalam kesempatan ini, IABI memiliki harapan bahwa ke depannya, dapat menggiring arah riset kebencanaan untuk mencapai Indonesia yang tangguh bencana. Riset-riset dari akademisi perlu dimanfaatkan untuk pengurangan risiko bencana di Indonesia.
Sambutan kedua disampaikan oleh rektor UGM, Prof. Dr. Dwikorita Karnawati, MT. Dalam sambutan singkatnya Dwikorita menyampaikan rasa senangnya bahwa UGM mendapat kepercayaan menjadi tuan rumah. Hal ini seperti keinginan yang bersambut, dimana UGM ini seperti “restoran” yang memiliki banyak “koki” handal tetapi “pembeli” jarang. Dua ribu dosen di UGM seperti layaknya koki yang menciptakan karya-karya di bidang teknologi kebencanaan. Sekitar tiga hingga lima tahun yang lalu, UGM terus berupaya mengusahakan paten untuk karya-karya yang akhirnya bisa digunakan Indonesia untuk Pengurangan Risiko Bencana karena pada tahun 2009 China telah terlebih dahulu menggunakan karya yang dibuat UGM untuk bencana dan UGM tidak mendapat lisensi apapun oleh karena belum ada paten. Maka daripada itu, pertemuan kita kali ini ada dua poin yang perlu kita garis bawahi yakni mengupayakan paten produk UGM untuk bencana dan Pengembangan konsep socioenterpreneur penanganan bencana.
Sambutan dan pembukaan oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Prof. Dr. Syamsul Maarif, M.Si. Syamsul menyampaikan bawah kesadaran akan bencana di Indonesia oleh akademisi dan masyarakat sudah cukup baik tetapi pemanfaatan karya-karya bencana memang masih rendah. Sehingga, pertemuan ilmiah dan melalui IABI ini harapannya kita dapat menghimpun karya dan paten teknologi kebencanaan ini untuk menciptakan Indonesia tangguh bencana. Syamsul kembali menekankan bahwa paradigma Indonesia adalah Supermarket Bencana harus diubah menjadi Indonesia adalah Laboratoirum Bencana. Dengan demikian, wawasan ilmiah dan riset itu ada dan memang inilah tujuan kita. “Kita negara yang rawan sekali bencana dan kita juga mampu untuk beradaptasi di dalamnya dengan upaya-upaya pengurangan risiko bencana yang kita upayakan bersama”, ungkap Syamsul. Dengan mengucap puji syukur kepada Tuhan yang Maha Esa, Prof. Syamsul Maarif membuka PIT 2015 dengan secara simbolis memukul gong.
Dalam kesempatan ini juga, diluncurkan jurnal kebencaaan Indonesia yakni, Jurnal Riset Kebencanaan Indonesia yang diinisiasi oleh Ikatan Ahli Bencana Indonesia. Jurnal ilmiah ini akan terbit dua kali dalam setahun. Jurnal ini dipersembahkan oleh IABI kepada bangsa Indonesia agar menjadi bangsa yang tangguh bencana. Pada terbitan pertama ini terdapat Sembilan artikel dari berbagai instansi pemerintah dan universitas.
Pembaca website bencana kesehatan, rangkaian kegiatan ini tidak hanya berhenti pada seminar terbuka, tetapi juga masih ada sesi oral presentation per pokja, sesi poster presentation, diskusi per pokja untuk perumusan rencana kerja, dan juga pameran yang terbuka untuk umum mulai pukul 08.00-18.00 WIB hingga Kamis (27/5/2015).
Selengkapnya mengenai jadwal kegiatan dapat mengunjungi website PIT IABI 2015,
19thWorld Congress on Disaster and Emergency Medicine
21 April, Cape Town, South Africa
{tab Capacity Strategy |orange align_justify}
Reporter: Bella Donna
Kelas ini membicarakan mengenai penelitian masing-masing presenter dalam peningkatan kapasitas masyarakat di daerahnya. Sesi dimulai oleh presenter dari Hongkong yang menceritakan penelitian di sebuah kecamatan di China untuk mengembangkan desa tanggap siaga (kita menyebutnya di Indonesia) dengan strategi kapasitas melalui pengembangan fungsi orang-orang desa tanggap siaga pada kesiapan keselamatan kebakaran dengan teknik Communication for Behavioural Impact (COMBI ).
Presenter lain dari Amerika membuktikan bahwa pelatihan penurunan resiko bencana dapat mengubah kapasitas masyarakat untuk mengisentifikasi penilaian dan manajemen resiko, bahaya yang mengancam dan kerentanan. Penelitian ini dilakukan di Haiti.
Presenter dari Ghana melihat bahwa jika terjadi bencana seringkali tim emergency atau bantuan datang terlambat, faktanya sangat dibutuhkan agar bantuan berdasarkan pendekatan kepada masyarakat. Modul yang sudah dibuat didesain untuk edukasi, pelatihan dan layanan sederhana serta pencatatan sehingga masyarakat paham dalam merespon kebutuhan kegawatdaruratan yang berbeda-beda.
Presenter dari Kenya bercerita bahwa banyaknya bencana yang terjadi di Kenya membuat masyarakat Kenya sangat membutuhkan kesiapan dalam menghadapinya. Melalui simulasi yang mereka lakukan dengan skenario teroris di pusat perbelanjaan. Simulasi ini menunjukkan diaktifkannya Incident Command Structure (ICS) dengan melakukan koordinasi dan respon struktur gawat darurat yang langsung mengikuti. Area triase dan waktu respon yang dilakukan di catat serta rujukan korban ke fasilitas kesehatan.
Presenter dari Jerman mengatakan bahwa penelitian yang dilakukannya melalui komunikasi tradisional dan soSial media, ternyata membuktikan bahwa soSial media memiliki potensi yang besar dalam mengubah komunikasi antara Public Protection and Disaster Relief Representatives (PPDRs) dengan masyarakat dalam situasi masa gawat darurat.
Dari penelitian yang ada, Indonesia saat ini juga sangat memperhatikan pendekatan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana dengan penurunan resiko bencana. Bahkan simulasi juga sudah sering dilakukan oleh BNPB, Rumah Sakit, Dinas Kesehatan bahkan Puskesmas.
{tab Resilience Building |green }
Reporter: Bella Donna
Presenter dari Australia berbicara mengenai definisi ketahanan (resilience) pada literature multidiscipline dalam kebencanaan melalui rantai ketahanan, dalam penguatan masyarakat pada semua fase siklus bencana.
Presenter dari Boston memaparkan bahwa sejak banjir besar di Thailand pada 2011, banyak terjadi perdagangan manusia, sehingga dilakukan kesiapsiagaan pendekatan pada masyarakat agar diperoleh pemahaman tentang risiko dari ketahanan masyarakat yang terkena dampak dari perdagangan manusia selama tahun 2011. Selain itu, presenter dari Boston juga memeriksa kekuatan kesiapsiagaan bencana, kelemahan, peluang, dan ancaman yang terkait dengan pencegahan perdagangan manusia dan perlindungan. Akibat disaster ternyata meningkatkan kerentanan dari grup yang spesifik kepada perdagangan manusia.
Setelah melakukan interview dan focus groupdiscussion dengan kasus Non Communicable Diseases (NCDs), responden bencana, petugas kesehatan dan pemerintah, presenter dari Australia menemukan dampak bencana pada pengelolaan NCDs. Penelitian ini menyimpulkan bahwa bencana-bencana yang ada memberikan sebuah tantangan dalam pengelolaan NCDs. Untuk meminimalisir dampaknya maka perlu dimiliki ketahanan infrastruktur kesehatan masyarakat, ini berarti salah satu kesiapsiagaan bencana perlu lebih difokuskan pada penguatan infrastruktur dalam kesehatan masyarakat.
Presenter dari Rusia ini melakukan penelitian dengan tujuan untuk membuat sebuah eksposisi proyek percontohan di tingkat negara dan di tingkat WHO untuk promosi keselamatan jalan di federasi Rusia. Kecelakaan di jalan adalah faktor urutan ketiga yang memprovokasi trauma dan kematian dalam populasi dan faktor pertama dalam kelompok orang-orang yang usianya kurang dari 50 tahun. Korban tewas dalam keadaan darurat jalan adalah 12 kali lebih tinggi daripada di tempat lain. Sehingga pelaksanaan program keamanan jalan Federal menyebabkan dinamika positif dalam indeks sasaran utama, penurunan angka kematian 19 % dan tingkat keparahan kecelakaan jalan 17,5 % lebih rendah.
Tujuan penelitian yang dilakukan oleh presenter asal Canada ini adalah lokakarya membangun masyarakat tangguh dibawa stakeholder kunci dalam perencanaan ketahanan masyarakat Kanada, dengan tujuan berbagi pengalaman dan mengembangkan strategi konkret untuk mendukung berkelanjutan dan muncul inisiatif dalam perencanaan masyarakat dan ketahanan terhadap bencana.
43 peserta dari berbagai tingkat pemerintahan Kanada, praktisi senior, pembuat kebijakan, akademisi, anggota masyarakat dan berbagai lembaga praktisi diperiksa dan alat/tools ketahanan terhadap bencana yang ada, kemudian diidentifikasi kemungkinan dan kendala partisipasi masyarakat dalam perencanaan ketahanan bencana. Ini menghasilkan kesimpulan bahwa partisipan pada lokakarya dapat membangun masyarakat tangguh tercatat lebih variatif, efektif dalam tools dan mampu dalam prosesnya pada masyarakat Canadian. Pesan utama adalah bahwa setiap keterlibatan dengan perencanaan ketahanan bencana meningkatkan ketahanan masyarakat. Masyarakat harus didorong untuk menggunakan alat atau proses yang tepat, daripada berjuang untuk menemukan yang sempurna.
{tab Disaster Risk Management |red}
Reportase oleh Madelina Ariani
Sesi mengenai pengurangan risiko bencana ini memang menjadi topik yang begitu hangat dibicarakan. Sesuai dengan tema WCDEM kali ini yang juga berupaya mengurangi dampak resiko bencana dengan peningkatan ketahanan dan kapasitas. Kali ini, ruangan auditorium 2 CTICC hampir penuh dengan peserta yang ingin mendengarkan penjelasan dari sembilan presenter. Chair sesi ini adalah Graeme McColl dan Hillarie Cranmer. Graeme pernah bekunjung ke Divisi Manajemen Bencana PKMK UGM pada acara Seminar Internasional Manajemen Bencana Kesehatan dalam rangkaian peringatan 10 tahun tsunami di Yogyakarta.
Seluruh penelitian yang dipresentasikan kali ini menarik. Banyak metode, alat, wawasan, dan isu yang diangkat secara ilmiah oleh para peneliti yang semua bertujuan untuk mengurangi risiko bencana. Presenter pertama memaparkan penelitian yang menarik tentang bagaimana mengelola aset yang dimiliki daerah, fasilitas kesehatan dan masyarakat sehingga kerugian akibat bencana dapat dihindari atau tidak begitu merugikan. Namun, pesan penting disampaikan di akhir penelitian Ronald Bownes, Kanada ini adalah bagaimana aplikasi ini dapat dimengerti dan digunakan oleh masyarakat, sehingga dari awal aplikasi ini sudah melibatkan masyarakat.
Ada juga yang melihat pengurangan risiko bencana dari sisi komunikasi antara penyelamat denga korban. Terutama di tempat layanan umum, maka Jonathan Groff dari Prancis memberikan gambaran model yang bisa dimanfaatkan untuk masyarakat mengerti bagaimana mencari penyelamatan diri dan penyelamat juga dapat mengetahui dimana korbannya.
Masih dengan tools dan aplikasi, Ahmadreza Djalali dari Italy memaparkan mengenai tools untuk mengukur kesiapsiagaan rumah sakit menghadapi ancaman bencana. Djalali mengatakan bahwa tools ini memang tidak mudah dilakukan namun lebih memudahkan daripada tools lainnya yang sudah ada. Hasil pengukuran akan di-konvert menjadi tingkatan level, rendah, sedang, dan tinggi. Pengembangan tools ini tentunya harus disesuaikan kembali dengan daerah yang mengadopsinya.
Berbeda dengan tiga pembicara di atas, kali ini Nidaa Bajow dari Saudi Arabia mengangkat mengenai kesiapsiagaan dari pembangunan kurikulum kodokteran bencana di perguruan tinggi di Arab. Ternyata, tantangan pembangunan kurikulum bencana kesehatan dan kedokteran bencana tidaklah mudah dan ini membutuhkan kesadaran yang tinggi dari berbagai pihak, misalnya kementerian pendidikan tinggi, kementerian kesehatan, dan universitas yang memiliki fakultas kedokteran dan kesehatan untuk bisa mengintegrasikan kurikulum bencana dalam perkuliahan. Hal ini juga terjadi di Indonesia.
Penelitian lainnya yang dipresentasikan ada yang berupa pengalaman, laporan kegiatan, dan integrative review. Ada yang menarik perhatian reporter yakni mengenai pembangunan kesiapsiagaan bencana kesehatan dengan membangun disaster medicine team di China oleh Prof. Zhongmin Liu dari Chine of Society on Disaster Medicine. Sistem mulai dibangun sejak 2011 dan mereka rutin mengadakan latihan dan kongres. Jika dibandingkan dengan perkembangan bencana kedokteran di Indonesia, negara kita tidak lebih buruk dari ini, bahkan lebih dulu ada.
{tab Environmental Challenges |blue}
Reporter: Oktomi Wijaya
Pembicara kedua adalah Soo Hyun Park dari Samsung Medical Center yang mempresentasikan tentang tren bencana alam di Korea Selatan. Tujuan dari penelitian ini untuk mendemonstrasikan kejadian bencana alam di Korea Selatan. Dari laporan pemerintah yang diambil dari tahun 1985 sampai tahun 2012 bahwa kejadian bencana alam yang terjadi di Korea Selatan didominasi oleh kejadian bencana yang berkaitan dengan perubahan iklim seperti topan.
Pembicara ketiga adalah Marie D.B Fouche dari Amerika Serikat yang mempresentasikan tentang Feasibility of a Predictive Multi-Sector Cholera Emergency Preparedness and Control Tool for Haiti. Tujuan dari penelitian ini untuk mengembangkan tool untuk memprediksi kejadian wabah kolera di Haiti. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada kebanyakan kasus bahwa kejadian kematian akibat kolera banyak terjadi di slum area. Dengan adanya indeks kerentanan masyarakat, maka dapat dipetakan daerah-daerah yang berisiko sehingga dapat dilakukan intervensi sebelum, saat dan sesudah terjadi wabah kolera.
Pembicara keempat adalah Dr. Daniel Martinez Garcia dari Spanyol yang mempresentasikan tentang ClimateChange, Disasters and their impact on Children Health. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi resiko kesehatan langsung dan tidak langsung pada anak-anak akibat perubahan iklim dan bencana. Dari systematic review diperoleh bahwa hampir 95 persen kejadian kematian pada anak akibat bencana terkait perubahan iklim terjadi pada Negara dengan pendapatan rendah dan menengah.
Pembicara kelima adalah Kevin M ryan dari Boston, USA yang mempresentasikan tentang Noise Pollution, Do We Need a Solution? An Analysis of Noise in Cardiac Care Unit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kebisingan pada tiga tempat yang berbeda di CCU. Selama satu bulan alat pencatat kebisingan dipasang di tiga lokasi yang berbeda di CCU. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada ruangan 1 dekat pintu masuk tingkat kebisingan masih di bawah ambang batas, sementara di Nurse station level bising sudah melebihi ambang batas yang direkomendasikan oleh WHO. Perlu dilakukan usaha untuk menurunkan level kebisingan dan memeriksa tingkat kenyamanan pasien di CCU.
Pembicara keenam adalah Morgan C. Broccoli dari John Hopkins University yang mempresentasikan tentang An Analysis of Patient Arrivals in an Academic Emergency Department in Baltimore, Maryland, USA, during the Heat Wave of July 2012. Di bulan Juli, selama 12 hari Kota Baltimore mengalami gelombang panas dengan suhu 90-104 derjat Fahrenheit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat dampak kunjungan pada ruang gawat darurat terkait dengan kejadian gelombang panas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa selama periode studi dari 2008-2013 jumlah kunjungan 91.759. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara statistik ada hubungan yang signifikan jumlah kunjungan pada emergency department dengan kejadian gelombang panas.
Pembicara ketujuh adalah Matthew D Tyler dari Boston University yang mempresentasikan tentang A Systematic Review of The Literature on The Epidemiology of Drowning Injuries in Low and Middle Income Countries. Tujuan penelitian adalah untuk melihat kejadian epidemiologi tenggelam pada negara dengan pendapatan kecil dan menengah. Hasil systematical review ini menunjukkan bahwa kejadian tenggelam banyak terjadi di Asia dan Afrika. Masih tingginya angka kejadian tenggelam memerlukan usaha pencegahan seperti latihan renang dan training sea survival.
Pembicara kedelapan adalah Josep Mcisaac dari University Connectitut: Combining State and Private Resources to Develop Medical Resiliency Through Immersive Simulation. Hasil penelitian ini untuk mengetahui peningkatan skill personil medis untuk menghadapi bencana melalui pelatihan yang dilaksanakan oleh rumah sakit swasta dan pemerintah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua mahasiswa berhasil melakukan semua prosedur pada saat simulasi. Mahasiswa mampu dengan baik melakukan triase pada saat simulasi dan dasar operasi. Kombinasi kerjasama ini terbukti efektif untuk meningkatkan kemampuan personil medis dalam menghadapi situasi darurat.