Ujian dan Interview Peserta Training of Trainer (TOT) Perencanaan Penanggulangan Bencana dan Krisis Kesehatan – Desember 2020

logo caritas

logo caritas

Ujian dan Interview Peserta Training of Trainer (TOT) Perencanaan Penanggulangan Bencana dan Krisis Kesehatan

(Dinkes, Rumah Sakit dan Puskesmas)

Selasa-Kamis/ 15-18 Desember 2020


Pengantar

PKMK FK-KMK UGM bekerja sama dengan Caritas Germany akan melakukan program perluasan peningkatan kapasitas masyarakat melalui penguatan sistem dan pemberdayaan dalam menghadapi bencana dan krisis Kesehatan di Sulawesi Tengah. Fasilitas kesehatan yang menjadi sasaran program ini adalah Dinkes Provinsi Sulawesi Tengah, Dinkes Kabupaten Donggala, RS Kabelota, RS Kota Palu, Puskesmas Sangurara dan Puskesmas Tompe. Dalam pelaksanaan program ini PKMK FK-KMK UGM akan tetap melibatkan Dinkes Provinsi Sulawesi Tengah dan universitas lokal.

Peningkatan kapasitas sumber daya local dalam menyusun perencanaan penanggulangan bencana dan krisis kesehatan di daerah sangatlah penting. Dalam peningkatan kapasitas sumber daya local tersebut, PKMK FK-KMK UGM telah menyelenggarakan TOT Penanggulangan Bencana dan Krisis Kesehatan (Disaster Plan) pada 17-26 November 2020. TOT ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan Dinas Kesehatan dan Perguruan Tinggi untuk mendampingi kabupaten/kota di Sulawesi Tengah dalam menyusun perencanaan penanggulangan bencana dan krisis kesehatan. Peserta yang telah mendapatkan Pelatihan TOT disaster plan sebanyak 37 orang yang berasal dari Dinas Dinkes Povinsi Sulteng, Dinkes Kab. Sigi, RSUD Undata, Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tadulako, dan Fakultas Kedokteran Universitas Al-Khairat.

Peserta TOT terbagi menjadi 3 kelas yaitu kelas TOT Dinkes Disaster Plan, TOT Puskesmas Disaster Plan dan TOT Hospital Disaster plan. Setelah mendapatkan pelatihan, untuk melihat sejauh mana pemahaman peserta terhadap materi pelatihan TOT maka peserta akan diuji dan diinterview oleh konsultan terkait. Peserta akan menjawab soal sesuai dengan kelas yang dipilih kemudian diinterview langsung oleh konsultan. Harapannya peserta bisa memahami bagaimana konsep perencanaan penanggulangan bencana dan krisis kesehatan. Kegiatan ini akan berkelanjutan, dimana peserta yang lulus ujian dan interview bersedia serta mampu menjadi Fasilitator dan Pendamping dalam meningkatkan kapasitas manajemen penanggulangan bencana dan krisis kesehatan di dinas kesehatan, rumah sakit dan puskesmas.

 

Tujuan

Ujian dan Interview peserta TOT disaster plan bertujuan untuk menilai dan mengetahui sejauh mana pemahaman peserta terhadap konsep perencanaan penanggulangan bencana dan krisis kesehatan di dinas kesehatan, rumah sakit dan puskesmas.

Proses Kegiatan

Ujian dan interview dilakukan via online. Peserta akan mendapatkan soal ujian pada 1 Desember 2020 dan diberi waktu menjawab soal selama satu munggu. Bentuk soal berupa pertanyaan essay. Kemudian peserta akan diinterview oleh konsultan bidang perencanaan penanggulangan bencana dan krisis kesehatan melalui daring. Interview dilakukan secara perorangan dimana bahan interview adalah jawaban dari soal ujian.

 

Peserta Kegiatan

Peserta ujian dan interview sekitar 37 orang dan konsultan sebanyak 8 orang.

 

Output Kegiatan

Peserta bersedia dan mampu menjadi Fasilitator dan Pendamping dalam meningkatkan kapasitas manajemen penanggulangan bencana dan krisis kesehatan di dinas kesehatan, rumah sakit dan puskesmas.

 

Jadwal

Ujian

Soal akan dibagikan ke peserta tanggal 1 Desember 2020 dan peserta mengumpulkan jawaban tanggal 8 Desember 2020.

 

Interview

Waktu : Selasa-Kamis/ 15-18 Desember 2020

Pukul : 10.00 – 12.00 WITA

Tempat : dari tempat masing-masing peserta

 

Selasa-Kamis/ 15-18 Desember 2020
Waktu Materi Penanggung Jawab

10.00 – 10.30

10.30 – 11.00

11.00 – 11.30

11.30 – 12.00

Interview Peserta

kelas TOT Dinkes Disaster Plan

Fasilitator :

Madelina Ariani, MPH

 

Konsultan (Interviewer) :

– dr. Hendro Wartatmo, SpB.KBD – Pokja Bencana Kesehatan FK-KMK UGM

– dr. Ina Agustina Isturini, M.K.M – Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes

– drg. A. Hadijah Pandita M. Kes – Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes

10.00 – 10.30

10.30 – 11.00

11.00 – 11.30

11.30 – 12.00

Interview Peserta

kelas TOT Hospital Disaster Plan

Fasilitator :

Happy R Pangaribuan, MPH

 

Konsultan (Interviewer):

– dr. Handoyo Pramusinto, SpB – RS Sardjito

– Sutono, S.Kp, M.Sc, M.Kep – Pokja Bencana FK-KMK UGM

dr. CoronaRintawan, SpEM – Muhammadiyah Disaster Management Center(MDMC)

10.00 – 10.30

10.30 – 11.00

11.00 – 11.30

11.30 – 12.00

Interview Peserta

kelas TOT Puskesmas Disaster Plan

Fasilitator :

Gde Yulian M.Epid, Apt

 

Konsultan (Interviewer):

– dr. Sulanto Saleh Danu, Sp.FK

– Ns. Alfrina Hany SKp, MNg(AC) – Universitas Brawijaya

 

Penutup

Demikian Kerangka Acuan Kegiatan Ujian dan Iinterview Pesreta TOT Penanggulangan Bencana dan Krisis Kesehatan (Disaster Plan). Kegiatan ini penting sebagai peningkatan kapasitas peserta dalam proses pendampingan penyusunan rencana penanggulangan bencana dan krisis kesehatan ke puskesmas, rumah sakit dan dinas kesehatan lainnya. Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM sebagai penyelenggara program akan berkomitmen demi tercapainya tujuan program dan Caritas Germany sebagai mitra penyelenggara program akan mendapatkan laporan rutin terkait keberlangsungan program.

Seminar Nasional HDP 2016

border-page

SEMINAR NASIONAL
HOSPITAL DISASTER PLAN

(PENYUSUNAN RENCANA PENANGGULANGAN BENCANA DI RUMAH SAKIT)

Rabu, 7 September 2016
Ruang Senat Gd. KPTU lantai 2 FK UGM

Diselenggarakan oleh
Divisi Manajemen Bencana Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK UGM
bekerjasama dengan Kelompok Kerja (Pokja) Bencana FK UGM 

border-page

 Latar Belakang

Dalam kejadian bencana alam, fasilitas kritis termasuk rumah sakit harus mampu melindungi masyarakat dan korban bencana, terutama pada saat tanggap darurat. Kemampuan rumah sakit untuk tetap berfungsi tanpa gangguan dalam kondisi darurat adalah persoalan hidup dan mati. Menjadi hal yang sangat penting untuk semua rumah sakit memiliki perencanaan penanggulangan bencana di rumah sakit.

Perencanaan Penanggulangan Bencana di Rumah Sakit atau Hospital Disaster Plan (HDP) menentukan kualitas pelayanan pada masa respon. Seyogyanya respon yang bagus akan menghasilkan dampak yang bagus, dalam hal ini adalah menurunnya morbiditas dan mortalitas korban bencana. Seperti yang tertuang dalam buku Hospital Preparedness for Emergency and Disaster (HOPE) salah satu tujuan penyusunan rencana penanggulangan bencana di rumah sakit adalah untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas yang tidak perlu pada saat bencana.

Begitu penting rencana penanggulangan bencana bagi rumah sakit ini didukung oleh adanya Undang-undang RI No.44 Tahun 2009 tentang rumah sakit, khususnya pada pasal 29 yang salah satu poinnya berbunyi bahwa “Rumah sakit mempunyai Kewajiban memiliki sistem pencegahan kecelakaan dan penanggulangan bencana”. Selain itu, dalam Pembahasan Akreditasi Rumah sakit tahun 2012 pada elemen penilaian akreditasi pada Standar Manajemen Fasilitas dan Keselamatan (MFK) mengenai Kesiapan menghadapi bencana pada Standar MFK 6 yang berbunyi “Rumah Sakit membuat rencana manajemen kedaruratan dan program penanganan kedaruratan komunitas, wabah dan bencana baik bencana alam atau bencana lainnya”. Salah satu elemen penilaian MFK 6 adalah rumahsakit telah mengidentifikasi bencana internal dan eksternal yang besar, seperti keadaaan darurat di masyarakat, wabah, dan bencana alam atau bencana lainnya serta kajadian wabah yang bisa menyebabkan terjadinya risiko yang signifikan.

Terkait dengan rencana penanggulangan bencana di rumah sakit, bagaimana kebijakannya, pelaksanaanya, penilaiannya akan dibahas dalam seminar ini. Begitu juga dengan konsep dan nomenklatur dalam penyebutannya serta konsep mana yang saat ini menjadi rujukan dalam menyusun Hospital Disaster Plan? Dengan seminar Nasional Hospital Disaster Plan harapannya dapat mengumpulkan sebanyak-banyaknya rumah sakit di seluruh wilayah Indonesia sehingga dapat bersama-sama mengetahui dan berdiskusi pengalaman dalam membuat atau mengembangkan Hospital Disaster Plan

 Tujuan Kegiatan

  1. Terciptanya kesepahaman yang sama dalam konsep Hospital Disaster Plan
  2. Mengetahuai kebijakan, pelaksanaan, dan penilaian untuk Hospital Disaster Plan baik secara nasional dan internasional
  3. Mensosialisasikan lebih luas mengenai Hospital Disaster Plan

 Peserta

Seminar ini mengharapkan kehadiran rekan-rekan dari:

  1. Lingkungan Kementerian Kesehatan
  2. Pusat Krisis Kesehatan, regional dan sub regional
  3. Pengurus PERSI diseluruh wilayah
  4. Manajemen dan Tim Penanggulanan Bencana di Rumah Sakit
  5. Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten Kota di Indonesia
  6. Fakultas Kedokteran, Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat, dan Stikes yang mengembangkan kurikulum bencana kesehatan
  7. Mahasiswa S2 dan S3 yang tertarik dengan isu manajemen bencana kesehatan
  8. Peneliti bidang manajemen bencana dan manajemen rumah sakit
  9. LSM yang bergerak di bidang bencana dan emergensi
  10. Pemerhati Bencana, dan
  11. Perseorangan

 

place Tempat/Waktu

Waktu      : Rabu, 7 September 2016
Jam         : Pukul 08.00-13.00 WIB
Tempat    : Auditorium FK UGM

Waktu

Kegiatan

Narasumber

08.00 – 08.30

Registrasi

08.30 – 08.40

Pembacaan Safety Briefing

08.40– 09.00

Sambutan oleh Kepala Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM :

dr. Bella Donna, M.Kes

09.00 – 09.15

Tea Break

09.15 – 09. 45

Pembicara 1: Wewenang dan kepentingan mengenai Hospital Disaster Plan bagi penanganan bencana dan krisis kesehatan daerah di Indonesia

Dr. Ina Agustina Isturini

Kasubid Evaluasi Pusat Krisis Kesehatan

Kementrian Kesehatan RI

  Materi

 

09.45 – 10.15

Pembicara : Hubungan K3 dan Hospital Disaster Plan

Susi Runtiawati,BE, SE, MM  

Kepala Bidang sarana dan Prasarana RS Sardjito

   Materi

 

10.15 – 10.45

Diskusi

Moderator: dr. Bella Donna, M.Kes

10.45 – 11.15

11.15 – 11.45

Pembicara 4: Penerapan Hospital Disaster Plan di Indonesia

  Dr. Adib A Yahya, MARS

  PERSI

  Materi

 

11.45 – 12.15

Pembicara 5: Pemahaman konsep HICS (Hospital Incident Command System) pada koordinasi respon di rumah sakit pada saat bencana

Dr. Hendro Wartatmo, SpBKBD

  Pokja Bencana FK UGM

  Materi

 

12.15 – 12.45

Diskusi

Moderator: dr. Handoyo Pramusinto, Sp. BS

1.     45 – 13.00

Penutupan

13.00

Makan Siang

 

 

Fasilitas

  • Seminar kit
  • SKP IDI/PERSAKMI
  • Makan siang dan coffe break

Biaya registrasi

  1. Peserta langsung                : Rp. 500.000,00/orang
  2. Peserta Webinar                 : Rp. 300.000,00 /orang
  3. Peserta Webinar Instansi     : Rp. 1.000.000,00/ instansi (dengan peserta yang akan mendapatkan sertifikat sebanyak 5 orang).

Pendaftaran peserta dapat dilakukan online melalui website bencana kesehatan www.bencana-kesehatan.net atau secara offline dengan mengemail ke [email protected].

Pembayaran peserta dapat dilakukan dengan cara tunai di gedung sekretariat atau melalui transfer ke rekening panitia :
Bank BNI, no.Rek: 0203024192, atas nama: Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM
(Bukti setor wajib di fax ke +62274 549425/ email ke [email protected])

 

 Sekretariat

Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM

Gedung IKM Lantai 2 Sayap Utara, Jalan Farmako Sekip Utara, Yogyakarta 55281 Indonesia
Phone/fax: +62 274 549425
Email: [email protected]

Contact person:

Dewi Catur Wulandari
Mobile: +62 818 263653
Email: [email protected]   
Madelina Ariani
Mobile: +62 878 1569 1175
Email: [email protected]

 

Waktu

Kegiatan

Narasumber

08.00 – 08.30

Registrasi

08.30 – 08.40

Pembacaan Safety Briefing

08.40  – 09.00

Sambutan oleh Kepala Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM :

dr. Bella Donna, M.Kes

09.00 – 09.15

Tea Break

09.15 – 09. 45

Pembicara 1: Wewenang dan kepentingan mengenai Hospital Disaster Plan bagi penanganan bencana dan krisis kesehatan daerah di Indonesia

Dr. Ina Agustina Isturini

Kasubid Evaluasi Pusat Krisis Kesehatan

Kementrian Kesehatan RI

09.45 – 10.15

Pembicara : Hubungan K3 dan Hospital Disaster Plan

Susi Runtiawati,BE, SE, MM  

Kepala Bidang sarana dan Prasarana RS Sardjito

10.15 – 10.45

Diskusi

Moderator: dr. Bella Donna, M.Kes

10.45 – 11.15

11.15 – 11.45

Pembicara 4: Penerapan Hospital Disaster Plan di Indonesia

Dr. Adib A Yahya, MARS

PERSI

11.45 – 12.15

Pembicara 5: Pemahaman konsep HICS (Hospital Incident Command System) pada koordinasi respon di rumah sakit pada saat bencana

Dr. Hendro Wartatmo, SpBKBD

Pokja Bencana FK UGM

12.15 – 12.45

Diskusi

Moderator: dr. Handoyo Pramusinto, Sp. BS

1.    45 – 13.00

Penutupan

13.00

Makan Siang

ASM Div. Manajemen Bencana 2016

border-page

Dalam rangka Annual Scientific meeting (ASM) Fakultas Kedokteran UGM 2016
Kelompok Kerja (Pokja) Bencana FK UGM bekerjasama dengan
Divisi Manajemen Bencana Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK UGM
Menyelenggarakan seminar mengenai:

PEMANTAPAN KONSEP HOSPITAL DISASTER PLAN:

ANALISIS KESENJANGAN HICS (HOSPITAL INCIDENT COMMAND SYSTEM),

HOSDIP (HOSPITAL DISASTER PLAN), HOPE (HOSPITAL PREPAREDNESS FOR EMERGENCIES)

Jumat, 18 Maret 2016
Gedung Senat Lantai 2 KPTU Fakultas Kedokteran UGM

border-page

Latar Belakang

Rumah Sakit memiliki peran yang sangat penting dalam masa tanggap darurat bencana. Menurut UNDP (2008), diantara infrastruktur pelayanan kesehatan, rumah sakit adalah penanggung jawab utama dalam penyelamatan hidup korban bencana. Ketika bencana terjadi, korban bencana mengandalkan rumah sakit untuk memberikan pelayanan medis yang cepat dan efektif. Rumah sakit juga bertindak sebagai sarana vital untuk melakukan diagnosis, tindakan medis, follow up baik itu fisik maupun psikologi untuk mengurangi kesakitan dan kematian.

Dalam kejadian bencana alam, fasilitas kritis termasuk rumah sakit harus mampu melindungi masyarakat dan korban bencana, terutama pada saat tanggap darurat. Kemampuan rumah sakit untuk tetap berfungsi tanpa gangguan dalam kondisi darurat adalah persoalan hidup dan mati. Menjadi hal yang sangat penting untuk semua rumah sakit memiliki perencanaan penanggulangan bencana di rumah sakit.

Begitu penting rencana penanggulangan bencana bagi rumah sakit ini didukung oleh adanya Undang-undang RI No.44 Tahun 2009 tentang rumah sakit, khususnya pada pasal 29 yang salah satu poinnya berbunyi bahwa “Rumah sakit mempunyai Kewajiban memiliki system pencegahan kecelakaan dan penanggulangan bencana”. Selain itu, dalam Pembahasan Akreditasi Rumah sakit tahun 2012 pada elemen penilaian akreditasi pada Standar Manajemen Fasilitas dan Keselamatan (MFK) mengenai Kesiapan menghadapi bencana pada Standar MFK 6 yang berbunyi “Rumah Sakit membuat rencana manajemen kedaruratan dan program penanganan kedaruratan komunitas, wabah dan bencana baik bencana alam atau bencana lainnya”. Salah satu elemen penilaian MFK 6 adalah rumahsakit telah mengidentifikasi bencana internal dan eksternal yang besar, seperti keadaaan darurat di masyarakat, wabah, dan bencana alam atau bencana lainnya serta kajadian wabah yang bisa menyebabkan terjadinya risiko yang signifikan.

Terkait dengan rencana penanggulangan bencana di rumah sakit, belum ada kesamaan konsep dan nomenklatur dalam penyebutannya. Sebagai contoh, ada konsep Hospital Incident Command System (HICS), Hospital Preparedness for Emergency (HOPE), Hospital Disaster Plan (Hosdip), Perencanaan Penyiapan Penanggulangan Bencana di Rumah Sakit (P3BRS). Dengan seminar ASM 2016 ini secara bersama-sama akan dibahas kesenjangan antara beberapa konsep dalam perencanaan penanggulangan bencana di rumah sakit.

 

Tujuan Kegiatan

  1. Mensosialisasikan lebih luas menengenai Hospital Disaster Plan
  2. Terciptanya kesepahaman yang sama dalam konsep hospital disaster plan

Bentuk Kegiatan (Seminar/ Workshop)

Kegiatan pemantapan konsep hospital disaster plan ini akan dilaksanakan dalam bentuk seminbar setengah hari.

Peserta

Seminar ini mengharapkan kehadiran rekan-rekan dari:

  1. Lingkungan Kementerian Kesehatan
  2. Pengurus PERSI se Jawa dan Bali
  3. Manajemen dan Tim Penanggulanan Bencana di Rumah Sakit se Jawa dan Bali
  4. Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten Kota di Indonesia
  5. Fakultas Kedokteran dan Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat
  6. Mahasiswa S2 dan S3 yang tertarik dengan isu manajemen bencana kesehatan
  7. Peneliti bidang manajemen bencana dan manajemen rumah sakit
  8. LSM yang bergerak di bidang bencana dan emergensi
  9. Pemerhati Bencana, dan
  10. Perseorangan.

Batasan Peserta

Demi kelancaran diskusi maka seminar ini membatasi peserta maksimal 50 orang.

 

place Tempat/Waktu

Jumat, 18 Maret 2016
Ruang Senat KPTU Lantai 2 Fakultas kedokteran UGM

Waktu

Kegiatan

08.00 – 08.30

Registrasi

08.30 – 08.40

Pembacaan Safety Briefing

08.40 – 09.00

Pembukaan

  1. Sambutan oleh Ketua Pokja Bencana FK UGM
    dr. Handoyo Pramusinto, Sp.BS
  2. Sambutan dan Pembukaan oleh Dekan Fakultas Kedokteran: 
    Prof. DR. dr. Teguh Aryandono, Sp.B(K)Onk

09.00 – 09.15

Tea Break

Sosialisasi Klaster Kesehatan untuk Penanggulangan Bencana
Reportase

09.15 – 09. 45

Pembicara 1: PPKK Kemenkes : Klaster Kesehatan (Webinar) 
Materi  

09.45 – 10.15

Pembicara 2: Sosialisasi HDP sesuai dengan Permenkes 64 tahun 2013 untuk Dinas Kesehatan : Dinkes Provinsi DIY 
Materi 

 

10.15 – 10.45

Pembicara 3: Pengalaman mendampingi HDP : Pokja Bencana FK UGM 
Materi 

10.45 – 11.15

Diskusi
Moderator: dr. Sulanto Saleh Danu, Sp.FK

Pemantapan Konsep Hospital Disaster Plan: Analisis kesenjangan HICS (Hospital Incident Command System), HOSDIP (Hospital Disaster Plan), HOPE (Hospital Preparedness for Emergencies)
Reportase

 

13.00 – 13.45

Pembicara 4: Modul Hospital Disaster Plan
dr Hendro Wartatmo, SpB, KBD
Materi

13.45 – 14.15

Pembicara 5: PERSI : Penerapan HDP di rumah sakit
Dr. Adib abdullah yahya, MARS 
Materi

14.15 – 14.45

Pembicara 6: K3 RS Sardjito
dr. Roosmirsa Gayatri,M.Sc
Materi

14.45 – 15.15

Diskusi

Moderator: dr. Handoyo Pramusinto, Sp. BS

15.15 – 15.30

Kesimpulan dan Penutupan

 

Fasilitas

  • Seminar kit
  • SKP IDI/IAKMI
  • Makan siang dan coffe break

 

Sekretariat

Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM

Gedung IKM Lantai 2 Sayap Utara, Jalan Farmako Sekip Utara, Yogyakarta 55281 Indonesia
Phone/fax: +62 274 549425
Email: [email protected]

Contact person:

Dewi Catur Wulandari
Mobile: +62 818 263653
Email: [email protected]    
Madelina Ariani
Mobile: +62 878 1569 1175
Email: [email protected]

Reportase Sesi 3 ASM 2015

Dok. PKMK: Pemateri sesi 3

Reportase Sesi 3

Seminar Kaitan Peningkatan Risiko Bencana dengan Pencapaian MDGs

Senin, 16 Maret 2015 || Ruang Senat lantai 2 Gedung KPTU Fakultas Kedokteran UGM


Dok. PKMK: Pemateri sesi 3 
dr. Hendro Wartatmo merupakan konsultasn senior di Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM, juga sebagai konsultan bedah di RS Sardjito Yogyakarta, dalam kesempatan kali ini menjadi moderator untuk sesi 3 mengenai penguatan peran sektor kesehatan dalam menghadapi risiko bencana pasca MDGs.

dr. Ina dari PPKK Kemenkes menerangkan mengenai risiko yang dihadapi sektor kesehatan dan penguatan ketahanan yang harus juga dilakukan oleh sektor kesehatan. Penguarangan risiko bencana yang tidak memadai akan memperburuk krisis kesehatan yang terjadi.

Memang ada sedikit perbedaan antara bencana dan krisis kesehatan. Penanggulangan yang dilakukan oleh PPKK sebagai leader dalam penanganan bencana sektor kesahatan dilakukan dalam beberapa tahap tetapi tetap dalam satu rangkaian pase penanganan bencana. Pada tahap tanggap darurat kita melakukan RHA, kemudian hasil ini akan kita lakukan ERNA atau A2 yang merupaka laporan awal untuk melakukan kegiatan operasional segera. Dan terakhir kita menyususn Ina DRI atau Indonesia Disaster Recovery Indeks.
Memang ada perbedaan data bencana antara BNPB, PPKK, dan WHO misalnya, karena indikator yang digunakan berbeda. Kalau PPKK khusus untuk bencana yang kemudian menimbulkan ancaman krisis kesehatan. data di PPKK lebih sedikit dari BNPB karena memang hanya mencatat data bencana yang berdampak pada krisis kesehatan.

Menarik, pembicara membahas mengenai analogi berfikir kesiapsiagaan bencana. Misalkan pada situasi normal standar peralatan yang dibutuhkan untuk layanan kesehatan sekian. Maka dapat kita prediksi jika terjadi bencana maka keadaan layanan kesehatan pasti dibawah standart. Jika suatu daerah tidak memiliki kesiapsiagaan sektor kesehatan yang baik maka sudah dipastikan pada saat bencana terjadi maka status layana kesehatan akan jauh di bawah standar. Untuk itulah diperlukan peningkatan upaya kesiapsiagaan layanan kesehatan termasuk peralatan sehingga jika terjadi bencana sekalipu, layanan dan peralatan kesehatan masih berada di atas standar.
Dok. PKMK: dr. Ina dari PPKK Kemenkes

dr. Handoyo Pramusinto, beliau menyampaikan mengenai peran perguruan tinggi dalam penguatan sektor kesehatan dalam menghadapi peningkatan risiko bencana pasca MDGs ini. Pada intinya perguruan tinggi terlibat dalam penyediaan data-data penelitian dan rumusan rekomendasi kebijakan. Mendukung pemerintah dalam upaya kesiapsiagaan penanggulangan bencana dan krisis kesehatan. Setelah kita mengetahui bahwa koban yang paling banyak dalam bencana adalah ibu dan anak maka kita dapat berperan untuk mengadvokasi populasi rentan ini.

Pembahas sesi ini adalah Prof. Laksono Trisnantoro seorang pakar kebijakan kesehatan. Dalam bahasannya beliau sangat menghimbau dan mengajak seluruh individu dan tim yang menamakan dirinya sebagai penggiat bencana untuk dapat berperan aktif dalam mengadvokasi pemerintah dalam hal ini kementerian kesehatan untuk memperhatikan masalah kebencanaan dan krisis kesehatan.

Adanya dana penelitian merupakan upaya konkrit dari pemerintah untuk mendukung upaya advokasi kita bersama, misalnya. Masalahnya, kita bergerak di tahap mitigasi atau kesiapsiagaan, sedangkan bencana atau ancaman bencana masih terjadi di masa depan, tapi merupakan tantangan bagi kita bersama untuk dapat menyakinkan pemerintah dan pengambil keputusan untuk sadar mengenai masalah bencana dan krisis kesehatan yang dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat ke depannya.

Kita membutuhkan adanya advokasi yang menggunakan kebutuhan masyarakat sebagai dasarnya. Pertemuan kita kali ini harus menjadi rekomendasi kebijakan yang bermanfaat bagi kesehatan masyarakat.

Dok. PKMK: Sesi Diskusi Sesi 3

Beberapa pertanyaan pada sesi diskusi:

  1. Bagaiman sistem koordinasi PPKK dalam satu regional sehingga semua kebutuhan daerah dipenuhi oleh PPKK regional?
  2. Apa tantangan PPKK yang sudah melakukan pelatihan untuk SDM di daerah?
  3. Apa perbedaan krisis kesehatan dan bencana?

Memang sistem regional dalam pusat penanggulangan krisis akan dilakukan evaluasi kembali bagaimana efektivitasnya dan kondisinya selama ini. Memang harusnya regional yang bertanggungjawab dengan daerah-daerah di bawah regionalnya. Ini memang perlu kita kaji lagi bagaiamana sebaiknya.

Iya, tantangannya adalah mutasi yang cepat di daerah. Pindah-pindah SDM kesehatan di daerah menyulitkan monitoring evaluasi pelatihan yang kami berikan.

Ini pertanyaan yang menarik, selama ini bencana adalah bagian dari krisis kesehatan. Namun, dengan paradigma seperti ini, sektor kesehatan agak kesulitan dalam penanganannya yang membutuhkan koordinasi bersama dengan sektor lain. Sehingga ke depannya kita mengupayakan meluruskan persepsi bahwa krisis kesehatan salah satunya disebabkan oleh bencana sehingga penanganan bencana harus memperhatikan penanganan dampak krisis kesehatan yang ditimbulkannya juga.

Kegiatan seminar ini kemudian ditutup oleh dr.Bella Donna. Dan diakhir kegiatan kembali beliau mengingatkan bahwa aka nada tahap tiga pasca seminar ini untuk kita bersama-sama merekomendasikan kebijakan yang terkait mengenai kesehatan ibu dan anak serta peningkatan risiko bencan yang mempengarhi capaian target kesehatan masyarakat.

Reportase Sesi 2 ASM 2015

Dok. PKMK: Sesi 2

Reportase Sesi 2

Seminar Kaitan Peningkatan Risiko Bencana dengan Pencapaian MDGs

Senin, 16 Maret 2015 || Ruang Senat lantai 2 Gedung KPTU Fakultas Kedokteran UGM


 Dok. PKMK: Sesi 2

dr. Nandy Wilasto peneliti dari Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan FK UGM sebagai moderator sesi 2 ini.

Pembicara pertama, Prof. Tjandra Yoga Aditama menyampaikan pengantar mengenai Nawacita sebagai dasar politik Indonesia saat ini. dalam lima tahun ke depan pemerintah sudah mengupayakan untuk kesehatan yang tercermin dalam nawacita 5 disusul nawacita 3 dan 6. Dimana posisi dampak perubahan iklim mempengaruhi semuanya.

Litbangkes sudah pernah melakukan penelitian yang terkait mengenai perubahan iklim dan kesehatan, diantaranya pada tahun 2012 dimana penelitian untuk melihat wawasan pemerintah terhadap perubahan iklim. Pencatatan data kesehatan juga masih buruk, padahal adanya dampak perubahan iklim kita harus siaga dengan data yang kuat sehingga mudah untuk melakukan prediksi untuk kesiapsiagaan. Hasil ini merekomendasikan surveilans sistem yang baik ke depannya.

Banyak dampak kesehatan secara nyata akibat perubahan iklim seperti kejadian deman berdarah, diare, dan gizi buruk. Ini semua meningkatkan beban ganda Indonesia dalam menyelesaikan masalah kesehatan.

Penelitian pernah dilakukan di Manado dan juga DIY. Curah hujan jelas ada hubungannya dengan peningkatan kasus DBD. Semua ini dapat dijelaskan dengan pola statistik, data inilah harapannya yang dapat diterjemahkan untuk melakukan tindakan mitigasi dalam kesiapsiagaan penanggulangan  bencana dan krisis kesehatan.

 
Dok. PKMK: (dari kiri) dr. Nirmal kandel, Prof. Tjandra Yoga Aditama, dan dr. Nandy Wilasto

Pembicara kedua dari WHO CC, dr. Nirmal Kandel. Beliau telah dua kali hadir dalam kegiatan seminar kebencanaan yang diselenggarakan oleh FK UGM. Dalam paparannya dr.Nirmal menekankan mengenai pola dan dampak perubahan iklim yang secara langsung dan tidak langsung mempengaruhi kesehatan dan berdampak untuk meningkatkan krisis kesehatan.

Dampak kesehatan yang jelas dirasakan adalah meningkatnya kejadian penyakit menular dengan cepat, adanya dampak kesehatan dan kematian akibat peningkatan kejadian bencana alam, dan juga mengenai pencemaran udara yang mempengaruhi kesehatan masyarakat. Kerentanan masyarakat semakin melemah jika ia berada pada kelompok miskin di negara berkembang.

Yang dibutuhkan adalah penguatan sistem kesehatan dan ekonomi. Upaya kesiapsiagaan dan perenanaan yang baik dibutuhkan dalam menghadapi beban ganda seperti ini. Sektor kesehatan harus memperkuat dirinya.

 Dok. PKMK: Prof. Hari KusnantoPembahas pada sesi ini adalah Prof. Hari Kusnanto dari Ilmu Kesehatan Masyarakat FK UGM. Pembahas melakukan bahasan pada dua materi yang disampaikan. Dukungan beliau terkait penelitian sebelumnya yang disampaikan pemateri. Ditambahkan bahwa dengan menggunakan pola iklim dan kejadian DB di negara lain kita dapat memprediksi kejadian DB di negara kita. yang jelas ada pola hubungannya adalah dari Google analitik antara kejadian DB di India dengan Indonesia. Kejadian DB di Indonesia selalu didahului oleh kejadian DB di India.

Bagaimana mengatasi ini semua? Tidak ada yang bisa kita lakukan selain siaga dengan upaya mitigasi. Di kesehatan masyarakat kita mengenal adanya tingkatan pencegahan penyakit, maka dalam menghadapi krisis kesehatan dampak perubahan iklim juga seperti itu.

 
 sesi2-pertanyaan

Beberapa pertanyaan pada sesi diskusi:

  1. Siapa yang mengkoordinasikan penanggulangan dampak perubahan iklim?
  2. Kematian suku anak dalam, apakah ada kaitannya dengan perubahan iklim ini?
  3. Adakah dampak perubahan iklim terhadap penyakit neurologi?
  4. Bagaimana kita menggunakan data penelitian ini untuk advokasi kebijakan?

Jawaban oleh Prof. Tjandra bahwa ditingkat nasional kita memiliki BNPB sebagai koordinator dalam penanggulangan bencana dan ada juga dewan perubahan iklim nasional yang mengurusi mengenai dampak perubahan iklim. Nah biasanya kebijakan ditingkat atas bersifat umum maka supaya cepat seluruh masyarakat harus berperan serta terutama yang melaksanakan teknisnya dilapangan.

Masalah kematian anak suku dalam, banyak faktornya, tidak bisa kita katakana karena perubahan iklim saja, bisa jadi itu karena pembabatan hutan. Yang jelas jika perubahan iklim pada beberapa negara telah mengganggu sistem pertanian dan ini yang meningkatkan kejadian kelaparan dan malnutrisi.

Kaitan dengan neurologi ada juga. Perubahan iklim juga berdampak tidak langsung dengan tingkatan stress masyarakat, kemiskinan, dan juga masalah psikososial.

Penggunaan data perubahan iklim terhadap penyakit ini dapat dianalogikan seperti efek Dewi Kasandra yang dikutuk setiap pembicaraannya tidak akan dipercaya. Sama halnya dengan data-data dampak perubahan iklim terhadap lingkungan dan kesehatan. Seolah-olah perubahan iklim adalah fenomena natural yang terjadi sejak dulu. Lagi pula ketika berbicara pengurangan emisi gas maka kepentingan yang terlibat banyak sekali salah satunya adalah negara berkembang dan industri. Untuk itulah dibutuhkan upaya advokasi dari kita bersama seperti pada pertemuan ini untuk kerap mengangkat isu perubahan iklim dan kesehatan ditingkat ilmiah dan dirumuskan sebagai rekomendasi kebijakan untuk sektor kesehatan.


Reportase Sesi 1 ASM 2015

Dok. PKMK: Pemateri sesi 1 (dari kiri) pembahas, pembicara 2, moderator, dan pembicara 1

Reportase Sesi 1

Seminar Kaitan Peningkatan Risiko Bencana dengan Pencapaian MDGs

Senin, 16 Maret 2015 || Ruang Senat lantai 2 Gedung KPTU Fakultas Kedokteran UGM


Dok. PKMK: Pemateri sesi 1 (dari kiri) pembahas, pembicara 2, moderator, dan pembicara 1

dr. Bella Donna merupakan kepala Divisi Manajemen Bencana Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan FK UGM. Beliau telah lama berkecimpung dalam kebencanaan sektor kesehatan. Dalam seminar kali ini, beliau menjadi moderator untuk sesi 1 dengan topik Dampak Peningkatan Risiko Bencana terhadap Pencapaian MDGs 4 dan 5.

sesi1-dr.-Inni-Hikmatin

dr. Inni Hikmatin dari Dinas Kesehatan DIY menceritakan pengalamannya pada saat bencana Bantul tahun 2006. Pada saat itu Dinkes belum memiliki pengalaman dalam penangprgulangan bencana. Semua panik. Namun, disanalah pembelajaran di dapat bahwa standar dan SOP itu harus ada untuk mengatasi kepanikan dan kekacauan ini pada saat bencana.

Masalah kesehatan reproduksi pada saat bencana tidak dapat ditangani oleh dinkes sendiri. Penanganannya harus terintegrasi dan direncanakan jauh sebelum kejadian bencana. Namun, pengalaman kejadian Merapi ternyata juga susah untuk memisahkan pengungsian ibu dan anak dengan laki-laki. Apalagi masalah pendistribusian bantuan makanan yang harusnya ibu, anak, dan lansia tidak mendapat jatah bantuan makanan yang sama dengan laki-laki.
Kasus-kasus ibu hamil yang stress, ibu yang kemudian mengganti ASI dengan bantuan susu formula, serta wabah diare pada anak dan bayi karena kurangnya akses air bersih menjadi pemberat dalam meningkatkan angka kesakitan dan kematian ibu dan anak pada saat bencana. Sampai saat ini pedoman yang dibuat oleh kemenkes cukup relevan untuk diterapkan tetapi yang menjadi masukan adalah bagaimana hal ini dapat terdistribusi dengan baik ke pelaksana teknis dilapangan pada saat bencana.

Dok. PKMK: dr. Sari Mutia Timur

Pembicara kedua, dr. Sari Mutia Timur merupakan perwakilan dari YEU atau YAKKUM Emergency Unit yang telah lama kite ketahui kiprahnya dalam kemanusiaan dan bencana. dr. Sari menyampaikan temuannya di lapangan mengenai data-data korban bencana. Hasilnya begitu menguatkan bahwa anak perempuan, ibu, bayi, dan lansia merupakan kelompok rentang yang paling banyak menjadi korban dalam bencana.

Banyak penyebab yang menjadikan kelompok ini rentan, satu yang menjadi sorotan adalah adanya keterbatasan akses informasi ke mereka. Selain itu, mereka rentan menjadi korban pelecehan dan kekerasan pasca bencana oleh laki-laki.

Seorang ibu meman menghadapi beban ganda pada saat bencana. Dimana seorang ibu juga mengalami goncangan bencana untuk dirinya sendiri, masih harus mengurusi anak dan bayinya, ditambah lagi dengan pemenuhan kebutuhan psikologis dia dan suaminya. Hal –hal ini yang harus mau tidak mau kita perhatikan jika tidak ingin kondisi bencana dan krisis kesehatan mempengaruhi pencapaian target kesehatan masyarakat.

Pembahas pada sesi ini adalah mantan Kepala Dinas Kesehatan Bantul yang disebutkan pengalamannya bersama dengan dr. Inni dalam bencana Bantul tahun 2006. Point utama pembahasan beliau kepada pembicara adalah adakah sudah wawasan mengenai peningkatan risiko bencan ini dalam pencapaian target kesehatan masyarakat. Beliau memulai dengan menampilkan dasar-dasar hukum yang mendasari pentingnya penanganan bencana dan krisis kesehatan serta penyelamatan ibu dan anak. Selanjutnya beliau membahas mengenai bagaimana layanan kesehatan masyarakat tetap berjalan meskipun terjadi bencana? yakni dengan pencatatan yang baik sehingga perencanaan ibu melahirkan dan kesakitan anak dapat diupayakan semaksimal mungkin pada saat bencana terjadi meskipun layanan kesehatan kollaps untuk sementara pada saat bencana. Beliau mengomentari belum konkritnya strategi dinkes dalam hal rumusan penanganan ibu dan anak pada saat bencana pasca MDGs. Sedangkan untuk LSM beliau mengomentari mengenai pencatatan dan masukan data untuk pemerintah mengenai angka-angka korban ibu dan anak pada saat bencana.

sesi1-pertanyaan
Beberapa pertanyaan pada sesi diskusi

  1. Apakah buku pedoman penanganan bencana yang dimaksud oleh pembicara sudah pernah diujikan keoperasionalannya?
  2. Apakah latihan bencana untuk kesehatan reproduksi ini sering dilatihkan?
  3. Bagaimana masalah bentuan susu formula bagi pengungsi?
  4. Bagaimana mengenai istilah “tenda biru” dan “bilik asmara” untuk berhubungan suami istri pada saat pengungsia. Relawan luar negeri menganggap ini hal yang tidak perlu kita perhatikan, bagaimana di Indonesia?

Pertanyaan dijawab secara merata oleh pembicara dan pembahas pada sesi 1 ini. Masalah pengujian pasti sudah melalui tahap pengujian untuk mengeluarkan sebuah pedoman, tetapi jika akademisi mau meneliti barangkali bisa juga dilakukan. Masalah latihan bencana itu kerap dilaukan tetapi secara umum memang, yang khusus untuk masalah kesehatan reproduksi memang belum banyak. Saat ini yang penting sebenarnya justru layanan kesehatan seperti rumah sakit dan puksesmas yang harus sering latihan bencana, kalau sekolah dan masyarakat sudah sering.

Malasah bantuan susu formula memang menjadi masalah selama ini. Namun, sudah ada aturannya tidak boleh bantuan susu formula karena ini akan bertentangan dengan kebijakan ASI Ekslusif minimal 6 bulan. Kejadian bantuan susu formula, dalam penelitian memang meningkatkan kajadian kesakitan diare untuk itu sudah saatnya tidak ada lagi bantuan susu formula untuk bayi dan ibu pada saat bencana.

Ini menarik sekali. Wajar jika relawan luar negeri menganggap masalah seksual merupakan masalah individual pengungsi. Namun, yang perlu kite perhatikan bahwa pengungsian yang terjadi di luar negeri jarang sekali yang terjadi lama dan bekepanjangan seperti di Indonesia, sehingga masalah seksual tidak begitu mereka perhatikan. Namun bagaiman jika pengungsian yang mengungsi sampai berbulan-bulan, maka penyediaan fasilitas berhubungan seksual yang aman butuh kita siapkan, misalnya seperti yang kita kenal dengan tenda biru dan bilik asmara.


Reportase Pembukaan ASM 2015

pembukaan

Reportase Pembukaan

Seminar Kaitan Peningkatan Risiko Bencana dengan Pencapaian MDGs

Senin, 16 Maret 2015


 pembukaan

Seminar ini diselenggarakan dalam rangkaian kegiatan Annual Scientific Meeting FK UGM yang langsungkan rutin antara Februari – Maret setiap tahunnya. Kali ini Pokja Bencana FK UGM kembali terlibat dengan mengusung tema yang sama dengan ASM Pusat, yakni Pencapaian MDGs.

Topik seminar kali ini mengenai Kaitan Peningkatan Risiko Bencana dengan Pencapaian MDGs, khususnya MDGs 4 dan 5 yang berhubungan langsung dengan kesehatan. Seminar ini dibagi menjadi tiga sesi; sesi pertama membahas mengenai pencapaian MDGs 4 dan 5 yang kemungkinan dipengaruhi oleh peningkatan risiko bencana, khususnya mengenai angka kematian ibu dan bayi serta kelompok rentan lainnya. Sesi kedua membahas mengenai bukti penelitian mengenai dampak perubahan iklim dengan kejadian kesakitan dimasyarakat. Serta, sesi ketiga mengenai peran kita bersama untuk penguatan sektor kesehatan dalam menghadapi bencana dan mencapai target pasca MDGs.

Dalam sambutannya, dr. Handoyo menghimbau seluruh peserta untuk dapat terlibat aktif dalam seminar hari ini karena hasil seminar ini akan dibawa pada tahap selanjutnya yakni perumusan rekomendasi kebijakan. Di tahap dua atau seminar ini diharapkan sekali masukan, cerita kasus dilapangan, dan penelitian yang dilakukan peserta yang barangkali belum terpublikasi dapat menjadi masukan untuk tahap selanjutnya.

Dekan FK UGM menyampaikan bahwa wawasan mitigasi merupakan hal yang sangat penting dalam menghadapi situasi bencana dan krisis kesehatan seperti saat ini. Apa yang telah dikerjakan oleh pokja bencana dan PKMK melalui Divisi Manajemen Bencana dan juga rumah sakit serta dinas kesehatan di DIY merupakan langkah-langkah konkrit dalam mitigasi bencana.

Kesadaran ini harus dipertahankan selalu. Apalagi jika kita bersama-sama mampu untuk mengurangi risiko bencana bagi kelompok rentan yang kita bahas pada hari ini. diakhir sambutan dan pembukaannya, Dekan FK UGM menyampaikan harapannya pada policy brief atau rekomendasi yang akan dirumuskan nanti dapat dimanfaatkan dengan baik oleh seluruh peserta yang terlibat sehingga menjadi rumusan yang tepat bagi pengambil keputusan nantinya.

Dok.PKMK: Peserta Seminar ASM Pokja Bencana


Pengantar reportase: Rangkaian Annual Scientific Meeting (ASM) 2015

asm-pokja-bencana

Pengantar reportase:

Rangkaian Annual Scientific Meeting (ASM) 2015:
Kaitan Peningkatan Resiko Bencana dengan Peningkatan MDGs

 asm-pokja-bencana

Seminar ASM Kaitan Peningkatan Resiko Bencana dengan Peningkatan MDGs yang digelar Pokja Bencana pada Senin (16/3/2015) mengupas sejumlah hal penting. Beberapa diantaranya, pertama, kebutuhan reproduksi suami istri harus dapat diakomodasi pihak yang berwenang, misalnya melalui “bilik asmara”. Kedua, faktanya dari sejumlah korban bencana, sebagian besar adalah anak-anak dan perempuan. Ketiga, preparedness sangat dibutuhkan dalam penanganan bencana. Simak lebih jauh melalui reportase berikut ini:

TAHAP 2: SEMINAR TATAP MUKA

pdf

TAHAP 2: SEMINAR TATAP MUKA

Senin, 16 Maret 2015
Ruang Senat KPTU Lantai 2 Fakultas kedokteran UGM
Pukul 08.00-15.30 WIB

Waktu

Kegiatan

08.00 – 08.30

Registrasi

08.30- 08.40

Pembacaan Safety Briefing

08.40 – 09.00

Pembukaan

  1. Sambutan oleh Ketua Pokja Bencana FK UGM, dr. Handoyo Pramusinto, Sp.BS
  2. Sambutan dan Pembukaan oleh Dekan Fakultas Kedokteran: Prof. DR. dr. Teguh Aryandono, Sp.B(K)Onk

09.00– 09.10

Tea Break

 

Sesi 1: Dampak peningkatan risiko bencana terhadap pencapaian MDGs 4 dan 5

Pembicara 1: Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Provinsi DIY: drg. Inni Hikmatin M.Kes

pdf Materi

Pembicara 2: NGO- Yakkum Emergency Unit, Bagian Kesehatan Reproduksi pada saat bencana : dr. Sari Mutia Timur

pdf Materi

Pembahas : dr.Sitti Noor Zaenab, M.Kes

pdf Materi

Diskusi

Moderator: dr. Bella Donna, M.Kes

10.30-10.50

10.50-11.10

11.10-11.30

11.30-11.50

Sesi 2: Dampak perubahan iklim terhadap peningkatan risiko bencana dan angka kesakitan di Indonesia

Pembicara 1: Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI : Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P(K), MARS, DTM &H, DTCE

pdf Materi

Pembicara 2: WHO   Indonesia : Dr. Nirmal Kandell, MBBS, MA (Anthropology), MPH

pdf Materi

Pembahas: Prof. dr. Hari Kusnanto, Dr.PH

diskusi

Moderator: dr.Nandy Wilasto, MSc.IH

11.50- 13.30

ISHOMA

13.30-13.50

13.50-14.10

14.10-14.30

14.30-14.50

Sesi 3: Penguatan peran sektor kesehatan dalam menghadapi risiko bencana pasca MDGs

Pembicara 1: Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI: dr. Ina Agustirini

pdf Materi

Pembicara 2: Ketua Pokja Bencana Fakultas Kedokteran UGM: dr. Handoyo Pramusinto, Sp.BS

pdf Materi

Pembahas: Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, Ph.D

pdf Materi

Diskusi
Moderator: dr. Hendro Wartatmo, SpB, KBD

14.50-15.10

Kesimpulan dan Penutupan

Pra Seminar : Kaitan Peningkatan Risiko Bencana dengan Pencapaian MDGs

Pra Seminar :

Kaitan Peningkatan Risiko Bencana dengan Pencapaian MDGs


Yang saya hormati Bapak dan Ibu Narasumber, Pembahas, Moderator, dan Peserta Kegiatan Seminar Kaitan Peningkatan Resiko Bencana dengan Pencapaian MDGs

Dalam rangkaian Annual Scientific Meeting FK UGM, Senin, 16 Maret 2015, Pokja Bencana FK UGM Bekerjasama dengan Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK UGM mengadakan seminar bencana dengan Topik “Kaitan Peningkatan Risiko Bencana dengan Pencapaian MDGs”

Bapak dan Ibu, Forum Diskusi Pra-Seminar melalui email ini ditujukan untuk  menyamakan pemahaman diantara penyelenggara, narasumber, pembahas, dan peserta yang terlibat mengenai topik dan materi seminar ini.

Gambaran menyeluruh mengenai kegiatan ini terlampir pada TOR Blended Advokasi berikut sebagai acuan bagi kita bersama mengenai rangkaian kegiatan seminar ini yang terbagi menjadi tiga tahap:

Tahap 1: Pra Seminar: Perumusan Tujuan Bersama

Tahap 2: Kegiatan Seminar

Tahap 3: Pasca seminar: Publikasi, advokasi, dan rencana tindak lanjut

Tujuannya adalah agar kegiatan seminar dapat menjadi dasar pijakan kita bersama untuk memberikan rekomendasi

Forum ini dilakukan hingga menjelang Senin, 16 Maret 2015, merupakan rangkaian kegiatan Tahap 1: Pra seminar: Perumusan Tujuan Bersama. Dilakukan melalui email grup. 

Bapak dan Ibu sekalian, kita mulai diskusi ini dengan mengingatkan tujuan seminar ini adalah:

  1. Terbentuknya pemahaman mengenai peningkatan risiko bencana dan dampaknya pada pencapaian target kesehatan di Indonesia terutama pada pencapaian MDGs 4 dan 5 (Ibu dan Anak yang merupakan populasi rentan bencana).
  2. Terbentuknya pemahaman mengenai pentingnya masalah kesehatan reproduksi pada saat situasi bencana
  3. Terbentuknya pemahaman berdasarkan bukti penelitian mengenai dampak perubahan iklim dengan kejadian bencana dan peningkatan kasus penyakit di masyarakat.
  4. Terbentuknya pemahaman mengenai penguatan peran sektor kesehatan dalam menghadapi peningkatan risiko bencana untuk pencapaian target kesehatan pasca MDGs

 

Seminar ini akan terbagi dalam tiga sesi:

Sesi 1: Dampak peningkatan risiko bencana terhadap pencapaian MDGs 4 dan 5

Sesi pertama ini penyelenggara ingin narasumber pertama menyampaikan mengenai pencapaian MDGs 4 dan 5 serta target yang harus dicapai pasca MDGs. Selain itu, pembicara diharapkan juga dapat menyampaikan analisisnya mengenai faktor dan penyebab angka capaian MDGs 4 dan 5 juga hal-hal yang mungkin berkaitan dengan kesehatan ibu dan anak pada beberapa bencana besar di Indonesia dalam beberapa tahun ini.

Masih di sesi pertama, penyelenggara ingin narasumber kedua menyampaikan mengenai temuan angka kesakitan dan kematian ibu dan anak pada saat bencana. Narasumber 2 dapat menyampaikan data yang ditemukan di lapangan, juga kasus yang ditemukan pada saat penanganan bencana. selain itu, mengingat fokus narasumber kedua mengenai kesehatan reproduksi, maka diharapkan narasumber ke dua dapat menyampaikan ulasannya mengenai pentingnya kesehatan reproduksi dalam kebencanaan. Hal ini dapat menjawab pertanyaan banyak peserta mengenai mengapa penting ada sub kluster kesehatan reproduksi dalam manajemen bencana kesehatan.

Sesi 2: Dampak perubahan iklim terhadap peningkatan risiko bencana dan angka kesakitan di Indonesia

Disesi kedua ini, narasumber pertama diharapkan dapat menyampaikan mengenai hasil penelitian perubahan iklim dan kesehatan yang dilakukan di Indonesia. Hasil penelitian ini harapannya dapat memberikan masukan dan membuka pandangan bahwa memang perubahan iklim sudah dirasakan baik secara langsung dan tidak sudah berpengaruh pada angka kesakitan di Indonesia.

Masih di sesi kedua, narasumber kedua diharapkan dapat menyampaikan mengenai hasil penelitian perubahan iklim dan kesehatan yang dilakukan dikawasan Asia Tenggara. Bisa juga menyampaikan mengenai surveilans penyakit di Indonesia maupun kawasan regional Asia Tenggara.

Sesi 3: Penguatan peran sektor kesehatan dalam menghadapi risiko bencana pasca MDGs

Disesi ketiga ini, penyelenggara mengharapkan narasumber pertama dapat mengulas hasil bahasan sesi 1 dan 2 yang dikaitkan dengan materi mengenai peran sektor kesehatan dalam penanggulangan krisis kesehatan dan bencana yang terjadi selama ini. Narasumber pertama menyampaikan kegiatan dan program yang sudah dilakukan berserta tantangannya serta memberikan rekomendasi untuk perbaikan selanjutnya. Akan lebih baik baik, jika narasumber pertama di sesi ketiga ini dapat menghimbau peserta yang menjadi target untuk dapat membangun komitmen bersama untuk penguatan sektor kesehatan dalam menghadapi risiko bencana ke depannya.

Narasumber kedua pada sesi ketiga ini, oleh penyelenggara diharapkan juga dapat mengulas kembali masalah atau bahasan pada sesi 1 dan 2 sehingga dapat merekomendasikan peran perguruan tinggi dan akademisi kesehatan dalam bersinergi dengan pemerintah untuk penguatan sektor kesehatan dalam menghadapi risiko bencana.

Bapak ibu sekalian, kami harapkan peran aktifnya dalam memberikan masukan dan berdiskusi dalam Forum Pra-Seminar ini. Seluruh aktivitas dalam forum ini akan kami dokumentasi sebagai bahan diskusi dan perumusan rekomendasi ke depannya.

Peserta yang kemudian ingin bergabung dalam pra seminar ini dapat mengirim konfirmasi ke email [email protected] dengan subjek Tahap 1 Pra Seminar.