Pre conference: A Framework of Global Health Functions (GPHF) and Competencies

Oleh: dr. Bella Donna, M. Kes

14wcph-1

Pada konferensi ini penulis berkesempatan untuk mengikuti satu sesi dengan topik A Framework of Global Health Functions (GPHF) and Competencies yang digelar pada Rabu (11/2/2015) di Kolkata, India. Sesi ini menghadirkan sejumlah narasumber terkemuka di bidang kesehatan masyarakat, yaitu:

  1. Prof. Vesna Bjegovic-Mikanovic, ASPHER
  2. Prof Karl Ekdahl, ECDC
  3. Prof. Anders Foldspang, ASPHER
  4. Prof Ulrich Laaser, WFPHA
  5. Dr Dennis Lennaway, CDC
  6. Dr Ehud Miron, Israel
  7. Dr Joanna Nurse, Inggris Raya
  8. Prof. Pekka Puska, Finlandia
  9. Dr. Priscilla Robinson, Australia
  10. Prof. Louise Stjernberg, Swedia
  11. Prof Heather Yeatman, Australia

Dr. Joana memaparkan isu tentang A Global Framework for Public Health Services and Functions. Ada tiga dasar pemikiran kerangka kesehatan global yaitu Changing Public Health Challenges and risks, Demand and costs for health systems are projected to continue increasing, dan Potential to benefit low income as well as middle and high income countries. Berdasarkan tiga alasan tersebut The World Federation of Public Health Associations diminta oleh WHO untuk menjawab semua tantangan dan ancaman kesehatan masyarakat global.

Materi Dr. Joana

World Federation of Public Health Association (WFPHA) mulai mengindentifikasi angka kematian dari tahun 1990-2010, faktanya ada pergeseran pola penyakit, dari comunnicable disease menjadi non-communicable disease. Dr. Joana mengungkapkan permasalahan kesehatan masyarakat mulai dari NCD mengancam pencapaian MDGs pasca 2015, Kesenjangan dana yang signifikan untuk mencapai UHC di negara berpenghasilan rendah, kasus Ebola, dan lain-lain. Untuk menjawab tantangan dan ancaman kesehatan masyarakat global WFPHA berdiskusi dengan beberapa organisasi kesehatan didunia diantaranya WHO, UNICEF, World Bank, American Association of Public Health, dan pada konferensi USA, Eropa. Dari hasil diskusi dihasilkan tujuh unsur penting yaitu governance, information, protection, prevention, promotion, advocacy, dan capacity.

14wcph-2

Permasalahan kesehatan global tidak hanya pada fungsi tetapi juga kompetensi yang dimiliki oleh tenaga kesehatan masyarakat. Faktanya saat ini program magister kesehatan masyarakat belum mempunyai kemampuan yang spesifik karena ilmu pendidikan s1 kesehatan masyarakat dipelajari kembali di magister kesehatan masyarakat. Padahal WHO mempunya list kompetensi yang harus dimiliki oleh tenaga atau ahli kesehatan masyarakat. Prof. Anders Foldspang Co-chair, European Competences Programme merekomendasikan untuk mengunjungi website www.aspher.org.

Materi Prof. Anders Foldspang

14wcph-3

Prof. Louise Stjernberg dari Swedia juga menjelaskan isu tentang kompetensi program sarjana kesehatan masyarakat. Dalam presentasinya, Louise mengungkapkan fakta tentang kompleksitas program kesehatan masyarakat. Sebuah studi yang dilakukan di tahun 2011 di sekolah ASPHER, sebesar 23/25 (92%) ECTS credit points adalah hal yang sangat kompleks. Perbedaan kompetensi yang dimiliki oleh berbagai negara terkait dengan kualiatas pendidikan, multi disiplin ilmu, lama pendidikan, dan kompetensi yang diharapkan menjadi tantangan ahli kesehatan masyarakat global.

Materi Prof. Louise

Tiga delegasi Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK UGM juga mengikuti opening ceremony for 14th World Congress on Public Health yang dimulai pukul 16.00-18.00 waktu setempat. Dr Madhumita Dobe menjadi pembuka opening ceremony yang merupakan sekretariat organizing. Semua peserta yang peduli dengan masalah kesehatan masyarakat global berkumpul di ruang auditorium Science City. Kegiatan ini membuka konferensi yang akan diselenggarakan pada 12 hingga 15 Februari 2015.

ASM FK UGM 2015

asm-banner-16

asm-banner-16

Dalam rangka Annual Scientific meeting (ASM) Fakultas Kedokteran 2015
Kelompok Kerja (Pokja) Bencana FK  UGM bekerjasama dengan Divisi Manajemen Bencana Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan FK UGM Menyelenggarakan seminar mengenai:

Kaitan Peningkatan Risiko Bencana dengan Pencapaian MDGs

Senin, 16 Maret 2015
Gedung Senat Lantai 2 KPTU Fakultas Kedokteran UGM

 

Latar Belakang

Berbicara mengenai Milenium Development Goals (MDGs) maka masing-masing bidang yang dirumuskan dalam MDGs akan menemui fokusnya masing-masing seperti pendidikan, malaria, ekonomi, lingkungan, dan kesehatan misalnya. Namun, pertanyaannya dimanakah peran dan perhatian terhadap risiko bencana yang terus meningkat diseluruh dunia terhadap pencapaian MDGs saat ini dan sudahkan masuk dalam agenda pembahasan pasca MDGs mendatang?

Peningkatan ancaman bencana saat ini tidak saja karena alam, tetapi juga wabah penyakit, bioterorisme, konflik, kecelakaan transportasi, dan sosial. Dampak perubahan iklim misalnya, tidak saja meningkatkan kejadian bencana hidrometeorologi tetapi juga kaitannya dengan penyakit dan kesehatan lingkungan. Upaya menghadapi ancaman bencana ini adalah dengan meningkatkan kapasitas baik lingkungan dan sumberdaya manusia. Terutama bagaimana melindungi populasi rentan (anak, perempuan, dan lansia) baik pada sebelum, saat, dan sesudah bencana.

Fokus perlindungan bencana dan pencapaian MDGs bertemu pada satu titik yaitu perlindungan pada populasi rentan. Hal ini tersirat dalam MDGs 4 mengenai pengurangan angka kematian bayi dan MDGs 5 mengenai peningkatan kesehatan ibu.

Saat ini, Indonesia melalui BNPB yang bekerjasama dengan beberapa kementerian dan LSM sedang membangun pendekatan kluster dalam penanggulangan bencana. Ada 8 kluster yang dibentuk yaitu kluster kesehatan, kluser pencarian dan penyelamatan, kluster logistik, kluster pengungsian dan perlindungan, kluster pendidikan, kluster sarana dan prasarana, dan kluster pemulihan dan kepemerintahan. Kepala Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan, Kementerian Kesehatan menjadi koordinator untuk kluster kesehatan.

Dalam Kluster kesehatan ini disusunlah 10 sub sistem: sub sistem pelayanan kesehatan, pengendalian penyakit, penyehatan lingkungan, air bersih dan sanitasi, pelayanan kesehatan gizi, pengelolaan obat bencana, kesehatan reproduksi dalam situasi bencana, penanganan kesehatan jiwa, penatalaksanaan korban mati, dan pengelolaan informasi bidang kesehatan. Dari semua sub sistem kluster kesehatan yang terbentuk maka sub sistem kesehatan reproduksi dalam situasi bencanalah yang paling banyak mendapat pertanyaan, mengapa sub sistem ini menjadi penting dibuat?  Apakah ada pengaruhnya dengan perlindungan populasi rentan atau terhadap pencapaian MDGs 4 dan 5 pada saat bencana?

Saat ini, kejadian bencana bukanlah sesuatu yang terjadi dengan apa adanya dan manusia sebagai korban tidak bisa berbuat apa-apa. Bencana memang sesuatu peristiwa yang tidak dapat ditangguhkan tetapi saat ini kita dapat meningkatkan kapasitas masyarakat dan pemerintah. Misalnya, dengan membuat rencana kontijensi bencana sektor kesehatan maka salah satu bidang seperti layanan kesehatan ibu dan anak pada saat bencana tetap dapat berjalan seperti biasanya, sehingga dapat menghindari kematian ibu dan anak pada saat bencana.

Melalui rangkaian kegiatan Annual Scientific Meeting Fakultas Kedokteran UGM tahun 2015 yang bertemakan “Menutup Kesenjangan MDGs dan Agenda Pasca MDGs”, maka Pokja Bencana FK UGM bekerjasama dengan Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM bermaksud menyelenggarakan seminar yang berjudul “Kaitan Peningkatan Risiko Bencana dengan Pencapaian MDGs”. Melalui seminar sehari ini, kita akan membahas mengenai data peningkatan risiko bencana dengan kejadian penyakit terutama pada populasi rentan dan bagaimana hubungannya dengan pencapaian MDGs 4 dan 5, perlindungan kesehatan populasi rentan pada saat bencana, serta bagaimana penguatan sektor kesehatan menghadapi bencana pasca MDGs ini.

Tujuan kegiatan

  1. Terbentuknya pemahaman mengenai peningkatan risiko bencana dan dampaknya pada pencapaian target kesehatan di Indonesia, diantaranya pencapaian MDGs 4 dan 5.
  2. Terbentuknya pemahaman mengenai perlunya kesehatan reproduksi pada saat situasi bencana.
  3. Terbentuknya pemahaman berdasarkan bukti penelitian mengenai dampak perubahan iklim dengan kajadian bencana dan peningkatan kasus penyakit di masyarakat.
  4. Terbentuknya pemahaman mengenai penguatan peran sektor kesehatan dalam menghadapi peningkatan risiko bencana untuk pencapaian target kesehatan pasca MDGs

archive-iconTopik Materi Seminar

  1. Dampak peningkatan risiko bencana terhadap pencapaian MDGs 4 dan 5
  2. Dampak perubahan iklim terhadap peningkatan risiko bencana dan angka kesakitan di Indonesia
  3. Penguatan peran sektor kesehatan dalam menghadapi risiko bencana pasca MDGs

Tempat, Waktu, dan Jadwal Kegiatan

Blended advokasi dilaksanakan sejak februari-mei 2015 yang terbagi menjadi tiga tahap sebagai berikut:

TAHAP 1: Pra Kegiatan Advokasi Tatap Muka

Kegiatan

Jadwal

Penanggungjawab

Pra seminar dengan stakeholder melalui milist dengan melibatkan narasumber, pembahas dan moderator

5 Maret-15 Maret 2015

Oktomi Wijaya

TAHAP 2: SEMINAR TATAP MUKA

Senin, 16 Maret 2015
Ruang Senat KPTU Lantai 2 Fakultas kedokteran UGM
Pukul 08.00-15.30 WIB

Waktu

Kegiatan

08.00 – 08.30

Registrasi

08.30- 08.40

Pembacaan Safety Briefing

08.40 – 09.00

Pembukaan

  1. Sambutan oleh Ketua Pokja Bencana FK UGM, dr. Handoyo Pramusinto, Sp.BS
  2. Sambutan dan Pembukaan oleh Dekan Fakultas Kedokteran: Prof. DR. dr. Teguh Aryandono, Sp.B(K)Onk

09.00– 09.10

Tea Break

 

Sesi 1: Dampak peningkatan risiko bencana terhadap pencapaian MDGs 4 dan 5

Pembicara 1: Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Provinsi DIY: drg. Inni Hikmatin M.Kes

pdf Materi

Pembicara 2: NGO- Yakkum Emergency Unit, Bagian Kesehatan Reproduksi pada saat bencana : dr. Sari Mutia Timur

pdf Materi

Pembahas : dr.Sitti Noor Zaenab, M.Kes

pdf Materi

Diskusi

Moderator: dr. Bella Donna, M.Kes

10.30-10.50

10.50-11.10

11.10-11.30

11.30-11.50

Sesi 2: Dampak perubahan iklim terhadap peningkatan risiko bencana dan angka kesakitan di Indonesia

Pembicara 1: Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI : Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P(K), MARS, DTM &H, DTCE

pdf Materi

Pembicara 2: WHO   Indonesia : Dr. Nirmal Kandell, MBBS, MA (Anthropology), MPH

pdf Materi

Pembahas: Prof. dr. Hari Kusnanto, Dr.PH

diskusi

Moderator: dr.Nandy Wilasto, MSc.IH

11.50- 13.30

ISHOMA

13.30-13.50

13.50-14.10

14.10-14.30

14.30-14.50

Sesi 3: Penguatan peran sektor kesehatan dalam menghadapi risiko bencana pasca MDGs

Pembicara 1: Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI: dr. Ina Agustirini

pdf Materi

Pembicara 2: Ketua Pokja Bencana Fakultas Kedokteran UGM: dr. Handoyo Pramusinto, Sp.BS

pdf Materi

Pembahas: Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, Ph.D

pdf Materi

Diskusi
Moderator: dr. Hendro Wartatmo, SpB, KBD

14.50-15.10

Kesimpulan dan Penutupan

TAHAP 3: Pasca Advokasi Tatap Muka

Kegiatan

Jadwal

Penanggungjawab

Publikasi online hasil seminar melalui web bencana kesehatan dalam bentuk reportase, dokumentasi dan materi seminar.

Maret 2015

Madelina Ariani

Diskusi lanjutan dengan pembicara, pembahas dan fasilitator dengan menggunakan webinar

April 2015

Oktomi Wijaya

Pembuatan policy brief untuk disebarkan kepada stakeholder BNPB, BPBD, PPKK 9 regional, Dinas Kesehatan.

April 2015

Madelina Ariani

community usersSasaran Peserta

Seminar ini mengharapkan kehadiran rekan-rekan dari:

  1. Lingkungan Kementerian Kesehatan
  2. Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan dari 9 Regional
  3. Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten Kota di Indonesia
  4. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), terutama bidang mitigasi, kesiapsiagaan dan kegawatdaruratan
  5. Rumah Sakit, terutama tim penanggulangan bencana di rumah sakit
  6. Fakultas Kedokteran dan Fakultas Ilmu Kesehatan
  7. Mahasiswa S2 dan S3 yang tertarik pada kesehatan, bencana, emergency, ibu dan anak, serta manajemen bencana
  8. Peneliti bidang pencapaian MDGs, manajemen bencana sektor kesehatan, dan perubahan iklim, dan kesehatan global
  9. Pusat studi bencana di Indonesia
  10. LSM yang bergerak pada bidang kemanusiaan, anak, dan ibu.

Target jumlah peserta

Demi kelancaran diskusi maka seminar ini membatasi peserta maksimal 80 orang.

Biaya, Cara pendaftaran dan Pembayaran

  • Biaya pendaftaran peserta Rp. 500.000,00/orang.
    Biaya pendaftaran peserta webinar Rp. 300.000,00/orang
  • Pendaftaran peserta dapat dilakukan online melalui website bencana kesehatan www.bencana-kesehatan.net atau secara offline dengan mengemail ke [email protected].
  • Pembayaran peserta dapat dilakukan dengan cara tunai pada saat kegiatan atau melalui transfer ke rekening panitia:
  • Bank BNI, no.Rek: 0203024192, atas nama: Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM
    (Bukti setor wajib di fax ke +62274 549425/ email ke [email protected])
 Sekretariat:  
 
 

Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM
Gedung IKM Lantai 2 Sayap Utara, Jalan Farmako Sekip Utara, Yogyakarta 55281 Indonesia
Phone/fax: +62 274 549425
Email: [email protected]

Contact person:
Dewi Catur Wulandari
Mobile: +62 818 263653
Email: [email protected]

Oktomi Wijaya
Mobile: +62 813 1484 3515
Email: [email protected]

 

 

Kaitan Peningkatan Risiko Bencana dengan Pencapaian MDGs

asm-banner-16

asm-banner-16

Dalam Rangka Annual Scientific Meeting (ASM) Fakultas Kedokteran 2015

Kelompok Kerja (Pokja) Bencana FK  UGM bekerjasama dengan Divisi Manajemen Bencana Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan FK UGM Menyelenggarakan seminar dan blended advokasi mengenai:

Kaitan Peningkatan Risiko Bencana dengan Pencapaian MDGs

Senin, 16 Maret 2015
Gedung Senat Lantai 2 KPTU Fakultas Kedokteran UGM

 

Gambaran garis besar kegiatan sebagai berikut:

Seminar ditujukan sebagai sarana advokasi kepada para stakeholder, narasumber, dan peserta kegiatan. Rangkaian kegiatan advokasi terbagi menjadi tiga bagian yakni pre seminar, seminar, dan pasca seminar.

Tahap 1: Pra seminar ditujukan untuk advokasi kepada para stakeholder yang akan hadir dan narasumber serta peserta yang terlibat untuk mendapatkan gambaran yang sama mengenai tujuan dan arah dilaksanakan seminar mendatang. Kegiatan mulai dilaksanakan awal maret hingga menjelang pelaksanaan seminar. Media yang digunakan adalah email milist narasumber, pembahas, dan moderator.


Tahap 2: Seminar sehari mengenai Kaitan Peningkatan Risiko Bencana dengan Pencapaian MDGs yang dilaksanakan secara tatap muka dan streaming melalui website bencana kesehatan akan dilaksanakan di FK UGM pada senin, 16 maret 2015. Kegiatan ini ditujuan untuk pemaparan materi yang telah dirumuskan sebelumnya pada saat pre kepada seluruh peserta seminar.

Tahap 3: Pasca seminar, hasil kesepahaman, diskusi, dan temuan saat seminar akan disebarluaskan melalui media website bencana kesehatan baik dalam bentuk reportase, dokumentasi, dan materi seminar. Hasil ini dapat diakses oleh siapa saja yang mengunjungi website bencana. rangkaian advokasi pasca seminar berlanjut dengan diskusi yang dibangun menggunakan email peserta, narasumber, dan fasilitator (PKMK FK UGM) terkait hasil temuan dilapangan dan masukan dari semua yang terlibat. Pokja Bencana FK UGM bersama dengan narasumber dan pembahas kemudian menyusun policy brief yang akan disebar luaskan kepada stakeholeder, dinas kesehatan, BPBD, dan PPKK 9 Regional. Kegiatan ini akan dijadwalkan april dan mei 2015.

Gambaran lebih lengkap mengenai seminar dan blended advokasi dapat dilihat pada TOR berikut ini dan pada website bencana kesehatan

 

Seminar Hospital Safety : Progress dan Tantangannya

 

logo-tor

Kerangka Acuan

Seminar Hospital Safety : Progress dan Tantangannya

Latar Belakang

Rumah sakit di Indonesia harusnya sudah berpikir tentang rencana kesiapsiagaan untuk menghadapi bencana karena bencana bisa terjadi di mana saja, baik di dalam maupun di luar Rumah Sakit, apalagi karena Indonesia berada di daerah yang rawan bencana. Biasanya yang terjadi pada saat bencana, Rumah Sakit sangat sibuk dan kacau terutama pada masa awal dimana banyak pasien yang harus ditangani, sehingga mengakibatkan menurunnya kualitas pelayanan. Padahal, harusnya Rumah sakit bisa menyediakan pelayanan kepada pasien dan melindungi staf, pengunjung dan masyarakat di sekitarnya serta menyelamatkan fasilitas Rumah Sakit. 

Di samping itu, Rumah Sakit sering dihadapkan pada situasi dimana sumber daya yang terbatas pada saat bencana, padahal rumah sakit diharapkan dapat menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa. Oleh karena itu, rencana kesiapsiagaan rumah sakit perlu memastikan keamanan lingkungan rumah sakit dan tindakan yang perlu diambil untuk memastikan pelayanan kesehatan yang penting tetap tersedia. Tapi masih banyak Rumah Sakit yang memiliki rencana kesiapsiagaan yang terdokumentasi dan teruji, apalagi melibatkan masyarakat di sekitarnya untuk siap menghadapi bencana. 

Dua hal pokok yang harus dapat dilakukan oleh rumah sakit agar siap menghadapi bencana adalah dukungan kemampuan tehnis medis (Medical Support) dan dukungan kemampuan manejerial (Management Support). Begitu penting rencana penanggulangan bencana bagi rumah sakit ini didukung oleh adanya Undang-undang RI No.44 Tahun 2009 tentang rumah sakit, khususnya pada pasal 29 yang salah satu poinnya berbunyi bahwa “Rumah sakit mempunyai Kewajiban memiliki system pencegahan kecelakaan dan penanggulangan bencana”.

Selain itu, dalam Pembahasan Akreditasi Rumah sakit tahun 2012 pada elemen penilaian akreditasi pada Standar Manajemen Fasilitas dan Keselamatan (MFK) mengenai Kesiapan menghadapi bencana pada Standar MFK 6 yang berbunyi “Rumah Sakit membuat rencana manajemen kedaruratan dan program penanganan kedaruratan komunitas, wabah dan bencana baik bencana alam atau bencana lainnya”. Salah satu elemen penilaian MFK 6 adalah rumah sakit telah mengidentifikasi bencana internal dan eksternal yang besar, seperti keadaaan darurat di masyarakat, wabah, dan bencana alam atau bencana lainnya serta kajadian wabah yang bisa menyebabkan terjadinya risiko yang signifikan.

Oleh karena itu, dalam rangka peringatan hari Pengurangan Risiko Bencana Sedunia dan hari Kesehatan Nasional dan mendukung kampanye yang digalakkan oleh United Nation –International Strategy for Disaster Reduction (UNISDR), maka diadakan workshop yang membahas mengenai Hospital Safety, progress dan tantangan yang dihadapi ini sehingga diharapkan semakin banyak Rumah Sakit siap menghadapi bencana.

Tujuan

  1. Memahami pentingnya rencana kesiapsiagaan Rumah Sakit dan pelibatan masyarakat sekitar RS
  2. Mengetahui progress rencana kesiapsiaagan Rumah Sakit dan kebijakan Kementrian Kesehatan
  3. Mengetahui tantangan yang sering dihadapi dalam menerapkan rencana kesiapsiagaan RS dan cara mengatasinya
  4. Mengetahui progress penerapan hospital safety dan tantangannya di rumah sakit

Peserta

Peserta yang diundang adalah Rumah Sakit dan Mahasiswa Kedokteran dan kesehatan

Waktu dan tempat pelaksanaan 

Hari/ tanggal    : Selasa, 28 Oktober 2014
T e m p a t    : Ruang Teater Gedung perpustakaan lantai 2 FK UGM

Jadwal Acara

Registrasi

pdf

 

Pembukaan oleh Ketua Pokja Bencana

 

Moderator: dr. Bella Donna

 

PPKK Kemenkes: Kebijakan Kemenkes tentang Pedoman Perencanaan Penyiagaan Bencana di Rumah Sakit (P3BRS)

Diskusi

pdf  report

 

Break

 

Moderator:Budi Santoso, MMR

 

PERSI : hospital safety dalam akreditasi RS

FK UGM: Progress Status Report on HDP Implementation

pdf  report

Diskusi

 

ISHOMA

 

Moderator: dr. Sari Mutia Timur

 

Pengalaman rumah sakit di Yogyakarta

YAKKUM : Tantangan dalam penerapan hospital safety

MDMC : Adaptasi hospital safety menjadi pengalaman penerapan hospital safety dalam rumah sakit

Diskusi

 

pdf  report

 

pdf

Penutup dan RTL berikutnya berupa workshop – November/desember

 

 

Penutup

Respon bencana yang baik membutuhkan persiapan yang baik dan kunci untuk siap menghadapi krisis adalah siap siaga. Karena rencana kesiapsiagaan adalah proses yang dinamis, rumah sakit harus mengkaji ulang, melatih dan menguji coba rencananya dan melibatkan masyarakat di sekitarnya. Kekacauan memang tidak bisa dihindari pada menit-menit pertama tetapi dengan dari adanya rencana kesiapsiagaan diharapkan dapat meningkatkan ketahanan rumah sakit dan rumah sakit bisa segera beroperasi secepatnya. Tantangan kita bersama untuk mendorong rumah sakit/insitusi kesehatan agar siap menghadapi bencana.

Registrasi

Kami mengundang secara resmi 1 tamu undangan dari RS dan mitra terkait, namun peserta berikutnya dari institusi yang sama dikenakan biaya registrasi sebesar Rp. 100.000,00.

International Seminar on Disaster Health Management

tsunami-aceh

tsunami-aceh

International Seminar on Disaster Health Management
10 years Tsunami Aceh : Lessons Learned and Strategy
for Disaster Management on Health Sector in Indonesia

Presented by:

Working groups on Disaster Management, Faculty of Medicine UGM
And Center for Health Policy and Management, Faculty of Medicine UGM

On 17-18 December 2014


Online-writing-iconBackground

It has been 10 years after a tsunami Aceh. It was one of the deadliest disaster in Indonesian history. We can still remember, how was the devastating tsunami that was happened on 26 December 2004 at 07.58 WIB, an earthquake with magnitude 8,9 SR in Indian Ocean, 66 km west coast of Aceh and followed by a big tsunami with waves up to 12 meters, with the wave speed up to 500-900 km per hour.

Tsunami aceh has destroyed infrastructures, houses and buidings. It has not only ruin the buildings, but it also caused hundred thousand people killed, injured and lost. While, the other hundred thousand people displaced. This is a big tragedy in indonesian history, even this event is not the first tsunami happened in Indonesia. Before tsunami aceh, there was a tsunami happened in 1861 and 1907. But before tsunami aceh 2004, we don’t aware with  the importance of disaster management.

Tsunami aceh in 2004 was the tsunami with the longest ruptured in the world history. The length of ruptured under sea which being a source of earthquake and tsunami is about 1600 km. Hiro Kanamori et al. In their paper with the title “Historical seismograms for unraveling a mysterious earthquake: The 1907 Sumatra Earthquake”, did not mention the length of ruptured, but they wrote the similarity between tsunami 1907 and tsunami Nias 2005 and earthquake on November 2002.  But because the limitation of the equipment, so the length of the ruptured was not clear. Based on that similarity can be concluded that the lenght of ruptured tsunami Nias in 2005 is shorter than ruptured in tsunami Aceh 2004 (Hiro Kanamori et al. 2004).

After a big tsunami 2004, we finally aware that disaster management is very from tsunami Aceh, what elements has done good and what element needs an improvement, so we are well prepared if it happen again in the future.

Faculty of medicine UGM and RS Sardjito has helped Aceh in Tsunami 2004 for 4 years and published a book about its experinced in helping aceh with the title “ 3 Years Activities of Sardjito Hospital, Faculty of Medicine, and Faculty o Psychology UGM in Aceh”. Based in its experinced, the center for health policy and management, especially disaster management division and working gruop on disaster management faculty of medicine UGM will organize international seminar/workshop to commemorate the tsunami aceh 2004 and disaster management journey that has been conducted over 10 years.

target-2Objective:

The general objective of this seminar is to find the disaster management strategy on health sector in Indonesia

The Specific objectives:

  • the participants understand the importance of disaster preparedness to create a community resiliences.
  • the participants understand the importance of disaster surveillance on disaster management.
  • the participants understand the importance of disaster management

users accept  Speakers:

  1. Crisis Center Ministry of Health Indonesia
  2. New Zealand (ocean chapter of WADEM)
  3. WHO Indonesia
  4. Filipina, HEAD (Health Emergency and Disaster)
  5. Faculty of Medicine, UGM
  6. Faculty of Medicine, Brawijaya University
  7. Faculty of Medicine, Hasanuddin University
  8. Province Health Office, Aceh

archive-icon Topics:

  1. History of Disaster Management in Health Sector
  2. Disaster Management and Disaster Medicine
  3. The Role of Universities on Disaster Health Management in Indonesia
  4. Development of Disaster Surveillance

 

placeVenue:

Faculty of Medicine Universitas Gadjah Mada, Farmako Sekip Utara Street, Yogyakarta 55281, Indonesia.

scheduled-taskDate and Time:

    1. International Seminar             : 17th – 18th December 2014, 09.00-13.00 WIB
    2. Oral and Poster Presentation  : 17th -18th December 2014, 14- 16.00 WIB

Day 1: Wednesday, December 17 2014

08.00-08.45

Registration

08.45-09.00

Safety Briefing

09.00-09.15

Traditional Dance

09.15-09.30

Opening Remarks

  • dr. Handoyo Pramusinto, Sp.BS, Head of Disaster Working Group Faculty of Medicine, UGM
  • Prof. Dr. dr. Teguh Aryandono, Sp.B(K).Onk, Dean Faculty of Medicine, UGM

reportase

09.30-09.45

Key note presentation: Disaster Health Management: experienced in Aceh 2004-2008

  • Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., Ph.D

09.45-10.00

Coffee break

10.00-11.30

Session 1 – History of Disaster Management in Health Sector

Speakers:

Moderator:

dr. Handoyo Pramusinto, Sp.BS, Head of Disaster Working Group Faculty of Medicine, UGM.

reportase

11.30-13.00

Session 2: Disaster Management and Disaster Medicine

Speakers:

pdfdr. Carlos Primero D Gundran, EMDM, FPCEM. Senior Consultant Health Emergency and Disaster (HEAD)

pdfGraeme McColl, Ocean Chapter, World Association for Disaster and Emergency Medicine

Moderator:

  • dr. Hendro Wartatmo, Sp.BD, Advisor of Disaster Working Group, Faculty of Medicine UGM and Sardjito Hospital, Yogyakarta, Indonesia.

reportase

13.00-14.00

Lunch Break and Exhibition/Poster Presentations

14.00-16.00

Oral and Poster Presentation

Day 2: Thursday, December 18 2014

09.00-11.00

Session 3 – The Role of Universities on Disaster Health Management in Indonesia

Speakers:

pdfdr. Ali Haedar, Sp.EM, Department of Emergency Medicine, Faculty of Medicine, Brawijaya University, Malang

pdfprof. DR. dr. Andi Asadul Islam, Sp.BS, Dean Faculty of Medicine, Hasanuddin University, Makasar

pdfdr. Handoyo Pramusinto, Sp.BS, Faculty of Medicine, Universitas Gadjah Mada

pdfdr. M. Yani, Province Health Office, Aceh

Moderator:

  • dr. Hendro Wartatmo, Sp.BD, Advisor of Disaster Working Group, Faculty of Medicine UGM and Sardjito Hospital, Yogyakarta, Indonesia.

reportase

11.00-12.30

Session 4: Development of Disaster Surveillance

Speakers:

pdfdr. M. Yani, Province Health Office, Aceh

pdfdr. Nirmal Kandel, WHO Indonesia

pdfdr. Rossi Sanusi, MPA., Ph.D. School of Public Health, Faculty of Medicine, UGM

Moderator:

  • dr. Nandy Wilasto, MPH, School of Public Health, Faculty of Medicine, UGM

reportase

12.30-13.30

Lunch Break and Exhibition/Poster Presentations

13.30-15.30

Oral and Poster Presentation

Moderator:

  • dr. Bella Donna, M.Kes, Chief of Disaster Management Division, Center for Health Policy and Management, Faculty of Medicine, UGM

Award for the best poster presentation

15.30-16.00

Closing

reportase

 

users_accept

Participants:

Participants from Indonesia and Neighborhood countries (Asia Pacific) are welcome to participate in this seminar. Participants are expected to submit abstract in English.  In the presentation (oral and poster), participants can used Bahasa Indonesia and English. The official language of the seminar is English. Expected numbers of participants are around 300 participants.

Participants are expected to attend:

  1. Health practice
  2. Local government
  3. Health workers in Health District Office (Section on outbreaks and disaster)
  4. Health workers in Primary Health Care (puskesmas) (Section on outbreaks and disaster)
  5. Clinicians, nurse, midwife, and other health workers in hospital (hospital disaster team)
  6. Local Agency for Disaster Management (BPBD) (Section on emergency and preparedness)
  7. Activist in Humanitarian and disaster, NGO
  8. Lectures and researcher
  9. Graduate student on disaster medicine, public health preparedness, nursing, and disaster management.

archive-iconCall for Abstract (Oral and Poster)

We invite all colleagues to presenting result of research, review, and systematic experience in disaster health management. Topics we will considerable:
1.    Pre-Hospital, Disaster and Emergency Medicine
2.    Disaster Management and Public Health Preparedness

a.    Disaster Epidemiology and Surveillance
b.    Health Policy and Management on Disaster
c.    Health Information System on Disaster
d.    Gender and Children on Disaster
e.    Older and Disability People on Disaster
f.    Resilience on Health Disaster
g.    Disaster Education

An abstract consist of title, authors, affiliation, correspondence email, background, purpose, method, result, conclusion, and keywords in maximum 300 words.

Submit abstract through online applicant www.bencana-kesehatan.net before 15th October 2014 12.00 WIB.

1.    First announcement : Second week of August 2014
2.    Registration open    : 22 September – 15 December, 2014
3.    Call for abstract : 22 September – 29 November, 2014
4.    Abstract review : 28 November – 2 Desember 2014
5.    Announcement of selected abstract : 3 Desember 2014

 


Organizing Committee Secretariat:

Center for Health Policy and Management Faculty of Medicine UGM
IKM Building Sayap Utara 2nd Fl
Farmako Sekip Utara Street, Yogyakarta 55281 Indonesia
Phone/fax: +62 274 549425
Email: [email protected]

Contact person:

Dewi Catur Wulandari
Mobile: +62 813 9468 3424
Email: [email protected]

Madelina Ariani
Mobile: +62 815 2178 2128Email: [email protected]

Crisis Center Ministry of Health Indonesia
New Zealand (ocean chapter of WADEM)
WHO Indonesia
Filipina, HEAD (Health Emergency and Disaster)
Faculty of Medicine, UGM
Faculty of Medicine, Brawijaya University
Faculty of Medicine, Hasanuddin University
Province Health Office, Aceh