Reportase hari 4: Pelatihan Pengurangan Risiko Bencana Sektor Kesehatan

hari4-foto

Reportase hari 4:

Pelatihan Pengurangan Risiko Bencana Sektor Kesehatan

Fokus pada Koordinasi Bidang Kesehatan

Yogyakarta, Kamis 31 Oktober 2013


hari4-foto

Hari sebelumnya telah dibahas mengenai koordinasi yang menjadi awal pembentukan Incident Commander (IC) sebagai komandan pada masa bencana. Materi IC disampaikan oleh Ir. Bernardus Wisnu Widjaja, MSc dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Minimal, pada masa bencana struktur IC yang harus dimiliki adalah adanya komandan dengan empat bidang, perencanaan, logistik, adminitrasi dan keuangan, serta operasional.

Selain IC, hari ini disampaikan juga materi yang jarang menjadi perhatian, yakni masalah kesehatan reproduksi pada masa bencana dan pasca bencana. Masalah kesehatan reproduksi tidak saja menjadi masalah perempuan melainkan laki-laki sehingga kebutuhannya harus terpenuhi, misalnya terjaminnya keperluan menstruasi bagi perempuan. Materi kesehatan reproduksi disampaikan oleh Dr. Gita Maya Koemari dari Kementerian Kesehatan RI.

Menarik sekali, penugasan dari fasilitator hari ini adalah simulasi tentang koordinasi. Peserta dibagi menjadi tiga kelompok membahas skenario tentang bencana gunung meletus. Masing-masing anggota kelompok mendapat peran masing-masing sesuai pekerjaannya, dan ada juga peserta yang berperan sebagai LSM serta pejabat daerah. Simulasi koordinasi berjalan seperti nyata sebab peserta menjalankan perannya masing-masing dengan baik, bahkan perkelahian dan selisih paham terjadi berkali-kali. Hal ini benar-benar terlihat seperti koordinasi yang terjadi pada masa bencana.

Back Kembali ke Halaman Utama Pelatihan

Reportase hari 3: Pelatihan Pengurangan Risiko Bencana Sektor Kesehatan

hari3-foto

Reportase hari 3:

Pelatihan Pengurangan Risiko Bencana Sektor Kesehatan

Fokus pada Koordinasi Bidang Kesehatan

Yogyakarta, Rabu 30 Oktober 2013


hari3-foto

Materi dihari ketiga adalah inti dari pelatihan ini, bagaimana koordinasi lintas sektor dapat berjalan dengan baik pada masa bencana. Penugasan oleh fasilitator berhubungan dengan penyampaian pesan, komunikasi koordinasi, dan publikasi informasi kepada masyarakat.

Dr. Hendro Wartatmo dari FK UGM menyampaikan materi mengenai Coordination of Health Cluster During Disaster Response. Penyebab masalah pada masa bencana adalah inadequate coordination sehingga perbaikan koordinasilah yang bisa membuat penanganan bencana menjadi lebih teratur. Dalam koordinasi diperlukan seorang komandan dan struktur/alur komando. Inilah cikal bakal pembentukan Incident Commander pada masa bencana.

Komunikasi pada masa bencana sering kali tidak bertanggungjawab, terutama mengenai jumlah korban. Tentu saja informasi yang tidak bertanggungjawab bisa meresahkan penerima informasi. Saat ini BNPB, BMKG, dan pemantauan volkanologi terus melakukan perbaruan dalam menjalin komunikasi sehingga informasi bencana yang terkait dengan peringatan dini bisa dilakuan lebih baik. Begitu juga dengan pendirian Media Center sehingga arus infomasi berasal dari satu pintu untuk masyarakat.

Back Kembali ke Halaman Utama Pelatihan

Reportase hari 2: Pelatihan Pengurangan Risiko Bencana Sektor Kesehatan

emss

Reportase hari 2:

Pelatihan Pengurangan Risiko Bencana Sektor Kesehatan

Fokus pada Koordinasi Bidang Kesehatan

Yogyakarta, Selasa 29 Oktober 2013


emss

Materi Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) disampaikan oleh Dr. Tri Wahyu Murni. SPGDT merupakan sistem yang terbentuk dari pre hospital, hospital, hingga jejaring antar hospital. Sistem ini tidak akan berjalan baik jika masing-masing tahapan tidak sama-sama diperbaiki. Upaya perbaikan sistem di pre hospital lebih ditekankan pada komunikasi dan transportasi sehingga korban dibawa dan tiba di rumah sakit dengan selamat dan di rumah sakit pun dapat segera melakukan tindakan pertolongan.

Penugasan oleh fasilitator hari ini, berkaitan dengan materi surveilans pada masa bencana. sebelumnya materi disampaikan oleh Prof. Hari Kusnanto. Beberapa penyakit yang terjadi biasanya sudah bisa kita perkirakan berdasarkan kejadian bencana sebelumnya atau jenis bencananya. Misalnya, banjir lebih identik dengan penyakit kulit dan demam, sedangkan bencana gunung api misalnya lebih identik dengan panyakit pernafasan. Tindakan surveilans harus dilakukan cepat sehingga diketahui segera kebutuhan logistik dan bantuan untuk korban bencana.

Penetapan status bencana sangat diperlukan sebagai legalitas. Penetapan status bencana oleh kepala daerah hingga presiden tergantung skala bencana. Materi ini langsung disampaikan oleh perwakilan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

Back Kembali ke Halaman Utama Pelatihan

Pelatihan Pengurangan Risiko Bencana Sektor Kesehatan Fokus pada Koordinasi Bidang Kesehatan

pengantar-1

Yogyakarta, 27 Oktober – 2 November 2013


pengantar-1

Bencana merupakan pengalihan antara risiko bahaya dan kerentanan serta pembagian dengan kapasitas, artinya dengan meningkatkan kapasitas maka dampak bencana yang ditimbulkan bisa diminimalisir. Peningkatan kapasitas harus melibatkan pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha agar terjalin kerjasama menghadapi bencana. Pelatihan Pengurangan Risiko Bencana sektor Kesehatan yang digagas oleh Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan, WHO, dan Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan FK UGM berikut adalah salah satu upaya peningkatan kapasitas sumber daya manusia dalam penanganan bencana. Kegiatan ini telah berlangsung selama seminggu (17/10/2013 -2/11/2013) di Yogyakarta yang dihadiri perwakilan dari 27 provinsi di Indonesia. Berikut reportase kegiatan selama lima hari:

hari-1 hari-2 hari-3 hari-4 hari-5

SEMINAR Strategi Menyusun HOSPITAL DISASTER PLAN

Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan (PKMK)
Fakultas Kedokteran UGM

Menyelenggarakan

SEMINAR

Strategi Menyusun HOSPITAL DISASTER PLAN (HDP)

Selasa, 12 November 2013
Ruang Senat KPTU FK UGM Lt. 2 Yogyakarta

Pengantar

Kita tidak dapat menahan bencana yang dapat terjadi kapan dan di mana saja tanpa dapat diduga: di rumah atau di tempat bekerja apalagi dengan cakupan wilayah Indonesia yang sangat luas di ring of fire bumi dan di antara pelat Australia dan Asia menjadikan hampir seluruh wilayah Indonesia rawan bencana.

Belajar dari berbagai pengalaman bencana yang terjadi di Indonesia, secara otomatis rumahsakit akan menjadi pusat rujukan. Oleh karena itu dalam usaha meminimalkan resiko bencana, diharapkan rumahsakit mempunyai perencanaan dan prosedur untuk penanganan bencana dalam bentuk Hospital Disaster Plan. Dengan adanya perencanaan ini diharapkan rumahsakit dapat menangani korban secara lebih baik dalam situasi bencana. Pentingnya rencana penanggulangan bencana bagi rumahsakit didukung dengan Undang-undang RI no.44 tahun 2009 dan salah satu Pembahasan Akreditasi Rumahsakit tahun 2012, dimana kesiapan menghadapi bencana menjadi elemen penilaian standar Manajemen Fasilitas dan Keselamatan (MFK) 6.

Sayangnya hampir seluruh rumahsakit di Indonesia belum sepenuhnya dapat menangani korban bencana dengan cepat dan tepat. Hal ini terjadi karena fungsi, struktur, medical support, dan manajemen support yang kolap. Di samping itu, masing-masing rumahsakit memiliki cara penanganan korban yang beragam sehingga belum memiliki keseragaman dalam penanganan maupun kesiapannya.

Beberapa tahun terakhir ini PKMK bekerja sama dengan Pusat Penanggulangan Krisis (PPK) Kementerian Kesehatan dan WHO dalam melakukan In House Training HDP di beberapa rumahsakit. Mengingat prosedur Penanggulangan Bencana (Disaster Plan, DP) adalah serangkaian prosedur yang sudah disiapkan sebelumnya maka sebuah Disaster Plan hanya akan dapat dijalankan bila sesuai dengan kapasitas dan kompetensi staf yang dilatih, di evaluasi, dan diperbaiki secara periodik. Oleh karena itu perlu pengembangan HDP dan pelatihan terus menerus.

Strategi pelatihan berbeda-beda. Disamping pendampingan tatap muka In House Training, pengembangan lainnya adalah menggunakan cara e-learning melalui website bencana kesehatan www.bencana-kesehatan.net. Diharapkan dengan pengembangan HDP bedasarkan e-learning ini akan meringankan biaya rumahsakit-rumahsakit dalam menyusun HDP secara mandiri. Dalam hal ini strategi pendanaan pelatihan yang bertumpu pada pendekatan e-learning menjadi hal penting untuk dibahas.

  Tujuan

  1. Mendiskusikan perlunya rumahsakit Disaster Plan.
  2. Mengetahui lebih jelas kebijakan pemerintah terhadap Hospital Disaster Plan.
  3. Membahas pengalaman beberapa (negeri dan swasta) rumahsakit dalam menangani situasi bencana.
  4. Membahas strategi untuk pendanaan pelatihan Hospital Disaster Plan dengan menggunakan e-learning dan tatap muka.

Jadwal Acara

Kegiatan

Narasumber

Registrasi

 

Pembukaan

Perwakilan Dekanat FK UGM

Ketua Pokja Bencana FK UGM

Sesi I :


  Pembicara :
  Direktur BUK Rujukan Kementerian Kesehatan RI

  Peran Kemenkes dalam regulasi Hospital Disaster Plan (BUK
  Rujukan Kemenkes), terkait Akreditasi RS.

 pdfDownload Materi

  Moderator : dr. Handoyo Pramusinto SpB BS

Coffe Break

 

Sesi II

Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia (PERSI).

Stephani M Nainggolan

pdfKesiapan rumahsakit dalam penyusunan Hospital Disaster Plan


Direktur RSU Panembahan Senopati Bantul

dr. Gandung Bambang Hermanto

Pengalaman rumahsakit dalam menyusun hospital disaster planpdfDownload Materi

Moderator : Sutono, SKp

ISHOMA dan Kunjungan Pameran

 

Sesi III:

Pembicara :

1.   Dr. Sulanto Saleh Danu, SpFK

      Pengembangan modul HDP

pdfDownload Materi

2.   Direktur RSU Panti Nugroho Yogyakarta

      dr. Tendean Arif Wibowo
      Pengalaman rumahsakit  dalam menyusun 
      Hospital Disaster Plan

pdfDownload Materi


Moderator : dr. Bella Donna, M.Kes

 Penutup

 Dr Handoyo Pramusinto SpB BS

Note :
Peserta  membawa HDP rumah sakit masing-masing

Peserta Yang Diharapkan

  1. Pimpinan dan Staff yang bertanggung jawab pada manajemen bencana di rumahsakit
  2. Dinas Kesehatan
  3. Pimpinan dan dosen Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat
  4. Dosen/peneliti/pemerhati bidang manajemen bencana
  5. Mahasiswa S1,dan  S3

 

Biaya Pendaftaran:

Diharapkan peserta dapat mendaftarkan secara kelompok. Biaya pendaftaran adalah:

1 orang Rp 250.000,-

2 orang Rp 400.000,-

3 orang Rp 500.000,-

4 orang Rp 600.000,-

Fasilitas: Paket meeting dan dan sertifikat ber SKP-IDI

Biaya dapat ditransfer melalui :

Bank BNI atas nama : PKMK FK UGM

No. Rekening : 0203024192


INFO dan PENDAFTARAN :

Hendriana Anggi / Dewi Catur

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan

Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Gedung IKM (sayap utara) Lt. 2

Fakultas Kedokteran UGM

Jl. Farmako Sekip Utara Yogyakarta 55281

Telp      : 0274 – 549425

HP        : 081227938882/ Anggi, 0818263653/dewi

Email    : [email protected] / [email protected]

inhouse Training RSUD

 

In House Training Hospital disaster plan Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana di Rumah Sakit

inhouse-training-rs-panti-nugroho hdp tora belo

Agenda Hosdi Tugurejo

Agenda In House Training
Rencana Penyusunan Program Penanggulangan Bencana di Rumah sakit (Hospital Disaster Plan)

RSUD Tugurejo Semarang
13-14 Maret 2012

Waktu

Topik

Pemateri

Hari ke-I

08.00 – 08.30

Registrasi Peserta

Panitia

08.30 – 08.45

Pembukaan

 

– Dr. Endang Agustinar, M.Kes (Direktur RSUD Tugurejo Semarang)
– Dr. Bella Donna, M.Kes (PMPK FK UGM)

08.45 – 09.45

Prinsip-prinsip HDP

Dr. Adib Yahya, MARS

09.45 – 10.00

Coffee Break

Panitia

10.00 – 11.00

Pengorganisasian dan Operasional

Dr. Adib Yahya, MARS

11.00 – 12.00

Sistem Koordinasi

12.00 – 13.00

ISHOMA

Panitia

13.00 – 14.00

Logistik

Dr. Bella Donna, M.Kes

14.00 – 15.00

Perencanaan dan Keuangan

15.00 – 16.00

Paparan Skenario

Fasilitator

Hari ke-II

08.30 – 09.00

Penjelasan Table Top

Dr. Hendro Wartatmo, Sp.B.KBD

09.00 – 09.15

Coffee Break

Panitia

09.15 – 12.00

Table Top Exercise

Dr. Hendro Wartatmo, Sp.B.KBD

12.00 – 13.00

ISHOMA

Panitia

13.00 – 14.00

Presentasi Hasil Table Top

Peserta

14.00 – 16.00

Revisi Draft HDP

Dr. Hendro Wartatmo, Sp.B.KBD dan Dr. Agus Barmawi, SpB.KBD

16.00 – 16.30

Closing

Tim RS dan PMPK FK UGM

Hosdip Tugu Hari Kedua

Sesi I

Pembahasan Skenario
Dr. Hendro Wartatmo

Kegiatan hari kedua dimulai dengan pembahasan scenario yang diberikan oleh Dr. Hendro Wartatmo, SpB.KBD, dengan judul “Kecelakaan Bus”. Didalam scenario diceritakan “Kalau misalnya sekali waktu operator dari rumah sakit ini mendapat telpon bahwa ada kecelakan di jalan tol, terjadi tabrakan antara 2 bus yang sedang melintas dijalan itu. Setelah mendengar kejadian tersebut, apa yang harus dilakukan operator ini dan mau apa?. Kalau didalam HDP di atur oleh siapa?. Setelah operator tersebut mendengar kabar seperti itu, berarti korban kecelakaan tersebut akan masuk ke rumah sakit, di rumah sakit ada atau tidak yang bertanggung jawab apabila terjadi diluar jam kerja dan yang akan menghubungi ketua HDPnya.?

Berdasarkan scenario tersebut, dilakukan diskusi dengan peserta mengenai apa saja yang harus dilakukan dan langkah-langkah yang ditempuh untuk menindak lanjuti kabar yang didapatkan oleh operator tersebut. Harus dipastikan apakah memang benar terjadi tabrakan atau tidak karena hal ini akan menentukan langkah pihak rumah sakit dan tim penanggulangan bencana. Pada sesi ini juga dijelaskan mengenai revisi kelengkapan HDP yang sudah dimiliki oleh RSUD Tugurejo, dan komponen mana yang harus diperbaiki serta harus ditambahkan oleh RSUD Tugurejo agar HDP yang sudah dipunyai menjadi lebih operasional.

 

Sesi II

Lanjutan Pembahasan Skenario
Dr. Agus Barmawi, SpB.KBD

Kemudian dilanjutkan oleh Dr. Agus Barmawi, SpB.KBD beliau menjelaskan bawa untuk HDP itu pasti tidak akan benar dan tidak ada yang langsung bisa membuat HDP itu dengan benar, karena harus selalu menyesuaikan dengan keadaan. Khususnya kita harus mengetahui hazard mapping yang mungkin terjadi. Tidak pernah terjadi yang namanya bencana itu menyesuaikan dengan HDP dari yang telah dibuat oleh rumah sakit. Seperti yang kita ketahui bahwa bencana itu bukan milik siapa-siapa, namun yang terjadi adalah bahwa bencana itu akan menjadi tanggungjawab kita bersama. Pada saat ada bencana, memang perlu adanya Aktivasi yang harus jelas. Misalnya pada waktu merapi, aktivasi sudah di aktifkan sendiri, begitu sudah terjadi letusan yang berdampak pada adanya korban jiwa. Ternyata sekarang ada media masa yang membantu siap siaga yang mengaktifkan. Pada sesi ini beliau juga menambahkan penjelasan mengenai pentingnya kelengkapan komponen HDP yang harus dimiliki oleh pihak rumah sakit.

 

Sesi III

Dr. Hendro Wartatmo, SpB.KBD
Simulasi Denah Evakuasi RS

Pada sesi ini, dilakukan pembahasan mengenai Denah Evakuasi yang sudah dimiliki oleh RSUD Tugurejo, beberapa hal yang dibahas dan perlu dipikirkan tim rumah sakit terhadap denah yang ada, antara lain mengenai akses untuk keluar lewat jalan belakang, pengaturan tempat parker dan lalu lintas dari ambulans, ruang triage dan juga ruang untuk wartawan atau media, akses untuk keamanan pasien, jalur keluar masuk pasien di rumah sakit, penyeragaman sign jalur evakuasi agar mudah terbaca baik siang maupun malam, mapping dari wilayah rumah sakit agar kalau terjadi bencana maka akan mudah untuk menyebarkan pasien.

Sesi IV

Penyampaian Hasil Resume dari Tim Rumah sakit
Hasil resume dari Peserta In House Training untuk Revisi Draft Hospital Disaster Plan yang dimiliki oleh RSUD Tugurejo Semarang:

1.  Bagian Perencanaan dan keuangan

  1. Kebijakan dan mapping baik internal maupun eksternal rumah sakit
  2. Struktur organisasi pelaksana penanggulangan bencana
  3. Networking (jaringan) dengan lintas sektoral
  4. Membuat SOP (5W + 1H)
  5. Protap aktivasi untuk menggerakkan semua SDM yang ada, serta Protap Aktivasi apabila bencana terjadi saat di luar jam kerja
  6. Memfasilitasi seluruh kebutuhan dalam upaya penanggulangan bencana
  7. Cheklist untuk hospital disaster plan
  8. Monitoring dan evaluasi.

2. Bagian operasional

  1. Protap

Misalnya protap triage (dengan memasukkan penjelasan untuk penanganan jumlah korban dengan jumlah SDM yang harus tersedia), aktivasi, rekam medis, pencatatan pasien, keamanan UGD, Peminjaman alat kesehatan keruangan lain, instalasi rawat inap, instalasi rawat jalan, dekontaminasi area, pemanggilan tim, pengiriman pasien dengan semua networking, ambulans, dan tim eksternal untuk UGD dan rumah sakit serta perumusan protap bersama.

  1. Fasilitas: area dekontaminasi, ruang infeksi, alur jalur pasien dari dating sampai ke perawatan dan keluar, Area untuk korban gelang hijau dan keluarga
  2. Form untuk kelengkapan penanggulangan bencana
  3. Atribut untuk triage (gelang triage)

3.  Bagian Logistik

  1. Kebijakan belum ada dari direktur
  2. Struktur kendalanya mengenai SDM
  3. Protap sudah ada sebagian misal pemakaian alat kesehatan, sanitasi, ambulans, pengiriman makanan dan gizi, protap manajemen bantuan, protap untuk pengklaim obat untuk penggantian, protap mengelola pemberian, protap untuk penerimaan obat
  4. Belum ada uraian tugas setelah terbentuk struktur organisasi
  5. Membuat kartu kendali
  6. Fasilitas untuk bencana belum ada, masih menggunakan fasilitas yang ada, khususnya ruangan juga masih terbatas
  7. Obat-obatan (penunjang medis dan non medis)
  8. Membuat laporan dari struktur organisasi yang ditugaskan.

4.Sistem koordinasi

  1. Untuk protap masuk bagian mana, pemulangan pasien, sistem aktivasi, penetapan ruangan, fasilitas, debriefing
  2. Uraian tugas untuk tim koordinasi
  3. Adanya tim kecil yang bekerja untuk merumuskan HDP.

Penutupan

Sesi terakhir adalah penutupan rangkaian kegiatan Workshop In House Training RSUD Tugurejo Semarang. Pada kesempatan ini disampaikan kata sambutan dari Tim Divisi Manajemen Bencana PMPK FK UGM yang disampaikan oleh dr. Hendro Wartatmo, SpB.KBD sedangkan tim RSUD Tugurejo diwakili oleh Kepala Bidang Pelayanan, dr. Noorjanah Pujiastuti, SpS.

Dalam kata sambutan yang disampaikan oleh dr.Hendro Wartatmo, SpB.KBD beliau berharap agar HDP yang dimiliki oleh rumah sakit tidak hanya untuk keperluan akreditasi rumah sakit, namun HDP yang dibuat bersifat operasional. Sementara itu, dr. Noorjanah Pujiastuti, SpS menyampaikan harapan yang senada, beliau menginginkan agar kegiatan yang telah dilaksanakan bermanfaat bagi rumah sakit dan bisa menghasilkan HDP yang operasional dan bisa di evaluasi, meskipun membuat perencanaan penanggulangan bencana, namun semoga tidak terjadi bencana di rumah sakit.

Gallery Hari ke-2

{gallery}2012/3/tugurejo2{/gallery}

Hosdip Tugu Hari Pertama

Sambutan-1

Pembukaan

Direktur RSUD Tugurejo
Dr. Endang Agustinar, M.Kes
Sambutan-1Sambutan pertama disampaikan oleh Direktur RSUD Tugurejo Semarang, dr. Endang Agustinar, M.Kes. Dalam kata sambutan yang beliau sampaikan bahwa dalam kegiatan ini diikutkan seluruh aspek yang ada di rumah sakit, karena beliau mengharapkan semua aspek mengetahui mengenai Hospital Disaster Plan (HDP) secara teori yang benar dan pelaksanaannya. Teman-teman mungkin juga sudah pernah mengakses mengenai HDP, namun kalau ada narasumber langsung maka akan lebih mempermudah pemahaman mengenai konsep HDP. Beliau menghimbau kepada peserta agar bisa melakukan sharing dengan narasumber terhadap materi HDP yang sudah dimiliki rumah sakit, serta diharapkan terbentuknya tim Penanggulangan Bencana yang baik dan benar serta berada dibawah bidang .

PMPK FK UGM
Dr. Bella Donna, M.Kes
Sambutan-2Sambutan kedua oleh dr. Bella Donna, M.Kes selaku Kepala Divisi Manajemen Bencana PMPK FK UGM menyampaikan bahwa selama ini yang kita ketahui bahwa ada rumah sakit yang mempunyai HDP hanya dengan copy paste HDP dari rumah sakit lain yang sudah mempunyai HDP, salah satu alasan karena untuk keperluan akreditasi. Sementara itu, antara rumah sakit dengan rumah sakit lain tentunya berbeda, biasanya untuk workshop kita tanyakan ke rumah sakit apa sudah punya HDP atau belum, kalau belum sama sekali akan dilakukan pendampingan dengan adanya pengenalan mengenai HDP kemudian dilakukan pendampingan. Sedangkan, di RSUD Tugurejo sudah punya dokumen HDP, artinya rumah sakit sudah sangat baik sekali, jadi nanti kita akan mengetes isi dari dokumen tersebut kemudian langsung aplikasi. Dalam kegiatan kita ini, hari pertama sekilas materi mengenai HDP, apasaja yang harus ada di dokumen tersebut, kemudian untuk hari kedua nanti kita akan table top. Intinya HDP yang dipunya tiap rumah sakit berbeda tergantung dari rumah sakit masing-masing.


Narasumber I : Dr. Adib Yahya, MARS

Materi I : Prinsip-Prinsip Hospital Disaster Plan
Materi pertama mengenai Prinsip-prinsip HDP, beliau menjelaskan bahwa beberapa rumah sakit sudah punya HDP, namun biasanya copy paste dari rumah sakit lain. Seharusnya kita mengetahui prinsip dari HDP itu apa, bagaimana dan siapa yang harus menguasainya, agar kita bisa menggunakan disaster planning yang kita buat dengan baik. Dalam membuat HDP, kita harus memperhatikan mengenai teori bencana, bahwa secara umum dirumah sakit bisa terjadi dua jenis bencana yaitu bencana yang berasal dari dalam rumah sakit maupun dari luar rumah sakit. Rumah sakit tentunya harus memiliki kesiapan dalam menghadapi bencana baik dari pra bencana sampai ke pascabencana, salah satunya dengan mengetahui hazard mapping terhadap lingkungan rumah sakit. Selain itu, perlu diperhatikan juga mengenai pusat komando rumah sakit, sistem komunikasi, manajemen lalu lintas, keamanan, pengunjung, sukarelawan, penerimaan korban, lokasi-lokasi utama di rumah sakit, tim lapangan, daftar kontak, rumah sakit yang terisolasi, dan latihan. Ingat HDP tanpa kesiapan tidak ada gunannya, perencanaan tanpa dilakukan latihan lebih berbahaya daripada tidak punya perencanaan sama sekali.

Materi II : Pengorganisasian Penanggulangan Bencana di Rumah Sakit dan Operasional
Materi kedua mengenai Pengorganisasian Penanggulangan Bencana di Rumah Sakit dan Operasional. Dalam bencana, kekacauan tidak bisa dicegah namun diupayakan seminimal mungkin. Hal ini bisa dilakukan dengan adanya perencanaan yang baik serta adanya pengorganisasian dalam penanggulangan bencana. Penyusunan organisasi penanggulangan bencana yang dilakukan tidak usah macam-macam, kita menyesuaikan dengan struktur sehari-hari yang ada di rumah sakit, simple dan tidak usah terlalu rumit. Saat bencana rumah sakit tidak boleh tutup dan harus tetap melayani pasien seperti biasa. Untuk penyusunan bagan organisasi kita bisa menggunakan metode crosswalk, minimal staffing dan fleksibilitas. Di dalam pembuatan struktur organisasi juga dibuat uraian tugas yang lebih simple dibuat dalam kartu tugas (job action sheet). Salah satu bagian yang penting adalah seksi operasional karena berhubungan dengan pengobatan pasien, evakuasi, alternatif lokasi pelayanan (surge capacity), keamanan pelayanan serta keberlangsungan pelayanan rumah sakit. Beliau juga menyebutkan bahwa penting seksi operasional dalam manajemen bencana adalah sebagai core bisnisnya, jadi seksi operasi ini jadi kiblat seksi yang lainnya, misalnya seksi logistic, perencanaan, keuangan

Materi III : Sistem Koordinasi
Materi ketiga yang dibawakan pemateri pertama adalah mengenai system koordinasi. Bencana yang terjadi secara tiba-tiba akan berdampak pada kesenjangan antara permintaan dan ketersediaan pelayanan kesehatan. Biasanya terjadi kelemahan dalam hal koordinasi, komunikasi, komando dan kolaborasi serta perlunya control. Kalau terjadi bencana yang besar, maka koordinasi akan susah sekali, untuk itulah agar koordinasi bisa berjalan maka diperlukan adanya networking (jaringan) baik dari tingkat kabupaten (Dinas Kesehatan) maupun dengan provinsi, nasional bahkan internasional. Oleh karena itu, bangunlah networking dari sekarang, komunikasi yang baik dan tetap terpelihara akan memudahkan mendapatkan bantuan melalui jaringan serta menghidupkan fungsi komunikasi


Narasumber 2 : Dr. Bella Donna, M.Kes

Materi IV : Logistik
Materi ke-empat mengenai logistic, dijelaskan bahwa dalam keadaan bencana logistic merupakan salah satu seksi yang berperan penting. Kalau kita berbicara dalam situasi normal, jelas rumah sakit melakikan pelayanan terhadap rawat jalan, rawat inap, IGD, yang ditunjang oleh SDM, organisasi, system informasi dan anggaran yang mana tujuannya adalah untuk menjaga mutu pelayanan rumah sakit. Hal ini tentu tidak bisa disamakan dengan kondisi bencana dimana rumah sakit akan rusak, kemudian banyaknya korban yang membanjiri rumah sakit dalam waktu singkat dan cepat, disisi lain fasilitas, daya tampung, sumberdaya yang ada terbatas termasuk logistik seperti obat-obatan/medicines (olm), air bersih dan kesehatan lingkungan, suplai kesehatan/peralatan : alat operasi, material kedokteran/reagensia/alat radiologi, peralatan nersing, dll (olm), suplai makanan, perlindungan/shelter, listrik, transportasi, komunikasi dan administrasi, kebutuhan individu seperti: pendidikan, kesehatan mental, sumberdaya manusia, tenaga bantuan/relawan stok sembako, kebutuhan hidup selama periode bencana. Dalam manajemen logistic tetap melalui proses seleksi, penyediaan/pengadaan, distribusi serta penggunaan dengan tetap membutuhkan manajemen support baik dari organisasi, SDM (kualitas maupun kuantitas), system informasi manajemen serta pembiayaan.

Materi V : Perencanaan dan Keuangan
Materi terakhir mengenai perencanaan dan keuangan, meskipun bencana tidak dapat diprediksi dan dibayangkan, namun bencana akan bisa saja terjadi. Oleh karena itu, bagian perencanaan harus mempersiapkan perencanaan yang operasional dalam bencana untuk membuat kondisi kekacauan yang terjadi seminimal mungkin. Dalam struktur organisasi penanggulangan bencana, bidang perencanaan membawahi 4 seksi yaitu Seksi SDM, seksi situasi, dokumentasi, demobilisasi. Sementara itu, bidang keuangan membawahi seksi pengadaan, seksi pencatatan waktu, seksi biaya dan seksi klaim. Perencanaan yang dibuat harus simple dan fleksibel serta tetap memperhatikan aspek koordinasi, kepemimpinan serta komunikasi.

Gallery Hari Pertama:

{gallery}2012/3/tugurejo1{/gallery}