Kursus online ini diselenggarakan oleh Open Universities Australia (OUA). Kursus ini dapat diakses oleh seluruh warga dunia melalui internet. Kursusnya akan memberikan pengalaman bagi pesertanya dalam menggunakan manajemen kegawatdaruratan berbasis resiko kontemporer. Kontemporer yang dimaksudkan adalah manajemen yang sesuai dengan perkembangan saat ini. manajemen yang digunakan sejak awal seperti pendekatan manajemen hazard dan resiko pada era industri, perang dingin, hingga terkini/kontemporer menjadi bagian dari pembelajaran. Secara menyeluruh, pembelajaran yang akan diperoleh adalah pemahaman tentang sejarah manajemen kegawatdaruratan, termasuk trend terkini serta perubahannya. Topik lainnya yaitu manajemen kegawatdaruratan kontemporer; dasar dalam analisis resiko, reduksi dan mitigasi; dasar dalam respon koordinasi kegawatdaruratan; peran kritis komunitas; dan lain-lain. Peserta mendapatkan kesempatan untuk mendiskusikan apa yang telah dipelajari dengan peserta lainnya. Peserta juga dapat menguji pengetahuan yang diperoleh melalui tes yang telah disiapkan. Informasi selengkapnya Klik Disini
Reportase Webinar Series Melawan Lupa : Gempa dan Erupsi Merapi
Webinar Series Divisi Manajemen Bencana dari Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK UGM kali ini mengangkat tema “Melawan Lupa : Gempa Dan Erupsi Merapi”. Webinar ini dimoderatori oleh Madelina Ariani, MPH yang merupakan salah satu peneliti serta konsultan muda PKMK FK UGM. Pembicara pertama yaitu dr. Bella Donna, M.Kes menyampaikan tentang perannya bersama tim DERU (Disaster Emergency Respon Unit) yang akan terjun ke daerah Hargobinangun dan Gilikerto untuk membuka klinik dari UGM. Pada saat itu pembicara bertugas sebagai liason officer yang bertugas untuk membagi tim yang akan turut membantu dalam melakukan respon pada kejadian Erupsi Merapi. Pembicara menyebutkan bahwa bantuan kesehatan dipusatkan di Stadion Maguwoharjo setelah letusan kedua Merapi terjadi. Pembicara kedua yaitu dr. Handoyo Pramusinto Sp.Bs pada saat kejadian erupsi beliau bertugas di Sardjito. Pembicara menjelaskan kondisi RSUP dr. Sardjito Yogyakarta saat itu. Rumah sakit telah melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah untuk menyiapkan tim yang bertugas di dalam rumah sakit maupun yang terjun langsung ke lapangan. Penyiapan Surge Capacity yang baik disebut pembicara harus dilakukan untuk memastikan pelayanan tetap berjalan dengan baik jika terjadi peningkatan kapasitas saat bencana terjadi. RSUD Kota Yogyakarta juga menjelaskan perannya dalam membantu evakuasi korban serta Penanganan psikiatri saat pasca erupsi merapi disampaikan oleh Dr. Dra. Sumarni DW.,M.Kes dari Departemen Psikiatri FK UGM. informasi selengapnya Klik Disini ![]()
Kondisi Pengungsi di Sekitar Gunung Agung
Kondisi pengungsi setelah meningkatnya status gunung Agung Bali semakin bertambah. Berdasarkan catatan yang dilaporkan, dari 78 desa di Kabupaten Karangasem terdapat 27 desa yang berpotensi untuk terkena awa panas dan lahar dari gunung Agung. Jumlah pengungsi yang tercatat pada (29/9/2017) mencapai 144 ribu lebih. Sedangkan berdasarkan perkiraan jumlah pengungsi dari lingkaran KRB 1, KRB 2, dan KRB 3 hanya 70 ribu orang. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pengungsi yang berasal dari daerah yang aman. Pemerintah daerah dikabarkan akan melakukan identifikasi selama 7 hari ke depan untuk warga yang tidak perlu mengungsi. Mereka selanjutnya dihimbau untuk kembali ke rumah masing-masing. Kepulangan tersebut diharapkan dapat mengurangi beban bagi yang menerima pengungsi. Pegawai pemerintahan yang ikut mengungsi juga tidak terkecuali dihimbau untuk kembali ke posnya masing-masing apabila berasal darri daerah aman. Penanganan ternak sapi juga menjadi salah satu makhluk hidup yang ditangani keselamatannya. Pihak Pemda dan masyarakat Bali telah bekerja sama dengan baik, sehingga penanganan dapat berjalan dengan lancar. Informasi selengkapnya Klik Disini ![]()
Kondisi Pengungsi di Sekitar Gunung Agung
Kondisi pengungsi setelah meningkatnya status gunung Agung Bali semakin bertambah. Berdasarkan catatan yang dilaporkan, dari 78 desa di Kabupaten Karangasem terdapat 27 desa yang berpotensi untuk terkena awa panas dan lahar dari gunung Agung. Jumlah pengungsi yang tercatat pada (29/9/2017) mencapai 144 ribu lebih. Sedangkan berdasarkan perkiraan jumlah pengungsi dari lingkaran KRB 1, KRB 2, dan KRB 3 hanya 70 ribu orang. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pengungsi yang berasal dari daerah yang aman. Pemerintah daerah dikabarkan akan melakukan identifikasi selama 7 hari ke depan untuk warga yang tidak perlu mengungsi. Mereka selanjutnya dihimbau untuk kembali ke rumah masing-masing. Kepulangan tersebut diharapkan dapat mengurangi beban bagi yang menerima pengungsi. Pegawai pemerintahan yang ikut mengungsi juga tidak terkecuali dihimbau untuk kembali ke posnya masing-masing apabila berasal darri daerah aman. Penanganan ternak sapi juga menjadi salah satu makhluk hidup yang ditangani keselamatannya. Pihak Pemda dan masyarakat Bali telah bekerja sama dengan baik, sehingga penanganan dapat berjalan dengan lancar. Informasi selengkapnya Klik Disini ![]()
Laporan Tanggap Darurat Ancaman Erupsi Gunung Agung
Upaya tanggap darurat ancaman erupsi gunung Agung Bali terus dilakukan. Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan memimpin rapat koordinasi kluster kesehatan untuk menangani ancaman erupsi gunung Agung. Kementerian kesehatan telah mengirimkan 6,498 ton PMT yang terdiri dari PMT balita, PMT bumil, KEK dan PMT anak sekolah. Terdapat beberapa sub klaster yang yang dibentuk yaitu klaster pelayanan kesehatan, P2, kesehatan lingkungan, gizi, KIA dan kesehatan reproduksi, kesehatan jiwa. Upaya yang termasuk dalam sub klaster pelayanan kesehatan yaitu melakukan pengaturan SFM yang memberikan pelayanan kesehatan. Terdapat 3 pos kesehstan yang tercatat memberikan datanya. Berdasarkan laporan dari 3.403 jiwa diketahui 5 penyakit terbanyak yaitu ISPA, gastritis, DM, rheumatik, dan myalgia. Pada P2 telah dilakukan pengendalian vektor (fogging) di 4 lokasi pengungsia yaitu Ulakan, pasar seni, Br. Kanginan dan Br. Anyar. Tim pelayanan kesehatan tidak hanya memberikan perhatiannya pada pengunggsi yang sehat, namun yang mengalami gangguan jiwa juga. Layanan psikologi untuk kesehatan jiwa serta evakuasi terhadap pasien orang dengan gangguan jiwa diberika. Informasi selengkapnya Klik Disini
Kondisi Terkini Gunung Agung dan Upaya Pencegahan Korban yang Dilakukan
Gunung Agung kembali menunjukkan aktivitasnya. Pada 22 September 2017 Pukul 20.30 Wita statusnya yang semula Siaga (Level 3) meningkat menjadi status Awas (Level 4). Berdasarkan laporan sementara Pusdalops BPBD Bali terdapat 15.142 pengungsi yang tersebar di 125 titik pengungsian. Para pengungsi tersebut tersebar d 7 kabupaten sekitar Gunung Agung yaitu kabupaten Badung, Bangli, Buleleng, Denpasar, Gianyar, Karangasem, Klungkung, dan Tabanan. Terdapat kendala yang dialami saat pendistribusian logistik karena titik pengungsian yang banyak. Tempat pengungsian tersebut tidak hanya berupa balai desa, GOR, ataupun fasilitas umum lainya melainkan perumahan pendudukk juga. Rasa solidaritas yang tinggi menggerakkan masyarakat untuk memberikan bantuan dengan menggunakan rumahnya sebagai tempat pengungsian. Penyediaaan tempat tersebut tidak hanya diberikan kepada masyarakat, namun hewan ternak juga diberikan tempat secara gratis. Informasi terkait data dan bantuan dihimbau untuk melalui satu pintu yaitu Posko Utama Satgas Siaga Darurat dengan alamat Dermaga Cruise Tanah Ampo, Manggis Kabupaten Karangasem. Informasi terkait dengan data pengungsi maupun bantuan selanjutnya dapat menghubungi call center Pusdalops Denpasar 0361 223333 dan emergency call Denpasar 112. Informasi selengkapnya Klik Disini
Mengakhiri Kelaparan dengan Disaster Risk Reduction (DRR)
Masyarakat atau komunitas yang tinggal di wilayah rentan terjadinya bencana, memiliki resiko terkena dampak di berbagai aspek kehidupannya. Dampaknya dapat berupa kehilangan properti seperti rumah ataupun aset yang sifatnya produktif, kekurangan makanan dan krisis nutrisi. Setelah mengalami bencana, tentu masyarakat setempat memerlukan waktu untuk pulih dari semua dampak yang diterima. Pengurangan resiko bencana merupakan prasyarat dalam pembangunan yang berkelanjutan dan untuk mengakhiri kelaparan. Memastikan kelompok yang rentan dan melakukan perlindungan terhadap aset yang mereka miliki dari resiko terjadinya bencana harus dilakukan. World Food Programe (WFP) memiliki berbagai program yang berperan dalam mengidentifikasi bencana dan dampaknya pada keamanan pangan. WFP bekerja sama dengan berbagai sektor dalam mengakhiri kealaparan sebagai tujuan utamanya. Aktivitas-aktivitas yang dilakukan dalam mencapai tujuan tersebut adalah analisis keamanan pangan, monitoring, peringatan dini, pengembangan kapasitas, membangun resiliansi dan menjaga kelompok masyarakat yang rentan, dan lain-lain. Informasi selengkapnya Klik Disini ![]()
Webinar Series : Melawan Lupa Gempa Dan Merapi Yogyakarta
Webinar Serries PKMK FK UGM kali ini mengangkat tema “Melawan Lupa Gempa Dan Merapi Yogyakarta”. Webinar ini akan diselenggarakan pada Selasa, 26 September 2017 pada 13.00 – 15.00 WIB. Pembicara kali ini adalah Ketua Pokja Bencana FK UGM yaitu dr. Handoyo Pramusinto, Sp.BS(K) dan Dosen FK UGM dr. H. Sulanto Saleh Danu R, MD, Sp.FK; serta dimoderatori oleh Kepala Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM yaitu dr. Bella Donna, M.Kes. Seperti yang diketahui bahwa Gunung Merapi merupakan gunung api yang masih aktif di Yogyakarta dan memiliki siklus 4 tahunan. Letusan pada tahun 2010 lalu membeerikan dampak pada warga Yogyakarta. Seluruh aktivitas di Yogyakarta menjadi lumpuh baik pendidikan, bisnis, maupun pemerintahan. Ispa, sakit mata, dan lain-lain menjadi penyakit yang banyak dijumpai pada para korban letusan. Bantuan dalam bentuk logistik maupun tim medis berdatangan ke Yogyakarta. Melalui webinar kali ini ditujukan untuk sharing pengalaman terkait dengan manajemen bantuan baik logistik maupun tim medis pada saat bencana terjadi. informasi selengkapnya Klik Disini ![]()
Reportase Bimbingan Teknis Penyusunan Perencanaan Penanganan Bencana di Rumah Sakit (Hospital Disaster Plan)

Hospital Disaster Plan sangat penting untuk dimiliki oleh setiap rumah sakit. Hal ini mengingat rumah sakit sebagai tempat rujukan bagi korban bencana, sehingga harus mampu menjadi tempat yang aman dan layak untuk bagi korban bencana. Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK UGM mengadakan kegiatan “Bimbingan Teknis Penyusunan Perencanaan Penanganan Bencana” di Rumah Sakit. Acara ini berlangsung di Hotel Grand Ambarrukmo Yogyakarta. Terdapat 2 materi yang dipaparkan pada hari pertama. Materi pertama disampaikan oleh Susy Runtiawati, SE, MM mengenai “Strategi Penyiapan Hospital Disaster Plan di Rumah Sakit” sebagai perwakilan dari PERSI Yogyakarta. Selanjutnya materi disampaikan oleh dr. Hendro Wartatmo, Sp.B-KBD tentang “Overview Hospital Disaster Plan”. Sebelum pemberian materi dilakukan pre test untuk mengetahui kemampuan setiap pengetahuan peserta terkait meteri Bimtek. Pada hari kedua, proses bimtek tidak hanya diwarnai dengan penyampaian materi, proses diskusi melalui kasus-kasus dilakukan untuk memperdalam pemahaman peserta. Peserta dibagi menjadi 4 kelompok untuk mendiskusikan kasus-kasus terkait dengan meteri yang disampaikan. Terdapat 5 materi yang disampaikan yang terdiri dari analisis risiko bencana dan krisis kesehatan di rumah sakit, logistik medik dan fasilitas, komponen Hospital Disaster Plan, konsep pengorganisasian kebencanaan di rumah sakit, dan penyusunan draft Hospital Disaster Plan. para perserta berpartisipasi aktif dalam proses diskusi yang dilakukan. Informasi selengkapnya Klik Disini ![]()
Global Hunger Index 2016 : Gambaran Angka Kelaparan di Dunia
Kelaparan dan kemiskinan merupakan salah satu komitmen dari Sustainable Development Goals (SDGs). Hal ini tercantum dalam goal kedua SDGs yaitu komitmen dalam mengakhiri kelaparan, mencapai keamanan pangan dan meningkatkan nutrisi, serta mempromosikan agrikultural yang berkelanjutan. Tujuan ini diharapkan dapat tercapai hingga 2030. Evaluasi terus dilakukan setiap tahunnya dalam melihat peerkembangan setiap negara di dunia. Global Hunger Index (GHI) pada 2016 dipublikasikan bersama oleh International Food Policy Research Institute (IFPRI), Concern Worldwide, dan Welthungerhilfe (WHH). Terdapat 4 indikator yang digunakan dalam menentukan level GHI suatu negara. Indikator pertama yaitu proporsi orang yang kurang gizi akan memberikan gambaran tentang asupan kalori yang tidak mencukupi di suatu negara. Indikator selanjutnya adalah proporsi anak yang dibuang. Umumnya mereka memiliki berat badan yang rendah disbanding tinggi badannya. Hal ini memcerminkan suatu kekurangan gizi akut. Indikator ketiga yaitu proporsi anak kerdil, hal ini menggambarkan tentang kekurangan gizi kronis. Indikator terakhir yaitu kematian anak. Pada indikator ini akan memperlihatkan tentang perpaduan gizi yang tidak memadai dengan lingkungan yang tidak sehat.
Seluruh indikator tersebut selanjutnya akan mewakili skor akhirnya. Salah satu temuan menarik yang diperoleh adalah penurunan angka kelaparan di negara berkembang sebesar 29% sejak 2000. Akan tetapi, penurunan ini tidak terjadi secara merata di seluruh negara dunia. Masih banyaknya negara yang ketimpangan ekonomi, kelaparan baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional. Indonesia sendiri sebagai salah satu negara berkembang menjadi salah satu negara yang mengalami penurunan angka, walupun masih berada pada level serius. Skor GHI Indonesia pada 2016 adalah 21,9; terjadi penurunan sejak 2008 dengan angka 28,6. Terdapat 4 solusi yang ditawarkan yaitu komitmen pemerintah secara keseluruhan, transformasi sistem pangan, partisipasi masyarakat secara menyeluruh, serta pemantauan yang ketat terhadap organisasi nasional maupun internasional. Informasi selengkapnya Klik Disini ![]()