Kurikulum Manajemen Bencana UGM

alt

Perguruan tinggi selain rumah sakit dan dinas kesehatan, perlu terlibat dalam pengembangan kegiatan dalam upaya penanggulangan bencana berhubungan berkaitan dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu Pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Dalam upaya penerapan tridarma pertama yaitu pendidikan, maka dilakukan pengembangan kurikulum. Dalam hal ini berkaitan dengan kurikulum manajemen bencana di universitas/perguruan tinggi, dengan tujuan agar memberi bekal dan menciptakan SDM yang memiliki pengetahuan mengenai manajemen bencana.

Selain itu, dalam upaya membangun kapasitas masyarakat melalui kegiatan pendidikan, melalui kegiatan nonformal maupun pendidikan formal dan berbagai penelitian dalam upaya pengurangan risiko bencana pada tahap prabencana. Kegiatan pada tahap prabencana erat kaitannya dengan istilah mitigasi bencana yang merupakan upaya untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan oleh bencana. Mitigasi bencana mencakup perencanaan dan pelaksanaan tindakan untuk mengurangi risiko dampak dari suatu bencana yang dilakukan sebelum bencana itu terjadi termasuk kesiapan dan tindakan pengurangan risiko jangka panjang. Perguruan tinggi memiliki peranan yang cukup penting dalam upaya penanggulangan bencana karena perguruan tinggi mempunyai peran dalam meningkatkan kemampuan masyarakat dan lembaga terkait dalam upaya penanggulangan bencana. Selama ini, koordinasi dalam penanganan bencana menjadi kendala yang terus dihadapi masyarakat dan pemangku kepentingan. Penanganan bencana selama ini hanya reaktif dan tidak menggunakan pendekatan ilmiah.

Dalam upaya agar penanganan bencana dapat dilakukan secara komprehensif, maka dilakukan pengembangan kurikulum manajemen bencana di perguruan tinggi. Atas dasar itu, pemerintah menunjuk dua perguruan tinggi untuk mengembangkan kurikulum kebencanaan, yaitu Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Syiah Kuala Aceh. Dalam upaya pengembangan kurikulum manajemen bencana, maka Fakultas Kedokteran (FK) UGM membuat kurikulum pengajaran manajemen bencana untuk Program Sarjana (S1) yang terintegrasi dalam Blok 4.2 yaitu Health System and Disaster Management dan Program Pascasarjana Kebijakan Manajemen Pelayanan Kesehatan (KMPK) IKM UGM dalam bentuk mata kuliah “Manajemen Bencana”. Sementara itu, pada Pasca Sarjana UGM dibentuk Program Studi Magister Manajemen Bencana. Untuk Informasi lebih lanjut mengenai kurikulum manajemen bencana di UGM bisa di klik pada kotak berikut ini:

alt
alt
alt

Pameran Ilmiah 2011

alt

Pameran Ilmiah
Pengalaman FK UGM dalam Berbagai Bencana dan
Kurikulum Bencana di Pendidikan Kedokteran S1

Selasa, 29 November sd Sabtu, 03 Desember 2011
Lobby Auditorium FK UGM

 Diselenggarakan oleh:
Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan (PMPK)
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Pengantar

Yogyakarta, Selasa (29 November 2011) – Kita tidak dapat menahan bencana yang dapat terjadi kapan dan di mana saja tanpa dapat diduga: di rumah atau di tempat bekerja apalagi dengan cakupan wilayah Indonesia yang sangat luas di ring of fire bumi dan di antara pelat Australia dan Asia. Belajar dari berbagai pengalaman bencana yang terjadi di Indonesia, secara otomatis rumah sakit (RS) akan menjadi pusat rujukan. Oleh karena itu, dalam usaha meminimalkan resiko bencana diharapkan Rumah Sakit mempunyai perencanaan dan prosedur untuk penanganan bencana dalam bentuk Hospital Disaster Plan. Dengan adanya perencanaan ini, diharapkan RS dapat menangani korban secara lebih baik dalam situasi bencana.

Sayangnya hampir seluruh RS di Indonesia belum sepenuhnya dapat menangani korban bencana dengan cepat dan tepat. Hal ini terjadi karena fungsi, struktur, medical support, dan management support yang collapse. Disamping itu, masing-masing RS memiliki cara penanganan korban yang beragam sehingga belum memiliki keseragaman dalam penanganan maupun kesiapannya.

Beberapa tahun terakhir ini PMPK bekerja sama dengan Pusat Penanggulangan Krisis (PPK) dan WHO dalam melakukan In House Training Hospital Disaster Plan (HDP) di beberapa RS. Mengingat prosedur Penanggulangan Bencana (Disaster Plan, DP) adalah serangkaian prosedur yang sudah disiapkan sebelumnya maka sebuah Disaster Plan hanya akan dapat dijalankan bila sesuai dengan kapasitas dan kompetensi staf yang dilatih, dievaluasi, dan diperbaiki secara periodik. Oleh karena itu, perlu pengembangan HDP dan pelatihan terus menerus.

Strategi pelatihan berbeda-beda. Disamping pendampingan tatap muka In House Training, pengembangan lainnya adalah menggunakan cara e-learning melalui web www.bencana-kesehatan.net. Pengembangan HDP dengan e-learning ini diharapkan akan meringankan biaya RS-RS dalam menyusun HDP secara mandiri. Dalam hal ini, strategi pendanaan pelatihan yang bertumpu pada pendekatan e-learning menjadi hal penting untuk dibahas.

Selain kegiatan pendampingan Hospital Disaster Plan (HDP), PMPK juga terlibat dalam pendidikan S1 fakultas kedokteran dan program Pasca Sarjana bencana di UGM. Seperti kita ketahui bahwa peran Universitas dalam penanggulangan Bencana sangat penting karena salah satu alasannya berkaitan dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pengabdian masyarakat. Melalui keikutsertaan dalam penanggulangan bencana, dapat dikatakan bahwa perguruan tinggi melakukan tanggungjawabnya untuk mengabdi kepada masyarakat.

Salah satu alasan lain keterlibatan perguruan tinggi adalah tersedianya banyak sumberdaya. Contoh: Fakultas Kedokteran memiliki banyak dokter, residen, perawat, laboratorium dan biasanya perguruan tinggi memiliki jaringan komunikasi dan informasi yang luas dan dapat dimanfaatkan sewaktu mobilisasi dan mitigasi penanggulangan bencana. Oleh karena itu, sebuah Fakultas Kedokteran sangat diperlukan kurikulum pendidikan Manajemen Bencana pada program S1.

UGM sebagai salah satu universitas terbesar di Indonesia, telah banyak berperan dalam membantu penanggulanan bencana yang terjadi di Indonesia. Pengalaman-pengalaman dalam partisipasi FK UGM terutama PMPK disajikan secara apik dalam pameran ilmiah yang dilangsungkan selama seminggu mulai dari tanggal 29 November hingga 3 Desember 2011 di Lobby Auditorium FK UGM.

Selain pameran ilmiah ini, pada tanggal 30 November 2011 akan diadakan seminar satu hari “Strategi untuk Menyusun Hospital Disaster Plan” di Ruang Senat KPTU Lt. 2 FK UGM yang akan membahas mengenai kebijakan-kebijakan pemerintah dan strategi pendanaan untuk pelatihan HDP dengan pelatihan e-learning dan tatap muka.

Acara Pembukaan Pameran 

Acara pembukaan Pameran dilaksanakan pada Pukul 12.00 – 13.00 di Lobby Auditorium FK UGM.

alt

Pengantar kegiatan disampaikan oleh Senior Konsultan, dr. Hendro Wartatmo, Sp.B.KBD, beliau menyampaikan bahwa bencana merupakan suatu kejadian yang banyak di alami namun belum cukup dikelola. Padahal menjadi tanggung jawab kita bersama dan pemerintah. Manajemen bencana yang dikelola oleh UGM sudah dibentuk oleh Pasca Sarjana pada Program Studi Magister Manajemen Bencana dan merupakan program studi satu-satunya di Indonesia yang mempelajari manajemen bencana secara terpadu dari bidang non kedokteran dan bidang kedokteran. Pengelolaan bencana di Indonesia mendapat perhatian dan meningkat sejak bencana di Aceh.

Prof. Laksono Trisnantoro selaku Ketua Koordinator Kurikulum Pendidikan Kedokteran Blok 4.2, dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa konteks pameran dan seminar bencana sudah masuk pada bahan ajar kurikulum pendidikan S1, yaitu di blok 4.2, sehingga mahasiswa FK UGM memahami kegiatan pengelolaan bencana yang telah FK UGM lakukan. FK UGM merupakan instansi pendidikan yang paling aktif menanggulangi bencana di Indonesia. Pengalaman pada kejadian Gempa dan Tsunami Aceh Tahun 2004, menunjukkan sistem penanggulangan bencana tidak terkoordinir dengan baik, semuanya masih berjalan secara individu sehingga penanggulangan bencana tidak efektif. Lalu Tim FK UGM menciptakan sebuah sistem agar semuanya dapat terkoordinir. Agar kegiatan yang telah dilaksanakan memberi dampak pada ilmu pengetahuan, maka bahan riset dikumpulkan agar bisa digunakan sebagai acuan. Lebih dari 5-6 tahun kami sudah membangun sistem dari pengelolaan bencana yang baik.

Sambutan ketiga oleh Prof. dr. Suhardjo, S.U., Sp.M(K), sebagai Wakil Dekan Bidang Administrasi, Keuangan dan Sumber Daya Manusia. Beliau menjelaskan bahwa pengalaman awal dalam penanggulangan bencana adalah sewaktu terjadi bencana aceh. Pengalaman terjun ke lapangan dalam pengelolaan dan penanggulangan bencana menjadikan suatu pengalaman yang berharga dan oleh Prof. Laksono Trisnantoro, M.Sc,. PhD dapat dijadikan bahan ajar. Pada waktu bencana di Yogjakarta Tim FK UGM menanggulangi dengan cukup baik dengan mengelola sumbangan yang diperoleh dari beberapa perusahaan pengalaman ini tercatat dan terdokumentasi dengan baik. Kita akan aman dari bencana apabila kita siap.

alt 

Dengan pengguntingan pita secara simbolis yang dilakukan oleh Prof. dr. Suhardjo, S.U., Sp.M(K), maka acara Pameran Ilmiah Pengalaman FK UGM dalam Berbagai Bencana dan Kurikulum Bencana di Pendidikan Kedokteran S1, secara resmi dibuka.

Galeri Pameran Poster:

{gallery}poster2011{/gallery}

Galeri Pembukaan Pameran Poster:

{gallery}kegposter2011{/gallery}

Gempa Yogyakarta

alt
Hari Sabtu 27 Mei 2006 pukul 05.55 WIB terjadi gempa bumi tektonik berkekuatan 5,9 SR dengan pusat gempa berada di wilayah Kab. Bantul dengan kedalaman 33 Km. Ribuan nyawa melayang, ratusan ribu rumah penduduk hancur, ratusan sekolah roboh, puluhan Puskesmas/Pustu/RS/sarana pelayanan kesehatan rusak berat. Korban/kerusakan terbanyak ada di Bantul. Kekacauan terjadi, sistem telekomunikasi terganggu, listrik di berbagai tempat padam, banyak tersebar isu tsunami, dan kebetulan hari libur panjang. RS, Puskesmas Perawatan, dan klinik yang buka diserbu korban yang ribuan jumlahnya
 
alt
Pada saat kejadian, respon akut yang dilakukan oleh RS Sarjito sangat membingungkan, karena sebagian besar dokter bedah dan dokter anestesi tidak ditempat dikarenakan ada pertemuan ilmiah di Bandung, Surabaya dan Makasar. Setelah saling berhubungan dan berkoordinasi, mereka memutuskan untuk segera kembali ke yogya agar dapat melakukan pelayanan. Korban semakin lama semakin bertambah di RS Sardjito, sehingga ditunjuk ketua tim dari tim Merapi yang sebelumnya direncanakan. Keadaan semakin kacau karena takut gempa susulan sehingga pasien di ungsikan keluar dengan tenda. Tidak hanya ruangan tetapi jumlah korban dengan jumlah petugas sangat tidak seimbang
 
alt
Sementara itu, gudang farmasi Kab. Bantul yang terkunci dibobol karena puskesmas maupun pos pelayanan kesehatan lain membutuhkan obat. Keadaan gudang sangat berantakan disebabkan oleh beberapa obat berjatuhan dari rak dan obat dalam kemasan botol pecah. Bantuan mulai banyak berdatangan dari berbagai tempat, obat keluar masuk dengan sangat cepat. Masalah muncul karena keterbatasan tenaga serta bantuan yang datang tidak dilengkapi daftar obat yang diserahkan dan sebagian besar tidak mau dicek obatnya. Untuk memenuhi kekurangan tenaga, diminta karyawan dari seksi/subdin lain serta mahasiswa untuk membantu.
alt
Pemda termasuk Dinas Kesehatan Bantul membuka Posko di Rumah Dinas Bupati. DinKes Propinsi DIY melakukan assesment ke sarana pelayanan kesehatan, dan melakukan distribusi makanan balita dan obat-obatan. Dinas Kesehatan Propinsi DIY melakukan koordinasi dengan Dinas PU untuk penyusunan sistem pembuangan sampah dan limbah medis. Pengaturan tim-tim bantuan medis di Kabupaten Bantul terus dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul dengan jumlah staf 10 orang. Kebutuhan obat-obatan dan alat medis mulai disusun. Berbagai komponen dalam masyarakat bergerak. Tim Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan (PMPK) FK-UGM memfasilitasi penyediaan bantuan tenaga medik dari luar dan logistik untuk klinik. Oleh karena itu, dirasakan ada kebutuhan untuk sosok disaster manager dalam sektor kesehatan. Secara informal staf FK UGM meminta DinKes Propinsi untuk membentuk tim emergency di bawah kendali DinKes Propinsi.

PMPK/IKM UGM mulai membantu sistem pencatatan dan informasi dengan memperbantukan seorang staf dan seperangkat komputer. Bagian IKM FK-UGM sebagai komponen masyarakat melakukan kegiatan meliputi 4 hal, yaitu pemetaan, persiapan surveilans, persiapan infrastruktur telekomunikasi, buletin harian, dan fasilitasi pertemuan-pertemuan
 
altalt
Pembentukan tim emergency bencana (Crisis Center) di bawah Dinas Kesehatan Propinsi dengan dukungan WHO yang mencakup berbagai komponen di masyarakat (Brigade 118, perguruan tinggi, Depkes, dll). Kadinkes Bantul berkoordinasi dengan PMPK/IKM untuk berdiskusi tentang kondisi yang dihadapi, kebetulan bertemu dengan Dekan dan para Pembantu Dekan FK UGM yang juga sedang memikirkan apa yang bisa dibantukan ke Bantul. Pada saat itu juga terjadi kontak dengan Dekan FK Unhas Makassar, disepakati PT INKO dengan difasilitasi kedua FK akan membangunkan kembali Puskesmas Piyungan.

FETP UGM bersama WHO dan Dinas Kesehatan Provinsi dan kabupaten terlibat dalam rancangan maupun pelaksanaan surveilans sampai dengan analisisnya. Sampai pada hari ke-7 daftar penyakit untuk dilakukan surveilans pascabencana belum disepakati. Data penyakit yang dihimpun merupakan data penyakit seperti biasanya yang dalam kondisi bencana menjadi beban berat karena jumlah penyakitnya yang banyak
.
Tim pengelolaan bencana yang dipimpin oleh Dinas Kesehatan Propinsi DIY mulai berjalan secara efektif, termasuk mengatur berbagai pertemuan sub-group. Pada masa ini mulai terjadi proses perpindahan dari fase emergency ke fase recovery. Berbagai peralatan telekomunikasi mulai dipindahkan dari RS Sardjito ke Dinas Kesehatan Propinsi. Pemerintah (Dinas Kesehatan) semakin berperan sebagai koordinator kelompok masyarakat dan dunia usaha dalam menangani bencana. Ada berbagai sub-kelompok manajemen bencana antara lain: Pertemuan Teknis Imunisasi Akibat Bencana, Surveillance Penyakit, Rujukan Rumahsakit dan Puskesmas, Logistik, Kesehatan Jiwa Akibat Bencana, Pusat Data & Informasi Bencana
 
alt
Tim manajemen bencana yang berada di bawah Dinas Kesehatan Propinsi diperkuat infrastrukturnya. Proses koordinasi sektor kesehatan termasuk orang asing oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul semakin membaik. Tim FK UGM melakukan koordinasi dengan kepala Dinas Kesehatan Bantul dan Wakil Bupati Bantul mengumpulkan seluruh kepala Puskesmas wilayah Bantul untuk segera membuka puskesmas dan kembali melakukan pelayanan. Dinkes Bantul memutuskan paling lambat H+7 Puskesmas sebagai pembina wilayah harus sudah berfungsi dalam mengendalikan para Tim Medis relawan di lapangan. Tidak hanya puskesmas, tetapi sekolah juga telah dibuka pada minggu kedua, dan saat itu ada ujian akhir nasional sehingga mereka melakukan Ujian di tenda karena sekolahnya tidak dapat digunakan.
 
altalt..

Dari bencana Gempa Bumi Bantul membuat pihak FK UGM merasa perlu adanya suatu sistem dalam penanggulangan Bencana khususnya Manajemen Bencana. Oleh karena itu, Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan (PMPK) FK UGM kemudian membuka Divisi Manajemen Bencana pada tahun 2008 karena dirasakan begitu pentingnya adanya Divisi yang menangani bidang manajemen bencana. Lesson Learned dari kejadian gempa Yogyakarta ini menghasilkan pelatihan melalui table top yang disebut dengan Regional Disaster Plan. Melalui Operational Research maka FK UGM menjadi tempat pembelajaran dalam manajemen bencana.

Liputan Penanggulangan Gempa Padang

Pada hari Rabu, tanggal 30 September 2009 Padang diguncang gempa yang berkekuatan 7,6 SR dan menyebabkan banyaknya korban jiwa, korban luka serta kerusakan bangunan. Selain itu juga pada kabupaten Padang Pariaman terdapat 3 desa yang hilang akibat longsor, semuanya itu  mengakibatkan kerugian material.

Propinsi Sumatera Barat adalah merupakan salah satu daerah rawan bencana. Bencana  ini sangat dirasakan oleh seluruh masyarakat di Propinsi  Sumatera Barat  terutama pada kota Padang, kota Pariaman dan Kabupaten Padang Pariaman. Dampak yang paling kelihatan adalah masyarakat yang kehilangan rumahnya sehingga mereka harus mendirikan tenda didepan rumah mereka masing-masing, baik itu tenda yang memang layak pakai juga tenda darurat dan sekedar plastik yang ada disekitar rumahnya. Keadaan ini sangat memprihatinkan terutama situasi masyarakat paska bencana. Penyakit-penyakit seperti diare, demam, alergi, tetanus dapat terjadi pada paska bencana bila tidak segera dilakukan penanganan pemeriksaan kesehatan pada masyarakat.

Profil Dinas Kabupaten Padang Pariaman

  1. Luas Wilayahnya     : 1328,79 km2
  2. Jumlah Penduduk    : 370.489
  3. Jumlah Kecamatan  : 17
  4. umlah Puskesmas   : 24
  5. Jumlah Pustu          : 62

Korban Gempa adalah :

  1. Korban meninggal   :  335
  2. Luka berat               :  519
  3. Luka ringan             :  631
  4. Hilang                      :  285
  5. Pengungsi               :  0

alt

Pada kejadian ini, FK UGM-RS Sardjito mengambil peran dalam bentuk mengirimkan tim ke Padang.

alt

Tim yang dikirim dalam upaya membantu melakukan assessment dan penanganan pasien-pasien paska bencana. Tim UGM membantu RSUD Pariaman di bangsal, kamar operasi dan management support serta membantu berkoordinasi dengan pihak RS dan beberapa relawan untuk mengatur penempatan relawan di RS. Terbentuk struktur organisasi tim Penanggulangan Bencana di RSUD Pariaman. Sampai hari ketujuh RSUD dibantu oleh beberapa relawan yang kurang lebih jumlahnya 22 tim secara bergantian, dengan spesifikasi tim medis yaitu: dokter bedah, orthopedik, anestetik juga dokter umum dan perawat bangsal, OK dan anestesi. Tim RSUD ini kemudian membantu Dinas Kabupaten Padang Pariaman dalam koordinasi awal sehingga terbentuk tim Penanggulangan Bencana di Dinas Kabupaten Padang Pariaman. Peran tim UGM membantu management support di Dinas sebagai Laisson Officer.

alt

Selama sekitar 10 hari tim UGM membantu Dinkeskab dalam pengaturan relawan, relawan yang dating pada saat itu berjumlah kurang lebih 64 tim.

Selain itu, dilakukan pertemuan antara Dinkeskab dengan seluruh relawan yang ada di wilayah Kabupaten Padang Pariaman melalui Cluster Health Meeting I  pada tgl 12 Oktober 2009, dalam pertemuan disampaikan guideline relawan dan cara laporan secara sms melalui HP serta memberikan matriks pelaporan mengenai penyakit yang dikawatirkan terjadi KLB. Hari terakhir tim UGM di Dinkeskab, bersama-sama pihak Dinas membuat rencana kerja  yang akan dilakukan untuk kedepannya.

Dari keseluruhan kegiatan yang dilakukan tampak bahwa bukan hanya klinisi saja yang dibutuhkan tetapi juga manajemen. Ada 2 hal yang penting dilakukan pada saat paska bencana yaitu medical support dan management support. Yang sering terjadi selama ini adalah semua orang hanya berpikir menangani korban di Rumah Sakit atau di daerah, tetapi pengalaman di Padang sangat membuka mata kita bahwa ternyata management support sangat dibutuhkan.

Pada saat pihak Dinas tidak mampu melakukan sesuatu karena juga menjadi korban, padahal saat itu juga banyak relawan yang datang dengan membawa bermacam-macam spesifikasi. Disini sangat dibutuhkan tim yang dapat mendukung Dinas agar tidak terjadi tumpang tindih penempatan relawan dan rencana kerja serta tugas-tugas yang seharusnya dilakukan Dinas. Dan yang tidak kalah penting adalah agar pihak Perguruan Tinggi setempat dapat terlibat dalam membantu pihak Dinas, jika tidak awal paska bencana tetapi dapat bergantian dengan tim yang datang dari luar daerah yang sudah terlebih dahulu membantu.

Pengalaman yang ada dan sudah dilakukan selama ini semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua, agar dimasa mendatang penanggulangan bencana yang kita harapkan dapat terlaksana dengan baik dan terpadu. Ini menjadi tugas kita semua agar tercapai koordinasi yang lebih baik.

Gempa dan Tsunami Pangandaran

alt

Pada tanggal 17 juli 2006 telah terjadi gempa di sebelah selatan pantai Pangandaran. Pusat Gempa Nasional Badan Meteorologi dan Geofisika atau PGN BMG menyatakan gempa bumi yang terjadi di kawasan pantai Pangandaran tersebut terjadi pada pukul 15.19 berkekuatan 6,8 Skala Richter (SR), dengan pusat gempa tektonik pada kedalaman kurang dari 30 km di titik 9,4 Lintang Selatan, dan 107,2 Bujur Timur. Pusat gempa tepatnya berada di sebelah selatan Pameungpeuk dengan jarak sekitar 150 km, dan merupakan zona pertemuan dua lempeng benua Indo-Australia dan Eurasia pada kedalaman kurang dari 30 km.

Gempa bumi tersebut juga menyebabkan terjadinya gelombang tsunami yang menerjang pantai selatan Jawa Barat seperti Cilauteureun, Kab. Garut, Cipatujah, Kab. Tasikmalaya, Pangandaran, Kab. Ciamis, pantai selatan Cianjur dan Sukabumi. Bahkan, gelombang tsunami juga menerjang Pantai Cilacap dan Kebumen, Jawa Tengah, serta pantai selatan Kab. Bantul, Yogyakarta.  Gempa yang diiringi tsunami ini telah menelan korban jiwa hingga mencapai ratusan orang dan ratusan lainnya mengalami cedera, dan puluhan jiwa dinyatakan hilang.  Ratusan rumah mulai dari sepanjang pantai Krapyak, Kalipucang, Parigi, Cipatujah, Kab. Tasikmalaya, hancur. Demikian pula, hotel-hotel di sepanjang objek wisata pantai barat Pangandaran.

Tim FK UGM dan RS Sardjito berangkat membantu penanggulangan bencana di daerah pangandaran guna melakukan pelayanan kesehatan. Tim ini dibawah pimpinan dr.Hendro Wartatmo yang sudah tidak asing lagi dalam hal bencana. Setelah ikut dalam bencana Aceh dan Bantul Yogyakarta, kini tim membantu daerah pangandaran. Tim ini bertugas membantu selama masa tanggap darurat, dan membuka pos kesehatan di rumah kepala puskesmas. Tim melakukan pengobatan masal di pos kesehatan, langsung ke masyarakat  dengan mengunjungi rumah dan daerah setempat serta di tenda pengungsian. Sebelumnya tim melakukan assessment cepat ke masyarakat setempat di depan kantor kepala desa saat masyarakat banyak berkumpul. Dengan begitu memudahkan tim dalam melakukan pengobatan langsung ke masyarakat yang masih menempati tempat tinggalnya.

alt

Keberangkatan tim ke pangandaran membawa logistik medik dan non medik  seperti obat-obatan, alat–alat medis, infus set dan lain-lain. Tim membantu puskesmas dari mulai inventarisasi obat-obatan sampai melakukan pencatatan medical record. Walaupun puskesmas saat itu tidak dapat digunakan, tapi tidak memupus semangat tim dalam melakukan bantuan bahkan mencatat rekam medis dilantai dan bermejakan bantalan kursi di rumah kepala Puskesmas.

Akibat dari sapuan laut yang merusak daerah tersebut maka Tim juga bekerja sama dengan pihak ABRI dari mulai pembersihan lingkungan sekitar. Semua dilakukan bersama-sama dengan ABRI dan juga masyarakat setempat guna melaksanakan upaya sanitasi lingkungan. Bahkan tim juga membantu dalam pengangkatan dan pengumpulan jenazah. Tim hanya membantu sebatas fase respon dan tidak sampai ke masa recovery karena masih ada tim lainnya yang datang membantu ke daerah tersebut.

{gallery}pangandaran{/gallery}

Tiga Tahun Kegiatan RS. Dr. Sardjito di Aceh

Pada akhir tahun 2004, seperti yang kita ketahui tepatnya tanggal 26 Desember terjadi bencana global Tsunami di dunia dimana Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam merupakan tempat yang paling terkena dampaknya. Musibah gempa bumi tektonik yang berkekuatan 6,8 SR (BMG) atau 8.9 SR (US Geological Survey) terjadi di lautan India, 66 Km sebelah barat Aceh. Gempa tersebut disusul gelombang Tsunami setinggi 12 meter dengan kecepatan 500-900 Km/jam yang menerjang pesisir pantai barat Aceh. Bencana tersebut menimbulkan kerugian yang sangat besar baik nyawa, harta, benda, infrastruktur, lingkungan maupun ekosistem. Bencana dahsyat tersebut tidak hanya menimpa propinsi NAD dan Sumatera Utara saja, namun juga menimpa negara-negara tetangga seperti Thailand, Srilangka dan Maladewa. Kejadian tersebut merupakan bencana terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah Negara Indonesia, sehingga Presiden pada waktu itu langsung mendeklarasikan sebagai bencana nasional yang artinya seluruh bangsa Indonesia juga ikut merasakan adanya musibah tersebut.

RS Dr. Sardjito dan Universitas Gadjah Mada merupakan salah satu lembaga yang turut berpartisipasi dalam rekonstruksi dan rehabilitasi di sektor kesehatan pasca Tsunami, terutama di Kabupaten Aceh Barat. RS Dr. Sardjito dan UGM memulai program bantuannya sejak fase awal pasca bencana Tsunami terjadi. Terdapat 3 tim UGM dalam bidang kesehatan yang secara spontan, tanpa terkoordinasi, berangkat ke Aceh: Tim RS Dr. Sardjito dan FK UGM berada di Melaboh, Tim Fakultas Psikologi ke Banda Aceh, Tim S2-IKM dan PMPK ke RS Zainoel Abidin dan Dinas Kesehatan Propinsi NAD. Setelah 3 bulan berjalan struktur kegiatan diubah agar menjadi lebih terintegrasi dan terkoordinasi serta dikonsentrasikan ke Meulaboh, walaupun sebagian kegiatan di Banda Aceh tetap dipertahankan.

Paparan pada buku Aceh berikut menggambarkan kegiatan-kegiatan RS Dr. Sardjito dan UGM di Aceh mulai dari fase respon akut, fase transisi, fase pemulihan, fase perkembangan dan persiapan serta fase exit strategy yang melibatkan banyak lembaga dan sumber daya manusia.

Berikut ini adalah Buku Tiga Tahun Kegiatan RS Dr. Sardjito, Fakultas Kedokteran dan Fakultas Psikologi UGM di ACEH.

  1. Sambutan
  2. Bab II Rincian Pelaksanaan Program

TOT PERENCANAAN MITIGASI BENCANA

alt

TRAINING OF TRAINER (TOT)

PERENCANAAN MITIGASI BENCANA

Latar Belakang

Training of Trainer (TOT) perencanaan mitigasi bencana kerjasama UGM dengan BAPPENAS didasarkan pada pemahaman tentang mitigasi bencana yang ada di daerah untuk pengurangan risiko bencana. TOT ini diharapkan dapat dijadikan media pembelajaran bagi pemangku kebijakan (stakeholders) dalam pencapaian pemahaman mitigasi bencana yang komprehensif. Sehingga masyarakat lebih siap dan waspada dalam menghadapi potensi bencana yang ada. Masyarakat yang telah memahami bahkan telah sadar terhadap potensi bencana yang ada didaerahnya serta mampu untuk memitigasi bencana tersebut, maka akan mengurangi risiko bencana yang akan terjadi. Dimana masyarakat dapat melakukan perencanaan pembangunan yang berbasis pengurangan risiko bencana. TOT ini juga mencoba mengintegrasikan pendekatan blue print dengan pendataan partisipatori.  Dalam hal ini, para peserta TOT dituntut untuk dapat mengidentifikasi masalah, melakukan forecasting, dan menyusun rencana aksi dengan baik, dan pada saat yang sama mereka dibekali ketrampilan untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan dan memanfaatkan informasi serta aspirasi dari masyarakat dalam pengurangan risiko bencana.

Para peserta dibekali dengan informasi dasar perencanaan mitigasi bencana sebagai landasan dalam penyusunan rencana aksi daerah dalam pengurangan risiko bencana sesuai dengan amanat UU No.24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Selain pembekalan pengetahuan, wawasan dan nilai tentang mitigasi bencana, para peserta juga dibekali dengan ketrampilan untuk menilai risiko bencana dan besarnya kerugian akibat bencana serta menyusun rencana aksi yang perlu dilakukan dalam kegiatan pengurangan risiko bencana.  Berbagai teknik analisis akan dikenalkan, dan para peserta akan diberi kesempatan untuk mempraktekkannya melalui latihan dan presentasi kelas.

ToT perencanaan mitigasi bencana ini bertujuan untuk :

  1. Pemahaman dan penguasaan konsep dasar dan teori penanggulangan bencana
  2. Peningkatan kemampuan peserta untuk menilai risiko bencana serta penilaian valuasi atau kerugian akibat bencana
  3. Peningkatan kemampuan pemangku kebijakan (stakeholders) untuk menyusun rencana aksi daerah dalam pengurangan risiko bencana di daerahnya

Metode pembelajaran (ceramah, diskusi, studi kasus, Simulasi/Role playing, praktik komputer, praktikum lapangan)

  1. Ceramah: Metode ceramah dilakukan di dalam kelas yang dikombinasikan dengan tanya jawab.
  2. Diskusi: Peserta membahas tema dan topik-topik permasalahan dalam kelompok besar di kelas maupun kelompok kecil, untuk  mengembangkan kemampuan dalam mengidentifikasi dan menganalisis masalah dan sharing informasi.
  3. Studi Kasus: Peserta mempersiapkan kasus-kasus tertentu atau permasalahan dari daerah masing-masing atau membawa dokumen penanggulangan bencana daerah, yang kemudian didiskusikan di dalam kelas.
  4. Simulasi/Role Playing: Peserta melakukan latihan dengan memainkan peran-peran tertentu yang kemungkinan terjadi di lapangan dalam situasi tertentu.
  5. Praktik Komputer: Peserta melakukan praktik aplikasi program komputer yang disesuaikan dengan program penanggulangan bencana.
  6. Praktik Lapangan: Peserta diajak mengunjungi kasus tertentu yang relevan dengan topik yang dibahas.

altaltalt

Pelatihan dirancang untuk jangka waktu 10 hari, terbagi dalam 5 modul, dengan rincian sebagai berikut:

  1. Konsep Penanggulangan Bencana dalam Perencanaan Pembangunan
  2. Manajemen Rencana Penanggulangan Bencana dan Pengurangan Risiko Bencana
  3. Manajemen Pencegahan dan Preparedness
  4. Manajemen Kedaruratan Dasar
  5. Manajemen Pemulihan Dasar dan Rehabilitasi Rekonstruksi

alt