Canada sending full Disaster Assistance Response Team to Nepal

Nepal, DART, Canada

The federal government says Canada’s Disaster Assistance Response Team will be deployed immediately to earthquake-stricken Nepal.

Officials say DART members from Canadian Forces Base Trenton will be heading to Nepal, along with civilian political and humanitarian personnel from Foreign Affairs.

The day after last week’s earthquake, Canada deployed the Interdepartmental Strategic Support Team, followed by DART members to assess the situation in Nepal.

The assessment team delivered its recommendations on Friday, including that additional elements of DART should support the relief efforts.

DART is an element of Canada’s response to natural disasters abroad that provides water purification, primary medical care, and engineering help.

source: cp24

Pasca Seminar Kaitan Peningkatan Risiko Bencana dengan Pencapaian MDGs


Tahap 3: Pasca seminar, hasil kesepahaman, diskusi, dan temuan saat seminar akan disebarluaskan melalui media website bencana kesehatan baik dalam bentuk reportase, dokumentasi, dan materi seminar. Hasil ini dapat diakses oleh siapa saja yang mengunjungi website bencana. rangkaian advokasi pasca seminar berlanjut dengan diskusi yang dibangun menggunakan email peserta, narasumber, dan fasilitator (PKMK FK UGM) terkait hasil temuan dilapangan dan masukan dari semua yang terlibat. Pokja Bencana FK UGM bersama dengan narasumber dan pembahas kemudian menyusun policy brief yang akan disebar luaskan kepada stakeholeder, dinas kesehatan, BPBD, dan PPKK 9 Regional. Kegiatan ini akan dijadwalkan april dan mei 2015.

TAHAP 3: Pasca Advokasi Tatap Muka

Kegiatan

Jadwal

Penanggungjawab

Publikasi online hasil seminar melalui web bencana kesehatan dalam bentuk reportase, dokumentasi dan materi seminar.

Maret 2015

Oktomi Wijaya

Diskusi lanjutan dengan pembicara, pembahas dan fasilitator dengan menggunakan webinar

Maret-Mei 2015

Oktomi Wijaya

Pembuatan policy brief untuk disebarkan kepada stakeholder BNPB, BPBD, PPKK 9 regional, Dinas Kesehatan.

Mei 2015

Madelina Ariani

Kami mengundang seluas-luasnya rekan sekalian yang selama ini berkecimpung dalam kebencanaan dan kesehatan untuk terlibat dalam forum diskusi pasca seminar ini. Caranya dengan mengkonfirmasi kesediaan rekan sekalian ke email [email protected] dengan format Nama, Instansi tempat bekerja/mahasiswa/peneliti, nomor HP dengan subjek email Konfirmasi Tahap 3 Seminar Bencana.

BNPB Sertifikasi Standar Kompetensi Penanganan Bencana

Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) membuat nota kesepahaman dengan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) untuk mensertifikasi personil.  Tiap personil harus siap diuji kompetensinya dalam keahlian penanganan bencana.

Kepala BNPB, Syamsul Maarif, mengatakan, sertifikasi ini sebagai salah satu standar kompetensi dalam profesi penanggulangan bencana. “Kita tidak boleh kalah dengan personil luar negeri. Selam ini kemampuan dan ketangguhan yang kita milik dalam penanggulangan bencana tidak diragukan lagi,” kata Syamsul, Jumat (6/2/2015).

Dia mengungkapkan, pendidikan dan pelatihan berbasis standar kompetensi menjadi keharusan. Lulusan dari pendidikan dan pelatihan harus siap diuji kompetensinya untuk memastikan link and match antara standar kurikulum, proses diklat dan uji kompetensi keahlian dibidang penanganan bencana.

Ketua BNSP, Sumarna F. Abdurahman, mengatakan,  ada tiga komponen standar profesi. Pertama standar kompetensi, seperti apa yg dibutuhkan pengguna, kedua adalah acuan modul pelatihan, ketiga, uji Kompetensi oleh lembaga sertifikasi.

Penandatanganan nota kesepahaman antara BNPB dan BNSP dilakukan pada Kamis (5/2) lalu. Penyusunan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia  telah dimulai sejak 2012. Terbentuknya Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) penanggulangan bencana diharapkan memperkuat penetapan standar kompetensi profesi di bidang penanggulangan bencana.

sumbe:Metrotvnews.com

KALEIDOSKOP 2014

  • Seminar Kesiapsiagaan
  • Pelatihan terkait Manajemen Bencana di RS dan Dinas Kesehatan
  • Penyiapan kerjasama Kemenkes dengan Universitas
  • Sedang dalam penyiapan Perpres terkait Safe Health Facility
  • Kurikulum disaster S1 kedokteran danKeperawatan, S2 IKM dan S2 MMB
  • Penyusunan HDP di beberapa RS
  • Pengiriman dan Evaluasi Tim Bantuan ke lokasi bencana
  • Continue Education Internal Team
  • Pengajuan proposal penelitian

Reportase Sesi 2: Disaster Management and Disaster Medicine

sesi-2

sesi-2

Sesi dua ini menghadirkan pembicara dari New Zealand and Filipina. Harapannya dapat menjadi pembanding dengan pengembangan manajemen bencana yang ada di Indonesia. Pembicara kali ini menceritakan mengenai pengembangan manajemen bencana di negara masing-masing baik untuk disaster manajemen dan disaster medicine. Sesi ini dimoderatori oleh dr. Hendro Wartatmo, Sp.BD.

dr. Carlos Primero, EMDM, FPCEM  membagi pengalamannya saat Filippina menghadapi topan Sendong Desember 2011. Saat bencana itu terjadi, pemerintah pusat dan local berkolaborasi untuk menangani pasca bencana. Di Filipina sudah ada regulasi di tingkat nasional dan local dalam hal ini. dr. Carlos menegaskan biaya untuk preparedness lebih murah dibandingkan dengan recovery. Hal lain yang menarik yaitu, preparedness lebih mudah dilakukan, melalui pemerdayaan masyarakat, training dan lain-lain. Pemerintah Filipina melibatkan banyak perguruan tinggi dalam riset bencana dan pendekatan kepada masyarakat melalui training. 

Graeme McColl, sudah berpengalaman selama 14 tahun dalam training manajemen bencana di Selandia Baru. Saat ini, Graeme menjadi penasehat Emergency Management di Kementerian Kesehatan Selandia Baru. Hal terpenting dalam penanganan bencana ialah national dan emergency plan perlu disusun. Sejumlah kebijakan yang mendukung perlu diatur, kemudian perlu juga dilakukan beragam training untuk menghadapi bencana. 

Diskusi

Seorang penanya, mengungkapkan bagaimana mengoordinasikan banyak pihak dalam 1 komado? Selama ini masih jalan sendiri-sendiri?

Kedua pembicara sepakat perlu untuk mengembangkan salah satu mata kuliah manajemen bencana untuk para sarjana agar lebih siap.

Icha (Magister Manajemen Bencana, FK, UGM): menanyakan  masalah disaster management di Indonesia yaitu the lack of coordination.

dr. Carlos menegaskan “We are on public service not self-service”,  jadi harus berkolaborasi.  Graeme menyatakan training bisa dilakukan supaya aturannya sama. Hal ini tepat, karena dalam training koordiinasi ada Incident Command System (ICS). Dalam ICS, sudah diatur job description yaitu  who doing what, jika ini overlap maka akan jadi masalah. Kemudian, diatur pula how they communicate each other  dengan duduk bersama dan membicarakan langkah selanjutnya. Terakhir,  how if someone is missing maka harus ada plan B nya.

M. Fathoni dari UIN Sunan Ampel menanyakan bagaimana menggunakan local wisdom dalam penanganan bencana?

dr. Carlos, Filipina sama dengan Indonesia, local wisdom-nya sama. Disaster response yang utama ialah make happy for everybody, everbody should be serve (wid).

BACK

Live Streaming

Live Streaming

 


 


 

Policy Brief

Public Health Emergency Focusing on Future Preparation – The Role of ASEAN


Lesson Learned from International Cooperation/ International Organizations in Implementing One Health


Operasionalisasi ASEAN Center for Public Health Emergencies and Emerging Diseases (ACPHEED) for Detection and Risk Assessment di Indonesia


Policy Brief Siapkah Dinas Kesehatan Menangani Bencana


Challenges for Curriculum Development in Disaster Health Management:What we can do?


The Importance of Standardization, Accreditation, and Classification of Disaster Medical Assistance Team