Loading Now

Reportase: WADEM on Congress Disaster & Emergency Medicine 2017

wadem2017

wadem2017

{tab title=”Hari 1″ class=”green”}

{tab-ex title=”Panel 1″ class=”orange solid” align=”justify”}

Sesi Pleno 1 (PL01:WHO/WADEM Panel)

25 April 2017

Reportase oleh: Madelina Ariani


1 wadem panel 1

Panel perdana ini masih diselenggarakan di ruangan ballroom, Welllington. Panel ini menghadirkan 6 pembicara sekaligus. Presentasi yang disampaikan antara lain mengenai berbagai isu, pembelajaran, dan update keilmuan dan framework terbaru dalam kebencanaan.

Virginia Murray mengingatkan kita kembali pada kesepakatan Sendai Framework tentang pengurangan risiko bencana. Masing-masing negara telah berkomitmen untuk menyelenggarakan framework tersebut maka tugas kita untuk berkontribusi didalamnya. Murray juga menyampaikan bahwa bentuk update dari Sendai framework akan lebih jelas pada pertemuan 5th Global Platform for Disaster Risk Reduction in Cancun, Mexico, pada 22 hingga 26 Mei 2017.

Luca Ragazoni menyajikan hal yang baru mengenai pembelajaran bencana di perguruan tinggi dan dimana letak kontribusi mahasiswa dalam aksi pengurangan risiko bencana dan kemanusiaan. Jika berbicara pengurangan risiko bencana maka kita memerlukan penguatan kapasitas dan ketahanan. Siapa saja harus berkontribusi dalam upaya tersebut. Termasuk calon tenaga kesehatan, mahasiswa kedokteran dan kesehatan. Contoh mengenai penyakit kronis, jejang karir, kekhususan telah diberikan kepada mahasiswa kedokteran sejak awal perkuliahan sehingga mereka memiliki gambaran yang baik mengenai masa depan mereka. Namun, pada bencana, semuanya belum diberikan dengan baik di perguruan tinggi, baik prinsip, program, hingga spesialisasinya. Luca bersama koleganya di CREMIDEM ITALY mengembangkan berbagai pelatihan mengenai ini dan membuka kesempatan untuk memberikan training for trainer lebih luas lagi.

Jika sebelumnya Luca berbicara mengenai kurikulum bencana, maka pembicara ketiga membahas tentang Global Disaster Health Initiatives in Research and Knowledge Management. Hanya ada 3 poin yang disampaikan, pertama mengenai hadirnya predator publishing yang menjadikan publikasi penelitian kesehatan sebagai ladang bisnis. Kedua, mengenai masih sedikitnya penelitian mengenai kebencanaan yang bisa terbit karena penelitian bencana masih bersifat deskriptif dan masih perlu standar dalam penetapan validitasnya. Ketiga, kabar baiknya adalah penelitian kebencanaan khususnya pengurangan risiko bencana didukung oleh Sendai Framework yang menjadi prioritas global.

Erin Downey menyampaikan mengenai Violence in Health. Paparan yang dimulai dengan video yang menceritakan sebuah ambulan yang mengangkut korban harus terhambat perjalanannya ke rumah sakit karena situasi keamanan dan akhirnya ambulan tersebut terkena sasaran bom. Maknanya sektor kesehatan merupakan sektor yang harus dikuatkan oleh semua kalangan. Masyarakat harus diberikan pengertian mengenai perlindungan layanan kesehatan sehingga penyelamatan hidup pasien, korban dan kesehatan masyarakat bisa menjadi prioritas bagi semua orang.

EMT atau Emergency Medical Team menjadi paparan selanjutnya. Martin sebagai perwakilan dari WHO Emergency Program menyampaikan mengenai definisi EMT dan minimum standar agar dapat disiapkan oleh semua negara. Mengutip ucapan dari Ian Norton pada EMT Global Meeting 2016 di Hongkong “In clinical care and health response, “good intentions” are not enough”, Martin mendorong semua negara menyiapkan EMT masing-masing baik untuk respon nasional maupun antar negara. Gunakanlah standar internasional untuk dikembangkan dalam menyusun standar nasional.

Terakhir, Michael You dari WHO Africa menyampaikan mengenai reformasi dukungan internasional mengenai kesiapsiagaan dan respon terhadap kasus epidemi. Upaya pengurangan risiko pada dasarnya adalah upaya mempersiapkan sistem kesehatan untuk siap dalam menghadapi situasi bencana ataupun emergency.

Enam paparan singkat di atas cukup membangkitkan pemikiran kita mengenai perkembangan dan kebutuhan-kebutuhan kita terhadap situasi krisis dan bencana khususnya di sektor kesehatan. Pemerintah Indonesia termasuk yang berkomitmen dalam upaya pengurangan risiko bencana yang salah satunya tertuang dalam Nawacita Presiden Jokowi. Begitu juga dengan pengembangan kurikulum dan penelitian mengenai kebencanaan. Sejak kejadian bencana tsunami 2004, perkembangan kurikulum kebencanaan untuk mahasiswa kedokteran, kesehatan masyarakat, keperawatan berkembang dengan pesat termasuk pada sekolah-sekolah tinggi kesehatan seperti kebidanan. Tantangannya juga tidak jauh berbeda dari pengembangan kurikulum bencana di perguruan tinggi kesehatan, yakni standar pengembangan kurikulumnya. Banyak perguruan tinggi kesehatan yang mengembangkan kurikulum bencana berdasarkan pengalaman dan pendapat umum dari pada berdasarkan bukti (evidence) dan kompetensi yang dibutuhkan ke depannya.

Sedangkan untuk EMT, sejak 2016 Indonesia mulai merumuskan kembali mengenai EMT. Pada dasarnya Indonesia sudah memiliki EMT dari dulu, meski hingga saat ini masih dengan nama-nama yang berbeda sesuai institusi/organisasi tetapi upaya untuk mengadaptasi dan mengembangan standar internasional EMT ke standar nasional sudah mulai dilakukan oleh kementerian kesehatan.

{tab-ex title=”Pleno 1″ class=”blue solid”}

Sesi Pleno 1 (PL01:WHO/WADEM Panel)

25 April 2017

Reportase oleh: Bella Donna


Fasilitas kesehatan aman dalam situasi bencana menjadi isu awal yang diberikan pagi ini pada hari pertama kegiatan WADEM di Toronto.
Pengalaman bencana di seluruh dunia membutuhkan sesuatu yang bisa langsung dilakukan dan tidak hanya sekedar teori. Teori mengatakan bahwa semua fasilitas kesehatan harus aman dari bencana, tetapi untuk menuju aman ini maka praktek yang perlu dimulai adalah mengembangkan dan mengutamakan pelayanan kesehatan dan keselamatan korban di daerah yang risiko tinggi bencana. Sampai pada akhirnya semua fasilitas kesehatan dapat aman dari bencana.

1 wadem PL01 keyonteCiro mengatakan bahwa nantinya rumah sakit harus bukan sekedar aman saja tetapi juga menjadi “ Smart Hospital Initiative” yaitu Safe, Green, Smart. Ini sudah diimplementasikan di Georgetown Hospital  dan teruji pada situasi darurat pada 24 Desember 2013, bahwa tidak ada dampak yang terjadi pada RS tersebut, seluruh tempat tidur penuh dan operasional serta pelayanan terhadap masyarakat berjalan dengan baik, sistem kebutuhan air dan listrik juga tetap berfungsi dengan baik. Semua sistem teruji dan bekerja dengan baik.
Pembelajaran yang didapat adalah respon lokal baik alat dan staf sangat efektif bila sejak awal sudah dipersiapkan dan dilatih.

Bila kita melihat di Indonesia, pengembangan dalam penyiapan fasilitas aman dalam bencana sudah mulai berkembang. Diawali dengan masuknya kesiapsiagaan rumah sakit ke dalam akreditasi, sehingga rumah sakit wajib menyiapkan diri untuk menghadapi bencana. Saat ini kesiapsiagaan puskesmas juga sudah masuk dalam akreditasi. Selain itu rumah sakit maupun puskesmas harus menyiapkan tim bencana ( Emergency Medical Team/EMT) untuk kesiapan lokal dalam menghadapi bencana, ini menjadi salah satu wacana yang sudah mulai dikembangkan oleh Pusat Krisis Kemenkes. 

Pada pembicaraan selanjutnya Ciro mengingatkan mengenai klaster kesehatan (Health Cluster), Harus jelas siapa yang akan menjadi leader dan tantangan utama selalu adalah koordinasi.

Kabar terbaru dari WHO Emergency Program adalah One Five yaitu satu organisasi dengan satu persepsi atau satu prinsip.
One Five :
1.    One Workforce
2.    One Workplan and Budget
3.    One Line of Accountability
4.    One set of process
5.    One admin system

Di Indonesia, BNPB sudah membagi klaster dan salah satunya adalah klaster kesehatan, yang dipimpin oleh Pusat Krisis di nasional dan dinas kesehatan di daerah. Semua tim bencana ( EMT) yang sesuai dengan tipenya masing-masing akan tergabung dalam klaster kesehatan.  Harapannya One Five juga akan dapat diterapkan di Indonesia, sehingga semua menjadi satu persepsi atau satu prinsip dari pusat sampai ke daerah, sesuai dengan kebutuhannya masing-masing.

 

{tab-ex title=”Panel 2: Civil Military”  class=”red solid”}

Sesi Workshop WS08:

Civilian-Military Collaborative Operations- Lessons we’ve learned

25 April 2017

Reportase oleh: Madelina Ariani


Hubungan sipil dan militer selama ini jarang dibahas, padahal pada setiap kejadian bencana mereka selalu bertemu. Bagaimana kolaborasi? Tantangannya dimana dalam melakukan kolaborasi dibahas dalam workshop ini berdasarkan presentasi pengalaman masing-masing peserta. Chair pada workshop ini adalah Paul Farrell.

Pembicara dari militer menceritakan pengalamanya pada situasi bencana dan konflik yang pernah mereka alami. Situasi ini pernah mereka alami baik di negara sendiri ataupun di negara lain ketika mereka dikirim untuk bertugas. Seperti pengalaman tentara Jerman menangani pengungsi dari Afrika dan bencana gempa Haiti.

Tidak dipungkiri kalau batasan civil dan militer itu terkadang masih ada. Ada gap seperti ketidakpercayaan pada misi masing-masing, pada kemampuan kepemimpinan, dan bentuk koordinasi yang berbeda antara sipil dan militer. Namun, sebenarnya itu wajar saja, sebab pada koordinasi lainnya juga bisa terjadi hal demikian, seperti dengan NGO misalnya. Hal yang menjadi pemicunya seperti perbedaan misi, perbedaan funding, dan sebagainya.

Dok. PKMK: dr. Christian

Di sekolah militer, kepada calon tentara kami selalu menyampaikan agar terbiasa dengan perbedaan, ucap dr. Christian dari militer Jerman. Hal ini penting ketika kami berkolaborasi dan bekerjasama dengan siapapun dalam tindakan kemanusiaan, tambahnya.

Pada dasarnya kolaborasi akan terjalin dengan baik, asalkan semua pelaku kemanusiaan menerapkan prinsif-prinsif kemanusiaan (Humanitarian Principle).

{tab-ex title=”Workshop 1″ class=”grey solid” }

 Sesi Workshop  WS01:
Public Health-Emergency Simulation Tool for Enhanced Training in Preparedness and Response

Toronto, 25 April 2017

Reportase oleh: Madelina Ariani


Dok. PKMK: Situasi workshop

Kieran Moore dari Queens University Kanada secara langsung membawakan workshop ini. Selama hampir 1,5 jam, Kieran berinteraksi dengan peserta yang terbagi dalam 4 grup. Ada dua tools yang dapat diakses untuk simulasi yakni Acute Care Enhanced Surveillans System (ACES) dan Public Health Information Management System (PHIMS) yang merupakan update real data kesehatan dan hal terkait di daerah.

Dr. Kieran MooreWorkshop ini bertujuan untuk mengajarkan penggunaan data riil untuk pengembangan kasus simulasi bagi tenaga kesehatan dalam menghadapi kasus kegawatdaruratan dan bencana. Melalui data real ini kita dapat melihat situasi nyata pada kejadian yang sudah berlalu sehingga suntikan kasus hari per hari yang diberikan kepada peserta simulasi benar-benar berdasarkan kasus nyata.

Kasus yang dibahas pada hari ini mengenai cuaca panas ekstrim yang melanda Kanada tahun 2016. Suntikan kasus diberikan hari per hari secara perlahan hingga 7 hari. Setiap hari, masing-masing kelompok diberikan pertanyaan pemicu diskusi.

4 grup tersebut adalah:

  1. Grup 1 mengenai Command
    Tentang bagaimana grup mampu mengidentifikasi tanggungjawab dan mengidentifikasi sektor lain untuk melakukan koordinasi
  2. Group 2 mengenai penggunaan data PHIMS
    Tentang mengidentifikasi bahaya apa yang berhubungan dengan cuaca panas ekstrim dan data-data apa yang dapat dipantau dari PHIMS
  3. Group 3 mengenai penggunaan data ACES
    Tentang apa dampak situasi ini pada kesehatan masyarakat, berapa risikonya, dan data apa yang dapat dipantau dari ACES ini
  4. Group 4 mengenai komunikasi
    Tentang bagaimana mengkomunikasi mengenai kondisi ekstrim ini kepada masyarakat sebagai bentuk peringatan dini dampak kesehatan atau promosi kesehatan lainnya.

Jika kita bandingkan, maka pengembangan hal serupa dapat dilakukan di Indonesia. Dinas kesehatan dan kementerian kesehatan sudah memiliki data surveilan rutin, hanya saja pengolahannya menjadi sebuah kebijakan dan deseminasi masih kurang. Selain itu, simulasi bencana sektor kesehatan yang dilakukan di Indonesia masih seputar bencana internal di rumah sakit seperti kebakaran, dan jenis bencana lainnya bagi dinas kesehatan. Sedangkan penggunaan data surveilan untuk simulasi penanganan krisis kesehatan belum begitu dilakukan. Simulasi yang kerap dilaksanakan berdasarkan pengalaman dan tren kejadian penyakit/ korban yang sudah lewat untuk pembelajaran respon masa depan jika ada kejadian serupa.

Bagi pengembangan kasus skenario, ide ini menjadi hal yang menarik untuk dikembangkan ketika melakukan simulasi bencana. Terutama pengembangan suntikan kasus hari per hari kepada peserta simulasi sehingga kita dapat mengukur kemampuan para peserta dalam melakukan analisis data, berkomunikasi, dan membuat perencanaan bagi kesehatan masyarakat/ keselamatan korban.

{tab-ex title=”Sesi CS03″ class=”solid green” }

Sesi CS03:
Disaster Medicine Principles

Toronto, 25 April 2017

Reportase oleh: Bella Donna


Beberapa pembicara di kelas ini meneliti dari berbagai aspek, salah satunya yaitu kebutuhan dari penguatan kelompok difabel di masyarakat agar saat terjadi bencana maka mereka dapat siap menghadapinya, ini menarik jika dilihat di Indonesia bahwa kelompok difabel dalam keluarga sering menjadi beban atau menjadi penghambat dalam melakukan evakuasi saat bencana. Sehingga penguatan kelompok difabel ini sangat perlu dikembangkan di Indonesia.

Pembicara lainnya meneliti bagaimana jika terjadi krisis generator/ listrik saat terjadi bencana, siapa yang akan didahulukan saat mengevakuasi pasien di ICU yang tidak sedikit jumlahnya dan bagaimana mengevakuasi mereka. Hal ini dapat dilihat pada Crisis Standards of Care yang bisa di akses secara gratis, untuk dapat mempelajari dan dapat menjadi standar bagi Rumah Sakit terutama di Indonesia.

Ada dua pembicara lain yang membahas Emergency Medical Team (EMT) dan Personal Preparedness yang menggunakan brain software (http://www.thebrain.com/). Untuk materi dan penelitian EMT sekarang menjadi sesuatu yang sedang kita kembangkan di Indonesia. Bahwa kita akan memiliki tim bencana (EMT) dari tingkat daerah kabupaten/kota, Propinsi dan Nasional. Sedangkan Personal Preparedness saat ini di Indonesia belum dikembangkan. Bagaimana masing-masing personal ataupun keluarga siap menghadapi bencana bila dievakuasi minimal pada 3 hari di awal. Dari mulai pakaian sampai pada kebutuhan pangan. Masing-masing keluarga memiliki telpon yang dapat dihubungi, baik telpon penting seperti kantor polisi, juga telpon keluarga terdekat ataupun tetangga. FK UGM sejak tahun 2016 sudah memberikan materi yang mirip dengan Personal Preparedness, namun tidak menggunakan brain software tetapi masih menggunakan ceklist dengan judul materi yaitu Family Disaster Kit pada CFHC (Community and Family Health Care).

{/tabs-ex}

 

{tab title=”Hari 2″ class=”orange”}

Sesi Full  Day 2

Toronto, 26 April 2017

Reportase oleh: Madelina Ariani

Dok. PKMK: kelas oral di ruangan ballroom

Hari kedua ini, kami memulai kegiatan dengan mengikuti sesi presentasi poster. Ada lebih dari 140 poster yang diterima tahun ini. Sesi ini menarik perhatian peserta. Jika diperhatikan, kali ini poster lebih beragam dan banyak membahas mengenai topik-topik Emergency Medical Team (EMT), patient treatment in emergency/ disaster, serta simulation and curriculum.

oral kelas kecil h2

Seperti kemarin, hari ini juga dibuka banyak kelas presentasi oral dengan topik yang masih sama. Ada juga kelas berbahasa Perancis. Tema yang menjadi perhatian kami sesuai dengan arah kebijakan Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes dan WHO Indonesia adalah mengenai EMT. Menarik untuk mendalami penelitian-penelitian seputar EMT. Masalah pembentukan tim di setiap negara ternyata berbeda-beda. Ada yang mampu memang menggabungkan antara pemerintah dan swasta, ada juga yang memang milik pemerintahan. Selain itu, dapat kita simpulkan pula dari sesi di kelas ini bahwa adjustment dan alignment merupakan faktor yang sangat menentukan eksistensi EMT. Penerjunan, skill, dan kemampuan merupakan faktor pendukung. Namun bagaimana sebuah EMT dibuat, diatur, dan dijaga keberlanjutannya adalah hal yang sangat penting, tentu mengenai sertifikasi juga.

disaster medicine book author

Hari ini tim divisi berkesempatan untuk bertemu dan berdiskusi dengan penulis buku Disaster Medicine dari Anna Maria College, beliau adalah Dr. Gregory Ciottone. Sejak dibuatnya kurikulum bencana di Fakultas Kedokteran UGM untuk mahasiswa kedokteran, kami berusaha mencarikan model yang tepat baik untuk disaster medicine ataupun disaster health management. Maka dari itu, kesempatan kali ini kami gunakan untuk berdiskusi dan membuat janji agar ke depannya kami bisa melakukan interaksi lebih dalam melalui webinar atau teleconference.

{tab title=”Hari 3″ class=”blue”}

{tab-ex title=”Sesi CS 41 ”  class=”orange solid” align=”justify”}

Sesi CS 41 : Health System

Chairs : Marv Birnbaum & Angeliki Bistaraki (student Co-Chair)

Toronto, 27 April 2017

Reportase oleh : Bella Donna


h3 Health System 1

Kali ini pembicara dari Indonesia ada dua yang menyampaikan penelitian. Pembicara pertama dari Indonesia adalah Sukma Panggabean dari Universitas Ketahanan Indonesia yang bekerjasama melakukan penelitian bersama Pusat Krisis Kemenkes, bertujuan untuk menilai risiko perubahan iklim yang dapat memberikan nilai atau demonstrasi kepada pemimpin dan para ahli di Indonesia, dan pada akhirnya menciptakan pemahaman yang sama  tentang ancaman iklim yang dihadapi sistem kesehatan kita, untuk menerapkan intervensi yang efektif. Proyek ini dilakukan secara multidisiplin dengan para pemimpin senior di bidang real estate, manajemen risiko kesiapsiagaan darurat, asuransi, dan pakar iklim eksternal. Penelitian dilakukan di 30 lokasi diseluruh wilayah yang memiliki sistem kesehatan. Temuan utama mencakup ancaman keseluruhan sistem dari kejadian panas yang ekstrim dan kerentanan terhadap infrastruktur yang dapat memberi beban secara tidak langsung  pada fasilitas. Sehingga dapat disimpulkan bahwa membangun ketahanan iklim memerlukan pendekatan multi disiplin, dinilai dari peningkatan fasilitas, peningkatan operasional dan koordinasi yang lebih baik dengan lembaga dan institusi yang saling terkait, tergantung dari apa yang  terjadi.

Pembicara kedua dari Indonesia adalah perwakilan dari Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM yang menjelaskan tentang penelitian kesiapsiagaan kesehatan dalam bencana di pulau-pulau kecil di Seram Bagian Barat. Penelitian ini ingin melihat sejauh mana kesiapsiagaan Dinas Kesehatan, rumah sakit dan puskesmas yang ada di Kabupaten Seram Bagian Barat dengan situasi wilayah kerjanya tidak hanya di satu pulau. Hasil yang didapat bahwa sangat rendah kesiapsiagaan dari Dinas Kesehatan, rumah sakit dan puskesmas yang ada disana, sehingga diberikan rekomendasi agar pemimpin wilayah dapat lebih memperhatikan hal ini dan dilakukan pelatihan terhadap staf dan masyarakat sekitar. Daerah ini sering terjadi bencana banjir yang mengakibatkan banyaknya rumah yang rusak serta warga yang harus dievakuasi.

h3 Health System 1

Selain dari Indonesia yang menarik adalah pembicara dari Australia yang bercerita mengenai penelitiannya terhadap aturan dokter di pelayanan kesehatan primer di daerah. Mereka melihat bahwa dokter yang konsen terhadap bencana ternyata tidak banyak. Mereka melihat bahwa kebanyakan dokter hanya bekerja sesuai dengan kebutuhan mereka dan kepentingan mereka pribadi, dan belum merasa bahwa kebutuhan dia sebagai pekerja kesehatan sangat penting pada saat terjadi bencana. Mereka hanya melihat bahwa bencana adalah sesuatu yang besar seperti tsunami, gempa bumi, gunung berapi dan lain-lain yang melibatkan banyak orang sehingga dapat dilakukan bersama-sama  tanpa memahami arti sebenarnya dari konsep bencana itu sendiri. Bencana tidak hanya oleh karena situasi yang besar, tetapi bencana seperti kecelakaan bis yang melibatkan luka di suatu daerah kecil dengan pekerja kesehatan yang sedikit sudah menjadi bencana buat mereka. Sehingga sangat penting perlu ada aturan dan penguatan kapasitas terhadap dokter yang bertugas di layanan primer karena terkait dengan kebutuhan masyarakat jika terjadi bencana.

{tab-ex title=”Workshop: WS29”  class=”red solid”}

Sesi Workshop: WS29:
Frameworks for Disaster Research : Developing the science

Toronto, 27 April 2017

Reportase oleh : Bella Donna


h3 WS 1Presentasi ini memberikan ulasan mengenai kerangka konsep bencana yang diajukan oleh WADEM untuk dapat digunakan sebagai pembelajaran terhadap aspek kesehatan dari bencana. Kerangka konsep ini menjadi model dan direkomendasikan untuk dasar dari penelitian epidemiologi dan penelitian intervensi bencana kesehatan.

Penjelasan kerangka konsep bencana yang diberikan sangat jelas dengan  kebutuhan struktur,  terminologi dan defenisi yang dapat dipakai dan digunakan sebagai bahan pembelajaran untuk direplikasikan secara umum dan informasi yang berguna serta dapat dikontribusikan untuk membangun ilmu dan penelitian terhadap bencana kesehatan.

Pembicara menjelaskan mulai dari pemahaman apa itu ancaman dan pernyataan bahwa ancaman (hazard) bukan bencana, tetapi potensial untuk terjadi bencana. Apakah itu bencana yang besar ataupun yang kecil. Setelah ancaman maka terjadi sesuatu yang disebut kejadian (event). Ada beberapa tipe dari event seperti mechanical, elektrika dan sebagainya. Event ini juga tidak bisa disebut bencana. Karakteristik dari event juga bisa diihat dari mekanismenya, amplitude, onset, lama kejadian. Kejadian (event) ini memiliki kekuatan untuk dapat menjadikan kerusakan struktural dan merubah fungsi yang biasanya. Kerusakan struktural yang sudah disebabkan oleh kejadian ini yang perlu diperhatikan. Jika telah terjadi kerusakan maka perlu dipikirkan bagaimana agar kedepannya kita bisa membuat segalanya menjadi lebih baik. Sehingga kerusakan tidak menjadikan fungsi yang sebenarnya menjadi defisit dan menjadikan terjadinya kegawatdaruratan dan membutuhkan lokal respon. Bila ketahanan dan persiapan tidak dilakukan segera maka respon lokal juga bisa saja tidak mampu sehingga perlu bantuan respon  dari luar, dan ini sudah disebut dengan bencana.

Sejak kita mengetahui ancaman yang ada maka kita harus berpikir bahwa ada risiko yang akan ditimbulkan bila terjadi suatu kejadian (event), untuk itu perlu kita tingkatkan kapasitas agar risiko dapat ditekan dan tidak sampai kepada kerusakan struktural yang mengganggu fungsi kehidupan yang sudah ada.

 

{tab-ex title=”Sesi: CS44 Simulation”  class=”blue solid”}

Sesi: CS44 Simulation

Toronto, 27 April 2017

Reportase oleh: Madelina Ariani


Simulasi menjadi topik yang sangat menarik dalam manajemen bencana. Simulasi termasuk dalam upaya yang dapat dilakukan untuk penguatan kapasitas. Di kelas presentasi oral yang dipimpin oleh Carolin Filipowska dan Sohaib Chaudary kita akan melihat berbagai model simulasi, pengalaman melakukan simulasi, dan metodenya dalam bencana kesehatan.

h3 simulation 1
Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM yang diwakili oleh Madelina Ariani, berkesempatan untuk memaparkan hasil penelitian kami mengenai simulasi bencana di rumah sakit di Indonesia. Dalam upaya memberikan pengajaran simulasi yang efektif kepada klien kami (rumah sakit yang didampingi proses pembuatan atau revisi Hospital Disaster Plan milik rumah sakit tersebut oleh kami) seringkali dihadapkan pada kurang keseriusan rumah sakit dalam melakukan simulasi dan HDP. Banyak rumah sakit yang kemudian tiba-tiba meminta simulasi dan HDP menjelang akreditasi. Padahal, makna dari HDP sebenarnya sangat diperlukan bagi rumah sakit tersebut dalam upaya menjamin keselamatan pasien serta upaya kesiapsiagaan menghadapi kasus-kasus kegawatdaruratan masal dan bencana.

Berdasarkan hal tersebut, kami mencoba sebuah upaya yang kami sebut Research Based Simulation, dimana kami mencoba membuat penelitian menggunakan kuesioner pada saat simulasi. Kami mencoba melihat perbedaan proses dan hasil ketika sebuah rumah sakit diberikan kuesioner penelitian dengan yang tidak pada saat mereka melakukan simulasi. Hasilnya cukup signifikan.

h3 simulation 2
Penelitian lainnya yang menarik berasal dari paparan Jiyoung mengenai penggunaan Table top Exercise dalam simulasi. Peneliti konsen untuk melihat upaya-upaya untuk rencana tindakan dalam menghadapi bencana oleh peserta pelatihannya. Ada juga penelitian, Victor yang menggunakan virtual simulation untuk melatih upaya kesiapsiagaan di fasilitas kegawatdaruratan.

h3 simulation 3

{/tabs-ex}

{tab title=”Hari 4″ class=”blue”}

Sesi: Penutupan

Toronto, 28 April 2017

Reportase oleh: Madelina Ariani


Seperti penutupan pada umumnya, seremonialnya adalah pengumuman dimana akan diselenggarakan WADEM berikutnya. Semua peserta berkumpul kembali di Ballroom Metropolitan.

Dua tahun mendatang, tepatnya 7-10 Mei 2019 di Brisbane, Australia, ditetapkan sebagai waktu konferensi 21st World Association for Disaster and Emergency Medicine.

h 4 penutupan wadem

Erin sebagai VP Congress, dalam pidatonya menyampaikan terima kasih kepada seluruh peserta yang hadir lebih dari 50 negara di dunia. Terima kasih atas diskusi yang sangat menarik selama 4 hari ini, tambahnya. Lauri sebagai local chair Toronto untuk WADEM, juga menyampaikan terima kasih dan berharap semua peserta juga menikmati Toronto. Semua berharap dapat berjumpa 2 tahun lagi. Kita akan sama-sama me-review hasil diskusi kita dalam 4 hari ini. Mempersiapkan penelitian, kajian, dan pengalaman kita untuk ke depannya.

Setelah penutupan masih ada kegiatan post congress yakni pelatihan mengenai Utilizing Frameworks to Conduct Disaster Health Research yang dibawakan oleh Prof. Marvin Birnbaum. Perwakilan Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM yang hadir dalam workshop ini adalah dr. Hendro Wartatmo.

h 4 penutupan wadem 2

Sebelumnya Prof. Marvin pernah berkunjung ke Indonesia dan Fakultas Kedokteran UGM sekaligus memberikan kuliah umum mengenai bencana kesehatan. Kami senang dapat bertemu beliau dan istrinya Prof. Elaine serta berdiskusi mengenai pengembangan penelitian bencana menggunakan frameworks yang disampaikan oleh Prof. Marvin. Jika ingin mengetahui lebih mengenai penjelasan frameworks nya, silakan menyimak reportase hari 3 yang ditulis oleh dr. Bella pada halaman website ini.

h 4 penutupan wadem 3

Kami sempat berdiskusi juga dengan salah satu anggota Oceanea Chapter, dr. Penelope Burns. Penelope memiliki focus besar dalam upaya penguatan kapasitas dokter di puskesmas untuk menghadapi bencana dan situasi emergensi. Hal ini sangat berkaitan dengan konsen kami juga, pengembangan kurikulum di perguruan tinggi kesehatan serta manajemen bencana kesehatan. Kita akan berusaha menjalin komunikasi kedepannya dalam rangka persiapan workshop mengenai topik ini pada WADEM berikutnya di Australia.

Demikian dari kami, kami sangat berharap akan lebih banyak nantinya kontribusi peneliti, praktisi, dan siapapun yang konsen dalam manajemen bencana sektor kesehatan untuk hadir pada WADEM 2019.

 

{/tabs}

Post Comment

YOU MAY HAVE MISSED