Mengatasi Bencana dari Desa

BARU melewati tiga bulan pertama tahun 2021, Indonesia sudah dilanda bencana bertubi-tubi. Sebut saja, mulai dari banjir, longsor, gempa bumi, erupsi gunung, dan angin puting beliung yang melanda sejumlah daerah di Indonesia. Ironinya lagi, luka bangsa yang belum kering akibat bencana non-alam pandemi Covid-19, kini kita kembali diuji melalui rangkaian peristiwa bencana hidrometeorologi.

Sebetulnya, kejadian bencana hidrometeorologi yang terjadi di awal tahun ini sudah bisa diperkirakan. Karena jauh sebelumnya, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah memberikan peringatan dini tentang potensi bencana hidrometeorologi ini. Namun, peringatan dini bencana ini terkadang tidak berbanding lurus dengan kesiapsiagaan yang kita lakukan untuk meminimalisir risikonya. Akhirnya, kita terus menerus selalu dihadapkan pada persoalan yang sama saat terjadi bencana. Mulai dari jumlah korban jiwa yang begitu besar, kerusakan yang terjadi begitu massif, dan trauma psikologis yang diderita korban bencana begitu mendalam. Pada kondisi inilah, kita sering kali surplus konsep dan miskin eksekusi.

Andai saja sejak awal kita mau berbenah, mungkin dampak bencana ini tidak akan begitu parah. Apalagi dengan pengalaman panjang masyarakat kita dalam menghadapi bencana semestinya menjadi modal berharga untuk menumbuhkan sikap siaga dan waspada dalam keseharian kita. Namun, sayangnya hidup di wilayah yang rawan terhadap bencana tidak serta merta membuat masyarakat kita sadar dan mawas diri. Bisa dibayangkan, betapa memilukannya bagi masyarakat yang berada di wilayah rawan bencana tetapi di sisi lain mereka tidak memiliki kapasitas yang memadai untuk melakukan upaya mitigasi. Jelas, persoalannya akan semakin rumit dan kompleks.

Kondisi masyarakat yang rentan terhadap bencana memang tidak bisa dihindari, namun dapat diupayakan untuk mengurangi risikonya. Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah dengan meningkatkan kesadaran dan kapasitas yang mereka miliki. Tentu, itu semua tidak muncul dan datang secara tiba-tiba. Butuh proses panjang. Yang kemudian kita sebut sebagai pemberdayaan. Untuk memulainya, akan jauh lebih efektif jika diawali dari desa.

Membangun Ketangguhan dari Desa

Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana mengamanatkan untuk melindungi masyarakat dari ancaman bencana. Makna ’melindungi’ sebagaimana dalam UU tersebut harus diartikan sebagai upaya untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat dari gangguan bencana, termasuk bagi mereka yang berada di desa. Jika merujuk pada data tahun 2020, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Abdul Halim Iskandar menyebutkan setidaknya ada 50.000 desa di Indonesia yang berisiko tinggi terhadap bencana (detiknews.com, 5/1/2020).

Banyaknya jumlah desa yang rawan bencana sebagaimana data di atas, sebetulnya tidak begitu mengagetkan karena Indonesia dilalui oleh jalur pertemuan 3 lempeng tektonik, yaitu: Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik. Maka dari itu, tidak menarik sesungguhnya jika hanya melihat persoalan bencana dikaitkan pada soal takdir semata. Sisi penting yang mestinya harus dijawab adalah apakah pengetahuan dan kapasitas masyarakat kita sudah cukup memadai saat bencana terjadi? Jika belum, bagaimana cara meningkatkannya?

Merujuk pertanyaan di atas, maka dalam Peraturan Kepala (Perka) BNPB Nomor 1 Tahun 2012 tentang Pedoman Umum Desa/Kelurahan Tangguh Bencana. Di dalamnya dijelaskan prasyarat penting yang harus dipenuhi desa dalam membangun ketangguhan. Prasyarat itu mulai dari: penyusunan kebijakan berupa peraturan desa tentang penanggulangan bencana, penyusunan dokumen rencana penanggulangan bencana, pembentukan kelembagaan bencana desa, adanya pendanaan dan kegiatan-kegiatan pengembangan kapasitas untuk pengurangan risiko bencana di tingkat desa.

Meski begitu, upaya untuk membangun desa tangguh bencana ini bukanlah tanpa tantangan. Keterbatasan kapasitas sumber daya dan anggaran dari pemerintah selalu menjadi masalah klasik yang seolah menuai jalan buntu. Belum lagi praktik di lapangan menunjukkan adanya instansi/lembaga yang menggunakan pedoman desa tangguh bencana yang tidak sesuai dengan standar yang ada. Jelas, persoalan ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut karena dapat menyebabkan tumpang tindih penanggulangan bencana di desa.

Padahal di sisi lain, kenyataan bahwa banyaknya korban jiwa dan kerugian materi akibat bencana yang terjadi selama ini sebetulnya dapat diminimalisir dengan memperkuat ketangguhan desa sebagai komunitas yang bersentuhan langsung dengan masyarakat itu sendiri. Artinya, paradigma penanggulangan bencana yang dahulunya bersifat sentralistik, kini diarahkan dengan pelibatan partisipasi masyarakat sejak awal mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Yang menarik adalah desa diberikan rekognisi sehingga memiliki peran strategis dalam pengurangan risiko bencana.

Sejalan dengan hal itu, komitmen untuk membangun dan mengembangkan desa tangguh bencana ini juga telah ditunjukkan oleh KONSEPSI. Pada akhir tahun 2019 lalu, sebanyak 4 desa di Pulau Lombok telah dibina dan didampingi KONSEPSI atas dukungan Caritas Germany sebagai model percontohan desa tangguh bencana di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Terbukti, 4 desa tersebut berhasil meningkatkan level ketangguhannya setelah dibina selama 12 bulan. Sebelumnya, ke-4 desa ini memiliki ketangguhan pada level pratama, kemudian naik menjadi level madya setelah diintervensi program. Level ketangguhan ini sendiri diukur oleh KONSEPSI menggunakan indikator Penilaian Ketangguhan Desa (PKD) yang dibuat BNPB.

Praktik baik yang dilakukan KONSEPSI tidak berhenti sampai pada itu saja. Di tahun ini, desa yang menjadi sasaran program mengalami penambahan, menjadi 11 desa di Pulau Lombok. Selain membangun desa tangguh bencana, KONSEPSI juga akan mengembangkan pengurangan risiko bencana antar desa berbasis kawasan. Pada akhirnya kita tentu berharap, desa dapat menjadi labolatorium untuk melakukan pencegahan, mitigasi, dan edukasi kepada masyarakat dalam pengurangan risiko bencana.

Terakhir, untuk menutup tulisan ini. Penulis ingin mengutip pesan lama yang pernah disampaikan Bung Hatta. Wakil Presiden Republik Indonesia yang pertama itu pernah mengatakan: “Indonesia tidak akan besar karena obor di Jakarta, tapi Indonesia akan bercahaya karena lilin-lilin di desa”. Karena itu, desa harus berdaya dan tangguh dari bencana. (*)

Doni Monardo beberkan langkah-langkah BNPB mengantisipasi bencana di Indonesia

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah merancang langkah dalam antisipasi bencana di Indonesia.

Upaya pencegahan bencana dilakukan secara bersama-sama dengan seluruh instansi terkait. Termasuk juga terkait dengan perencanaan pembangunan yang berlandaskan pengurangan risiko bencana.

Langkah kolaboratif juga ditunjukkan dengan melibatkan pakar. Hal itu untuk memprediksi ancaman, memperkuat sistem peringatan dini, menyusun rencana kontijensi dan edukasi serta pelatihan kebencanaan.

“Melalui pendekatan kolaborasi pentahelix pemerintah bersama dengan akademisi, dunia usaha, komunitas relawan dan media terus berupaya meningkatkan kesiapsiagaan mulai dari tingkat individu, keluarga dan masyarakat,” ujar Kepala BNPB Doni Monardo saat peresmian pembukaan Rapat Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana, Rabu (3/3).

Dari sisi pengetahuan, Doni bilang literasi kebencanaan terus ditekankan. Pentingnya pemahaman terkait potensi bencana perlu dilakukan mengingat Indonesia termasuk daerah rawan bencana.

Berdasarkan penelitian Bank Dunia, Indonesia masuk sebagai salah satu dari 35 negara dengan tingkat risiko ancaman bencana paling tinggi di dunia. Kesiapan yang minim dalam menghadapi bencana akan menyebabkan kerugian yang besar.

“Menteri Keuangan menyebutkan bahwa setiap tahun kita mengalami kerugian ekonomi akibat bencana rata-rata 22,8 triliun rupiah per tahun,” terang Doni.

Hal itu belum termasuk kepada kerugian yang berkaitan dengan kehilangan nyawa. Dalam 10 tahun terakhir rata-rata 1.183 jiwa meninggal dunia akibat bencana.

Doni juga menyebut berdasarkan data BNPB, periode Februari 2020 hingga Februari 2021 terdapat total 3.253 bencana. Bila dihitung rata-rata, terjadi 9 kalo kejadian bencana tiap harinya.

“Apakah itu gempa Tsunami erupsi gunung berapi, karhutla, banjir, banjir bandang, tanah longsor dan angin puting beliung,” jelasnya.

Jokowi: Indonesia Ranking Tertinggi Negara Paling Rawan Risiko Bencana

JAKARTA, KOMPAS.com – Presiden Joko Widodo mengatakan, Indonesia termasuk ke dalam negara-negara di dunia dengan risiko bencana yang tinggi.

Bahkan, Indonesia masuk rangking tertinggi dalam daftar 35 negara paling berisiko bencana.

“Saya ingin mengingatkan kita semua bahwa negara kita, Indonesia, adalah negara yang rawan terhadap bencana. Masuk dalam 35 negara paling rawan risiko bencana di dunia,” ujar Jokowi saat menyampaikan sambutan dalan Peresmian Pembukaan Rakornas Penanggulangan Bencana Tahun 2021, Rabu (3/2/2021).

“Kita sekali lagi menduduki ranking tertinggi negara paling rawan bencana karena jumlah penduduk kita juga besar. Sehingga, risiko jumlah korban yang terjadi apabila ada bencana juga sangat besar,” lanjutnya.

Jokowi pun menyinggung data yang pernah disampaikan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo, terkait adanya 3.253 bencana di Tanah Air sepanjang tahun 2020.

Sehingga apabila dirata-rata ada sembilan bencana yang terjadi dalam sehari.

“Ini bukan sebuah angka yang kecil, tapi cobaan, ujian dan tantangan itu yang harus kita hadapi. Baik bencana hidrometeorologi maupun bencana geologi,” tegasnya.

“Saya melihat kunci utama dalam mengurangi risiko terletak pada aspek pencegahan dan mitigasi bencana yang selalu saya sampaikan berulang-ulang. Pencegahan, pencegahan, jangan terlambat, jangan terlambat,” lanjut kepala negara.

Meski demikian, Jokowi tetap menekankan bahwa aspek pencegahan lain pun penting dilakukan.

Salah satunya dengan mempersiapkan diri sehingga tidak reaktif saat bencana alam terjadi.

Jokowi Ingatkan Mitigasi Jadi Kunci Mengatasi Risiko Bencana

TEMPO.CO, Jakarta – Presiden Joko Widodo mengingatkan pentingnya aspek pencegahan dan mitigasi dalam penanggulangan bencana. Jokowi meminta kedua hal ini terus digenjot untuk mengurangi risiko jatuhnya korban yang besar.

“Saya melihat kunci utama dalam mengurangi risiko adalah pada aspek pencegahan dan mitigasi bencana. Itu yang selalu saya sampaikan berulang-ulang. Pencegahan, pencegahan. Jangan terlambat, jangan terlambat,” kata Jokowi, saat membuka Rapat Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana Tahun 2021, Istana Negara, Rabu, 3 Maret 2021.

Ia mengatakan hal ini tak berarti aspek yang lain dalam manajemen bencana tak diperhatikan. Ia minta jangan sampai pemerintah hanya bersikap reaktif saat bencana terjadi.

Ia mengatakan semua pihak mempersiapkan diri dengan antisipasi yang betul-betul terencana dengan baik dan detail. Karena itu, Jokowi mengatakan, kebijakan nasional dan kebijakan daerah harus betul-betul sensitif terhadap kerawanan bencana.

“Jangan baru ada bencana kita baru pontang panting, ribut, atau bahkan saling menyalahkan. Yang seperti itu jangan sampai terjadi,” kata Jokowi.

Jokowi mengingatkan bahwa Indonesia adalah negara yang rawan terhadap bencana dan termasuk dalam 35 negara paling rawan risiko bencana di dunia. Dari laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sebutnya, setahun kemarin saja terdapat 3.253 bencana terjadi, atau sekitar 9 bencana terjadi per harinya. Apalagi, jumlah penduduk Indonesia juga sangat besar.

Saat ini, ia mengatakan, Indonesia sudah memiliki rencana induk penanggulangan bencana 2020-2024 melalui Perpres 87 tahun 2020. Jokowi mengatakan poin pentingnya bukan hanya berhenti ketika memiliki grand design dalam jangka panjang. tapi grand design itu harus bisa diturunkan dalam kebijakan-kebijakan dan perencanaan-perencanaan.

“Termasuk tata ruang yang sensitif dan memperhatikan aspek kerawanan bencana. Serta dilanjutkan dengan audit dan pengendalian kebijakan dan tata ruang yang berjalan di lapangan, bukan di atas kertas saja,” kata Jokowi.

198.610 Orang Disuntik Vaksin Covid-19 dalam Sehari

Jakarta: Sebanyak 198.610 orang disuntik vaksin covid-19 pada Rabu, 3 Maret 2021. Jumlah tersebut berasal dari akumulasi penyuntikan vaksin covid-19 dosis pertama dan kedua.
 
Akumulasi itu lebih rendah dari penyuntikan pada Selasa, 2 Maret 2021. Kala itu, ada 260.025 orang disuntik vaksin covid-19.
 
“Jumlah orang yang disuntik dosis pertama bertambah 169.489 orang. Total masyarakat yang mendapatkan vaksin dosis pertama 2.104.967 orang,” tulis data Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 seperti dikutip Medcom.id, Kamis, 4 Maret 2021.

Jumlah penyuntikan dosis kedua lebih sedikit dibandingkan dengan dosis pertama. Sebanyak 29.121 orang disuntik vaksin covid-19 dosis kedua.
 
“Total 1.076.409 masyarakat yang sudah disuntik vaksin covid-19 dosis kedua,” bunyi data tersebut.
 
Pemerintah menargetkan penyuntikan vaksin covid-19 kepada 181,5 juta orang dari 270 juta penduduk Indonesia. Program ini diawali dengan penyuntikan terhadap kelompok prioritas pertama, yakni 1.468.764 tenaga kesehatan, yang dimulai sejak 13 Januari 2021.
 
Vaksinasi tahap awal kepada nakes selesai akhir Februari 2021. Vaksinasi covid-19 tahap kedua dimulai pada Rabu, 17 Februari 2021. Sasaran program ini ialah petugas pelayanan publik dan masyarakat lanjut usia (lansia).
 
Total 38 juta orang bakal menerima vaksin pada tahap kedua. Tahapan ini dimulai dari Pulau Jawa dan Bali dan ditargetkan rampung pada Mei 2021.
 
(OGI)

 

Varian Corona B117 Masuk RI, Ampuhkah Vaksin yang Dipakai? Ini Perbandingannya

Jakarta – Pada Selasa (2/3/2021) kemarin, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengungkap ada 2 kasus varian baru Corona B117 dari Inggris yang terdeteksi di Indonesia.

“Saya mendapatkan informasi bahwa tepat dalam setahun ini kita menemukan mutasi B117 UK mutation di Indonesia,” ungkapnya dalam konferensi pers setahun pandemi Corona RI, Selasa (2/3/2021).

Kemudian, menurut Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, dua kasus varian baru ini merupakan kasus impor yang berasal dari Saudi Arabia.

“Tadi malam kita menemukan dua kasus, masuk dari Saudi Arabia dan memiliki strain virus baru ini,” kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, dikutip dari CNN Indonesia, Selasa (2/3/2021).

Masuknya virus Corona B117 ini pun dikhawatirkan dapat mempercepat penularan COVID-19 di Indonesia. Pasalnya, varian baru ini disebut 70 persen lebih menular.

Lantas apakah jenis-jenis vaksin Corona yang digunakan di Indonesia akan tetap efektif dalam melawan varian baru Corona B117? Berikut perbandingannya, dirangkum dari berbagai sumber.

1. Vaksin Sinovac

Dalam sebuah penelitian, vaksin Sinovac disebut tetap efektif dalam melawan varian baru Corona, baik strain virus dari Inggris maupun Afrika Selatan.

“Kami telah menguji vaksin ini di China terhadap varian baru Corona Inggris dan Afsel, dengan hasil yang baik,” kata Dimas Covas, kepala pusat biomedis Butantan di Sao Paulo, Brasil, dikutip dari Reuters, Kamis (18/2/2021).

Meski begitu, Covas tak memberikan rincian lebih lanjut mengenai tingkat efikasi vaksin Sinovac terhadap varian baru Corona B117.

2. Vaksin Novavax

Berdasarkan hasil analisis awal, vaksin Novavax 89,3 persen efektif melawan varian baru Corona B117. Hasil ini disampaikan pada Kamis (28/1/2021), usai uji coba dilakukan di Inggris.

Uji coba vaksin Corona buatan Novavax di Inggris melibatkan sebanyak 15.000 orang berusia 18-84 tahun. Sebanyak 27 persen di antaranya berusia di atas 65 tahun.

Meski efikasinya tinggi terhadap varian baru Corona B117, namun vaksin Novavax hanya menunjukkan efikasi sebesar 60 persen dalam melawan strain virus dari Afrika Selatan.

Kemudian ada vaksin Corona buatan AstraZeneca-Oxford dan Pfizer-BioNTech, bagaimana efektivitasnya? 

3. Vaksin AstraZeneca

Selain vaksin Corona buatan Sinovac dan Novavax, vaksin AstraZeneca-Oxford juga disebut dapat memberikan perlindungan dari varian baru Corona B117.

Dikutip dari Fox News, sebuah penelitian terbaru dalam ‘Preprints with The Lancet’ menunjukkan perbandingan efikasi vaksin AstraZeneca-Oxford di antara strain virus Corona yang sedang bermunculan, salah satunya varian baru Corona B117.

“Data dari uji coba kami terhadap vaksin ChAdOx1 (AstraZeneca) di Inggris menunjukkan bahwa vaksin tersebut tak hanya memberikan perlindungan dari virus asli penyebab pandemi, tetapi juga melindungi dari varian baru, B117, yang menyebabkan lonjakan penyakit mulai akhir tahun 2020, di seluruh Inggris,” ucap kepala peneliti vaksin Oxford, Andrew Pollard, awal Februari lalu.

Tingkat efikasinya mencapai 75 persen dalam melawan varian baru Corona B117.

4. Vaksin Pfizer

Selanjutnya, vaksin Corona buatan Pfizer-BioNTech juga diklaim dapat melindungi seseorang dari varian baru Corona B117.

Dikutip dari Associated Press, studi ini masih bersifat pendahuluan dan diharapkan bisa membantu penelitian selanjutnya.

Dalam studi tersebut, mereka menggunakan sampel darah dari 20 orang yang telah disuntik vaksin Corona buatan Pfizer-BioNTech. Hasilnya, antibodi dari penerima vaksin berhasil menangkal virus di wadah laboratorium.

“itu adalah temuan yang sangat meyakinkan bahwa setidaknya mutasi ini, yang merupakan salah satu yang paling dikhawatirkan orang, tampaknya tak menjadi masalah (untuk vaksin),” ucap kepala peneliti Pfizer, Dr Philip Dormitzer, awal Januari 2021.

Kebijakan dan Pendekatan Manajemen Bencana Banjir dan COVID-19

https://awsimages.detik.net.id/community/media/visual/2021/02/19/pemakaman-covid-19-di-di-tengah-banjir-di-pekalongan-2_169.jpeg?w=700&q=90

Banjir seperti bencana rutin yang terjadi di Indonesia, khususnya di Jakarta karena setiap tahun kota ini selalu dilanda banjir. Kondisi hujan deras dan luapan air sungai menjadi faktor utama terjadinya banjir, ditambah lagi situasi Jakarta sangat padat dnegan bangunan sehingga rembesan air dalam tanah berkurang. Penanganan banjir ini akan semakin sulit dalam kondisi pandemic COVID-19. Kelonggaran protokol COVID-19 akan terjadi pada masyarakat. Perhatian masyarakat lebih berfokus bagaimana mereka mampu untuk menyelamatkan diri, barang-barang serta mengakses air bersih. Salah satu kebijakan yang direncanakan oleh Gubernur DKI Jakarta adalah pembangunan sumur resapan.

Artikel berikut bertujan untuk mengusulkan kebijakan dan pendekatan untuk mengelola dua bencana banjir dan COVID-19. Hal ini ditinjau dari upaya bantuan kemanusiaan, pengeloalaan air dan sanitasi, serta manajemen bencana sektor kesehatan. Organisasi dan komunitas lokal memainkan peran penting dalam manajemen bencana dan informasi risiko yang didukunng oleh pengetahuan ilmiah sangat penting. Artikel ini menyebut beberapa kebijakan dan pendekatan untuk menangani bencana banjir di tengah pandemic diantaranya : (1) Integrasi konsep keamanan manusia ke dalam kebijakan baru; (2) Memprioritaskan perlindungan masyarakat di pusat-pusat evakuasi; (3) Fokus pada kelompok rentan; (4) Komunikasi risiko dengan pengetahuan ilmiah; dan (5) koordinasi dengan multisectoral. Kebijakan dan pendekatan tersebut mengacu pada protocol pandemic COVID-19

Selengkapnya

Konser Amal Virtual (House Concert)

Adi Utarini dan SONJO (Sambatan Jogja) mempersembahkan:

Sebuah Konser Amal Virtual
LIFE, PASSION, AND MUSIC Vol.2
Tribute to Prof. Iwan Dwiprahasto

Sabtu, 13 Maret 2021
19.00-21.00 WIB

Konser ini untuk mengenang Prof. Iwan Dwiprahasto atas semangat dan cinta kebaikan yang selalu beliau tebarkan bertepatan dengan satu tahun berpulangnya beliau. Terinspirasi oleh semangat dan cinta kebaikan almarhum itulah, hasil donasi dari konser amal virtual ini akan disumbangkan untuk mendukung Shelter Tangguh dan Shelter Desa di Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta.

Tingkat penularan Covid-19 yang masih tinggi di DI Yogyakarta. Kemampuan rumah sakit menambah kapasitas tidak sebanding dengan peningkatan jumlah pasien Covid-19 di lapangan. Shelter Tangguh di tingkat Kabupaten dipergunakan untuk merawat pasien Covid-19 tanpa gejala hingga pasien dengan gejala ringan hingga sedang. Shelter Desa, di tiap-tiap desa, digunakan sebagai lokasi isoman pasien tanpa gejala. Puskesmas melakukan screening awal untuk menentukan apakah pasien cukup di rawat di Shelter Desa, Shelter Tangguh, RS Lapangan Khusus Covid (RSKLC Bambanglipuro) ataukah harus ke rumah sakit. Keberadaan shelter sangat krusial dalam mendukung rumah sakit menangani pasien Covid-19.

Penanggulangan Covid-19 di Bantul, adalah contoh sinergi penta helix dalam menanggulangi pandemic yang merupakan public enemy (musuh bersama). Aspirasi masyarakat membentuk Shelter Tangguh, ternyata didukung penuh oleh Pemerintah Daerah Bantul, yang melakukan refocusing APBD untuk pendanaan Shelter Tangguh. Di tingkat desa, para Lurah dan masyarakat membangun Shelter Desa memanfaatkan bangunan yang ada di desa. Pasien sama sekali tidak dipungut biaya.  Penyediakan makanan bagi para pasien dilakukan secara gotong royong. Bantuan masih banyak diperlukan untuk mendukung Shelter Tangguh dan Shelter Desa ini.

Untuk mendukung pola sinergi penta helix di atas, Konser Amal Virtual ini membuka donasi. Hasil donasi sepenuhnya digunakan untuk mendukung Shelter Tangguh dan Shelter Desa di Kabupaten Bantul. Untuk menyalurkan donasi, caranya mudah dan tinggal mengikuti tahapan berikut:
1. Klik tombol “Donasi Sekarang”
2. Masukkan nominal donasi
3. Isi data diri
4. Pilih metode pembayaran
5. Klik “Lanjutkan Pembayaran” dan ikuti langkah selanjutnya

Sinergi penta helix dalam bentuk gotong royong antara pemerintah, pelaku bisnis, akademisi, masyarakat dan media, di Kabupaten Bantul ini patut untuk didukung. Keberadaan Shelter Tangguh dan Shelter Desa di Bantul bisa dimaknai sebagai pilot project, yang kemudian dapat diterapkan dan dikembangkan di daerah lain di Indonesia. Salam Tangguh!!!

Jadi Kampus Konservasi, Unnes Adakah FGD Tanggap Bencana

KOMPAS.com – Awal tahun 2021, negara Indonesia sudah dihantam dengan berbagai bencana alam. Mulai dari gempa bumi, tanah longsor hingga banjir.

Menghadapi bencana alam yang bisa terjadi sewaktu-waktu, butuh mitigasi bencana yang kuat. Tidak hanya dari instasi terkait tapi juga seluruh lapisan masyarakat harus memiliki kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana alam.

Berangkat dari masalah mitigasi bencana ini, Universitas Negeri Semarang (Unnes) mengadakan Diskusi Ilmiah Terfokus (FGD) dengan tema Tanggap Bencana yang dilaksanakan secara daring.

Melansir laman unnes.ac.id, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Konservasi Unnes Prof. Amin Retnoningsih MSi memaparkan tentang peran Unnes dalam mencegah dan menghindari risiko bencana. Khususnya banjir dan tanah longsor.

Implementasikan 3 pilar konservasi

Sejauh ini Unnes konsisten memelihara lingkungan sebagai upaya mencegah dan menghindari risiko bencana khususnya banjir dan tanah longsor.

Bahkan sejak 11 tahun yang lalu Unnes meneguhkan visi menjadi Universitas Berwawasan Konservasi.

“Dengan implementasi 3 pilar konservasi yakni nilai karakter, seni budaya, serta sumber daya alam dan lingkungan,” jelas Kepala UPT Konservasi UNNES Prof. Amin seperti dikutip di laman unnes.ac.id, Minggu (14/2/2021).

Melalui UPT Konservasi, Unnes berupaya mendorong dunia pendidikan. Khususnya sekolah untuk berkontribusi dalam pencegahan bencana dan kerusakan lingkungan melalui penyelenggaran Unnes Green School Ranking.

Untuk berkontribusi dalam hal pencegahan bencana dan kerusakan lingkungan, mahasiswa juga memiliki peran. Khususnya dalam menanggulangi bencana melalui UKM SAR, Mahapala, Menwa, dan Pramuka.

Ambil peran dalam pemeliharaan lingkungan

Selain itu, Unnes juga sudah mengupayakan beberapa hal dalam memberikan peran memelihara lingkungan dengan mempertahankan dan meningkatkan tata ruang terbuka hijau di lingkungan kampus.

Melakukan program konservasi air melalui embung, dan pembuatan biopori.

“Kami juga melakukan penanaman pohon secara rutin setiap tahun oleh mahasiswa baru di dalam dan di luar kampus,” tandas Prof. Amin.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Semarang Nur Yahya meminta peran akademisi termasuk Unnes bisa bekerjasama untuk melakukan penelitian, kajian-kajian dalam pemetaan bencana sebagai data yang akan digunakan Basarnas.

“Kami belum memiliki laboratorium penelitian, maka dari itu perlunya kerja sama yang kolaboratif antara Unnes dan Basarnas. Misalnya dalam penelitian memetakan wilayah atau kajian dalam peta rawan bencana,” tutur Nur Yahya.

Siaga Banjir dan Bencana, Pemprov DKI Siapkan Toa hingga Sumbangan

SuaraJakarta.id – Pemprov DKI Jakarta masih bersiaga menghadapi banjir di musim penghujan sekarang ini. Sejumlah peralatan hingga sumbangan disiapkan untuk mengantisipasi datangnya bencana.

Plt. Kepala Pelaksana BPBD Provinsi DKI Jakarta, Sabdo Kurnianto, mengatakan salah satu upaya yang tengah dilakukan adalah pendistribusian tambahan prasarana pendukung menghadapi musim penghujan untuk kelurahan serta RT rawan genangan dan banjir.

Ia menyebut prasarana tambahan ini merupakan hasil kolaborasi antara Pemprov DKI Jakarta dengan BNPB, Baznas (Bazis) DKI Jakarta, Bank DKI, dan Bank BRI.

“Kemarin kami distribusikan sarana pedukung tambahan tahap pertama untuk 182 RT dan 31 RW di 14 kelurahan rawan genangan dan banjir,” ujar Sabdo dalam keterangan tertulis, Kamis (25/2/2021).

Sabdo mengatakan, prasarana pendukung menghadapi musim penghujan tersebut juga telah didistribusikan kepada Kampung Siaga di lima wilayah kota dan Kabupaten Kepulauan Seribu sejak Kamis (18/02) sampai dengan Sabtu (20/02).

Barang yang disalurkan di antaranya adalah perahu jerigen, ban dalam evakuasi, dan masker kain serta masker medis

“Untuk pendistribusian selanjutnya akan kami lakukan secara bertahap,” jelasnya.

Tak hanya itu, pihak Bank DKI juga menggalang program donasi karyawan untuk penanganan bencana alam. Tidak hanya untuk di Jakarta, bantuan juga disalurkan kepada daerah lain.

Sekretaris Perusahaan Bank DKI, Herry Djufraeni mengatakan penggalangan donasi karyawan Bank DKI bersama Unit Pelayanan Zakat (UPZ) tersebut telah berhasil mengumpulkan bantuan senilai Rp200 juta. Uang itu kemudian disalurkan melalui Muhammadiyah Disaster Management Center (MMDC).

“Kami berharap bantuan ini dapat berarti dan meringankan beban bagi saudara-saudara kita yang sedang membutuhkan,” jelas Herry.

Ia menjelaskan donasi karyawan Bank DKI ini telah dilangsungkan sejak minggu pertama Januari 2021 dengan metode Scan QR. Sehingga dapat memudahkan bagi siapapun yang ingin berdonasi melalui aplikasi JakOne Mobile dimanapun dan kapan pun.

“Selanjutnya, bantuan tersebut akan dikelola oleh Muhammadiyah Disaster Management Center untuk didistribusikan ke sejumlah daerah bencana,” pungkasnya.