Jutaan Anak Berisiko Tinggi Terinfeksi Covid-19

KOMPAS.com – Penyebaran virus corona secara global, masih terus bertambah dari hari ke harinya.

Melansir data dari laman Worldometers, total kasus Covid-19 di dunia terkonfirmasi sebanyak 22.292.658 (22,2 juta) kasus hingga Rabu (19/8/2020).

Dari jumlah tersebut, sebanyak 15.035.489 (15 juta) pasien telah sembuh, dan 783.348 orang meninggal dunia.

Kasus aktif hingga saat ini tercatat sebanyak 6.473.821, dengan perincian 6.411.878 pasien dengan kondisi ringan dan 61.943 dalam kondisi serius.

Berikut 10 negara dengan jumlah kasus virus corona terbanyak:

1. Amerika Serikat, 5.653.509 kasus, 174.951 orang meninggal, total sembuh 3.006.009.

2. Brasil, 3.411.872 kasus, 110.019 orang meninggal, total sembuh 2.554.179.

3. India, 2.766.626 kasus, 53.023 orang meninggal, total sembuh 2.036.703.

4. Rusia, 932.493 kasus, 15.872 orang meninggal, total sembuh 742.628.

5. Afrika Selatan, 592.144 kasus, 12.264 orang meninggal, total sembuh 485.468.

6. Peru, 549.321 kasus, 26.658 orang meninggal, total sembuh 374.019.

7. Meksiko, 525.733 kasus, 57.023 orang meninggal, total sembuh 359.347.

8. Kolombia, 489.122 kasus, 15.619 orang meninggal, total sembuh 312.323.

9. Cile, 388.855 kasus, 10.546 orang meninggal, total sembuh 362.440.

10. Spanyol, 384.270 kasus, 28.670 orang meninggal.

 

Indonesia

KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Mural yang dibuat oleh petugas prasarana dan sarana umum (PPSU) bertemakan kewaspadaan virus Corona atau Covid-19 terlihat di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (14/8/2020). Mural tersebut memperlihatkan petugas medis membawa sebuah peti yang mengingatkan warga agar selalu waspada dengan Covid-19 dan mencegahnya dengan 3M (Memakai Masker, Menjaga Jarak dan Mencuci Tangan).

Kasus virus corona di Indonesia tercatat juga mengalami peningkatan, baik dari jumlah kasus, sembuh, maupun yang meninggal dunia.

Hingga Selasa (18/8/2020) pukul 12.00 WIB, kasus positif Covid-19 bertambah sebanyak 1.673. Sehingga jumlahnya saat ini menjadi 143.043 orang.

Sedangkan untuk kasus sembuh, juga ada penambahan sebanyak 1.848 orang.

Penambahan itu sekaligus menjadikan total pasien yang telah sembuh menjadi 96.306 orang.

Namun, pasien yang meninggal dunia karena infeksi Covid-19 ini juga ikut bertambah sebanyak 70 orang.

Maka, jumlah pasien yang meninggal dunia kini jumlahnya menjadi 6.277 orang.

Australia

Perdana Menteri Scott Morrison mengatakan Australia mengamankan akses vaksin virus corona potensial yang menjanjikan.

Mengutip Al Jazeera, Selasa (18/8/2020), negara akan memproduksinya dan menawarkan dosis gratis untuk seluruh penduduk

PM Morrison mengatakan Australia telah mencapai kesepakatan dengan perusahaan farmasi Swedia-Inggris AstraZeneca untuk menerima vaksin Covid-19, yang dikembangkannya dengan Universitas Oxford.

“Vaksin Oxford adalah salah satu yang paling maju dan menjanjikan di dunia, dan berdasarkan kesepakatan ini kami telah mengamankan akses awal untuk setiap orang Australia,” katanya.

“Jika vaksin ini terbukti berhasil, kami akan langsung memproduksi dan memasok vaksin dengan cara kami sendiri dan membuatnya gratis untuk 25 juta warga Australia,” tambahnya.

Korea Selatan

Ketua kelompok pembelot Korea Utara Kuensaem, Park Jung-oh (kiri), saat diwawancarai media ketika menyiapkan paket bantuan berupa botol plastik isi beras dan masker ke Korea Utara. Foto diambil di Seoul, Korea Selatan, pada 18 Juni 2020.REUTERS/KIM HONG-JI Ketua kelompok pembelot Korea Utara Kuensaem, Park Jung-oh (kiri), saat diwawancarai media ketika menyiapkan paket bantuan berupa botol plastik isi beras dan masker ke Korea Utara. Foto diambil di Seoul, Korea Selatan, pada 18 Juni 2020.

Masih dari sumber yang sama, Korea Selatan memperketat pembatasan di wilayah Seoul untuk mengatasi lonjakan kasus virus corona.

Korea Selatan telah memerintahkan penutupan kelab malam, museum, restoran prasmanan dan melarang pertemuan besar di dalam dan sekitar Seoul.

Hal itu menyusul kekhawatiran akan ledakan kasus baru Covid-19 yang dapat memicul gelombang besar kedua.

Korea Selatan kini melakukan pendekatan dengan metode “lacak, uji dan obati” untuk mengekang penyebaran virus corona.

Namun, kini pemerintah Korea Selatan juga harus berjibaku dalam memerangi klaster baru yang sebagian besar terkait dengan kasus di acara keagamaan.

Irlandia

Serupa dengan Korea Selatan, Irlandia juga meningkatkan pembatasan karena kasus virus corona di dalam negeri yang melonjak.

Irlandia telah secara signifikan memperketat pembatasan virus corona secara nasionalnya untuk mencoba mengendalikan lonjakan kasus.

Juga, mendesak semua orang untuk membatasi pengunjung ke rumah mereka, menghindari transportasi umum dan orangtua untuk membatasi kontak mereka.

Lonjakan kasus selama tiga minggu terakhir, setelah Irlandia memiliki salah satu tingkat infeksi terendah di Eropa selama beberapa minggu, mendorong kasus kumulatif 14 hari per 100.000 populasi menjadi 26 orang.

Hal itu menyebabkan untuk pertama kalinya penguncian dengan skala lokal diterapkan pada minggu lalu.

WHO

Sebuah sekolah dasar dibuka kembali dengan para murid memakai masker pelindung, menyusul penyebaran penyakit virus korona (COVID-19), di Nagasaki, selatan Jepang, Senin (11/5/2020), dalam foto yang diambil oleh Kyodo.ANTARA FOTO/Kyodo/via REUTERS Sebuah sekolah dasar dibuka kembali dengan para murid memakai masker pelindung, menyusul penyebaran penyakit virus korona (COVID-19), di Nagasaki, selatan Jepang, Senin (11/5/2020), dalam foto yang diambil oleh Kyodo.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyampaikan lebih dari 800 juta anak di seluruh dunia kekurangan fasilitas cuci tangan dasar di sekolah mereka.

Hal itu menempatkan mereka pada peningkatan risiko tertular virus corona ketika sekolah dibuka kembali.

Sebuah laporan bersama yang diterbitkan minggu lalu oleh WHO, UNICEF, dan PBB, mengungkapkan bahwa 43 persen sekolah di seluruh dunia kekurangan fasilitas untuk mencuci tangan dasar dengan sabun dan air pada 2019.

Artinya, hal tersebut berdampak pada 818 juta anak, dengan lebih dari sepertiganya ada di benua Afrika.

Di negara kurang berkembang, tujuh dari 10 sekolah tidak memiliki fasilitas cuci tangan dasar, dan setengah dari semua sekolah kekurangan sanitasi dasar dan layanan air.

UPDATE SITUASI PANDEMIK COVID-19 PROVINSI DIY DAN PERSIAPAN MENGHADAPI SURGE CAPACITY

TOR DISKUSI

UPDATE SITUASI PANDEMIK COVID-19 PROVINSI DIY DAN PERSIAPAN MENGHADAPI SURGE CAPACITY

Rabu, 19 Agustus 2020, Pkl. 13.00 – 15.00 WIB

LATAR BELAKANG

Berdasarkan standar WHO, jumlah minimum tes adalah sebesar 1/1000 penduduk/minggu. Per 26 Juli baru <26.000 test yang dilakukan[1]. Dengan penduduk sebesar 3.882.288 jiwa[2] seharusnya ada 3.882 orang/minggu, atau total >81.500 test. Kapasitas lima laboratorium adalah 1.644 –1.744 sample swab/hari[3], atau 9.864–10.464 sample/minggu.

Proses rujukan pasien COVID-19 juga masih sulit dilakukan karena tidak ada sistem informasi yang menyediakan data TT RS Rujukan COVID-19 yang tersedia. Solusi dibutuhkan segera agar tidak menjadi masalah yang lebih besar saat terjadi lonjakan kasus.

TUJUAN

  1. Membahas skenario lonjakan yang dapat terjadi di DIY (hasil penelitian PKMK FK – KMK UGM)
  2. Membahas sistem rujukan dan sistem informasi kapasitas RS Rujukan COVID-19 di DIY
  3. Mendiskusikan langkah konkret untuk menyiapkan surge capacity

Fasilitator: dr. Bella Donna, MPH

 

WAKTU PELAKSANAAN

Hari, tanggal             : Rabu, 19 Agustus 2020
Pukul                       : 13.00 – 15.00 WIB

Acara disiarkan melalui zoom meeting :
Meeting ID       819 2298 7223
Passcode         801103
Registration Link

 

RUNDOWN KEGIATAN

WAKTU AKTIVITAS PIC
13.00 – 13.20 WIB Skenario yang dapat terjadi di DIY (hasil Penelitian PKMK FKKMK UGM) Putu Eka Andayani, SKM, MKes
13.20 – 13.40 WIB Informasi ketersediaan faskes dan sistim rujukan dr. Hendro Wartatmo, SpD-KBD
13.40 – 14.50 WIB Pembahasan dr. Achmad Yurianto
Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 di Provinsi DIY*
Dinkes Provinsi DIY*
Ketua PERSI DIY
14.50 – 15.00 WIB Kesimpulan dan Penutup Fasilitator Diskusi

*dalam konfirmasi

 

NARAHUBUNG:

Megarini Sulistyo

Kontak            : 0818996974
Kantor            : (0274) 549425
Email              : [email protected]

 


[1] http://ayoyogya.com/read/2020/07/30/39912/pemda-diy-targetkan-36-ribu-orang-jalani-tes-swab

[2]http://bappeda.jogjaprov.go.id/dataku/data_dasar/index/361-jumlah-penduduk-diy?id_skpd=29

[3] https://jogja.suara.com/read/2020/07/27/200601/kasus-covid-19-di-diy-naik-signifikan-antrean-sampel-tes-swab-membludak?page=all

 

Pemerintah Siapkan Dana Rp 55 Triliun untuk Produksi Vaksin Covid-19

TEMPO.CO, Jakarta – Pemerintah telah menyiapkan anggaran hingga Rp 55 triliun untuk penyediaan vaksin Covid-19. Pendanaan tersebut terbagi menjadi Rp 5 triliun di 2020 dan kisaran Rp 40-50 triliun pada 2021.

“Pemerintah sudah akan menganggarkan untuk penyediaan vaksin sebesar 30-40 juta di Bio Farma. Pemerintah memberikan pendanaan Rp 5 triliun tahun ini, dan tahun depan mungkin bisa disiapkan Rp 40-50 triliun,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam konferensi video, Rabu, 12 Agustus 2020.

Saat ini, kata Airlangga, PT Bio Farma yang telah menggandeng perusahaan Cina Sinovac Biotech Ltd, tengah melaksanakan uji klinis fase 3 untuk 1.600 orang. Nantinya vaksin ini ditargetkan untuk diproduksi dengan kapasitas 120 juta dosis per tahun.

Selain PT Bio Farma, PT Kalbe Farma bersama dengan Genexine Consortium Korea Selatan juga tengah memasuki uji coba fase 2 dengan 300-500 orang. “Lalu juga kerja sama dengan CEPI dan Melinda Gates Foundation akan dilaksanakan, dan royek vaksin merah putih. Sehingga, di bulan Januari sudah ada vaksin yang dilaksanakan untuk masyarakat,” ujar Airlangga.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengatakan, selain bekerja sama dengan negara lain, pemerintah juga berupaya mengembangkan vaksin sendiri. Caranya dengan mengembangkan isolat virus Covid-19 yang ada di Indonesia.

Pengembangannya dilaksanakan oleh Lembaga Eijkman, BPPT, LIPI, BPOM, Menristek, dan universitas-universitas di Tanah Air. “Saya berharap vaksin Merah Putih tersebut dapat diselesaikan pertengahan tahun 2021 mendatang,” ujar Jokowi lewat instagramnya @jokowi, Rabu, 12 Agustus 2020.

Adapun saat ini, Indonesia bekerja sama dengan Sinovac, Uni Emirat Arab di G20, dan dengan Korea Selata dalam pengembangan vaksin Covid-19. Indonesia terlibat dalam uji klinis tahap III vaksin hasil kerjasama dengan Sinovac Biotech, perusahaan farmasi asal Cina.

Kemarin, Jokowi meninjau langsung pelaksanaan uji klinis tahap III terhadap bakal vaksin Covid-19 di Gedung Eijkman, Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran, Bandung.

Hasil uji vaksin yang melibatkan sebanyak 1.620 relawan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal pengembangan dan penemuan vaksin Covid-19 yang ditargetkan tercapai akhir tahun ini. “Kerja sama ini demi secepat-cepatnya kita bisa melakukan vaksinasi untuk seluruh rakyat Indonesia,” kata Jokowi.

Virus corona: ‘Ratusan orang tewas’ karena informasi keliru terkait Covid-19

Sebuah penelitian yang dimuat American Journal of Tropical Medicine and Hygiene menyebutkan sekitar 5.800 orang dirawat di rumah sakit akibat kekeliruan informasi yang tersebar di media sosial.

Banyak yang meninggal karena minum cairan spiritus (methanol) atau cairan yang biasa digunakan untuk produk pembersih.

Mereka keliru dalam meyakini bahwa produk-produk tersebut bisa menyembuhkan tubuh dari virus.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebelumnya mengatakan bahwa “infodemik” seputar Covid-19 menyebar lebih cepat dari virus itu sendiri. Teori konspirasi, rumor, dan stigma budaya semua berkontribusi terhadap kematian dan cedera.

Kesalahan informasi dibayar dengan nyawa

Banyak korban termakan informasi yang terkesan kredibel karena berkaitan dengan dunia medis – seperti makan bawang putih dalam jumlah besar atau mengonsumsi vitamin dalam jumlah besar – merupalan cara mencegah penularan, kata penulis penelitian tersebut.

Ada juga korban yang percaya, virus corona bisa dicegah dengan meminum urine sapi.

Semua tindakan tersebut memiliki “potensi implikasi yang serius” terhadap kesehatan mereka, kata para peneliti.

Penelitian ini menyimpulkan, hal ini merupakan tanggung jawab dari lembaga internasional, pemerintah, dan platform media sosial untuk melawan “infodemik”.

Sementara itu, perusahaan teknologi mendapat kritik, karena respons mereka dinilai lambat dan setengah-setengah. Di Inggris, aturan mengenai bahaya daring ini imungkin akan tersedia beberapa tahun lagi.

Investigasi BBC sebelumnya, menemukan kaitan antara serangan, pembakaran dan kematian yang disebabkan informasi yang keliru mengenai virus corona. BBC juga telah mengonfirmasi hal ini kepada para dokter, ahli dan korban tentang pengalaman mereka.

Rumor yang beredar di online telah memicu serangan gerombolan di India dan keracunan massal di Iran. Teknisi telekomunikasi telah diancam dan diserang, dan tiang pemancar sinyal telah dibakar di Inggris, juga di negara lain karena peredaran teori konspirasi, dan terus digaungkan di online.

Media sosial juga ikut membantu para penipu untuk memanfaatkan masa pandemi, menjual lencana dengan bahan tertentu yang diklaim bisa menghalau virus, dan mendesak pengikutnya untuk mengambil bagian dengan menyerahkan uang sebagai pertukaran sebuah “suplemen mineral ajaib”, di mana sebenarnya itu adalah pemutih yang diencerkan.

Konspirasi mengancam vaksin Covid-19

Saat isu vaksin bermunculan, akan ada ancaman lagi dari para pendukung anti-vaksin. Mereka akan menggunakan platform yang disediakan oleh media sosial untuk mengajak orang-orang agar tidak melindungi diri mereka sendiri dari vaksin tersebut.

Meskipun perusahaan media sosial telah menghapus atau memberi tanda pada informasi yang keliru mengenai vaksin, jajak pendapat terbaru di Amerika Serikat menunjukkan bahwa 28% warga Amerika percaya bahwa Bill Gates ingin menggunakan vaksin untuk menaruh chips ke dalam tubuh orang-orang.

Pencapaian perolehan vaksin virus corona bisa dirusak sepenuhnya dengan informasi yang keliru, kata para dokter kepada tim anti-disinformasi BBC.

Ini Efek Samping Calon Vaksin Covid-19 yang Diuji Coba di Bandung

KOMPAS.com – Uji klinis tahap III terhadap calon vaksin Covid-19 buatan Sinovac, perusahaan asal China, di Bandung telah dimulai.

Diberitakan Kompas.com, Selasa (11/8/2020), vaksin Covid-19 tersebut mulai disuntikkan ke tubuh para relawan. 

Prosesi penyuntikkan perdana vaksin ke sejumlah relawan di Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran, Bandung, itu disaksikan langsung Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Adakah efek samping calon vaksin buatan perusahaan China tersebut?

Manajer Lapangan Tim Riset Uji Klinis Vaksin Covid-19 FK Unpad, Eddy Fadlyana, mengungkapkan calon vaksin Covid-19 tersebut memiliki efek samping.

Meski begitu, ia memperkirakan efeknya tidak besar, seperti nyeri atau demam

“Bisa timbul nyeri di tempat suntikan atau demam sekitar 30 hingga 40 persen,” kata Eddy saat dihubungi Kompas.com, Rabu (12/8/2020).

Dia mengatakan untuk efek samping lainnya kemungkinan sangat kecil.

Namun, kata dia, apabila nantinya relawan uji klinis mengalami demam atau gejala lain diharapkan untuk melapor ke tim uji klinis.

Dia menjelaskan, uji klinis tahap III vaksin akan dihentikan jika ada reaksi berat terhadap relawan. Hal tersebut nanti diputuskan oleh dokter yang memeriksa.

Target relawan yang mengikuti uji klinis tahap III calon vaksin Covid-19 buatan Sinovac adalah 1.620 orang.

Rekrutmen pertama mampu menjaring 540 orang relawan. Kemudian, rekrutmen kedua memperoleh 1.080 orang relawan.

Relawan terpilih setelah lolos dari pengujian imunogenitas (respons imun) dan efikasi (respons dalam melawan virus) melalui tes darah.

Uji klinis tahap III hingga Desember

Penyuntikan calon vaksin Covid-19 buatan Sinovac dilakukan secara bergelombang, tidak langsung 1.620 orang.

Penyuntikan calon vaksin gelombang pertama akan diselesaikan minggu kedua bulan Agustus ini. Targetnya adalah 120 orang relawan.

Proses penyuntikan berikutnya akan digelar pada minggu ketiga dan keempat bulan Agustus, masing-masing terhadap 144 orang relawan.

Gelombang penyuntikan vaksin terhadap relawan dan pemantauan akan terus dilakukan hingga minggu ketiga bulan Desember dengan total 1.620 orang relawan.

Apabila uji klinis fase III ini berjalan lancar, hasilnya akan segera diregistrasikan ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Lalu setelah lolos di BPOM, vaksin akan diproduksi massal oleh PT Bio Farma pada Januari 2021.

Bio Farma ditargetkan bisa memproduksi 250 juta dosis vaksin Covid-19 per tahun.

 

Bangsa Lain Kaget Ketika Kita Berhasil Uji Vaksin Covid-19

JAKARTA, KOMPAS.com – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan, banyak negara yang terkejut begitu mendengar Indonesia melakukan uji klinis tahap III vaksin Covid-19.

Uji klinis tersebut dilakukan oleh PT Bio Farma (Persero). Penyuntikan vaksin perdana kepada para relawan telah dilaksanakan di Bandung pada Selasa (11/8/2020) kemarin.

“Kemarin bangsa-bangsa lain juga cukup kaget ketika kita berhasil melakukan uji vaksin perdana pada 11 Agustus,” ujar Erick di Mabes Polri, Kamis (13/8/2020).

Erick menambahkan, vaksin tersebut nantinya akn disuntikkan ke 1.620 relawan yang telah mendaftarkan diri. Jika produksi itu aman, maka di akhir tahun 2020 vaksin Covid-19 bisa diproduksi secara massal.

“Nanti kalau ini semua berjalan baik dan sukses sehingga imunisasi massal pada bulan Januari atau Februari paling telat, kita bisa lakukan untuk bangsa kita,” kata dia.

Mantan bos Inter Milan itu pun memastikan, vaksin ini aman untuk disuntikan ke manusia. Selain itu, vaksin ini juga halal.

“Alhamdulillah, ini aman dan dipastikan halal. Makanya, pada uji perdana pihak MUI hadir untuk melihat bagaimana proses daripada vaksin perdana ini. Jadi insya Allah kita bisa kasih lihat kepada bangsa lain, kita tidak ketinggalan,” ucap dia.

Pilot Study: Kondisi Psikologis Sukarelawan COVID-19

Pandemi COVID-19 adalah bencana non alam yang menimbulkan berbagai masalah bagi semua lapisan masyarakat. Kondisi bencana ini akan memberikan berbagai dampak fisik dan psikologis bagi setiap individu termasuk relawan bencana non alam ini. Relawan adalah kelompok rentan, maka perlu diidentifikasi kondisi psikologis di setiap tugas mereka. Berdasarkan fenomena ini, menarik untuk melihat studi pendahuluan kondisi psikologis relawan bencana COVID-19. Tujuan dari penelitian ini untuk menentukan kondisi psikologis relawan bencana COVID-19 di Kabupaten Kebumen. Metode penelitian ini adalah deskriptif analitik pada 72 orang yang terdiri dari 19 sukarelawan yang merupakan gabungan dari Dinas Penanggulangan Bencana Daerah Kebumen dan sukarelawan bencana STIKES Muhammadiyah Gombong, proses pengambilan sampel dilakukan dengan simple random sampling, kondisi psikologis relawan diukur menggunakan Depression Anxiety Skala Stress (DASS) Instrumen. Hasil penelitian ini diperoleh gambaran psikologis dari 19 sukarelawan sukarela yaitu 69 orang (95,83%) mengalami kecemasan ringan dan 1 orang (1,39), 69 orang (95,83%) mengalami depresi ringan, dan 69 orang (95, 83%) mengalami stres ringan. Penelitian ini direkomendasikan sebagai studi pendahuluan yang merupakan dasar untuk melakukan program berkelanjutan untuk penguatan psikologis relawan bencana. Artikel ini dipublikasikan pada 2020 di Jurnal Ilmu Keperawatan Jiwa.

SELENGKAPNYA

Sumatera Barat hadapi peningkatan signifikan kasus COVID-19

Padang (ANTARA) – Provinsi Sumatera Barat menghadapi peningkatan signifikan kasus COVID-19 dengan penambahan sampai 47 kasus infeksi virus corona tipe baru (SARS-CoV-2) dalam sehari  pada Jumat.

Menurut Juru Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Sumatera Barat Jasman, tambahan 47 kasus baru itu terdeteksi dalam pemeriksaan 1.421 spesimen di Laboratorium Fakultas Kedokteran Unand dan Laboratorium Veterenir Baso Agam.

“Dari seribu lebih sampel itu, terkonfirmasi 47 orang positif terpapar COVID-19, sebagian besar dari Kota Padang, sebanyak 41 orang,” katanya di Padang.

Ia menjelaskan, peningkatan penemuan kasus tersebut merupakan buah dari upaya pelacakan yang dilakukan oleh para petugas kesehatan.

Sementara itu, Kepala Laboratorium Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Universitas Andalas Dr.dr. Andani Eka Putra M.Sc menyebut peningkatan signifikan kasus COVID-19 di Sumatera Barat dalam seminggu terakhir sebagai riak-riak dalam fase puncak pandemi COVID-19.

“Fase puncak itu cenderung datar dengan riak-riak. Ini adalah riak-riak itu,” katanya.

Ia mengatakan, kegiatan pelacakan kasus harus konsisten dilakukan untuk mencegah persebaran penyakit mengingat kini makin banyak orang yang terserang COVID-19 namun tidak mengalami gejala sakit dan mereka bisa menularkan virus kepada orang lain.

Andani menekankan pentingnya pemeriksaan untuk mendeteksi penularan COVID-19 pada orang-orang yang datang dari luar daerah guna mengendalikan penularan penyakit tersebut.

Selain itu, menurut Jasman, disiplin warga dalam menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah penularan COVID-19 sangat penting dalam upaya pengendalian penularan penyakit.

Menurut data yang disiarkan di laman resmi Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, hingga Kamis (6/8) jumlah akumulatif pasien COVID-19 di Sumatera Barat total 1.038 orang dengan perincian 95 orang masih dirawat, 122 orang masih menjalani karantina, 787 orang sudah sembuh, dan 34 orang meninggal dunia.

13 Kabupaten/Kota “Naik Kelas” Jadi Zona Merah Covid-19

Jakarta, CNBC Indonesia – Satuan Tugas Penanganan Covid-19 mencatat ada 13 kabupaten/kota yang awalnya berada di zona oranye menjadi merah alias dari kasus sedang menjadi tinggi.

“Kami mohon untuk betul-betul agar wilayah masing-masing bisa membaik. Mari kerjasama semoga kondisi membaik,” ujar Juru Bicara dan Ketua Tim Pakar Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito saat konferensi pers secara virtual di Jakarta, Kamis (6/8/2020).

Adapun ke-13 kabupaten kota tersebut adalah Karangasem-Bali, Gorontalo Utara dan Pohuwato di Gorontalo, Depok-Jawa Barat, Hulu Sungai tengah-Kalimantan Selatan, Ambon-Maluku, Mimika-Papua, Gowa-Sulawesi selatan, Minahasa dan Minahasa Selatan-Sulawesi Utara, Prabumulih-Sulawesi Selatan dan Binjai di Sumatera Utara.

Satgas juga mencatat ada 8 kabupaten/kota yang masih berada di zona merah selama satu bulan berturut-turut. Di antaranya adalah Jakarta Barat dan Pusat DKI Jakarta, Semarang-Jawa tengah, banjar, Banjar baru dan Tabalong di Kalimantan selatan, kemudian Medan dan Deli Serdang di Sumatera Utara.

Satgas memohon kepada Pemda, Bupati dan Walikota setempat untuk memperhatikan penyebaran Covid-19 di wilayah masing-masing. Dia berharap agar menjadi perhatian kepada seluruh masyarakat untuk jangan lelah menerapkan protokol kesehatan.

“Jaga jarak, cuci tangan dan pakai masker. Karena ini satu-satunya cara mengendalikan kasus,” pungkasnya.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, hingga Rabu (5/8/2020) total konfirmasi positif Covid-19 menembus angka 118.753 orang. Jumlah ini bertambah 1.882 orang dibandingkan dengan kemarin.

Sementara itu, jumlah pasien sembuh bertambah 1.756 orang sehingga totalnya mencapai 75.643 orang.

Adapun kasus kematian hingga hari ini mencapai 5.521 orang, meningkat 69 orang dibandingkan dengan kemarin.

Selain itu ada juga jumlah suspek Covid-19 terus bertambah yakni mencapai 91.219 orang. Hingga saat ini Covid-19 telah menyebar hingga 479 kabupaten/kota di 34 Provinsi di Indonesia.

Uji Klinis Vaksin Covid-19 Dimulai 11 Agustus 2020, Relawan yang Disuntik Boleh Bepergian

BANDUNG, KOMPAS.com – Uji klinis vaksin virus corona (Covid-19) dimulai 11 Agustus 2020.  Sementara simulasinya dimulai pada 6 Agustus 2020. 

“Hari ini dilakukan simulasinya,” ujar ketua tim penelitian uji klinis tahap 3 calon vaksin Covid-19 dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Profesor Kusnandi Rusmil di Bandung, Kamis (6/8/2020). 

Kusnandi menjelaskan, penyuntikan vaksin terhadap relawan diperkirakan 1-2 bulan. Jangka waktu tersebut bisa lebih cepat bergantung jumlah relawannya, apakah sudah mencukupi atau tidak. 

Pada dasarnya, relawan yang disuntik calon vaksin Covid-19, seperti orang yang akan naik haji. Setelah disuntik vaksin atau imunisasi, para calon jamaah haji boleh bepergian.

Begitupun dengan relawan, setelah disuntik boleh bepergian. Yang terpenting, seseorang yang akan menjadi relawan harus sehat, dinyatakan dengan keterangan sehat. 

“Nanti kan diperiksa sama dokternya. Sehat atau tidak, boleh nggak menjadi sukarelawan,” imbuh Kusnandi.

Pemeriksaan sukarelawan akan dilakukan di enam tempat. Targetnya, setiap hari ada sekitar 20 orang di masing-masing tempat yang diuji klinis.

Kriteria Sehat

Kusnandi menjelaskan, ada sejumlah kriteria yang harus dipenuhi calon peserta uji klinis. Yakni calon peserta merupakan orang dewasa berusia 18–59 tahun yang dinyatakan sehat. 

Sehat tidaknya kondisi calon peserta, sambung dia, dibuktikan dengan tidak mengalami penyakit ringan, sedang, atau berat. 

Kemudian tidak memiliki riwayat penyakit asma dan alergi terhadap vaksin, hingga tidak memiliki kelainan atau penyakit kronis seperti gangguan jantung, tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol, diabetes, penyakit ginjal dan hati, tumor, epilepsi atau penyakit gangguan syaraf lainnya.

Calon peserta juga tidak memiliki kelainan darah atau riwayat pembekuan darah, tidak memiliki penyakit infeksi lain dan demam, serta tidak memiliki riwayat penyakit gangguan sistem imun. “Suhu tubuh calon pendaftar juga tidak boleh melebihi 37,5 derajat celcius,” ungkap dia. Selanjutnya, calon peserta bukan merupakan wanita hamil atau berencana hamil selama periode penelitian, serta tidak sedang menyusui. Calon peserta juga tidak sedang ikut atau akan diikutsertakan dalam uji klinis lain. Bebas Covid-19 Sebelumnya, Kusnandi mengungkapkan, peserta senantiasa mematuhi protokol kesehatan dan melakukan pembatasan fisik maupun sosial selama wabah pandemi Covid-19 serta dinyatakan tidak memiliki riwayat terinfeksi Corona. “Calon peserta akan dilakukan tes terhadap apus tenggorokan (swab test) dan rapid test secara gratis untuk mengetahui apakah ada kemungkinan sedang atau pernah terinfeksi Covid-19,” jelasnya. “Peserta tidak mendapat imunisasi apa pun dalam waktu 1 bulan ke belakang atau akan menerima vaksin lain dalam 1 bulan ke depan,” tutur dia. Syarat lainnya, calon peserta berdomisili di Kota Bandung dan tidak berencana pindah dari lokasi penelitian sebelum penelitian selesai dilaksanakan. Selain itu, sambung Kusnandi, dalam 14 hari sebelum dimulainya penelitian, peserta tidak memiliki riwayat kontak dengan pasien terinfeksi Covid-19. Kemudian, tidak memiliki riwayat kontak dengan pasien yang menunjukkan demam atau gejala sakit saluran pernapasan yang berdomisili di daerah atau komunitas yang terdampak Covid-19. “Serta tidak memiliki dua atau lebih kasus demam dan/atau gejala saluran pernapasan di daerah dengan lingkup kecil, seperti rumah, kantor, dan sekolah,” tutur dia. Sebanyak 1.620 relawan dibutuhkan dalam proses uji klinis vakisin. Namun, tidak semua peserta akan disuntikkan vaksin. Sebanyak 540 orang akan disuntikkan vaksin, sedangkan sisanya akan mendapat cairan plasebo. Penentuan pemberian vaksin atau plasebo akan dilakukan secara acak. “Bagi yang menerima plasebo akan mendapatkan vaksin Covid-19 setelah vaksin didaftarkan,” ungkap Kusnandi. Kesehatan peserta dipastikan tetap dipantau petugas penelitian secara teratur selama jalannya penelitian, atau sekitar 6-7 bulan setelah pemberian vaksin terakhir.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Uji Klinis Vaksin Covid-19 Dimulai 11 Agustus 2020, Relawan yang Disuntik Boleh Bepergian”, Klik untuk baca: https://regional.kompas.com/read/2020/08/06/13411811/uji-klinis-vaksin-covid-19-dimulai-11-agustus-2020-relawan-yang-disuntik?page=2
Penulis : Kontributor Bandung, Reni Susanti
Editor : Aprillia Ika

Download aplikasi Kompas.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat:
Android: https://bit.ly/3g85pkA
iOS: https://apple.co/3hXWJ0L