Disaster Watch, Indonesia to Send Satellites

The National Institute of Aeronautics and Space (Lapan) will launch two new satellites in an effort to help lessen damage from natural disasters. Deputy of Aerospace Technology, Soewarto Hardhienata, said the Lapan A 2 and Lapan A 3 satellites have extended features in remote monitoring as they are able to transmit disaster warnings. Baca selengkapnya

Inhouse Training Panti Nugroho Hari II

gambar-1-koordinasi

Workshop Hospital Disaster Plan RS Panti Nugroho
Hari ke II

Kamis, 22 Juni 2012

Kelompok I

Koordinasi Tim
Anggota kelompok 1 dari Unsur Pimpinan yag terdiri atas Direktur, Direktur Pelayanan, Direktur Penunjang, Komite Medik. Kelompok I membahas mengenai bagan alur disaster plan, dimana sebagai komandannya Yanmed yang bertanggung jawab kepada Direkturnya. Berikut ditampilkan bagan koordinasinya :

gambar-1-koordinasi

Kelompok II :
Perencanaan dan Pembiayaan
Anggota Kelompok II dari Planning/Perencanaan: Terdiri atas: Pelayanan Medik, Diklat

& Finance/ Keuangan: Terdiri atas: Administrasi dan Keuangan, Medical Record. Hasil diskusinya adalah struktur organisasi pada bidang perencanaan, dimana tanggungjawabnya ada pada Ka. Sie Administrasi. Adapun bagannya bisa kami sebutkan sebagai berikut :

gambar-2-hosdip-pantinugroho

Rencana dari bidang perencanaan adalah :
1. Pembuatan protap
2. Pembuatan tupoksi : perencanaan, sumber daya, situasi, keuangan, biaya, dan klaim.

Pembuatan form bagian perencanaan berupa absensi, penempatan SDM, penempatan relawan. Sedangkan untuk bagian keuangan, formnya akan dibuat untuk absensi, pemasukan dan pengeluaran, serta klaim.

Perencanaan fasilitas tempat yang akan kami kerjakan adalah : ruang pertemuan sebagai ruang kumpul hijau, poli mata sebagai pos komando dan R. Makan karyawan sebagai pos relawan.

Kelompok III
Operasional

Anggota kelompok III dari Operasional Terdiri atas: Kepala IGD, Dokter Umum IGD, Perawat IGD, Bidan, SMF Bedah, SMF Anestesi, Keperawatan, K3, IBS. Hasil diskusi mereka adalah bagan operasional sebagai berikut :

gambar-3-hosdip-pantinugroho

Untuk Pelayanan Medis, persiapannya :

  1. Triage : merah,kuning,hijau,hitam
    1. Menentukan daerah triage yang akan kita gunakan untuk labeling. Sebagai contoh di RSPN  area triage di kanopi utara dan sekitarnya
    2. Menentukan area merah,area kuning ,area hijau dan hitam
      • Merah             : Igd dan sekitar  poli
      • Kuning            : depan  ruang direksi , taman
      • Hijau               : ruang makan
      • Hitam              : kamar jenasah
    3. Menentukan dan penempatan petugas triage
    4. Menyediakan label triage:merah,kuning,hijau,hitam
    5. Menentukan petugas di setiap label triage
    6. Penanganan pasien sesuai tingkat  kegawatan di masing masing area.
    7. Ruang tindakan tiap area :
      • Menyediakan obat-obatan, seperti: analgetika, antibiotika, serum anti tetanus, vaksin jerap tetanus, cairan infus dan obat-obat emergency, seperti: adrenalin, sulfas atropine, natrium bicarbonate, dll
      • Meminta bantuan logistik untuk menyediakan: spalk, gaas steril, set jahit dan perlengkapannya
      • Meminta bantuan dari staf wakil direktur keperawatan untuk meminta bantuan tenaga dan mengkoordinirnya
      • Melakukan tindakan life saving
      • Bila diperlukan, melakukan tindakan evakuasi korban
      • Menyediakan alat tenun, meliputi: baju, selimut, kain operasi, waslap, dll
      • Menyiapkan obat-obat yang diperlukan
      • Menyiapkan peralatan emergency, meliputi: endotrakheal tube, oropharingeal airway, suction, kateter, WSD, dll
      • Mendokumentasikan semua tindakan yang sudah dilakukan
      • Melakukan tindakan keperawatan
      • Meminta farmasi untuk menyediakan obat-obat yang diperlukan
      • Mendokumentasikan obat-obat yang keluar
      • Mengatur jadual jaga
      • Menunda yang libur dan cuti
  2. Bedah :
    1. Menyediakan tempat untuk operasi cito
    2. Menyeterilkan alat agar dalam keadaan siap pakai
    3. Menunda operasi yang terencana dan memprioritaskan operasi untuk korban bencana
    4. Menentukan prioritas korban yang akan dioperasi
    5. Membantu operasi
    6. Menambah petugas jaga
    7. Mencatat nama-nama korban dan jenis operasi yang dilakukan
    8. Koordinasi dengan farmasi untuk penyediaan obat dan melakukan dokumentasi
    9. Koordinasi dengan logistik untuk penyediaan alat kesehatan yang dibutuhkan dan melakukan dokumentasi
    10. Menyediakan ruang recovery tambahan
    11. Bekerjasama dengan ICU untuk pasien post operasi yang memerlukan observasi khusus
    12. Koordinasi dengan PPST untuk distribusi alat tenun yang bersih dan kotor
    13. Melaporkan jumlah pasien yang dilakukan operasi, jenis operasi dan implant yang dipakai
    14. Mengatur jadual petugas jaga
    15. Menunda yang libur dan cuti 
  3. Perawatan
    1. Menyiapkan ketenagaan dengan cara menghubungi petugas yang cuti / libur untuk membantu penanganan korban
    2. Menyediakan ruangan atau menambah jumlah tempat tidur
    3. Menentukan penanggung jawab setelah pasien berada di bangsal
    4. Melakukan perawatan terhadap pasien sesuai area triase
    5. Menambah obat-obatan, seperti: bethadine pekat, bethadine cair, sofratulle, kasa steril, plester, dll
    6. Menghubungi bagian farmasi untuk menyediakan obat-obat untuk rawat luka dan obat-obat lain yang diperlukan
    7. Memastikan fasilitas keperawatan tercukupi, seperti: tensimeter, stetoskop, dll
    8. Meminta bantuan tehnik untuk mendirikan tenda darurat
    9. Melakukan koordinasi bersama kepala ruang
    10. Kepala ruang melakukan koordinasi bersama staf
    11. Evakuasi pasien pada saat kejadian, bersama dengan petugas lain dan keluarga pasien
    12. Koordinasi dengan kepala ruang untuk mengatur ketenagaan di luar bangsal keperawatan, yaitu di area: merah, kuning dan hijau
    13. Koordinasi dengan unit karya lain di yayasan Panti Rapih berkaitan dengan tenaga keperawatan melalui disaster plan director
    14. Koordinasi dengan dokter penanggung jawab area / zona untuk melakukan evaluasi di ruangan
    15. Memindahkan korban ke zona lain sesuai dengan hasil triase yang dilakukan
    16. tasi korban
    17. Membuat data-data korban yang dirawat secara periodik untuk dilaporkan ke disaster plan director
    18. Menerina korban, baik yang baru datang maupun korban pindahan dari zona lain
    19. Bekerjasama dengan relawan untuk melakukan transpor
    20. Koordinasi dengan fisioterapi untuk penanganan pasca trauma
    21. Koordinasi dengan pasosmed untuk penanganan pasca trauma
    22. Mendampingi visite dokter
    23. Melaksanakan program medik dan keperawatan
    24. Memulangkan korban
    25. Melakukan dokumentasi tindakan keperawatan
    26. Asistensi dokter dalam melakukan tindakan-tindakan medis di area keperawatan
  4. HCU
    1. Menambah petugas jaga
    2. Menyiapkan tempat tidur
    3. Menyiapkan alat-alat: ventilator, monitor ekg, monitor tekanan darah, oksimetri, dll
    4. Menyediakan obat-obat emergency
    5. Mengatur jadual petugas jaga tambahan
    6. Membuat daftar korban yang dirawat di HCU
    7. Menjaga keutuhan alat medis yang ada
    8. Melakukan dokumentasi
    9. Koordinasi dengan rawat inap untuk pasien yang layak keluar dari HCU

Untuk Pelayanan Penunjang dipersiapkan:

  1. Laboratorium
    • Menyiapkan alat untuk pengambilan darah
    • Memastikan alat dan bahan siap pakai / berfungsi baik
    • Melakukan pemeriksaan laboratorium dan mengirim hasil yang sudah selesai sesuai area triase
    • Menyediakan darah golongan A, B, O dan AB dalam jumlah yang banyak
    • Koordinasi dengan PMI
    • Mengatur jadual petugas jaga
    • Menyiapkan petugas tambahan
  2. Radiologi
    • Memastikan alat-alat radiologi dalam kondisi baik / siap pakai
    • Menunda yang libur dan cuti
    • Melakukan rongent sesuai permintaan dan prioritas
    • Mengatur jadual petugas jaga
    • Koordinasi dengan logistik untuk pengadaan film dan format radiologi
    • Mengusahakan agar semua hasil dapat dinilai dengan cepat, akurat dan tidak perlu menunggu
    • Dokter jaga radiologi stand by di tempat
    • Memilah ruang periksa radiologi sesuai prioritas
    • Melakukan dokumentasi
  3. Farmasi
    1. Menyiapkan obat-obat:
    2. Infus: RL, NaCl, Haes steril
    3. Set infus, set tranfusi
    4. Vena cateter berbagai ukuran
    5. Bethadine pekat, bethadine cair, dettol dan antiseptik lainnya
    6. Perhidrol 3%
    7. Gaas DRC, gaas steril, gaas roll
    8. Obat-obat analgetika
    9. Serum anti tetanus, vaksin jerap tetanus
    10. Antibiotika
    11. Sarung tangan steril dan sarung tangan on steril
    12. Plester
    13. Sulfas atropine, adrenalin, lidokain
    14. Menyiapkan obat-obat generik
    15. Mendata obat-obat dan alat kesehatan yang ada dan yang habis
    16. Mencari informasi untuk mendapatkan obat-obatan di saat darurat, misalnya: ke dinas kesehatan
    17. Menambah petugas untuk mendistribusikan permintaan ke IGD
    18. Menyediakan obat dan alat kesehatan sesuai permintaan IGD
    19. Mengecek kebutuhan dan persediaan obat di IGD
    20. Melakukan dokumentasi
    21. Melakukan order obat tambahan ke bagian logistik
    22. Melaporkan ke disaster plan director untuk dilanjutkan ke direktur agar mencari bantuan obat-obatan yang diperlukan
    23. Menyiapkan obat-obat generik
    24. Mendata obat-obat dan alat kesehatan yang ada dan yang habis
    25. Mencari informasi untuk mendapatkan obat-obatan di saat darurat, misalnya: ke dinas kesehatan
    26. Menambah petugas untuk mendistribusikan permintaan ke IGD
    27. Menyediakan obat dan alat kesehatan sesuai permintaan IGD

Sedangkan untuk Pelayanan Sosial, dipersiapkan untuk pasomed :

  1. Melakukan pendampingan kepada pasien dan keluarga sesuai dengan kebutuhan mental dan spiritual
  2. Bekerjasama dengan tokoh-tokoh agama jika dibutuhkan
  3. Bekerjasama dengan relawan (pendoa)
  4. Menjadi penghubung antara pasien dan keluarga dengan unit lain yang terkait

Kelompok IV: Logistik
Anggota kelompok IV adalah Logistik terdiri atas: IPSRS, IFRS, Rumah Tangga, Gizi Pada bidang logistic, kami membuat bagan sebagai berikut :

gambar-4-hosdip-pantinugroho

Penyusunan POA (Planning of Action)
Perencanaan RS Panti Nugroho dalam mempersiapkan HDP

No.

Rencana

Juni

Juli

1.

Penyelesaian Draft Dokumen

23 Juni hingga 18 Juli (tiga minggu dari sekarang)

2

Pertemuan Lanjutan Tim RS dilakukan tiap minggu ada pertemuan setiap hari Rabu, jam 10.00 – selesai pendampingan

Akhir Juni hingga minggu pertama bulan Juli

3.

Pendampingan I

 

Minggu pertama bulan Juli

4.

Pendampingan Online melalui www.bencana-kesehatan.net atau [email protected]

 

 

5.

Table Top / Evaluasi – Pendampingan II

 

Akhir Juli

Gallery Foto hari Kedua

{gallery}panti-nugroho/h1{/gallery}

Inhouse Training Panti Nugroho Hari I

Sambutan-Direktur-RS

Workshop Hospital Disaster Plan RS Panti Nugroho
Hari ke I

Kamis, 21 Juni 2012

Sambutan-Direktur-RSWorkshop Hospital Disaster Plan di RS Panti Nugroho merupakan kegiatan kerjasama pihak Rumah Sakit Panti Nugroho dengan Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan (PMPK) FK UGM. Kegiatan ini dilaksanakan selama 2 hari yang dimulai dari hari kamis, 21 Juni s.d Jumat 22 Juni 2012, dibuka oleh Direktur RS Panti Nugroho dan PMPK FK UGM. Dalam penyampaian kata sambutannya untuk kegiatan, dr. Tandean Arif W selaku Direktur Rumahsakit Panti Nugroho menyampaikan bahwa dalam kegiatan ini melibatkan karyawan serta staf RS Panti Nugroho, serta dari RS Panti Rapih, RS Panti Rini, RS St. Elizabeth Ganjuran dan AKPER Panti Rapih, dalam upaya untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi bencana agar bisa siaga dalam menghadapi bencana. Karena seperti yang kita ketahui bahwa bencana di Yogyakarta sekarang sering terjadi seperti gempa bumi, merapi meletus dan kecelakaan misal lainnya.

Sambutan-Prof-LaksonoSambutan kedua sekaligus penyampaian Pengantar Workshop oleh Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, Ph.D. Beliau menjelaskan bahwa bencana merupakan masalah besar, karena itu kita mengadakan pelatihan untuk hal yang tidak kita inginkan. Tapi kita tidak berharap seperti itu, namun kita harus siap apalagi melihat siklus bencana saat ini. Kita tidak bisa memprediksi kapan, tapi ketika bencana itu datang, kita bisa siap, terutama dalam RS mempersiapkan diri bagaimana menanggulangi dan siap dalam situasi apapun juga. Ini yang kita sebut dengan Hospital Disaster Plan. Dalam konteks landasan hukum, RS diharapkan siap mempunyai HDP karena memang perlu untuk pencegahan kecelakaan dan penanggulangan bencana. Hospital Disaster Plan tidak hanya bersumber pada dokumen, tapi juga pelatihan-pelatihan yang diterapkan untuk RS. Jangan sampai kita hanya punya dokumen saja, tapi juga simulasi agar kita benar-benar siap. Tujuan dari kegiatan ini adalah peserta diharapkan memahami kesiapan dalam penanggulangan bencana, mampu membuat POA dan akhirnya mampu menerapkan HDP di RS

Pembahasan Sesi I :
Kerangka Konsep Bencana dan Manajemen Bencana
dr. Sulanto Saleh Danu, Sp.FK

Materi-1Materi pertama mengenai “Kerangka Konsep Bencana Dan Manajemen Bencana” disampaikan oleh dr. Sulanto Saleh Danu, Sp.FK, dengan tujuan yang ingin dicapai dari pembelajaran materi pertama ini adalah agar peserta memahami dan mengerti tentang konsep dasar bencana, upaya penanggulangan bencana, organisasi, mekanisme kerja, dan sumberdaya, dapat menganalisa kejadian bencana serta dapat mengorganisasi upaya penanggulangan bencana. Beliau menjelaskan bahwa kita berada pada daerah yang sering terjadi gempa, sehingga sekarang sudah dibuat UU yaitu UU 24/2007 tentang penanggulangan bencana. Dari sini kita lihat bahwa bencana dibagi menjadi 3 yaitu alam (gempa, gunung meletus, topan, kekeringan banjir dan tanah longsor), non alam (gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemic dan wabah penyakit) dan sosial (ulah manusia seperti konflik social/komunitas). Kita juga harus berhati-hati terhadap remaja, karena sekarang ini masih sering terjadi tawuran yang bisa mengakibatkan bencana juga. Bencana sendiri suatu kejadian dari luar yang besar dan membutuhkan bantuan dan berpengaruh bagi luar. Seperti kebakaran yang tidak hanya membutuhkan bantuan dari dalam tapi juga bantuan dari luar. Tapi, jari terpotong belum tentu bencana, karena mungkin bagi diri sendiri itu bencana, tapi belum tentu bagi orang lain.

Bencana adalah interaksi antara bahaya dan penduduk. Beberapa kata yang terkait dengan bencana adalah: kelemahan (vulnerability), resiko (risk), bencana (disaster), kegawatdaruratan (emergency). Adapula istilah mengenai mitigasi yaitu upaya yang dilakukan untuk mengurangi dampak yang terjadi akibat bencana dengan menggunakan teknologi inovatif, atau suatu alternatif yang dilakukan sebelum adanya kerusakan. Manajemen bencana bertujuan agar bisa meminimalisasi kerugian akibat bencana. Dalam manajemen ini tidak hanya ditingkat direksi tapi juga sampai ke tingkat paling bawah. Dalam organisasi tim bencana ada beberapa yang perlu diperhatikan dan pikirkan, yaitu manajemen, adminstrasi, operasional, logistik dan perencanaan

Pembahasan Sesi II:
Overview Hospital Disaster Plan
Dr. Sulanto Saleh Danu, Sp.FK

Penyampaian materi kedua mengenai Overview Hospital Disaster Plan (HDP) yang disampaikan oleh dr. Sulanto Saleh Danu, Sp.FK. Dijelaskan bahwa dalam HDP ada bencana yang menyebabkan RS menjadi chaos dan tindakan tidak mencukupi serta terjadi kepanikan padahal harusnya menolong pasien sehingga menyebabkan outcome yang jelek. Tentunya tindakan-tindakan ini memerlukan dokter dan dukungan perawat yang terampil dan di manage dengan baik. Tujuan dari HDP ini sendiri agar dapat memberikan pelayanan medis secara tepat dan efektif secara maksimal untuk menekan morbiditas akibat bencana dengan cara mensiagakan seluruh staf dan sumber daya RS supaya bisa bekerja secara efektif dalam segala kondisi. Untuk penanganan korban dalam jumlah banyak bisa dilakukan dengan cara surge capacity – capability yaitu dengan meningkatkan kapasita penerimaan, penanganan pasien secara individu, tetap melanjutkan perawatan pasien yang sudah ada, mengelola pekerjaan tambahan akibat bencana serta menyiapkan logistik, bukan hanya medical logistic untuk pasien tapi juga untuk petugas.

Selain itu juga dijelaskan bahwa jika terjadi bencana internal dalam RS, fungsi HDP bisa memberikan manfaat melindungi kehidupan, lingkungan dan property yang ada terhadap kerusakan lebih lanjut yaitu dengan cara menjalankan prosedur penanggulangan bencana, staf RS menjalankan tugas masing-masing, meminta bantuan dari luar, mengembalikan fungsi pelayanan secepat mungkin. Dalam tahap penyusunan HDP, kita mulai dengan membuat kebijakan, dan menganalisa kemungkinan yang akan terjadi. Setelah itu, kita harus membuat emergency disaster plan. Kemudian, setelah rencana itu terbentuk, maka pimpinan mensosialisasikan pelatihan-pelatihan bagi seluruh karyawan RS dan selanjutnya kita monitor serta evaluasi hasil perencanaan tersebut. Kekurangan dalam perencanaan itu bisa diperbaiki secepatnya. Setiap intervensi wajib kita lakukan monitor dan evaluasi.

Pembahasan Sesi III :
Pengorganisasian dalam Bencana
dr. Hendro Wartatmo, Sp.B KBD

Materi-IIMateri ketiga “Pengorganisasian dalam Bencana” disampaikan oleh dr. Hendro Wartatmo, Sp.B KBD. Beliau menyatakan bahwa dalam bencana ada filosofi yang harus kita ketahui yaitu kekacauan itu tidak bisa kita cegah. Adanya HDP bukan untuk mencegah kekacauan tersebut, melainkan menyelesaikan akibat dari bencana itu secepat mungkin. Bedanya yang sudah punya plan dan yang belum punya plan adalah waktu kekacauan tersebut. Yang sudah punya plan pasti kekacauannya lebih cepat terselesaikan daripada yang tidak punya plan. Dasar pemikirannya adalah mengorganisasikan kembali petugas-petugas yang ada untuk menyiapkan HDP, sehingga tidak perlu mencari orang-orang baru untuk mengisi tim itu. Struktur dalam pengorganisasian bencana ini jangan sampai terlalu rumit tapi cukup istilah miskin struktur, kaya fungsi. Struktur ini diharapkan dapat sesederhana mungkin tapi bisa bekerja secara maksimal. Untuk memudahkan pekerjaan, diharapkan bisa membuat checklist. Checklist ini berfungsi untuk mengingatkan petugas ketika menghadapi bencana. Saat ini mungkin ingat apa yang harus dilakukan ketika bencana. Tapi ketika bencana itu tiba, semua orang bisa panic dan bisa lupa apa yang harus dilakukan. Dalam menyusun struktur organisasi, jangan semua dilimpahkan ke direktur atau wakil direktur. Hal ini dikarenakan direktur ataupun wakilnya tidak berada ditempat setiap saat. Yang dibutuhkan adalah orang-orang atau petugas yang ada setiap saat, 7 hari seminggu 24 jam sehari. Ini bisa terjadi, contohnya dokter jaga di UGD. Orangnya bisa berubah-ubah, tapi jabatannya sama. Jadi, prinsipnya penanggulangan bencana, organisasinya bisa diaktifkan oleh level yang serendah mungkin. Selain itu, jangan buat organisasi baru, karena perlu diingat, dalam keadaan bencana, aktifitas sehari-hari masih bisa berjalan.

Pembahasan Sesi IV :
Fasilitas Rumah Sakit dalam Bencana
dr. Bella Donna, M.Kes

Materi-IIIMateri keempat mengenai “Fasilitas Rumah Sakit dalam Bencana” disampaikan dr. Bella Donna, M.Kes. Disampaikan bahwa dalam HDP, bencana itu dibagi dua yaitu internal (bagaimana RS menanggulangi bencana dari dalam RS) dan eksternal (bagaimana RS menanggulangi bencana di luar RS dengan mengirim tim ke RS lain dan menerima korban bencana). Salah satu fasilitas yang harus disiapkan salah satu contohnya di UGD, beberapa hal yang perlu disiapkan dengan contoh warna untuk skala prioritas dalam triage. Beberapa Fasilitas yang disiapkan antara lain yaitu dari aspek General, Victims Management, Supporting Facilities. Selain itu, untuk para pasien juga diberikan fasilitas – fasilitas yang memadai, jangan lupa makanan untuk semua pasien dan petugas yang ada. Di pos komando, fasilitas yang diharapkan ada komunikasi internal dan eksternal, radio dan televise, peta RS dan daerah, tenaga listrik gawat darurat, toilet, makanan dan minuman, papan dan bolpen, lampu senter dan baterei tambahan, persediaan alat tulis. Sedangkan untuk operasional: peralatan triage,alat tulis, emergency kit dan lain-lainnya. Surge capacity adalah kemampuan memenuhi kecukupan personil, supply dan peralatan, fasilitas, serta, serta sistem agar dapat memberikan pelayanan yang memadai dihadapkan kebutuhan segera dengan adanya arus pasien yang besar akibat bencana. Dalam surge capacity ada 4 hal yang diperlu diperhatikan yaitu Staf, Peralatan, Struktur dan Sistem

Gallery Foto hari Pertama

{gallery}panti-nugroho/h1{/gallery}

Lapindo Harus Bertanggung Jawab

lumpur-lapindo
lumpur-lapindoLapindo Harus Bertanggung Jawab-Dampak Kesehatan Korban Lumpur Tak Bisa Diabaikan PT Minarak Lapindo Jaya harus bertanggung jawab atas dampak gangguan kesehatan yang dialami warga korban semburan lumpur. Baca selengkapnya

Agenda Inhouse Training Panti Nugroho

AGENDA KEGIATAN
IN HOUSE TRAINING RS PANTI NUGROHO
YOGYAKARTA, 21-22 JUNI 2012

Waktu

Topik

Pemateri

Hari ke-1

08.00 – 08.30

Registrasi Peserta

Panitia

08.30 – 09.00

Pembukaan

  1. Direktur RS Panti Nugroho

Dr. Tandean AW

 

  1. PMPK FK UGM

Prof. dr.Laksono Trisnantoro, M.Sc, PhD

09.00 – 09.30

Pre-Test

Panitia

09.30 – 09.45

Coffee Break

Panitia

09.45 – 10.45

Kerangka Konsep Bencana dan Manajemen Bencana

Dr. Sulanto Saleh Danu, Sp.FK

10.45 – 11.45

  1. Overview Hospital Disaster Plan
  2. Dasar-dasar Pengorganisasian dalam Bencana

Dr. Hendro Wartatmo, SpB.KBD

11.45 – 12.45

Fasilitas dan Surge Capacity

Dr. Bella Donna, M.Kes

12.45 – 13.45

ISHOMA

Panitia

14.00 – 16.30

Menyusun Organisasi (Pleno)

  1. Kelompok I : Koordinasi Tim
  2. Kelompok II Perencanaan dan Pembiayaan
  3. Kelompok III: Operasional
  4. Kelompok IV: Logistik

 

  1. Dr. Sulanto SD, SpFK
  2. Dr. Bella Donna, M.Kes

 

  1. Dr. Agus Barmawi
  2. Dr. Gandung Bambang H

16.30 – Selesai

Coffee Break dan Persiapan hari ke-II

Panitia

Hari ke-II

08.30 – 10.00

Pleno

Presentasi Kelompok

  1. Kelompok I : Koordinasi Tim
  2. Kelompok II Perencanaan dan Pembiayaan
  3. Kelompok III: Operasional
  4. Kelompok IV: Logistik

Peserta dan Fasilitator

10.00 – 10.15

Coffee Break

Panitia

10.15 – 11.15

Penyusunan POA

Peserta

11.15 – 13.15

ISHOMA

Panitia

13.15 – 14.15

Rencana Pendampingan

Fasilitator

14.15 – 14.30

Coffee Break

Panitia

14.30 – 15.00

Post-tes

Panitia

15.00 – selesai

Closing

  1. Direktur RS Panti Nugroho

Dr. Tandean AW

 

  1. PMPK FK UGM

Dr. Hendro Wartatmo, SpB.KBD


Tim SAR kembali temukan tiga korban longsor

tanah-longsor

tanah-longsorAmbon (ANTARA News) – Tim SAR gabungan yang melakukan pencarian terhadap para korban tanah longsor di Kawasan Belakang Soya, Kelurahan Karang Panjang, Kecamatan Sirimau, Ambon, kembali menemukan tiga jenazah korban lainnya di lokasi kejadian. Baca selengkapnya