TAHAP 2: SEMINAR TATAP MUKA

pdf

TAHAP 2: SEMINAR TATAP MUKA

Senin, 16 Maret 2015
Ruang Senat KPTU Lantai 2 Fakultas kedokteran UGM
Pukul 08.00-15.30 WIB

Waktu

Kegiatan

08.00 – 08.30

Registrasi

08.30- 08.40

Pembacaan Safety Briefing

08.40 – 09.00

Pembukaan

  1. Sambutan oleh Ketua Pokja Bencana FK UGM, dr. Handoyo Pramusinto, Sp.BS
  2. Sambutan dan Pembukaan oleh Dekan Fakultas Kedokteran: Prof. DR. dr. Teguh Aryandono, Sp.B(K)Onk

09.00– 09.10

Tea Break

 

Sesi 1: Dampak peningkatan risiko bencana terhadap pencapaian MDGs 4 dan 5

Pembicara 1: Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Provinsi DIY: drg. Inni Hikmatin M.Kes

pdf Materi

Pembicara 2: NGO- Yakkum Emergency Unit, Bagian Kesehatan Reproduksi pada saat bencana : dr. Sari Mutia Timur

pdf Materi

Pembahas : dr.Sitti Noor Zaenab, M.Kes

pdf Materi

Diskusi

Moderator: dr. Bella Donna, M.Kes

10.30-10.50

10.50-11.10

11.10-11.30

11.30-11.50

Sesi 2: Dampak perubahan iklim terhadap peningkatan risiko bencana dan angka kesakitan di Indonesia

Pembicara 1: Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI : Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P(K), MARS, DTM &H, DTCE

pdf Materi

Pembicara 2: WHO   Indonesia : Dr. Nirmal Kandell, MBBS, MA (Anthropology), MPH

pdf Materi

Pembahas: Prof. dr. Hari Kusnanto, Dr.PH

diskusi

Moderator: dr.Nandy Wilasto, MSc.IH

11.50- 13.30

ISHOMA

13.30-13.50

13.50-14.10

14.10-14.30

14.30-14.50

Sesi 3: Penguatan peran sektor kesehatan dalam menghadapi risiko bencana pasca MDGs

Pembicara 1: Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI: dr. Ina Agustirini

pdf Materi

Pembicara 2: Ketua Pokja Bencana Fakultas Kedokteran UGM: dr. Handoyo Pramusinto, Sp.BS

pdf Materi

Pembahas: Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, Ph.D

pdf Materi

Diskusi
Moderator: dr. Hendro Wartatmo, SpB, KBD

14.50-15.10

Kesimpulan dan Penutupan

Pengantar 3 Maret 2015

Selamat berjumpa kembali pembaca website bencana kesehatan di bulan Maret ini. Bulan ini, bersama kita akan menyimak hasil kongres dunia mengenai pengurangan risiko bencana pasca berakhirnya Hyogo framework. Kongres yang akan diselenggarakan pertengahan Maret ini dapat disimak perkembangannya pada link berikut ini

Pembaca dapat juga menyimak hasil review artikel penelitian mengenai intervensi pencegahan penyakit pada anak dalam konteks bencana dan terorisme. Artikel review ini memang tidak berhasil kami sajikan pada pembaca sekalian tetapi ulasan dan skor yang dilakukan oleh tim evidence based website mengenai artikel review ini dapat pembaca simak pada link berikut ini

Para Pembaca, jangan lewatkan seminar bencana kesehatan yang akan diselenggarakan Senin, 16 Maret 2015 di FK UGM. Sehari dalam seminar ini kita akan mendiskusikan mengenai Kaitan Peningkatan Risiko Bencana dengan Pencapaian MDGs, pada sesi lain, kita juga akan membahas mengenai penelitian dampak perubahan iklim dan kesehatan di Indonesia. Pendaftaran peserta masih dibuka hingga 10 Maret 2015. Simak TOR kegiatan

Laporan:
14th World Congress on Public Health

14wcph-1

14th World Congress on Public Health adalah forum kesehatan masyarakat yang diselenggarakan sekali dalam tiga tahun. Kali ini acara diselenggarakan di Science City, Kolkata, India. Kongres ini diselenggarakan oleh World Federation of Public Health Associations (WFPHA) dan Indian Public Health Association (IPHA) dan acara diselenggarakan pada Rabu-Minggu (11-15/2/2015). Kongres ini menghadirkan ahli kesehatan masyarakat dari berbagai belahan dunia. Pembicara berbagi pengalaman dan perspektif tentang kesehatan masyarakat dari berbagai negara, mulai dari India, Kanada, Brazil, Asia, Afrika, dan lainnya. Konferensi ini dibagi dalam lima acara besar yaitu pre-conference, plenaries & speakers, thematic sessions, concurrent sessions, dan free papers.

Kongres ini bertujuan untuk mendorong promosi “Rakyat Sehat-Lingkungan Sehat” dan akan mempertemukan ribuan peserta dari berbagai disiplin ilmu kesehatan masyarakat dari berbagai negara di seluruh dunia. Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK UGM mengirimkan tiga delegasi dari spesifik ilmu yang berbeda untuk melaporkan topik-topik yang menarik dan terkait dengan situasi di Indonesia di web ini. Simak reportase kegiatannya pada link berikut

 Hari I Hari II  Hari III  Hari IV  Hari V 

Pra Seminar : Kaitan Peningkatan Risiko Bencana dengan Pencapaian MDGs

Pra Seminar :

Kaitan Peningkatan Risiko Bencana dengan Pencapaian MDGs


Yang saya hormati Bapak dan Ibu Narasumber, Pembahas, Moderator, dan Peserta Kegiatan Seminar Kaitan Peningkatan Resiko Bencana dengan Pencapaian MDGs

Dalam rangkaian Annual Scientific Meeting FK UGM, Senin, 16 Maret 2015, Pokja Bencana FK UGM Bekerjasama dengan Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK UGM mengadakan seminar bencana dengan Topik “Kaitan Peningkatan Risiko Bencana dengan Pencapaian MDGs”

Bapak dan Ibu, Forum Diskusi Pra-Seminar melalui email ini ditujukan untuk  menyamakan pemahaman diantara penyelenggara, narasumber, pembahas, dan peserta yang terlibat mengenai topik dan materi seminar ini.

Gambaran menyeluruh mengenai kegiatan ini terlampir pada TOR Blended Advokasi berikut sebagai acuan bagi kita bersama mengenai rangkaian kegiatan seminar ini yang terbagi menjadi tiga tahap:

Tahap 1: Pra Seminar: Perumusan Tujuan Bersama

Tahap 2: Kegiatan Seminar

Tahap 3: Pasca seminar: Publikasi, advokasi, dan rencana tindak lanjut

Tujuannya adalah agar kegiatan seminar dapat menjadi dasar pijakan kita bersama untuk memberikan rekomendasi

Forum ini dilakukan hingga menjelang Senin, 16 Maret 2015, merupakan rangkaian kegiatan Tahap 1: Pra seminar: Perumusan Tujuan Bersama. Dilakukan melalui email grup. 

Bapak dan Ibu sekalian, kita mulai diskusi ini dengan mengingatkan tujuan seminar ini adalah:

  1. Terbentuknya pemahaman mengenai peningkatan risiko bencana dan dampaknya pada pencapaian target kesehatan di Indonesia terutama pada pencapaian MDGs 4 dan 5 (Ibu dan Anak yang merupakan populasi rentan bencana).
  2. Terbentuknya pemahaman mengenai pentingnya masalah kesehatan reproduksi pada saat situasi bencana
  3. Terbentuknya pemahaman berdasarkan bukti penelitian mengenai dampak perubahan iklim dengan kejadian bencana dan peningkatan kasus penyakit di masyarakat.
  4. Terbentuknya pemahaman mengenai penguatan peran sektor kesehatan dalam menghadapi peningkatan risiko bencana untuk pencapaian target kesehatan pasca MDGs

 

Seminar ini akan terbagi dalam tiga sesi:

Sesi 1: Dampak peningkatan risiko bencana terhadap pencapaian MDGs 4 dan 5

Sesi pertama ini penyelenggara ingin narasumber pertama menyampaikan mengenai pencapaian MDGs 4 dan 5 serta target yang harus dicapai pasca MDGs. Selain itu, pembicara diharapkan juga dapat menyampaikan analisisnya mengenai faktor dan penyebab angka capaian MDGs 4 dan 5 juga hal-hal yang mungkin berkaitan dengan kesehatan ibu dan anak pada beberapa bencana besar di Indonesia dalam beberapa tahun ini.

Masih di sesi pertama, penyelenggara ingin narasumber kedua menyampaikan mengenai temuan angka kesakitan dan kematian ibu dan anak pada saat bencana. Narasumber 2 dapat menyampaikan data yang ditemukan di lapangan, juga kasus yang ditemukan pada saat penanganan bencana. selain itu, mengingat fokus narasumber kedua mengenai kesehatan reproduksi, maka diharapkan narasumber ke dua dapat menyampaikan ulasannya mengenai pentingnya kesehatan reproduksi dalam kebencanaan. Hal ini dapat menjawab pertanyaan banyak peserta mengenai mengapa penting ada sub kluster kesehatan reproduksi dalam manajemen bencana kesehatan.

Sesi 2: Dampak perubahan iklim terhadap peningkatan risiko bencana dan angka kesakitan di Indonesia

Disesi kedua ini, narasumber pertama diharapkan dapat menyampaikan mengenai hasil penelitian perubahan iklim dan kesehatan yang dilakukan di Indonesia. Hasil penelitian ini harapannya dapat memberikan masukan dan membuka pandangan bahwa memang perubahan iklim sudah dirasakan baik secara langsung dan tidak sudah berpengaruh pada angka kesakitan di Indonesia.

Masih di sesi kedua, narasumber kedua diharapkan dapat menyampaikan mengenai hasil penelitian perubahan iklim dan kesehatan yang dilakukan dikawasan Asia Tenggara. Bisa juga menyampaikan mengenai surveilans penyakit di Indonesia maupun kawasan regional Asia Tenggara.

Sesi 3: Penguatan peran sektor kesehatan dalam menghadapi risiko bencana pasca MDGs

Disesi ketiga ini, penyelenggara mengharapkan narasumber pertama dapat mengulas hasil bahasan sesi 1 dan 2 yang dikaitkan dengan materi mengenai peran sektor kesehatan dalam penanggulangan krisis kesehatan dan bencana yang terjadi selama ini. Narasumber pertama menyampaikan kegiatan dan program yang sudah dilakukan berserta tantangannya serta memberikan rekomendasi untuk perbaikan selanjutnya. Akan lebih baik baik, jika narasumber pertama di sesi ketiga ini dapat menghimbau peserta yang menjadi target untuk dapat membangun komitmen bersama untuk penguatan sektor kesehatan dalam menghadapi risiko bencana ke depannya.

Narasumber kedua pada sesi ketiga ini, oleh penyelenggara diharapkan juga dapat mengulas kembali masalah atau bahasan pada sesi 1 dan 2 sehingga dapat merekomendasikan peran perguruan tinggi dan akademisi kesehatan dalam bersinergi dengan pemerintah untuk penguatan sektor kesehatan dalam menghadapi risiko bencana.

Bapak ibu sekalian, kami harapkan peran aktifnya dalam memberikan masukan dan berdiskusi dalam Forum Pra-Seminar ini. Seluruh aktivitas dalam forum ini akan kami dokumentasi sebagai bahan diskusi dan perumusan rekomendasi ke depannya.

Peserta yang kemudian ingin bergabung dalam pra seminar ini dapat mengirim konfirmasi ke email [email protected] dengan subjek Tahap 1 Pra Seminar.

Tingkatkan Kesigapan Hadapi Bencana

Tingkatkan Kesigapan Hadapi Bencana

JAKARTAPemerintah menegaskan kesigapan aparat dalam penanganan bencana perlu ditingkatkan. Pasalnya, kecepatan tersebut menjadi bukti kesigapan pemerintah dalam membantu masyarakat.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani mengatakan, pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla belajar dari kekurangan sebelumnya menangani bencana. Karena itu, semua komponen penanganan bencana harus selalu siap siaga. “Kesigapan, kecepatan sangat dibutuhkan dalam penanganan bencana.

Dengan demikian, pemerintah selalu hadir di tengah masyarakat di kala rakyat mengalami kesulitan,” kata Puan seusai menghadiri Rapat Koordinasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di Jakarta kemarin. Acara Rakornas BNPB dan BPBD dihadiri juga oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), Mendagri Tjahjo Kumolo, dan diikuti sekitar 2000 peserta.

Menurut Puan, keberadaan dan respons cepat pemerintah sangat dibutuhkan oleh masyarakat yang sedang tertimpa musibah bencana. Kesigapan, lanjut Puan, juga menjadi poin penting bagi pemerintahan saat ini yang mengusung tekad “selalu hadir di tengah rakyat” sesuai dengan program Nawacita.

Untuk itu, Puan meminta jajaran aparat pemerintahan di pusat dan daerah aktif melakukan edukasi ihwal bencana terhadap masyarakat, terutama kepada masyarakat yang tinggal di wilayah-wilayah yang rawan bencana. “Hal ini juga menjadi sangat penting karena dengan demikian masyarakat bisa melakukan langkah-langkah yang bisa mengurangi risiko bencana, di antaranya jumlah korban.

Penting juga untuk memperhatikan tanda-tanda alam di sekitar kita yang bersumber dari kearifan lokal,” ujar Puan. Dalam kesempatan itu, Puan memberikan apresiasi terhadap seluruh pihak, termasuk aparat pemerintah, yang ikut berjibaku menangani bencana di seluruh pelosok negeri. Keberadaan mereka, kata Puan, telah meringankan beban masyarakat yang sedang tertimpa musibah bencana.

Ketua BNPB Syamsul Maarif mengungkapkan, dalam Rakornas ini fungsi utamanya adalah untuk mempersiapkan penanggulangan bencana alam tahun 2015 serta 2016 nanti. “Kita harus siap pascabencana yang selalu akan datang,” katanya. BNPB dan BPBD, kata dia, akan berusaha semaksimal mungkin selalu terdepan dalam setiap menghadapi bencana alam.

Dan di sisi lain, dia berharap dua lembaga tersebut untuk tidak menjadi jemawa lantaran keberhasilan dalam setiap menangani bencana. “BNPB dan BPBD hadir bukan memberikan janji, tetapi memberikan solusi,” tukasnya. Jusuf Kalla dalam sambutannya mengatakan, Indonesia dikelilingi berbagai kepulauan yang meliputi lautan serta gunung- gunung berapi yang masih aktif.

Oleh karena itu, Indonesia adalah salah satu negara yang rawan bencana alam. “Negeri kita negeri yang besar dengan penduduk nomor empat terbesar di dunia, tentu juga banyak masalah di negeri ini, yakni bencana,” ujar JK. JK juga menyinggung agar BNPB dan BPBD selalu berperan aktif melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar tanggap terhadap berbagai bencana alam.

Menurut dia, tugas dua lembaga tersebut adalah mencegah dan memberi tahu masyarakat agar tanggap terhadap bencana. “Apabila tidak mendidik masyarakat maka bencana akan lebih besar lagi. Bagaimana mendidik dan mengajarkan masyarakat akan bisa mengurangi bencana,” tambahnya.

sumber: koran sindo

Hujan Sejak Siang, Jember Dikepung Banjir

 

Jakarta – Hujan deras yang mengguyur sejak siang hari menimbulkan banjir di sejumlah wilayah Jember, Jumat, 6 Maret 2015. Banjir ini dikabarkan masih belum surut hingga Jumat sore.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Tempo, hujan deras membuat beberapa ruas jalan tergenang air hingga selutut orang dewasa. Genangan banjir ini terjadi di depan Yon Armed 8 Jember di bilangan Jalan Letjend Suprapto, Kelurahan Kebonsari, Jember. Ketinggian air mencapai 25 sentimeter.

Kayu-kayu berukuran besar yang terbawa banjir mengganggu pengguna jalan yang sedang melintas di ruas jalan tersebut. Banjir juga terjadi di sepanjang Jalan Jawa dan sekitar kampus Universitas Jember (Unej). Jalan ini memang sudah terbiasa banjir ketika hujan deras dalam waktu lama. Ketinggian genangan air mencapai lutut orang dewasa.

Banyak kendaraan, baik roda dua maupun roda empat yang terjebak banjir. Genangan banjir ini juga terjadi di Jalan Mastrip, Jalan Bangka, bahkan di seputaran alun-alun Jember. Di daerah Wirolegi serta belakang Pendopo Kabupaten juga ikut kebanjiran. “Bahkan di perkampungan warga yang ada di belakang pendopo, banjir mencapai perut orang dewasa,” kata Hairus, salah satu warga setempat.

Menurut Hairus, banjir yang terjadi saat ini yang paling parah. “Di sini sebenarnya biasa kebanjiran mas, tapi baru kali ini banjir cukup besar, dengan ketinggian seperti ini,” ujarnya.

Informasi yang dihimpun Tempo juga menyebutkan, beberapa pohon tumbang selama hujan deras terjadi. Seperti di Kecamatan Sumbersari, di depan Pujasera Sumbersari.

Seorang warga yang berdomisili di dekat RRI Jember mengatakan, ada sebuah pohon besar tumbang dan menimpa kabel PLN. Akibatnya, kabel putus dan pohon melintang di tengah jalan.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember, Heru Widagdo, mengatakan hujan terjadi sejak Jumat siang sekitar pukul 13.00 WIB. Hingga Jumat sore sekitar pukul 17.30 tadi, hujan masih terus mengguyur sebagian wilayah Jember.

Asian disaster management to learn from Christchurch quakes

A group of South East Asian disaster management specialists will be in New Zealand later this month taking part in training hosted by the University of Canterbury’s Centre for Risk Resilience and Renewal (UCR3).

The group of future disaster management leaders come from eight of the ten ASEAN countries and will be undertaking a comprehensive two week programme focusing on strategic crisis leadership and an introduction to emergency exercise science to help better equip participants for crisis leadership roles in the future.

UCR3, headed by director Chris Hawker, is hosting three programmes over three years in partnership with the Ministry of Foreign Affairs and Trade who is funding the activity under the NZ Aid programme.

The UCR3 programme is a key component of the ASEAN Centre for Humanitarian Assistance (AHA Centre) six-month Executive Development Programme (ACE). The AHA Centre is an inter-governmental organisation, established by Brunei Darussalam, Cambodia, Indonesia, Lao PDR, Malaysia, Myanmar, the Philippines, Singapore, Thailand and Vietnam, to support the coordinated response to any disaster event which occurs across the ASEAN region.

The group will be meeting with a range of Government Agencies and organisations in Wellington and Christchurch and will be in New Zealand from March 22 to April 5.

The university’s UCR3 has organised a range of experiential activities and key speakers, including Professor Tim Davies, leader of the university’s Hazard and Disaster Masters Programme, Dr Christopher Gomez, who studied aspects of the 2011 Japan earthquake, Associate Professor Nilakant Venkataram who will discuss the issues of leadership’s highs and lows and Dr Erica Seville who will highlight issues of organisational resilience. Dr Gomez will be emphasising how important ethical aspects of disaster management are for ASEAN countries.

UCR3 is supported by Massey University’s Joint Centre for Disaster Research and Auckland University of Technology’s Emergency Management Programme, showcasing the best of New Zealand’s knowledge in the field of disaster management.

ASEAN: Banjir Bencana Utama Kawasan Asia Tenggara

Jakarta – Direktur Eksekutif Pusat Koordinasi Bantuan Kemanusiaan Association of Southeast Asian Nation (ASEAN) pada Penanganan Bencana Said Faisal mengatakan banjir merupakan bencana yang paling sering melanda wilayah Asia Tenggara.

“Data statistik yang dikeluarkan ASEAN pada 2014 menyatakan bahwa 57 persen bencana di kawasan Asia Tenggara merupakan banjir,” ujar Faisal di Jakarta, Jumat (6/3).

Menurut dia, faktor cuaca dan perubahan iklim yang semakin memburuk menjadikan banjir terus-menerus melanda wilayah Asia Tenggara saat ini.

Bahkan, Pemerintah Thailand dan Malaysia telah menyatakan banjir yang melanda masing-masing negara tersebut baru-baru ini merupakan yang terburuk dalam sejarah mereka, tuturnya.

Namun, ia mengatakan banjir bukan satu-satunya bencana yang harus diwaspadai masyarakat ASEAN, karena potensi terjadi angin topan, gempa bumi, kekeringan, dan tsunami juga ada di daerah ini.

“Bencana yang lain memang datangnya sesekali saja, tapi sekali datang korbannya masif, sehingga penyebabnya juga harus diamati pemerintah,” ucap Faisal.

Oleh karena itu, ia menuturkan harus ada sinergi antarpemangku kepentingan yang dilaksanakan secara terus-menerus dan berkelanjutan untuk mengurangi potensi-potensi bencana tersebut.

Salah satu langkah yang sedang disiapkan ASEAN merupakan pembuatan perangkat pemulihan bencana (disaster recovery toolkit) yang memetakan pengetahuan mengenai pencegahan dan pemulihan sejumlah “kemalangan” yang terjadi di Asia Tenggara.

Selain ASEAN, United Nations Development Programme (UNDP) melalui Tsunami Global Lessons Learned Project (TGLLP) juga membuat perangkat pemulihan bencana (Disaster Recovery Toolkit).

Administrator Program Pembangunan PBB (UNDP) Helen Clark meluncurkan hasil awal proyek perangkat pemulihan bencana pada tahun 2009 bersama Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon, mantan Presiden AS Bill Clinton dan Ketua TGLLP-SC Kuntoro Mangkusubroto.

Sejumlah hasil kegiatan proyek tersebut meliputi sebuah studi global berupa “Pembelajaran Tsunami: Inovasi, Terobosan, dan Tantangan pada 2009”.

Selain itu, kegiatan tersebut kemudian dilanjutkan dengan munculnya film dokumenter mengenai Anatomi Pemulihan Tsunami pada 2004, yang akan ditayangkan di seluruh dunia.

Perangkat pemulihan bencana ini diluncurkan sebulan sebelum Konferensi Dunia PBB Ketiga tentang Pengurangan Risiko Bencana yang akan diadakan di Kota Sendai, Jepang.

Hingga kini, masyarakat internasional sendiri mulai memprioritaskan untuk mengumpulkan pembelajaran dan berbagi dari pengalaman bencana setelah gempa dan tsunami yang terjadi di Samudra Hindia pada tahun 2004, serta bencana lainnya yang terjadi di Asia dan Pasifik pada tahun 1993 hingga 2013.

Hazard researchers to participate in vulnerability, resilience center

An elite group of urban planning researchers from Texas A&M University have been selected to collaborate with scientists from 11 universities in a nationwide initiative aimed at helping communities prepare for and recover from natural disasters.

This interdisciplinary team will collaborate through the newly established Community Resilience Center of Excellence to develop a set of user-friendly software tools to aid policy makers, planners or anyone with a need to reduce a community’s vulnerability and enhance its resilience to events like earthquakes, hurricanes, flooding and tornadoes.

The CRCE, based at Colorado State University, was established this year with a $20 million grant from the U.S. Department of Commerce’s National Institute of Standards and Technology.

“We’ve seen continually escalating trends in economic losses from natural hazards over the last several decades,” said Walter Gillis Peacock, director of Texas A&M’s Hazard Reduction and Recovery Center and head of the CRCE’s social science group, which also includes faculty from the university’s Center for Housing and Urban Development. “Natural catastrophes are escalating in number and magnitude and causing increasing damage because of rising sea levels and other factors related to climate change, and that is only part of the story.”

One of the primary reasons this is happening, said Peacock, is because of where and how we build our communities — for example, “we are expanding along coastlines, employing materials or methods that won’t withstand high hurricane winds or coastal flooding. In the process,” he added, “we often destroy natural buffers like mangroves, coastal wetlands and other natural resources that can help reduce disaster impacts.”

“We’re trying to determine how we can do better so we don’t continue to experience these kinds of massive losses,” he said.

CRCE experts are collaborating to develop a common language and metrics for measuring the economic, social and physical impacts of natural hazards. The models will provide a scientific basis for the center’s open-source software tools, which will be available online to help guide and assess planning and policy efforts. Such tools promise to improve decision-making by allowing communities to help justify and guide measures they take to decrease vulnerability and increase resilience.

With the software in place, policymakers, planners or community stakeholders will be able to determine the benefits of reducing potential hazard losses if their community, for example, adopts a particular building code, or chooses not to build in a high-risk area, said Peacock. “They will be able to make quantitative comparisons of different strategies,” he said.

To realize this scenario, CRCE partners first have to lay the groundwork. Texas A&M researchers have a 25-year head start in collecting vulnerability and resiliency findings and data that can inform the project.

Recent research initiatives include post hurricane disaster studies in Galveston, investigating increased vulnerability of lower-income populations in disaster areas, examining the critical role that small businesses play in disaster recovery, measuring disaster resilience indicators for coastal communities, and many more.

Texas A&M researchers engaged in the CRCE initiative, all members of the Department of Landscape Architecture and Urban Planning faculty, include Shannon Van Zandt, associate professor and director of the Center for Housing and Urban Development, and Yu Xiao, associate professor.

Co-directing the CRCE effort at Colorado State University are SCU faculty John W. van de Lindt, the George T. Abell Distinguished Professor of Infrastructure who serves as principal investigator, and Bruce Ellingwood, professor of civil and environmental engineering.

The center’s multi-disciplinary team also includes experts in engineering, economics, data and computing, and social sciences from the University of Oklahoma, Rice University, the University of Washington, the University of South Alabama, the California Polytechnic University in Pomona, Texas A&M University-Kingsville, University of Illinois at Urbana-Champaign, and Oregon State University.

Warga di DAS Bengawan Solo Bagian Hilir Diminta Waspadai Banjir

Bojonegoro– Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Sumber Daya Air (UPT PSDA) Wilayah Bengawan Solo di Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur, meminta daerah hilir mulai Bojonegoro, Tuban, Lamongan, hingga Gresik meningkatkan kewaspadaan menghadapi ancaman banjir luapan Bengawan Solo. Ini karena di akhir musim penghujan, volume air sungai yang berhulu di Jawa Tengah itu terus merangkak naik, dan status Bojonegoro dan sekitarnya hingga hari ini tetap Siaga I.

“Kami minta masyarakat di bagian hilir di Jatim meningkatkan kewaspadaan sebab ada kecenderungan ketinggian air Bengawan Solo terus meningkat,” ujar Kasi Operasi UPT PSDA Wilayah Bengawan Solo di Bojonegoro, Mucharom yang dikonfirmasi, Selasa (3/3) sore.

Sesuai data, katanya, ketinggian air Bengawan Solo pada papan duga di Bojonegoro masuk siaga banjir dengan ketinggian 13,84 meter, pukul 18.00 WIB.

Menurut dia, sejak Selasa hari itu (kemarin) pukul 09.00 WIB, Bengawan Solo masuk Siaga I. Dalam waktu bersamaan, air Bengawan Solo di Babat, Laren, Plangwot, Karanggeneng, dan Kuro, Lamongan, masing-masing sudah mencapai ketinggian berubah-ubah antara 7,39 meter hingga 7,65 meter (Siaga II).

Menurut dia, meningkatnya ketinggian air Bengawan Solo di daerah hilir Jatim, disebabkan banjir di daerah Ngawi dan sekitarnya, juga hulu, Jawa Tengah. Bahkan, banjir bandang juga mulai merambah di Kecamatan Tambakrejo, Bojonegoro. Meskipun ketinggian air Bengawan Solo di Ngawi, saat ini sudah turun, tapi cuaca di Ponorogo, Madiun dan sekitarnya berpeluang hujan yang bisa menambah debit banjir di hilir Jatim, katanya.

Mucharom mengingatkan, pihaknya meminta daerah hilir Jatim tetap waspada, dengan mempertimbangkan curah hujan selama Februari dan awal Maret ini. Sesuai prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Karangploso, Malang, lanjut dia, curah hujan yang terjadi di Jawa Timur, selama Februari, berkisar 155-578 mm.

“Curah hujan selama Februari-Maret berpotensi menimbulkan banjir, sehingga kewaspadaan tetap harus dilakukan mengingat ketinggian air Bengawan Solo di hilir Jatim saat ini statusnya masih siaga banjir,” tandas dia.

Sementara itu menurut petugas jaga Posko UPT PSDA Wilayah Bojonegoro, Suyanto yang dikonfirmasi, Rabu (4/4) tadi pagi menyatakan, bahwa mulai Bojonegoro, Tuban, Lamongan dan Gresik, status Bengawan Solo masih siaga banjir. Namun demikian, warga masyarakat di bagian daerah aliran sungai (DAS) saja yang diminta waspada, karena volume airnya semalam cenderung menurun hingga 13,49 meter (Siaga I).

Air Bengawan Solo di Ndungus, Ngawi, juga turun, begitu pula Bengawan Solo di Jurug, Solo, Jateng, ketinggian airnya juga di bawah siaga banjir. Hanya saja, menurut dia, penurunan ketinggian air Bengawan Solo, di Tuban, Lamongan, dan Gresik, dalam waktu bersamaan masih belum terlalu tajam, hanya berkisar 1-3 centimeter per jam. Pemantauan ketinggian air, menurut Suyanto dilakukan setiap tiga jam sekali, karena Bojonegoro siaga I. Manakala di bagian hulu tidak turun hujan, maka air Bengawan Solo di hilir masih berpeluang untuk turun.

Dapur umum
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro, Andik Sudjarwo yang dikonformasi melalui Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Bojonegoro, Sukirno, Rabu tadi pagi mengaku pihaknya sudah menyediakan berbagai kebutuhan dalam menghadapi ancaman meluapnya Bengawan Solo. BPBD, lanjut dia, sudah mendistribusikan bahan makanan mentah ke sejumlah lokasi yang menjadi titik pengungsian warga korban banjir Bengawan Solo.

Disebutkan lokasi yang sudah disediakan bahan makanan mentah, seperti beras, gula, juga lainnya, yaitu di sejumlah lokasi di Kecamatan Kota, Kanor, Trucuk, dan kecamatan lainnya. “Kalau memang luapan Bengawan Solo terus meningkat dan mengkibatkan warga mengungsi, di sejumlah lokasi bisa langsung membuka dapur umum, sebab sudah tersedia bahan makanan mentah di sana,” katanya.

Ia menambahkan, sejumlah perahu karet untuk evakuasi korban banjir semuanya sudah disiagakan dan bisa berfungsi normal, termasuk persediaan sembako tersedia lebih dari cukup. Sembako beras sudah disiapkan sekitar 32 ton. Di lain pihak, ia mengaku sudah menginstruksikan petugas penanggulangan bencana di kecamatan yang daerahnya dilalui Bengawan Solo untuk bersiaga.

Ketinggian air Bengawan Solo pada papan duga di Bojonegoro, Selasa (3/3) pukul 12.00 WIB mencapai 12,71 meter, meningkat dibandingkan tiga jam sebelumnya yang hanya 12,59 meter. Begitu pula, ketinggian air di Karangnongko, Kecamatan Ngraho, sekitar 70 kilometer, ketinggian airnya juga menunjukkan kecenderungan meningkat mencapai 26,47 meter, pukul 12.00 WIB dan tiga jam sebelumnya hanya 26,05 meter. Ketinggian air di Bojonegoro,juga Tuban, Lamongan dan Gresik, masih berpeluang terus naik, tambahnya.

Sumber:Suara Pembaruan

Lahan Pertanian di Pangkep Tiga Kali Banjir Setahun

PANGKEP – Sekitar 200 hektare lahan yang terdiri dari pertanian dan pemukiman warga yang terendam banjir di Pangkajene Kepulauan (Pangkep) sejak dua hari terakhir. Banjir yang terus menggenangi Pangkep karena luapan air sungai dan buruknya drainase. Seperti drainase di Tekolabbua, kecamatan Pangkajene.

Salah satu warga yang ditemui Tribun, Wahyu (34) mengatakan wilayahnya tersebut terendam banjir tiga kali setahun. Dan hal tersebut karena sungai Pangkejene meluap. Setiap kali luapan sungai, penambak ikan merugi puluhan juta rupiah, karena ikan dalam tambaknya pergi mengikuti banjir.

Warga mengharapkan pemerintah memperbaiki pondasi pinggir sungai dan mengeruk drainase. Karena jika pemerintah mengabaikan hal tersebut maka warga akan terus merugi. Selain merusak tambak, banjir juga merusak padi ratusan hektare yang terletak di kelurahan Jagong.

“Disini tiga kali banjir dalam setahun. Air sungai selalu meluap. Belum ada Pondasinya, sehingga kalau hujan deras banjir lagi. Penambak dan petani pasti rugi. Ikan lari semua, sedangkan padi membusuk dan rusak karena terendam banjir. Kita harap pemerintah memperhatikan wilayah kami,” ujar Wahyu.

Selama dua hari ini, pemerintah belum menyalurkan bantuan ke wilayah Tekolabbua. Padahal warga sangat membutuhkannya terutama makanan dan obat-obatan. Sudah dua hari siswa Madrasah Tsanawiah dan Alia Negeri diliburkan lantaran sekolah tersebut juga terendam banjir. Semua aktivitas di dusun tersebut terhenti.

Warga juga meminta supaya supaya pemerintah membuatkan bendungan untuk mengantisipasi terjadinya banjir. Bahkan secepatnya warga meminta supaya pemerintah memperbaiki pondasi dan membuat bendungan. Sebelum kerugian warga bertambah banyak.

sumber: tribun