Tahun ini merupakan kedua kalinya pemerintah Indonesia menerbitkan kebijakan meniadakan mudik lebaran di tengah pandemi demi mencegah lonjakan kasus COVID-19. Memang angka kasus COVID-19 di Indonesia perlahan – lahan sudah menunjukkan penurunan, namun saat ini jumlah kasus ini masih tergolong tinggi. Hal ini diperkuat dengan dilaksanakannya vaksin, kelonggaran masyarakat untuk taat protokol kesehatan semakin tinggi, ada pemahaman yang salah bagi beberapa masyarakat bahwa setelah mendapatkan vaksin tidak akan tertular COVID-19. Sementara vaksinisasi ini bukan serta merta “meredupkan” peredaran COVID-19, disiplin penerapan protokol kesehatan tetap harus berjalan. Artikel BBC News Indonesia pada 13 April, menuliskan bahwa merujuk data survei Kementerian Perhubungan pada Maret lalu, sebanyak 11% responden atau sekitar 27,6 juta orang menyatakan tetap akan melakukan mudik meski ada larangan dari pemerintah. Sosialisasi secara massif terkait larangan mudik ini akan dilakukan dan kepolisian juga menegaskan akan menindak tegas pelanggar larangan mudik.
BNPB Belajar Mitigasi Tsunami dari Smong, Kearifan dari Simeulue
Nationalgeographic.co.id—Sebuah syair tuturan lisan bertajuk Smong dari Pulau Simeuleu menarik perhatian Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Republik Indonesia. Petikan syair tentang smong atau tsunami yang dituturkan masyarakat Pulau Simeulue itu adalah sebagai berikut.
Enggel mon sao curito (Dengarlah sebuah cerita)
Inang maso semonan (Pada jaman dahulu)
Manoknop sao fano (Tenggelam satu desa)
Uwi lah da sesewan (Begitu mereka tuturkan)
Unen ne alek linon (Diawali gempabumi)
Fesang bakat ne mali (Disusul ombak besar sekali)
Manoknop sao hampong (Tenggelam seluruh negeri)
Tibo-tibo mawi (Tiba-tiba saja)
Anga linon ne mali (Jika gempabuminya kuat)
Uwek suruik sahuli (Disusul air laut yang surut)
Maheya mihawali (Maka segeralah cari)
Fano me singa tenggi (Tempat kalian yang lebih tinggi)
Ede smong kahanne (Itulah ‘smong’ namanya)
Turiang da nenekta (Sejarah nenek moyang kita)
Miredem teher ere (Ingatlah ini betul-betul)
Pesan dan navi da (Pesan dan nasihatnya)
Pada Selasa, 20 April 2021, Kepala BNPB Doni Monardo melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Simeulue, Pulau Simeulue, Provinsi Aceh. Doni beserta rombongan terbang dari Banda Aceh dan mendarat di Simeulue melalui Bandara Lasikin pukul 17.30 WIB.
Setelah menginjakkan kaki di Simeulue, Doni langsung disambut dengan kalungan syal hasil kerajinan tangan warga lokal oleh Bupati Simeulue Erli Hasan. Kehadiran Doni di pulau lepas pantai barat Aceh yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia itu secara khusus untuk mempelajari tentang hakikat smong atau fenomena tsunami dalam bahasa dan kearifan lokal setempat.
“Kami ingin belajar apa yang dimiliki Simeulue tentang kearifan lokalnya dalam menghadapi fenomena alam khususnya ‘smong’ atau tsunami,” ucap Doni kepada Bupati Erli setibanya di Bandara Lasikin, seperti dalam keterangan tertulis BNPB.
Simeulue memang menjadi nama daerah yang acap kali Doni sebut dalam kunjungan kerja ke beberapa wilayah. Nama daerah ini khususnya kerap ia sebut dalam rangka penguatan mitigasi dan kesiapsiagaan gempabumi dan tsunami.
Hal menarik yang memantik perhatian Doni sehingga merasa harus datang ke Simeulue ini adalah kearifan budaya lokal yang dirawat masyarakatnya secara turun temurun terkait upaya penyelamatan dan evakuasi mandiri besar-besaran dari gelombang pasang air laut yang diawali oleh gempabumi. Kearifan lokal ini tersimpan baik dalam syair cerita smong.
Menurut catatan, istilah “smong” mulai dikenal masyarakat sejak 4 Januari 1907. Kala itu terjadi tragedi tsunami yang melanda wilayah perairan Simeulue.
Peristiwa itu berhasil direkam dalam buku Belanda berjudul S-Gravenhage karya Martinusnijhif pada tahun 1916, yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.
Dari peristiwa tersebut, masyarakat Simeulue kemudian menyampaikan peringatan tradisional tsunami melalui “tutur” atau lisan secara turun temurun dari generasi ke generasi sehingga menjadi memori kolektif. Bahkan riwayat syair tentang smong dapat ditemukan pada senandung pengantar tidur anak-anak di Pulau Simeulue.
Pada peristiwa Tsunami Aceh 2004 silam, Pulau Simeulue juga menjadi salah satu wilayah yang terkena gelombang tsunami pertama kali. Lebih dari 1.700 rumah hancur tersapu tsunami yang dipicu oleh gempabumi berkekuatan 9,1-9,3 skala magnitudo, akan tetapi jumlah korban jiwa yang meninggal di pulau itu “hanyalah” 6 jiwa.
Dalam pemodelan sederhana, apabila rata-rata penghuni satu rumah adalah 5 jiwa, maka total manusia di Simeuleu yang rumahnya diterjang Tsunami Aceh 2004 kala itu lebih dari 8.500 jiwa, atau sekitar 10 persen dari jumlah total penduduk Simeulue pada saat itu.
Dari perhitungan tersebut, maka dapat disimpulkan pada saat itu ada proses evakuasi besar-besaran secara mandiri dalam kurun waktu kurang dari 10 menit secara serempak di seluruh wilayah Pulau Simeulue. Peristiwa mobilisasi penduduk secara massal tersebut menjadi luar biasa, mengingat infrastruktur telekomunikasi sangat terbatas pada saat itu.
Setelah menginjakkan kaki di Simeulue, Doni langsung disambut dengan kalungan syal hasil kerajinan tangan warga lokal oleh Bupati Simeulue Erli Hasan. Kehadiran Doni di pulau lepas pantai barat Aceh yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia itu secara khusus untuk mempelajari tentang hakikat smong atau fenomena tsunami dalam bahasa dan kearifan lokal setempat.
“Kami ingin belajar apa yang dimiliki Simeulue tentang kearifan lokalnya dalam menghadapi fenomena alam khususnya ‘smong’ atau tsunami,” ucap Doni kepada Bupati Erli setibanya di Bandara Lasikin, seperti dalam keterangan tertulis BNPB.
Simeulue memang menjadi nama daerah yang acap kali Doni sebut dalam kunjungan kerja ke beberapa wilayah. Nama daerah ini khususnya kerap ia sebut dalam rangka penguatan mitigasi dan kesiapsiagaan gempabumi dan tsunami.
Hal menarik yang memantik perhatian Doni sehingga merasa harus datang ke Simeulue ini adalah kearifan budaya lokal yang dirawat masyarakatnya secara turun temurun terkait upaya penyelamatan dan evakuasi mandiri besar-besaran dari gelombang pasang air laut yang diawali oleh gempabumi. Kearifan lokal ini tersimpan baik dalam syair cerita smong.
Menurut catatan, istilah “smong” mulai dikenal masyarakat sejak 4 Januari 1907. Kala itu terjadi tragedi tsunami yang melanda wilayah perairan Simeulue.
Peristiwa itu berhasil direkam dalam buku Belanda berjudul S-Gravenhage karya Martinusnijhif pada tahun 1916, yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.
Dari peristiwa tersebut, masyarakat Simeulue kemudian menyampaikan peringatan tradisional tsunami melalui “tutur” atau lisan secara turun temurun dari generasi ke generasi sehingga menjadi memori kolektif. Bahkan riwayat syair tentang smong dapat ditemukan pada senandung pengantar tidur anak-anak di Pulau Simeulue.
Pada peristiwa Tsunami Aceh 2004 silam, Pulau Simeulue juga menjadi salah satu wilayah yang terkena gelombang tsunami pertama kali. Lebih dari 1.700 rumah hancur tersapu tsunami yang dipicu oleh gempabumi berkekuatan 9,1-9,3 skala magnitudo, akan tetapi jumlah korban jiwa yang meninggal di pulau itu “hanyalah” 6 jiwa.
Dalam pemodelan sederhana, apabila rata-rata penghuni satu rumah adalah 5 jiwa, maka total manusia di Simeuleu yang rumahnya diterjang Tsunami Aceh 2004 kala itu lebih dari 8.500 jiwa, atau sekitar 10 persen dari jumlah total penduduk Simeulue pada saat itu.
Dari perhitungan tersebut, maka dapat disimpulkan pada saat itu ada proses evakuasi besar-besaran secara mandiri dalam kurun waktu kurang dari 10 menit secara serempak di seluruh wilayah Pulau Simeulue. Peristiwa mobilisasi penduduk secara massal tersebut menjadi luar biasa, mengingat infrastruktur telekomunikasi sangat terbatas pada saat itu.
Proses Mitigasi Bencana Kekeringan
KOMPAS.com – Bencana kekeringan menyebabkan pepohonan mati dan sumber air mengering. Akibatnya masyarakat kesusahan dalam mendapatkan pasokan air dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Kekeringan tidak hanya menyusahkan masyarakat dalam mendapatkan air, tetapi juga membuat banyak masyarakat kehilangan pekerjaan.
Contohnya petani yang mengalami gagal panen, sehingga hasil produksi menurun dan warganya terancam kelaparan.
Kekeringan dan gejalanya
Menurut Djauhari Noor dalam buku Pengantar Mitigasi Bencana Geologi (2014), kekeringan merupakan bencana yang disebabkan oleh minimnya ketersediaan air, sehingga kebutuhan air manusia dan makhluk hidup tidak bisa tercukupi.
Bencana kekeringan memiliki dua ciri utama, yaitu:
- Curah hujan di suatu kawasan mengalami penurunan atau di bawah normal.
- Pasokan air di suatu daerah mulai berkurang, biasanya diukur dari tingkat elevasi atau ketinggian permukaan air.
Kekeringan sangat berdampak pada kesehatan tubuh manusia, tumbuhan dan hewan. Jumlah pangan juga cenderung menurun saat kekeringan karena produksi pertanian mengalami gagal panen atau lainnya.
Proses mitigasi bencana kekeringan
Agar bisa meminimalisir dampak bencana kekeringan, diperlukan serangkaian proses mitigasi bencana kekeringan. Bagaimana prosesnya?
Melansir dari situs BPBD DIY, proses mitigasi bencana kekeringan memerlukan peran pemerintah dan masyarakat daerah tersebut. Jika keduanya saling bekerja sama dan melengkapi, maka dampak buruk kekeringan bisa diminimalisir.
Upaya mitigasi bencana diawali dengan langkah-langkah pemerintah, seperti berikut:
- Penyusunan peraturan pemerintah yang berisikan pengaturan sistem pengiriman data iklim dari daerah ke tingkat pusat.
- Penyusunan perda atau peraturan daerah. Isinya berupa penetapan skala prioritas penggunaan air berdasarkan historical right serta asas keadilan.
- Pembentukan posko kekeringan di tingkat pusat dan daerah.
- Penyediaan anggaran khusus untuk pengembangan jaringan pengamatan iklim di kawasan rawan kekeringan.
- Pengembangan jaringan pengamatan iklim di kawasan rawan kekeringan.
- Pemberlakukan sistem reward dan punishment untuk warga yang melakukan upaya konservasi atau rehabilitasi sumber daya air serta hutan.
Proses mitigasi bencana ini bisa dibarengi dengan upaya masyarakat dalam meminimalisir dampak bencana kekeringan, yakni:
- Memanfaatkan sumber daya air secara lebih efektif dan efisien.
- Memprioritaskan penggunaan air untuk keperluan minum dan masak atau keperluan air bersih lainnya.
- Menanam banyak pohon di sekitar kawasan rawan kekeringan.
- Membuat waduk yang disesuaikan dengan kondisi geografisnya.
- Memperbanyak daerah resapan air.
- Melakukan panen dan konservasi air. Panen berarti menampung banyak air hujan atau air saat curah hujannya tinggi. Konservasi artinya menggunakan air secara hemat dan sesuai kebutuhan.
Cilacap jadi tuan rumah peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana 2021
Cilacap (ANTARA) – Peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) Nasional Tahun 2021 dipusatkan di Cilacap, Jawa Tengah, pada 26-27 April, kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap Tri Komara Sidhy.
“Cilacap dipercaya sebagai tuan rumah peringatan HKB Nasional Tahun 2021. HKB yang diperingati setiap 26 April ini akan diisi dengan kegiatan simulasi bencana gempa bumi dan tsunami,” kata Tri Komara saat dihubungi di Cilacap, Selasa.
Ia mengatakan kegiatan tersebut semula akan digelar secara serentak di dua desa dan lima kelurahan se-Kabupaten Cilacap pada hari Senin (26/4), pukul 10.00 WIB, dengan dihadiri oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo.
Oleh karena pada hari Senin (26/4) ada agenda rapat terbatas dengan Presiden Joko Widodo, kata dia, Kepala BNPB Doni Monardo baru bisa hadir di Cilacap pada hari Selasa (27/4), sehingga kegiatan simulasi tersebut akhirnya dilaksanakan dalam dua hari.
Dalam hal ini, kegiatan simulasi bencana pada Senin (26/4) dilaksanakan di Desa Gombolharjo, Kecamatan Adipala, serta Kelurahan Cilacap, Tegalkamulyan dan Tambakreja, Kecamatan Cilacap Selatan, serta Kelurahan Gunungsimping dan Donan Kecamatan Cilacap Tengah.
“Kegiatan simulasi pada Senin (26/4) akan dipantau secara langsung oleh Pak Bupati beserta Wakil Bupati, Pak Sekretaris Daerah, dan sejumlah pejabat BNPB,” kata Tri Komara.
Ia mengatakan kegiatan simulasi pada Selasa (27/4) akan dilaksanakan di Desa Bunton, Kecamatan Adipala, serta dihadiri secara langsung oleh Kepala BNPB Doni Monardo.
Selain memantau pelaksanaan simulasi, kata dia, Kepala BNPB juga akan melaksanakan penanaman bibit pohon di Pantai Cemara Sewu, Desa Bunton.
“Simulasi bencana gempa bumi dan tsunami dilaksanakan pada pukul 10.00 WIB yang ditandai dengan bunyi sirine, kentongan, dan lonceng. Nantinya masyarakat akan lari keluar dari rumah masing-masing menuju titik kumpul di halaman dan selanjutnya menyelamatkan diri ke tempat evakuasi dengan tetap menerapkan protokol kesehatan karena masih dalam suasana pandemi COVID-19,” katanya.
Bersamaan dengan pelaksanaan simulasi, kata dia, pihaknya juga akan melakukan uji coba tsunami early warning system (TEWS) di sepanjang pantai Cilacap.
Lebih lanjut, Tri Komara mengatakan sebagai salah satu daerah dengan tingkat kerawanan bencana tertinggi di Indonesia, simulasi kebencanaan penting dilaksanakan di Cilacap untuk meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan masyarakat dan pemangku kepentingan dalam menghadapi risiko bencana.
Selain itu, simulasi bencana juga ditujukan untuk meningkatkan partisipasi dan membangun budaya gotong royong, kesukarelawanan, serta kedermawanan para pemangku kepentingan baik di tingkat pusat maupun daerah.
“Dalam simulasi tersebut, masyarakat diarahkan untuk melakukan evakuasi mandiri dan mengetahui tempat evakuasi sementara (TES) terdekat di lingkungan masing-masing,” katanya.
Menurut dia, evakuasi mandiri penting dilaksanakan namun jangan sampai melupakan keluarga agar tidak jatuh korban.
Terkait dengan tempat evakuasi, dia mengatakan di wilayah kota Cilacap saat sekarang telah ada 45 shelter evakuasi vertikal yang struktur bangunannya telah dikaji oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).
“Kami sejak tahun 2014 juga telah menjalin kerja sama dengan pengelola bangunan yang dijadikan shelter evakuasi vertikal tersebut,” katanya.
Air, Perubahan Iklim, dan COVID-19: Memprioritaskan Mereka yang Berada di Lingkungan yang Sulit Air

Cuci tangan secara teratur sangat disarankan untuk memerangi SARS-Coronavirus 2 (COVID-19), yang memerlukan akses air yang cukup, aman, dan terjangkau selain yang diperlukan untuk memasak, kebutuhan minum/ hidrasi, dan sanitasi umum. Akses universal dan adil ke air, sanitasi, dan kebersihan adalah masalah kesehatan masyarakat yang kritis dan fokus dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 6. Namun, lebih dari 50% populasi global tidak memiliki akses ke sanitasi yang memadai, dan 75% rumah tangga berpenghasilan rendah dan Negara – negara berpenghasilan menengah tidak dapat mencuci dengan sabun dan air. Meskipun penting, infrastruktur air secara substansial kekurangan dana, terutama di lingkungan informal seperti daerah kumuh, pedesaan, dan kamp pengungsi, dimana akses ke air yang memadai memburuk karena percepatan perubahan iklim. Tanpa akses ke air bersih, COVID-19 dapat memengaruhi individu yang tinggal di pengaturan ini secara tidak proporsional. Artikel ini dipublikasikan pada 2020 di The Lancet Planetary Health
Ini Pentingnya Akses Air Bersih di Lokasi Bencana Alam
Suara.com – Air adalah hal mendasar yang dibutuhkan setiap masyarakat, termasuk di tengah bencana alam yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia belakangan ini.
Tentu saja, saat kedaruratan bencana terjadi, dan pada massa pemulihan setelah bencana, air merupakan kebutuhan yang sangat mendesak bagi para korban. Selain untuk sanitasi, air juga sangat penting untuk konsumsi.
Sayangnya, di tengah hal tersebut, mendapatkan akses air menjadi hal yang sulit. Hal tersebutlah yang membuat Danone Indonesia salurkan sedikitnya 1000 karton AQUA 600 ml untuk masyarakat korban Gempa Jawa Timur yang tersebar di wilayah Malang dan Blitar baru-baru ini.
Corporate Communication Director Danone Indonesia, Arif Mujahidin menjelaskan komitmen Danone untuk terus hadir dan memberikan dampak positif pada masyarakat di berbagai keadaan dan kesempatan.
Cegah Korban, Peringatan Dini Bencana Akan Disebar Via SMS Blast
Jakarta – Badan Geologi Kementerian ESDM menggulirkan SMS Blast dalam memperluas keterjangkauan informasi dan peringatan dini bencana geologi. Ide ini lahir demi meningkatkan pelayanan publik dan memberikan rasa aman bagi masyarakat yang bermukim di kawasan rawan bencana.
Menurut Kepala Badan Geologi Eko Budi Lelono, mengingat kondisi geografi Indonesia, di mana lokasi rawan bencana tersebar dan sebagian masih belum terjangkau oleh jaringan telekomunikasi yang memadai, maka masih terdapat kendala dalam penyebaran informasi.
“Program penyebarluasan informasi kebencanaan melalui penyelenggara telekomunikasi dan lembaga penyiaran di kawasan rawan bencana adalah salah satu solusi untuk permasalahan tersebut,” jelasnya dalam keterangan tertulis, Rabu (14/4/2021).
Hal ini diungkapkannya usai penandatangan kerja sama penyebarluasan informasi aktivitas dan erupsi gunung api Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) melalui Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Pos dan Informatika pada Senin (12/4). Eko mengutarakan komitmennya terhadap kualitas penyebaran informasi bencana geologi yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan melalui beragam kanal, baik itu aplikasi Magma Indonesia, PVMBG TV, media sosial dan yang terbaru berupa pesan pendek (Short Message Service/SMS).
“Hak memperoleh informasi merupakan hak asasi manusia, dan keterbukaan informasi publik merupakan salah satu ciri penyelenggaraan negara demokrasi yang menjunjung tinggi kedaulatan rakyat untuk mewujudkan penyelenggaraan negara yang baik,” tegasnya.
Adanya perjanjian kerja sama (PKS) dengan Kominfo tersebut, kata dia, mendorong kedua belah pihak menyediakan data dan informasi kebencanaan di Kawasan Rawan Bencana (KRB) Geologi, meliputi tingkat aktivitas dan erupsi gunung api, rekomendasi kejadian gerakan tanah, serta rekomendasi kejadian gempa bumi dan tsunami.
“Tak kalah penting, perjanjian ini juga melingkupi pendampingan dan pengembangan sumber daya manusia terkait pemanfaatan perangkat penyebarluasan informasi Kebencanaan,” jelasnya.
Sebagaimana diketahui, informasi aktivitas dan erupsi gunung api mutlak wewenang PVMBG. Sementara gerakan tanah, gempa bumi dan tsunami merupakan hasil kolaborasi dengan instansi lainnya, yang membedakan adalah output informasi yang dikeluarkan oleh PVMBG lebih ke rekomendasi bagi publik.
Enam tahun pasca pembangunan MAGMA Indonesia yang merupakan sistem diseminasi informasi berbasis jaringan internet, Badan Geologi memandang perlunya memperluas keterjangkauan informasi dan peringatan dini terutama bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan akses internet.
Tentunya dengan memanfaatkan teknologi komunikasi berbasis jaringan seluler, SMS Blast memungkinkan adanya integrasi antara sistem informasi bencana yang dimiliki oleh Badan Geologi khususnya Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) ke sistem penyampaian informasi publik yang dibangun Kominfo.
Lebih jauh, SMS Blast ini pun sudah diuji coba hingga 3 kali ke telepon genggam masyarakat di KRB Geologi jika terjadi kondisi bahaya sebagai peringatan dini. Adapun contoh SMS Blast yang nanti akan diterima masyarakat seperti berikut ini.
“Erupsi G. Sinabung 10-Apr-2021 08:28 WIB. Hindari radius bahaya 3km, Selatan-Timur 5km, Timur-Utara 4km. http://bit.ly/2QhFVc9 :: PVMBGKMINFO,”
BNPB: 53 Ribu Desa/Kelurahan Rawan Bencana
Jakarta: Sebanyak 53 ribu desa berada di daerah rawan bencana. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah membentuk Desa Tangguh Bencana.
“Cukup mengagetkan karena dari hampir 75 ribu di Indonesia saat ini, 53 ribu desa atau kelurahan berada di daerah rawan bencana,” kata Deputi Bidang Pencegahan BNPB Lilik Kurniawan dalam diskusi virtual, Rabu, 14 April 2021.
Lilik menjelaskan 5.744 desa berada di wilayah rawan tsunami dan 34.716 desa berada di wilayah rawan longsor. Fakta itu membuat BNPB mengeluarkan Peraturan Kepala (Perka BNPB) Nomor 1 Tahun 2012 tentang Pedoman Umum Desa/Kelurahan Tangguh Bencana.
Update Bencana NTT: Lebih dari 12.000 Warga Masih Mengungsi
Bisnis.com, JAKARTA – Lebih dari 12.000 wagra di wilayah Nusa Tenggara Timur yang terdampak bencana yang dipicu oleh siklon tropis Seroja masih mengungsi di sejumlah titik pengungsian. Data BNPB per Rabu (14/4/2021), pukul 20.00 WIB, mencatat 12.334 penyintas. Dari jumlah tersebut, jumlah warga yang mengungsi terbesar di Kabupaten Rote Ndao sejumlah 5.556 warga. Kemudian, di Kabupaten Flores Timur 2.118 warga, Kupang 1.698, Lembata 1.146, Timur Tengah Selatan 690, Belu 644, Sumba Timur 510, Kota Kupang 265, Sabu Raijua 59 dan Ende 20. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Raditya Jati mengatakan beberapa wilayah kabupaten yang terdampak tetapi tidak teridentifikasi adanya pengungsian berada di Malaka, Ngada, Sumba Barat, Sumba Tengah, Alor, Sikka, Manggarai, Manggarai Timur dan Nagekeo. Total dampak di Provinsi NTT mencatat korban meninggal dunia 181 orang dan hilang 47, sedangkan warga terdampak mencapai 122.232 KK (428.986 orang). “Saat peristiwa terjadi, total korban luka mencapai 258 orang. Di samping korban jiwa, bencana yang dipicu siklon tropis Seroja mengkibatkan lebih dari 66.000 rumah rusak dengan tingkat ringan hingga berat,” kata Raditya dalam keterangan tertulis, Kamis (15/4/2021). BNPB mencatat total rumah rusak berat 17.124 unit, rusak sedang 13.652 dan rusak ringan 35.733. Merespons kondisi yang masih darurat, pemerintah daerah dan berbagai pihak masih melakukan upaya penanganan darurat, seperti pelayanan medis warga, penyelenggaraan dapur umum, pendistribusian logistik, pembersihan lingkungan maupun pembukaan daerah terisolir. Berdasarkan laporan dari pos komando (posko) utama, jaringan komunikasi sudah kembali normal. Adapun, PLN mengoptimalkan perbaikan jaringan listrik di seluruh wilayah NTT. “Dalam proses perbaikan, pihaknya [PLN] melakukan pemadaman secara bergiliran untuk memperbaiki jaringan yang saling terhubung di beberapa wilayah,” ujarnya. Jaringan listrik di Sebagian Kabupaten Flores Timur telah kembali normal, sedangkan jaringan listrik dan telepon di Kabupaten Ngada masih belum optimal. “Selama proses penanganan darurat di wilayah NTT, BNPB terus melakukan koordinasi dan pemantauan. Selain itu, BNPB masih melakukan pendampingan posko di beberapa wilayah terdampak,” ungkapnya.
Artikel ini telah tayang di Bisnis.com dengan judul “Update Bencana NTT: Lebih dari 12.000 Warga Masih Mengungsi”, Klik selengkapnya di sini: https://kabar24.bisnis.com/read/20210415/15/1381440/update-bencana-ntt-lebih-dari-12000-warga-masih-mengungsi.
Author: Fitri Sartina Dewi
Editor : Fitri Sartina Dewi
Review Perencanaan Penanggulangan Bencana di Rumah Sakit (Hospital Disaster Plan) di Kota Palu

Kerangka Acuan Kegiatan
Review Perencanaan Penanggulangan Bencana di Rumah Sakit
(Hospital Disaster Plan) di Kota Palu
April – Mei 2021
{tab title=” Kerangka Acuan Kegiatan” class=”orange”}
Pengantar
PKMK FK – KMK UGM bekerja sama dengan Caritas Germany akan melakukan program perluasan peningkatan kapasitas masyarakat melalui penguatan sistem dan pemberdayaan dalam menghadapi bencana dan krisis Kesehatan di Sulawesi Tengah. Fasilitas kesehatan yang menjadi sasaran program ini adalah Dinkes Provinsi Sulawesi Tengah, Dinkes Kabupaten Donggala, RS Kabelota, RS di Kota Palu, Puskesmas Sangurara dan Puskesmas Tompe. Dalam pelaksanaan program ini PKMK FK – KMK UGM akan tetap melibatkan Dinkes Provinsi Sulawesi Tengah dan universitas lokal (Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tadulako, dan Fakultas Kedokteran Universitas Al-Khairat).
Rumah sakit yang belum memiliki Hospital Disaster Plan (HDP) akan kesulitan untuk mengoperasionalkan manajemen penanganan bencana mulai dari pembagian tugas yang jelas, alur komunikasi dan rencana alternatif. Hal tersebut juga akan terjadi pada rumah sakit yang sudah memiliki HDP namun belum operasional. Rumah sakit harus memahami bahwa HDP adalah sebagai salah satu bentuk kesiapan rumah sakit untuk menghadapi bencana alam dan bencana non alam. Seperti situasi sekarang dunia telah digemparkan dengan terjadinya bencana non alam pandemi COVID-19. Masalah yang dihadapi rumah sakit akan semakin kompleks karena rumah sakit harus memikirkan bagaimana memutuskan mata rantai penularan di rumah sakit dan bagaimana untuk menghadapi lonjakan pasien. Pada dasarnya konsep penanganan pandemi ini sama dengan penanganan bencana, perbedaannya terletak pada sifat agen kausatif virus.
Dengan demikian, sudah saatnya rumah sakit memahami bahwa HDP ini sangat penting dipersiapkan sejak sekarang, HDP yang operasional dan yang mencakup semua rencana kebutuhan dan penanganan bencana alam dan non alam. HDP yang disusun dalam bentuk dokumen berisi potensi bencana yang dihadapi rumah sakit, aktivasi sistem komando, prosedur pengananan bencana, fasilitas saat bencana dan alur komunikasi. HDP ini merupakan dokumen yang bersifat hidup (update) dan menjadi satu sistem untuk memenuhi kebutuhan menuju Safe Hospital yang dapat digunakan dalam keadaan krisis kesehatan sehari – hari di rumah sakit. Penyelenggaraan kegiatan ini bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Palu.
Tujuan
Review HDP yang sudah ada di rumah sakit kota Palu.
Proses Kegiatan
Kegiatan ini akan dilakukan secara daring melalui aplikasi zoom meeting sebanyak 3 kali pertemuan.
- Pertemuan pertama peserta dari masing – masing RS mempresentasikan dokumen HDP.
Setelah pertemuan pertama selama satu minggu para narasumber akan melakukan review dari hasil presentasi, kemudian mengirimkan kepada rumah sakit hal yang perlu diperbaiki dari dokumen rumah sakit - Pertemuan kedua, peserta akan mendapatkan materi sesuai hasil review dari narasumber terhadap dokumen HDP. Setelah pertemuan kedua ada jeda 2 minggu bagi rumah sakit untuk memperbaiki dokumen berdasarkan hasil review dan materi yang sudah didapatkan.
- Pertemuan ketiga, masing – masing rumah sakit kembali mempresentasikan HDP yang sudah direvisi
Peserta Kegiatan
Peserta yang mengikuti kegiatan ini adalah rumah sakit di kota Palu yang sudah memiliki dokumen HDP.
Daftar Rumah Sakit :
- Rumah Sakit Undata
- Rumah Sakit Woodward Palu
- Rumah Sakit Anutapura
- Rumah Sakit Bhayangkara
- Rumah Sakit Wirabuana
- Rumah Sakit Budi Agung
- Rumah Sakit Samaritan
- Rumah Sakit Madani
- Rumah Sakit Sis Aljufri
- Rumah Sakit Universitas Tadulako
Peserta diperkirakan sekitar 3 – 5 orang dari masing – masing rumah sakit yang terdiri dari :
- Direksi dan kepala bagian rumah sakit
- Bidang/bagian yang mengurusi rujukan, wabah, bencana, krisis kesehatan
- Tim penyusun HDP
Hal – hal yang perlu dipersiapkan oleh peserta:
- Sebelum pertemuan, diharapkan peserta mengirimkan file dokumen HDP kepada panitia penyelenggara kegiatan (PKMK FK – KMK UGM).
- Masing – masing rumah sakit menyiapkan dokumen HDP yang akan dipresentasikan
Output Kegiatan
Setelah melalui proses review ini, masing – masing rumah sakit memiliki dokumen HDP yang update dan operasional sesuai kebutuhan rumah sakit
Jadwal dan Materi Kegiatan
Kegiatan terbagi menjadi 3 pertemuan :
- Pertemuan 1 : Kamis, 15 April 2021
Waktu : 09.00 – 12.00 WITA - Pertemuan 2 : Kamis, 29 April 2021
Waktu : 09.00 – 12.00 WITA - Pertemuan 3 : Kamis, 20 Mei 2021
Waktu : 09.00 – 12.00 WITA
| Kamis, 15 April 2021 | ||
| Waktu (WITA) | Materi/Kegiatan | Fasilitator/Narasumber |
| 09.00 – 09.10 | Pengantar dan Pembukaan |
|
|
09.10 – 09.25 |
Presentasi dokumen HDP masing-masing rumah sakit |
|
| 11.40 – 11.55 | Review secara umum HDP |
|
| 11.55 – 12.00 | Rencana Tindak Lanjut dan Penutupan | |
| Kamis, 29 April 2021 | ||
| Waktu | Materi/Kegiatan | |
| 09.00 – 09.10 | Pengantar : review kegiatan pertemuan pertama | PKMK FK – KMK UGM |
| 09.10 – 11.10 |
Room 1 : Materi Sistem Pengorganisasian |
PKMK FK – KMK UGM |
|
Room 2 : Materi Logistik dan Fasilitas saat Bencana Penugasan |
PKMK FK – KMK UGM | |
|
Room 3 : Materi Analisis Risiko Penugasan |
PKMK FK – KMK UGM | |
|
Room 4 : SOP saat Bencana Penugasan |
PKMK FK – KMK UGM | |
| 11.10 – 11.30 | Rencana Tindak Lanjut dan Penutupan | |
| Kamis, 20 Mei 2021 | ||
| Waktu | Materi | |
| 09.00 – 09.10 | Pengantar : review kegiatan pertemuan kedua | PKMK FK-KMK UGM |
|
09.10 – 09.25 |
Presentasi dokumen HDP masing-masing rumah sakit |
|
| 11.40 – 11.55 | Masukan secara umum HDP |
|
| 11.55 – 12.00 | Penutupan | |
{tab title=”Reportase” class=”blue”}
Laporan Kegiatan
Review Perencanaan Penanggulangan Bencana di Rumah Sakit
(Hospital Disaster Plan) di Kota Palu
Kegiatan ini akan dilakukan secara daring melalui aplikasi zoom meeting sebanyak 3 kali pertemuan. Pertemuan pertama pada 15 April 2021, peserta dari masing – masing RS mempresentasikan dokumen Hospital Disaster Plan (HDP). Setelah pertemuan pertama selama dua minggu para narasumber akan melakukan review dari hasil presentasi, kemudian mengirimkan kepada rumah sakit hal yang perlu diperbaiki dari dokumen rumah sakit. Pertemuan kedua pada 29 April 2021, peserta mendapatkan materi sesuai hasil review dari narasumber terhadap dokumen HDP. Setelah pertemuan kedua ada jeda 3 minggu bagi rumah sakit untuk memperbaiki dokumen berdasarkan hasil review dan materi yang sudah didapatkan. Pertemuan ketiga pada 20 Mei, masing – masing rumah sakit kembali mempresentasikan HDP yang sudah direvisi. Rumah sakit yang mengikuti rangkaian proses review ini sebanyak 8 RS yaitu : RSUD Undata, RSU Sis Aljufri, RS Bhayangkara, RSU Universitas Tadulako, RS Anutapura, RS Woodward, RS Samaritan dan RS Budi Agung.
Kamis, 15 April 2021

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Pemaparan HDP RSUD Undata Palu (kiri) dan RS Budi Agung (kanan)
Pertemuan diawali dengan pengantar dari dr. Andreasta Meliala Direktur PKMK FK – KMK UGM dan pembukaan dari dr. Huzaema Kepala Dinkes Kota Palu. Kesiapsiagaan rumah sakit direncanakan bukan hanya untuk satu jenis bencana saja namun untuk bencana apapun yang mungkin terjadi di wilayah rumah sakit. Dokumen HDP perlu disiapkan sebagai langkah – langkah penanggulangan bencana yang operasional artinya sudah ada rencana yang matang. Mulai dari sistem komando, prosedur penanganan dan fasilitas. Selanjutnya masing – masing rumah sakit memaparkan dokumen HDP yang sudah ada saat ini sekitar 10 – 15 menit. Secara umum dokumen HDP yang sudah ada sudah memiliki sistem komando dan SOP. Namun dokumen ini masih fokus pada penanganan becana alam. Reviewer petama dr. Hendro Wartatmo menanggapi bahwa dokumen HDP ini harus disiapkan sebaik mungkin, SOP dan fasilita yang sudah disusun perlu untuk disempurnakan. Reviewer kedua dr. Wahyu Kartiko Tomo menanggapi HDP dan sistem keselamatan ini berkaitan dnegan SNARS artinya yang perlu diperhatikan adalah telusur dan bukti. Reviewer ketiga dr. Sulanto Saleh Danu menambahkan bahwa dalam dokumen belum terlihat denah tindakan evakuasi dan secara teknis masih perlu diperjelas siapa melakukan apa serta pengelolaan logistik.
Kamis, 29 April 2021

Dok. PKMK FK – KMK UGM “Pembagian room (kiri) dan materi sistem pengorganisasian (kanan)
Hari ini peserta terbagi menjadi 4 room sesuai dengan materi yang dibutuhkan oleh peserta untuk perbaikan dokumen berdasarkan hasil review. Terdapat 4 materi yang disampaikan yaitu sistem pengorganisasian oleh dr. Hendro Wartatmo, SpB.KBD; logistik dan fasilitas saat bencana oleh dr. Sulanto Danu, analisis risiko oleh Madelina Ariani, MPH dan SPO saat Bencana oleh dr. Wahyu Kartiko Tomo, Sp.B. Terdapat 7 rumah sakit yang mengikuti pertemuan kedua yaitu RSUD Undata, RSU Sis Aljufri, RS Bhayangkara, RSU Universitas Tadulako, RS Anutapura, RS Woodward dan RS Budi Agung. Sistem pengorganisasian membahas bagaimana membentuk satu tim bencana berbasis incident command system (ICS). Tim ini diaktifkan saat bencana terjadi. Logistik dan fasilitas saat bencana membahas bagaimana perencanaan kebutuhan logistik sata pra bencana, bencana dan paska bencana. Hal apa saja yang eprlu diperhatikan saat menerima logistik, menyimpat logistik, mendistribusikan logistik dan melaporkan penggunaan logistik saat bencana. Pada materi SPO disampaiakna beberapa SPO yang dibutuhkan dalam penanganan bencana di rumah sakit misalnya SPO triase, SPO pengaktifan tim bencana dan sebagainya. Analisis risiko membahas bencana apa yang menjadi prioritas penanganan di RS, ini didapatkan dari proses penilaian analisis risiko.
Kamis, 20 Mei 2021

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Pemaparan revisi HDP RS Bhayangkara (kiri) dan masukan dari reviwer (kanan)”
Pada pertemuan ini masing – masing RS kembali mempresentasikan dokumen HDP yang sudah direvisi. RS yang sudah menyelesaikan dokumen HDP dan siap untuk dipresentasikan sebanyak 4 RS yaitu RSUD Undata, RSU Sis Aljufri, RS Bhayangkara dan RSU Universitas Tadulako sementara RS lainnya masih dalam tahap proses revisi. Berdasarkan hasil presentasi keempat RS tersebut, secara keseluruhan sudah melengkapi dokumen dengan baik, mulai terlihat jelas sistem komando, analisis risiko, SPO, denah evakuasi dan fasilitas yang dibutuhkan. RSUD Undata menentukan komandan berdasarkan jenis bencana, misalnya untuk saat ini dalam penanganan COVID-19 yang menjadi komandan adalah dokter spesialis penyakit dalam. RS Sis Aljufri sudah membentuk SK sistem komando. RS Bhayangkara menyebutkan bencana terorisme menjadi prioritas tertinggi yang butuh perencanaan penanganan. RSU Tadulako sudah menambahkan beberapa SPO terkait penanganan COVID-19 pada dokumen. Masukan dari reviewer hanya sedikit yaitu proses aktivasi sistem komando lebih didetailkan, ditambahkan dalam dokumen networking dengan jejaring rumah sakit dan persiapan simulasi.
Reportase : Happy R Pangaribuan
Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM
{/tabs}