Pameran Ilmiah Manajemen Bencana 2017

pameran 1

Pameran Ilmiah Manajemen Bencana 2017

Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada


Yogyakarta, 25 – 27 Oktober 2017

Pameran Ilmiah Manajemen Bencana merupakan suatu kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh Divisi Manajemen PKMK FK UGM. Tahun ini kegiatan tersebut diselenggarakan selama 3 hari yaitu pada25-27 Oktober 2017 di lingkungan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada bersamaan dengan agenda Forum Kebijakan Kesehatan Indonesia. Tujuan dari kegiatan pameran ilmiah sebagai media tambahan bagi mahasiswa dalam belajar dan memahami tentang manajemen bencana khususnya sektor kesehatan. Mahasiwa dapat melihat dan berinteraksi secara langsung dengan para penggiat bencana, melihat dokumentasi pengalaman penanganan bencana, dan diskusi mengenai konsep-konsep tentang bencana.

pameran 1

Dok. PKMK FK UGM
Kunjungan mahasiswa ke booth Pameran Bencana

Kegiatan dibuka oleh Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed, PhD, Sp.OG(K) dengan pemukulan gong. Pameran ilmiah mendapatkan dukungan dari Fakultas Kedokteran, karena sangat bermanfaat bagi mahasiswa yang selama ini hanya menerima pengetahuan tentang manajemen bencana di kelas. Mahasiswa tidak hanya membayangkan, namun dengan pameran ilmiah ini mahasiswa dapat melihat dan mempelajari alat yang sering dipergunakan dalam penanganan bencana, serta sharing pengalaman dengan penggiat bencana yang turut mengikuti pameran ilmiah secara langsung seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Yogyakarta, Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Yogyakarta, Tim Bantuan Medis Mahasiswa (TBMM) FK UGM, dan Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM.

pameran 2

Dok. PKMK FK UGM
Proses perkuliahan mahasiswa di venue Pameran Ilmiah

Pameran Ilmiah Manajemen Bencana 2017 berbarengan dengan Forum Kebijakan Kesehatan Indonesia, sehingga ditampilkan juga karya tulis ilmiah yang telah dikirimkan oleh peserta dari seluruh Indonesia. Mahasiswa banyak berdatangan dan sangat antusias mengunjungi booth pameran pada saat jam istirahat agar tidak mengganggu perkuliahan. Mahasiswa yang berdatangan dari Pendidikan Dokter, Ilmu Keperawatan dan Pascasarjana FK UGM yang memang memiliki blok kebencanaan dalam kurikulum pembelajaran.

Perkuliahan mahasiswa Pendidikan Dokter pun dialihkan di venue diselenggarakannya pameran ilmiah baik dari kelas reguler maupun internasional. dr. Bella Donna, M.Kes dan dr. Handoyo Pramusinto, Sp.BS(K) yang merupakan pengajar dalam blok tersebut menjelaskan tentang manajemen bencana yang dilanjutkan dengan diskusi mahasiswa. Proses pengajaran di luar kelas tersebut dimoderatori oleh Madelina Ariani, MPH yang juga merupakankonsultan di PKMK FK UGM.

pameran 3

Dok. PKMK FK UGM
dr. Bella Donna, M.Kes dan dr. Handoyo Pramusinto, Sp.BS(K) bersama mahasiswa

Pameran ilmiah manajemen bencana sendiri pertama kali diselenggarakan pada 2010 pada akhir kurikulum blok 4.2 yang kini dikenal dengan blok D.2 tentang Health System and Disaster. Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM dan Pokja Bencana FK UGM bertanggung jawab dalam pengembangan kurikulum bencana kesehatan di Fakultas Kedokteran terutama Pendidikan Kedokteran, Ilmu Keperawatan, dan pascasarjana dengan minat Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan (KMPK) FK UGM.

 

Reporter: Wisnu Damarsasi, MPH

Reportase Workshop Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana di Puskesmas

h1 phcdp 1

Reportase

Workshop Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana di Puskesmas

(Primary Health Care Disaster Plan)

 

{tab title=”Hari 1″ class=”red” align=”justify”}

Hari Pertama, 20 November 2017

Workshop penyusunan rencana penanggulangan bencana di Puskesmas (Primary Health Care Disaster Plan) diikuti oleh tenaga Puskesmas, civitas akademika dan LSM yang bergerak di bidang bencana dari berbagai daerah. Workshop ini resmi dibuka oleh Kepala Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM dr. Bella Donna, M.Kes. Workshop berlangsung selama 2 hari di Yogyakarta. Tujuan kegiatan ini puskesmas sebagai pemegang peranan utama terdepan untuk kesiapan bencana dan penanganan korban jika terjadi bencana diharapkan dapat menangani korban dalam jumlah yang banyak jika terjadi bencana, bahkan dapat mengidentifikasi potensial terjadinya bencana di lingkungan puskesmas.

h1 phcdp 1

Dok. PKMK FK UGM.
Pembukaan Workshop Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana di Puskesmas (Primary Health Care Disaster Plan) oleh dr. Bella Donna, M.Kes

Pembicara pertama dalam workshop ini disampaikan oleh dr. Hendro Wartatmo, Sp.B-KBD tentang konsep penanggulangan bencana bidang kesehatan dan peran puskesmas dalam penanggulangan bencana yang dipandu oleh Madelina Ariani, SKM., MPH. Hendro menyebutkan bahwa Public Health Emergency Preparedness (PHEP) merupakan kemampuan dari sistem kesehatan masyarakat, sistem pelayanan kesehatan, masyarakat dan individu untuk mencegah, melindungi, merespon dengan cepat dari keadaan darurat yang terkoordinasi dan berkesinambungan. Prinsip PHEP yang harus dipenuhi diantaranya health risk assessment, legal climate, roles and responsibilities, incident command system, public engagement, epidemiology functions, laboratory functions, counter measures and mitigation strategies, mass health care, public health information and communication. Di akhir sesi materi pertama banyak peserta yang bertanya mengenai persyaratan lokasi pengungsian, penilaian kondisi bangunan saat terjadi bencana.

dhdp 2

Dok. PKMK FK UGM.
dr. Hendro Wartatmo, SpB.KBD saat Menyampaikan Materi tentang
Konsep Penanggulangan Bencana Bidang Kesehatan dan Peran Puskesmas
dalam Penanggulangan Bencana

Materi kedua mengenai PHCDP dalam akreditasi puskesmas, komponen PHCDP dan pengorganisasian sistem komando disampaikan oleh dr. Bella Donna, M.Kes yang dipandu oleh Intan Anastasia N.P.,M.Sc., Apt. Bella menyampaikan bahwa akreditasi puskesmas masuk dalam manajemen penunjang layanan klinis yang di dalamnya terdapat manajemen emergency yaitu wabah, bencana dan krisis kesehatan sehingga kesiapan penanggulangan bencana di puskesmas sangat penting dilakukan. Selanjutnya, Bella memaparkan tentang komponen PHCDP pada puskesmas yang terdiri dari Bab I hingga Bab VIII serta lampiran dan form yang diperlukan dalam dokumen PHCDP. Pada sesi akhir materi kedua, Bella menyampaikan materi mengenai pengorganisasian sistem komando yaitu tentang prinsip-prinsip pengorganisasian, sistem pengembangan pengorganisasian di puskesmas, uraian tugas dan terkait kartu tugas. Bella menyebutkan bahwa konsep pengorganisasian dasarnya adalah organisasi harus jelas dan sederhana, dapat dimobilisasi dalam waktu yang singkat, tidak ada pembentukan organisasi yang baru tetapi pengembangan organisasi yang ada dan memastikan bahwa pelayanan Puskesmas tetap berjalan.

h1 phcdp 1

Dok. PKMK FK UGM.
dr. Bella Donna, M.Kes saat Menyampaikan Materi tentang
Akreditasi Puskesmas, Komponen PHCDP dan Pengorganisasian Sistem Komando

Materi ketiga para peserta diberikan materi tentang analisis risiko dan SOP worksheet penentuan analisis risiko yang disampaikan oleh dr. Bella Donna, M.Kes yang dipandu oleh Madelina Ariani, SKM., MPH. Bella menyampaikan bahwa analisis risiko merupakan suatu penilaian potensi ancaman bencana di suatu wilayah dan menilai dampak apa saja yang ditimbulkannya sehingga dapat dilakukan mitigasi dan kesiapsiagaannya. Tiga langkah yang dapat dilakukan untuk melakukan analisis risiko yaitu mencari kemungkinan potensi ancaman bencana, menghitung dampak bencana dan menganalisis risikonya. Perhitungan untuk analisis risiko bencana dapat menggunakan Hazard Vulnerability Analysis (HVA) Tools yaitu alat yang digunakan untuk membantu menentukan jenis, kemungkinan terhadap bahaya, ancaman dan kejadian bencana dengan menggunakan indikator risiko bencana, dari materi ini peserta diberikan penugasan untuk menilai risiko bencana sesuai dengan ancaman bencana yang terjadi di wilayah kerja puskesmas masing-masing.

h1 phcdp 1

Dok. PKMK FK UGM.
Para Peserta saat Mengerjakan Penugasan yang diberikan oleh panitia
Workshop Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana di Puskesmas

Materi keempat, pada hari pertama workshop penyusunan rencana penanggulangan bencana di puskesmas tentang logistik dan fasilitas worksheet menyusun organisasi yang disampaikan oleh dr. Sulanto Saleh Danu, yang dipandu oleh Intan Anastasia N.P.,M.Sc., Apt. Sulanto menyampaikan bahwa pengelolaan logistik pada saat terjadi bencana sangat penting dilakukan oleh institusi kesehatan dalam menangani keadaan bencana. Kategori perbekalan atau logistik pada saat terjadi bencana diantaranya : obat-obatan, ketersediaan air bersih dan kesehatan lingkungan, suplai peralatan kesehatan, suplai makanan, perlindungan aliran listrik, logistik dan administrasi, kebutuhan per individu, sumber daya manusia seperti relawan, dan suplai sembako.

Sulanto menyebutkan bagian logistik bertanggung jawab pada pengadaan, penyiapan personil, peralatan baik medis maupun non medis, mendukung seluruh kegiatan pelayanan kesehatan, mendukung kelangsungan komunikasi internal dan eksternal, memfasilitasi kelangsungan transportasi dan memfasilitasi untuk isolasi dan dekontaminasi.

h1 phcdp 1

Dok. PKMK FK UGM.
dr. Sulanto Saleh Danu saat Menyampaikan Materi
Logistik dan Fasilitas Worksheet Menyusun Organisasi

Hari pertama, kegiatan workshop penyusunan rencana penanggulangan bencana di puskesmas (Primary Health Care Disaster Plan) ditutup dengan penyampaian materi tentang SPO untuk puskesmas disaster plan oleh Madelina Ariani, SKM., MPH. Madelina menyampaikan bahwa SPO dibutuhkan dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana dan krisis kesehatan yang tidak terdapat pada kebutuhan sehari-hari. Selanjutnya, untuk memahami materi yang diberikan peserta diberikan berbagai penugasan terkait dokumen disaster plan di puskesmas.

h1 phcdp 1

Dok. PKMK FK UGM.
Madelina Ariani, SKM., MPH saat Menyampaikan Materi
SPO untuk Puskesmas Disaster Plan

 

Reporter : Nilasari., SKM., MPH.

{tab title=”Hari 2″ class=”green” }

 Hari Kedua, 21 November 2017

Kegiatan hari kedua pada workshop penyusunan rencana penanggulangan bencana di puskesmas (Primary Health Care Disaster Plan) diawali dengan review materi pada hari sebelumnya yang dipandu oleh Intan Anastasia N.P., M.Sc., Apt. dan Madelina Ariani, SKM., MPH. Selanjutnya, peserta mempresentasikan penugasan yang telah diberikan sebagai tindak lanjut materi yang telah diberikan pada kegiatan hari pertama.

Presentasi penugasan yang diberikan diwakili oleh peserta dari Puskesmas Seyegan terkait dengan rencana dokumen disaster plan di Puskesmas Seyegan diantaranya menganalisis kemungkinan risiko bencana yang terjadi, membuat checklist kebutuhan persiapan penyusunan dokumen disaster plan di puskesmas yang bertujuan untuk menilai kesiapan yang dimiliki Puskesmas saat ini dalam menyusun dokumen disaster plan. Peserta dari Puskesmas Seyegan juga memaparkan terkait perencanaan dan penentuan fasilitas sehari-hari di puskesmas dan lingkungan di sekitar puskesmas yang akan dikondisikan pada saat kemungkinan terjadi bencana.

h1 phcdp 1

Dok. PKMK FK UGM.
Peserta dari Puskesmas Seyegan saat Menyampaikan Hasil Penugasan Dokumen Disaster Plan di Puskesmas

Presentasi penugasan selanjutnya diwakili oleh Peserta dari Puskesmas Turi terkait rencana struktur organisasi dalam situasi bencana di puskesmas, dengan menggunakan informasi struktur organisasi dan ketenagaan dari SOTK Puskesmas Turi, serta memaparkan uraian tugas dari struktur organisasi yang dibuat dan merencanakan bentuk kartu tugas.

h1 phcdp 1

Dok. PKMK FK UGM.
Peserta dari Puskesmas Turi saat Menyampaikan Hasil Penugasan
Struktur Organisasi Dokumen Disaster Plan di Puskesmas

Setelah perwakilan peserta dari berbagai puskesmas melakukan presentasi, selanjutnya sesi penutup workshop penyusunan rencana penanggulangan bencana di puskesmas (Primary Health Care Disaster Plan) ditutup oleh Kepala Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM dr. Bella Donna, M.Kes. Bella menyampaikan bahwa harapannya dengan adanya workshop ini akan ada rencana tindak lanjut dari Puskesmas tentang manajemen bencana agar dapat menginisiasi untuk menggalang komitmen dan mempersiapkan Puskesmas untuk pengembangan Primary Health Care Disaster Plan (PHCDP).

h1 phcdp 1

Dok. PKMK FK UGM.
Foto Bersama antara Pembicara, Fasilitator dan Peserta
Workshop Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana di Puskesmas

(Primary Health Care Disaster Plan)

Reporter : Nilasari., SKM., MPH.

{/tabs}

Reportase Workshop Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana dan Krisis Kesehatan di Dinas Kesehatan

dhdp 1

Reportase

Workshop Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana dan Krisis Kesehatan di Dinas Kesehatan

(District Health Disaster Plan)


{tab title=”Hari 1″ align=”justify” class=”orange” }

Yogyakarta, 30 Oktober 2017

Workshop penyusunan rencana penanggulangan bencana dan krisis kesehatan di dinas kesehatan (District Health Disaster Plan) yang dihadiri oleh peserta dari berbagai daerah resmi dibuka oleh Kepala Divisi Manajemen Bencana Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (PKMK FK UGM) dr. Bella Donna, M.Kes. Kegiatan ini berlangsung selama 2 hari di Hotel Cakra Kusuma Yogyakarta. Melalui kegiatan ini, diharapkan Dinas Kesehatan dapat memiliki draft penanggulangan bencana dan krisis kesehatan di Dinas Kesehatan sesuai dengan daerah masing-masing.

dhdp 1

Dok. PKMK FK UGM.
Pembukaan Workshop Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana dan Krisis Kesehatan di Dinas Kesehatan (District Health Disaster Plan) oleh dr. Bella Donna, M.Kes

Hari pertama, dr. Hendro Wartatmo, SpB.KBD mengawali penyampaian materi pertama tentang kerangka konsep penanggulangan bencana bidang kesehatan yang dipandu oleh Wisnu Damarsasi, MPH. Hendro Wartatmo menyebutkan public health emergency preparedness (PHEP) merupakan rencana kesiapan menghadapi krisis bencana di masyarakat yang harus terkoordinasi dan kontinyu. Prinsip yang harus ada dalam petunjuk teknis penanggulangan krisis kesehatan di daerah adalah dasar hukum, pembagian tugas yang harus jelas, health risk assessment, melibatkan publik (sosialisasi untuk pendidikan kepada masyarakat), laboratory function, mitigasi, informasi dan komunikasi.

Pada sesi diskusi, peserta menanyakan kewenangan antara Dinas Kesehatan dan BPBD dalam penanggulangan krisis kesehatan di daerah. Hendro Wartatmo menyebutkan BPBD lebih tinggi kewenangannya dibandingkan Dinas Kesehatan karena BNPB setara dengan Kementerian Kesehatan. Kaitan dengan kebencanaan yang menjadi koordinator di daerah adalah BPBD namun BPBD tidak memiliki unit kesehatan contohnya BPBD Yogyakarta sehingga urusan kesehatan sebaiknya dilakukan Dinas Kesehatan. Lebih lanjut menurut Hendro, supaya tidak terjadi timpang tindih tugas dan fungsi badan penanggulangan bencana daerah maka sebaiknya diatur dalam Peraturan Gubernur di setiap daerah.

dhdp 2

Dok. PKMK FK UGM.
dr. Hendro Wartatmo, SpB.KBD menyampaikan Materi Kerangka Konsep Penanggulangan Bencana Bidang Kesehatan

Sebelum memasuki materi kedua para peserta melakukan Pretest untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan tentang penanggulangan bencana dan krisis bidang kesehatan di daerah (District Health Disaster Plan).

Materi kedua mengenai “Pengorganisasian” disampaikan oleh dr. Bella Donna, M.Kes. Bella menyampaikan rencana penyusunan organisasi harus berdasarkan organisasi yang telah ada yang digunakan sehari-hari karena perubahan besar berpotensi gagal, maka harus dibuat sederhana mungkin tetapi mencakup semua kebutuhan dan dapat dimobilisasi dalam waktu yang singkat. Setiap Dinas Kesehatan memiliki struktur organisasi yang berbeda-beda dan fleksibel serta terkait kebencanaan. Sebaiknya Dinas Kesehatan menggunakan struktur organisasi komando. Struktur organisasi kebencanaan lazimnya terdiri dari ketua (komando bencana), sekretariat, liaison officer, logistik, perencanaan, keuangan dan operasional yang memiliki tupoksi yang berbeda-beda. Di Dinas Kesehatan sebaiknya yang menjadi komando bencana bukan kepada dinas. Mengingat kepala dinas akan sibuk dengan urusan birokrasi ketika terjadi bencana, dikhawatirkan akan menganggu koordinasi penanggulangan bencana secara langsung.

Bella juga menjelaskan pentingnya kartu tugas (job action sheets/JAS) dan Emergency Medical Team (EMT)- Tim Reaksi Cepat (TRC). EMT dikenal dengan banyak istilah bisa tim kesehatan, tim reaksi cepat, tim tanggap darurat dan lain-lain yang memiliki beberapa tipe berdasarkan tingkat keperawatan, ukuran, kapasitas dan kemampuan untuk memberikan pelayanan dan TRC terdiri dari medical services, epidemiologi, tenaga sanitasi dan lainnya.

Pengorganisasian yang terpenting menurut dr. Bella Donna adalah Dinas Kesehatan mengambil peran dalam klaster kesehatan untuk memberikan layanan kesehatan, kesehatan jiwa, sanitasi dan kualitas air, DVI, KIA, gizi, kesehatan reproduksi. Dinas kesehatan harus mampu mengorganisasikan fasilitas kesehatan dibawah komandonya, yaitu puskesmas dan rumah sakit untuk memiliki upaya penanggulangan bencana.

Analisis risiko bencana dan krisis kesehatan merupakan materi ketiga yang disampaikan oleh dr. Bella Donna, M.Kes. Analisis bencana merupakan suatu penilaian potensi ancaman bencana di suatu wilayah dan dampak yang ditimbulkan sehingga dapat melakukan mitigasi atau penanggulangan sebelum terjadinya bencana. Langkah-langkah melakukan analisis risiko bencana meliputi kemungkinan potensi ancaman; potensi dampak terhadap manusia, gangguan layanan kesehatan, masyarakat dan fasilitas kesehatan; dan analisis risiko.

Dalam rencana kontingensi, analisis risiko dapat digunakan untuk membuat skenario, asumsi dampak kemudian respon apa yang akan dilakukan. Perhitungan analisis risiko bencana dapat digunakan dengan hazard vulnerability analysis (HVA) tools. HVA tools merupakan alat yang digunakan untuk membantu menentukan jenis, kemungkinan terhadap konsekuensi bahaya, ancaman dan kejadian bencana menggunakan indikator risiko bencana. Peserta sangat antusias menyelesaian tugas untuk menghitung dan mempertimbangkan nilai risiko dan hazard mapping sesuai dengan daerah atau wilayah kerja dinas kesehatan.

dhdp 3

Dok. PKMK FK UGM.
dr. Bella Donna, M.Kes menyampaikan Materi Pengorganisasian dan Materi Analisis Risiko Bencana dan Krisis Kesehatan

Materi keempat, “Standar Prosedur Operasional (SPO) untuk Dinas Kesehatan Disaster Plan” disampaikan oleh konsultan di Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM Madelina Ariani, SKM., MPH. Madelina menjelaskan SPO digunakan untuk memenuhi standar-standar yang dibutuhkan dalam penanggulangan bencana dan krisis kesehatan yang tidak terdapat pada kegiatan sehari-hari. Beberapa daftar SPO dalam bencana seperti pengaktifan (pemberhentian tim bencana dinas kesehatan, penyiapan tenaga di rumah sakit dan puskesmas, penerimaan (distribusi, pelaporan bantuan medis/non medis) dan pengiriman tim EMT. Penentuan kebutuhan SPO didasarkan pada pengalaman bencana yang pernah terjadi, pustaka dan evaluasi dari simulasi. Lebih lanjut, Madelina menyampaikan SPO dalam dokumen disaster plan dinas kesehatan dapat diletakkan pada bab tersendiri atau di lampiran, disatukan sehingga mudah ditemukan dan dipahami. Dalam rangka meningkatkan pemahaman peserta terkait SPO disaster plan dinas kesehatan, maka diberikan penugasan untuk mengindentifikasi SPO yang dibutuhkan dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana dan antusiasme peserta sangat tinggi.

dhdp 4

Dok. PKMK FK UGM.
Madelina Ariani, SKM., MPH menyampaikan materi Standar Prosedur Operasional (SPO) untuk Dinas Kesehatan Disaster Plan dan Antusian Peserta Mengerjakan Penugasan

Sesi terakhir disampaikan oleh konsultan di Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM Intan Anatasia N.P., M.Sc. Apt mengenai materi “Komponen Dinas Kesehatan Disaster Plan”. Intan menjelaskan komponen-komponen dari dokumen penanggulangan bencana di Dinas Kesehatan, mulai dari Bab I hingga Bab V serta lampiran dan form yang diperlukan. Pada akhir sesi, peserta sangat antusias untuk melakukan diskusi dan menyelesaikan tugas terkait penyusunan draft disaster plan di Dinas Kesehatan.

dhdp 5

Dok. PKMK FK UGM.
Intan Anatasia N.P., M.Sc. Apt menyampaikan Materi Komponen Dinas Kesehatan Disaster Plan

 

Reporter : Muhamad Syarifuddin, SKM., MPH

{tab title=”Hari 2″ class=”green” }

asdf

Yogyakarta, 31 Oktober 2017

dhdp 21

Dok. PKMK FK UGM.
Para Peserta Pelatihan dan Fasilitator dalam Pemaparan
Penugasan District Health Disaster Plan

Kegiatan hari kedua pada workshop penyusunan rencana penanggulangan bencana dan krisis kesehatan di Dinas Kesehatan (District Health Disaster Plan) diawali dengan me-review materi dan pertanyaan pada hari sebelumnya dari pihak PKMK FK UGM yang diwakili oleh Intan Anastasia N.P., M.Sc., Apt. Selanjutnya, peserta membuat penugasan terkait penyusunan dokumen disaster plan Dinas Kesehatan di masing-masing instansi sebagai refleksi materi yang telah diberikan pada kegiatan hari pertama.

Kegiatan dilanjutkan dengan presentasi hasil diskusi penugasan penyusunan dokumen Dinas Kesehatan disaster plan terkait potensi bencana yang terjadi di daerah, bagaimana melakukan pengembangan skenario bencana yang terjadi, pemaparan SOP, SDM, logistik, penentuan fasilitas, termasuk juga bagaimana integrasi antara sistem SPGDT yang ada dengan sistem pada saat bencana. Pada sesi kedua ini banyak peserta yang antusias bertanya serta bertukar pikiran terkait District Health Disaster Plan dan harapannya dengan adanya workshop ini akan ada rencana tindak lanjut dari daerah dalam mempersiapkan diri dalam penanggulangan bencana di daerah.

dhdp 22

Dok. PKMK FK UGM.
Foto Bersama antara Pembicara, Fasilitator dan Peserta
Workshop Penyusunan District Health Disaster Plan

Sesi penutup pertemuan workshop penyusunan rencana penanggulangan bencana dan krisis kesehatan di Dinas Kesehatan (district health disaster plan) ditutup oleh dr. Bella Donna, M.Kes selaku Kepala Divisi Bencana Kesehatan, Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK UGM. Bella menyampaikan bahwa Dinas Kesehatan sebagai koordinator di daerah harus memiliki rencana penanggulangan bencana dalam bentuk dokumen yang didalamnya tertuang jenis tantangan krisis kesehatan yang akan dihadapi serta kebijakan-kebijakan di daerah, sehingga dokumen district health disaster plan sangat penting dimiliki oleh setiap instansi Dinas Kesehatan. Workshop diakhiri dengan foto bersama antara pembicara, fasilitator dan peserta workshop penyusunan rencana penanggulangan bencana dan krisis kesehatan di Dinas Kesehatan (district health disaster plan) tahun 2017.

Reporter : Nilasari., S.K.M., M.P.H

 

{/tabs}

 

TOR Webinar Series : Melawan Lupa: Bencana Banjir di Indonesia

Webinar Series :

Melawan Lupa: Bencana Banjir di Indonesia


 

{tab title=”TOR” class=”red” align=”justify”}

 

PENGANTAR

Banjir merupakan suatu bencana yang sering terjadi di seluruh wilayah Indonesia. Banjir belum lama melanda Bima yaitu pada 21 Desember 2016. Beberapa wilayah terendam akibat tingginya curah hujan yang mengakibatkan warga harus mengungsi ke tempat yang aman. Penyebab dari banjir tersebut diduga karena penggundulan hutan, sehingga pada saat curah hujan tinggi maka sungai tidak dapat menampung debit air yang ada.

Salah satu kota yang menjadi langganan banjir di Indonesia adalah Jakarta. Meskipun Jakarta merupakan ibukota negara, namun permasalahan dari tahun ke tahun tersebut sampai sekarang masih belum dapat ditangani. Penyebab dari bencana tersebut adalah peningkatan muka air laut, serta perubahan fungsi dengan pengeringan rawa dan menggunakan ruang terbuka hijau untuk pemukiman maupun pembangunan gedung perkantoran.

Berdasarkan permasalahan tersebut, maka webinar series kali ini mengangkat tema “Melawan Lupa Bencana Banjir di Indonesia”. Sharing mengenai kejadian banjir yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia, serta tindakan apa yang telah dilakukan oleh pemerintah.

 

tujuanTUJUAN

Untuk sharing pengalaman dan menambah wawasan mengenai pembelajaran penanggulangan bencana yang pernah terjadi di Indonesia.

placeTEMPAT, WAKTU DAN TANGGAL PELAKSANAAN

Kegiatan ini akan dilaksanakan pada :

Hari, Tanggal : Selasa, 31 Oktober2017
Waktu : 13.00 – 15.00
Tempat : Lab Leadership Lt.3 Fakultas Kedokteran UGM
Judul : Melawan Lupa: Bencana Banjir di Indonesia
Pembicara

: Sutono, S.Kp., M.Sc., M.Kep (Dosen PSIK FK UGM)

Moderator : Wisnu Damarsasi, MPH (Peneliti PKMK FK UGM)

Registration URL       : https://goo.gl/nYZoQr

Webinar ID              : 615-111-827

 

analytics, audience, presentation, training icon PESERTA YANG DIHARAPKAN

  • Kementerian Kesehatan (Pusat Krisis Kesehatan)
  • BNPB
  • BPBD
  • Dinas Kesehatan
  • Rumah Sakit
  • Fakultas Kedokteran, Kesehatan, dan Keperawatan
  • Group EMT Indonesia
  • Mahasiswa
  • Peneliti
  • LSM
  • Dsb

agendaAGENDA ACARA

Waktu Materi Pembicara
13.00 – 13.15 Pembukaan Wisnu Damarsasi, MPH
13.15 – 13.40 Penyampaian Materi Sutono, S.Kp., M.Sc., M.Kep
13.40 – 13.55 Diskusi  
13.55 – 14.00 Penutup Wisnu Damarsasi, MPH
 

agreement, arrangement, document, register, registration, sign, write icon PENDAFTARAN DAN INFORMASI

Lelyana
Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK UGM
Mobile : 081329760006
Ph : 0274-549425
Fax : 0274-549424

 

{tab title=”Reportase” class=”orange”}

webinar melawan lupa banjir

Webinar series dengan tema “Melawan Lupa Bencana Banjir di Indonesia” dilaksanakan oleh Divisi Manajemen Bencana Pusat Kebijakan dan Manajemen Bencana Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (PKMK FK UGM) sebagai sharing mengenai kejadian banjir yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia serta tindakan apa yang dilakukan oleh pemerintah. Webinar series dipandu oleh Wisnu Damarsasi, MPH menghadirkan pembicara utama Sutono, S.Kp., M.Sc., M. Kep yang merupakan dosen PSIK FK UGM. Sutono berbagi pengalaman dan informasi ketika turun langsung ke lapangan saat terjadi bencana seperti di Bima, Jakarta, Magelang dan lainnya. Lebih lanjut, pembicara menjelaskan akhir-akhir ini banyak bencana terjadi di Indonesia dan mengalami peningkatan insidensi hampir 20 kali lipatnya. Berdasarkan data BNPB lebih dari 90% kejadian banjir yang terjadi di Indonesia. Bencana banjir besar yang terjadi di Indonesia seperti di Jabotabek, Sorong, Garut, Bima, Grabag Magelang, Sidrap dan lainnya. Bencana tersebut menyebabkan banyak korban, kerusakan bangunan dan infratruktur serta kerusakan lingkungan.

Banjir terus terjadi di berbagai daerah di Indonesia, hal ini disebabkan oleh manusia, disfungsi lingkungan, intensitas hujan yang tinggi, sampah yang memenuhi sungai, penebangan hutan dan pembangunan pemukiman di bantaran sungai. Akibatnya daerah yang sebelumnya jarang terkena banjir sekarang sering dilanda banjir, contohnya saja banjir bandang Bima.

Sutono memaparkan tindakan yang perlu dilakukan pemerintah khususnya BNPB adalah melakukan pendidikan tangguh bencana di sektor pendidikan, sosialisasi dan membuat SOP bagi masyarakat terkait kebencanaan. Apabila banjir akan terjadi di wilayah Anda, maka yang perlu dilakukan adalah bersiap untuk evakuasi dan harus meninggalkan rumah, pendekatan multi sektor baik pemerintah, masyarakat, LSM ataupun perguruan tinggi, dan yang terpenting adalah komitmen bersama. Penanganan banjir tidak hanya tanggung jawab pemerintah tetapi juga masyarakat, perguruan tinggi, LSM dan sebagainya.

Diakhir sesi, peserta webinar menanyakan pengalaman Sutono ketika turun langsung ke lapangan ketika terjadi bencana banjir di Bima atau daerah lainnya. Ketika terjadi banjir bandang di Bima, tim dari UGM langsung menuju ke Bima untuk membantu penanganan. Orang-orang yang terlibat dalam tim tersebut langsung menghubungi kenalan baik di Kementerian Kesehatan maupun di kota Bima sendiri. Banjir yang datang secara tiba-tiba menyebabkan banyak fasilitas kesehatan rusak sehingga kekurangan obat, kekurangan vaksin dan sangat kesulitan dalam mengakses informasi ataupun data-data kesehatan masyarakat Bima. Ketika berada di Bima sudah banyak tim medis yang berdatangan dari daerah lain sehingga Tim UGM fokus membantu dalam kegiatan surveilans dan mengolah data-data kesehatan masyarakat.

Menyinggung kejadian banjir di daerah lain khususnya Jakarta. Orang-orang yang berada di Jakarta sudah mengganggap biasa dengan banjir karena hampir setiap tahun terjadi. Namun jangan anggap remeh masalah ini karena masalah kesehatan mengintai setiap saat. Upaya untuk mengatasi banjir Jakarta sudah sangat banyak dilakukan seperti pembangunan fisik, perbaikan drainase dan lainnya tetapi yang terpenting semua pihak khususnya sektor kesehatan harus mendidik masyarakat untuk menyayangi sungai jangan membuang sampah sembarang dan semua itu dimulai dari keluarga, tutur Sutono.

Reporter : Muhamad Syarifuddin, SKM., MPH

{/tabs}

Term of Reference (TOR) Workshop Pendampingan Hospital Disaster Plan

Term of Reference (TOR)

Workshop Pendampingan Hospital Disaster Plan

Diselenggarakan Oleh:
Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK)
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Yogyakarta, 12-14 Desember 2017

 


PENGANTAR

Rencana penanggulangan bencana di rumah sakit tertuang pada Undang-undang RI No. 44 Tahun 2009 tentang rumah sakit, pasal 29 yang salah satu poinnya berbunyi bahwa “Rumah sakit mempunyai kewajiban memiliki sistem pencegahan kecelakaan dan penanggulangan bencana”. Selain itu, dalam Pembahasan Akreditasi Rumah sakit tahun 2012 pada elemen penilaian akreditasi pada Standar Manajemen Fasilitas dan Keselamatan (MFK) mengenai kesiapan menghadapi bencana pada Standar MFK 6 yang berbunyi “Rumah Sakit membuat rencana manajemen kedaruratan dan program penanganan kedaruratan komunitas, wabah dan bencana baik bencana alam atau bencana lainnya”. Salah satu elemen penilaian MFK 6 adalah rumah sakit telah mengidentifikasi bencana internal dan eksternal yang besar, seperti keadaaan darurat di masyarakat, wabah, dan bencana alam atau bencana lainnya serta kajadian wabah yang bisa menyebabkan terjadinya risiko yang signifikan.

Hospital Disaster Plan (HDP) atau Rencana Penanganan Bencana di Rumah Sakit merupakan salah satu bentuk kesiapan rumah sakit yang disusun dalam bentuk suatu dokumen yang berisikan rencana tindakan yang akan dilakukan, siapa yang akan melakukan, apa yang diperlukan, dan dengan cara bagaimana semuanya tersebut dilakukan dalam menghadapi bencana yang terjadi baik itu bencana internal maupun bencana eksternal.

Saat ini banyak rumah sakit yang memiliki dokumen atau draft HDP, terutama yang sudah atau yang akan mengikuti penilaian akreditasi. Namun, dokumen tersebut belum teruji operasionalisasinya, bahkan ada yang belum disosialisasikan. Harapannya, HDP tidak saja berakhir pada sebuah dokumen tetapi menjadi budaya di rumah sakit untuk keselamatan petugas dan pasien.

Berdasarkan hal tersebut, kami mengundang perwakilan atau tim penyusun HDP rumah sakit untuk mendapatkan workshop pendampingan penyempurnaan dokumen HDP.

 

tujuanTUJUAN

Adapun tujuan dari kegiatan Workshop Pendampingan Hospital Disaster Plan antara lain:

  1. Peserta memahami bahwa Rencana Penanggulangan Bencana di Rumah Sakit (HDP)berbeda di tiap rumah sakit
  2. Peserta mampu menyempurnakan HDP RS berdasarkan template yang ada
  3. Pesertamampu membuat Plan of Action atau POA tentang HDP di RS ke depannya

PROSES KEGIATAN

Pada tahap pelaksanaan, dibagi dalam 3 hari pertemuan, yaitu:

  1. Pertemuan hari pertama
    Para narasumber akan langsung memberikan materi terhadap peserta dengan pengenalan awal mengenai HDP.
  1. Pertemuan hari kedua
    Para narasumber dan fasilitator akan mendampingi penugasan penyempurnaan dokumen HDP masing-masing RS
  1. Pertemuan hari ketiga
    Para peserta akan mempersentasikan hasil dari penugasan hari 2 dan melakukan kunjungan lapangan ke rumah sakit yang telah memiliki dokumen Hospital Disaster Plan.

HAL YANG PERLU DIPERSIAPKAN OLEH PESERTA:

  1. Draft atau dokumen HDP
  2. Profil rumah sakit (Ketenagaan, struktur organisasi, fasilitas sarana dan prasarana)
  3. Peta (map) / denah rumah sakit, termasuk peta wilayah kerja

OUTPUT KEGIATAN

  1. Peningkatan pengetahuan sebelum dan sesudah
  2. Draft HDP/ dokumen HDP yang sesuai dengan template yang ada dan lebih lengkap dari sebelumnya

analytics, audience, presentation, training icon  PESERTA

  1. Tim Penyusun Hospital Disaster Plan
  2. Tim Akreditasi RS
  3. Perwakilan dari RS yang ditugaskan untuk menyusun HDP

 analytics, audience, presentation, training icon TENAGA KONSULTAN DAN ASISTEN KONSULTAN

  1. dr. Hendro Wartatmo, Sp.B-KBD
  2. dr. Handoyo Pramusinto, Sp.B
  3. dr. Sulanto Saleh Danu, Sp.FK
  4. dr. Bella Donna, M.Kes
  5. Sutono, S.Kp, M.Sc., M.Kep.
  6. Madelina Ariani, SKM, MPH
  7. Intan Anatasia, S.Farm, MSc. Apt
  8. Wisnu Damarsasi Ragil Putra, S.Kep., MPH.

agendaJADWAL DAN MATERI

Hari/Tanggal    : Selasa-Kamis, 12-14 Desember 2017
Tempat          : Yogyakarta

 

Hari Pertama ( Selasa, 12 Desember 2017)
Waktu Materi/Kegiatan Narasumber/ Fasilitator
14.00 – 15.00 Registrasi Ulang dan Check In Hotel Panitia
15.00 – 15.30 Pembukaan: Pembagian Kelompok, Pre Test & Coffee Break Dr. Bella Donna, M.Kes

15.30 – 16.30

16.30 – 17.00

Materi 1: Kebutuhan HDP dalam akreditasi dan budaya keselamatan di RS PERSI YOGYAKARTA
17.00 – 19. 00 Istirahat Sore dan Dinner  

19.00 – 20.00

20.00 – 20.30

Materi 2: Overview Hospital Disaster Plan

Diskusi

dr. Hendro Wartatmo, Sp.B-KBD

Hari Kedua ( Rabu, 13 Desember 2017)
Waktu Materi/Kegiatan Narasumber/ Fasilitator
08.00 – 08.30 Photo Session Panitia

08.30 – 09.30

09.30 – 10.00

Materi 3: Komponen HDP

Diskusi dan Penugasan

dr. Bella Donna, M.Kes

Madelina Ariani, SKM.,MPH.

10.00 – 10.15 Coffee Break  

10.15 – 11.15

11.15 – 12.00

Materi 4 : Template HDP

Diskusi dan Penugasan

Madelina Ariani, SKM.,MPH.
12.00 – 13.00 Ishoma (Lunch)  
13.00 – 15.00 Penugasan penyusunan draft HDP masing-masing rumah sakit Tim PKMK FK UGM
15.00 – 15.15 Coffee Break dan Sholat  
15.15 – 17.00 Penugasan kelengkapan SOP bencana masing-masing rumah sakit Tim PKMK FK UGM
17.00 – 19.00 Istirahat Sore dan Dinner  
19.00 – 20.00 Penugasan Form dan tanda fasilitas bencana masing-masing RS Tim PKMK FK UGM
20.00 – 21.00 Presentasi Kelompok dan Diskusi Peserta

Hari Ketiga (Rabu, 14 Desember 2017)
Waktu Materi/Kegiatan Narasumber/ Fasilitator
08.00 – 09.00 Perjalanan kunjungan lapangan ke RS  
09.00 – 09.20

Pembukaan di RS

          Pengantar

          Sambutan dan pembukaan

dr. Bella Donna, M.Kes

RS

09.20 – 09.50 Presentasi tim HDP RS Ketua tim/ perwakilan tim HDP RS
09.50 – 10.00 Pengkondisian peserta  
10.00 – 10.30 Melihat dokumen HDP Fasilitator RS
10.30 – 11.30 Melihat fasilitas sarana prasarana HDP di RS Fasilitator RS
11.30 – 12.30 Perjalanan pulang ke hotel  
12.30 – 13.30 Ishoma dan Lunch Panitia
13.30 – 15.00 Penugasan finalisasi dokumen/ draft HDP RS masing-masing Tim PKMK FK UGM
15.00 – 15.15 Coffee Break dan sholat  
15.15 – 15.45 Rencana tindak lanjut dr. Bella Donna, M.kes
15.45 – 16.00 Penutupan

Tim PKMK FK UGM

 

 

INVESTASI

Paket I : Rp. 7.250.000,00,- (tidak menginap)
Paket II : Rp. 8.150.000,00,- ( Paket Menginap Twin Bed)
Paket III: Rp. 8.650.000,00,- (Paket Menginap Single Bed)

Diskon Rp 500.000,- untuk biaya investasi jika melakukan pendaftaran dan pembayaran sebelum 10 November 2017

Biaya pendaftaran dapat ditransfer melalui Bank BNI UGM Yogyakarta No. Rekening 0203024192 atas nama Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM.

*) Biaya investasi telah mencakup handout materi, flashdisk, foto kegiatan, sertifikat dan konsumsi selama pelatihan

agreement, arrangement, document, register, registration, sign, write icon INFORMASI PENDAFTARAN

Intan Anatasia  / Dewi Catur
Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
Gedung IKM (sayap utara) Lt. 2
Fakultas Kedokteran UGM
Jl. Farmako Sekip Utara Yogyakarta 55281
Telp     : 0274 – 549425
HP       : 087838679382/intan, 0818263653/dewi
Email    : [email protected]/[email protected]
Website Bencana Kesehatan: www.bencana-kesehatan.net

 

Workshop Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana di Puskesmas Primary Health Care Disaster Plan (PHCDP)

Term of Reference (TOR)

Workshop Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana di Puskesmas

Primary Health Care Disaster Plan (PHCDP)

Diselenggarakan Oleh:
Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK)
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

21 – 22 November 2017
University Club Hotel Yogyakarta

{tab title=”TOR Kegiatan” class=”blue” align=”justify”}

PENGANTAR

Banyaknya korban yang ada di fasilitas kesehatan saat terjadi bencana harus dapat diantisipasi, selain itu, fasilitas kesehatan harus menjadi tempat yang aman dan layak untuk para pasien. Untuk meminimalkan risiko bencana, institusi kesehatan khususnya puskesmas harus mempunyai perencanaan dan prosedur untuk penanganan bencana, sehingga dapat menangani korban dalam jumlah yang banyak jika terjadi bencana bahkan dapat mengidentifikasi potensi terjadinya bencana di lingkungan puskesmas.

Puskesmas merupakan lini terdepan yang memegang peranan utama untuk kesiapan bencana dan penanganan korban bencana. Dua hal pokok yang harus dapat dilakukan oleh puskesmas agar siap menghadapi bencana adalah dukungan kemampuan teknis medis (Medical Support) dan dukungan kemampuan manajerial (Management Support).

Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan No 75 tahun 2014 tentang Puskesmas, dan Peraturan Menteri Kesehatan No 71 tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan Nasional, Puskesmas wajib terakreditasi untuk menjamin mutu dan kinerja pelayanan dan sebagai persyaratan dalam rangka bekerjasama dengan BPJS Kesehatan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Para pimpinan puskesmas bertanggung jawab untuk mengupayakan agar puskesmas memperbaiki sistem manajemen, sistem manajemen mutu, dan sistem penyelenggaraan pelayanan agar dapat memenuhi apa yang dipersyaratkan dalam standar akreditasi dan salah satu yang tidak kalah penting adalah bagaimana puskesmas menghadapi situasi musibah massal dan kegawatdaruratan dalam bencana. Dengan memahami hal tersebut, pimpinan dan staf di puskesmas sebagai peserta workshop akan mempunyai pemahaman tentang manajemen bencana agar dapat menginisiasi untuk menggalang komitmen dan mempersiapkan akreditasi puskesmas.

Bagaimana upaya penyusunan rencana penanggulangan bencana di tingkat puskesmas, apa saja komponen, indikator penilaiannya, siapa saja yang terlibat hingga sharing pengalaman dalam pengembangan Primary Health Care Disaster Plan (PHCDP) akan kita bahas pada workshop 2 hari ini.

 

tujuanTUJUAN

Workshop ini bertujuan untuk mendorong puskesmas dalam menyusun dan mempersiapkan rencana penanggulangan bencana dan krisis kesehatan di wilayah kerja puskesmas masing-masing.

 

analytics, audience, presentation, training icon  PESERTA

Peserta adalah kepala puskesmas, tim akreditasi puskesmas, dan/atau tim penanggulangan bencana puskesmas.

Tim atau perorangan yang mewakili puskesmas diharapkan berasal dari unsur pimpinan (Kepala Puskesmas, KTU), operasional (dokter umum, perawat, bidan), logistik (Gizi, apoteker, tenaga kesehatan masyarakat, rumah tangga), perencanaan (administrasi, keuangan, dan medical record).

YANG PERLU DISIAPKAN PESERTA

Peserta diharapkan dapat membawa profil puskesmas seperti:

  1. Peta (Map) puskesmas, termasuk peta wilayah kerja dan Hazard Mapping
  2. Inventarisasi :sarana dan prasarana serta fasilitas medis dan nm
  3. Kapasitas: jumlah tempat tidur dan sdm medis dan non medis (untuk Puskesmas Rawat Inap)
  4. Mapping fasilitas kesehatan

OUTPUT KEGIATAN

Setelah melalui proses workshop dan pendampingan maka pihak puskesmas akan mempunyai tenaga yang terlatih dan Dokumen Primary Health Care Disaster Plan yang operasional.

agendaJADWAL DAN MATERI

Hari/Tanggal              : Selasa-Rabu 21-22 November 2017
Tempat                    : University Club Hotel Yogyakarta

Hari ke-1
Waktu Materi/ Kegiatan Narasumber/ fasilitator
08.30 – 09.00 Registrasi Ulang Panitia
09.00 – 09.30

Pengantar

Pembukaan

dr. Bella Donna, M.kes

09.30 – 10.15

10. 15 – 11.00

11.00 – 11.45

Materi 1: Konsep Penanggulangan Bencana Bidang Kesehatan dan peran puskesmas dalam penanggulangan bencana

Materi 2: PHCDP dalam akreditasi puskesmas

Worksheet penilaian[MA1]  PHCDP

dr. Hendro Wartatmo, SpB.KBD

dr. Bella Donna, M.Kes

Madelina Ariani, MPH

11.45 – 13.00 ISHOMA Panitia

13.00 – 13.45

13.45 – 14.15

Materi 3: Analisis Risiko

Worksheet penentuan[MA2]  analisis risiko

dr. Bella Donna, M.Kes

Wisnu Damarsasi, MPH

14.15 – 15.00

15.00 – 15.45

Materi 4: Pengorganisasian dan sistem komando penanggulangan[MA3]  bencana di Puskesmas

Worksheet menyusun organisasi

dr. Handoyo Pramusinto, Sp.BS.

Intan Anatasia N.P. M.Sc. Apt.

15.45 Coffee Break dan Istirahat

Hari ke- 2
Waktu Materi/ kegiatan Narasumber/ Fasilitator

09.00 – 09.45

09.45 – 10.15

Materi 5: SOP dan fasilitas

Worksheet penentuan fasilitas

dr. Sulanto Saleh Danu Sp.FK

Intan Anatasia N.P.,M.Sc. Apt.

10.15 – 10.30 Coffee Break Panitia

10.30 – 11.15

11.15 – 12.00

Materi 6: Komponen dan penyusunan PHCDP

Worksheet penyusunan draft PHCDP

Madelina Ariani, MPH

Wisnu Damarsasi, MPH

12.00 – 13.00 ISHOMA Panitia
13.00 – 14.30 Presentasi : PHCDP Peserta
14.30 – 14.45 Coffee break Panitia
14.45 – 15.15 Rencana tindak lanjut Madelina Ariani, MPH
15.15- 15.30 Penutupan dan Administrasi
 

INVESTASI

Paket I : Rp. 1.750.000,00,- (Menginap)
Paket II : Rp. 1.250.000,00,- ( Tidak Menginap )
Biaya pendaftaran dapat di transfer melalui Bank BNI UGM Yogyakarta No. Rekening 0203024192 atas nama Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM.

*) Biaya investasi telah mencakup handout materi, foto kegiatan, sertifikat dan konsumsi selama pelatihan

agreement, arrangement, document, register, registration, sign, write icon INFORMASI PENDAFTARAN

Intan Anatasia  / Dewi Catur
Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
Gedung IKM (sayap utara) Lt. 2
Fakultas Kedokteran UGM
Jl. Farmako Sekip Utara Yogyakarta 55281
Telp     : 0274 – 549425
HP       : 087838679382/intan, 0818263653/dewi
Email    : [email protected]/[email protected]
Website Bencana Kesehatan: www.bencana-kesehatan.net

 

{tab title=”Reportase Hari 1″ class=”red”}

Hari Pertama, 20 November 2017

Workshop penyusunan rencana penanggulangan bencana di Puskesmas (Primary Health Care Disaster Plan) diikuti oleh tenaga Puskesmas, civitas akademika dan LSM yang bergerak di bidang bencana dari berbagai daerah. Workshop ini resmi dibuka oleh Kepala Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM dr. Bella Donna, M.Kes. Workshop berlangsung selama 2 hari di Yogyakarta. Tujuan kegiatan ini puskesmas sebagai pemegang peranan utama terdepan untuk kesiapan bencana dan penanganan korban jika terjadi bencana diharapkan dapat menangani korban dalam jumlah yang banyak jika terjadi bencana, bahkan dapat mengidentifikasi potensial terjadinya bencana di lingkungan puskesmas.

h1 phcdp 1

Dok. PKMK FK UGM.
Pembukaan Workshop Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana di Puskesmas (Primary Health Care Disaster Plan) oleh dr. Bella Donna, M.Kes

Pembicara pertama dalam workshop ini disampaikan oleh dr. Hendro Wartatmo, Sp.B-KBD tentang konsep penanggulangan bencana bidang kesehatan dan peran puskesmas dalam penanggulangan bencana yang dipandu oleh Madelina Ariani, SKM., MPH. Hendro menyebutkan bahwa Public Health Emergency Preparedness (PHEP) merupakan kemampuan dari sistem kesehatan masyarakat, sistem pelayanan kesehatan, masyarakat dan individu untuk mencegah, melindungi, merespon dengan cepat dari keadaan darurat yang terkoordinasi dan berkesinambungan. Prinsip PHEP yang harus dipenuhi diantaranya health risk assessment, legal climate, roles and responsibilities, incident command system, public engagement, epidemiology functions, laboratory functions, counter measures and mitigation strategies, mass health care, public health information and communication. Di akhir sesi materi pertama banyak peserta yang bertanya mengenai persyaratan lokasi pengungsian, penilaian kondisi bangunan saat terjadi bencana.

dhdp 2

Dok. PKMK FK UGM.
dr. Hendro Wartatmo, SpB.KBD saat Menyampaikan Materi tentang
Konsep Penanggulangan Bencana Bidang Kesehatan dan Peran Puskesmas
dalam Penanggulangan Bencana

Materi kedua mengenai PHCDP dalam akreditasi puskesmas, komponen PHCDP dan pengorganisasian sistem komando disampaikan oleh dr. Bella Donna, M.Kes yang dipandu oleh Intan Anastasia N.P.,M.Sc., Apt. Bella menyampaikan bahwa akreditasi puskesmas masuk dalam manajemen penunjang layanan klinis yang di dalamnya terdapat manajemen emergency yaitu wabah, bencana dan krisis kesehatan sehingga kesiapan penanggulangan bencana di puskesmas sangat penting dilakukan. Selanjutnya, Bella memaparkan tentang komponen PHCDP pada puskesmas yang terdiri dari Bab I hingga Bab VIII serta lampiran dan form yang diperlukan dalam dokumen PHCDP. Pada sesi akhir materi kedua, Bella menyampaikan materi mengenai pengorganisasian sistem komando yaitu tentang prinsip-prinsip pengorganisasian, sistem pengembangan pengorganisasian di puskesmas, uraian tugas dan terkait kartu tugas. Bella menyebutkan bahwa konsep pengorganisasian dasarnya adalah organisasi harus jelas dan sederhana, dapat dimobilisasi dalam waktu yang singkat, tidak ada pembentukan organisasi yang baru tetapi pengembangan organisasi yang ada dan memastikan bahwa pelayanan Puskesmas tetap berjalan.

h1 phcdp 1

Dok. PKMK FK UGM.
dr. Bella Donna, M.Kes saat Menyampaikan Materi tentang
Akreditasi Puskesmas, Komponen PHCDP dan Pengorganisasian Sistem Komando

Materi ketiga para peserta diberikan materi tentang analisis risiko dan SOP worksheet penentuan analisis risiko yang disampaikan oleh dr. Bella Donna, M.Kes yang dipandu oleh Madelina Ariani, SKM., MPH. Bella menyampaikan bahwa analisis risiko merupakan suatu penilaian potensi ancaman bencana di suatu wilayah dan menilai dampak apa saja yang ditimbulkannya sehingga dapat dilakukan mitigasi dan kesiapsiagaannya. Tiga langkah yang dapat dilakukan untuk melakukan analisis risiko yaitu mencari kemungkinan potensi ancaman bencana, menghitung dampak bencana dan menganalisis risikonya. Perhitungan untuk analisis risiko bencana dapat menggunakan Hazard Vulnerability Analysis (HVA) Tools yaitu alat yang digunakan untuk membantu menentukan jenis, kemungkinan terhadap bahaya, ancaman dan kejadian bencana dengan menggunakan indikator risiko bencana, dari materi ini peserta diberikan penugasan untuk menilai risiko bencana sesuai dengan ancaman bencana yang terjadi di wilayah kerja puskesmas masing-masing.

h1 phcdp 1

Dok. PKMK FK UGM.
Para Peserta saat Mengerjakan Penugasan yang diberikan oleh panitia
Workshop Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana di Puskesmas

Materi keempat, pada hari pertama workshop penyusunan rencana penanggulangan bencana di puskesmas tentang logistik dan fasilitas worksheet menyusun organisasi yang disampaikan oleh dr. Sulanto Saleh Danu, yang dipandu oleh Intan Anastasia N.P.,M.Sc., Apt. Sulanto menyampaikan bahwa pengelolaan logistik pada saat terjadi bencana sangat penting dilakukan oleh institusi kesehatan dalam menangani keadaan bencana. Kategori perbekalan atau logistik pada saat terjadi bencana diantaranya : obat-obatan, ketersediaan air bersih dan kesehatan lingkungan, suplai peralatan kesehatan, suplai makanan, perlindungan aliran listrik, logistik dan administrasi, kebutuhan per individu, sumber daya manusia seperti relawan, dan suplai sembako.

Sulanto menyebutkan bagian logistik bertanggung jawab pada pengadaan, penyiapan personil, peralatan baik medis maupun non medis, mendukung seluruh kegiatan pelayanan kesehatan, mendukung kelangsungan komunikasi internal dan eksternal, memfasilitasi kelangsungan transportasi dan memfasilitasi untuk isolasi dan dekontaminasi.

h1 phcdp 1

Dok. PKMK FK UGM.
dr. Sulanto Saleh Danu saat Menyampaikan Materi
Logistik dan Fasilitas Worksheet Menyusun Organisasi

Hari pertama, kegiatan workshop penyusunan rencana penanggulangan bencana di puskesmas (Primary Health Care Disaster Plan) ditutup dengan penyampaian materi tentang SPO untuk puskesmas disaster plan oleh Madelina Ariani, SKM., MPH. Madelina menyampaikan bahwa SPO dibutuhkan dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana dan krisis kesehatan yang tidak terdapat pada kebutuhan sehari-hari. Selanjutnya, untuk memahami materi yang diberikan peserta diberikan berbagai penugasan terkait dokumen disaster plan di puskesmas.

h1 phcdp 1

Dok. PKMK FK UGM.
Madelina Ariani, SKM., MPH saat Menyampaikan Materi
SPO untuk Puskesmas Disaster Plan

 

Reporter : Nilasari., SKM., MPH.

{tab title=”Reportase Hari 2″ class=”green” }

 Hari Kedua, 21 November 2017

Kegiatan hari kedua pada workshop penyusunan rencana penanggulangan bencana di puskesmas (Primary Health Care Disaster Plan) diawali dengan review materi pada hari sebelumnya yang dipandu oleh Intan Anastasia N.P., M.Sc., Apt. dan Madelina Ariani, SKM., MPH. Selanjutnya, peserta mempresentasikan penugasan yang telah diberikan sebagai tindak lanjut materi yang telah diberikan pada kegiatan hari pertama.

Presentasi penugasan yang diberikan diwakili oleh peserta dari Puskesmas Seyegan terkait dengan rencana dokumen disaster plan di Puskesmas Seyegan diantaranya menganalisis kemungkinan risiko bencana yang terjadi, membuat checklist kebutuhan persiapan penyusunan dokumen disaster plan di puskesmas yang bertujuan untuk menilai kesiapan yang dimiliki Puskesmas saat ini dalam menyusun dokumen disaster plan. Peserta dari Puskesmas Seyegan juga memaparkan terkait perencanaan dan penentuan fasilitas sehari-hari di puskesmas dan lingkungan di sekitar puskesmas yang akan dikondisikan pada saat kemungkinan terjadi bencana.

h1 phcdp 1

Dok. PKMK FK UGM.
Peserta dari Puskesmas Seyegan saat Menyampaikan Hasil Penugasan Dokumen Disaster Plan di Puskesmas

Presentasi penugasan selanjutnya diwakili oleh Peserta dari Puskesmas Turi terkait rencana struktur organisasi dalam situasi bencana di puskesmas, dengan menggunakan informasi struktur organisasi dan ketenagaan dari SOTK Puskesmas Turi, serta memaparkan uraian tugas dari struktur organisasi yang dibuat dan merencanakan bentuk kartu tugas.

h1 phcdp 1

Dok. PKMK FK UGM.
Peserta dari Puskesmas Turi saat Menyampaikan Hasil Penugasan
Struktur Organisasi Dokumen Disaster Plan di Puskesmas

Setelah perwakilan peserta dari berbagai puskesmas melakukan presentasi, selanjutnya sesi penutup workshop penyusunan rencana penanggulangan bencana di puskesmas (Primary Health Care Disaster Plan) ditutup oleh Kepala Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM dr. Bella Donna, M.Kes. Bella menyampaikan bahwa harapannya dengan adanya workshop ini akan ada rencana tindak lanjut dari Puskesmas tentang manajemen bencana agar dapat menginisiasi untuk menggalang komitmen dan mempersiapkan Puskesmas untuk pengembangan Primary Health Care Disaster Plan (PHCDP).

h1 phcdp 1

Dok. PKMK FK UGM.
Foto Bersama antara Pembicara, Fasilitator dan Peserta
Workshop Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana di Puskesmas

(Primary Health Care Disaster Plan)

Reporter : Nilasari., SKM., MPH.

{/tabs}

MELAWAN LUPA: GEMPA DAN MERAPI YOGYAKARTA

 WEBINAR SERIES :

MELAWAN LUPA:GEMPA DAN MERAPI YOGYAKARTA

{tab title=”TOR” class=”info”}


PENGANTAR

Gempa bumi yang mengguncang Yogyakarta pada tahun 2006 dengan kekuatan 5,9 SR memporakporandakan seluruh kota. Banyak rumah dan gedung yang rusak, bahkan sampai roboh akibat bencana tersebut. Listrik dan jaringan telpon pun terputus, sehingga penduduk Yogyakarta tidak dapat menghubungi keluarga di luar kota, begitu pun sebaliknya. Penduduk berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri, namun tidak sedikit warga yang terkurung di dalam akibat panik dan tidak dapat membuka kunci rumah. Terdapat penduduk yang kejatuhan bangunan rumah yang roboh. Keadaan yang terjadi pada hari itu sangat chaos.

Gunung Merapi yang merupakan gunung api yang masih aktif di Yogyakarta hingga saat ini memiliki siklus 4 tahunan. Pada tahun 2010 terjadi bencana gunung meletus yang berdampak pada warga Yogyakarta. Seluruh kota diselimuti oleh abu dari letusan dan seluruh aktivitas di seluruh Yogyakarta dihentikan baik pendidikan, bisnis, maupun pemerintahan. Banyak penyakit yang timbul akibat abu dari letusan gunung seperti ISPA, sakit mata, dll. Bantuan banyak berdatangan baik logistik maupun tim medis.

Berdasarkan dari permasalahan tersebut, maka webinar series mengangkat tema tentang Melawan Lupa Gempa dan Merapi Yogyakarta. Sharing mengenai kejadian bencana yang terjadi di Yogyakarta, serta tindakan apa yang telah dilakukan oleh pemerintah. Pengalaman untuk melakukan manage bantuan baik logistik maupun tenaga medis.

 

tujuanTUJUAN

Untuk sharing pengalaman dan menambah wawasan mengenai pembelajaran penanggulangan bencana yang pernah terjadi di Indonesia.

placeTEMPAT, WAKTU DAN TANGGAL PELAKSANAAN

Kegiatan ini akan dilaksanakan pada :

Hari, Tanggal : Selasa, 26 September 2017
Waktu : 13.00 – 15.00
Tempat : Lab Leadership Lt.3 Fakultas Kedokteran UGM
Judul : Melawan lupa: Gempa dan Merapi Yogyakarta
Pembicara

: dr. Handoyo Pramusinto, Sp.BS(K) (Ketua Pokja Bencana FK UGM)               
  dr. H. Sulanto Saleh Danu R, MD, Sp.FK (Dosen FK UGM)

Moderator : dr. Bella Donna, M.Kes
  (Kepala Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM)

Registration URL:  https://attendee.gotowebinar.com/register/4191124305820462083

Webinar ID: 397-352-131

 

analytics, audience, presentation, training icon PESERTA YANG DIHARAPKAN

  • Kementerian Kesehatan (Pusat Krisis Kesehatan)
  • BNPB
  • BPBD
  • Dinas Kesehatan
  • Rumah Sakit
  • Fakultas Kedokteran, Kesehatan, dan Keperawatan
  • Group EMT Indonesia
  • Mahasiswa
  • Peneliti
  • LSM
  • Dsb

agendaAGENDA ACARA

Waktu Materi Pembicara
13.00 – 13.15 Pembukaan dr. Bella Donna, M.Kes
13.15 – 13.45 Penyampaian Materi dr. Handoyo Pramusinto, Sp.BS(K)
13.45 – 14.15 Penyampaian Materi dr. H. Sulanto Saleh Danu R, MD, Sp.FK
14.15 – 14.45 Diskusi  
14.45 – 15.00 Penutup dr. Bella Donna, M.Kes

agreement, arrangement, document, register, registration, sign, write icon PENDAFTARAN DAN INFORMASI

Lelyana
Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK UGM
Mobile : 081329760006
Ph : 0274-549425
Fax : 0274-549424

 

{tab title=”Reportase” class=”warning”}

 

Divisi Manajemen Bencana dari Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK UGM kembali menggelar webinar series Melawan Lupa Gempa dan Erupsi Merapi. Pembicara pada webinar kali ini adalah dr. Bella Donna, M.Kes dan dr. Handoyo Pramusinto Sp.Bs yang merupakan tim Pokja Bencana dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.

webinar bencana

Doc.PKMK FK UGM. Suasana Webinar Series Melawan Lupa Gempa dan Erupsi Merapi

 Moderator dalam webinar ini ada Madelina Ariani, MPH yang merupakan salah satu peneliti serta konsultan muda dari Divisi Manajemen Bencana FK UGM dan aktif kegiatan bencana sejak 2013. Webinar kali ini diikuti dari berbagai peserta baik dari rumah sakit maupun pemerhati bencana dari universitas. Pembicara pertama pada webinar ini dr. Bella Donna., M.Kes, Bella merupakan Kepala Divisi Manajemen Bencana FK UGM yang bertugas menjadi liaison officer saat Erupsi Merapi terjadi. Pembicara kedua adalah dr. Handoyo Pramusinto, Sp.BS, yang bertugas di Sardjito saat Erupsi Merapi 2010.

Bella Donna menceritakan pengalamannya saat Erupsi Merapi diminta langsung terjun bersama tim Disaster Emergency Respon Unit (DERU) yang akan terjun ke daerah Hargobinangun dan Gilikerto untuk membuka klinik dari Universitas Gadjah Mada. Bella Donna saat itu menjadi liason officer yang bertugas untuk membagi tim yang akan turut membantu dalam melakukan respon pada Erupsi Merapi. Bella Donna menceritakan bahwa bantuan kesehatan dipusatkan di Stadion Maguwoharjo setelah letusan kedua Merapi terjadi karena para pengungsi akan dipindahkan ke tempat tersebut. Menurut Bella Donna, Fakultas Kedokteran UGM fokus membantu baik secara Management Support dan Managemen Medis.

Handoyo Pramusinto menjelaskan kondisi di RSUP dr. Sardjito Yogyakarta saat letusan merapi terjadi rumah sakit telah selesai melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah untuk menyiapkan tim yang bertugas di dalam rumah sakit maupun yang terjun langsung ke lapangan. RSUP dr. Sardjito saat itu melakukan koordinasi dengan dinas kesehatan provinsi dan Sleman serta juga melibatkan rumah sakit – rumah sakit di Yogyakarta, PMI dan relawan terkait.

Pada webinar kali ini, hadir pula Dr. Dra. Sumarni DW.,M.Kes dari Departemen Psikiatri FK UGM yang terlibat dalam penanganan psikiatri pasca Erupsi Merapi di Hunian Sementara Kuang. Sumarni menjelaskan hal-hal yang dilakukan seperti trauma healing, pemeriksaan reproduksi selain itu juga ada pemeriksaan kesehatan jiwa dan mental para pengungsi. Hal ini masih terus dilakukan (pendampingan) tim Sumarni sampai saat ini pada korban Erupsi Merapi.

RSUD Kota Yogyakarta yang mengikuti webinar kali ini juga menjelaskan peran mereka dalam Erupsi Merapi untuk membantu evakuasi korban saat itu. Selain itu, RSUD Kota Yogyakarta menjelaskan bahwa mereka juga stand by jika ada korban yang dilarikan ke rumah sakit.

Handoyo juga menjelaskan bahwa rumah sakit harus menyiapkan Surge Capacity yang baik untuk memastikan pelayanan tetap berjalan dengan baik jika terjadi peningkatan kapasitas saat bencana terjadi. Selain itu, Handoyo juga menggarisbawahi bahwa pentingnya tim triase lapangan yang selalu siap dan bisa berkoordinasi dengan lintas sektor lain untuk memperlancar proses evakuasi di lapangan. Menurut Bella Donna saat Erupsi Merapi tim dari Yogyakarta membentuk sistem komando yang terpadu dengan tim dari provinsi Jawa Tengah yang juga mengalami akibat dari letusan Merapi saat 2010.

Menurut Bella Donna, pembelajaran dari Erupsi Merapi yang bisa diambil adalah penanganan ini sudah lebih baik dibanding dengan penanganan Gempa Yogyakarta pada 2006 yang berarti kita telah banyak berubah dan belajar untuk melakukan manajemen penanganan bencana lebih baik lagi. Selain itu Bella Donna juga berharap pembelajaran mengenai manajemen penanganan bencana ini bisa lebih ditekankan lagi di Fakultas Kedokteran UGM. Handoyo Pramusinto juga masih menggarisbawahi mengenai pentingnya koordinasi yang dilakukan untuk memperlancar penanganan saat bencana apapun terjadi. Sumarni juga berharap dalam penanganan bencana juga dimasukkan mengenai pelayanan reproduksi terutama pada wanita saat di pengungsian seperti pelayanan KB, pelayanan persalinan serta perlindungan pada wanita saat terjadi bencana. Selain itu Sumarni juga berharap penambahan pada pelayanan kesehatan jiwa dan mental pada saat pasca merapi untuk korban Merapi di hunian sementara.

Reporter:
Intan Anatasia N.P.,M.Sc.Apt.

{/tabs}

Reportase: 24th Asia Pacific Symposium on Critical Care and Emergency Medicine

ASIA PACIFIC SYMPOSIUM ON CRITICAL CARE

24th Asia Pacific Symposium on Critical Care and Emergency Medicine

(APSCCEM)

Bali – Indonesia, 3 Agustus 2017


{tab title=”Sesi I” slideshow=”2000″ align=”justify” class=”orange”}

ASIA PACIFIC SYMPOSIUM ON CRITICAL CARE

Asia Pacific Symposium on Critical Care and Emergency Medicine (APSCCEM) yang ke-24 diselenggarakan di Bali, Indonesia. Kegiatan tersebut diikuti beberapa peserta multi disiplin dan dari berbagai negara. Sesi pertama mengambil topik Safe Community for Emergencies and Disaster dimoderatori oleh Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., PhD yang merupakan dosen dan guru besar di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.

Pembicara pertama oleh Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan dr. Supriyantoro, Sp.P, MARS yang membahas tentang Implementation of Safe Community in Indonesia. Indonesia merupakan salah satu dari tiga negara dengan jumlah kematian yang tinggi akibat emergencies situation bersama dengan India dan China. Sistem Penanggulangan Dawat Darurat Terpadu (SPGDT) telah dideklarasikan sejak 17 tahun yang lalu, dan SPGDT tersebut dibedakan menjadi 2 yakni SPGDT sehari-hari dan SPGDT saat bencana. Untuk komunitas awam diperlukan suatu pelatihan basic life support (BLS)/ bantuan hidup dasar (BHD) untuk perlindungan diri. Safe community merupakan salah satu hal penting untuk mencapai emergency response system yang terintegrasi. Meskipun di Indonesia telah ada PSC 113 sejak 17 tahun lalu, namun hal itu termasuk lambat dibandingkan negara lain.

Pembicara kedua ialah Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Bantaeng dan Koordinator Umum Brigade Siaga Bencana (BSB) Kab. Bantaeng dr. Andi Ihsan, DPDK yang membahas tentang “Dukungan Pemerintah Kab. Bantaeng dalam Mewujudkan Safe Community di Kab. Bantaeng melalui PSC 119”. Penjajakan sebelum dibentuknya BSB, maka pemerintah melakukan kunjungan langsung ke masyarakat untuk mengetahui masalah kesehatan. Akhirnya pada 2009, terbentuk emergency service yang dinamakan Brigade Siaga Bencana (BSB) dan melakukan kerjasama dengan pemerintah Jepang dalam hal bantuan mobil ambulan. Dengan berjalannya waktu maka BSB berubah nama menjadi PSC 119 dengan melibatkan BPBD Kabupaten Bantaeng dengan fungsi yang masih sama seperti sebelumnya.

Pembicara terakhir dalam sesi pertama adalah Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung dr. Mochamad Mastur, MM yang membahas tentang Implementasi Public Safety Center (PSC) di Kabupaten Tulungagung. PSC yang dimiliki oleh Kab. Tulungagung terbentuk sejak n 2015 dengan tujuan untuk mendekatkan pelayanan kegawatdaruratan kepada masyarakat dengan cara memperpendek response time. Sejak 2012, dilakukan penataan antar rumah sakit karena dilatarbelakangi tingginya kematian yang diakibatkan oleh keterlambatan pengiriman ke rumah sakit sehingga akan terlambat juga untuk mendapatkan penanganan. Untuk saat ini semua ambulan telah dilengkapi oleh radio komunikasi dan android sehingga dapat terpantau untuk lokasinya.

MATERI:

pdfPri  THE IMPLEMENTATION OF SAFE   COMMUNITY IN IND

pdfDR ANDI IHSAN – BANTAENG Indonesian

pdfDinkes Kab Tulungagung – Indonesian

{tab title=”Sesi II” class=”red”}

Pada sesi kedua dalam seminar tersebut mengambil tema Safe Primary Health Care for Emergencies and Disaster dengan moderator dr. Hendro Wartatmo, Sp.B-KBD yang merupakan dosen departemen bedah RSUP dr. Sardjito Yogyakarta. Pembicara pertama dalam sesi tersebut adalah Direktur Pelayanan Kesehatan Primer Kementerian Kesehatan RI drg. Saraswati, MPH yang membahas tentang Indonesia Goverment Policy on Safe Primary Healthcare. Kementerian Kesehatan RI memiliki rencana strategi yang tercantum dalam 3 pilar utama untuk mencapai Indonesia yang lebih sehat yakni 1) Paradigma Kesehatan, 2) Penguatan Pelayanan Kesehatan, 3) Asuransi Kesehatan Nasional/ National Health Insurance (NHI). Penguatan pelayanan kesehatan dilakukan dengan menguatkan akses dan kualitas dari puskesmas, serta ditargetkan untuk tiap kabupaten memiliki minimal 1 puskesmas yang terakreditasi. Untuk mencapai akreditasi puskesmas tersebut, maka fasilitas, infrastruktur dan peralatan untuk puskesmas akan dilakukan standarisasi.

Pembicara kedua seorang dokter dari Puskesmas Dukun, Magelang dr. Edy Suharso yang membahas tentang Penanganan Puskesmas Dukun dalam Penanggulangan Bencana Gunung Merapi. Gunung Merapi merupakan salah satu gunung di Indonesia yang masih aktif dan merupakan ancaman bencana permanen bagi Kabupaten Magelang. Program unggulan dari BPBD Kab Magelang dalam penanggulangan bencana merapi adalah Program Sister Village, sementara untuk ancaman selain Merapi, mereka mempunyai Desa Tangguh Bencana (Destana). Program Sister Village adalah persaudaraan antara dua desa atau lebih yang mempunyai ancaman tinggi terhadap bencana Gunung Merapi dengan desa yang aman dari ancaman bencana merapi dalam rangka mengurangi risiko bencana.

Senior Consultant of Traumatologi and Head of Emergency Department dari Hospital Kuala Lumpur Prof Dato’ Dr. Abu Hassan Asaari bin Abdullah membahas Establishing Seamless Continuum of Cared by Integrated and Coordinated Primary Care and Emergency Medical Service. Pemerintah Malaysia telah mencanangkan adanya puskesmas setiap 5 km, dan fasilitas kesehatan memiliki pelayanan kesehatan. Rumah sakit swasta di Malaysia juga diwajibkan untuk memberikan pelayanan kesehatan dasar gratis. Fasilitas kesehatan di Malaysia memiliki 2 tipe ambulan yakni untuk di daerah pedesaan dan perkotaan. Mereka pun memiliki program bicycle squad untuk pelayanan kesehatan. Hal terpenting dalam pelayanan kesehatan adalah tidak hanya berfokus pada kelengkapan peralatan saja, namun juga wajib untuk memiliki kemampuan yang memadai.

Consultant Emergency Physician dari Hospital Kuala Lumpur Dr. Alzamani Mohammad Idrose membahas tentang Air Evacuation and the Flying ICU. Aero Medical Evacuation untuk pertama kali dilakukan di Paris pada 1870 dengan menggunakan balon udara. Strategi perencanaan yang matang diperlukan dalam pelaksanaan evakuasi menggunakan pesawat. Koordinasi dilakukan dengan pasukan udara dan tim yang berada di darat untuk tiap kota pemberhentian. Peralatan pun harus dipersiapkan pada saat pre-flight, salah satunya dengan mengalkulasi kebutuhan oksigen. Posisi dari pasien pada saat berada di dalam pesawat juga harus diperhatikan.

MATERI:
pdfIndonesian government policy on Safe primary Health Care-7pm
pdfPENANGGULANGAN BENCANA GUNUNG MERAPI.pptx  Repaired
pdfFlying ICU Bali

{tab title=”Sesi III” class=”grey”}

Pada sesi terakhir mengambil tema tentang Safe Hospital for Emergency Medicine and Disaster yang dimoderatori oleh Dr. Rahmawati Husein yang merupakan dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Pembicara pertama oleh DR. Dr. Tri Wahyu Murni, Sp.B., Sp.BTKV(K)., MHKes yang merupakan dosen Master Program of Epidemiology, Universitas Padjajaran Bandung membahas tentang Safe Hospital in Indonesia, Problems and Future Plan. Save hospital programmes adalah suatu rumah sakit dalam keadaan bencana akan terjadi peningkatan dalam kapasitas pelayanan dan harus siap digunakan secara optimal dalam pelayanan emergency. Indonesia menduduki peringkat ke 38 di dunia sebagai negara dengan risiko terbanyak untuk kejadian bencana. Sehingga dalam perencanaan ke depannya untuk pengembangan rumah sakit maka perlu direncanakan untuk penentuan lokasi bangunan rumah sakit, peningkatan pengetahuan terutama tentang kebencanaan, dan melakukan evaluasi kapasitas rumah sakit.

Pembicara kedua pada sesi terakhir yakni dr. Safrizal Rahman, M.Kes, Sp.OT yang merupakan dokter ortopedik di RSUD dr. Zainoel Abidin Aceh membahas tentang Preparing dr. Zainoel Abidin Hospital to be a Hospital Disaster Resilience (an Experience). RSUD dr. Zainoel Abidin merupakan rumah sakit lama yang dibangun sejak jaman penjajahan Belanda yang terus berkembang hingga sekarang ini. Daerah sekitar rumah sakit memiliki beberapa potensi bencana baik bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, serta bencana yang diakibatkan oleh ulah manusia seperti kecelakaan lalu lintas. Semenjak 2011 rumah sakit secara rutin melakukan simulasi kebencanaan, serta mengumpulkan staf yang sesuai dengan kriteria untuk menjadi suatu tim tanggap bencana yang siap untuk diterjukan ke dalam medan apabila terjadi bencana. Hingga sekarang masih terus melakukan pengembangan untuk menjadi rumah sakit yang lebih baik serta ramah bencana.

Pembicara terakhir adalah Dr. Mark Leong yang merupakan Senior Consultant Department of Emergency Medicine, Singapore General Hospital membahas tentang Safe Hospital for Emergency Medicine and Disaster – Implementation Safe Hospiral in Singapore. Kita ketahui bahwa Asia merupakan daerah yang memiliki tingkat kejadian bencana alam paling tinggi dibandingkan dengan daerah lain dari tahun ke tahun. Semenjak 2004 banyak korban meninggal akibat dari bencana alam, seperti gempa bumi, banjir, serta angin topan. Standar JCI untuk akreditasi rumah sakit tahun 2013 yaitu terdapat poin tentang kesiapsiagaan terhadap bencana. Safe hospital diperlukan dalam suatu rumah sakit karena untuk melindungi kepentingan dari pemangku kepentingan, reputasi, serta aktivitas yang menimbulkan penilaian.

MATERI

pdfProblem & Future Plan for Safe Hospital in Indonesia

pdfImplementation Safe Hospital in Indonesia

pdfImplementation Save Hospital in Singapore

 

{/tabs}

WEBINAR SERIES : MELAWAN LUPA: GEMPA PADANG

WEBINAR SERIES :

MELAWAN LUPA: GEMPA PADANG

{tab TOR}

PENGANTAR

Warga di Sumatera Barat tidak akan pernah bisa melupakan kejadian yang terjadi pada tanggal 30 September 2009. Gempa dengan kekuatan 7,6 SR meluluhlantakkan sebagian besar daerah dari Provinsi Sumatera Barat. Banyak korban berjatuhan yang meninggal maupun luka-luka, rumah rusak dari ringan sampai berat. Kenangan pahit tersebut tidak hanya cukup untuk diceritakan secara lisan, dan pemerintah Kota Padang pun mendirikan Monumen Gempa untuk mengenangnya.

Monumen dan museum hanya sebuah hal fisik untuk mengenang, namun selain itu kita perlu untuk mencermati lagi bagaimana peristiwa itu terjadi dan penanggulangannya. Peristiwa tersebut dapat dipergunakan sebagai suatu acuan untuk kedepannya apabila terjadi lagi kejadian yang serupa. Karena diketahui bahwa Indonesia merupakan suatu negara yang memiliki potensi bencana yang tinggi dan salah satunya adalah gempa bumi.

Webinar series untuk bulan Agustus dari Divisi Manajemen Bencana mengambil tema tentang Melawan Lupa Gempa Padang. Salah satu tim medis dari Yogyakarta yang terjun langsung dalam bencana tersebut adalah dr. Bella Donna yang dapat menceritakan suasana dan kegiatan yang telah dilaksanakan. Selain itu sharing akan diberikan oleh Dinas Kesehatan Padang dalam penanggulangan bencana gempa tahun 2009.

tujuanTUJUAN

Untuk sharing pengalaman dan menambah wawasan mengenai pembelajaran penanggulangan bencana yang pernah terjadi di Indonesia.

placeTEMPAT, WAKTU DAN TANGGAL PELAKSANAAN

Kegiatan ini akan dilaksanakan pada :

Hari, Tanggal : Selasa, 29 Agustus 2017
Waktu : 13.00 – 15.00
Tempat : Lab Leadership Lt.3 Fakultas Kedokteran UGM
Judul : Melawan lupa: Gempa Padang
Pembicara

: dr. Bella Donna, M.Kes
(Kepala Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM) Dinas Kesehatan Padang

Indraveri, M.Kes
(BPBD Provinsi Sumatera Barat)

Moderator : Madelina Ariani, SKM, MPH
(Peneliti PKMK FK UGM)

Registration URL: https://attendee.gotowebinar.com/register/4273444740288804353
Webinar ID: 243-155-155

analytics, audience, presentation, training icon PESERTA YANG DIHARAPKAN

  • Kementerian Kesehatan (Pusat Krisis Kesehatan)
  • BNPB
  • BPBD
  • Dinas Kesehatan
  • Rumah Sakit
  • Fakultas Kedokteran, Kesehatan, dan Keperawatan
  • Group EMT Indonesia
  • Mahasiswa
  • Peneliti
  • LSM
  • Dsb

agendaAGENDA ACARA

Waktu Materi Pembicara
13.00 – 13.15 Pembukaan Madelina Ariani, SKM, MPH
13.15 – 13.45 Penyampaian Materi dr. Bella Donna, M.Kes
13.45 – 14.15 Penyampaian Materi Indraveri, M.Kes
14.15 – 14.45 Diskusi
14.45 – 15.00 Penutup Madelina Ariani, SKM, MPH

agreement, arrangement, document, register, registration, sign, write icon PENDAFTARAN DAN INFORMASI

Lelyana
Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK UGM
Mobile : 081329760006
Ph : 0274-549425
Fax : 0274-549424

{tab Reportase}

Divisi Manajemen Bencana, Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK UGM menyelenggarakan kegiatan webinar series Melawan Lupa Gempa Padang yang berkuatan 7,6 SR pada 30 September 2009. Webinar ini berlangsung di laboratorium leadership, Fakultas Kedokteran UGM.

webinar gempa padang

Moderator dalam webinar kali ini ada Madelina Ariani, MPH yang merupakan salah satu peneliti dari Divisi Manajemen Bencana FK UGM dan aktif dalam kegiatan kebencanaan sejak 2013. Sebelum masuk pada materi, Madelina menyapa para peserta webinar dan dua pembicara pada webinar kali ini. Pembicara pertama dr. Bella Donna., M.Kes yang merupakan Kepala Divisi Manajemen Bencana FK UGM serta bertugas menjadi liaison officer saat Gempa Padang terjadi. Pembicara kedua, Indraveri, M.Kes dari BPBD Provinsi Sumatra Barat yang pada saat terjadi Gempa Padang masih bertugas di Dinas Kesehatan Provinsi Sumatra Barat pada bagian kebencanaan. Kedua pembicara akan menceritakan pengalamannya selama ikut serta dalam penanganan bencana Gempa Padang.

Indraveri menceritakan pengalamannya saat bertugas di RSUP Dr. M. Jamil Padang yang dijadikan untuk menampung para jenazah dari korban gempa, tercatat korban meninggal sebanyak 1.117 orang. Bidang Pelayanan Kesehatan dari Dinas Kesehatan Sumatera Barat turun langsung dalam masa tanggap darurat selama 14 hari. Menurut Indraveri korban meninggal banyak disebabkan karena korban tertimbun bangunan yang runtuh akibat gempa. Dinas Kesehatan Sumatra Barat melakukan manajemen penanganan bencana baik korban dan relawan yang datang untuk membantu di setiap rumah sakit. Dinas Kesehatan Sumatra Barat juga melakukan patroli keliling melihat kondisi bangunan dikota dan warga yang panik karena kehilangan keluarganya.

Bella Donna menceritakan bahwa tim dari Yogyakarta yang terdiri dari dua instansi yaotu RSUP Dr. Sardjito dan PKMK UGM melakukan koordinasi untuk berangkat menuju Padang. Bella menerima tugas untuk membawa genset untuk bantuan di Padang yang dibawa menggunakan pesawat khusus untuk membawa bantuan dan relawan. Saat tiba di lokasi, tim langsung melapor ke dinas kesehatan dan mendapatkan pembagian tugas menuju Padang Pariaman. Tim dari Yogyakarta sempat melihat kondisi RSUP Dr. M. Jamil Padang namun karena banyak relawan yang telah membantu disana Tim memutuskan untuk langsung berangkat ke Padang Pariaman.

Menurut Bella Donna, pada 2009 itu Divisi Bencana, PKMK FK UGM masih belajar dalam melakukan penanganan bencana belajar pengalaman gempa dan tsunami aceh serta gempa dan erupsi merapi di Yogyakarta. Manajemen bencana pada saat itu mungkin belum sebaik saat ini tetapi dengan pengalaman yang ada kekacauan masih bisa diatasi. Masalah manajemen bencana yang terjadi saat itu seperti manajemen relawan yang datang ke Padang untuk membantu. Indraveri juga menambahkan bahwa selain manajemen relawan masalah yang timbul juga manajemen bantuan yang datang saat itu karena banyaknya bantuan yang datang di Dinas Kesehatan Sumatra Barat serta belum adanya sistem komando dalam penanganan bencana.

Saat Gempa Padang, Tim dari Yogyakarta menerapkan Disaster Management yang terdiri dari Management Support dan Manajemen Medis. Bella Donna sebagai Liaison Officer saat itu mencoba untuk membagi penugasan relawan yang datang agar lebih efektif dan menyarankan relawan datang ke Dinas Kesehatan terkait untuk mengetahui data daerah yang membutuhkan. Menurut Indraveri, Dinas Kesehatan Sumatra Barat melakukan pembagian tugas kepada Kepala Bidang terkait untuk menangani korban dan bantuan logistik yang datang. Pembelajaran dari Gempa Padang menurut kedua pembicara adalah perlunya peningkatan dalam manajemen penanganan bencana yang terdiri dari koordinasi, manajemen relawan dan manajemen medik.

Reporter:

Intan Anatasia N.P.,M.Sc.Apt.

{/tabs}

TOR BIMBINGAN TEKNIS PENYUSUNAN PERENCANAAN PENANGANAN BENCANA DI RUMAH SAKIT

 BIMBINGAN TEKNIS PENYUSUNAN PERENCANAAN PENANGANAN BENCANA DI RUMAH SAKIT

(HOSPITAL DISASTER PLAN)

 

Diselenggarakan oleh
PUSAT KEBIJAKAN DAN MANAJEMEN KESEHATAN (PKMK)
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS GADJAH MADA

Yogyakarta, 12-14 September 2017


 

{tab TOR}

 

PENGANTAR

Banyaknya korban yang membanjiri rumah sakit saat terjadi bencana harus dapat segera diantisipasi, sehingga rumah sakit sebagai tempat rujukan bagi korban bencana harus mampu menjadi tempat yang aman dan layak untuk para pasien. Rumah sakit dalam hal ini memegang peranan utama dalam kesiapan penanganan bencana dan dalam menangani korban bencana. Dua hal pokok yang harus dapat dilakukan oleh rumah sakit agar siap menghadapi bencana adalah dukungan kemampuan tehnis medis (Medical Support) dan dukungan kemampuan manajerial (Management Support).

Begitu penting rencana penanggulangan bencana bagi rumah sakit ini didukung oleh adanya Undang-undang RI No.44 Tahun 2009 tentang rumah sakit, khususnya pada pasal 29 yang salah satu poinnya berbunyi bahwa “Rumah sakit mempunyai Kewajiban memiliki sistem pencegahan kecelakaan dan penanggulangan bencana”. Selain itu, dalam Pembahasan Akreditasi Rumah sakit tahun 2012 pada elemen penilaian akreditasi pada Standar Manajemen Fasilitas dan Keselamatan (MFK) mengenai Kesiapan menghadapi bencana pada Standar MFK 6 yang berbunyi “Rumah Sakit membuat rencana manajemen kedaruratan dan program penanganan kedaruratan komunitas, wabah dan bencana baik bencana alam atau bencana lainnya”. Salah satu elemen penilaian MFK 6 adalah rumah sakit telah mengidentifikasi bencana internal dan eksternal yang besar, seperti keadaaan darurat di masyarakat, wabah, dan bencana alam atau bencana lainnya serta kajadian wabah yang bisa menyebabkan terjadinya risiko yang signifikan.

Penanganan bencana dalam hal ini dituangkan dalam hospital disaster plan (HDP). Hospital Disaster Plan atau Rencana Penanganan Bencana di Rumah Sakit merupakan salah satu bentuk kesiapan rumah sakit yang disusun dalam bentuk suatu dokumen yang berisikan rencana tindakan yang akan dilakukan, siapa yang akan melakukan, apa yang diperlukan, dan dengan cara bagaimana semuanya tersebut dilakukan dalam menghadapi bencana yang terjadi baik itu bencana internal maupun bencana eksternal. Karena itu diharapkan setiap rumah sakit mempunyai Rencana Penanganan Bencana di Rumah Sakit (Hospital Disaster Plan) yang sesuai dengan rumah sakit nya sendiri (Tailor Made). Hasil akhir yang didapat adalah Rumah Sakit memiliki Rencana Penanganan Bencana yang operasional, tidak hanya sekedar dokumen.

 

tujuanTUJUAN

Adapun tujuan dari kegiatan Workshop Hospital Disaster Plan ini dilakukan adalah:

  1. Peserta memahami bahwa Rencana Penanggulangan Bencana di Rumah Sakit (HDP) berbeda di tiap rumah sakit
  2. Peserta mampu memahami penyusunan HDP berdasarkan template yang ada
  3. Peserta mampu membuat Plan of Action atau POA tentang penanganan bencana

analytics, audience, presentation, training icon Proses Kegiatan

Pada tahap pelaksanaan, dibagi dalam 3 hari pertemuan, yaitu:

  1. Pertemuan hari pertama
    Para Narasumber akan langsung memberikan materi terhadap peserta dengan pengenalan awal mengenai HDP.
  2. Pertemuan hari kedua
    Para narasumber dan fasilitator akan memberikan materi serta mendampingi peserta dalam penugasan
  3. Pertemuan hari ketiga
    Para peserta akan mempersentasikan hasil dari penugasan dan melakukan kunjungan lapangan ke Rumah Sakit yang telah memiliki dokumen Hospital Disaster Plan.

Yang Perlu dipersiapkan oleh peserta:

Pengetahuan mengenai rumah sakitnya, seperti profil rumah sakit, peta (map) rumah sakit, termasuk peta wilayah kerja.

 

Output Kegiatan

Setelah melalui proses Workshop maka peserta akan mampu merencanakan penyusunan HDP di rumah sakit masing-masing.

 

analytics, audience, presentation, training icon  PESERTA

  1. Direksi Rumah Sakit
  2. Tim Penyusun Hospital Disaster Plan
  3. Kepala Bidang/Bagian
  4. Staff Rumah Sakit

Tenaga Konsultan dan Asisten Konsultan

  1. dr. Hendro Wartatmo, Sp.B-KBD
  2. dr. Handoyo Pramusinto, Sp.B
  3. dr. Sulanto Saleh Danu, Sp.FK
  4. dr. Bella Donna, M.Kes
  5. Sutono, S.Kp, M.Sc., M.Kep.
  6. Madelina Ariani, SKM, MPH
  7. Intan Anatasia, S.Farm, MSc. Apt
  8. Wisnu Damarsasi Ragil Putra, S.Kep., MPH.

 

agendaJadwal dan Materi           

Hari/Tanggal : Selasa-Kamis, 12-14 September 2017
Tempat : Yogyakarta
Hari Pertama ( Selasa, 12 September 2017)
Waktu Materi/Kegiatan Narasumber/ Fasilitator
14.00 – 15.00 Registrasi Ulang dan Check In Hotel Panitia
15.00 – 15.30 Pembukaan: Pembagian Kelompok, Pre Test & Coffee Break PKMK FK UGM

15.30 – 16.30

16.30 – 17.00

Materi 1: Strategi Penyiapan HDP di RS

Diskusi

PERSI YOGYAKARTA
17.00 – 19. 00 Istirahat Sore dan Dinner  

19.00 – 20.00

20.00 – 20.30

Materi 2:Overview Hospital Disaster Plan

Diskusi

dr. Hendro Wartatmo, Sp.B-KBD
Hari Kedua ( Rabu, 13 September 2017)
Waktu Materi/Kegiatan Narasumber/ Fasilitator
08.00 – 08.30 Photo Session Panitia

08.30 – 09.30

09.30 – 10.00

Materi 3: Pengorganisasian

Diskusi dan Penugasan

dr.Handoyo Pramusinto, Sp.BS.

Wisnu Damarsasi Ragil Putra, S.Kep.,MPH.

10.00 – 10.15 Coffee Break  

10.15 – 11.15

11.15 – 12.00

Materi 4: Analisis Risiko dan Pemetaan Hazard Mapping

Diskusi dan Penugasan

dr. Bella Donna, M.Kes

Madelina Ariani, SKM.,MPH.

12.00 – 13.00 Ishoma (Lunch)  

13.00 – 14. 00

14.00 – 14.30

Materi 5: Logistik Medik dan Fasilitas

Diskusi dan Penugasan

dr. Sulanto Saleh Danu, Sp.FK

Intan Anatasia N.P.,M.Sc. Apt.

14.30 – 15.30

15.30 – 16.00

Materi 6: Komponen HDP

Diskusi dan Penugasan

dr. Bella Donna, M.Kes

Madelina Ariani, SKM.,MPH.

16.00 – 16.15 Coffee Break  
16.15 – 17.00 Materi 7 : Penyusunan draft Hospital Disaster Plan Tim PKMK FK UGM
17.00 – 19.00 Istirahat Sore dan Dinner  
19.00 – 20.30 Materi 8: Penyusunan SOP Tim PKMK FK UGM
Hari Ketiga (Rabu, 14 September 2017)
Waktu Materi/Kegiatan Narasumber/ Fasilitator
08.00 – 10.30 Presentasi Kelompok dan Diskusi Peserta
10.30 – 11.00 Coffee Break  
11.00 – 11.30 Penutupan: Review, Plan Of Action dan Post Test Panitia
11.30 – 12.30 Ishoma (Lunch)  
13.00 – 15.00 Field Visit ke Rumah Sakit  
15.00 – 17.00 Wisata Oleh-oleh  

 

Investasi

Paket I : Rp. 3.850.000,- (tidak menginap)

Paket II : Rp. 4.750.000,- ( Paket Menginap Twin Bed)

Paket III: Rp. 5.250.000,- (Paket Menginap Single Bed)

Diskon Rp 500.000,- untuk biaya investasi jika melakukan pendaftaran dan pembayaran sebelum tanggal 30 Juli 2017

Biaya pendaftaran dapat di transfer melalui Bank BNI UGM Yogyakarta No. Rekening 0203024192 atas nama Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM.

*) Biaya investasi telah mencakup handout materi, flashdisk, foto kegiatan, sertifikat dan konsumsi selama pelatihan

 

agreement, arrangement, document, register, registration, sign, write icon Informasi Pendaftaran

Intan Anatasia / Dewi Catur
Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
Gedung IKM (sayap utara) Lt. 2
Fakultas Kedokteran UGM
Jl. Farmako Sekip Utara Yogyakarta 55281
Telp     : 0274 – 549425
HP       : 087838679382/intan, 0818263653/dewi
Email    : [email protected]/[email protected]
Website Bencana Kesehatan: www.bencana-kesehatan.net

 

{tab Reportase H1}

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK UGM mengadakan kegiatan bimbingan teknis penyusunan perencanaan penanganan bencana di rumah sakit. Acara ini berlangsung di Hhotel Grand Ambarrukmo, Yogyakarta. Kegiatan bimbingan teknis dibuka oleh dr. Bella Donna. M.Kes selaku Kepala Divisi Bencana Kesehatan, Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK UGM.

bimtek hdp 1

Sebelum masuk pada materi pertama, para peserta memperkenalkan diri dan melakukan pre-test terlebih dahulu untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan peserta terkait penyusunan perencanaan penanganan bencana di rumah sakit. Materia pertama dalam pelatihan ini disampaikan oleh Susy Runtiawati, SE, MM mengenai “Strategi Penyiapan Hospital Disaster Plan di Rumah Sakit” yang merupakan perwakilan dari PERSI Yogyakarta. Susy menyampaikan bahwa setiap rumah sakit memiliki peran penting dalam penanganan kejadian bencana, tujuan dari penyiapan HDP di Rumah Sakit adalah menurunkan angka kematian dan kecacatan akibat bencana, musibah massal, dan kejadian luar biasa (KLB) baik di dalam maupun di luar rumah sakit. Sementara itu, peran rumah sakit dalam menghadapi bencana memastikan kemampuan diantaranya: menyediakan surge capacity & surge capability, melakukan evakuasi sekunder (rujukan ke RS lain), menyediakan obat dan BMHP, integritas infrastruktur, kekuatan infrastruktur, staf terlatih, kesiapan rencana penanggulangan bencana (Hospital Disaster Plan) dan menjamin RS dapat berfungsi saat bencana.

bimtek hdp 2

Hal – hal yang perlu disiapkan dalam pembuatan HDP di rumah sakit antara lain : garis besar Hospital Disaster Plan, sosialisasi – sosialisasi dan pelatihan HDP ke satuan kerja di dalam rumah sakit, tim Hospital Disaster Plan, tim brigade siaga kebakaran, sistem komando dalam keadaan bencana, ketua tim bencana (incident comandor), fungsi PJ pasien, PJ gedung, serta PJ aset. Pada sesi diskusi banyak juga peserta yang bertanya diantaranya mengenai pentingnya HDP di rumah sakit, conflict of interest pada saat bencana, perencanaan anggaran dan terkait SPO penanganan bencana di setiap unit di rumah sakit serta siapa yang menyusun SPO tersebut.

Pada materi kedua mengenai “Overview Hospital Disaster Plan” disampaikan oleh dr. Hendro Wartatmo, Sp.B-KBD. Hendro menjelaskan pentingnya HDP yang merupakan perencanaan action atau response rumah sakit menghadapi situasi krisis, khususnya pada situasi bencana, yang mana untuk pembuatan materi HDP setiap unit harus dibuatkan protap, yang terdiri dari: command, safety, communication, assessment yang merupakan bagian dari management support; kemudian triage, treatment dan transfer yang merupakan bagian dari medical support.

Doc.PKMK FK UGM. dr.Hendro Wartatmo, SpB.KBD saat Menyampaikan Materi

Hospital Disaster Plan sangat penting dimiliki oleh setiap rumah sakit, mengingat rumah sakit sebagai tempat rujukan bagi korban bencana, sehingga harus mampu menjadi tempat yang aman dan layak untuk para pasien. HDP dibuat oleh setiap rumah sakit yang mengacu pada pedoman yang dipilih sendiri oleh rumah sakit yang terakredited agar mampu dan siap dalam penanganan bencana serta menangani korban bencana. Pada sesi diskusi banyak juga peserta yang bertanya mengenai assessment, posisi KARS dalam HDP, kriteria mengaktifkan pin bencana, perbedaan HDP dan emergency respons plan.

Reporter:

Nilasari., SKM, MPH

 

{tab Reportase H2}

Senyum ceria dari para peserta dan tim PKMK FK UGM ketika photo session menandai dimulainya kegiatan bimbingan teknis penyusunan perencanaan penangganan bencana di rumah sakit hari kedua. Kegiatan dilanjutkan dengan review materi dan pertanyaan dari peserta yang belum terjawab pada hari sebelumnya oleh dr. Bella Donna, M.Kes dan Madelina Ariani, MPH. Peserta pelatihan dibagi menjadi 4 kelompok yang nantinya akan mendiskusikan kasus-kasus di rumah sakit terkait materi yang akan disampaikan pada hari kedua.

Dok. PKMK FK UGM.  Para peserta pelatihan dan fasilitator bimbingan teknis penyusunan perencanaan penanganan bencana di rumah sakit (Hospital Disaster Plan)

dr. Bella Donna, M. Kes mengawali pemaparan materi pertama terkait “Analisis Risiko Bencana dan Krisis Kesehatan di Rumah Sakit” yang mencakup apa itu analisis risiko, bagaimana cara melakukan analisis risiko dan mengapa analisis risiko penting dilakukan di rumah sakit. Peserta sangat antusias dengan langsung bertanya dan sharing terkait materi yang disampaikan. Peserta pelatihan yang telah dibagi menjadi empat kelompok kemudian diberi tugas untuk mendiskusikan analisis risiko bencana yang dapat terjadi pada masing-masing rumah sakit. Kemudian kelompok tersebut memaparkan hasil penugasannya.

Dok. PKMK FK UGM. dr. Bella Donna, M. Kes menyampaikan materi dan sesi diskusi dengan peserta 

Peserta pelatihan diperkenalkan dengan teknologi webinar untuk memenuhi kebutuhan komunikasi yang efektif dan efesien. PKMK FK UGM dalam kegiatan penyebaran ilmu pengetahuan menggunakan blended learning dan GoToWebinarTM dipilih untuk mendukung proses pembelajaran dengan metode blended learning. GoToWebinarTM memungkinkan interaksi pembelajaran antara narasumber dengan peserta dalam waktu yang sama walaupun terpisah oleh jarak. GoToWebinarTM sangat mudah didownload dan digunakan.

Materi Kedua terkait logistik medik dan fasilitas yang disampaikan oleh dr. Sulanto Saleh Danu, Sp.FK. Sulanto memaparkan upaya yang harus disiapkan rumah sakit pada saat menghadapi bencana adalah mempersiapkan dan mawas diri. Bencana merupakan kejadian yang tidak dapat diduga, dapat menimpa siapa saja, apa saja, kapan saja dan dimana saja. Setiap rumah sakit memerlukan dukungan logistik (medik maupun non-medik) yang sesuai dan mencukupi kebutuhan kegiatannya baik dalam situasi normal maupun bencana. Di lain sisi, fasilitas di rumah sakit juga perlu diperhatikan. Fasilitas ini seperti pos komando, pusat informasi, humas, pos relawan, media, triage IGD, kamar isolasi, bangsal, kamar mayat dan fasilitas penunjang berupa listrik, air bersih, gas medik, bensin, sistem komunikasi, plastik, sampah, udara dan ventilasi, ambulans. Di akhir sesi materi yang kedua ini banyak peserta yang antusias bertanya dan berdiskusi serta saling bertukar pikiran untuk menyelesaikan tugas yang diberikan terkait materi logistik medik dan fasilitas.

Dok. PKMK FK UGM.  dr. Sulanto Saleh Danu, Sp.FK menyampaikan materi dan sesi diskusi dengan peserta

Materi ketiga mengenai “Komponen Hospital Disaster Plan” disampaikan oleh dr. Bella Donna, M. Kes. Bella menjelaskan manajemen fasilitas keselamatan (MFK) terkait Hospital Disaster Plan (HDP) dalam akreditasi rumah sakit adalah MFK 6 untuk melakukan kesiapan menghadapi bencana dan MFK 7 untuk pengamanan kebakaran. Selain itu, Bella menjelaskan beberapa komponen dalam dokumen HDP.

Dok. PKMK FK UGM.  dr. Bella Donna, M. Kes menyampaikan materi Komponen Hospital Disaster Plan (HDP)

Selanjutnya pembicara keempat adalah dr. Handoyo Pramusinto, Sp.BS (K), yang juga ketua pokja bencana Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Kekacauan tidak dapat dicegah pada fase awal kejadian bencana. Dalam setiap rencana penanggulangan bencana, tujuan utamanya adalah bagaimana kekacauan tersebut dapat ditekan sependek mungkin sehingga diperlukan adanya pengorganisasian. Konsep pengorganisasian kebencanaan di rumah sakit berupa organisasi harus sederhana dan jelas, dapat dimobilisasi dalam waktu yang singkat, tidak ada pembentukan organisasi baru tetapi pengembangan organisasi yang ada dan pastikan layanan rumah sakit tetap berjalan. Selain itu, Handoyo menekankan bagan organisasi yang berhubungan dengan hospital disaster plan harus ada komandan penanggulangan bencana, sekretariat, keselamatan dan keamanan, operasional, perencanaan, logistik dan administrasi atau keuangan. Pada sesi diskusi banyak peserta yang bertanya mengenai posisi kesehatan dan keselamatan kerja (K3) dalam organisasi terkait hospital disaster plan dan semua jawaban dapat diterima dan diserap dengan baik oleh peserta.

Dok. PKMK FK UGM.  dr. Handoyo Pramusinto, Sp.BS (K) menyampaikan materi dan sesi diskusi dengan peserta

 

Materi kelima mengenai penyusunan draft Hospital Disaster Plan disampaikan oleh dr. Bella Donna, M.Kes dan Madelina Ariani, SKM., MPH. Tingginya antusias peserta karena pada materi ini peserta diarahkan secara langsung bagaimana menyusun draft Hospital Disaster Plan sesuai dengan rumah sakit. Kedua pemateri menjelaskan urutan bagian-bagian yang ada dalam dokumen Hospital Disaster Plan serta beberapa SOP yang diperlukan.

Reporter: Muhamad Syarifuddin, SKM, MPH

 

{tab Reportase H3}

 Dalam penyusunan

{/tabs}