TOR Workshop Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana dan Krisis Bidang Kesehatan di Daerah

Term of Reference (TOR)

Workshop Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana dan Krisis Bidang Kesehatan di Daerah

(District Health Disaster Plan)

Diselenggarakan oleh:
PUSAT KEBIJAKAN DAN MANAJEMEN KESEHATAN (PKMK)
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS GADJAH MADA

 23-24 Oktober 2017
University Club Hotel Yogyakarta


PENGANTAR

Lebih dari 75 persen wilayah Indonesia memiliki Indeks Risiko bencana tinggi (IRBI, 2013). Ditambah lagi tantangan penyebaran penyakit menular (wabah, epidemi) dan perkembangan penyakit tidak menular (Diabetes Mellitus, Hipertensi/Stroke, kecelakaan lalu lintas, penanganan kegawatdaruratan) mempengaruhi ketahanan kita dibidang kesehatan. Kejadian-kejadian massa di daerah (konser musik, arus mudik dan balik lebaran serta tahun baru) juga bisa menimbulkan dampak kecelakaan/ kegawatdaruratan massal. Hal-hal tersebut diatas hanya sebagai pemberat dari kondisi bencana alam (natural disaster) yang ada di Indonesia (gempa, tsunami, longsor).

Berdasarkan wawasan tersebut maka dapat dijadikan dasar bagi bidang kesehatan untuk lebih sadar untuk mempersiapkan diri dalam penanggulangan bencana di daerah. Dinas kesehatan sebagai koordinator di daerah harus memiliki rencana penanggulangan bencana dalam bentuk dokumen yang didalamnya tertuang jenis tantangan krisis kesehatan yang akan dihadapi serta kebijakan-kebijakan di daerah. Sistem kegawatdaruratan dan komunikasi, SDM, logistik, penentuan fasilitas, penganggaran hingga jejaring merupakan urusan sektor kesehatan di daerah.

Selain itu, bagaimana dinas kesehatan berperan dalam upaya mendorong dan mensosialisasikan Hospital Disaster Plan bagi Rumah Sakit Umum dan Swasta di wilayah kerjanya, termasuk juga untuk penanggulangan bencana di tingkat puskesmas, juga integrasi antara sistem SPGDT yang ada dengan sistem pada saat bencana.

Bagaimana upaya penyusunan dokumen tersebut dan apa saja komponen-komponen serta indikatornya. Siapa saja yang akan terlibat dalam penyusunan perencanaan tersebut, hingga sharing pengalaman dalam mengembangkan District Health Disaster Plan (DHDP) ini akan kita bahas pada workshop dua hari ini.

tujuanTUJUAN

Workshop ini bertujuan untuk mendorong daerah (Dinas Kesehatan) dalam menyusun rencana penanggulangan bencana dan krisis kesehatan di daerah.

 

analytics, audience, presentation, training icon  PESERTA

  1. Dinas Kesehatan Provinsi
  2. Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota
  3. Pusat Krisis Kesehatan Regional
  4. Perguruan Tinggi
  5. Peneliti

Yang Perlu disiapkan oleh Instansi

Profil Dinas Kesehatan dengan struktur organisasi SOTK terbaru.

 

agendaJadwal dan Materi

Hari/Tanggal : Senin-Selasa, 23-24 Oktober 2017
Tempat : University Club Hotel Yogyakarta
( Senin, 23 Oktober 2017)
Waktu Materi/Kegiatan Narasumber/ Fasilitator
08.30 – 09.00 Registrasi Ulang Panitia
09.00 – 09.30

Pengantar

Pembukaan

Wisnu Damarsasi,MPH

Dr Bella Donna MKes

09.30 – 10.15

10.15 – 11.00

Materi 1: Kerangka Konsep Penanggulangan Bencana Bidang Kesehatan

Worksheet Disaster Logic Model

dr. Hendro Wartatmo, SpB.KBD

Fasilitator:

Madelina Ariani, SKM, MPH.

11.00 – 11.15 Coffee Break Panitia
11.15 – 12. 00 Materi 2: Analisis Risiko dr. Bella Donna, M.Kes
12.00 – 13.00 ISHOMA Panitia

13.00 – 13. 45

Worksheet Penentuan prioritas risiko

Fasilitator:

Wisnu Damarsasi, MPH

13.45 – 14.45

14.45 – 15.30

Materi 3: Penyusunan Struktur Organisasi

Worksheet Menyusun pengorganisasian

dr. Handoyo Pramusinto,   Sp.BS.

Fasilitator:

dr. Bella Donna, M.Kes

Madelina Ariani, SKM,MPH

15.30 – 15.45 Coffee Break dan Istirahat  
( Selasa, 24 Oktober 2017)
Waktu Materi/Kegiatan Narasumber/ Fasilitator

09.00 – 09.45

09.45 – 10.15

Materi 4: SOP dan Fasilitas

Worksheet Penentuan Fasilitas

dr. Bella Donna,M.Kes

Fasilitator:

Intan Anatasia N.P.,M.Sc.,Apt.

Wisnu Damarsasi, MPH

10.15 – 10.30 Coffee Break Panitia

10.30 – 11.15

11.15 – 12.00

Materi 5: Komponen DHDP

Worksheet Penyusunan draft disaster plan

Madelina Ariani, SKM, MPH

Fasilitator:

Intan Anatasia N.P., M.Sc. Apt

12.00 – 13.00 ISHOMA Panitia
13.00 – 14.30 Presentasi : disaster plan dinas Tim PKMK UGM                                  
14.30 – 14.45 Coffee Break Panitia
14.45 – 15.15 Rencana Tindak Lanjut Madelina Ariani, SKM, MPH
15.15 – 15.30 Penutupan  

Investasi

Perseorangan:

  • Rp 1.750.000 -/orang (paket menginap)
  • Rp 1.250.000 -/orang (paket tanpa menginap)

Registrasi terakhir tanggal 10 September 2017 atau setelah peserta mencapai jumlah maksimal 30 orang.

Biaya pendaftaran dapat di transfer melalui Bank BNI UGM Yogyakarta No. Rekening 0203024192 atas nama Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM.

agreement, arrangement, document, register, registration, sign, write icon Informasi Pendaftaran

Intan Anatasia / Dewi Catur
Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
Gedung IKM (sayap utara) Lt. 2
Fakultas Kedokteran UGM
Jl. Farmako Sekip Utara Yogyakarta 55281
Telp     : 0274 – 549425
HP       : 087838679382/intan, 0818263653/dewi
Email    : [email protected]/[email protected]
Website Bencana Kesehatan: www.bencana-kesehatan.net

Asia Pacific Symposium on Critical Care and Emergency Medicine

Asia Pacific Symposium on Critical Care and Emergency Medicine ke-24 yang akan diselenggarakan pada tanggal 3-5 Agustus 2017. Ini merupakan event internasional tahunan yang diikuti oleh peserta dari berbagai multidisplin dari berbagai negara seperti: Indonesia, Korea, Australia, Cina, Hongkong, India, dan banyak lagi. Pada tahun ini tema yang diangkat adalah Multispeciality Approach to the Acutely ill Patient. Dalam simposium tersebut juga diselenggarakan Pre Symposium pada tanggal 1-2 Agustus 2017 dan Post Symposium pada 5-6 Agustus 2017. Peneliti dari PKMK FK UGM berkesempatan untuk mengikuti kegiatan ini dan Prof. Laksono Trisnantoro, M.Sc, PhD terlibat dalam kegiatan tersebut sebagai moderator. Penjelasan lengkapnya Klik Disini

Pemaparan Hasil Sementara Penelitian Kesiapsiagaan Fasilitas Kesehatan dalam Menghadapi Arus Mudik Tahun 2017

Kerangka Acuan Kegiatan

Pemaparan Hasil Sementara Penelitian Kesiapsiagaan

Fasilitas Kesehatan dalam Menghadapi Arus Mudik Tahun 2017

PENGANTAR

Mudik merupakan rutinitas yang dilakukan sebagian besar orang di Indonesia ketika perayaan hari besar keagamaan, khususnya untuk masyarakat muslim dalam menghadapi lebaran setiap tahunnya. Lonjakan penumpang, moda transportasi, dan arus pemudik terjadi terutama pada H-10 hingga H+10 lebaran. Arus mudik dan arus balik seperti ini kerap menimbulkan permasalahan seperti kemacetan dan kecelakaan.

Sektor kesehatan memandang arus mudik sebagai kejadian mass gathering (berkumpulnya orang dalam jumlah yang banyak dalam satu waktu) yang dapat mengakibatkan mass causality, bisa menimbulkan kesakitan atau kematian. Untuk itu, sektor kesehatan perlu melakukan kesiapan dalam menghadapi arus mudik setiap tahunnya. Tujuannya untuk mengurangi angka kesakitan dan kematian yang ditimbulkan selama arus mudik.

Pusat Krisis Kesehatan, Kemenkes RI bekerjasama dengan Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK UGM melakukan penelitian untuk mengukur kesiapsiagaan fasilitas kesehatan dalam menghadapi arus mudik 2017 yang diselenggarakan di beberapa tempat di Jawa dan Sumatera. Pengambilan data telah dilakukan pada minggu ke-4 dan minggu ke-5 bulan Juni di 4 provinsi. Untuk itu akan dipaparkan hasil sementara temuan dari pengambilan data di 4 provinsi tersebut.

 

tujuanTUJUAN

Kegiatan ini bertujuan untuk:

  1. Memberikan pemahaman mengenai konsep kesiapsiagaan sektor kesehatan dalam menghadapi event tahunan seperti arus mudik
  2. Memberikan penjelasan mengenai penelitian ini
  3. Memaparkan hasil kesiapsiagaan daerah lokasi penelitian
  4. Memaparkan temuan yang terjadi di daerah lokasi penelitian

 

placeTEMPAT, WAKTU DAN TANGGAL PELAKSANAAN

Kegiatan dilaksakan di dua tempat secara webinar, Yogyakarta dan Jakarta.

Hari, Tanggal : Senin, 19 Juni 2017
Waktu : 09.00 – 12.00 WIB
Tempat        : Studio Mini Fakultas Kedokteran UGM (Host)
  Pusat Krisis Kesehatan, Kemenkes RI (Co Host)

Registration URL: https://attendee.gotowebinar.com/register/1486567591860090626
Webinar ID: 575-942-363

analytics, audience, presentation, training icon  PESERTA

  • Pusat Krisis Kesehatan, Kemenkes RI
  • PKMK FK UGM

agendaAGENDA ACARA

Waktu Kegiatan Keterangan
09.00 – 09.15 Pembukaan PKMK FK UGM
09.15 – 10.15

Presentasi Hasil Sementara
Kajian Arus Mudik 2017

Diskusi

dr. Bella Donna dan Madelina Ariani
10.15 – 10.45 Pembahas 1 Kapus PKK
10.45 – 11.15 Pembahas 2 Yankes Rujukan
11.15 – 11.45 Pembahas 3 Litbang
11.45 – 12.00 Penutup PKMK FK UGM

 

agreement, arrangement, document, register, registration, sign, write icon  PENDAFTARAN DAN INFORMASI

Lelyana
Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK UGM
Mobile           : 081329760006
Ph                : 0274-549425
Fax               : 0274-549424

WEBINAR SERIES : MELAWAN LUPA TSUNAMI DAN GEMPA ACEH

Kerangka Acuan Kegiatan

WEBINAR SERIES : MELAWAN LUPA TSUNAMI DAN GEMPA ACEH

{tab title=TOR class=”info” align=”justify”}

 

PENGANTAR

Pada tahun 2004, Aceh  dilanda bencana besar, yakni Tsunami dan gempa. Bencana yang terjadi pada 26 Desember 2004 ini menjadi salah satu bencana paling dahsyat yang pernah terjadi di Indonesia. Namun ingatan itu hanya sebatas ingatan pada bencananya saja. Sementara untuk waspada akan datangnya kembali bencana, kita lupa. Begitu bencana berlalu, sering kita menganggap musibah telah hilang. Kita mengabaikan bahwa bencana berpeluang besar untuk datang kembali.

Tidak ada salahnya untuk kita mengingat kembali kejadian dan mengambil pelajaran dari Tsunami dan Gempa Aceh. Dalam webinar series Melawan Lupa ini kita akan sharing mengenai pengalaman dr. Hendro Wartatmo yang bertugas sebagai tim medis relawan saat Tsunami dan Gempa Aceh tahun 2004. Dari sharing ini mungkin akan banyak masukan yang bisa didapatkan untuk perbaikan dalam penanggulangan bencana serupa kedepannya.

 

tujuanTUJUAN

Untuk sharing pengalaman dan menambah wawasan mengenai pembelajaran penanggulangan bencana yang pernah terjadi di Indonesia.
 

placeTEMPAT, WAKTU DAN TANGGAL PELAKSANAAN

Kegiatan ini akan dilaksanakan pada :

Hari, Tanggal : Kamis, 27 Juli 2017
Waktu : 13.00 – 15.00
Tempat        : Lab Leadership Lt.3 Fakultas Kedokteran UGM
Judul            : Melawan lupa: Tsunami dan Gempa Aceh
Pembicara        : dr. Hendro Wartatmo, SpB.KBD
Moderator : Sutono, S.Kep.,M.Sc

Registration URL: https://attendee.gotowebinar.com/register/1016992564583634945
Webinar ID: 520-494-219

analytics, audience, presentation, training icon  PESERTA YANG DIHARAPKAN

–    Kementerian Kesehatan (Pusat Krisis Kesehatan)
–    BNPB
–    BPBD
–    Dinas Kesehatan
–    Rumah Sakit
–    Fakultas Kedokteran, Kesehatan, dan Keperawatan
–    Group EMT Indonesia
–    Mahasiswa
–    Peneliti
–    LSM
–    Dsb

agendaAGENDA ACARA

Waktu Materi Pembicara
13.00 – 13.15 Pembukaan Sutono, S.Kep. M.Sc.
13.15 – 14.00 Penyampaian Materi dr. Hendro Wartatmo, SpB.KBD
14.00 – 14.45 Diskusi
14.45 – 15.00 Penutup Sutono, S.Kep.M.Sc.

 

{tab title=”Reportase” class=”danger” }

Webinar series Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM untuk bulan Juli 2017 mengambil tema Melawan Lupa Tsunami dan Gempa Aceh. Pemateri dari webinar tersebut adalah dr. Hendro Wartatmo, Sp.B-KBD yang terjun langsung pada saat terjadi bencana Tsunami dan Gempa Aceh Tahun 2004. Sementara untuk moderatornya adalah Sutono, S.Kp., M.Sc, M.Kep.

Webinar dimulai dengan pemateri yang menceritakan bagaimana persiapan yang dilakukan tim dari Yogyakarta setelah mendengar informasi tentang bencana yang terjadi di Aceh pada tahun 2004. Kegiatan dimulai dengan penggalangan dana dengan menghubungi beberapa kolega baik di RS Sardjito, Kemenkes, dll. Komunikasi selalu dilakukan dengan tim yang berada di Aceh untuk mengetahui update baik keadaan maupun kebutuhan yang diperlukan.

Pada saat sudah siap tim dari Yogyakarta untuk terbang ke Aceh, sempat mengalami kendala yakni penerbangangan tidak bisa dilakukan langsung ke Meulaboh karena kondisi yang tidak memungkinkan dimana semua fasilitas rusak termasuk bandara, penerbangan hanya bisa dilakukan sampai ke Kota Banda Aceh. Namun dinas dari Kota Medan memberikan bantuan dengan penginapan sementara berupa mess sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan. Esoknya mendapat informasi bahwa perjalanan dapat dilanjutkan dengan menumpang helikopter dari Singapura yang akan mengantar Menteri Sosial Periode 2004-2009 Bachtiar Chamsyah, karena perjalanan tidak dapat dilakukan menggunakan helikopter yang biasa. Sesampainya di Kota Meulaboh diketahui kondisi sangat parah, fasilitas kesehatan banyak yang rusak termasuk RS Teuku Umar Meulaboh.

Pada saat bencana tersebut, untuk wilayah Yogyakarta tidak ada komandan yang memerintahkan untuk tim berangkat ke Aceh, sementara di Aceh sendiri relawan yang datang mayoritas merupakan tim dari negara lain. Berdasarkan dari bencana tersebut maka pemerintah mulai berbenah dan pada saat terjadi bencana gempa di Kabupaten Pidie Jaya tahun 2016, relawan mayoritas tim lokal dari Indonesia. Tidak hanya itu, pemerintah juga melakukan perubahan setelah terjadinya bencana gempa di Yogyakarta pada tahun 2006 dengan dikeluarkannya UU No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, serta dibentuknya Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Relawan merupakan sesuatu yang sangat dibutuhkan pada saat terjadi bencana, namun relawan juga dapat menjadi pengganggu pada saat terjadi bencana apabila tidak melalui koordinasi. Untuk itu diperlukan suatu koordinasi baik fisik maupun non fisik agar relawan tersebut dapat dikendalikan dan tidak berjalan sendiri-sendiri. Oleh sebab itu jumlah SDMK bukan lah suatu hal yang penting karena tidak mungkin kekurangan, yang paling penting koordinasi dan hingga saat ini pemerintah masih berbenah.

Keamanan dan keselamatan diri seorang relawan merupakan hal yang penting, sehingga pada saat awal terjadi bencana gempa Aceh banyak relawan yang tidak berani terjun langsung karena selain bencana, di Aceh juga masih terjadi gencatan dari GAM. Untuk gelombang berikutnya maka seluruh relawan diberikan asuransi sebelum berangkat ke daerah bencana.

Tim kesehatan yang menjadi relawan sempat mengalami hal yang diluar rencana, karena terdapat anggota yang diculik oleh GAM. Namun telah disiapkan kepada tim medis tersebut agar bisa tetap netral, karena tujuan utama adalah memberikan pertolongan secara medis bagi korban bencana tersebut.

Perihal medikolegal yang terjadi pada bencana tersebut, maka bagi dokter asing tetap diperbolehkan untuk melakukan operasi kepada korban yang membutuhkan pertolongan, namun tetap harus didampingi dengan dokter dari Indonesia. Preparedness merupakan suatu hal yang penting untuk dipersiapkan dari awal, untuk itu perlu dibedakan antara level mahasiswa dan tim medis yang berada di fasilitas kesehatan. Untuk mahasiswa cukup dijelaskan mengenai pengetahuan sehingga memiliki gambaran apabila terjadi bencana, sementara untuk tim medis disiapkan baik skill dll karena akan diterjunkan langsung pada saat terjadi bencana.


Reporter: Wisnu Damarsasi

{/tabs}

WEBINAR SERIES : EMERGENCY MEDICAL TEAM

Kerangka Acuan Kegiatan

WEBINAR SERIES : EMERGENCY MEDICAL TEAM

PENGANTAR

Emergency Medical Team (EMT) atau tim medis reaksi cepat adalah sebuah unit yang bekerja dengan kriteria tertentu dan kapasitas standar minimal tertentu dari sebuah institusi pemerintah atau organisasi non-pemerintah yang  kerjanya dikoordinasikan oleh Kementerian Kesehatan RI sebagai koordinator klaster kesehatan nasional dan di bawah koordinasi sub-klaster pelayanan medis. Jejaring Emergency Medical Team Indonesia dibentuk untuk meningkatkan koordinasi sumber daya baik dari pemerintah, masyarakat, lembaga usaha serta organisasi internasional dan bantuan bilateral dalam penanganan medis dan kesehatan masyarakat  yang efektif, efisien dan akuntabel saat penanganan bencana.

EMT akhirnya tidak hanya ditujukan sebagai kesiapsiagaan respon bencana saja, bagaimana kecepatan pengiriman tim atau hal lainnya. Nyatanya, saat ini misalnya, dengan adanya kebijakan mengenai SPGDT (Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu) dan PSC (Public Service Center) maka EMT berperan penting sebagai aspek dari SDM kesehatan yang kompeten untuk penyelenggaraan dua kebijakan tersebut. Kita sangat berharap, bahwa kedepannya, seluruh wilayah Indonesia mulai dari tingkat kabupaten, provinsi, dan nasional memiliki EMT yang dapat melakukan respon tidak saja untuk kejadian bencana di dalam negeri tetapi juga di luar negeri.

EMT dapat dikatakan barang baru tetapi juga tidak sebenarnya bagi Indonesia. Namun, kemunculan INPRES No. 4 Tahun 2013 memunculkan kewajiban Kabupaten/ Kota membentuk PSC serta kemunculan Permenkes No. 19 Tahun 2016 tentang SPGDT memunculkan gairah kita untuk dapat bersama-sama mendiskusikan, bertukar pengalaman dan keilmuan untuk mewujudkan pelaksanaan yang sesuai dengan harapan, salah satunya dengan menyiapkan EMT. Menariknya, kerangka kerja EMT di Indonesia juga sudah diinisiasi oleh Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes dan pihak terkait pada November 2016 lalu.

tujuanTUJUAN

Untuk menambah wawasan mengenai kebijakan EMT di Indonesia.
 

placeTEMPAT, WAKTU DAN TANGGAL PELAKSANAAN

Kegiatan ini akan dilaksanakan pada :

Hari, Tanggal : Selasa, 20 Juni 2017
Waktu : 13.00 – 15.00
Tempat        : Lab Leadership Lt.3 Fakultas Kedokteran UGM
Judul            : Emergency Medical Team
Pembicara        : dr. Handoyo Pramusinto, SpBS (Ketua PokJa Bencana FK UGM)
Moderator : dr. Bella Donna, M.Kes (Kepala Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM)

Registration URL: https://attendee.gotowebinar.com/register/7762122566368309762
Webinar ID    : 333-342-299

analytics, audience, presentation, training icon  PESERTA YANG DIHARAPKAN

–    Kementerian Kesehatan (Pusat Krisis Kesehatan)
–    BNPB
–    BPBD
–    Dinas Kesehatan
–    Rumah Sakit
–    Fakultas Kedokteran, Kesehatan, dan Keperawatan
–    Group EMT Indonesia
–    Mahasiswa
–    Peneliti
–    LSM
–    Dsb

agendaAGENDA ACARA

Waktu Materi Pembicara
13.00 – 13.15 Pembukaan dr. Bella Donna, M.Kes
13.15 – 14.00

Penyampaian Materi
Emergency Medical Team

dr. Handoyo Pramusinto, Sp.BS

Materi

14.00 – 14.45 Diskusi  
14.45 – 15.00 Penutup Dr.Bella Donna, M.Kes

 

agreement, arrangement, document, register, registration, sign, write icon  PENDAFTARAN DAN INFORMASI

Lelyana
Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK UGM
Mobile           : 081329760006
Ph                : 0274-549425
Fax               : 0274-549424

Pelatihan Survey Kuisioner Penelitian Kesiapsiagaan Fasilitas Kesehatan dalam Menghadapi Arus Mudik Tahun 2017

TOR

 Pelatihan Survey Kuisioner Penelitian

Kesiapsiagaan Fasilitas Kesehatan dalam Menghadapi Arus Mudik Tahun 2017

 

 Pengantar

Mudik merupakan kebiasaan kebanyakan orang di Indonesia ketika perayaan hari besar keagamaan, khususnya untuk masyarakat muslim dalam menghadapi lebaran setiap tahunnya. Lonjakan penumpang, moda transportasi, dan arus pemudik terjadi utamanya pada H-10 hingga H+10 lebaran. Arus mudik dan arus balik seperti ini kerap menimbulkan permasalahan seperti kemacetan dan kecelakaan.

Sektor kesehatan memandang arus mudik sebagai kejadian mass gathering (berkumpulnya orang dalam jumlah yang banyak dalam satu waktu) yang dapat mengakibatkan mass causality, bisa menimbulkan kesakitan atau kematian. Untuk itu, sektor kesehatan perlu melakukan kesiapan dalam menghadapi arus mudik setiap tahunnya. Tujuannya untuk mengurangi angka kesakitan dan kematian yang ditimbulkan selama arus mudik.

Pusat Krisis Kesehatan, Kemenkes RI bekerjasama dengan Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK UGM melakukan penelitian untuk mengukur kesiapsiagaan fasilitas kesehatan dalam menghadapi arus  mudik 2017 yang diselenggarakan di beberapa tempat di pulau Jawa dan Sumatera. Untuk itu, perlu dilakukan pelatihan kepada surveyor mengenai penggunaan pedoman wawancara dan kuisioner penelitian.

  Tujuan

Kegiatan ini bertujuan untuk:

  1. Memberikan pemahaman mengenai konsep kesiapsiagaan sektor kesehatan dalam menghadapi event tahunan seperti arus mudik
  2. Memberikan penjelasan mengenai penelitian ini
  3. Melatih penggunaan pedoman wawancara dan kuisioner kesiapsiagaan arus mudik
  4. Melatih memberikan penilaian terhadap hasil pengumpulan data

 Peserta

  • Pusat Krisis Kesehatan, Kemenkes RI
  • PKMK FK UGM
  • Surveyor

 

Tempat dan Waktu

Kegiatan dilaksakan di dua tempat secara webinar, Yogyakarta dan Jakarta.

Hari/tanggal    : Kamis, 18 Mei 2017
Waktu            : 10-00 – 16.00 WIB
Tempat           : Mutiara Hotel jl. Malioboro Jogjakarta (Host)
                       Pusat Krisis Kesehatan, Kemenkes RI (Co Host)

Jadwal kegiatan

Waktu Kegiatan Keterangan
10.00 – 10.30 Pembukaan dan arahan Kepala PKK
10.30 – 11.30

Pembicara 1 : Kebijakan Nasional Penanggulangan krisis Kesehatan

Diskusi

Kepala PKK
11.30 – 12.30

Pembicara 2: Konsep Penelitian Kesiapsiagaan menghadapi arus mudik

Diskusi

PKMK (dr. Hendro Wartatmo, Sp.BD)
12.30 – 13.30 Istirahat  
13.30 – 14.30

Pembicara 3 : Penjelasan pedoman wawancara

Diskusi

PKMK (Madelina Ariani, MPH)
14.30 – 15.30

Pembicara 4 : penjelasan penilaian hasil (checklist penilaian)

Diskusi

PKMK (Madelina Ariani, MPH)
15.30 – 16.00 Penutup PKK dan PKMK

Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Riset Kebencanaan ke – IV

pit bencana

 pit bencana

Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Riset Kebencanaan dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) merupakan acara tahunan yang bertujuan untuk menggali peran ilmu pengetahuan dan teknologi dalam penanggulangan bencana di Indonesia. Pada tahun ini PIT Riset Kebencanaan ke-4 akan diselenggarakan di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat pada hari Senin-Rabu, 8-10 Mei 2017. Dalam kegiatan ini akan dipaparkan penelitian-penelitian yang dibagi dalam beberapa tema. Tidak hanya itu, kegiatan juga akan dilanjutkan dengan Musyawarah Nasional (Munas) Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI). Agenda Kegiatan  Klik Disini arrow, external, leave, link, open, page, url icon

{tab title=”Hari 1″ class=”blue solid” align=”justify”}

PERTEMUAN ILMIAH TAHUNAN (PIT)

IABI TAHUN 2017 UI JAKARTA

8 – 9 MEI 2017

Reportase oleh : dr. Sulanto Saleh Danu, Sp. FK dan Sutono, SKp. M.Sc., M.Kep


Kiri: Prof Dr. Sudibyakto    Kanan:Rektor UI

Pembukaan acara PIT IABI dilaksanakan di Gedung Balairung UI Depok yang diawali dengan Sambutan Rektor UI, Prof.Dr. Ir. Muhammad Anis, M. Met. Sebagai ketua IABI saat ini Prof. Dr. Sudibyakto juga memberikan sambutan dan melaporkan secara singkat perjalanan IABI sampai saat ini, dan dilanjutkan sambutan sekaligus pembukaan oleh Wakil Presiden RI, Dr. H. Muhammad Jusuf Kalla.

iaibi 2

Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla, dalam Pembukaan Pekan Ilmiah Tahunan (PIT) ke-4 dan Munas Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) di di Balairung Universitas Indonesia (UI) Depok, Jawa Barat, Senin (8/5), kembali mengingatkan agar masyarakat Indonesia meningkatkan kultur sadar bencana pada Senin (8/5/2017). “Meningkatnya bencana di Indonesia perlu diantisipasi dengan mengembangkan kultur sadar bencana untuk mengurangi risiko bencana. Bencana bersifat multidimensi sehingga semua ilmu harus memberikan solusi terhadap bencana. Selalu dinamis dan harus dapat dilakukan preventif,” ujar Jusuf Kalla.

“Saya sharing pengalaman, sebab selama 17 tahun saya ikut serta dalam penanganan bencana. Sejak menjabat Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat yang merangkap Ketua Bakornas, kemudian menjadi Ketua PMI. Apalagi saya terjun langsung menangani tsunami Aceh yang demikian dahsyat, kemudian gempa bumi di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Lalu gempa Sumatera Barat dan bencana lainnya. Kultur kebiasaan masyarakat di Simeulue sudah menjadi kultur masyarakat Indonesia saat ini. Begitu merasakan gempa besar langsung berlari ke bukit. Saat tsunami Aceh, kultur masyarakat Simeulue ini telah menyelamatkan warga sekitar. Hanya ada korban 10 jiwa, sedangkan di Aceh yang tidak memiliki kultur ini korbannya lebih dari 100 ribu jiwa,” tambah Jusuf Kalla.

Wapres juga menyampaikan, “Ternyata intensitas gempa tidak simetris dengan korban gempa. Kita lihat gempa 6,3 SR di Yogyakarta dan Jawa Tengah tahun 2006 menelan korban 5.700 jiwa meninggal, sedangkan gempa 7,6 SR di Sumatera Barat menyebabkan 1.700 orang meninggal dunia. Dampak gempa tergantung pada lokasi, waktu,  dan kondisinya. Di Yogya penduduk lebih padat, rumah beratap genteng, kejadian pada subuh. Sedangkan gempa di Sumatera Barat terjadi pada sore hari dengan penduduk yang tidak sebanyak di Jawa. Jadi 4 hal yang harus dijawab para peneliti, akademisi, praktisi dan lainnya adalah apa, dimana, kenapa dan bagaimana? Iptek harus mampu memprediksi secara tepat. Untuk dapat mengatasi bencana maka ada 3 tahapan yaitu pertama tanggap darurat. Prioritas adalah penyelamatan korban. Kedua adalah rehabilitasi dan ketiga rekonstruksi. Saat pasca tsunami, pemerintah menetapkan tanggap darurat selama 3 bulan, kemudian rehabilitasi 3 bulan dan selanjutnya rekonstruksi selama 3 tahun. Hal yang sama juga kita lakukan saat penanganan gempa Yogyakarta. Cepatnya penanganan bencana ini menjadi contoh dunia. Bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memberikan penghargaan Global Champion for Disaster Risk Reduction kepada Pemerintah Indonesia.”

Wapres juga meminta agar bencana makin meningkatkan kesadaran akademisi dan ilmuwan untuk mencari inovasi dan kreativitas sehingga korban bencana dapat dikurangi.

Kepala BNPB Willem Rampangilei dalam sambutannya menyatakan, “Jutaan penduduk Indonesia tinggal di daerah bencana. 150 juta penduduk di daerah rawan gempa, 64 jiwa di daerah rawan banjir, dan 41 juta di daerah rawan longsor dan sebagainya. Sementara itu kejadian bencana terus meningkat setiap tahun. Kapasitas penanggulangan bencana Pemda masih belum merata. Penyebab bencana disebabkan laju degradasi lingkungan lebih cepat dari pemulihan. Untuk mengantisipasi bencana maka pencegahan dan penanggulangan bencana menjadi prioritas pembangunan nasional. Pencegahan menjadi lebih prioritas. Diharapkam IABI dapat meningkatkan jejaring iptek untuk penanggulangan bencana. Investasi pengurangan risiko bencana dapat menjadi penggerak ekonomi pembangunan.”

Rektor UI, Muhammad Anis mengungkapkan Indonesia adalah laboratorium bencana yang menjadi tantangan bagi para pendidik, peneliti, serta praktisi. UI sebagai tuan rumah menyambut baik kegiatan ini. Pendidikan bencana berkembang pesat karena multidimensi. UI telah menghasilkan beberapa inovasi makanan untuk darurat bencana. UI menyelenggarakan simulasi dan pendidikan bencana. Saat terjadi bencana UI selalu mengirimkan relawan dan UI Peduli membantu masyarakat dan Pemda dalam penanganan bencana. Diharapkan PIT dapat menghasilkan inovasi dan terobosan.

Selama tiga hari (8 – 10/5), para ahli nasional dan internasional di bidang kebencanaan akan saling berbagi pengalaman, sharing knowledge serta brainstorming secara komprehensif terkait kebencanaan dan mensinergikan sains, teknologi, dan inovasi terkait kebencanaan. Dengan tema “Peran Masyarakat Bagi Pencapaian SDGs : Kontribusi Pemangku Kepentingan Untuk Penurunan Risiko Bencana”, diharapkan pertemuan ilmiah ini mampu menghasilkan keluaran berupa tersusunnya Blue Print Riset Kebencanaan sebagai acuan dalam perencanaan dan penganggaran sesuai dengan kebutuhan penanggulangan bencana di Indonesia.

{tab title=”Hari 2″ class=”green solid”}

Sesi Seminar (Ruang Perpustakaan)

Reportase hari ke 2 : Selasa, 9 Mei 2017

Reportase : dr. Sulanto Saleh Danu, Sp.FK & Sutono, SKp. M.Sc., M.Kep


“Mbah Surono” bercerita tentang Sinabung

Tema Model Partisipasi Aktif Pemangku Kepentingan terhadap pengurangan resiko bencana (PRB). Acara dipandu oleh Ir Isman Justanto, MSCE dan Dr. Nadia Yovani, S.Sos., M.Si. sebagai moderator dan sebagai Invite Speaker Dr. Surono. Surono memaparkan tentang Bencana Gunung Api Sinabung. Kejadian bencana gunung api yang sampai saat ini belum selesai. Selanjutnya ada beberapa presentasi paparan hasil penelitian antara lain :

  1. Nadira Irdiana : Kajian Pemenuhan Hak Anak dan Perempuan di Situasi Darurat Bencana Gempa Bumi Pidie
  2. Berwi Fazri Pramudi : Model Kesiapsiagaan Pemangku Kepentingan di Nias Selatandalam Menghadapi Bencana Gempa Bumi dan Tsunami
  3. Aksi Youth Ambassador dalam Pengurangan risik Bencana di 7 Kelurahan di Jakarta Barat dan Jakata Timur
  4. Fajar Sidiq : Analisis Pola Koordinasi Pemerintah dalam Masa Siaga Darurat Erupsi Gunung Bromo Tahun 2015 -2016
  5. Nur Miladan : Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaaan Resiko banjir di Wilayah Hilir Daerah Aliran Sungai Kali Pepe Surakarta
  6. Niswa Nabila Siba : Pengaruh Komodifikasi Bencana Banjir Garut 2016 oleh TV One terhadap Ketangguhan Masyarakat
  7. Adityo Mega Anggoro : Simulasi Kejadian Kebakaran Hutan dan Lahan menggunakan Model WRF – Fire (Studi Kasus Kalimantan Tengah 17 Oktober 2015)
  8. Jaka Suryanta : Mengatasi Bencana Banjir dan Peluang Restorasi (Studi Kasus Wilayah Sukoharjo)
  9. Sylvia Fettry E.M. : Mengawal Akuntabilitas Dana Penanggulangan Bencana
  10. Yoan Adi Wibowo Sutomo : Peran Penting Komunitas Relawan Kabupaten Sleman dalam Penurunan tingkat Resiko Bencana
  11. Paulus P. Raharjo : Mempersiapkan Kota Bandung Menghadapi Bencana Alam
  12. Aruminingsih : Penerapan Resilience City di Indonesia dalam Kerangka Kota Berkelanjutan dan SDGs.
  13. Nasfryzal Carlo : Partisipasi Masyrakat dalam Memelihara Jalur Evakuasi Tsunami di Nagari Air Bangis Kabupaten Pasaman Barat

 

Sesi Seminar Internasional

Tema seminar : “Contribution of Science and Technology for Disaster Risk Reduction”
Tempat seminar : Ruang Apung UI Depok
Acara dibagi dalam 2 sesi.
Sesi pertama : Moderator Dr. Raditya Jati (BNPB)
Pembicara dan materi seminar :

  1. Dr. Wei – Sen Li ( Taiwan) : How to Integrate Science and Technology to Engage DRR Application to Support Decision Making
  2. Dr. Jane Rovins (Massey University) : Enhancing Disaster Preparedness for effective Response to Build Knowledge and Capacity

Pembahas : Ir. Sugeng Triutomo, DESS (IABI) dan Dr.rer., nat. Armi Susandi, M.T. (ITB)

Sesi Kedua : Moderator : Dr. Dicky Pelupessy (UI)

Pembicara dan materi seminar :

  1. Ass. Prof. Takako Izumi (Tohoku University) : Investing to Disaster Risk Reduction : Promote Cooperation between Academic, Scientific and Research entities and Networks with Privatte Sector
  2. Dr. Yasushito Jibiki (Tohoku University) : Social Behavior in Disaster Situation : A Case Study in The Kelud Eruption in 2014

Pembahas : Prof. Dr. Fatma Lestari (UI) dan Dr. Ing. Ir. Agus Maryono (UGM)

2. Musyawarah Nasional (MUNAS IABI, 2017)

MUNAS IABI dilaksanakan selama 2 hari pada malam hari yang diselenggarakan di Hotel Margo Depok. Diikuti oleh sebagian anggota IABI dan pada malam pertama peserta dinyatakan telah memenuhi kuorum sehingga munas bisa diselenggarakan. Acara MUNAS hari pertama : Pembukaan oleh Ketua IABI : Prof. Dr. Sudibyakto dilanjutkan dengan acara MUNAS yaitu :

  1. Amandemen AD/ART IABI
  2. Laporan Pertanggungjawaban Pengurus IABI periode 2014 – 2017
  3. Pemilihan Pengurus IABI periode 2017 – 2020

Pada hari pertama MUNAS menghasilkan dewan Formatur yang terdiri dari perwakilan yang diambil dari area wilayah di Indonesia.

Suasana MUNAS yang penuh kekeluargaan

Hari Kedua MUNAS menghasilkan pengurus IABI periode 2017 – 2020 yang terdiri :

  1. Ketua Umum ; Harkunti Pratiwu Rahayu (ITB)
  2. Wakil Ketua Umum ; Triarko Nurlambang (UI)
  3. Wakil Ketua I Bidang Kerjasama ; Suprayoga Hadi (Bappenas)
  4. Wakil Ketua II Bidang Riset ; Khairul Munadi (Unsyiah)
  5. Wakil Kerua III Bidang Pengabdian Masyarakat ; Agus Maryono (UGM)
  6. Wakil Ketua IV Bidang Penguatan Kelembagaan ; Hendro Wardono ( Unitomo)
  7. Sekjen ; Lilik Kurniawan ( BNPB)
  8. Wakil Sekjen : Dicky Pelupessy (UI)
  9. Bendahara ; Siti Agustini (Praktisi)

Ketua Umum dan Sekjen IABI

Seluruh Pengurus IABI periode Periode 2017 -2020

 

Penutup

Penutupan PIT IABI 2017 UI Jakarta

Perhelatan PIT 4 dan Munas IABI telah selesai. Beberapa hal yang dihasilkan diantaranya adalah adanya dukungan dan harapan dari pemerintah yang tercermin dari pernyataan Wapres Jusuf Kalla dan Kepala BNPB kepada IABi. IABI diharapkan dapat membantu pemerintah dalam mengurangi risiko bencana utamanya dalam pemanfaatan IPTEKS dan jejaring perkuatan kapasitas penanggulangan bencana di daerah, Terbentuknya pengurus baru IABI yg harus terus berbenah memperbaiki mekanisme organisasi dan melakukan aksi secara nyata.

IABI adalah rumah bersama seluruh peneliti, perekayasa, praktisi dan akademisi. Istilah “ahli” sempat menjadi bahan diskusi yang mengemuka. Ahli tidak hanya diukur oleh banyaknya gelar seseorrang akan tetapi ahli merupakan predikat yang melekat karena seseorang memiliki sesuatu pengetahuan yg dapat dijadikan pembelajaran orang lain untuk melakukan upaya-upaya penanggulangan bencana di Indonesia. Jadi seharusnya  IABI harus menjalankan “knowledge sharing” dan gerakan-gerakan untuk penanggulangan bencana di Indonesia. 

Penutupan PIT IABI 2017 UI Jakarta

Pada acara PIT 4, banyak hal penting dibahas, termasuk masukan para ahli asing dari Taiwan, Jepang dan New Zealand. Dari sisi ilmu sosial yang mengemuka terwakili oleh sosok Syamsul Maarif dan Gunawan Muhammad. Pelibatan semua pihak nampak pada lomba-lomba yang diikuti masyarakat umum seperti foto, poster dan poster ilmiah, juga pameran, festival fim dan eksursi pada penggal sungai Ciliwung.

Susur Sungai Ciliwung	 - Pak Agus Maryono (UGM) “in action”

Sebagai closing statement dari sekretariat IABI, beliau mengatakan “Saatnya kita bekerja,  bekerja untuk Indonesia yang lebih baik. Berkontribusi dalam pembangunan sesuai dengan bidang keilmuannya. Salam kemanusiaan”.

{/tabs}

Reportase Webinar Kurikulum: Disaster Nursing

webinar series april

Reportase Webinar Divisi Manajemen Bencana

Kurikulum: Disaster Nursing

Kamis, 27 April 2017

Laboratorium Leadership FK UGM


webinar series april

Webinar series dari Divisi Manajemen Bencana untuk April mengangkat topik Kurikulum: Disaster Management. Pertemuan ini dimoderatori oleh Sutono, S.Kp, M.Sc, M.Kep selaku dosen keperawatan FK UGM dan pembicara Syahirul Alim, S.Kp, PhD yang merupakan dosen keperawatan FK UGM.

Pemateri menjelaskan bahwa bencana kesehatan menurut WHO merupakan suatu gangguan serius terhadap fungsi komunitas atau masyarakat yang berdampak pada manusia, ekonomi, atau lingkungan yang melebihi kemampuan komunitas atau masyarakat itu sendiri. Sementara dari Internasional Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC) menyebutkan bahwa rumus bencana yakni kerentanan dan bahaya dibagi dengan kapasitas.

Fase bencana dibagi dalam 3 fase yakni pre insiden, insiden, dan post insiden. Perawat memiliki peran penting dari tiap fase bencana tersebut. Berdasarkan Internasional Council of Nurses (ICN) kompetensi perawat dalam bencana dibagi menjadi 10 kompetensi yang dibagi dalam beberapa fase yakni pada fase mitigasi yakni 1) pengurangan risiko, pencegahan penyakit, dan promosi kesehatan, serta 2) perencanaan dan pengembangan kebijakan. Fase kesiapsiagaan terdiri dari kompetensi 1) akuntabilitas, praktek etik dan legal, 2) komunikasi dan berbagi informasi, 3) pendidikan dan kesiapsiagaan. Fase respon terdiri dari 1) perawatan komunitas, 2) perawatan individu dan keluarga, 3) perawatan psikologis, dan 4) perawatan pada kelompok rentan. Sedangkan pada fase pemulihan dan rehabilitasi terdapat kompetensi kebutuhan perawatan jangka panjang.

Saat ini pada program studi ilmu keperawatan FK UGM sedang mengembangkan kurikulum keperawatan bencana, dimana untuk kurikulum ini mencakup 6 SKS. Diharapkan dengan adanya kurikulum ini maka tingkat kesadaran tentang keperawatan dalam bencana akan meningkat. Dalam kurikulum tersebut tidak hanya terdiri dari perkuliahan, namun juga praktikum, skills lab, tutorial, serta akan dimasukkan ke dalam kurikulum dalam pendidikan profesi dengan membuka stase khusus bencana.

Pertemuan webinar kali ini sangat interaktif, karena peserta banyak mengajukan pertanyaan kepada pemateri. Hal ini dikarenakan keperawatan bencana merupakan suatu hal yang belum banyak diimplementasikan baik dalam dunia pendidikan maupun dalam praktek di rumah sakit. Harapannya profesi dari perawat bencana yang tergabung dalam Himpunan Perawat Gawat Darurat dan Bencana Indonesia (HIPGABI) ikut berperan dan menjembatani untuk peningkatan kompetensi bagi seluruh perawat tentang keperawatan bencana dan dapat bergabung dalam Emergency Medical Technicians (EMT) pada saat terjadi bencana.

Reporter: Wisnu Damarsasi, MPH

Reportase: WADEM on Congress Disaster & Emergency Medicine 2017

wadem2017

wadem2017

{tab title=”Hari 1″ class=”green”}

{tab-ex title=”Panel 1″ class=”orange solid” align=”justify”}

Sesi Pleno 1 (PL01:WHO/WADEM Panel)

25 April 2017

Reportase oleh: Madelina Ariani


1 wadem panel 1

Panel perdana ini masih diselenggarakan di ruangan ballroom, Welllington. Panel ini menghadirkan 6 pembicara sekaligus. Presentasi yang disampaikan antara lain mengenai berbagai isu, pembelajaran, dan update keilmuan dan framework terbaru dalam kebencanaan.

Virginia Murray mengingatkan kita kembali pada kesepakatan Sendai Framework tentang pengurangan risiko bencana. Masing-masing negara telah berkomitmen untuk menyelenggarakan framework tersebut maka tugas kita untuk berkontribusi didalamnya. Murray juga menyampaikan bahwa bentuk update dari Sendai framework akan lebih jelas pada pertemuan 5th Global Platform for Disaster Risk Reduction in Cancun, Mexico, pada 22 hingga 26 Mei 2017.

Luca Ragazoni menyajikan hal yang baru mengenai pembelajaran bencana di perguruan tinggi dan dimana letak kontribusi mahasiswa dalam aksi pengurangan risiko bencana dan kemanusiaan. Jika berbicara pengurangan risiko bencana maka kita memerlukan penguatan kapasitas dan ketahanan. Siapa saja harus berkontribusi dalam upaya tersebut. Termasuk calon tenaga kesehatan, mahasiswa kedokteran dan kesehatan. Contoh mengenai penyakit kronis, jejang karir, kekhususan telah diberikan kepada mahasiswa kedokteran sejak awal perkuliahan sehingga mereka memiliki gambaran yang baik mengenai masa depan mereka. Namun, pada bencana, semuanya belum diberikan dengan baik di perguruan tinggi, baik prinsip, program, hingga spesialisasinya. Luca bersama koleganya di CREMIDEM ITALY mengembangkan berbagai pelatihan mengenai ini dan membuka kesempatan untuk memberikan training for trainer lebih luas lagi.

Jika sebelumnya Luca berbicara mengenai kurikulum bencana, maka pembicara ketiga membahas tentang Global Disaster Health Initiatives in Research and Knowledge Management. Hanya ada 3 poin yang disampaikan, pertama mengenai hadirnya predator publishing yang menjadikan publikasi penelitian kesehatan sebagai ladang bisnis. Kedua, mengenai masih sedikitnya penelitian mengenai kebencanaan yang bisa terbit karena penelitian bencana masih bersifat deskriptif dan masih perlu standar dalam penetapan validitasnya. Ketiga, kabar baiknya adalah penelitian kebencanaan khususnya pengurangan risiko bencana didukung oleh Sendai Framework yang menjadi prioritas global.

Erin Downey menyampaikan mengenai Violence in Health. Paparan yang dimulai dengan video yang menceritakan sebuah ambulan yang mengangkut korban harus terhambat perjalanannya ke rumah sakit karena situasi keamanan dan akhirnya ambulan tersebut terkena sasaran bom. Maknanya sektor kesehatan merupakan sektor yang harus dikuatkan oleh semua kalangan. Masyarakat harus diberikan pengertian mengenai perlindungan layanan kesehatan sehingga penyelamatan hidup pasien, korban dan kesehatan masyarakat bisa menjadi prioritas bagi semua orang.

EMT atau Emergency Medical Team menjadi paparan selanjutnya. Martin sebagai perwakilan dari WHO Emergency Program menyampaikan mengenai definisi EMT dan minimum standar agar dapat disiapkan oleh semua negara. Mengutip ucapan dari Ian Norton pada EMT Global Meeting 2016 di Hongkong “In clinical care and health response, “good intentions” are not enough”, Martin mendorong semua negara menyiapkan EMT masing-masing baik untuk respon nasional maupun antar negara. Gunakanlah standar internasional untuk dikembangkan dalam menyusun standar nasional.

Terakhir, Michael You dari WHO Africa menyampaikan mengenai reformasi dukungan internasional mengenai kesiapsiagaan dan respon terhadap kasus epidemi. Upaya pengurangan risiko pada dasarnya adalah upaya mempersiapkan sistem kesehatan untuk siap dalam menghadapi situasi bencana ataupun emergency.

Enam paparan singkat di atas cukup membangkitkan pemikiran kita mengenai perkembangan dan kebutuhan-kebutuhan kita terhadap situasi krisis dan bencana khususnya di sektor kesehatan. Pemerintah Indonesia termasuk yang berkomitmen dalam upaya pengurangan risiko bencana yang salah satunya tertuang dalam Nawacita Presiden Jokowi. Begitu juga dengan pengembangan kurikulum dan penelitian mengenai kebencanaan. Sejak kejadian bencana tsunami 2004, perkembangan kurikulum kebencanaan untuk mahasiswa kedokteran, kesehatan masyarakat, keperawatan berkembang dengan pesat termasuk pada sekolah-sekolah tinggi kesehatan seperti kebidanan. Tantangannya juga tidak jauh berbeda dari pengembangan kurikulum bencana di perguruan tinggi kesehatan, yakni standar pengembangan kurikulumnya. Banyak perguruan tinggi kesehatan yang mengembangkan kurikulum bencana berdasarkan pengalaman dan pendapat umum dari pada berdasarkan bukti (evidence) dan kompetensi yang dibutuhkan ke depannya.

Sedangkan untuk EMT, sejak 2016 Indonesia mulai merumuskan kembali mengenai EMT. Pada dasarnya Indonesia sudah memiliki EMT dari dulu, meski hingga saat ini masih dengan nama-nama yang berbeda sesuai institusi/organisasi tetapi upaya untuk mengadaptasi dan mengembangan standar internasional EMT ke standar nasional sudah mulai dilakukan oleh kementerian kesehatan.

{tab-ex title=”Pleno 1″ class=”blue solid”}

Sesi Pleno 1 (PL01:WHO/WADEM Panel)

25 April 2017

Reportase oleh: Bella Donna


Fasilitas kesehatan aman dalam situasi bencana menjadi isu awal yang diberikan pagi ini pada hari pertama kegiatan WADEM di Toronto.
Pengalaman bencana di seluruh dunia membutuhkan sesuatu yang bisa langsung dilakukan dan tidak hanya sekedar teori. Teori mengatakan bahwa semua fasilitas kesehatan harus aman dari bencana, tetapi untuk menuju aman ini maka praktek yang perlu dimulai adalah mengembangkan dan mengutamakan pelayanan kesehatan dan keselamatan korban di daerah yang risiko tinggi bencana. Sampai pada akhirnya semua fasilitas kesehatan dapat aman dari bencana.

1 wadem PL01 keyonteCiro mengatakan bahwa nantinya rumah sakit harus bukan sekedar aman saja tetapi juga menjadi “ Smart Hospital Initiative” yaitu Safe, Green, Smart. Ini sudah diimplementasikan di Georgetown Hospital  dan teruji pada situasi darurat pada 24 Desember 2013, bahwa tidak ada dampak yang terjadi pada RS tersebut, seluruh tempat tidur penuh dan operasional serta pelayanan terhadap masyarakat berjalan dengan baik, sistem kebutuhan air dan listrik juga tetap berfungsi dengan baik. Semua sistem teruji dan bekerja dengan baik.
Pembelajaran yang didapat adalah respon lokal baik alat dan staf sangat efektif bila sejak awal sudah dipersiapkan dan dilatih.

Bila kita melihat di Indonesia, pengembangan dalam penyiapan fasilitas aman dalam bencana sudah mulai berkembang. Diawali dengan masuknya kesiapsiagaan rumah sakit ke dalam akreditasi, sehingga rumah sakit wajib menyiapkan diri untuk menghadapi bencana. Saat ini kesiapsiagaan puskesmas juga sudah masuk dalam akreditasi. Selain itu rumah sakit maupun puskesmas harus menyiapkan tim bencana ( Emergency Medical Team/EMT) untuk kesiapan lokal dalam menghadapi bencana, ini menjadi salah satu wacana yang sudah mulai dikembangkan oleh Pusat Krisis Kemenkes. 

Pada pembicaraan selanjutnya Ciro mengingatkan mengenai klaster kesehatan (Health Cluster), Harus jelas siapa yang akan menjadi leader dan tantangan utama selalu adalah koordinasi.

Kabar terbaru dari WHO Emergency Program adalah One Five yaitu satu organisasi dengan satu persepsi atau satu prinsip.
One Five :
1.    One Workforce
2.    One Workplan and Budget
3.    One Line of Accountability
4.    One set of process
5.    One admin system

Di Indonesia, BNPB sudah membagi klaster dan salah satunya adalah klaster kesehatan, yang dipimpin oleh Pusat Krisis di nasional dan dinas kesehatan di daerah. Semua tim bencana ( EMT) yang sesuai dengan tipenya masing-masing akan tergabung dalam klaster kesehatan.  Harapannya One Five juga akan dapat diterapkan di Indonesia, sehingga semua menjadi satu persepsi atau satu prinsip dari pusat sampai ke daerah, sesuai dengan kebutuhannya masing-masing.

 

{tab-ex title=”Panel 2: Civil Military”  class=”red solid”}

Sesi Workshop WS08:

Civilian-Military Collaborative Operations- Lessons we’ve learned

25 April 2017

Reportase oleh: Madelina Ariani


Hubungan sipil dan militer selama ini jarang dibahas, padahal pada setiap kejadian bencana mereka selalu bertemu. Bagaimana kolaborasi? Tantangannya dimana dalam melakukan kolaborasi dibahas dalam workshop ini berdasarkan presentasi pengalaman masing-masing peserta. Chair pada workshop ini adalah Paul Farrell.

Pembicara dari militer menceritakan pengalamanya pada situasi bencana dan konflik yang pernah mereka alami. Situasi ini pernah mereka alami baik di negara sendiri ataupun di negara lain ketika mereka dikirim untuk bertugas. Seperti pengalaman tentara Jerman menangani pengungsi dari Afrika dan bencana gempa Haiti.

Tidak dipungkiri kalau batasan civil dan militer itu terkadang masih ada. Ada gap seperti ketidakpercayaan pada misi masing-masing, pada kemampuan kepemimpinan, dan bentuk koordinasi yang berbeda antara sipil dan militer. Namun, sebenarnya itu wajar saja, sebab pada koordinasi lainnya juga bisa terjadi hal demikian, seperti dengan NGO misalnya. Hal yang menjadi pemicunya seperti perbedaan misi, perbedaan funding, dan sebagainya.

Dok. PKMK: dr. Christian

Di sekolah militer, kepada calon tentara kami selalu menyampaikan agar terbiasa dengan perbedaan, ucap dr. Christian dari militer Jerman. Hal ini penting ketika kami berkolaborasi dan bekerjasama dengan siapapun dalam tindakan kemanusiaan, tambahnya.

Pada dasarnya kolaborasi akan terjalin dengan baik, asalkan semua pelaku kemanusiaan menerapkan prinsif-prinsif kemanusiaan (Humanitarian Principle).

{tab-ex title=”Workshop 1″ class=”grey solid” }

 Sesi Workshop  WS01:
Public Health-Emergency Simulation Tool for Enhanced Training in Preparedness and Response

Toronto, 25 April 2017

Reportase oleh: Madelina Ariani


Dok. PKMK: Situasi workshop

Kieran Moore dari Queens University Kanada secara langsung membawakan workshop ini. Selama hampir 1,5 jam, Kieran berinteraksi dengan peserta yang terbagi dalam 4 grup. Ada dua tools yang dapat diakses untuk simulasi yakni Acute Care Enhanced Surveillans System (ACES) dan Public Health Information Management System (PHIMS) yang merupakan update real data kesehatan dan hal terkait di daerah.

Dr. Kieran MooreWorkshop ini bertujuan untuk mengajarkan penggunaan data riil untuk pengembangan kasus simulasi bagi tenaga kesehatan dalam menghadapi kasus kegawatdaruratan dan bencana. Melalui data real ini kita dapat melihat situasi nyata pada kejadian yang sudah berlalu sehingga suntikan kasus hari per hari yang diberikan kepada peserta simulasi benar-benar berdasarkan kasus nyata.

Kasus yang dibahas pada hari ini mengenai cuaca panas ekstrim yang melanda Kanada tahun 2016. Suntikan kasus diberikan hari per hari secara perlahan hingga 7 hari. Setiap hari, masing-masing kelompok diberikan pertanyaan pemicu diskusi.

4 grup tersebut adalah:

  1. Grup 1 mengenai Command
    Tentang bagaimana grup mampu mengidentifikasi tanggungjawab dan mengidentifikasi sektor lain untuk melakukan koordinasi
  2. Group 2 mengenai penggunaan data PHIMS
    Tentang mengidentifikasi bahaya apa yang berhubungan dengan cuaca panas ekstrim dan data-data apa yang dapat dipantau dari PHIMS
  3. Group 3 mengenai penggunaan data ACES
    Tentang apa dampak situasi ini pada kesehatan masyarakat, berapa risikonya, dan data apa yang dapat dipantau dari ACES ini
  4. Group 4 mengenai komunikasi
    Tentang bagaimana mengkomunikasi mengenai kondisi ekstrim ini kepada masyarakat sebagai bentuk peringatan dini dampak kesehatan atau promosi kesehatan lainnya.

Jika kita bandingkan, maka pengembangan hal serupa dapat dilakukan di Indonesia. Dinas kesehatan dan kementerian kesehatan sudah memiliki data surveilan rutin, hanya saja pengolahannya menjadi sebuah kebijakan dan deseminasi masih kurang. Selain itu, simulasi bencana sektor kesehatan yang dilakukan di Indonesia masih seputar bencana internal di rumah sakit seperti kebakaran, dan jenis bencana lainnya bagi dinas kesehatan. Sedangkan penggunaan data surveilan untuk simulasi penanganan krisis kesehatan belum begitu dilakukan. Simulasi yang kerap dilaksanakan berdasarkan pengalaman dan tren kejadian penyakit/ korban yang sudah lewat untuk pembelajaran respon masa depan jika ada kejadian serupa.

Bagi pengembangan kasus skenario, ide ini menjadi hal yang menarik untuk dikembangkan ketika melakukan simulasi bencana. Terutama pengembangan suntikan kasus hari per hari kepada peserta simulasi sehingga kita dapat mengukur kemampuan para peserta dalam melakukan analisis data, berkomunikasi, dan membuat perencanaan bagi kesehatan masyarakat/ keselamatan korban.

{tab-ex title=”Sesi CS03″ class=”solid green” }

Sesi CS03:
Disaster Medicine Principles

Toronto, 25 April 2017

Reportase oleh: Bella Donna


Beberapa pembicara di kelas ini meneliti dari berbagai aspek, salah satunya yaitu kebutuhan dari penguatan kelompok difabel di masyarakat agar saat terjadi bencana maka mereka dapat siap menghadapinya, ini menarik jika dilihat di Indonesia bahwa kelompok difabel dalam keluarga sering menjadi beban atau menjadi penghambat dalam melakukan evakuasi saat bencana. Sehingga penguatan kelompok difabel ini sangat perlu dikembangkan di Indonesia.

Pembicara lainnya meneliti bagaimana jika terjadi krisis generator/ listrik saat terjadi bencana, siapa yang akan didahulukan saat mengevakuasi pasien di ICU yang tidak sedikit jumlahnya dan bagaimana mengevakuasi mereka. Hal ini dapat dilihat pada Crisis Standards of Care yang bisa di akses secara gratis, untuk dapat mempelajari dan dapat menjadi standar bagi Rumah Sakit terutama di Indonesia.

Ada dua pembicara lain yang membahas Emergency Medical Team (EMT) dan Personal Preparedness yang menggunakan brain software (http://www.thebrain.com/). Untuk materi dan penelitian EMT sekarang menjadi sesuatu yang sedang kita kembangkan di Indonesia. Bahwa kita akan memiliki tim bencana (EMT) dari tingkat daerah kabupaten/kota, Propinsi dan Nasional. Sedangkan Personal Preparedness saat ini di Indonesia belum dikembangkan. Bagaimana masing-masing personal ataupun keluarga siap menghadapi bencana bila dievakuasi minimal pada 3 hari di awal. Dari mulai pakaian sampai pada kebutuhan pangan. Masing-masing keluarga memiliki telpon yang dapat dihubungi, baik telpon penting seperti kantor polisi, juga telpon keluarga terdekat ataupun tetangga. FK UGM sejak tahun 2016 sudah memberikan materi yang mirip dengan Personal Preparedness, namun tidak menggunakan brain software tetapi masih menggunakan ceklist dengan judul materi yaitu Family Disaster Kit pada CFHC (Community and Family Health Care).

{/tabs-ex}

 

{tab title=”Hari 2″ class=”orange”}

Sesi Full  Day 2

Toronto, 26 April 2017

Reportase oleh: Madelina Ariani

Dok. PKMK: kelas oral di ruangan ballroom

Hari kedua ini, kami memulai kegiatan dengan mengikuti sesi presentasi poster. Ada lebih dari 140 poster yang diterima tahun ini. Sesi ini menarik perhatian peserta. Jika diperhatikan, kali ini poster lebih beragam dan banyak membahas mengenai topik-topik Emergency Medical Team (EMT), patient treatment in emergency/ disaster, serta simulation and curriculum.

oral kelas kecil h2

Seperti kemarin, hari ini juga dibuka banyak kelas presentasi oral dengan topik yang masih sama. Ada juga kelas berbahasa Perancis. Tema yang menjadi perhatian kami sesuai dengan arah kebijakan Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes dan WHO Indonesia adalah mengenai EMT. Menarik untuk mendalami penelitian-penelitian seputar EMT. Masalah pembentukan tim di setiap negara ternyata berbeda-beda. Ada yang mampu memang menggabungkan antara pemerintah dan swasta, ada juga yang memang milik pemerintahan. Selain itu, dapat kita simpulkan pula dari sesi di kelas ini bahwa adjustment dan alignment merupakan faktor yang sangat menentukan eksistensi EMT. Penerjunan, skill, dan kemampuan merupakan faktor pendukung. Namun bagaimana sebuah EMT dibuat, diatur, dan dijaga keberlanjutannya adalah hal yang sangat penting, tentu mengenai sertifikasi juga.

disaster medicine book author

Hari ini tim divisi berkesempatan untuk bertemu dan berdiskusi dengan penulis buku Disaster Medicine dari Anna Maria College, beliau adalah Dr. Gregory Ciottone. Sejak dibuatnya kurikulum bencana di Fakultas Kedokteran UGM untuk mahasiswa kedokteran, kami berusaha mencarikan model yang tepat baik untuk disaster medicine ataupun disaster health management. Maka dari itu, kesempatan kali ini kami gunakan untuk berdiskusi dan membuat janji agar ke depannya kami bisa melakukan interaksi lebih dalam melalui webinar atau teleconference.

{tab title=”Hari 3″ class=”blue”}

{tab-ex title=”Sesi CS 41 ”  class=”orange solid” align=”justify”}

Sesi CS 41 : Health System

Chairs : Marv Birnbaum & Angeliki Bistaraki (student Co-Chair)

Toronto, 27 April 2017

Reportase oleh : Bella Donna


h3 Health System 1

Kali ini pembicara dari Indonesia ada dua yang menyampaikan penelitian. Pembicara pertama dari Indonesia adalah Sukma Panggabean dari Universitas Ketahanan Indonesia yang bekerjasama melakukan penelitian bersama Pusat Krisis Kemenkes, bertujuan untuk menilai risiko perubahan iklim yang dapat memberikan nilai atau demonstrasi kepada pemimpin dan para ahli di Indonesia, dan pada akhirnya menciptakan pemahaman yang sama  tentang ancaman iklim yang dihadapi sistem kesehatan kita, untuk menerapkan intervensi yang efektif. Proyek ini dilakukan secara multidisiplin dengan para pemimpin senior di bidang real estate, manajemen risiko kesiapsiagaan darurat, asuransi, dan pakar iklim eksternal. Penelitian dilakukan di 30 lokasi diseluruh wilayah yang memiliki sistem kesehatan. Temuan utama mencakup ancaman keseluruhan sistem dari kejadian panas yang ekstrim dan kerentanan terhadap infrastruktur yang dapat memberi beban secara tidak langsung  pada fasilitas. Sehingga dapat disimpulkan bahwa membangun ketahanan iklim memerlukan pendekatan multi disiplin, dinilai dari peningkatan fasilitas, peningkatan operasional dan koordinasi yang lebih baik dengan lembaga dan institusi yang saling terkait, tergantung dari apa yang  terjadi.

Pembicara kedua dari Indonesia adalah perwakilan dari Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM yang menjelaskan tentang penelitian kesiapsiagaan kesehatan dalam bencana di pulau-pulau kecil di Seram Bagian Barat. Penelitian ini ingin melihat sejauh mana kesiapsiagaan Dinas Kesehatan, rumah sakit dan puskesmas yang ada di Kabupaten Seram Bagian Barat dengan situasi wilayah kerjanya tidak hanya di satu pulau. Hasil yang didapat bahwa sangat rendah kesiapsiagaan dari Dinas Kesehatan, rumah sakit dan puskesmas yang ada disana, sehingga diberikan rekomendasi agar pemimpin wilayah dapat lebih memperhatikan hal ini dan dilakukan pelatihan terhadap staf dan masyarakat sekitar. Daerah ini sering terjadi bencana banjir yang mengakibatkan banyaknya rumah yang rusak serta warga yang harus dievakuasi.

h3 Health System 1

Selain dari Indonesia yang menarik adalah pembicara dari Australia yang bercerita mengenai penelitiannya terhadap aturan dokter di pelayanan kesehatan primer di daerah. Mereka melihat bahwa dokter yang konsen terhadap bencana ternyata tidak banyak. Mereka melihat bahwa kebanyakan dokter hanya bekerja sesuai dengan kebutuhan mereka dan kepentingan mereka pribadi, dan belum merasa bahwa kebutuhan dia sebagai pekerja kesehatan sangat penting pada saat terjadi bencana. Mereka hanya melihat bahwa bencana adalah sesuatu yang besar seperti tsunami, gempa bumi, gunung berapi dan lain-lain yang melibatkan banyak orang sehingga dapat dilakukan bersama-sama  tanpa memahami arti sebenarnya dari konsep bencana itu sendiri. Bencana tidak hanya oleh karena situasi yang besar, tetapi bencana seperti kecelakaan bis yang melibatkan luka di suatu daerah kecil dengan pekerja kesehatan yang sedikit sudah menjadi bencana buat mereka. Sehingga sangat penting perlu ada aturan dan penguatan kapasitas terhadap dokter yang bertugas di layanan primer karena terkait dengan kebutuhan masyarakat jika terjadi bencana.

{tab-ex title=”Workshop: WS29”  class=”red solid”}

Sesi Workshop: WS29:
Frameworks for Disaster Research : Developing the science

Toronto, 27 April 2017

Reportase oleh : Bella Donna


h3 WS 1Presentasi ini memberikan ulasan mengenai kerangka konsep bencana yang diajukan oleh WADEM untuk dapat digunakan sebagai pembelajaran terhadap aspek kesehatan dari bencana. Kerangka konsep ini menjadi model dan direkomendasikan untuk dasar dari penelitian epidemiologi dan penelitian intervensi bencana kesehatan.

Penjelasan kerangka konsep bencana yang diberikan sangat jelas dengan  kebutuhan struktur,  terminologi dan defenisi yang dapat dipakai dan digunakan sebagai bahan pembelajaran untuk direplikasikan secara umum dan informasi yang berguna serta dapat dikontribusikan untuk membangun ilmu dan penelitian terhadap bencana kesehatan.

Pembicara menjelaskan mulai dari pemahaman apa itu ancaman dan pernyataan bahwa ancaman (hazard) bukan bencana, tetapi potensial untuk terjadi bencana. Apakah itu bencana yang besar ataupun yang kecil. Setelah ancaman maka terjadi sesuatu yang disebut kejadian (event). Ada beberapa tipe dari event seperti mechanical, elektrika dan sebagainya. Event ini juga tidak bisa disebut bencana. Karakteristik dari event juga bisa diihat dari mekanismenya, amplitude, onset, lama kejadian. Kejadian (event) ini memiliki kekuatan untuk dapat menjadikan kerusakan struktural dan merubah fungsi yang biasanya. Kerusakan struktural yang sudah disebabkan oleh kejadian ini yang perlu diperhatikan. Jika telah terjadi kerusakan maka perlu dipikirkan bagaimana agar kedepannya kita bisa membuat segalanya menjadi lebih baik. Sehingga kerusakan tidak menjadikan fungsi yang sebenarnya menjadi defisit dan menjadikan terjadinya kegawatdaruratan dan membutuhkan lokal respon. Bila ketahanan dan persiapan tidak dilakukan segera maka respon lokal juga bisa saja tidak mampu sehingga perlu bantuan respon  dari luar, dan ini sudah disebut dengan bencana.

Sejak kita mengetahui ancaman yang ada maka kita harus berpikir bahwa ada risiko yang akan ditimbulkan bila terjadi suatu kejadian (event), untuk itu perlu kita tingkatkan kapasitas agar risiko dapat ditekan dan tidak sampai kepada kerusakan struktural yang mengganggu fungsi kehidupan yang sudah ada.

 

{tab-ex title=”Sesi: CS44 Simulation”  class=”blue solid”}

Sesi: CS44 Simulation

Toronto, 27 April 2017

Reportase oleh: Madelina Ariani


Simulasi menjadi topik yang sangat menarik dalam manajemen bencana. Simulasi termasuk dalam upaya yang dapat dilakukan untuk penguatan kapasitas. Di kelas presentasi oral yang dipimpin oleh Carolin Filipowska dan Sohaib Chaudary kita akan melihat berbagai model simulasi, pengalaman melakukan simulasi, dan metodenya dalam bencana kesehatan.

h3 simulation 1
Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM yang diwakili oleh Madelina Ariani, berkesempatan untuk memaparkan hasil penelitian kami mengenai simulasi bencana di rumah sakit di Indonesia. Dalam upaya memberikan pengajaran simulasi yang efektif kepada klien kami (rumah sakit yang didampingi proses pembuatan atau revisi Hospital Disaster Plan milik rumah sakit tersebut oleh kami) seringkali dihadapkan pada kurang keseriusan rumah sakit dalam melakukan simulasi dan HDP. Banyak rumah sakit yang kemudian tiba-tiba meminta simulasi dan HDP menjelang akreditasi. Padahal, makna dari HDP sebenarnya sangat diperlukan bagi rumah sakit tersebut dalam upaya menjamin keselamatan pasien serta upaya kesiapsiagaan menghadapi kasus-kasus kegawatdaruratan masal dan bencana.

Berdasarkan hal tersebut, kami mencoba sebuah upaya yang kami sebut Research Based Simulation, dimana kami mencoba membuat penelitian menggunakan kuesioner pada saat simulasi. Kami mencoba melihat perbedaan proses dan hasil ketika sebuah rumah sakit diberikan kuesioner penelitian dengan yang tidak pada saat mereka melakukan simulasi. Hasilnya cukup signifikan.

h3 simulation 2
Penelitian lainnya yang menarik berasal dari paparan Jiyoung mengenai penggunaan Table top Exercise dalam simulasi. Peneliti konsen untuk melihat upaya-upaya untuk rencana tindakan dalam menghadapi bencana oleh peserta pelatihannya. Ada juga penelitian, Victor yang menggunakan virtual simulation untuk melatih upaya kesiapsiagaan di fasilitas kegawatdaruratan.

h3 simulation 3

{/tabs-ex}

{tab title=”Hari 4″ class=”blue”}

Sesi: Penutupan

Toronto, 28 April 2017

Reportase oleh: Madelina Ariani


Seperti penutupan pada umumnya, seremonialnya adalah pengumuman dimana akan diselenggarakan WADEM berikutnya. Semua peserta berkumpul kembali di Ballroom Metropolitan.

Dua tahun mendatang, tepatnya 7-10 Mei 2019 di Brisbane, Australia, ditetapkan sebagai waktu konferensi 21st World Association for Disaster and Emergency Medicine.

h 4 penutupan wadem

Erin sebagai VP Congress, dalam pidatonya menyampaikan terima kasih kepada seluruh peserta yang hadir lebih dari 50 negara di dunia. Terima kasih atas diskusi yang sangat menarik selama 4 hari ini, tambahnya. Lauri sebagai local chair Toronto untuk WADEM, juga menyampaikan terima kasih dan berharap semua peserta juga menikmati Toronto. Semua berharap dapat berjumpa 2 tahun lagi. Kita akan sama-sama me-review hasil diskusi kita dalam 4 hari ini. Mempersiapkan penelitian, kajian, dan pengalaman kita untuk ke depannya.

Setelah penutupan masih ada kegiatan post congress yakni pelatihan mengenai Utilizing Frameworks to Conduct Disaster Health Research yang dibawakan oleh Prof. Marvin Birnbaum. Perwakilan Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM yang hadir dalam workshop ini adalah dr. Hendro Wartatmo.

h 4 penutupan wadem 2

Sebelumnya Prof. Marvin pernah berkunjung ke Indonesia dan Fakultas Kedokteran UGM sekaligus memberikan kuliah umum mengenai bencana kesehatan. Kami senang dapat bertemu beliau dan istrinya Prof. Elaine serta berdiskusi mengenai pengembangan penelitian bencana menggunakan frameworks yang disampaikan oleh Prof. Marvin. Jika ingin mengetahui lebih mengenai penjelasan frameworks nya, silakan menyimak reportase hari 3 yang ditulis oleh dr. Bella pada halaman website ini.

h 4 penutupan wadem 3

Kami sempat berdiskusi juga dengan salah satu anggota Oceanea Chapter, dr. Penelope Burns. Penelope memiliki focus besar dalam upaya penguatan kapasitas dokter di puskesmas untuk menghadapi bencana dan situasi emergensi. Hal ini sangat berkaitan dengan konsen kami juga, pengembangan kurikulum di perguruan tinggi kesehatan serta manajemen bencana kesehatan. Kita akan berusaha menjalin komunikasi kedepannya dalam rangka persiapan workshop mengenai topik ini pada WADEM berikutnya di Australia.

Demikian dari kami, kami sangat berharap akan lebih banyak nantinya kontribusi peneliti, praktisi, dan siapapun yang konsen dalam manajemen bencana sektor kesehatan untuk hadir pada WADEM 2019.

 

{/tabs}

WEBINAR SERIES KURIKULUM: DISASTER NURSING

WEBINAR SERIES APRIL 2017

 WEBINAR SERIES KURIKULUM: DISASTER NURSING

Kamis, 27 April 2017 Pukul 12.00 – 14.00 WIB

OLEH DIVISI MANAJEMEN BENCANA
PUSAT KEBIJAKAN DAN MANAJEMEN KESEHATAN (PKMK) FAKULTAS KEDOKTERAN UGM


{tab title=”TOR Webinar” class=”green solid”}

PENGANTAR

Setelah menyelesaikan webinar series kebijakan Januari hingga Maret lalu, Kami kembali menyelenggarakan webinar series mengenai kurikulum.

Sangat menarik untuk membahas perkembangan kurikulum bencana sektor kesehatan di Indonesia. Banyak profesi kesehatan yang terlibat di dalamnya, dokter, perawat, gizi, kesehatan masyarakat, kebidanan dan lain sebagainya. Lantas bagaimana perkembangan kurikulum tersebut di perguruan tinggi kesehatan atau fakultas kesehatan di Indonesia?

Untuk pertama kali, kami akan mengangkat tentang disaster nursing atau keperawatan bencana. Apa itu disaster nursing? Apa yang menjadi core competencies-nya? Bagaimana pembelajarannya bagi mahasiswa? Bagaimana perkembangannya? Hal-hal ini akan bersama-sama kita bahas pada webinar series Apri ini.

        

tujuanTUJUAN

Untuk menambah wawasan mengenai disaster nursing secara luas

placeTempat, Waktu dan Tanggal Pelaksanaan

 Kegiatan ini akan dilaksanakan pada :

Hari, Tanggal     : Kamis, 27 April 2017
Waktu     : 12.00 – 14.00
Tempat   : Lab Leadership Lt.3 Fakultas Kedokteran UGM

Link Webinar: https://attendee.gotowebinar.com/register/8622158361422024450
Webinar ID: 908-405-299

analytics, audience, presentation, training icon  PESERTA YANG DIHARAPKAN

  • Kementerian Kesehatan (Pusat Krisis Kesehatan)
  • BNPB
  • BPBD
  • Dinas Kesehatan
  • Rumah Sakit
  • Fakultas Kedokteran, Kesehatan, dan Keperawatan
  • Group EMT Indonesia
  • Mahasiswa
  • Peneliti
  • LSM
  • Dsb

agendaAgenda Acara

Waktu Materi Pembicara
12.00 – 12.10 Pembukaan Sutono, SKp, M.Sc, M.Kep
(Dosen Keperawatan FK UGM)
12.10 – 13.00 Penyampaian Materi

Syahirul Alim, SKp, PhD
(Dosen Keperawatan FK UGM)

pdfMateri

13.00 – 14.00 Diskusi  

 

agreement, arrangement, document, register, registration, sign, write icon  PENDAFTARAN DAN INFORMASI

Lelyana
Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK UGM
Mobile           : 081329760006
Ph                : 0274-549425
Fax               : 0274-549424

 

{tab title=”Reportase Kegiatan ” class=”orange solid”}

Reportase Webinar Divisi Manajemen Bencana

Kurikulum: Disaster Nursing

Kamis, 27 April 2017

Laboratorium Leadership FK UGM


webinar series april

Webinar series dari Divisi Manajemen Bencana untuk April mengangkat topik Kurikulum: Disaster Management. Pertemuan ini dimoderatori oleh Sutono, S.Kp, M.Sc, M.Kep selaku dosen keperawatan FK UGM dan pembicara Syahirul Alim, S.Kp, PhD yang merupakan dosen keperawatan FK UGM.

Pemateri menjelaskan bahwa bencana kesehatan menurut WHO merupakan suatu gangguan serius terhadap fungsi komunitas atau masyarakat yang berdampak pada manusia, ekonomi, atau lingkungan yang melebihi kemampuan komunitas atau masyarakat itu sendiri. Sementara dari Internasional Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC) menyebutkan bahwa rumus bencana yakni kerentanan dan bahaya dibagi dengan kapasitas.

Fase bencana dibagi dalam 3 fase yakni pre insiden, insiden, dan post insiden. Perawat memiliki peran penting dari tiap fase bencana tersebut. Berdasarkan Internasional Council of Nurses (ICN) kompetensi perawat dalam bencana dibagi menjadi 10 kompetensi yang dibagi dalam beberapa fase yakni pada fase mitigasi yakni 1) pengurangan risiko, pencegahan penyakit, dan promosi kesehatan, serta 2) perencanaan dan pengembangan kebijakan. Fase kesiapsiagaan terdiri dari kompetensi 1) akuntabilitas, praktek etik dan legal, 2) komunikasi dan berbagi informasi, 3) pendidikan dan kesiapsiagaan. Fase respon terdiri dari 1) perawatan komunitas, 2) perawatan individu dan keluarga, 3) perawatan psikologis, dan 4) perawatan pada kelompok rentan. Sedangkan pada fase pemulihan dan rehabilitasi terdapat kompetensi kebutuhan perawatan jangka panjang.

Saat ini pada program studi ilmu keperawatan FK UGM sedang mengembangkan kurikulum keperawatan bencana, dimana untuk kurikulum ini mencakup 6 SKS. Diharapkan dengan adanya kurikulum ini maka tingkat kesadaran tentang keperawatan dalam bencana akan meningkat. Dalam kurikulum tersebut tidak hanya terdiri dari perkuliahan, namun juga praktikum, skills lab, tutorial, serta akan dimasukkan ke dalam kurikulum dalam pendidikan profesi dengan membuka stase khusus bencana.

Pertemuan webinar kali ini sangat interaktif, karena peserta banyak mengajukan pertanyaan kepada pemateri. Hal ini dikarenakan keperawatan bencana merupakan suatu hal yang belum banyak diimplementasikan baik dalam dunia pendidikan maupun dalam praktek di rumah sakit. Harapannya profesi dari perawat bencana yang tergabung dalam Himpunan Perawat Gawat Darurat dan Bencana Indonesia (HIPGABI) ikut berperan dan menjembatani untuk peningkatan kompetensi bagi seluruh perawat tentang keperawatan bencana dan dapat bergabung dalam Emergency Medical Technicians (EMT) pada saat terjadi bencana.

Reporter: Wisnu Damarsasi, MPH

{/tabs}