TOR Sarasehan Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM

TERM OF REFERENCE (TOR)

Sarasehan Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM
(Kaleidoskop 2016 dan Outlook

Manajemen Bencana Kesehatan  di Indonesia Tahun 2017)

Rabu, 8 Februari 2017 | 08.30 – 12.00 WB
Ruang 301, Gedung IKM Lantai 3, FK UGM

Oleh Divisi Manajemen Bencana, Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) Fakultas Kedokteran UGM

 

LATAR BELAKANG

Keterlibatan Fakultas Kedokteran UGM pada kejadian Tsunami 2004, disusul bencana besar lainnya: Gempa Padang, Gempa Pangandaran, Gempa Jogja, Letusan Merapi menjadi ide awal terbentuknya Divisi Manajemen Bencana di bawah Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK FK UGM). Sejak 2008, Divisi Manajemen Bencana fokus dalam pengembangan kebijakan penanggulangan bencana di Indonesia khususnya untuk sektor kesehatan. Kami berkomitmen memberikan kontribusi dalam upaya penguatan kapasitas dan pengurangan risiko dalam menghadapi bencana seperti pengembangan berbagai macam pendampingan, pelatihan, dan seminar baik di tingkat lokal, puskesmas, rumah sakit, nasional, dan internasional selalu dilakukan.

Dalam hal ini kami juga sangat berterimakasih kepada para rekanan dan klien yang percaya bekerjasama dengan kami baik dalam hal penelitian, pendampingan, pelatihan, diskusi, simulasi, serta keikutsertaan dalam seminar baik secara langsung atau pun yang melalui webinar. Besar harapan kedepannya kita dapat terus terhubung dan saling menginformasikan hal-hal yang bersifat teori, praktis, dan terapan dalam kemajuan penanggulangan bencana dan krisis kesehatan di Indonesia.

Berdasarkan hal tersebut, masih sama dengan tahun sebelumnya, kali ini kami berinisiatif untuk mengundang rekanan dan klien baik dari pemerintah, swasta, dan LSM untuk bersama-sama membahas mengenai pembelajaran selama dua tahun kebelakang termasuk merencanakan kegiatan tahun 2017/2018 dalam agenda penanggulangan bencana dan krisis kesehatan baik ditingkat daerah maupun nasional. Acara ini akan dikemas dalam bentuk sarasehan.
Diinformasikan juga bahwa pada sesi siang (terpisah) sekaligus kami selenggarakan webinar mengenai laporan kegiatan Gempa Pidie Jaya dan Banjir Bandang Bima oleh tim UGM yang bertugas. Besar harapan kami bapak dan ibu dapat terus bergabung agar bersama-sama dapat membahas rencana aksi terintegrasi dari lintas sektor untuk Pidie Jaya dan Bima.

 

TUJUAN

  1. Mempererat hubungan antara Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM dengan rekanan dan klien.
  2. Mendiskusikan lesson learnt penanggulangan bencana sektor kesehatan di tahun 2015/2016
  3. Mendiskusikan arah kebijakan penanggulangan bencana sektor kesehatan pada tahun 2017/208

BENTUK  KEGIATAN

Kegiatan kaleidoskop dan outlook manajemen bencana kesehatan ini akan dilaksanakan dalam bentuk sarasehan (diskusi).

 

TEMPAT

Seminar ini mengharapkan kehadiran rekan-rekan dari:

  1. BNPB (webinar)
  2. Pusat Penanggulangan Krisis, Kementerian Kesehatan RI (webinar)
  3. WHO Indonesia (webinar)
  4. UNFPA Indonesia (webinar)
  5. Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI) (webinar)
  6. Rektorat UGM
  7. LPPM UGM
  8. DERU UGM
  9. Dekanat FK UGM
  10. Cared Program
  11. BPBD DIY
  12. BPBD SeIndonesia
  13. Dinas Kesehatan DIY
  14. Dinas –Dinas Kesehatan se Indonesia
  15. RS Sardjito dan RSA UGM
  16. Pokja Bencana FK UGM
  17. LSM (MDMC dan YEU)
  18. Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kesehatan Masyarakat di Indonesia
  19. Sekolah Tinggi Kesehatan di Indonesia
  20. Divisi-Divisi di PKMK (Divisi Public Health, Divisi Rumah Sakit, Divisi Mutu, Divisi Sistem Informasi Kesehatan)
  21. Bagian IKM FK UGM
  22. Rumah sakit Klien
  23. Rumah sakit pemerintah dan swasta di Yogyakarta
  24. Peserta kegiatan divisi tahun sebelumnya
  25. Humas dan Publikasi FK UGM
  26. Humas dan Publikasi UGM
  27. lainnya

Batasan Peserta

Demi kelancaran diskusi maka diskusi tatap muka dibatasi hanya 30 orang maksimal. Waktu pendaftaran peserta tatap muka hingga Jumat, 3 Februari 2017.

Sedangkan peserta webinar tidak terbatas, pendaftaran hingga Selasa, 7 Februari 2017 pukul 12.00 WIB (peserta yang belum pernah melakukan webinar diharapkan dapat berlatih terlebih dahulu pada Senin, 6 Februari 2017 pukul 13.00 WIB, pelatihan selama 1 jam oleh tim webinar PKMK FK UGM)

Susunan Acara

Waktu Kegiatan
08.00 – 08.30 Registrasi peserta tatap muka dan pengecekan peserta webinar
08.30 – 09.00

Pembukaan oleh MC

Sambutan oleh Kepala Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM

Sambutan dan Pembukaan oleh Direktur PKMK FK UGM

   
   
09.00 – 10.00

Perkenalan Tim Divisi dan Konsultan

Pengantar Refleksi 2015/2016 dan Outlook Manajemen Bencana 2017

Materi  Video

Kegiatan rutin dan Program Divisi Manajemen Bencana tahun 2017

Materi   Video

   
10.00 – 11.15

Tanggapan dan diskusi

Video

11.15 – 11.45

Pengenalan mengenai website, webinar dan COP

Materi Video

  Kesimpulan dan Penutup
  Reportase

 

Contact Person


Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM
Gedung IKM Lantai 2 Sayap Utara, Jalan Farmako Sekip Utara, Yogyakarta 55281 Indonesia
Phone/fax: +62 274 549425
Email: [email protected]

Dewi Catur Wulandari
Mobile: +62 818 263653
Email: [email protected]

LUNCH- SEMINAR DAN WEBINAR LAPORAN KEGIATAN GEMPA PIDIE JAYA DAN BANJIR BANDANG BIMA

TERM OF REFERENCE (TOR)

LUNCH- SEMINAR DAN WEBINAR 

LAPORAN KEGIATAN GEMPA PIDIE JAYA & BANJIR BANDANG BIMA

Rabu, 8 Februari 2017 | 13.00– 15.00 WB
Ruang KPTU Lt2 FK UGM

Oleh Divisi Manajemen Bencana, Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) Fakultas Kedokteran UGM

 

LATAR BELAKANG

Gempa Pidie Jaya, Aceh dan Banjir Bandang Bima, Nusa Tenggara Barat menjadi berita penutup kita tahun 2016 silam. FK UGM bekerjasama dengan banyak pihak (Pemda DIY, Kagama, RSS, RSA, Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM, Pokja Bencana FK UGM) melakukan upaya perbantuan mulai pada masa respon hingga transisi. Baik di Pidie jaya dan Bima, tim yang diberangkatkan selalu terintegrasi baik untuk pelayanan kesehatan, assessment, pendampingan sistem kesehatan, maupun upaya advokasi dengan pemerintah daerah untuk upaya jangka panjangnya. Hingga saat ini upaya pendampingan terus dilakukan.

Banyak masalah, pembelajaran, hingga rencana program yang akan dikembangkan baik untuk Pidie Jaya maupun Bima, baik untuk sektor kesehatan maupun sektor/klaster lainnya seperti pendidkan, lingkungan, shelter, psikologis dan lainnya. Saat ini, penting bagi kita semua untuk berdiskusi rencana aksi. Harapannya pertemuan ini dapat memberikan informasi keadaan di sana sehingga program apapun yang akan dikembangkan nantinya dapat sesuai konteks dan tepat sasaran.

 

TUJUAN

  1. Mengetahui hasil kegiatan Tim Klaster Kesehatan Gempa Pidie Jaya
  2. Mengetahui hasil kegiatan Tim Klaster Kesehatan Banjir Bima
  3. Mendiskusikan rencana tidak lanjut untuk kegiatan Tim Klaster Kesehatan di Gempa Pidie Jaya dan Banjir Bima

BENTUK  KEGIATAN

Kegiatan ini akan dilaksanakan dalam bentuk lunch-seminar.

 

PESERTA

Seminar ini mengharapkan kehadiran rekan-rekan dari:

  1. BKementerian Kesehatan (webinar)
  2. BPBD DIY
  3. Dinas Kesehatan Provinsi Yogyakarta
  4. Rektorat UGM
  5. KAGAMA UGM
  6. KAGAMA FK UGM
  7. POKJA Bencana FK UGM
  8. DERU UGM
  9. Tim Klaster Kesehatan Gempa Pidie Jaya
  10. Tim Klaster Kesehatan Banjir Bima
  11. Direktur RSUP Dr. Sardjito
  12. Direktur RS Akademik UGM
  13. LPPM UGM
  14. Fakultas Teknik Sipil
  15. Fakultas Psikologi
  16. CPMH Psikologi
  17. Fakultas Kedokteran Gigi
  18. EMT Indonesia
  19. Prodi Kedokteran Umum, Gizi, dan Keperawatan
  20. Humas FK UGM dan Humas UGM
  21. Manajemen dan Tim Penanggulanan Bencana di Rumah Sakit se Jawa dan Bali
  22. Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten Kota di Indonesia
  23. Mahasiswa Fakultas Kedokteran, Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat, dan Fakultas Farmasi
  24. Mahasiswa S2 dan S3 yang tertarik dengan isu manajemen bencana kesehatan
  25. Peneliti bidang manajemen bencana
  26. LSM yang bergerak di bidang bencana dan emergensi
  27. Pemerhati Bencana, dan
  28. Perseorangan.

Jadwal Kegiatan

Tempat    : Ruang Senat, Gedung KPTU Lantai 2 FK UGM
Tanggal    : Rabu, 8 Februari 2017
Pukul       : 12.00 -15.00 WIB

Waktu
Kegiatan Keterangan
12.00 – 13.00 Persiapan Webinar dan makan siang Panitia
13.00 – 13.20 Pembukaan FK UGM

13.20 – 13.50

13.50 – 14.20

14.20 – 14. 50

Laporan kegiatan Tim Klaster Kesehatan Gempa Pidie Jaya, Aceh

Laporan Kegiatan Tim Klaster KesehatanBanjir Bandang Bima, NTB

Diskusi

MC: Madelina Ariani, SKM.,MPh.

dr. Hendro Wartatmo, Sp.BD

Sutono, S.Kp.,M.Sc

14.50 – 15.00 Penutupan FK UGM

 

Contact Person


Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM
Gedung IKM Lantai 2 Sayap Utara, Jalan Farmako Sekip Utara, Yogyakarta 55281 Indonesia
Phone/fax: +62 274 549425
Email: [email protected]

Dewi Catur Wulandari
Mobile: +62 818 263653
Email: [email protected]

Sesi 1- Seminar Hospital Safety

Seminar Hospital Safety: Tantangan dan Progress-nya

PPKK Kemenkes: Kebijakan Kemenkes tentang Pedoman Perencanaan Penyiagaan Bencana di Rumah Sakit (P3BRS)

sesi-1hospital-safetyPembukaan Seminar Hospital Safety

Sesi satu dimoderatori oleh dr. Bella Donna, M.Kes dari Divisi Manajemen Bencana Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan FK UGM. Beliau memperkenalkan pembicara dari Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan, dr. Indro Murwoko.

indroDok. PKMK: dr. Indro Murwoko dari Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan Kemenkes

Dikesempatan ini dr. Indro Murwoko menyampaikan beberapa hal penting terkait tema Hospital Safety ini. Ketika bencana terjadi, RS sebagai salah satu fasyankes harus menjadi fasyankes yang aman, yang dapat melindungi pasien-petugas, lalu meyakinkan fasyankes serta yankes berfungsi saat terjadi bencana. P3K ini berlokasi kerja di 9 regional yaitu Kalsel, Makasar, Manado, Medan, Jakarta, Surabaya, dan seterusnya. Serta 2 sub regional yaitu Papua dan Padang. Ke depan, P3K ini akan dikembangkan menjadi UPT, jadi yang menduduki staf Dinkes namun fasilitas milik Kemkes Pusat, tutup dr. Indro.

Organisasi internasional juga turut andil dalam hal ini, sejak tahun 2008 WHO Indonesia sudah mengawali kampanye safe school dan safe hospital. Tantangan untuk implementasi ini ialah kurangnya peraturan untuk pasien, harus terakreditasi, serta kurang political will. World Bank juga ada ketertarikan di bidang program pengembangan fasyankes ini.

Sesi Diskusi:

Laham (RSAB An Nur Yogyakarta.) mengajukan pertanyaan, dalam Pedoman Kebijakan Penanganan Bencana RS (P3BRS), poin penting apa yang harus di-share RS untuk menjadi safety hospital. Lalu poin apa yang harus dipenuhi untuk hospital safety index, apakah SOP dan fasilitas harus disiapkan secara khusus?

diskusi

dr. Indro menjawab pertanyaan tersebut melalui penjelasan, P3BRS merupakan produk yang dibuat tahun 2009 atau sering dikenal dengan pedoman penyiagaan bencana RS. Bagaimana menyusun perencanaan RS, sulit untuk treatment dengan RS yang sudah eksis. Komponen utama yang ada harus segera dibuat, contohnya untuk internal disaster RS misal ada call center.

dr. Hendro sempat memaparkan dua buku yang berperan penting dalam penyusunan Hospital Safety ini. Pertama, buku Hospital preparedness for emergency disaster (HOPE) yang banyak membahas syarat bangunan yang sesuai jika terjadi bencana. HOPE ini cukup komprehensif untuk menjadi acuan. Jadi, ada semacam hospital insider command system. Jika sistem komando tidak berjalan, prosedur tidak akan jalan juga. Misalnya banyak dokter namun tidak ada nomor telpon nya jadi kurang baik dalam penanganan saat bencana. Lalu, buku Safe Hospital yang bercerita tentang jangan membuat RS di lereng gunung, jangan membuat RS di bawah jalan jadi kebanjiran, tutup dr. Hendro.

Sesi 2 – Seminar Hospital Safety

Seminar Hospital Safety: Tantangan dan Progress-nya

Sesi 2: Seminar Hospital Safety

sesi-2Dok. PKMK: Pembicara sesi 2 dan moderator

Sesi Kedua Seminar Hospital Safety: Tantangan dan Progress-nya dimoderatori oleh Sari Mutia Timur dari YAKKUM Emergency Unit. dr. Warsista dari Persi menjadi pemateri pertama,   dalam pelayanan di RS, safety mengutamakan keselamatan dan keamanan pasien. Ada beberapa regulasi yang menuntut agar safety ini dikedepankan, antara lain: regulasi gedung diatur dalam UU No. 28/2002 bangunan gedung, klasifikasi dan perijinan diatur dalam PMK 56/2014,Pergub DKI 38/2012 tentang bangunan gedung hijau (5% lebih mahal) serta peraturan-peraturan proteksi kebakaran (Pergub DKI).

Bencana sendiri merupakan fenomena sosial, misalnya jika pemerintah lokal tidak membuka jalan/ijin, maka alur bantuan tidak bisa berjalan. Kemudian, hal lain yang harus menjadi prioritas ialah kemungkinan munculnya penyakit pasca bencana. Jadi, RS adalah ujung tombak dalam penanganan bencana ini.

wasista_-_Persidr. Warsista dari PersiKemudian, sebuah RS bisa dikatakan Hospital Safety jika free from medical and facility error. Medical error ialah kegagalan yang tidak diduga saat upaya prevensi, diagnosa, pengobatan dan tindak lanjut. Selain bebas dari medical error, RS harus mempunyai emergency and disaster programme.

Bencana tidak dapat diramalkan datangnya, maka kesiapan RS menghadapi bencana mutlak diperlukan, berikut ini beberapa langkah yang dapat dilakukan yaitu, pertama, mengidentifikasi mana yang kemungkinan terjadi, merencanakan penanganan kemungkinan bencana, rencana diuji coba tahunan, lalu melakukan review serta dokumentasi. RS perlu juga memetakan alternatif tempat pelayanan-tenda darurat atau lokasi/evakuasi. Kemudian, perlu dilakukan identifikasi peran dan tanggung jawab staf saat kejadian.

 

 

handoyodr. Handoyo Pramusinto, Sp. S (K), ketua Pokja Bencana FK UGMdr. Handoyo Pramusinto, Sp. S (K), ketua Pokja Bencana FK UGM, sebagai pemateri keduamenyatakan preparedness bisa dimulai dari awal. Jika preparedness baik, maka masa chaos saat atau pasca bencana kemungkinan ada namun hanya sebentar.

Diskusi 1

Agus Sudrajat (RSUD Kota Jogjakarta) menyampaikan di dalam HDP, jika RS menjadi korban juga, apakah RS menjadi bagian dari plan? Pengalaman gempa Jogja, hingga dua hari RS Jogja belum bisa survive.

dr. Warsista menyampaikan saat Jakarta banjir, seluruh aktivitas lumpuh. Maka, manajemen RS Carolus tempat dimana Warsista bekerja menginstruksikan seluruh nakes RS Carolus menolong pasien/nakes lain saat kondisi ini. Kemudian, saat kerusuhan Jakarta, program yang bisa berjalan hanya ambulance, maka ambulance jadi memberi bantuan untuk pasien dan keluarga pasien datang. Hal yang terpenting: sosialisasi dan komunikasi. RS Sumber Waras, banjir kesulitan generatornya. Lalu ada siaran terkait hal tersebut di radio Sonora, jadi banyak sumbangan solar kemudian ini di-share ke RS lain.

Dalam HDP harus ada skenario jika RS terkena bencana, maka harus ada skenario yang berhubungan dengan RS sekitar dan PERSI. Kemudian, jika ada RS yang menjadi korban, maka RDP yang akan berjalan.

dr. Gandung (RSUD Panembahan Senopati) berbagi pengalamannya, saat logistik habis, pasien di RS tidak bisa dibawa pulang. Akhirnya, banyak pegawai RS yang menjadi korban, sempat terjadi chaos dan persediaan ternyata karyawan banyak yang terkena musibah. Chaos terjadi jam 13.00 Wib, akhirnya pihak RS, Dandim dan Polres mendobrak gudang farmasi kabupaten untuk ambil obat.

Sejak tahun 2008-2009, WHO memiliki campaign: hospital safety, jadi bangunan RS harus bisa melindungi pasien dan pekejra kesehatan atau bangunannya memiliki struktur resilient/daya banting-tidak mudah roboh.

Diskusi 2

dr. Maria mempertanyakan apakah PERSI memiliki rutinitas untuk checking kondisi RS?

Mahasiswa K3 UI mempertanyakan HDP dan hospital safety, bagaimana kaitannya? Ada komponen yang disebut sebagai safe hospital: tnda evakuasi, emergency exit. HDP: plan yang keberlanjutannya ada. jika ia mengalami bencana, ia harus memenuhi hospital safety index. Misal patient safety dan hospital safety dipertahankan yankesnya karena harus masuk dalam HDP.

Wiwik (RS KIA Sadewa) mempertanyakan jika tim siap namun kolaborasi kurang, kemana saya bisa berkoordinasi?

Irvan (RS PKU Muhamadiyah Yogyakarta) menyampaikan di PKU sudah ada HDP, untuk pengembangan dan pemeliharaan ke depannya harus seperti apa? sudah ada tim siapa bencana.

dr. Bella Dona, HDPsifatnya dinamis, jika sudah dua tahun maka dievaluasi dan terkait dengan kegawatdaruratan apa yang massal-internal dan eksternal kemudian disesuaikan. Jalur evakuasi bisa berubah jika ada pembangunan baru, jumlah TT juga

dr. Warsista menyampaikan harus ada drill dan simulasi apa yang dilakukan? Sebaiknya ini dilakukan terus menerus.

dr. Bella menambahkan HDP bukan hanya dokumen, HDP bisa operasional sesuai harapan. Ini harus dilatih, tiap tahun tia RS ada simulasi, misal: table top exercise. Jadi, HDP berubah atau tetap? Jika HDP tidak terstruktur dalam 1 pintu bisa tidak baik juga,

Sari Timur menegaskan akreditasi JCI mengharapkan simulasi RS melibatkan masyarakat. Selain itu, diskusi ini mendorong adanya koordinasi untuk pemenuhan logistik antar RS (w).

Sesi 3 – Seminar Hospital Safety

Sesi 3 Seminar Hospital Safety: Tantangan dan Progress-nya

sesi-3Dok. PKMK: Pembicara Sesi 3 beserta Moderator

Ada beberapa poin penting yang ada dalam Hospital Safety, antara lain: structural (bangunan), non struktural (SDM) dan planning (mitigasi dan kontijensi RS). Ketiganya harus menjadi pokok yang diperhatikan RS.

mdmcdr. H. Barkah Djaka Purwanto, SpPD dari MDMCMDMC berbagi pengalaman selama mendampingi masyarakat dan komunitas pre, saat dan pasca bencana. Ada semacam kolaborasi antara RS PKU Muhammadiyah Palembang, Pondok Kopi, Bantul dan Lamongan. Di Bantul, MDMC mendampingi dua desa, mereka dibina dan disiagakan sehingga sudah siap siaga bisa membantu yang lain, yaitu Kretek dan Poncosari-Srandakan.

Kegiatan yang dilakukan antara lain, siaga bencana melalui penanganan medis serta pembentukan struktur tim. MDMC memiliki program Hospital and Community Prearedness for Disaster management. MDMC rutin mengadakan gladi pada awal, tengah, akhir tahun. Simulasi, drill, FTX dan TTX setahun tiga kali.

Diskusi

Happy (Keperawatan UGM) mempertanyakan di MDMC siapa saja yang berperan dan berapa persentasenya? Perannya seperti apa? Training apa yang diberikan pada komunitas? Apakah basic life support diberikan pada komunitas?

Budi (MDMC) menyampaikan ada empat klaster dalam rencana operasi yaitu: SAR/Mapala, Disaster medic comitee/DMC, psikososial/psikologi-pendampingan, trauma healing, community development di posko bencana. HCPDN, desa Poncosari menangkap potensi kampong, lalu melakukan perencanaan sektoral di bidang kesehatan serta ekonomi. Kemudian, lahirlah profil kampung, kerentanan ancaman, serta potensi/kapasitas mereka.

Community Based Health Service (CBHS) yang diajarkan pada komunitas antara lain bidang promkes- bagaimana mengelola bencana, rencana kontijensi untuk KLB/endemik/bencana. Lalu mereka dilatih: Basic Life Support. Lalu komunitas ini diuji MDMC melalui gladi yang selalu diadakan secara rutin.

Lono mempertanyakan terkait Hospital safety, pencemaran di RS ke masyarakat sekitar, penyakit atau limbah. Bagaimana RS memfasilitasi agar masyarakat tidak tercemar?

Endamg YEU menyatakan RS Bethesda menjalin hubungan komunikasi dengan masyarakat, kami selalu ada laporan dan audit terkait limbah ini.

Budi (MDMC) memaparkan bagaimana berhubungan dengan masyarakat? Hal yang paling penting yaitu sanitasi. Aspek keamanan sudah dicek melalui BLH dan aman.

Nurida (mahasiswa MMB, FK UGM) menanyakan saya belajar manajemen bencana, koordinasi antar pelaku bencana? Bagaimana koordinasi swasta dengan pemerintah? Bagaimana pengiriman relawan?

uakkumdra. Endang L Budiarti, AptEndang (YEU) memaparkan pemerintah selalu melakukan koordinasi, lalu koordinasi dan menyiapkan bantuan. Respon yang ditunggu ialah perlu relawan kah? Jika bagian logistik, ada bagian dengan farmasi-atau direct contact. Komunikasi yang dilakukan untuk melakukan koordinasi bagaimana menyiapkan kebutuhan dan meminta bahwa itu dilaksanakan. YEU menjadi coordinator, Bethesda support professional yang ada disana.

Arif sebagai moderator menyatakan koordinasi adalah hal yang paling sulit di Indonesia.

Budi (MDMC) menyampaikan Bantul sudah memiliki Bantul Emergency Service Support (BES), kemudian diatur didalamnya mekanisme berkoordinasi, salah satunya divisi relawan. Alur koordinasi yang dibuat melalui perserikatan Muhamadiyah dan pemerintah. Kemudian, ada satu komando yang dilakukan. Definisi suksesnya, coordinator komando yang tangannya tidak kotor dan tidak berkeringat (pelatihan BNPB).

Dr. Arif (RS Panti Nugroho), MDMC bagaimana mencari dukungan finansial? Lalu bagaimana menggerakkan swadaya masyarakat?

Budi (MDMC) memaparkan komitmen dalam HSCPDN, sekian persen dari RS masuk dalam penanggulangan bencana: internal (pelatihan SDM, struktur), eksternal: penguatan kapasitas komunitas. Setahun prediksinya ada tiga kali bencana. Donor dari luar yaitu Lazismu: zakat, infak dari karyawan, alokasinya untuk kebencanaan, anak yatim dan orang miskin. Donor lain: banyak yang bersimpati, misal Dinkes Bantul mendukung penuh.

Dalam bencana, social matter salah satunya gotong royong adalah kata kunci.

Arif sebagai moderator menutup sesi dengan kalimat saat terjadi bencana, banyak korban yang diurus bersamaan, jadi bencana itu humanity tidak ada border. Ada banyak kolaborasi antar lembaga pegiat bencana yang bisa bekerjasama.

Akan ada workshop kelanjutan dari acara ini, penutup dari dr. Bella Dona, yang paling penting dalam penanggulangan dan penanganan bencana ialah koordinasi dan kebersamaan (w).