Reportase Sesi 1. Kebijakan Logistik Medik Seminar Penggunaan Logistik Medik pada Bencana

sesi1 asm

Reportase Sesi 1. Kebijakan Logistik Medik

Seminar Penggunaan Logistik Medik pada Bencana:
Study Kasusu Tetanus pada Gempa Yogyakarta untuk Pencegahan pada Gempa Pidie Jaya 2016

Kamis, 9 Maret 2017
Gedung Senat Lantai 2 KPTU Fakultas Kedokteran UGM

sesi1 asm
Sesi 1 ini ditujukan untuk membahas kebijakan logistik medik. Untuk itu, narasumber yang dihadirkan berasal dari regulator baik di tingkat nasional maupun internasional. Narasumber kali ini adalah dr. Achmad Yurianto yang merupakan Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes dan Bapak Yulian Yogadhita, S.Farm, Apt dari WHO Indonesia.

dr. Hendro Wartatmo, Sp.BD selaku penasihat Pokja Bencana FK UGM, menjadi moderator pada sesi ini. Dalam pengantarnya beliau teringat bahwa pada suatu kejadian bencana beliau dan tim pernah menerima obat-obatan berbahasa Jepang dan tidak ada bahasa inggris juga yang bisa dimengerti. Kedepannya harusnya sudah tidak ada lagi pengalaman yang seperti ini.

achmad

Bahasan kita hari ini sebenarnya dapat kita rangkum dalam upaya monitoring layanan kesehatan pada saat bencana. Hal ini benar-benar strategis dan berkaitan sekali dengan perencanaan dan peningkatan kapasitas pada saat terjadi bencana. Menyinggung yang disampaikan oleh moderator tadi mengenai permasalahan label obat bantuan, itu menunjukkan kalau pada saat itu, kita memang belum siap termasuk merencanakan penerimaan bantuan logistik medik pada saat bencana.

Kaitannya dengan penanganan logistik, setiap daerah di Indonesia harusnya sudah merujuk pada DAK Bidang Kefarmasian yang sudah mengharuskan setiap daerah memiliki perencanaan buffer stock. Harusnya, setiap daerah memperhitungkan dengan benar buffer stock ini berdasarkan kontijensi krisis kesehatan dan bencana yang ada di daerahnya.

Sedangkan penanganannya berbasis klaster. Kita ada di klaster kesehatan yang terdiri dari sub-sub klaster lagi. Sub klaster yang berkaitan dengan logistik ini adalah sub klaster layanan kesehatan.

Peran pengurangan risiko bencana dibidang kesehatan ini merupakan asset yang harus dikelola oleh dinas kesehatan. Bukan pada masa responnya tapi pada saat pemulihan dininya dan kembali lagi pada masa pra bencana sebagai bentuk kesiapsiagaan.

sesi webinar who

Pemateri kedua memaparkan tentang internal dan external preparedness, koordinasi, dan pembelajaran dari gempa Nepal. Beliau lebih banyak membahas mengenai kasus yang pernah dialami seperti pemusnahan obat bantuan pada gempa Padang dan gempa Jogja. Obat yang dimusnahkan jumlahnya hingga 10 ton dan membutuhkan dana yang besar.

Menyambung permasalahan penerimaan bantuan obat yang tidak sesuai dan logistik medik lainnya, erat kaitannya dengan upaya peningkatan kapasitas petugas penerimaan logistik di lapangan. Biasanya yang menerima adalah BNPB atau TNI diluar sektor kesehatan. Artinya, upaya peningkatan kapasitas penerimaan bantuan ini juga harus memperhatikan peningkatan kapasitas lintas sektor, tidak hanya petugas kesehatan.

Logistik dalam ICS mendapat perhatian serius karena ketika itu menjadi bencana internasional maka WHO menjadi koordinator kesehatannya yang menerima bantuan ini. Jika tidak sesuai kebutuhan maka bisa untuk ditolak. Pertanyaannya, bagaimana kompetensi SDM penerima logistik dan sistem perencanaan penyimpanannya, distribusinya, pelaporannya di tingkat nasional dan daerah? Ini yang harus masuk dalam perencanaan tiap-tiap daerah sesuai dengan kontijensi yang disepakati.

tanya jawab

Masuk ke sesi diskusi, dr. Wiliam dari Medicuss Foundation, Pak Sutono dari PSIK FK UGM, dan Pak Budi dari RS PKU serta Pak Dodi dari PKK. Secara umum diskusi seputar kekacuan penanganan pada saat bencana, standar obat-obatan yang harus disiapkan untuk rumah sakit seperti apa, serta lemahnya koordinasi lintas sektor dalam penanganan bencana di daerah. Dapat dirangkum bahwa the most problem in disaster respond was not-single resources but control and coordination. Bagaimana kerjasama lintas sektor hingga pengaturan di sektor kesehatan sendiri harus dikuatkan dengan seringnya melakukan kontak dan kerjasama.

Reportase: Madelina A

Reportase Sesi 2. Kebijakan Logistik Medik Seminar Penggunaan Logistik Medik pada Bencana (2)

sesi2

Reportase Sesi 2. Kebijakan Logistik Medik

Seminar Penggunaan Logistik Medik pada Bencana:
Study Kasusu Tetanus pada Gempa Yogyakarta untuk Pencegahan pada Gempa Pidie Jaya 2016

Kamis, 9 Maret 2017
Gedung Senat Lantai 2 KPTU Fakultas Kedokteran UGM

sesi2

Pada sesi kedua seminar tentang logistik medik ASM 2017 dimoderatori oleh Sutono, S.Kp., M.Sc, M.Kep. Materi pertama dipaparkan oleh dr. Handoyo Pramusinto, Sp.BS tentang kasus infeksi saat bencana. Jurnal tentang bencana yang saat ini sering dibahas oleh peneliti yakni tentang cara mencegah dan mengendalikan natural disaster. Banyak penyakit yang muncul pada saat bencana, seperti diare, tetanus, demam, infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) dan hal tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga bencana di negara lain.

Faktor resiko yang menyebabkan munculnya penyakit pada saat bencana antara lain populasi yang terlalu banyak, minim air bersih dan sanitasi yang buruk. Untuk itu pencegahan dan pemberantasan penyakit menular merupakan termasuk tindakan yang dilakukan di pengungsian. Pemerintah pun telah membuat suatu pendoman teknis penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana serta lesson learnt penanganan krisis kesehatan.
Tercatat pada gempa bumi yang terjadi di Yogyakarta dan Jawa Tengah beberapa kasus tetanus, dan terbanyak di RS Sardjito sebanyak 22 kasus. Prosentase penderita tetanus mayoritas terjadi pada usia di atas 50 tahun sebanyak 70,43% dan apabila dilihat dari gender maka terbanyak pada pria sebanyak 57,75%.
Materi kedua dipaparkan oleh dr. Ninik dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul yang membahas tentang bencana gempa bumi yang terjadi di Kabupaten Bantul. Tahun 2016 terjadi bencana gempa bumi di Kabupaten Bantul yang berpengaruh pada kualitas air yang langsung menjadi kurang baik dan berdampak timbulnya penyakit. Pada saat bencana tersebut dibuat dapur umum, dimana tidak dapat dikontrol untuk kualitas makanan dan bantuan nasi bungkus yang dimakan pada esok harinya sehingga menyebabkan diare.

Kasus tetanus juga terjadi karena terkena reruntuhan bangunan akibat gempa, dimana atap rumah warga banyak yang menggunakan seng serta paku yang bertebaran. Warga Bantul banyak yang memelihara sapi di dekat rumahnya, sehingga pasca bencana warga lebih fokus pada rehabilitasi rumah serta binatang peliharaan dan tidak memperhatikan luka yang dialami. Warga pun masih sangat minim pengetahuan tentang perawatan dan komplikasi akibat luka.
Kasus tetanus di Bantul mayoritas terjadi pada usia di atas 45 tahun sebanyak 60%, hal ini terjadi karena pada saat itu belum ada kebijakan imunisasi dasar lengkap seperti sekarang ini. Apabila dilihat dari gender maka 80% terjadi pada pria karena perempuan terpapar imunisasi lebih banyak. Selama kurang dari 24 hari pasca bencana, telah terjadi 50 kasus tetanus ditemukan.

Penerimaan logistik medis pasca bencana banyak berdatangan dari berbagai sumber baik dari dalam maupun luar negeri, sehingga perlu adanya pengelolaan yang tepat. Distribusi obat tidak hanya diberikan kepada fasilitas kesehatan namun juga ke posko-posko yang banyak muncul secara mendadak. Pengelolaan logistik tersebut menggunakan sistem 1 pintu baik penerimaan maupun pendistribusian.

Persediaan obat tetanus pada gudang obat yang dimiliki Dinas Kesehatan Bantul sangat minim. Sementara bantuan yang berdatangan tidak ada yang memberikan pengobatan untuk tetanus, hanya antibiotik dan analgesik saja. Namun terdapat solusi karena selama bencana sesuai kebijakan nasional untuk pengadaan diperbolehkan secara langsung tanpa melalui tender.

Permasalahan yang terjadi yakni obat dari donatur seringnya tiba-tiba datang tanpa adanya koordinasi dan obat yang dikirim tidak semua bagus, karena ada yang waktu kadaluarsanya pendek. Pemusnahan obat pun sempat dilakukan yang dianjurkan oleh WHO kurang lebih 10 ton. Berdasarkan dari pengalaman tersebut maka dilakukan perubahan pada gudang obat dimana dibuat 10-20% buffer stock oabt serta obat untuk kebutuhan rutin yang mencukupi selama 18 bulan. Jumlah persediaan Anti Tetanus Serum ATS) pun sekarang lebih diperbanyak, serta pengadaan ATS yang menggunakan e-katalog untuk pengirimannya dilakukan 3 kali. Hal ini dengan tujuan agar memiliki tanggal kadaluarsa yang berbeda.

Materi ketiga tentang kasus tetanus pada gempa bumi Pidie Jaya tahun 2016 dipaparkan oleh dr. Hasnani, M.Kes dari P2KK Aceh yang dilakukan menggunakan media webinar. Pada bencana tersebut, dinas kesehatan Aceh berkoordinasi dengan RSU Zainal Abidin Banda Aceh dalam hal menerima pasien, serta mendirikan pos koordinasi kesehatan. Fase tanggap darurat hari ke-2 maka telah dibentuk tim kesehatan, dimana seluruh divisi dari Dinkes Aceh bergabung bersama tim P2KK Aceh pada klaster kesehatan. Bantuan segera datang setelah bencana terjadi, baik dari dalam maupun luar negeri. Sejumlah tim relawan membantu dalam situasi yang timbul akibat bencana. Diketahui terdapat kurang lebih 1.174 relawan yang telah terjun dalam bencana.

Fasilitas kesehatan banyak yang mengalami kerusakan, terutama yang paling banyak terjadi yaitu puskesdes. Banyak penyakit juga yang timbul akibat bencana, seperti ISPA, diare, penyakit kulit, dan penyakit lain. Cakupan imunisasi pada gempa Pidie Jaya melingkupi imunisasi campak sebesar 95,02% dari target 5.500 balita, dan imunisasi tetanus sebanyak 67,63% dari 275 relawan. Tidak ditemukan kasus tetanus baik sebelum bencana maupun dari para relawan pada masa tanggap darurat.
Materi terakhir disampaikan oleh dr. Sulanto Saleh Danu, Sp.FK tentang logistik medik pada bencana. Erat hubungannya antara bencana dengan infeksi, dimana infeksi terjadi apabila muncul gejala patologis. Besar kecilnya logistik dalam bencana dipengaruhi oleh macam bencana, besar kekuatan, lokasi bencana, jumlah korban dan populasi penduduk.

Dampak dari bencana menimbulkan trauma, komplikasi, dan penyakit seperti tetanus. Sementara tindakan pasca bencana pada korban maka perlu dilakukan triase, perawatan luka, stabilisasi, serta tindakan pencegahan. Berdasarkan dari beberapa bencana yang terjadi di Indonesia, maka sangat perlu dilakukan pengelolaan logistik baik medis maupun non medis. Tiap bencana selalu berdampak pada kesehatan manusia, banyak penyakit yang akan timbul, salah satunya yaitu yang diakibatkan oleh infeksi. Penatalaksaan infeksi sendiri diperlukan anti infeksi, vaksin serum dan pendukung lainnya.

Reporter: Wisnu Damarsasi

Reportase Sesi Pembukaan Seminar Penggunaan Logistik Medik pada Bencana

pembukaan asm bencan

Reportase Sesi Pembukaan

Seminar Penggunaan Logistik Medik pada Bencana:
Study Kasus Tetanus pada Gempa Yogyakarta untuk Pencegahan pada Gempa Pidie Jaya 2016

Kamis, 9 Maret 2017
Gedung Senat Lantai 2 KPTU Fakultas Kedokteran UGM

pembukaan asm bencan

Seminar rutin tahunan yang diselenggarakan kerjasama antara Pokja Bencana FK UGM dengan Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM ini merupakan partisipasi dalam rangka Annual Scientific Meeting FK UGM setiap tahunnya. Tahun 2017, Pokja Bencana mengambil tema yang lebih spesifik, merujuk pada tema ASM Pusat, yakni tentang penggunaan logistik medik dalam bencana.

Permasalahan logistik dalam bencana menarik untuk didiskusikan sebab penggunaan dan pendistribusian yang tidak tepat dapat menimbulkan masalah kesehatan. Berbeda dengan seminar-seminar sebelumnya, seminar kali ini kita fokus pada satu kasus yakni kasus tetanus, kata dr. Handoyo Pramusinto, Sp.BS selaku Ketua Pokja Bencana FK UGM dalam sambutannya.

handoyo

dr. Handoyo mengapresiasi kepada seluruh peserta, klien, dan pemerhati bencana semuanya yang berhadir secara langsung ataupun yang melalui webinar dalam seminar ini. Kita membutuhkan diskusi dan sharing yang banyak dari seluruh rekanan bencana dalam seminar ini.

Sambutan dan pembukaan disampaikan oleh dr. Mei Neni Sitaresmi, SP. A(K), Ph.D selaku perwakilan dekanat FK UGM. Beliau mengatakan bahwa upaya kesiapsiagaan bencana sangat dibutuhkan agar penanganan respon dan pasca bencana lebih optimal, salah satunya dengan penyiapan logistik. Kaitannya dengan kasus tetanus pada kejadian gempa menarik untuk dibahas karena berkaitan sekali dengan ketersediaan logistik vaksin misalnya, bagaimana perencanaan, pendistribusian, dan cakupannya pada masa bencana.

dr. Mei Neni Sitaresmi

Harapan beliau seminar ini menjadi pembelajaran yang bagus karena mempertemukan antara guideline dan kebijakan yang ada dengan pengalaman rekan sekalian di lapangan pada saat bencana. Bisa jadi dari seminar ini nantinya didapatkan masukan upaya perbaikan penanganan logistik medik pada saat bencana kedepannya.

Reportase: Madelina A

 

Reportase: LUNCH SEMINAR DAN WEBINAR LAPORAN KEGIATAN GEMPA PIDIE JAYA DAN BANJIR BANDANG BIMA

mei neni wadek fk

LUNCH SEMINAR DAN WEBINAR LAPORAN KEGIATAN GEMPA PIDIE JAYA DAN BANJIR BANDANG BIMA

Yogyakarta, 8 Februari 2017
Reportase oleh:  Intan Anatasia

PKMK Yogyakarta.


Acara webinar ini dibuka oleh dr. Mei Neni Sitaresmi, Sp.A(K).Ph.D selaku Wakil Dekan Bidang Kerja Sama, Alumni, dan Pengabdian Masyarakat. Mei menyampaikan Fakultas Kedokteran UGM tetap menjalankan Tri Dharma dengan memberangkatkan Tim Bencana untuk melakukan kontribusi di Gempa Pidie Jaya dan Banjir Bandang Bima. Harapannya dari laporan kegiatan ini kita bisa sama-sama belajar untuk melakukan rencana tindak lanjut ke depannya.

 mei neni wadek fk

Acara selanjutnya adalah Pengenalan Mengenai Kelompok Kerja Bencana (POKJA BENCANA) Fakultas Kedokteran UGM  oleh dr. Handoyo Pramusinto, SpB. Handoyo mengharapkan agar Surat Keputusan dari Universitas Gadjah Mada segera turun untuk legalitas dari Pokja Bencana FK UGM. Handoyo juga menjelaskan bahwa POKJA BENCANA ini terdiri dari beberapa komponen yaitu dari RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, Rumah Sakit Akademik UGM, termasuk juga dari lintas bidang karena tim ini terdiri dari klinis/kedokteran, surveilans, promosi kesehatan, gizi dan kesehatan jiwa. Pokja Bencana FK UGM mempunyai harapan untuk terintegrasi dengan DERU UGM dan Pusat Studi Bencana Alam.

handoyo 

Masuk ke acara inti yaitu penyampaian Laporan kegiatan Tim Klaster Kesehatan Gempa Pidie Jaya oleh dr. Hendro Wartatmo, SpB.KBD. Hendro menyampaikan alasan mengapa tim berangkat ke Pidie Jaya pada fase recovery, karena saat fase akut biasanya sudah banyak tim yang datang untuk membantu sehingga diambil keputusan untuk berangkat pada fase recovery setelah tim assessment mendapatkan penilaian kebutuhan awal. Koordinasi dilakukan selama 5 hari sebelum keberangkatan. Hendro menceritakan pada hari pertama tim menyambangi Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) untuk berdiskusi dan melakukan pemetaan daerah terdampak. Pertemuan ini dipimpin langsung oleh Kepala Pusdalops BPBA Aceh. Pertemuan ini juga membahas plan of action di Pidie Jaya.

Selanjutnya tim menuju pos kesehatan di RSUD Pidie Jaya. Di pos kesehatan, sudah ada tim Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, Dinas Kesehatan Kabupaten Pidie Jaya, dan Kemenkes. Kembali dilakukan koordinasi dengan klaster kesehatan yang sudah ada, sebagian tim juga melakukan pengecekan lokasi RSUD, dan sebagain lagi mendirikan tenda. Seluruh tim akan bermalam di lokasi ini. Hendro menunjukan pula foto-foto bangunan seperti bangunan Rumah Sakit Pidie Jaya yang hancur.

Pada hari ketiga masih melanjutkan rencana operasi bahwa hari ini tim layanan kesehatan diberangkatan ke Puskesmas Cubo dan tim health management support berada di pos kesehatan untuk mengikuti rapat koordinasi dengan pihak terkait. Hendro menyempatkan untuk tetap menikmati keindahan di daerah Pidie Jaya dan menikmati kuliner durian di Pidie Jaya. Kerja dari tim  pertama dilanjutkan kembali oleh tim kedua dimana kegiatan yang dilakukan berupa pendampingan Primary Health Care Disaster Plan (PHCDP) dan Pelatihan Penanganan Luka. Di akhir paparannya, Hendro Wartatmo menyampaikan lesson learnt yang bisa diambil dari kegiatan ini adalah bahwa respon pada fase akut saat sudah cukup cepat, tim kesehatan sudah aktif di hari pertama dan networking lokal sudah ada. Masih ada hal yang perlu diperbaiki yaitu kondisi di Pidie Jaya sudah tidak baik bahkan sebelum bencana contohnya IPAL di RSUD Pidie Jaya kondisinya semakin parah setelah gempa terjadi. Komunikasi saat kondisi bencana sangat sulit walaupun akhirnya berjalan lancar maka harus disadari pentingnya menjaga komunikasi.

 Dok. PKMK FK UGM. Laporan Kegiatan Gempa Pidie Jaya dan Banjir Bandang Bima

Masuk ke sesi kedua yaitu Laporan Kegiatan Tim Klaster Kesehatan Banjir Bandang Bima yang disampaikan oleh Sutono S.Kep.,M.Sc. Sutono menyampaikan rasa bangganya kepada alumni-alumni di Universitas Gadjah Mada yang responsif untuk menyebarkan berita bencana ke Divisi Manajemen Bencana sehingga bisa segera merespon untuk melakukan tindakan ke lokasi bencana. Sutono menjelaskan mengenai alasan untuk berangkat ke Bima karena sudah ada laporan bahwa ada 4 puskesmas yang lumpuh dan tidak bisa melakukan pelayanan.

Tujuan tim Bima berangkat yang pertama adalah mengidentifikasi permasalahan di sektor kesehatan dan menyiapkan tim lanjutan untuk membantu korban bencana di kota Bima. Tim langsung menyisir 33 lokasi pengungsian yang belum di-follow up untuk mendata jumlah pengungsi dan mendapatkan data kelompok rentan yang ada. Dari hasil survey ditemukan berbagai penyakit setelah hari kedelapan banjir seperti myalgia, dermatitis dan ISPA. Identifikasi potensi Kejadian Luar Biasa seperti demam berdarah dan dicurigai leptospirosis akibat manajemen sampah yang buruk.  Terdapat juga korban yang meninggal diakibatkan oleh infeksi tetanus. Masih banyak desa yang belum mendapatkan vaksin sehingga ditemukan disalah satu yang mengalami campak.

Fasilitas kesehatan di Bima belum mendapatkan pengetahuan dalam membuat perencanaan penanggulangan bencana di fasilitas kesehatan. Tim pertama merekomendasikan untuk manajemen air, potensi wabah, pembuatan regional disaster plan agar sektor kesehatan bisa melakukan persiapan. Tim kedua yang diterjunkan ke Bima mulai 18 – 21 Januari 2017 terdiri dari 4 orang yang terbagi menjadi 2 grup yaitu: Grup 1 terdiri dari Dr. Ir. Agus Maryono dan Rifqi Amrillah Abdi yang berfokus pada penerapan teknologi alat pemanen air hujan. Grup 2 terdiri dari Prof. dr. Hari Kusnanto, DrPH dan Bayu Fandhi Achmad, S.Kep., Ns., M.Kep. yang berfokus pada studi kesehatan lingkungan. Tim selanjutnya dibagi menjadi 2 yaitu 1 grup bergerak ke kantor Dinas Kesehatan Kota Bima untuk mempresentasikan teknologi alat pemanen air hujan pada perwakilan puskesmas dan Dinas Kesehatan Kota Bima serta 1 grup bergerak untuk mempersiapkan berbagai alat dan bahan yang akan digunakan untuk pembuatan alat pemanen air hujan tersebut. Prof. dr. Hari Kusnanto juga melakukan survey keliling untuk melihat permasalahan kesehatan lingkungan di kota Bima. Tim kedua masih merekomendasikan untuk tim berikutnya untuk mengelola air di kota Bima dan mengelola lingkungan kota Bima bisa tertata dan mencegah banjir datang. Harapannya akan ada program jangka panjang untuk membangun kota Bima.

Dok. PKMK FK UGM. Sesi Tanggapan dan Diskusi

Pada sesi Diskusi dan Tanggapan,  dr. Mei Neni Sitaresmi, Sp.A(K).Ph.D menanggapi mengenai kesulitan komunikasi birokrasi di daerah bencana dan mengapresiasi pengorbanan dari tim yang sudah meluangkan waktu untuk ke daerah bencana bahkan saat hari libur nasional. Mei juga menyampaikan pentingnya sektor kesehatan untuk menjalin kerjasama dengan lintas sektor dan kearifan lokal yang ada di masing-masing daerah bencana. Tanggapan kedua diberikan oleh Dr. rer. nat. dr. BJ Istiti Kandarina menyampaikan peran aktif dari Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada Kedokteran (KAGAMA Dok) di setiap daerah untuk selalu bertukar informasi terutama yang berkaitan dengan bencana dan selain itu juga sangat tertarik dengan cerita dari kearifan lokal di masing-masing daerah bencana.

Tanggapan diberikan oleh Prof. dr. Yati Soenarto Sp.A (K) mengenai harapannya untuk kegiatan ini tidak hanya sekali saja pergi ke daerah bencana dan kemudian hit and run namun harus dilakukan secara berkesinambungan serta membantu untuk pasca terjadinya bencana. Tanggapan selanjutnya diberikan oleh Kudiyana yang berasal dari Dinas Kesehatan Provinsi Yogyakarta mengenai dana siap pakai yang digunakan saat terjadi bencana. Dana siap pakai untuk membantu masih sangat sulit birokrasinya maka perlu ada evaluasi bersama pemerintah daerah mengenai dana bantuan ini.

Acara ditutup oleh dr. Mei Neni Sitaresmi, Sp.A(K) yang menyampaikan kesimpulan dimana koordinasi sangat penting bahkan sebelum tim bencana itu berangkat. Selain itu, kesinambungan juga sangat penting agar yang kita kerjakan dapat berkelanjutan dan terintegrasi sehingga dapat meningkatkan SDM yang ada didaerah bencana. Hal-hal yang kita kerjakan sangat baik didokumentasikan baik seperti acara webinar dan juga menjadi bahan-bahan penelitian.

 

Materi Presentasi:

Sarasehan Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM

Dok.PKMK FK UGM. Pembukaan oleh dr. Bella Donna, M.Kes

Sarasehan Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM

Yogyakarta, 8 Februari 2017

Reportase oleh:  Intan Anatasia

PKMK Yogyakarta.


 Dok.PKMK FK UGM.  Pembukaan oleh dr. Bella Donna, M.Kes

Divisi Manajemen  Bencana PKMK FK UGM telah menyelenggarakan kegiatan Sarasehan Divisi Manajemen Bencana  dan Lunch Seminar Laporan Kegiatan Gempa Pidie Jaya dan Banjir Bandang Bima. Kegiatan ini diwebinarkan, sehingga peserta yang tidak datang hadir langsung, tetap dapat memantau secara langsung. Acara sarasehan ini dibuka oleh dr. Bella Donna, M.Kes selaku kepala Divisi Manajemen Bencana. dr. Bella Donna menyampaikan tujuan diadakan sarasehan ini untuk mempererat hubungan antara Divisi Manajemen Bencana dengan rekanan dan klien, mendiskusikan lesson learnt penanggulangan bencana sektor kesehatan pada tahun 2015/2016 dan arah kebijakan penanggulangan bencana sektor kesehatan pada tahun 2017/2018. dr. Bella Donna juga menyampaikan pada sesi siang akan diselenggarakan webinar mengenai laporan kegiatan Gempa Pidie Jaya dan Banjir Bandang Bima oleh tim UGM yang bertugas.

Sarasehan dimulai dengan Perkenalan Tim Divisi Manajemen Bencana dan Konsultan di Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM yang disampaikan oleh Intan Anatasia N.P.,M.Sc.,Apt.  Dalam hal ini, disampaikan struktur dari penasehat, kepala divisi, konsultan dan peneliti serta asisten konsultan yang terlibat dalam Divisi Manajemen Bencana hingga saat ini.

Selanjutnya disampaikan mengenai Pengantar Refleksi 2015/2016 dan Outlook Manajemen Bencana 2017 oleh dr. Bella Donna, M.Kes. Bella menyampaikan bahwa Indonesia kembali dikejutkan dengan bencana gempa bumi yang berkekuatan 6 SR pada pukul 05.03 WIB di Kabupaten Pidie Jaya Provinsi Aceh, setelah Tsunami yang terjadi sekitar 12 tahun lalu. Ada sekitar 1009 kejadian bencana yang terjadi di Aceh sejak tahun 1815-2016. Tetapi pulau Jawa masih menempati rangking pertama dalam jumlah kejadian bencana terbanyak di Indonesia (sumber: Pusat Data Informasi dan Humas – BNPB). Perjalanan kesiapan penanggulangan bencana di Indonesia selama tahun 2016 semakin meningkat. Sumber daya manusia di sektor kesehatan semakin sadar bahwa dibutuhkan peningkatan seluruh kapasitas. Salah satu bentuk yang dilakukan dengan penyusunan rencana kontijensi yang sudah dilakukan Dinas Kesehatan serta kesiapan rumah sakit (HDP) dan puskesmas di Indonesia. Bukan hanya hal tersebut, melalui Permenkes No 19 Tahun 2016 Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu juga dikembangkan menjadi salah satu sistem yang terkordinasi dari pre Hospital, Inter Hospital dan Intra Hospital. Melihat hal ini, maka dibutuhkan sumber daya baik tenaga medis maupun para medis yang terampil dan siap jika dibutuhkan sewaktu-waktu.  Untuk itu, sudah dilakukan pertemuan dan rencana ke depan agar tiap kabupaten, provinsi dan tingkat nasional wajib menyiapkan Tim Reaksi cepat ( Emergency Medical Team) sesuai dengan panduan WHO, dan siap terjun saat terjadi krisis kesehatan ataupun bencana.

Berdasarkan Prioritas dan perubahan paradigma ke arah kesiapsiagaan, dalam kebijakan penanggulangan bencana di tahun 2017 pada fase pra bencana sesuai dengan “Sendai Framework” yaitu pengurangan risiko bencana dengan penguatan kapasitas masyarakat dan pemerintah lokal. Maka Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM juga melakukan aksi ini melalui beragam kegiatan yang bekerja sama dengan Kemenkes, WHO, rumah sakit, puskesmas, BPBD, Pemda dan lintas fakultas dalam memberikan pendampingan guna membantu fasilitas kesehatan dan sumber daya manusia agar siap dalam menghadapi krisis kesehatan. Melalui Deklarasi UGM kampus tangguh bencana, maka pengembangan kurikulum manajemen bencana masih akan tetap dilakukan dan selalu dievaluasi agar Fakultas Kedokteran khususnya bisa memiliki mahasiswa yang memahami peran mereka jika masuk dalam situasi bencana. Tidak hanya mahasiswa, tetapi pihak Ilmu Kesehatan masyarakat (IKM) di Fakultas Kedokteran akan membangun sistem keselamatan kerja terhadap dosen, staf, satpam, petugas yang sehari-hari bertugas saat jam kerja dan di luar jam kerja, agar siap menghadapi kegawatdaruratan. Harapannya tidak hanya di lingkungan IKM tetapi seluruh civitas di lingkungan FK akan terbangun sistem keselamatan kerja dan bangunan yang aman (safety building).
 
Dok. PKMK FK UGM. Pemaparan Kegiatan Divisi Manajemen Bencana oleh Madelina Ariani, SKM.,MPH.

    Acara kedua adalah Pemaparan Kegiatan Rutin dan Program Divisi Manajemen Bencana tahun 2017 yang disampaikan oleh Madelina Ariani, SKM., MPH. Pada sesi ini disampaikan mengenai kegiatan rutin dan unggulan dari Divisi Manajemen Bencana, Paket Pendampingan Pelatihan, Kerjasama Divisi Manajemen Bencana, Program Divisi Manajemen Bencana 2017, Pengenalan Webinar dan Video, serta Peluang Kerja Sama yang dibuka oleh Divisi Manajemen Bencana. Madelina Ariani juga menjelaskan mengenai paket-paket pelatihan dan pendampingan yang diberikan oleh Divisi Manajemen Bencana yaitu terdiri dari In House Training Hospital Disaster Plan (HDP), Seminar dan Sosialisasi HDP, Workshop HDP, Review HDP, Simulasi Bencana di Rumah Sakit, Pelatihan Primary Health Care Disaster Plan (PHCDP), Pengembangan Kurikulum Bencana Kesehatan, Sosialisasi HDP/PHCDP untuk Dinas Kesehatan, dan workshop lainnya. Rekanan yang pernah bekerja sama dengan Divisi Manajemen Bencana FK UGM antara lain Pusat Krisis Kesehatan Kementrian Kesehatan, WHO, Dinas Kesehatan, Pemda, universitas baik di dalam maupun luar negeri, Fakultas-fakultas yang ada di UGM, LSM, rumah sakit, puskesmas, BNPB, BPBD, World Vision dan lain-lain. Program dan kegiatan yang akan dilaksanakan oleh Divisi Manajemen Bencana pada 2017 antara lain seminar, workshop dan bimbingan teknis,  Launching Buku Bencana, Perkuliahan, Pameran Ilmiah Bencana Kesehatan, Webinar Series, dan Community of Practice. Selain itu, disampaikan juga oleh Madelina Ariani mengenai pembelajaran webinar dan kebutuhan pembuatan video yang juga bisa difasilitasi dan didiskusikan dengan Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM.  Besar harapan dari Divisi Manajemen Bencana untuk senantiasa menjalin kerjasama dengan klien-klien yang membutuhkan jasa konsultasi dan pendampingan mengenai manajemen bencana.

Pada sesi Diskusi dan Tanggapan, dr. Achmad Yurianto selaku Kepala Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan menyampaikan rasa senangnya selama ini telah bekerja sama dengan Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM. Harapan ke depannya dapat dibuat juga kebijakan-kebijakan baru yang berkaitan dengan manajemen bencana, melakukan pelatihan dan pendampingan di daerah, pengembangan kurikulum perguruan tinggi, melakukan pengabdian masyarakat dan menyusun buku pembelajaran manajemen bencana.  Ada pula tanggapan dari RSUD Wonosari dan Rumah Sakit Panembahan Senopati Bantul yang sangat senang diundang hadir di acara Sarasehan Divisi Manajemen Bencana dan menyatakan sangat menunggu untuk bisa mendapatkan pendampingan prehospital dan simulasi bencana di rumah sakit mereka.

Dok.PKMK FK UGM. Tanggapan dari RSUD Wonosari dan RS Panembahan Senopati Bantul

Acara terakhir pada kegiatan sarasehan ini adalah Pengenalan Website Bencana Kesehatan yang dikelola oleh Divisi Manajemen Bencana Kesehatan oleh Intan Anatasia N.P.,M.Sc.,Apt. Disampaikan kepada peserta acara ini bahwa Divisi Manajemen Bencana mempunyai website www.bencana-kesehatan.net yang selalu meng-update kejadian bencana dan keilmuan manajemen bencana.

Dok. PKMK FK UGM. Pengenalan Website Bencana Kesehatan oleh Intan Anatasia N.P.,M.Sc.,Apt.

Update Laporan : Tim Klaster Kesehatan FK UGM dalam Bakti Sosial di Bima, Nusa Tenggara Barat

bima 1

Update Laporan :

Tim Klaster Kesehatan FK UGM dalam Bakti Sosial di Bima, Nusa Tenggara Barat


Pembaca website bencana kesehatan pada 21 Desember 2016 telah terjadi banjir bandang akibat hujan deras yang mengguyur wilayah Bima dan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Akibat hujan deras ini ribuan rmah terendam banjir di Kota Bima, Kabupaten Bima dan Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Fakultas Kedokteran UGM pada 30 Desember 2016 mengirimkan tim klaster kesehatan untuk melakukan penilaian awal dalam kebutuhan dalam bencana banjir bandang di Bima.

{tab Hari 1 |blue}

LAPORAN KEGIATAN TIM ASSESSMENT
LOKASI BANJIR BIMA

PKMK-Bima, 30 Desember 2016

Tim Klaster Kesehatan FK UGM tiba di Bandara Sultan M.Salahudin Bima jam 14.00 wita, dijemput oleh dr. Sri Yati (Residen Anak yang sedang referal di RSUD Bima) dan Sdr. Firman mahasiswa S3 FK UGM, menitipkan barang ke penginapan langsung menuju Balai Kota Bima yang saat ini dipakai sebagai “Pos Komando Penanganan Banjir Kota Bima”.

bima 1

Tim melapor ke ruang posko “Klaster Kesehatan” yang dipimpin oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Bima. Selanjutnya  tim Klaster Kesehatan bertemu dengan  Asisten 1 Walikota Bima Drs. M. Farid., M.Si. Tim Klaster Kesehatan  menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan tim ke Bima. Selain itu, direncanakan ada tim lanjutan dengan anggota multi profesi untuk membantu menangani dan memberikan masukan pada pemerintah kota Bima terkait dengan bencana banjir yang dihadapi dan bagaimana langkah ke depannya.  M. Farid  sangat welcome dan berharap tim dari UGM dapat berkontribusi untuk mengatasi tahap rehabilitasi pasca banjir bandang.

kantor walikota bima

Tim Klaster Kesehatan bertemu  dengan ketua IDI Kota Bima : dr. Fatur Rahman. Beberapa informasi yang kami dapatkan adalah stok obat penyakit kulit yang menipis, serta tingginya penyakit kulit, meningkatnya kasus diare khususnya pada anak-anak. dr. Fatur Rahman juga menyampaikan bahwa  baru-baru ini ia dihubungi oleh Prof. Suhardjo yang menyampaikan bahwa tim beliau akan datang ke Bima. Kami sampaikan juga bahwa KAGAMA telah mengirimkan bantuan lewat perwakilan KAGAMA yang ada di Bima (dr. Erma) yang mungkin akan datang 1 atau 2 hari lagi.

audiensi idi bima

Permasalahan yang ditemukan saat ini di posko klaster kesehatan adalah terbatasnya SDM yang melakukan entry data sehingga tim membantu entry data untuk data baru dan data yang sudah lewat tanggal.

Rencana kegiatan hari ke-2, adalah mengikuti rapat koordinasi klaster kesehatan pagi sekitar jam 8.00 WITA. Selanjutnya tim UGM akan menyisir seluruh lokasi pengungsian yang terdata sekitar 36 lokasi pengungsian, dengan tujuan untuk:

  1. Validasi data jumlah pengungsi dan lokasi pengungsian
  2. Identifikasi karakteristik kelompok pengungsian berdasarkan usia, serta kelompok rentan ( BALITA, Bumil dan Busui, Lansia, serta penyakit kronis).
  3. Identifikasi masalah kesehatan yang muncul di kampung / kelurahan yang terkena banjir.
  4. Koordinasi dan kolaborasi pelayanan medis di Rumkit lapangan milik TNI.

Demikian kegiatan tim pada hari pertama serta rencana hari kedua.


Dilaporkan oleh  Sutono dan  Kontributor lapangan : Tim Assesment Banjir Bima

 

{tab Hari 2 |green}

LAPORAN KEGIATAN TIM ASSESSMENT
LOKASI BANJIR BIMA

PKMK- Bima, 1 Januari 2017

Sesuai rencana hari kedua, dan  Tim UGM datang di posko klaster kesehatan untuk ikut rapat koordinasi klaster kesehatan.

Rapat koordinasi

Dr. Yainul Dinkes Propinsi :

Saat ini sudah persiapan masuk recovery tanggal 5 Januari 2017, koordinator lapangan diserahkan ke PJ PsKL sebagai penanggung jawab kegiatan. Fokus kegiatan : masalah lingkungan, sejak kemarin sudah dilakukan kaporisasi (memasukkan serbuk kaporit ke dalam sumur warga). Fungsi puskesmas segera berjalan normal kembali, direncanakan Senin, 2 Januari 2017 sudah buka setidaknya 2 puskesmas karena 2 puskesmas yang lain kondisinya masih belum tuntas dibersihkan (belum layak dipakai).

Ada 4 puskesmas yang terdapak banjir, 2 puskesmas direncanakan bisa berfungsi mulai hari senin tanggal 2 Januari, diharapkan dinkes kota untuk melakukan koordinasi segera  khususnya program pebersihan gedung serta fasilitas pelayanan pasien.

Tim Medis Bantuan

Ada pos 61 pelayanan klinik yang saat ini jumlahnya sudah mulai berkurang banyak. Hal ini sulit dimonitor karena sebagian tim bantuan kesehatan tidak melaporkan diri ketika mereka meninggalkan lokasi pelayanan. Beberapa tim bantuan kesehatan selanjutnya  mengubah strategi dengan pelayanan mobile klinik. Relawan dari Lombok Barat direncanakan akan datang, dengan tim berjumlah 55 orang  yang terbanyak sektor kesahatan, hari ini /besok akan datang. Relawan ini akan diberdayakan untuk program imunisasi campak untuk balita dengan prioritas di wilayah pengungsian.
Instruksi dari  Kadinkes propinsi NTB, bahwa hari ini harus sudah dimulai imunisasi campak untuk balita korban bencana banjir di Bima.

Wilayah Terdampak Terkini

Kelurahan Tanjung masih agak sulit diakses dikarenakan masih tingginya tumpukan lumpur bercampur sampah. Untuk Kelurahan Jatiwangi, saat ini sudah bisa diakses seperti semula.

Sweeping Lokasi Pengungsi

Tim assessment melakukan sweeping di lokasi pengungsian dengan tujuan untuk :

  1. Validasi data jumlah pengungsi dan lokasi pengungsian
  2. Identifikasi karakteristik kelompok pengungsian berdasarkan usia, serta kelompok rentan ( BALITA, Bumil dan Busui, Lansia, serta penyakit kronis).
  3. Identifikasi masalah kesehatan yang muncul di kampung / kelurahan yang terkena banjir.

Pelaksanaan sweeping lokasi pengungsian, sampai jam 15 baru sempat mengunjungi 12 lokasi pengungsian (yang mestinya 33 lokasi) dengan hasil :
Menemukan balita yang dicurigai menderita campak dan merujuk pasien yang ke RS Lapangan yang selanjutnya pasien dirawat ada 1 orang, dan menyusul ada 1 pasien lagi dikirim ke RS Lapangan TNI dari lokasi yang sama.

h2 campak

Survey lokasi juga mendapatkan data tentang jenis makanan untuk pengungsi yang relatif sama (nasi bungkus), tidak ada makanan khusus untuk balita. Mereka juga mengatakan bahwa tidak ada makanan pengganti ASI yang dibagikan di lokasi pengungsian.

nasi bungkus

Data lain tentang kesehatan lingkungan, hampir seluruh lokasi pengungsian berada di masjid kampung sekitar lokasi bencana. Penumpukan lumpur bercampur sampah serta material bangunan yang sampai saat ini masih menumpuk menambah buruknya sanitasi lingkungan. Sebagian warga masih membersihkan lumpur yang masuk ke rumah, serta peralatan RT yang masih bisa berfungsi. Manajemen evakuasi lumpur dan sampah oleh dinas terkait masih sangat kurang, sehingga tumpukan lumpur dan sampah ini mulai dari dalam rumah, sepanjang gang masuk kampung, hingga ke pinggir jalan besar. Bau sampah membusuk merata di sebagian lokasi banjir Bima. Konfirmasi kepada tokoh masyarakat korban banjir mengatakan bahwa saat ini terjadi problem yang dilematis terkait pembuangan lumpur dan sampah karena Bima tidak mempunyai pembuangan sampah akhir. Mereka juga mengeluhkan tentang terbatasnya fasilitas yang dimiliki oleh dinas terkait (PU) seperti truk sampah, dan tempat pembuangan sampah sementara.

kondisi bima pasca banjir

Pelayanan Medis

Anggota tim UGM (dr Sari) bersama dr Sri Yati memberikan pelayanan medis di Rumkit lapangan TNI. Jumlah pasien yang dilayani (khusus Wanita) lebih dari 100 orang dengan keluhan terbanyak adalah penyakit kulit, ISPA, chepalgia serta keluhan lain.
kolaborasi tenaga medis

Koordinasi dan kolaborasi pelayanan medis di Rumkit lapangan milik TNI.
Tim UGM bergabung ke Rumkit lapangan TNI untuk mengikuti rapat koordinasi yang diikuti seluruh komponen klaster kesehatan baik petugas Puskesmas, pegawai dinkes kota, Tim kesehatan TNI, perwakilan dari Dinkes Propinsi NTB (dr. Jainul) dan  LSM. Rapat dipimpin oleh Kepala Dinkes wilayah Kota. Beberapa hasil yang penting dari rapat adalah bagaimana merespon instruksi Menteri Kesehatan untuk melaksanakan imunisasi dengan segera. Permasalahan yang muncul adalah sebagian besar vaksin rusak akibat coolboxnya rusak terendam air dan vaksin sudah tidak mungkin dipakai. Tim perwakilan dari dinkes propinsi (dr Jainul) berjanji untuk segera bisa menyiapkan dan memenuhi kebutuhan Vaksin dengan prioritas untuk balita di lingkungan pengungsian. Permasalahan lain adalah terbatasnya sepatu boots untuk masuk lokasi terdampak banjir dan lokasi pengungsian. Tim UGM berusaha untuk membantu dengan menghubungi perwakilan KAGAMA (dr Erma ) yang ada di Bima untuk bisa membantu hal ini. Malam itu juga, dr Erma sudah memberikan solusi dengan menyediakan sepatu boots untuk petugas kesehatan dengan jumlah terbatas, sambil menunggu bantuan yang telah dikirim oleh KAGAMA UGM karena belum sampai di lokasi.
Rapat dibubarkan pukul 18.30 dengan kesepakatan bahwa vaksinasi Campak akan dilaksanakan selambat-lambatnya tanggal 3 Januari dengan mobilisasi vaksin dari luar kota Bima (Dompu) serta menambah relawan juru imunisasi yang rencananya akan datang dari Lombok Barat.

Follow Up ke Lokasi Pengungsi

Sebagian Tim UGM sehabis rapat koordinasi, menuju lokasi pengungsi di Masjid “Nurul Mubin” Kelurahan Penaraga Bima, untuk melihat pola tidur anak balita serta mengidentifikasi solusi mencegah penularan penyakit Campak di lokasi pengungsian. Malam itu didapatkan 4 anak yang menderita demam, sementara diberikan antipiretik sambil dilakukan observasi pada hari berikutnya.

Rencana Kegiatan Hari Berikutnya

  1. Rapat koordinasi di Klaster Kesehatan
  2. Visite pasien yang dirujuk ke RSUD khususnya, rencana untuk melakukan tes serologi dengue.
  3. Sweeping lokasi pengungsi (menyelesaikan tugas hari sebelumnya)
  4. Entry data di Posko klaster kesehatan balaikota

Dilaporkan oleh Sutono dan Kontributor Lapangan : Tim Assesment Bencana Banjir Bandang Bima

{tab Hari 3 |red}

LAPORAN KEGIATAN TIM ASSESSMENT
LOKASI BANJIR BIMA

PKMK- Bima, 2 Januari 2017

Rapat Koordinasi Klaster Kesehatan di Balai Kota

Rapat dipimpin oleh perwakilan Dinkes Kota Bima dengan fokus pada mobilisasi tenaga untuk melakukan jemput bola dengan melakukan   vaksinasi Campak untuk anak balita di lokasi pengungsian. Sesuai rencana awal gerakan vaksinasi bersama akan dilaksanakan pada tanggal 3 Januari 2017, tetapi karena urgensinya bahwa vaksinasi harus sesegera mungkin maka program tersebut  diputuskan untuk dilaksanakan segera pada hari ini. tim juru imunisasi dibantu oleh tim kesehatan dari lombok Barat.

Tim UGM tetap melakukan sweeping dan validasi data di lokasi pengungsian. Masih ada sekitar 21 lokasi pengungsi yang belum  tervalidasi datanya serta melakukan observasi terhadap balita di lokasi pengungsian yang menderita panas. Pasalnya,  sebelumnya ditemukan kasus campak yang bisa menular dengan cepat.

Visite RSUD Bima (RSUD Kabupaten) sebagai RS Rujukan (tipe C)
Tim UGM  dan  Residen anak (dr Sri Yati) yang sedang stase di RSUD Bima, melakukan visite pasien yang berasal dari kota Bima. Pasien tersebut adalah pasien yang  satu hari sebelumnya dirujuk dari RS lapangan TNI. Rencana dr Citra mau membantu melakukan tes serologi dengue, tetapi gagal karena buffer dan stiknya berbeda sehigga tidak bisa berfungsi.

Tim sempat melakukan assessment (singkat) terkait persiapan rumah sakit menghadapi bencana. Informasi dari tim medis yang bekerja di IGD, tim siaga bencana sedang akan dibentuk tetapi baru sebatas untuk kepentingan akresitasi. Hospital Disaster Plan (HDP) juga tampaknya belum ada.

h3 1

Sweeping Lokasi Pengungsi

Tim UGM dibagi 2 tim, dr Sari membantu memberikan pelayanan medis di RS lapangan TNI, sedangkan tim yang lain melakukan sweeping dengan fokus balita yang diduga menderita Campak. Campak jadi fokus perhatian Dinkes Kota Bima karena sudah ditemukan kasusnya di lokasi pengungsian kelurahan Penaraga. Saat ini juga sudah dimulai vaksinasi campak dengan sasaran balita yang tinggal  di lokasi pengungsian.
Sweeping dilakukan di 14 lokasi pengungsian. Kemudian, didapatkan data di beberapa wilayah pengungsi ditemukan kasus diare berdarah, pengungsi dengan bayi riwayat BBLR dengan tidak mendapatkan ASI ekslusif. Droping MP ASI dan makanan suplemen untuk bumil, serta bantuan logistik masih belum merata.
Pola  sanitasi higienis di lingkungan pengungsi sangat kurang yang berpotensi timbulnya penyakit kulit dan ISPA.

h3 2 sanitasi

Lokasi pengungsi yang masih ada penghuninya tinggal 8 lokasi. Penghuni di masjid Baitul Hamid 26 KK, Masjid Nurul Mubin, Kos Penatoi 5 KK, Masjid An-Nur Munggunau, dengan balita 15, masjid Sultan Salahudin Paruga, SMP 13 Bima 3 KK, Danateraha 7 KK, 23 jiwa dengan balita 7. Dengan temuan ada 7 balita belum tervaksin karena kurang sosialisasi.

Data di Posko Klaster Kesehatan
Dr Citra dibantu Agus Salim mahasiswa FETP IKM UGM sampai saat ini masih terlibat dalam entri dan validasi data dasar korban dan pengungsi yang setiap hari berubah. Analisa data stasistik dikerjakan oleh dr Citra yang sampai saat ini masih berlangsung.

Rencana kegiatan hari ke Empat

1.    Rapat koordinasi di Klaster Kesehatan
2.    Pelayanan medis di RS lapangan TNI
3.    Sweeping lokasi pengungsi
4.    Observasi 5 puskesmas untuk kesiapan mulainya pelayanan  dasar
5.    Kunjungan tempat pembuangan sampah
6.    Entry data dan analisa data di Posko klaster kesehatan balai kota


Dilaporkan oleh Sutono dan Kontributor Lapangan : Tim Assesment Bencana Banjir Bandang FK UGM

{tab Hari 4 |grey}

LAPORAN KEGIATAN TIM ASSESSMENT
LOKASI BANJIR BIMA

PKMK FK UGM – Bima, 3 Januari 2017-

Rapat Koordinasi

Fokus rapat adalah koordinasi tim kesehatan adalah persiapan seluruh puskesmas (5 puskesmas) terdampak banjir di Bima yaitu Puskesmas Penanae, Asakota, Mpunda, Paruga dan 1 puskesmas Rasanae Timur kembali berfungsi normal. Masa tanggap darurat sampai   5 Januari 2017 sudah selesai sehingga Kadinkes berharap semua sistem pelayanan kesehatan termasuk fungsi Puskesmas harus sudah kembali normal. Saat ini rapat difokuskan segera memulihkan fasilitas kesehatan dan akan didukung oleh TNI. Hasil rapat :

  1. Kendali koordinasi pelayanan kesehatan oleh dinkes kota sehingga secara teknis setiap kepala bidang harus bertanggung jawab. Bidang pelayanan kesehatan (yankes) hari ini harus sudah menyiapkan diri besok sudah melayani kesehatan dasar, Promkes sosialisasi masyarakat agar mereka mengetahui bahwa Puskesmas telah berfungsi dengan pemasangan spanduk di depan unit pelayanan. Ruangan puskesmas harus disterilisasi minimal dengan sinar UV.
  2. Fungsi rujukan kembali berfungsi normal. Manajemen RSUD Kabupaten Bima sudah dikonfirmasi, untuk pasien yang harus dirawat dan dirujuk ke RSUD Kab. Bima,  karena RS lapangan TNI  mulai hari ini sudah tidak merawat pasien.
  3. RS lapangan masih perlu bantuan dokter untuk itu tim UGM tetap ikut dalam pelayanan RS lapangan
  4. Promkes menggunakan mobil keliling melakukan sosialisasi puskesmas, perilaku sehat dan lain-lain
  5. Kaporisasi, abatisasi dan fogging akan segera dilakukan di seluruh kota Bima dengan prioritas daerah yang kerusakannya paling parah. Ada 1200 sumur yang harus di-treatment, akan dibantu oleh TNI

Pelayanan Medis

Pelayanan medis di RS lapangan TNI tetap di-back up oleh tim UGM.  dr. Sari tetap memberikan pelayanan di poliklinik kesehatan yang sampai saat ini jumlah pengunjung masih banyak. Rata-rata per hari masih lebih dari 200 pengunjung sampai hari ini yang terdiri dari anak dan dewasa, ibu hamil dan lansia. Pelayanan dibagi dalam 2 shift pagi dan sore. Tim UGM yang terlibat selain dr Sari juga ada dr. Sri Yati dokter residen anak yang sedang stase di RSUD Kabupaten Bima. Dalam pelayanan medis, seluruh tenaga medis diharapkan sambil melakukan sosialisasi kepada pasien dan pengunjung bahwa RS Lapangan akan segera ditutup, dan dianjurkan untuk memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan di puskesmas yang sudah mulai memberikan pelayanan kesehatan.

Observasi dan Visitasi Puskesmas

Puskesmas yang masih belum memungkinkan untuk operasional adalah puskesmas Paruga. Puskesmas tersebut baru saja dibersihkan oleh TNI bersama petugas puskesmas setempat, tetapi tiba-tiba terjadi  hujan lebat yang mengakibatkan banjir susulan yang sempat masuk di bagian belakang puskesmas. Air masuk ke beberapa ruang puskesmas sekitar 5 – 10 cm.
Puskesmas yang lain seperti Penanae, Asakota, Mpunda dan Rasanae Timur dalam observasi tim sudah bisa operasional untuk memberikan pelayanan, setidaknya pelayanan dasar.

Khusus untuk puskesmas Asakota (Puskesmas yang akan dikembangkan menjadi RSUD Kota Bima) dengan kelas RS Pratama.  Dari pengamatan tim, hanya ruang IGD yang sudah memungkinkan untuk digunakan (operasional). Hal yang menarik adalah calon RS ini, belum mempunyai sistem manajemen, model pelayanan, IT, HDP dan lain-lain l sehingga perlu mendapatkan prioritas penanganan pendampingan seperti program Aceh waktu pendampingan RS Cut Nyak Dien Meulaboh.

h4 1 keruksakan calon rsud kota bima

Tempat Pembuangan Sampah

Lokasi pembuangan sampah di Ule (lokasi wisata pantai) adalah pembuangan sampah liar, karena tidak ada rekomendasi pemerintah daerah.  Observasi yang kami lakukan tampak sampah menumpuk di kanan kiri jalan sepanjang lebih kurang 500 meter, dengan bau yang sangat menyengat, dan  sarang lalat. Kondisi ini  menimbulkan masalah kesehatan baru bagi masyarakat sekitar maupun pengunjung lokasi wisata pantai tersebut.
Lokasi pembuangan sampah yang kedua yang kami amati adalah di Amahami yang masuk di kelurahan Dara, kecamatan Rasanae Barat, Kota Bima. Lokasi pembuangan sampah persis di belakang  pompa bensin Amahami. Potensi longsor Longsong karena tidak ada dam penahan, mungkin berpotensi juga terjadi kebakaran, mengingat tumpukan sampah bisa menghasilkan gas metana. Sampah organik yang tertimbun mengalami dekomposisi secara anaerobik. Proses itu menghasilkan gas metana (CH4). Sampah yang dibakar juga akan menghasilkan gas karbondioksida (CO2). Gas CH4 mempunyai kekuatan merusak 20 kali lipat dari gas CO2. Gas metana (CH4) terbentuk karena proses fermentasi secara anaerobik oleh bakteri metana (bakteri anaerobik) dan bakteri biogas yang mengurai sampah-sampah yang banyak mengandung bahan organik sehingga terbentuk gas metana (CH4) yang mudah terbakar.

Peristiwa ledakan gas yang terbentuk di bawah tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) Leuwigajah, Kabupaten Bandung sebagai contoh. Bencana longsor yang terjadi di TPA tersebut terjadi karena adanya akumulasi panas dalam tumpukan sampah yang pada akhirnya menimbulkan ledakan yang sangat hebat. Faktanya karena ledakan inilah maka sampah-sampah tersebut longsor dan menimbun puluhan rumah disekitarnya. (Rahmadani, 2010). Terlebih tumpukan sampah ini lokasinya persis di belakang stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), sehingga potensial hazard-nya semakin tinggi. Hal ini sudah kami laporkan dalam rapat koodinasi pagi ini dan oleh kepala dinas kesehatan akan dilaporkan pada rapat koordinasi multi sektor di BPBD Balaikota.

h4 2 kelola sampah

Manajemen data di Posko Klaster Kesehatan
Tim surveilans seperti hari-hari sebelumnya tetap membantu melakukan entry data dan pengolahan data untuk koran dan pasien yang berkunjung ke fasilitas pelayanan kesehatan lapangan, posko pengungsian serta pos pelayanan LSM.


Dilaporkan oleh Sutono dan Kontributor Lapangan: Tim Assesment FK UGM Bencana Banjir Bandang Bima

{/tabs}

 

 

 

Laporan : Tim Klaster Kesehatan FK UGM ke-2 dalam Bakti Sosial di Bima, Nusa Tenggara Barat

TIM Ke 2 tiba di bima

Laporan :

Tim Klaster Kesehatan FK UGM ke-2 dalam Bakti Sosial di Bima, Nusa Tenggara Barat


Pembaca website bencana kesehatan pada 21 Desember 2016 telah terjadi banjir bandang akibat hujan deras yang mengguyur wilayah Bima dan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Akibat hujan deras ini ribuan rmah terendam banjir di Kota Bima, Kabupaten Bima dan Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Fakultas Kedokteran UGM pada 30 Desember 2016 mengirimkan tim klaster kesehatan untuk melakukan penilaian awal dalam kebutuhan dalam bencana banjir bandang di Bima.

{tab Hari 1 |blue}

LAPORAN KEGIATAN HARI PERTAMA
TIM KEDUA-BENCANA BANJIR BIMA

PKMK-Bima, 18 Januari 2017

TIM Ke 2 tiba di bima

Tim kedua yang diterjunkan ke Bima mulai tanggal 18 – 21 Januari 2017 terdiri dari 4 orang yang terbagi menjadi 2 grup yaitu:
1.    Grup 1 terdiri dari Dr. Ir. Agus Maryono dan Rifqi Amrillah Abdi yang berfokus pada penerapan teknologi alat pemanen air hujan
2.    Grup 2 terdiri dari Prof. dr. Hari Kusnanto, DrPH dan Bayu Fandhi Achmad, S.Kep., Ns., M.Kep. yang berfokus pada studi kesehatan lingkungan.
Tim Kedua FK UGM

Tim tiba di Bandara Sultan M.Salahudin Bima jam 14.00 WITA, dijemput oleh Bapak Agus Salim (Mahasiswa FETP UGM-salah satu anggota dari tim pertama yang diterjunkan ke Bima) langsung menuju ke Balaikota untuk menghadap Asisten II Walikota Bima untuk memperkenalkan diri sekaligus menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan tim. Asisten II Walikota Bima sangat mengapresiasi kedatangan tim UGM dan mengucapkan terima kasih telah peduli dan membantu warga kota Bima yang sedang ditimpa musibah berupa bencana banjir.

TIM UGM 2 bakti banjir bima

Tim selanjutnya dibagi menjadi 2 yaitu 1 grup bergerak ke kantor Dinas Kesehatan Kota Bima untuk mempresentasikan teknologi alat pemanen air hujan pada perwakilan PUSKESMAS dan Dinas Kesehatan Kota Bima serta 1 grup bergerak untuk mempersiapkan berbagai alat dan bahan yang akan digunakan untuk pembuatan alat pemanen air hujan tersebut. Dalam presentasi yang dihelat pada pukul 15.00 WITA tersebut, Dr. Ir. Agus Maryono berusaha menyampaikan materi berupa:

  1. Filosofi memanen air hujan
  2. Manfaat memanen air hujan
  3. Keutamaan air hujan dibandingkan dengan air dari PDAM dan sumur bor
  4. Masalah-masalah yang timbul terkait dengan air tanah
  5. Cara membuat alat pemanen air hujan

presentasi panen hujan

Respon peserta terlihat sangat antusias dan tertarik dengan teknologi alat pemanen air hujan tersebut karena dirasa cukup mudah diaplikasikan dengan biaya yang relatif terjangkau. Dari pertemuan tersebut diusulkan bahwa 1 prototipe alat pemanen air hujan akan dipasang di salah satu PUSKESMAS Kota Bima dan 1 prototipe lagi dipasang di Dinas Kesehatan Kota Bima.

Setelah kegiatan tersebut tim bergerak menuju salah satu sungai di kota Bima untuk melakukan pengamatan dan berdiskusi dengan warga sekitar. Kondisi saat ini, warga Kota Bima sudah memulai beraktifitas namun masih terdapat masalah yang dihadapi oleh warga kota Bima yaitu managemen sampah pasca banjir yang masih belum tertangani dengan baik. Sampah domestik masih menggunung dipinggir jalan dan belum sepenuhnya terangkut. Kondisi air tanah juga masih berasa dan berbau tidak sedap sehingga menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi masyarakat. Selain itu kondisi sungai terlihat telah terokupasi oleh pemukiman masyarakat bantaran sungai, bibir sungai sudah dibangun tembok batu sehingga ekosistem sekitar sungai mati.

masalah pasca banjir bima

Rencana hari kedua adalah

  1. Melakukan presentasi dan demonstrasi terkait penerapan teknologi alat pemanen air hujan di kantor walikota Bima
  2. Melakukan survey penyakit dan masalah kesehatan pasca banjir di rumah sakit Bima

 

{tab Hari 2 |green}

LAPORAN KEGIATAN HARI KEDUA

TIM KEDUA-BENCANA BANJIR BIMA

PKMK-Bima, 19 Januari 2017


Sesuai dengan rencana, kami bergerak menuju kantor walikota Bima pada pukul 07.45 WITA. Setiba di kantor walikota kami bertemu Walikota untuk memperkenalkan diri serta maksud tujuan kedatangan tim. Wali Kota Bima memberikan apresiasi positif kepada tim UGM yang peduli kepada warga kota Bima. Tidak lupa, Dr. Ir. Agus Maryono selaku perwakilan dari Tim memberikan buku “Aku Cinta Sungaiku” kepada Wali Kota, untuk selanjutnya dapat diperbanyak dan didistribusikan pada siswa TK ataupun SD di Kota Bima.

bima h2 1

Selanjutnya diadakan presentasi dan demonstrasi alat pemanen air hujan di ruang rapat kantor walikota Bima yang dihadiri oleh perwakilan dari Dinas Kelautan, Dinas Pemukiman, Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKP2), Dinas Pertanian, Dinas Pariwisata, Badan Kepegawaian Daerah (BKD), Dinas Keperindag, Kabag Kesra, Dinas Kesehatan, Kesbangpol, Kabag administrasi pemerintahan, Dinas Pekerjaan Umum, dan Bappeda. Kegiatan tersebut diawali dengan presentasi mengenai restorasi sungai dan pemanfaatan air hujan. Kemudian dilanjutkan dengan demonstrasi mengenai pemanfaatan alat pemanen air hujan. Kegiatan tersebut ditutup dengan sesi tanya jawab dimana banyak pertanyaan yang diberikan, namun hal tersebut menunjukkan bahwa peserta kegiatan memiliki respon dan keterkaitan yang sangat positif terhadap alat pemanen air hujan.

bima h2 2

Setelah kegiatan di kantor walikota Bima, tim bergerak ke bagian surveilans RSUD Kabupaten Bima dan Dinas Kesehatan Kota Bima. Kegiatan tersebut bertujuan untuk mengetahui perubahan pola penyakit yang timbul sebelum dan sesudah banjir terjadi. Hasil yang didapatkan adalah adanya peningkatan kasus tetanus dan campak. Selain itu kondisi kota Bima saat ini sangat berdebu terutama di jalan raya bekas tergenang banjir dan lumpur sehingga perlu antisipasi terhadap kejadian ISPA.

bima h2 3

Pada dasarnya upaya untuk melakukan recovery terhadap banjir di kota Bima terus dijalankan, salah satunya dengan membersihkan sampah dan melebarkan selokan sehingga air dapat berjalan lebih lancar. Tim melihat beberapa petugas dengan menggunakan alat berat berusaha untuk melebarkan selokan sekaligus membersihkan samapah di selokan. Tanah hasil kerukan alat berat diangkut menggunakan truk.

bima h2 4

Pembelajaran penting yang didapat hari ini adalah bahwa pemerintah dan masyarakat harus bersama-sama dalam menangani kejadian banjir di kota Bima, pemerintah tidak perlu malu untuk mengakui bahwa memang tidak ammpu bekerja sendiri dan membutuhkan bantuan dari masyarakat. Kedua adalah perlunya meningkatkan rasa cinta terhadap sungai. Dengan adanya rasa cinta terhadap sungai diharapkan masyarakat akan menjaga sungai dengan baik. Pada dasarnya tidak ada satupun warga yang benci sungai, karena ada semacam kenangan masa kecil ketika melihat sungainya bersih, bisa mandi di sungai, dan banyak ikan disana sehingga itu adalah salah satu motivasi untuk menjaga sungai.

Rencana untuk hari ketiga:
1. Pemasangan instalasi alat pemanen air hujan di Puskesmas pananae dan Dinas Kesehatan Kota Bima
2. Membentuk grup komunikasi Gerakan Restorasi Sungai Indonesia 37 (GRSI 37)

 

{tab Hari 3 |red}

LAPORAN KEGIATAN HARI PERTAMA

TIM KEDUA-BENCANA BANJIR BIMA

PKMK-Bima, 20 Januari 2017


Hari ketiga diawali dengan rapat di Dinas Kesehatan Kota Bima yang dipimpin oleh Sekertaris Kepala Dinas Kesehatan Kota Bima untuk menentukan lokasi dimana alat Pemanen Air Hujan akan dipasang. Hasil rapat ditentukan bahwa Pemanen Air Hujan dipasang di Puskesmas Penanae dan Mpunda. Selanjutnya tim segera bergerak menuju lokasi pertama yaitu Puskesmas Penanae untuk melakukan pemasangan.

Proses Instalasi pemanen hujan

Setelah mendapat izin dari kepala Puskesmas, tim segera melakukan pemasangan alat tersebut. Kendala yang dihadapi adalah hujan yang turun cukup lama sehingga menghambat pemasangan alat tersebut, namun setelah hujan berhenti, tim kembali bekerja seperti biasa. Selanjutnya tim bergerak ke Puskesmas Mpunda untuk proses instalasi alat Pemanen Air Hujan yang kedua.

alat pemanen air hujan

Selain kegiatan pemasangan alat Pemanen Air Hujan, tim juga membentuk grup komunikasi Gerakan Restorasi Sungai Indonesia 37 (GRSI 37) yang terdiri dari perwakilan dari Dinas Kelautan, Dinas Pemukiman, BKP2, Dinas Pertanian, Dinas Pariwisata, BKD, Dinas Keperindag, Kabag Kesra, Dinas Kesehatan, Kesbangpol, Kabag administrasi pemerintahan, Dinas Pekerjaan Umum, Bapedas serta surveilans diseluruh puskesmas Kota Bima. Grup tersebut menunjukkan komitmen bersama untuk melakukan upaya perbaikan lingkungan berupa restorasi sungai, serta berusaha untuk merangkul masyarakat agar bersama-sama menciptakan dan menjaga sungai agar selalu bersih, sehat, dan aman dari banjir.

Tim juga melanjutkan untuk melakukan konfirmasi data kejadian penyakit baik kepada surveilans di Dinas kesehatan maupun berdiskusi dengan masyarakat. Tim mendatangi rumah staf Dinas Kesehatan untuk konfirmasi data perubahan pola penyakit sebelum dan sesudah terjadi bencana banjir. Hal tersebut dikarenakan terdapat kasus campak pascabanjir.
 
cek ph hasil panen air hujan

Rencana dihari keempat:

  1. Memastikan kembali alat Pemanen Air Hujan terlah terpasang dengan baik di kedua lokasi yang telah disebutkan.
  2. Melakukan uji lab terhadap air tampungan meliputi uji ph, bakteri, TDS

 

{tab Hari 4 |grey}

LAPORAN KEGIATAN HARI PERTAMA

TIM KEDUA-BENCANA BANJIR BIMA

PKMK-Bima, 21 Januari 2017


Dalam Proses Penyusunan

 

{/tabs}

 

 {jcomments on}

 

Mewujudkan SPGDT-S dan SPGDT-B Terintegrasi Pra, Intra dan Inter Hospital Secara Nasional

Notulensi INDO HCF Expert Meeting:

Mewujudkan SPGDT-S dan SPGDT-B Terintegrasi Pra, Intra dan Inter Hospital Secara Nasional

http://bpbd.pemkomedan.go.id/foto_berita/66DSC_0550.JPG

Jakarta. INDO HCF menyelenggarakan expert meeting pada 1 Desember 2016, forum ini telah lama menggerakkan banyak diskusi terkait kegawatdaruratan. Kali ini, INDO HCF mengundang para ahli dari bidang terkait, yaitu Prof. Dr. dr. Idrus Paturusi, SpB, SpOT; Prof. Dr. dr. Aryono D Pusponegoro Sp. B (K)-BD, FINACS, FRCS (Ed); dr. Hendro Wartatmo, Sp.BD; David Handojo Muljono, MD, Sp.PD, FINASIM, Ph.D, serta dr. Tri Hesty Widyastoeti Marwotosoeko, Sp.M (Direktur Pelayanan Kesehatan Rujukan, Ditjen Pelayanan Kesehatan Kemenkes). Pertemuan ini bukan yang pertama, upaya INDO HCF untuk concern terhadap isu kesehatan telah dilakukan berulang kali, antara lain:  penelitian terkait pelayanan JKN di puskesmas (KIA), serial diskusi panel JKN, isu strategis, serta berbagai penelitian dan pelatihan yang terkait bidang tersebut.

Faktanya, hingga saat ini banyak pakar di bidang kesehatan tetapi tidak bisa dimanfaatkan di daerah.

Ide terlaksananya expert meeting kali ini ialah bagaimana menurunkan angka emergensi di Indonesia. Menurut WHO dalam kematian akibat lalu lintas nomor 3, setelah Tiongkok dan India. Harapannya, forum semaca ini dapat mengumpulkan komunitas terkait, diskusi bersama dan akhirnya saling terinformasikan. Masalah utama dalam penanganan bencana ialah tidak ada info tenaga medis yang akurat, tegas dr. Supriyantoro (Ketua INDO HCF) dalam sambutannya. Selain itu, perlu juga dilakukan penguatan di tingkat masyarakat dan hal tersebut menjadi tanggung jawab bersama. Tema yang diambil kali ini yaitu SPGDT yang harapannya bukan hanya membentuk call center. Masih muncul pula isu dalam rujukan, seharusnya ini menjadi tanggung jawab RS, merujuk, menginformasikan keadaan dan mengirim pasien. Pernyataan dari Supri ialah perlukah ada wadah untuk merumuskan banyak hal untuk kebijakan-kebijakan RS.

Direktur Pelayanan Kesehatan Rujukan, Kementrian Kesehatan RI menyatakan, dalam manajemen bencana kita tidak ada manajemen resiko yang benar-benar baik. Dalam pemaparannya terkait Kebijakan Pemerintah dalam Pemerintah SPGDT-S dan SPGDT-B, harapannya  dalam penanganan korban dapat mempercepat waktu penanganan korban. Kita harus banyak mencontoh pengalaman Tokyo, yang dapat mengirim ambulans maksimal 10 menit sejak dipanggil. Hal ini sudah ditiru Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) Tulungagung yang tidak banyak mengalami kemacetan.

Public safe center wajib dibentuk di seluruh daerah, di 540 kabupaten namun baru127 yang terhubung dengan call center 119. Latar belakang pentingnya SPGDT:

  1. Berubahnya pola penyakit (kecelakaan menduduki urutan ke-2 saat ini)

  2. Meminimalisir  kecacatan atau kematian.

Kemenkes membutuhkan masukan dari pakar dan asosiasi profesi. Masukan untuk masalah terkait pasien dapat disampaikan ke bagian layanan kesehatan (yankes) dan khusus untuk masalah terkait bencana dapat disampaikan ke Pusat Krisis Kesehatan (PKK) baru ke yankes.

dr. Hendro Wartatmo, Sp. BD (FK UGM) menyatakan SPGDT sudah dimulai sejak terbitnya peraturan Sekjen pada 2003. Pada periode 1996-2004, SPGDT dijalankan melalui Pusbankes 118 PERSI DIY. SPGDT merupakan perpaduan antara unit-unit pelayanan kesehatan. Sementara, call center adalah konsekuensi logis, bagian dari komponen saja. Nama awal SPGDT ialah Deklarasi Makkasar tahun 2000, mama kedua yaitu Brigade Kesehatan Bencana. Pengalaman Hendro, Tim Bantuan Bencana UGM mendarat di Meulaboh, pasca tsunami, menumpang pesawat Mensos saat itu. Tim pertama berangkat, iuran dari kantong pribadi. Jika sudah ada sistem, pemberangkatan tidak sulit, terang Hendro. Kemudian, program ini dilanjutkan hingga 2 tahun dan dinamai Aceh Supporting Program dan di-back-up oleh FK UGM serta RS Sardjito.

Saat ini tim Pokja Bencana UGM mengembangkan secara teknis dan manajemen. Manajemen bencana telah menjadi intrakurikuler di FK UGM di program S1 dan S2. Hendro juga menjadi anggota World Association Disaster and Management (WADEM) agar dapat terus berkontribusi pada upaya penanganan dan manajemen bencana di Indonesia. Hendro memaparkan seharusnya insider commander berasal dari BNPB.

David Handojo Muljono, MD, Sp.PD, FINASIM, Ph.D (FK Univ. Hasanudin) memaparkan “Memasyarakatkan SPGDT sehari-hari dan efisien”. Handojo menyatakan masih banyak praktek membawa pasien ke RS dengan kendaraan umum/pribadi. Sayangnya baru 4,7% dari seluruh daerah di Indonesia yang memiliki layanan  gawat darurat. Sebaiknya ada pelatihan yang diinisiasi pemerintah, agar terjadi keterpaduan antara pemerintah dan masayarakat dalam kegawatdaruratan,

Prof. Dr. dr. Aryono D Pusponegoro Sp. B (K)-BD, FINACS, FRCS (Ed) memaparkan “Kontroversi dalam penanggulangan kegawatdaruratan”. Salah satu fakta yang menjadi kontroversi ialah di beberapa daerah call center tidak bisa ditelpon karena listrik mati. Aryono berpendapat komandan dalam penanganan bencana atau insider commander sebaiknya polisi sebagai komandannya, karena ia memiliki fungsi secara law and order. Untuk setiap daerah/kota harus membentuk public safety center, ada polisi, ambulans dan damkar.

Pengalaman di lapangan. pasca bom Bali 1, Aryono berhasil melatih 3000 pecalang, sehingga saat bom Bali 2 pecalang. Menurut Aryono, triase harus dilatihkan ke pihak pengamanan hotel jika ada ancaman kecelakaan/bencana di sekitar hotel. Poin yang dapat disimpulkan, sejauh ini tenaga penanganan bencana di Indonesia masih not well organized dan not well trained.

Beberapa poin penting. Pertama perlu dipikirkan juga untuk evakuasi korban di daerah terpencil dan perbatasan, bagaimana sistemnya. Kedua,  pelibatan masyarakat selalu bisa coba dilakukan, seperti di Jatim yang telah terbentuk Forum Pengurangan Bencana. Di Sleman, saat erupsi stakeholder berhasil menggerakkan komunitas melalui Jalin Merapi (radio komunitas). Selain itu, perlu tokoh dari pemerintah yang mau terjun memimpin, seperti di negara tetangga, Malaysia, Wakil Perdana Menteri yang langsung mengkoordinir setiap kasus emergensi bencana nasional. Ketiga, permintaan dari peserta yaitu BNPB ialah pemerintah tergerak untuk menyusun pelatihan agar Tim Reaksi Cepat diberi pelatihan yang akan bermanfaat di lapangan. Sayangnya sudah ada BPBD daerah yang memiliki ambulans, namun tidak ada paramedisnya. Keempat, kelemahan dalam penanganan bencana ialah sistem dan integrasi yang belum kuat. Tantangan ke depan ialah pengembangan flying healthcare untuk menjawab kebutuhan di pulau-pulau yang terisolasi atau sulit dijangkau melalui transportasi darat. Prof Idrus menambahkan, ke depan, perlu dilakukan pengorganisasian relawan (W).


pdf icon Materi Presentasi

Pembukaan Pameran Ilmiah Manajemen Bencana Kesehatan di Indonesia

pameran ilmiah

Pembukaan Pameran Ilmiah
Manajemen Bencana Kesehatan di Indonesia

Lobby Auditorium Fakultas Kedokteran UGM
Senin, 31 Oktober 2016

Reportase oleh Intan Anatasia N.P.


 

pameran ilmiah

Pameran ilmiah manajemen bencana kesehatan merupakan kegiatan rutin yang  dilaksanakan ke-6 kalinya di Fakultas Kedokteran UGM. Pameran ini diadakan oleh Pokja Bencana FK UGM dan Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM. Pembukaan pameran ilmiah manajemen bencana kesehatan diawali dengan sambutan oleh Ketua Pokja Bencana FK UGM, dr. Handoyo Pramusinto, Sp.BS. Dalam sambutannya, Handoyo menyampaikan bahwa harapannya di tahun depan pameran ini bisa disertai dengan simulasi bencana.

Sambutan kedua disampaikan  oleh Dr. dr. Andreasta Meliala, DPH., M.Kes, MAS, Ketua Blok D2 Pendidikan Dokter regular/internasional.  Dalam sambutannya, Andre  menyampaikan bahwa senang sekali dengan adanya kegiatan pameran yang rutin dilaksanakan ini karena bermanfaat ntuk mahasiswa dalam mendukung proses pembelajaran. Andre juga menyampaikan terima kasih kepada Dekan Fakultas Kedokteran UGM, Pokja Bencana, divisi manajemen bencana PKMK FK UGM beserta seluruh pihak yang telah mendukung sehingga terlaksananya pameran ini. Beliau berharap dari POKJA Bencana FK UGM akan mengadakan praktek simulasi bencana di FK UGM tahun depan untuk melihat kesiapsiagaan mahasiswa terhadap bencana.

Sambutan ketiga diberikan oleh Dr .dr. Wahyudi Istiono, M.Kes selaku perwakilan CFHC. Dalam sambutannya, Wahyudi memaparkan mengenai kegiatan CFHC dalam kebencanaan. Salah satunya adalah sudah melakukan simulasi bencana bersama mahasiswa FK UGM. Salah bentuk refleksi dari kegiatan kebencanaan adalah mahasiswa diminta untuk membuat poster mengenai bencana dan dipamerkan di Pameran Ilmiah Tentang Manajemen Bencana Indonesia pada tahun ini.

Sambutan keempat diberikan oleh perwakilan dekanat FK UGM, Dr. dr. Ibnu Purwanto, Sp. PD K-HOM. Dalam sambutannya, Ibnu merasakan bahwa banyak sekali manfaat dari pameran ini untuk menambah pengetahuan mahasiswa FK UGM mengenai bencana mengingat banyaknya bencana yang telah terjadi di Indonesia. Harapannya agar pameran ini bisa terus dilaksanakan dan semakin meningkat tiap tahunnya.

Setelah sambutan, perwakilan dekanat  FK UGM didampingi ketua Pokja Bencana FK UGM, Ketua Blok D2 pendidikan dokter, perwakilan CFHC beserta kepala divisi manajemen bencana FK UGM memotong pita sebagai tanda dibukanya pameran ilmiah manajemen bencana kesehatan di Indonesia. Setelah pemotongan pita, perwakilan dekanat FK UGM berkeliling menuju stand MER-C, ASB, FK UGM dan Tim Bantuan Medis Mahasiswa FK UGM, serta PMI.

Bimtek Peningkatan Kemampuan Petugas Dan Penyusunan Dokumen Penanggulangan Bencana Di Puskesmas

Yogyakarta, 24 Oktober 2016
Reportase oleh Intan Anatasia N.P

Doc. PKMK FK UGM. dr. Bella Donna, M.Kes saat memberi materi

PKMK-FK UGM– Wilayah Kabupaten Seman secara geografis dan geologis termasuk daerah rawan bencana, baik yang disebabkan karena peristiwa alam maupun karena faktor manusia. Bencana alam yang dapat terjadi di kabupaten Sleman, seperti gempa bumi, gunung meletus, angin puting beliung, banjir, petir dan tanah longsor. Dengan latar belakang dan kondisi seperti itu, maka semua pihak dituntut peran sertanya dalam mengantisipasi dan menghadapi segala resiko bencana yang bisa ditimbulkan sewaktu-waktu. 

Puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan bertanggung jawab di wilayah kerjanya. Kondisi sehat, aman dan sejahtera merupakan idaman masyarakat pada masa ini maupun masa yang akan datang. Hal ini dikarenakan semakin meningkatnya kejadian gawat darurat sehari-hari di masyarakat, kejadian gawat darurat, baik akibat bencana alam maupun manusia. Demi mewujudkan kondisi sehat dan aman di masyarakat tersebut perlu dilakukan penanganan terpadu. Maka, diperlukan dokumen penanggulangan bencana tingkat puskesmas. Dokumen diperlukan sebagai pedoman dalam penanggulangan suatu kejadian bencana sehingga memantapkan kesiapan jajaran petugas Pusat Kesehatan Masyarakat dalam memberikan pelayanan kesehatan pada penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana.

Pada 24 Oktober 2016 telah diadakan Bimbingan Teknis Peningkatan Kemampuan Petugas dan Penyusunan Dokumen Penanggulangan Bencana Di Puskesmas oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman. Acara ini dibuka oleh dr. Patimah Hariyati sebagai Kasie Kesehatan Khusus di Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman. ”Puskesmas merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan saat bencana terjadi. Oleh karena itu, puskesmas harus sigap dan siaga menghadapi kondisi bencana” ujar Patimah. Peserta BIMTEK kali ini merupakan pemegang program PPPK di 25 Puskesmas.

Bimbingan Teknis ini melibatkan Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan sebagai narasumber. Selaku pembicara pertama dalam BIMTEK ini adalah dr. Sulanto Saleh Danu, Sp,FK yang memaparkan mengenai pemahaman tentang peran dan fungsi puskesmas dalam penanggulangan bencana. Sesi diskusi pertama dr. Sulnato Saleh Danu Sp.FK menyarankan untuk puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan saat terjadi bencana diharapkan melakukan penyuluhan mengenai bencana pada masyarakat dan sering melakukan simulasi bencana agar semakin siap dalam menghadapi bencana yang akan datang. Peserta menanyakan, “Bagaimana mengkoordinasikan relawan yang akan ikut membantu saat bencana?”. Mengenai relawan yang biasa turut hadir dalam penanggulangan bencana, puskesmas harus mempunyai form registrasi yang d idalamnya memastikan relawan yang datang memang mempunyai kompetensi dalam membantu pelayanan kesehatan saat bencana terjadi, ujar dr. Sulanto Saleh Danu Sp.FK.

dr. Sulanto Saleh Danu Sp.FK

Pembicara kedua dalam BIMTEK ini adalah dr. Bella Donna, M.Kes sekaligus sebagai kepala divisi manajemen bencana PKMK FK UGM. Pada BIMTEK ini Bella menyampaikan pengorganisasian dan sistem komando dalam penanggulangan bencana dan mitigasi bencana di tingkat puskesmas. Dalam materinya kali ini Bella menekankan tentang pentingnya pengorganisasian dan sistem komando saat terjadi bencana faktanya banyak kegagalan penanggulangan bencana karena lemahnya koordinasi dari setiap pihak yang terlibat. Dalam sesi diskusi ada pertanyaan dari salah satu peserta mengenai struktur organisasi tim bencana di puskesmas, “Apakah struktur organisasi tim bencana dapat menggunakan struktur organisasi yang telah ada di puskesmas sehari-hari?”, tanya salah satu peserta. Menurut Bella, struktur organisasi tim bencana bersifat fleksibel hanya perlu ditambahkan saja koordinator yang mengurusi relawan dan pemulangan pasien saat bencana terjadi karena hal inilah yang membedakan dengan struktur organisasi sehari-hari.

Pada sesi terakhir dari BIMTEK yang diadakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman dilakukan penugasan mengenai penyusunan dokumen Primary Health Care Disaster Plan. Masing-masing peserta diberikan lembaran tugas berisi pertanyaan yang akan membantu dalam menyusun dokumen Primary Health Care Disaster Plan. Setelah selesai mengerjakan, perwakilan dari peserta diminta untuk mempresentasikan hasil dari penugasannya. Harapan dari BIMTEK ini agar Puskesmas segera memiliki SK dalam penanggulangan bencana, memiliki dokumen dalam penanggulangan bencana dan memiliki dokumen mitigasi dalam penanggulangan bencana di wilayahnya.