Laporan Kegiatan Table Top Exercise (TTX) di Dinas Kesehatan Kabupaten Sigi

sulteng 1

Laporan Kegiatan

Table Top Exercise (TTX)

di Dinas Kesehatan Kabupaten Sigi

Provinsi Sulawesi Tengah

Sigi, 25 Februari 2020

sulteng 1

Pengantar

Table Top Exercise (TTX) dilaksanakan untuk menguji kemampuan teoritis dan manajemen (berdasarkan dokumen) petugas dinas kesehatan dalam menanggapi situasi bencana dirancanglah kegiatan. Tujuan TTX adalah agar Dinas Kesehatan Kabupaten Sigi memahami tugas dan fungsi mereka saat bencana. Kemudian meninjau dan mendiskusikan kembali tindakan apa saja yang perlu ditambahkan dalam dokumen. Ke depan, dokumen ini diharapkan menjadi percontohan bagi kabupaten/kota lain dalam penyusunan dokumen rencana penanggulangan bencana sektor kesehatan baik dari dalam provinsi Sulawesi Tengah maupun provinsi lain di Indonesia.

 

Pelaksanaan

Table Top Exercise (TTX) Dinas Kesehatan Kabupaten Sigi dilaksanakan pada hari Selasa (25/2/2020) di Dinas Kesehatan Sigi dengan jumlah peserta sebanyak 80 orang. Keseluruhan peserta berasal dari berbagai instansi antara lain :

  • Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah (UPT. Pusat Pelayanan Keselamatan Terpadu)
  • Dinas Kesehatan Kabupaten Sigi
  • Dinas Sosial Kabupaten Sigi
  • BPBD Kabupaten Sigi
  • Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako
  • Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat
  • Sejenakhening.com

sulteng 2

TTX Dinas Kesehatan Kabupaten Sigi dimulai pada pukul 13.30 WITA dibuka oleh Karama, SE., M.Kes selaku kepala bidang SDMK Dinas Kesehatan Kabupaten Sigi. Karama menyampaikan bercermin dari kejadian kemarin (gempa dan likuifikasi), Dinas Kesehatan Sigi sangat mengapresiasi adanya pendampingan oleh PKMK UGM dalam pembuatan dokumen rencana penanggulangan bencana ini.

sulteng 3

Pelaksanaan Table Top Exercise (TTX) Dinas Kesehatan Kabupaten Sigi dibagi ke dalam 4 sesi. Sesi pertama bertujuan untuk menilai bagaimana Dinas Kesehatan Sigi (1) menerima dan memproses informasi kejadian bencana, (2) mengaktifkan klaster kesehatan, (3) manajemen relawan kesehatan/EMT. Sesi pertama berlangsung diskusi antara peserta dari Dinas Kesehatan Sigi dan Fasilitator UGM (dr. Bella Dona, M.Kes., dr. Sulanto, dan Sutono S.Kep., M.Kes) sedangkan tim universitas, BPBD, Dinsos, dan Sejenakhening masih sebagai Observer. Diskusi via telpon berlangsung dengan kepala seksi pelayanan kesehatan rujukan terkait alur rujukan pasien. Proses diskusi berjalan lancar dan dihadiri oleh masing – masing penanggung jawab subklaster kesehatan Dinas Kesehatan Sigi.

sulteng 4

Sesi kedua bertujuan untuk menilai: (1) Manajemen bantuan logistik kesehatan dan non kesehatan; (2) Pengaktifan sub – sub klaster kesehatan. Pada sesi kedua pelaksanaan TTX, membentuk kelompok – kelompok berdasarkan masalah yang timbul dalam subklaster kesehatan. Peserta dari Universitas Alkhairaat, Universitas Tadulako, dan Sejenakhening.com bergabung dengan tim subklaster Dinas Kesehatan Sigi sesuai dengan bidang dan keahliannya untuk membantu memecahkan masalah yang mungkin akan muncul saat bencana.

sulteng 5

Sesi ketiga bertujuan untuk menilai: (1) Pembuatan peta respon; (2) Manajemen pencatatan

Sesi keempat bertujuan untuk menilai: koordinasi lintas sektor. Pada sesi ini, terjadi simulasi kecil bagaimana Dinas Kesehatan Sigi berkoordinasi dengan lintas sektor. Koordinasi yang terjadi adalah komunikasi antara Dinas Kesehatan Sigi dengan BPBD Sigi dan Dinas Sosial Sigi. Bagaimana Dinas Kesehatan melaporkan data korban luka ringan, luka sedang, dan luka berat ke BPBD. Bagaimana pencatatan fasilitas kesehatan terdampak. Dan bagaimana koordinasi donasi obat dari relawan ke BPBD harus dengan sepengetahuan Dinas Kesehatan agar keamanan dan kelayakan obat terjaga. Hal – hal tersebut menjadi salah satu acuan pentingnya koordinasi lintas sektor dalam penanganan bencana. Harapannya ke depan koordinasi lintas sektor menjadi lebih baik.

Reporter : Andi Tri Wangi

Reportase Webinar Gerak Cepat Rumah Sakit dalam Menghadapi COVID-19

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Webinar di Common Room Gedung Litbang FK-KMK UGM”

Reportase Webinar

Gerak Cepat Rumah Sakit dalam Menghadapi COVID-19

23 Maret 2020

 

Webinar ini diselenggarakan oleh PERSI dalam upaya peningkatan kesiapsiagaan rumah sakit dalam situasi COVID-19. Pada pembukaan ketua PERSI mengatakan dengan adanya back up dari KARS dan UGM, akan berusaha melakukan yang terbaik supaya rumah sakit mampu memberi pelayanan yang maksimal.

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Webinar di Common Room Gedung Litbang FK-KMK UGM”

Materi COVID-19 Support to Health Structure

Materi ini disampaikan oleh Daniel Von Rege dari Medecines Sans Frontier Indonesia (Dokter Lintas Batas – Internasional) dan dr. Chandra Sembiring dari Atlas Medical Pioneer FKUP. Sesi ini membahas langkah – langkah manajemen fasilitas kesehatan dalam epidemiologi lokal; The Infection Prevention and Control (IPC) dan kerentanan Coronaviridane terhadap penghalang/pelindung bahan kimia. Pemateri memulai dengan menampilkan siklus manajemen bencana mulai dari mitigasi, preparedness untuk mengurangi risiko bencana, respon, recovery dan rehabilitasi. Sesi ini akan melihat dari segi preparedness. Manajemen pada dasarnya sama dengan pengembangan Mass Casualty Plans dan Business Continuity Plans, kedua hal tersebut harus terkait.

Manajemen fasilitas menilai struktur dari rumah sakit yaitu struktur umum, staf, prosedur screening, alur (pasien, staf, dan pengunjung), prosedur IPC dan material. Struktur umum berkaitan dengan bangunan dan fasilitas yang ada di rumah sakit yang mendukung pencegahan penyebaran COVID-19. Penilaian kepada staff adalah apakah mereka sudah memiliki kompetensi untuk menangani COVID-19 ini mulai dari pemahaman untuk proteksi diri dan menyampaikan informasi bagi pasien. Prosedur skrining harus benar – benar dikuasai oleh staf dan isi kuesionar tidak mencantumkan berupa stigma yang membuat masyarakat menjadi takut. Alur untuk pasien, staf dan pengunjung ini perlu dibuat dengan jelas untuk meminimalkan perpindahan infeksi. Prosedur IPC akan mengurangi kemungkinan pajanan tak sengaja pada pasien infeksi sehingga menciptakan lingkungan yang aman untuk staf, pasien dan pengunjung.

Diskusi

KARS menyampaikan bahwa terkait fasilitas ini sudah ter – cover dalam Standar Akreditasi Rumah Sakit (SNARS). Saatnya rumah sakit membuktikan dan menerapkan panduan Hospital Disaster Plan (HDP) yang sudah dibuat dan lulus akreditasi, apakah dokumen tersebut sudah operasional. Triase adalah titik pertama yang dilakukan oleh rumah sakit dan organisasi profesi sudah menyusun SOP triase penanganan COVID-19 ini. Rumah sakit tidak boleh menolak pasien, paling tidak mampu melakukan screening sehingga bisa dilakukan pemisahan berdasarkan hasil screening.

23 3 2020 2

Rumah sakit akan menghadapi lonjakan pasien artinya penting untuk melihat konsep lonjakan (surge capacity) dan ini merupakan pengetahuan baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Ada dua pertanyaan menarik yang ditanyakan oleh UGM yaitu pertama jika memang rumah sakit tidak siap, apakah tetap bisa menerima pasien?. Kedua, apakah sudah ada program atau rencana desentralisasi dalam penanganan COVID-19 ini?. Menanggapi pertanyaan tersebut, rumah sakit harus menilai dan menganalisis kemampuan mereka dalam menghadapi COVID-19. Rumah sakit mampu melakukan apa dan tidak mampu melakukan apa. Setiap rumah sakit di daerah harus bertemu dan membicarakan kapasitasnya masing – masing sehingga bisa diatur sistem rujukan yang lebih terintegrasi. Penilaian ini sebaiknya tidak hanya dilakukan oleh internal rumah sakit saja karena bisa saja bias, namun difasilitasi oleh dinas kesehatan dan PERSI daerah. Gerak cepat rumah sakit dalam menghadapi COVID-19 membutuhkan kolaborasi dan integrasi dari pusat ke daerah. Persi di daerah masing- masing akan membantu daerah untuk menfasilitasi kebutuhan rumah sakit sekarang ini apa terkait penanganan COVID-19.

Penutup

Webinar ini merupakan langkah awal untuk meningkatkan kapasitas rumah sakit dalam menghadapi lonjakan pasien dan webinar akan berlanjut mengikuti perkembangan penanganan COVID-19di rumah sakit. Dokumen HDP yang ada di rumah sakit menjadi panduan bagi rumah sakit untuk mengembangkan manajemen fasilitas rumah sakit. Manajemen fasilitas pandemi COVID-19 ini berbeda jauh dengan outbreak lainnya karena tingkat penularannya sangat tinggi. Dengan demikian, rumah sakit penting menilai kapasitas fasilitas yang dimiliki dan fasilitas apa saja yang penting untuk dikembangkan. Dalam hal ini dibutuhkan kerja sama dan kolaborasi dari sector – sektor terkait termasuk PERSI, organisasi profesi, universitas, dinas kesehatan dan sektor lainnya.

Reporter : Happy R Pangaribuan

Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM

Laporan Kegiatan Table Top Exercises Hospital Disaster Plan RSUD Tora Bello

torabello 1

Laporan Kegiatan

Table Top Exercises Hospital Disaster Plan RSUD Tora Bello

25 Februari 2020

torabello 1

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Table Top Exercise (TTX) HDP RSUD Tora Bello

 

Pengantar

Table top exercises (TTX) ini dirancang untuk menguji kemampuan teoritis dan manajemen (berdasarkan dokumen) petugas rumah sakit untuk menanggapi situasi bencana yaitu bagaimana mereka memahami tugas dan fungsi mereka saat bencana. Kemudian meninjau dan mendiskusikan kembali tindakan apa saja yang perlu ditambahkan dalam dokumen. Kegiatan ini dilaksanakan di RSUD Tora Bello dengan jumlah peserta 104 orang terdiri dari staff RSUD Tora Bello, FK Universitas Tadulako, FKM Universitas Tadulako, FK Universitas Alkhaeraat dan Unit P2KT Dinkes Provinsi Sulteng.

Pelaksanaan

                Pada pembukaan disampaikan bahwa rumah sakit sudah pernah melakukan simulai namun belum maksimal. Petugas belum memahami tugas dan fungsinya masing – masing saat bencana. Harapannya melalui TTX ini dokumen yang sudah disusun dapat diperbaiki dan dilengkapi. Rumah sakit juga mohon ijin sebelum pelaksanaan TTX ada simulasi singkat mulai dari suara sirene sampai petugas berkumpul di titik kumpul evakuasi. PKMK FK – KMK juga menyampaikan bahwa TTX ini bukanlah ujian sehingga tidak perlu tegang, namun TTX ini bertujuan untuk menguji dokumen disaster plan rumah sakit apakah sudah operasional, apakah semua orang yang terlibat dalam dokumen sudah memahami peran dan fungsinya masing – masing. Dengan demikian akan dihasilkan juga, hal – hal penting apa saja yang belum tercantum dalam dokumen.

                Selanjutnya RS menyalakan sirene, semua peserta menuju titik kumpul evakuasi. Ada beberapa pasien juga yang sudah disiapkan dibawa ke titik evakuasi. Setelah berkumpul di titik evakuasi, terlihat masing-masing unit memperagakan menelepon komandan bencana (kepala UGD) melaporkan kondisi tiap unit. Komandan mencatat semua laporan tiap unit seperti ketersediaan obat, kondisi pasien, tenaga kesehatan yang bertugas dan alat kesehatan. Kemudia komandan melaporkan semua informasi yang didapat saat kejadian dan kebutuhan urgent kepada penanggung jawab bencana (Direktur Rumah Sakit). Direktur meneruskan laporan tersebut ke Dinas Kabupaten Sigi. Dalam simulasi juga terlihat ada relawan dan wartawan yang datang. Setelah simulasi singkat selesai peserta kembali ke ruangan dan memulai kegiatan TTX.

torabello 2

Dok. PKMK FK-KMK UGM “TTX sesi pertama penerinaan informasi bencana”

Sesi pertama menilai bagaimana peserta menerima dan memproses informasi kejadian bencana, pengaktifan klaster kesehatan dan manajemen relawan kesehatan/ EMT. Narasumber menyampaikan beberapa pertanyaan terkait hal tersebut dan peserta memberikan jawaban. Beberapa peserta belum memahami isi dokumen dengan baik karena dokumen belum disosialisasikan ke semua staf rumah sakit. Rumah sakit bekum memiliki alat komunikasi alternatiif atau fasilitas radio komunikasi jika saat bencana listrik padam dan tidak ada sinyal. Rumah sakit juga perlu mengembangkan ruang triase. Hal lain yang perlu ditambahkan dalam dokumen adalah ceklist pelaporan saat kejadian awal kepada komandan dan alur pengaktifan tim bencana RS.

Sesi kedua menilai manajemen bantuan logistik kesehatan, non kesehatan dan pengaktifan sub-sub klaster kesehatan. Rumah sakit mampu menyediakan logistik selama satu minggu sejak bencana terjadi. Kendala selama ini adalah rumah sakit tidak membedakan status pasien akibat bencana dan non bencana, sehingga dalam dokumen akan dilampirkan SOP tentang pencatatan pasien tersebut (pembedaan di rekam medik). Terkait permintaan logistik berupa tenda, akan dibuat Mo dengan BPBD Kabupaten Sigi.

torabello 3

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Sesi ketika pembuatan peta respon, data dan pelaporan”

Sesi ketiga menilai pembuatan peta respon, manajemen pencatatan, analisis, dan pelaporan data dan informasi. Pada sesi ini staff RS yang bertanggungjawab dalam penerimaan relawan mempraktekkan langsung pembuatan peta respon. Peserta dari Universitas Tadulako dan Universitas Alkhairaat berperan sebagai relawan. Staff RS yang bertugas di pengelolaan data dan informasi juga mempraktekkan input data laporan harian dibantu oleh 2 orang peserta mahasiswa dari universitas.

Secara keseluruhan kegiatan berjalan dengan baik. Rencana selanjutnya adalah tim penyusun akan melengkapi dokumen. Dokumen HDP ini akan menjadi dokumen yang hidup, dimana akan direvisi sewaktu – waktu sesuai dengan kondisi dan kebutuhan rumah sakit.

Reporter : Happy R Pangaribuan

Table Top Exercise Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah

ttx 1

Laporan Kegiatan

Table Top Exercises Penanggulangan Bencana Sektor Kesehatan

Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah
25 Februari 2020

 ttx 1

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Table Top Exercise (TTX) HDP RSUD Tora Bello

Pengantar

Table top exercises (TTX) ini dirancang untuk menguji kemampuan teoritis dan manajemen (berdasarkan dokumen) petugas Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah (Dinkes Prov. Sulteng) untuk menanggapi situasi bencana yaitu bagaimana mereka memahami tugas dan fungsi mereka saat bencana. Kemudian dari proses TTX ini dihasilkan informasi dan tindakan apa saja yang perlu ditambahkan dalam dokumen. Kegiatan ini dilaksanakan di Dinkes Provinsi Sulawesi Tengah dengan jumlah peserta 100 orang terdiri dari staf dinkes provinsi, DVI Bidokkes Sulteng, BPBD, Dinas Sosial Sulteng, FK Universitas Tadulako, FKM Universitas Tadulako, dan FK Universitas Alkhaeraat.

Pelaksanaan

                Pada pembukaan disampaikan bahwa saat bencana dinkes provinsi lebih berperan ke fungsi koordinasi dan pengawasan tindakan respon di dinkes kabupaten, rumah sakit dan puskesmas. Dokumen sudah ada, namun belum maksimal sehingga dalam kegiatan TTX ini nantinya ada informasi – informasi penting yang belum tertulis bisa dituangkan kembali saat revisi. Staf yang terlibat harus memahami apa yang menjadi peran fungsinya saat bencana. PKMK FK – KMK juga menyampaikan bahwa TTX ini bukanlah ujian namun salah metode yang dilakukan untuk menguji dokumen dinkes disaster plan provinsi apakah sudah operasional, apakah semua orang yang terlibat dalam dokumen sudah benar – benar paham tugasnya masing – masing.

ttx 2

Dok. PKMK FK-KMK UGM “TTX sesi pertama penerimaan informasi bencana”

Sesi pertama menilai bagaimana peserta menerima dan memproses informasi kejadian bencana, pengaktifan klaster kesehatan dan manajemen relawan kesehatan/ EMT. Narasumber menanyakan alur informasi awal kejadian bencana, siapa yang bertanggung jawab dan informasi apa yang dibutuhkan. Dinkes belum menuliskan alur dan ceklis informasi tersebut dalam dokumen. Peserta yang bertugas di penerimaan relawan masih keliru menjelaskan dan memahami bagaimanan manajemen penerimaan relawan. Dokumen belum tersosialisasikan secara merata kepada seluruh staf yang berperan di dalam dokumen.

Sesi kedua menilai manajemen bantuan logistik kesehatan, non kesehatan dan pengaktifan sub – sub klaster kesehatan. Dalam pelaksanaan dan pengaktifan sub klaster SOP alur program belum dimasukkan ke dalam dokumen. Secara umum, sub klaster sudah memahami apa yang menjadi tugas fungsi mereka. Pemahaman yang perlu ditingkatkan adalah tindakan awal yang akan dilakukan sub klaster saat pertama sekali diaktifkan dan menerima informasi bencana. Hal lain yang perlu diperhatikan dan ditambahkan dalam dokumen adalah SOP rujukan dan terkait manajemen penanganan jenazah.

ttx 3

Sesi ketiga menilai pembuatan peta respon, manajemen pencatatan, analisis, dan pelaporan data dan informasi. Pada sesi ini ada praktek pembuatan peta respon dan input data informasi untuk laporan harian klaster kesehatan. Praktek dibantu oleh peserta dari Universitas Tadulako dan Universitas Alkhairaat berperan sebagai relawan. Selanjutnya pada sesi 4 praktek rapat koordinasi lintas sektor. Komandan yang bertugas melaporkan kegiatan klaster kesehatan kepada BPBD dan sektor lainnya. Secara keseluruhan kegiatan berjalan dengan baik. Rencana selanjutnya adalah tim penyusun akan melengkapi dokumen. Dinkes provinsi juga akan membantu dan mendorong Dinkes Kab. Sigi, Puskesmas Maeawola dan RSUD Tora Bello untuk memperbaiki dokumen disaster plan mereka.

Reporter : Happy R Pangaribuan

Reportase Webinar Outlook Bencana Kesehatan 2020

outlook1

Reportase Webinar

Outlook Bencana Kesehatan 2020

Yogyakarta, 16 Januari 2020


outlook1

Dok. PKMK FK – KMK UGM “Outlook Bencana Kesehatan 2020”

 

Pengantar     

Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK – KMK UGM mengadakan diskusi outlook bencana kesehatan 2020 dengan mengangkat isu rumusan penguatan dinas kesehatan dalam menghadapi bencana dan krisis kesehatan termasuk penguatan pembiayaan, koordinasi lintas program dan kerja sama perguruan tinggi di daerah. Kegiatan ini dilakukan juga melalui webinar dengan sasaran peserta dari dinkes provinsi/kabupaten/kota, rumah sakit, puskesmas, BPBD provinsi/kabupaten/kota, Fakutas Kedokteran/Kesehatan Masyarakat, peneliti, mahasiswa dan pemerhati bencana kesehatan. Dari hasil diskusi outlook terdapat dua poin penting yang menjadi perhatian khusus yaitu penguatan dinkes provinsi dan penguatan peran perguruan tinggi dalam penanggulangan bencana sektor kesehatan.

Pelaksanaan

Peserta yang menghadiri langsung outlook sebanyak 25 orang dan diikuti secara webinar dari 38 titik di Indonesia. Materi yang disampaikan terbagi menjadi dua yaitu outlook krisis kesehatan Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes dan outlook bencana kesehatan Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK – KMK UGM. Kemudian ditanggapi oleh pembahas dan diskusi dengan peserta.

outlook2

Dok. Peserta Webinar “Peserta Webinar dari FK Universitas Tadulako (kiri) dan FK Universitas Alkhairaat (kanan)

 Outlook Pusat Krisis Kesehatan Tahun 2019 – 2020

Materi ini disampaikan oleh dr. Budi Sylvana, MARS selaku Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes Indonesia. Jumlah kejadian bencana tertinggi 2019 terjadi di Jawa Barat, DKI, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Riau. Konsentrasi penduduk Indonesia banyak di provinsi tersebut. Hasil pantauan Pusat Krisis Kesehatan data kejadian bencana pada 2019 terdapat 2.954 bencana. Jumlah korban krisis kesehatan 2019 kurang lebih 2,5 juta jiwa dan lebih dari 1 juta penduduk yang mendapatkan pelayanan kesehatan rawat jalan. Paradigma manajemen bencana sekarang ini adalah pengurangan risiko bencana dengan tidak mengesampingkan program respon. Selama ini rata – rata masalah yang muncul di lokasi pengungsian adalah keterbatasan ketersediaan air bersih. Selama 2015 – 2019 Pusat Krisis Kesehatan telah melakukan intervensi ke Kabupaten/Kota dengan kegiatan asistensi kapasitas kabupaten/kota dalam manajemen krisis kesehatan. Pada 2020 akan difokuskan ke penguatan provinsi yaitu melalui asistensi kapasitas manajemen krisis kesehatan, pendampingan penyusunan peta respon, pendampingan penyususnan rencana kontijensi, table top exercise dan simulasi. Selengkapnya DISINI

outlook3

Dok. Peserta Webinar “Materi Outlook Krisis Kesehatan tahun 2019-2020”

Kaleidoskop dan Outlook Bencana Kesehatan dari Divisi Manajemen Kesehatan PKMK FK – KMK UGM

Materi ini disampaikan oleh dr. Bella Donna M.Kes selaku Kepala Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK – KMK UGM. Secara umum, beberapa kegiatan yang dilakukan oleh divisi adalah respon bencana, call for proposal, kurikulum/pelatihan/buku, kerjasama/pendampingan, konferensi dan publikasi. Penguatan provinsi dalam penanggulangan bencana menjadi tantangan bersama. Ketahanan kesehatan, klaster kesehatan dan rencana kontijensi menjadi kegiatan penting bagi dinas kesehatan. Outlook Divisi Manajemen Bencana Kesehatan 2020 akan melakukan upaya penguatan ketahanan kesehatan di Kabupaten/Kota melalui penyusunan dokumen rencana penanggulangan bencana dan krisis kesehatan yang operasional sesuai dengan ancaman masing – masing daerah (disimulasikan, dikomunikasikan ke lintas sektor). Pada 2020 ada beberapa program yang dilakukan bekerja sama dengan Caritas yaitu pendampingan Sulawesi Tengah melalui perluasan pendampingan ke Kota Palu dan Kabupaten Donggala. Akan dilaksanakan juga Training of Trainer (ToT) untuk pendampingan penyusunan dokumen dinkes, rumah sakit dan puskesmas. Dimana sasaran ToT ini adalah dinas kesehtan dan perguruan tinggi (FK Universitas Tadulako dan FK Universitas Alkhairaat), harapannya setelah pelaksanaan ToT pendampingan ke kabupaten lainnya bisa dilakukan oleh sumber daya lokal. Selengkapnya DISINI

outlook4 

Dok. PKMK FK.KMK UGM “Sesi Materi Kaleidoskop dan Outlook Bencana Kesehatan”

 

Pembahas

dr. Hendro Wartatmo, SpB – KBD

Pengetahuan kita terkait bencana belum terstruktur, pendidikan bencana juga belum menyeluruh. Kita lihat banjir Jakarta, kelihatannya ada ketidaksinkronan early warning system antara BPBD DKI dengan aparat DKI. Artinya ilmu terkait bencana ini belum meluas. Saat ini kita berusaha kearah bagaimana menerapkan ilmu kebencanaan ini.

Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, PhD

Membahas dalam konteks waktu dan ada efek samping dari politik dalam bencana ini. Siap tidak negara, pemerintah dengan masyarakat itu bekerja sama? Kerja sama ini akan rumit pada era teknologi dan digital sekarang ini. Pertanyaan selanjutnya adalah dimana peran perguruan tinggi? Harapannya jangan sampai lengah, karena variasi bencana ini semakin banyak. Kira membutuhkan sumber daya lokal untuk mengembangkan manajemen bencana kesehatan ini di masing – masing daerah.

Sakinah SE, MT

Dinkes Sulawesi Tengah sudah menyusun peta rawan bencana di kabupaten/kota. Contohnya frekuensi bencana banjir di Kabupaten Sigi sangat tinggi. Dinkes juga sudah membentuk tim dalam klaster kesehatan dan sekarang dokumen dinkes disaster plan atau sering disebut dengan rencana kontijensi sudah disusun dan sekarang masih proses tahap revisi dimana penyusunan dokumen tersebut didampingi langsung oleh PKMK FK – KMK UGM. Pada 2020 ini program – program kita di bidang UPT K2T telah didiskusikan juga dengan PKMK FK – KMK UGM dan dalam pelaksanaan program ke depan akan tetap bekerja sama. Pendampingan dari perguruan tinggi ini sangat dibutuhkan. FK Universitas Alkhairaat juga menambahkan bahwa mereka memiliki visi kesehatan matra, jadi sangat mendukung pelaksanaan program penanggulangan bencana kesehatan. Pengembangan melalui kurikulum bencana di universitas akan tetap dilakukan dan tentu tidak lepas dari arahan dinas kesehatan.

outlook5

Dok. PKMK FK-KMK UGM “ Sesi Pembahas dan Diskusi”

Diskusi :

Pada sesi diskusi, peserta menanyakan beberapa hal berikut :

  1. Terkait rancangan kurikulum nasional tentang kebencanaan yang bisa diaplikasikan sebagai panduan. à Fakultas Kedokteran yang memiliki kurikulum bencana itu masih sedikit. Masalahnya berbeda, jikakurikulum untuktrauma itu sudah ada polanya namun kalau di manajemen belum ada. Melihat dari SNI terkait tentang pendidikan kebencanaan kesehatan, kalau untuk UGM sendiri sudah melewati batas-batas SNI yang ada Dikti. Inilah yang menjadi tantangan, harapannya tahun ini kita bisa mengaktikan forum perguruan tinggi untuk menyamaratakan kurikulum bencana kesehatan di fakultas kesdokteran bencana. Perluasan pendidikan ini juga bisa dimasukkan melaluiKKN tematik mahasiswa yang dikirimkan ke daerah rawan bencana.
  2. Pembagian tugas dalam penanggulangan bencana, sistem koordinasi lintas sektor, siapa yang menjadi leading –
    • Pada program BPBD DIY sudah mengembangkan sistem bersama sama dengan sektor lainnya. Akan ada gladi posko dan gladi lapangan untuk melatih sistem. Jadi dari kegiatan tersebut akan terlihat masing – masing peran dari sektor. SK Klaster kesehatan DIY sekarang ini sudah disusun, klaster kesehatan sudah beberapa kali melakukan rakornis, ini merupakan salah satu strategi untuk pembagian tugas dan pemahaman peran masing – masing institusi
    • Pada dinkes DIY terkait klaster kesehatan, mengikuti sistem yang sudah dibentuk oleh BPBD, mengikuti komando yang sudah ditentukan di ICS saat bencana. Dinkes juga mencoba membuat mekanisme pengorganisasian sistem komando bencana ini pada Dinkes Kesehatan Kabupaten/Kota, dan sistem pengorganisasian ini juga menyesuaikan dengan ICS yang ada di BPBD.
  3. Bagaimana pendekatan secara manajemen terkait dengan bencana sosial.
    • Pendekatan yang akan dialkuakn baik itu bencana sosial akan dilakukan Dinkes Provinsi langsung jadi provinsi sebagai aktor atau pelaku pada kabupaten dan kota

 

Reporter : Happy R Pangaribuan

Laporan Kegiatan Sosialisasi dan Persiapan Table Top Exercise Penanggulangan Bencana Sektor Kesehatan Sulawesi Tengah

tot 1

Laporan Kegiatan

Sosialisasi dan Persiapan Table Top Exercise Penanggulangan Bencana Sektor Kesehatan Sulawesi Tengah

7 – 9 Januari 2020


tot 1

Pengantar

Berbagai kegiatan telah dilakukan dalam penguatan sistem manajemen dan kapasitas sumber daya sektor kesehatan dalam penanggulangan bencana Sulawesi Tengah. Salah satunya telah dilakukan kegiatan penyusunan dan pendampingan dokumen dinkes disaster plan (Dinkes Prov. Sulteng dan Dinkes Kab. Sigi), dokumen hospital disaster plan RSUD Tora Bello Sigi dan dokumen puskesmas disaster plan Puskesmas Marawola. Proses penyusunan dokumen tersebut didampingi oleh PKMK FK – KMK UGM dan sudah berproses selama kurang lebih 9 bulan. Tujuan penyusunan dokumen ini sama yaitu untuk meningkatkan koordinasi antar sektor dan lintas program yang terlibat dalam penanggulangan bencana baik pada fase pra bencana, saat bencana dan pasca bencana.

Banyak sektor dan lintas program yang terlibat saat pengaktifan klaster kesehatan dimana semua proses pengaktifan klaster kesehatan tersebut telah tercantum dalam dokumen. Dengan demikian dokumen ini penting untuk disosialisasikan kepada pihak – pihak yang terlibat dan diuji apakah dokumen sudah operasional. Salah satu cara yang dilakukan adalah table top exercise. Kegiatan table top exercise membutuhkan persiapan yang matang seperti pemahaman terhadap dokumen yang akan diuji coba, penyusunan skenario, dan penyusunan pemain. Kegiatan ini menjadi wadah bagi dinas kesehatan, rumah sakit, puskesmas, BPBD, dinas sosial, dan sektor lainnya untuk berdiskusi hal – hal yang perlu dipersiapkan pada table top exercise.

Pelaksanaan

{tab title=”Hari 1″ align=”justify” class=”red” }

Selasa, 7 Januari 2019

Kegiatan diawali dengan pembukaan singkat dari Kepala Dinkes Provinsi Sulteng kemudian dilanjutkan dengan penjelaskan tujuan dari pertemuan. Agenda pertemuan ini adalah refleksi kegiatan PKMK dan Caritas 2019, persiapan TTX Februari 2020 dan finalisasi dokumen dinkes disaster plan. Saat penyusunan dokumen dinkes disaster plan, UPT P2KT Dinkes Provinsi Sulteng belum terbentuk sehingga perlu dilakukan penyesuaian dokumen dengan UPT P2KT. Kadinkes menyampaikan bahwa dokumen ini sudah didukung oleh sekda provinsi.

tot 2

Dok. PKMK FK – KMK UGM “Diskusi internal refleksi kegiatan PKMK dan Caritas 2019, persiapan TTX Februari 2020”

 

{tab title=”Hari 2 ” class=”green”}

Rabu, 8 Januari 2019

Pertemuan di Dinkes Provinsi Sulteng

Kegiatan dibuka kembali oleh Dinkes Provinsi Sulteng. Sulteng menjadi etalase bencana artinya harus benar – benar mempersiapkan perencanaan penanggulangan bencana. Agenda sekarang adalah penyampaian rencana program 2020 dan sosialisasi persiapan table top exercise. Pendampingan disaster plan ini juga akan dilanjutkan pada 2020, harapannya kota Palu bersedia untuk didampingi, jika Donggala juga bersedia akan didampingi secara bersamaan. Dinkes Kota Palu memberikan tanggapan bersedia untuk didampingi, demikian halnya dengan Dinkes Kabupaten Donggala bersedia untuk didampingi rencana ini akan disampaikan ke kepala Dinkes Kabupaten Donggala

Selanjutnya adalah pemaparan persiapan table top exercise yang disampaikan oleh Kepala UPT P2KT. Terkait persiapan table top exercise yang dibicarakan adalah tanggal kegiatan, tempat kegiatan, list pemain, kepanitiaan. Rencana ttx dilaksanakan 3 hari pada Februari 2020.

Pertemuan di RS Tora Belo

Pertemuan ini betujuan untuk mendorong RSUD Tora Bello untuk menyempurnakan dokumen hospital disaster plan. Tim PKMK FK – KMK UGM bersama dengan Dinkes Prov. Sulteng dan Dinkes Kab. Sigi memotivasi RSUD Tora Bello untuk bersama – sama menguji dokumen yang telah disusun. Masing – masing institusi akan mengujicobakan dokumen disaster plan ini, artinya kita sama – sama membuat skenario dan menyelenggarakannya. Direktur RSUD Tora Bello menekankan TTX ini adalah bagaimana kita melihat kejadian lalu. Idealnya pengujian dilakukan di lokasi masing – masing, simulasi sebenarnya sudah dilakukan pada saat kejadian lalu. Beda tempat bencana tentu beda cara menanggulangi. Agar dokumen benar – benar sesuai dengan kebutuhan masing – masing instansi maka TTX sebaiknya dilakukan di masing – masing instansi.

{tab Hari 3 } 

Kamis, 9 Januari 2019

Kegiatan ini terbagi menjadi dua, yaitu sosialisasi dokumen disaster plan dan diskusi skenario kegiatan table top exercise. Pihak eksternal yang mengikuti pertemuan ini adalah BPBD Provinsi, FK Universitas Tadulako, FKM Universitas Tadulako, FK Universitas Alkhairaat, DVI Bidekkes, dan Dinas Sosial Provinsi. Pada pembukaan dari Dinkes Provinsi menekankan kembali bahwa dinkes sudah dibantu dengan adanya dokumen ini, jadi masing – masing institusi harus memahami apa yang menjadi tupoksinya saat bencana terjadi. Selanjutnya sosialisasi dokumen dinkes disaster plan provinsi Sulteng dan Kabupaten Sigi serta pemaparan skenario besar TTX.

tot 3

Masing – masing undangan menyampaikan peran mereka dalam kegiatan ini. Peran Dinsos Provinsi adalah permintaan dapur umum, ada relawan TAGANA (kesehatan, psikologi) yang akan berkoordinasi dengan sub klaster kesehatan jiwa dan ada sub klaster shelter. Peran FK Universitas Tadulako adalah tim bantuan medis dan pelayanan kesehatan RSPDN. Peran FKM Universitas Tadulako adalah ada manajemen bencana dan kesling pasca bencana. Peran FK Universitas Alkhairaat adalah ada TBM arteria dan beberapa mahasiswa dilibatkan ke Sigi dan Prov untuk data informasi. Peran DVI Bidekkes pada kasus pelaporan (data dan informasi) dan permintaan rujukan. BPBD Kab. Sigi sudah mempunyai renkon dan ada kesehatan juga dalam dokumen dimana dokumen renkon tersebut juga sedang direvisi. BPBD akan berperan sebagai komandan.

{/tabs} 

Reporter : Happy R Pangaribuan

Reportase Webinar Peringatan 15 Tahun Tsunami Aceh (2004 – 2019)

15th aceh 1

Reportase

Webinar

Peringatan 15 Tahun Tsunami Aceh (2004 2019)

Webinar di Yogyakarta, Aceh dan Palu

19 Desember 2019


Kegiatan dimulai dengan sambutan oleh Prof. Dr. Ir. Marwan, Wakil Rektor 1 Universitas Syiah Kuala. Prof. Marwan menyampaikan bahwa kebencanaan menjadi isu penting sejak tsunami Aceh, sehingga kita sudah mulai menyadari mitigasi bencana ini penting. Universitas Syiah Kuala sudah mempunyai riset penelitian terkait kebencanan dan sudah menetapkan pendidikan bencana. Sambutan selanjutnya oleh dr. M. Ardi Munir, M.Kes, Sp.OT, FICS, MH Wakil Dekan Akademik Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako. Dr. M. Ardi menekankan bahwa pada 2018 tsunami dan likuifikasi Sulawesi Tengah menjadi peringatan untuk masyarakat supaya lebih kuat dan lebih siap dalam menghadapi bencana. FK Untad mendukung pengembangan kurikulum dalam manajemen bencana. Sambutan terakhir oleh dr. Mei Neni Sitaresmi, Sp.A(K), PhD selaku Wakil Dekan bidang Kerjasama, Alumni, dan Pengabdian Masyarakat FK – KMK UGM sekaligus membuka kegiatan ini secara keseluruhan. dr. Mei Neni juga menekankan kembali bahwa mitigasi menjadi hal yang penting, tujuannya bukan untuk mencegah bencana melainkan sebagai kesiapsiagaan untuk mengurangi kerugian yang terjadi. Secara institusi pendidikan juga FK – KMK UGM sudah mempersiapkannya dengan adanya pusat studi bencana dan kurikulum bencana.

 

Pengantar

Pengantar yang disampaikan terkait mengenang Tsunami 15 tahun lalu oleh dr. Hendro Wartatmo, Sp.B.KBD dan Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, PhD dari FK – KMK UGM. Tsunami Aceh menjadi batu loncatan khususnya untuk FK – KMK UGM dalam memberikan respon dalam bencana. Tanpa diatur terlebih dahulu tim UGM berangkat sebagai tim medis dan tim manajemen. Hal tersebut yang dikembangkan sampai sekarang sehingga produk kita adalah kurikulum terkait kebencanaan pada mahasiswa S1. Selanjutnya Prof. Laksono memperkenalkan 3 buah buku melalui website http://bencana-kesehatan.net/. Buku pertama berjudul 3 Tahun Kegiatan di Aceh mencatat berbagai kegiatan RS Sardjito, Fakultas Kesehatan UGM, dan Fakultas Psikologi UGM dalam misi kemanusiaan. Buku kedua berjudul Satu Tahun Kegiatan di Aceh menceritakan pengalaman pribadi ketika ikut membantu ke Aceh. Buku ketiga berjudul Relawan Kesehatan di Medan Bencana merekam perjalanan tim FK – KMK UGM/RSUP Dr. Sardjito membantu korban bencana selama 15 tahun (2004 – 2018).

15th aceh 1

Dok. FK Unsyah “Pengantar mengenang tsunami 15 tahun”

 

Talkshow 1: Situasi Perkembangan Penanggulangan Bencana (Sektor Kesehatan) di Indonesia.

Pada sesi talkshow 1 ada 3 pembicara yang membahas perkembangan penanggulangan bencana Indonesia dari segi kebijakan, ilmu manajemen klaster kesehatan dan secara globalisasi pasca tsunami Aceh. Pembicara pertama Yudi Satria SST, MPS, SP dari Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA). Banyak hal yang sudah dilakukan di Indonesia untuk membangun kesadaran masyarakat. Sosialisasi terus – menerus diberikani kepada masyarakat, supaya tidak lupa.

Pembicara kedua dr. Budi Sylvana, MARS Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes. Trend meningkat dalam 3 tahun terakhir, terjadi pergeseran ke bencana non alam dan kegagalan teknologi. Dari sisi jumlah korban bencana juga meningkat selama 2019 (Januari – Desember). Logistik bencana belum terjamah dengan baik. SDM kita sudah lengkap dan pembiayaan juga banyak yang membantu. Terdapat 3 program pengurangan risiko bencana oleh pusat krisis yaitu asistensi, peta respon renkon dan TTX simulasi.

Pembicara ketiga dr. Bella Donna, M.Kes selaku Kepala Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK – KMK UGM. Indikator perkembangan ini bisa dilihat dari koordinasi, pengorganisasian, komunikasi dan data informasi. Pertama pada gempa tsunami Aceh dan Yogyakarta hampir mirip, sudah ada pertemuan klaster yang didukung oleh WHO. Relawan yang datang pada saat itu langsung menuju pos kesehatan. Belum ada pelaporan yang jelas. Kedua pada gempa Padang dan erupsi Merapi, manajemen sudah mulai diperbaiki dimana relawan sudah mulai terkelola dengan baik. Ketiga pada gempa Lombok, Palu dan Lampung sudah jauh lebih baik lagi, klaster kesehatan sudah terbentuk. Form form yang ada untuk pelaporan sudah terstandar dan sudah bisa memetakan relawan yang datang berdasarkan peta respon.

15th aceh 2

Dok. FK Unsyah dan FK-KMK UGM “Talkshow 1: Situasi Perkembangan Penanggulangan Bencana (Sektor Kesehatan) di Indonesia”

 

Launching EMT Specialize Cell (EMT SC)

Dalam webinar ini, diluncurkan pula EMT SC yang mengangkat slogan: dari Aceh untuk dunia. Ini bukan satu karier tapi satu panggilan. Kapuskris memberikan ransel relawan EMT kepada anggota secara simbolik. Sampai sekarang terkumpul 100 anggota yang terdiri dari dokter umum, dokter spesialis bedah, perawat, surveilans dan tenaga kesehatan lainnya.

15th aceh 3

Dok. FK Unsyah “Peluncuran EMT Specialize Cell Aceh”

 

Talkshow 2: Kurikulum Manajemen Bencana Kesehatan di Fakultas Kedokteran

Sesi kedua ada 4 pembicara yang membahas tentang kurikulum. Pembicara pertama dr. Hendro Wartatmo Sp.B.KBD dari FK – KMK UGM. Latar belakang kurikulum manajemen bencana di FK – KMK UGM adalah ilmu kebencanaan relatif baru, institusi yang berpartisipasi belum mapan, dan referensi dari luar bervariasi. Partisipasi dalam pendidikan formal ada di S1 FK – KMK, S2 IKM (opsional) dan magister manajemen bencana sekolah pasca sarjana UGM. Konsep kurikulum di FK – KMK akhirnya mengerucut menjadi disaster medicine dan disaster managemen. Disaster medicine dalam aspek teknis berdasar pada emergency medicine dan disaster managemen dalam aspek manajerial berbasis pada manajemen krisis. Penyusunan kurikulum berdasar lesson learnt, berbasis referensi dan ada prioritas, yang belum ada adalah biological disaster dan hazard. Kurikulum mulai diberikan pada mahasiswa S1 FK 2010 sebagai materi intrakulikuler.

Pembicara kedua yaitu Sutono, SKp, M.Sc, M.Kep dari FK – KMK UGM tentang penggunaan kasus bencana sebagai sarana pembelajaran IPE – CFHC di FK – KMK UGM. Komponen-komponen kerja sama dimasukkan dalam kurikulum IPE – CFHC. Kurikulum ini diterapkan pada seluruh mahasiswa FK – KMK UGM. Pengembangan kompetensi lulusan berbasis interprofessional collaborasion (IPE). Tahun keempat CFHC yaitu pengembangan keluarga siaga bencana, 480 mahasiswa belajar bersama (prodi kedokteran, keperawatan dan gizi). Mahasiswa mendampingi keluarga menangani permasalahan keluarga, memanfaatkan fasilitas kesehatan, harapannya agar sudah mencapai profesi masing – masing mereka dapat bekerja sama. Mengenali early warning system dan peta respon adalah 2 dari banyak hal yang harus dikuasai mahasiswa.

15th aceh 4

Dok. FK-KMK UGM “Penyampaian Kurikulum Manajemen Bencana Kesehatan FK-KMK UGM”

Pembicara ketiga ialah Dr. dr.Safrizal Rahman, M.Kes, Sp.OT dari FK Unsyah. FK Unsyah memulai kurikulum terkait bencana sejak 2006 pada mahasiswa program sarjana, pasca sarjana dan doktoral. Harapannya bagi mahasiswa program sarjana terdapat peningkatan pengetahuan dan kesadaran untuk pengembangan karir mereka dalam penanganan bencana. Pada mahasiswa pasca sarjana harapannya bisa memimpin tim medis atau klaster kesehatan pada saat bencana. Terdapat beberapa inovasi mahasiswa dalam pengembangan penanganan bencana ini. Mahasiswa menciptakan satu lampu sebagai early warning system, living room untuk pengungsi dan ransel penampung untuk anak – anak. Selanjutnya harapan bagi mahasiswa program doktoral, mereka sudah mulai bisa mengkritisi kebijakan pemerintah dan kebijakan dunia sehingga mereka juga harus ikut mewarnai sistem kebijakan kebencanaan.

Pembicara keempat adalah dr. Indah Puspasari, MMedEd dari FK Universitas Tadulako. Kurikulum bencana di FK Untad sudah dikembangkan sejak 2008 untuk mahasiswa semester 8 dan pada 2015 untuk mahasiswa semester 6. Sekarang sudah ada pada blok 13 yaitu health system, disaster management and traumatology. Blok ini wajib diikuti oleh mahasiswa. Harapannya mahasiswa bisa menjelaskan sistem manajemen bencana, tahapan mulai dari pre sampai dengan pasca bencana, dan mampu menjelaskan trauma manajemen. Mahasiswa juga mulai mendapatkan ilmu terkait sistem koodinasi dalam penanganan bencana.

Setelah sesi talkshow 2 dilanjutkan dengan penyampaian materi via webinar oleh Dr. Penny Burns tentang The mission and vision of Ocaenia Chapter WADEM. Oceania Chapter bertujuan untuk advokasi dan promosi pengembangan dan peningkatan penanganan bencana dalam penelitian, pengembangan dan aplikasi. Oceania Chapter WADEM sudah membangun kolaborasi dengan para ahli bencana dari berbagai negara sehingga interpretasi dan pertukaran informasi didapatkan melalui jaringan dan publikasi. Sekarang Oceania Chapter WADEM sedang mengembangkan peningkatan penanggulangan bencana di masyarakat. Respon lokal dalam pemulihan bencana sangat penting. Misi saat ini adalah mempromosikan integrasi profesional Primary Health Care lokal ke dalam manajemen bencana untuk memastikan kebutuhan kesehatan primer masyarakat dipertimbangkan dan direncanakan dengan baik.

15th aceh 5

Dok. FK-KMK UGM “Penyampaian Rumusan dan Kesimpulan”

Sesi terakhir Rumusan dan kesimpulan, webinar 15 tahun Pasca Tsunami Aceh: Akan kemana sistem pendidikan dan riset kedokteran kita dalam manajemen bencana? disampaikan oleh Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, PhD. Berbagi isu selama proses diskusi adalah risiko bencana semakin besar, tidak terbatas pada medical emergency unit. Terjadi pembelajaran selama 15 tahun termasuk adanya klaster kesehatan dalam konteks BNPB. Kecepatan yang makin meningkat tapi koordinasi belum baik termasuk adanya duplikasi komando di lapangan. Mitigasi perlu ditekankan. Ada kombinasi antara disaster medicine dan disaster managemen, ada ilmunya sendiri termasuk manajemen logistik bencana sektor kesehatan. Perguruan tinggi mempunyai modal tenaga dan sarana untuk membantu mitigasi dan penanggulangan bencana secara baik. Diharapkan penelitian bencana masuk dalam prioritas nasional, ada buku teks dan modul pendidikan tentang bencana.

Beberapa saran dari peserta :

  • Aceh : Harapannya kerjasama tidak putus disini. Dibutuhkan jurnal disaster managemen bencana sehingga ilmu ini bisa disebarkan secara luas dan penting juga merancang modul-modul tentang kebencanan diamana secara parsial bisa diajarkan juga kepada masyarakat awam.
  • Palu : Kerja sama ini lebih ditingkatkan dan kami berharap terus dilibatkan khususnya kolaborasi perbaikan penanganan bencana di Sulawesi tengah.
  • Yogyakarta : Penting ada workshop pengembangan kurikulum kebencanaan tentang klaster kesehatan yang diikuti oleh fakultas kedokteran, kesehatan masyarakat dan institusi selevel lainnya.
  • Bengkulu : Program studi kesehatan masyarakat Stikes Tri Mandiri Sakti Bengkulu masih kesulitan untuk mendapatkan buku kajian. Selanjutnya mohon dilibatkan jika ada workshop.

Reporter: Happy R Pangaribuan

Laporan Kegiatan Pelatihan Manajemen Pos Klaster Kesehatan dalam Bencana

pos1

Laporan Kegiatan

Pelatihan Manajemen Pos Klaster Kesehatan dalam Bencana

Yogyakarta, 9 Desember 2019


pos1

Pelatihan ini diselenggarakan untuk mendukung koordinasi dan pelaksanaan bantuan medis serta manajemen bencana ke depannya, FK – KMK UGM berencana melakukan penjaringan minat anggota bencana baik di dalam lingkup FK – KMK UGM maupun AHS UGM, manajemen dan dukungan medis. Peserta berasal dari AHS UGM (RSUP Sardjito, RS UGM, RSPAU Hardjulukito, RSUD Wates, RSUP Klaten); Pokja bencana FK – KMK UGM; Departemen FK – KMK UGM dan PKMK UGM. Hal ini juga mendukung rencana strategis Kementerian Kesehatan untuk mempersiapkan Emergency Medical Team (EMT) nasional Indonesia.

Pelaksanaan

Acara dibuka oleh dr Handoyo Pramusinto selaku ketua Pokja Bencana kemudian disusul dengan pengarahan oleh dr. Awalia Febriana, PhD, Sp. KK mewakili Wakil Dekan Bidang Alumni FK – KMK UGM. Mereka menyampaikan manajemen dalam penangan bencana penting untuk dikembangkan karena selama ini sumber daya manajemen masih sedikit.

Penyampaian materi pertama tentang Disaster Management oleh dr. Handoyo Pramusinto. Pemateri menyampaikan sekilas bencana yang pernah terjadi di Indonesia mulai dari tsunami Aceh hingga bencana Palu. Pokja Bencana selalu terlibat membantu penanganan korban bencana. Sejak 2010 sudah ada kurikulum manajemen bencana di level S1 di FK – KMK UGM dimana melalui kurikulum tersebut diharapkan mahasiswa aware bagaimana sikap ketika terjadi bencana. Pokja bencana juga mengembangkan modul atau pelatihan kepada rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya terkait manajemen bencana bidang kesehatan. Capacity building untuk tim manajemen perlu dilakukan secara terus menerus. Materi selengkapnya KLIK DISINI

Materi kedua terkait Public Health Emergency dalam Manajemen Bencana oleh dr. Hendro Wartatmo. Aktivitas penanggulangan bencana ada medical support dan management support. Tim medis ini sangat banyak namun tim manajemen masih sedikit. Tim medis sekarang yang akan diberangkatkan telah menggunakan standar. Penanganan pada masa respon tergantung dengan persiapan yang sudah dilakukan. Public Health Response ini dilakukan dengan pendekatan klaster kesehatan. Pendekatan klaster ini adalah pendekatan manajemen. Pokja bencana mulai memberikan managemen support itu sejak gempa Padang 2009. Modalitas relawan tim medis Pokja Bencana adalah pengetahuan teknis, kesiapan fisik dan motivasi. Materi selengkapnya KLIK DISINI

pos2

Dok. PKMK FK-KMK “Penyampaian materi Disaster Manajemen (kiri) dan materi Public Health Emergency (kanan)”

Materi ketiga tentang Manajemen Klaster Kesehatan oleh dr. Bella Donna. Klaster kesehatan adalah salah satu komponen klaster nasional/ klaster kesehatan ini terdiri dari 6 sub klaster kesehatan dan 3 tim. Konsep klaster kesehatan ini karena butuh koordinasi, kolaborasi dan integrasi. EMT adalah sekelompok tenaga bantuan kesehatan di wilayah yang terkena dampak bencana. kriteria dan kapasitas standar minimal tenterntu (terintegrasi dan kredensialing). Materi selengkapnya KLIK DISINI

Materi keempat terkait Data dan Informasi Kesehatan Saat Bencana oleh Madelina Ariani, MPH. Salah satu pendampingan di klaster kesehatan adalah terkait pengelolaan data dan informasi. Data informasi awal kejadian disampaikan oleh dinkes segera setelah kejadian awal krisis kesehatan diketahui. Data informasi penilaian kebutuhan cepat disampaikan segera setelah laporan awal krisis kesehatan diterima. Beberapa formulir yang ada di data dan informasi adalah alur relawan, formulir registrasi EMT, alur harian data dan informasi. Materi selengkapnya KLIK DISINI

pos 3

Dok. PKMK FK-KMK “Penyampaian materi Manajemen Klaster Kesehatan (kiri) dan materi Data dan Informasi (kanan)”

Sesi Diskusi :

  1. Salah satu kendala dari kami adalah transportasi dari udara ke daerah. Ketika tim hendak berangkat ke daerah terkendala di penjadwalan pesawat dan pemeriksaan logistik. Apakah sudah ada MoU dengan pesawat komersil?
    • dr. Handoyo : Sekarang ini seharusnya kita sudah mempersiapkan MoU termasuk dengan TNI dan juga maskapai. Di Malaysia ada MoU dengan maskapai, sehingga jika ada kepentingan tim dan nasional yang membutuhkan trasnportasi udara. Kita masih bersifat on the spot, memang perlu MoU termasuk MoU dengan relawan, misalnya dengan fakultas kedokteran, fakultas keperawatan.
    • dr. Mei Neni Sitaresmi : yang membedakan kita dengan tim yang lain adalah kita tidak hanya menyediakan tim medis tetapi juga dari segi manajemen. Terkadang kita juga kesulitan untuk mengirimkan tim, sehingga kita penting melakukan handover atau regenerasi tim yang siap ditugaskan. Ketika ada pelatihan kita juga sering diminta sebagai fasilitator. Kita juga sudah ada memiliki draft MoU, namun MoU itu harus lebih tinggi olrh Rektor, Bupati, TNI. MoU ini juga terkait dengan pengabdian masyarakat.
  2. Antara posisi kantor dinas kesehatan dengan pos klaster kesehatan itu mungkin agak jauh. Sebaiknya dimanakan tempat yang pas untuk membuka klaster kesehatan ini?
    • dr. Bella Donna : Pos klaster kesehatan itu bisa di dekat wilayah yang terdampak. Jika dinas kesehatannya cenderung aman maka pos klaster kesehatan bisa dibangun di halaman kantor dinkes. Tempatnya sebaiknya berdekatan dengan dinkes. Untuk penempatan tim medis, ditempatkan di tempat yang aman. Kecuali tim medis memiliki kompetensi untuk pencarian.
  3. Keterlibatan Dinkes dalam pelayanan gizi. Apakah staf gizi itu dilibatkan juga dalam manajemen ini?
    • Madelina Ariani, MPH : Staf gizi juga dilibatkan dalam manajemen. Kadang staf kita tidak terlibat karena perencanaan saat bencana terjadi tidak ada. Pengalaman rekam medik di Lombok itu muncul minggu ketiga, mereka menganggap kalau mereka bukan dokter atau perawat jadi tugasnya apa. Artinya mereka tidak paham apa yang menjadi tugas mereka. Karena tidak ada perencanaan mereka saat bencana terjadi.

pos 4

Dok. PKMK FK – KMK UGM “Latihan mebuat peta respon”

Selanjutnya pembagian kelompok untuk praktek pengisian formulir dan pembuatan peta respon. Peserta dibagi menjadi 3 kelompok dimana setiap kelompok didampingi oleh satu fasilitator. Fasilitator menyediakan skenario kejadian bencana, peserta membuatkan peta respon sesuai dengan scenario tersebut. Dalam skenario digambarkan situasi bencana pada hari pertama, berapa banyak tim relawan yang datang, jumlah korban, dan fasilitas kesehatan yang terdampak. Peserta sangat aktif bertanya dan tertarik dengan pembuatan peta respon ini. Kegiatan ditutup dengan pembagian surat kesediaan peserta untuk terlibat dalam tim manajemen dan siap untuk diberangkatkan jika terjadi bencana.

Reporter : Happy R Pangaribuan

Laporan 4th RCD ARCH Project 2019

h1 rcd

Laporan

4th Regional Collaboration Drill ARCH Project

25-28 November 2019

Bali, Indonesia


ARCH Project adalah singkatan dari ASEAN Regional Capacity on Disaster Health Management, yang merupakan proyek peningkatan kapasitas regional ASEAN dalam manajemen bencana kesehatan untuk mewujudkan one ASEAN one Response, yang dilaksanakan oleh ASEAN, JICA dan National Institute of Emergency Medicine/ NIEM Thailand. ARCH project sudah dimulai sejak 2016 dan direncanakan akan terus berjalan hingga 2025. Ada tiga tahapan yakni tahap pertama 2016 – 2019 yang kegiatannya bertujuan untuk peningkatan kapasitas koordinasi regional ASEAN dan masing – masing negara ASEAN, tahap dua 2019 – 2021 yang kegiatannya bertujuan untuk menetapkan mekanisme yang disepakati dari tahap 1, terakhir tahap tiga yakni 2021 hingga 2015 yang kegiatannya bertujuan untuk memperkuat mekanisme.

Regional collaboration drill (RCD) keempat yang baru dilaksanakan pada 24 – 28 November 2019 lalu di Bali merupakan salah satu kegiatan ARCH Project tahap pertama, sebelumnya sudah ada tiga kali RCD yang dilaksanakan di Thailand, Vietnam, dan Filipina, sedangkan pada 2020 akan dilaksanakan di Myanmar. Tujuan RCD secara umum adalah untuk menguji SOP ASEAN seperti proses pre deployment melalui Web EOC AHA Centre, pengembangan komprehensif tim, dan penjaminan mutu kualitas/ quality assurance. Sedangkan tujuan khusus Indonesia adalah untuk menguji mekanisme penanggulangan bencana nasional diantaranya pengelolaan bantuan luar negeri, mekanisme reception and departure center, dan draft SOP Indonesia tentang EMT gabungan atau composite EMT.

Kerjasama Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan dan FK – KMK UGM dalam ARCH sudah dimulai sejak 2018. Saat itu, pada salah satu meeting ARCH Indonesia menyanggupi menjadi tuan rumah penyelenggaraan RCD yang keempat. Setelah itu sejak awal 2019, FK – KMK UGM mendampingi Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan untuk persiapan penyelenggaraan. Tidak hanya itu, Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan juga melibatkan banyak unit di Kementerian Kesehatan, organisasi profesi kesehatan, LSM, perhimpunan, dan pemerintah daerah dalam penyelenggaraan kegiatan ini. Akhirnya, usaha dan upaya yang telah dilakukan tidak mengkhianati hasil, pada RCD keempat ARCH Project ini, Indonesia mendapat apresiasi yang baik dari ASEAN dan Mentor bahkan tujuan khusus Indonesia berhasil dicapai dan menjadi draft untuk SOP ASEAN ke depannya.

Sangat menarik bukan untuk menyimak lebih lengkap Reportase harian kegiatan ini? Silakan

{slider title=”Reportase hari 1: 25 November 2019″ class=”grey” open=”false”}

h1 rcd

Dok. Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan:
Foto Bersama Delegasi ASEAN Member State (AMS)

            Kegiatan dibuka dengan penyampaian sambutan dari Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan, Direktur Project NIEM, dan Pemerintahan Provinsi Bali. Kemudian dilanjutkan dengan perkenalan seluruh peserta. Peserta yang hadir berasal dari 10 negara yaitu Lao PDR, Cambodia, Indonesia, Singapore, Myanmar, Malaysia, Vietnam, Filipina, Thailand, dan Brunei Darusalam. EMT yang ikut dalam satu tim beranggotakan 5 orang per negara.

Materi pertama disampaikan oleh Bidang Evaluasi dan Informasi Pusat Krisis Kesehatan terkait sistem informasi kesehatan di Indonesia. Pemateri menyampaikan bagaimana pengelolaan data dan informasi yang sudah terbangun dalam penanganan bencana di Indonesia khususnya sektor kesehatan.

            Selanjutnya peserta melakukan praktek pengisian formulir (SASOP dan MDS) yang difasilitatori oleh tim JICA. Peserta terbagi menurut masing masing negara kemudian berdiskusi dan mengisi formulir. Setiap negara didampingi oleh satu fasilitator. Melalui pengisian SASOP peserta belajar bagimana prosedur meminta bantuan EMT dari negara asing (ASEAN) jika di negara mereka terjadi bencana yang sangat besar sehingga membutuhkan bantuan dari negara asing. MDS merupakan formulir tentang data dan informasi korban bencana yang mendapatkan penanganan dari EMT misalnya berapa korban yang ditangani, usia, jenis penyakit, jumlah rujukan, meninggal dan sebagainya. EMT yang melakukan pelayanan kesehatan wajib mengisi formulir tersebut dimana kemudian dilaporkan ke klaster kesehatan.

 h1 rcd 1

Dok. Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan:
Praktek Pengisian Form (SASOP dan MDS)

 Materi selanjutnya tentang komposit tim oleh dr. Achmad Yurianto, Sekertaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan. Pemateri menyampaikan bahwa bencana yang terjadi di Indonesia sangat kompleks dan hampir seluruh wilayah Indonesia berpotensi bencana. Komposit tim ini merupakan salah satu strategi yang dilakukan dalam penanganan bencana secara merata dan cepat. Umumnya relawan yang datang ke lokasi bencana akan bekerja dan ditugaskan bersamaan dengan tim mereka sendiri. Namun, ketika menemukan satu daerah yang membutuhkan pertolongan cepat dengan catatan membutuhkan beberapa spesifikasi tenaga kesehatan maka beberapa relawan yang datang dari berbagai organisasi akan disatukan dalam satu tim yang siap bertugas di daerah tersebut. Artinya mereka harus bersedia bekerja sama dengan EMT yang berasal dari luar organisasi mereka dan tetap bersedia mengikuti aturan yang sudah terbangun.

Reportase oleh Happy Pangaribuan, MPH dan Madelina Ariani, MPH

{slider title=”Reportase hari 2: 26 November 2019″ class=”red” }

h2 rcd

Dok. Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan: Sesi pembukaan

Hari kedua seluruh peserta yang berasal dari Indonesia diwajibkan mengenakan pakaian nasional atau adat Bali sesuai dengan peraturan daerah Bali bahwasanya jika ada acara internasional maka peserta Indonesia harus mengenakan pakaian adat. Sementara bagi peserta dari negara lain sudah disediakan panitia ikon adat bali seperti selendang dan udeng (ikat kepala Bali) . Kegiatan hari kedua dimulai dengan penyampaian materi terkait kebijakan manajemen krisis kesehatan di Indonesia oleh Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan. Indonesia memiliki Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) sebagai koordinator penanggulangan bencana nasional yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah sebagai koordinator provinsi dan kabupaten yang bertanggungjawab kepada Gubernur/Walikota. Manajemen bencana kesehatan diimplementasikan menggunakan klaster kesehatan.

            Selanjutnya adalah kegiatan praktek Reception and Departure Center (RDC). RDC ini sangat berkaitan dengan proses pre deployment yang dilakukan satu minggu sebelumnya menggunakan website EOC AHA Centre di BNPB masing masing negara. Melalui proses pre deployment ini, Indonesia mengijinkan EMT dari AMS memberikan bantuan ke Indonesia. Data data EMT Internasional yang akan masuk ke Indonesia sudah diproses oleh BNPB, Kementerian Kesehatan dan Kementerian terkait lainnya, sehingga pada saat RDC akan lebih mudah.

Kemudian, seluruh peserta diarahkan ke lantai 1 menuju ruangan praktek RDC. Pertama peserta memasuki imigrasi, di sini peserta menunjukkan passport dan petugas imigrasi memeriksa kelengkapan data yang dibutuhkan berdasarkan data EMT yang akan datang ke Indonesia. Setelah dari imigrasi peserta menuju custom untuk pengecekan logistik yang dibawa peserta. Selanjutnya menuju pos pendukung di bandara,karena yang datang adalah EMT maka oleh pos pendukung para EMT ini diarahkan ke bagian kesehatan. Di bagian kesehatan yang bertugas adalah perwakilan kementerian kesehatan/ petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan dan petugas dinas kesehatan. Di sini EMT melaporkan sumber daya kesehatan yang dibawa dan peserta akan menunjukkan LoA dan dokumen terkait lainnya. Setelah pelaporan selesai, setiap negara akan diberikan pendamping EMT atau EMT Accompaniment selama mereka bertugas di Indonesia.

Setelah praktek RDC selesai, peserta kembali diarahkan menuju ruangan. Selanjutnya dr. Achmad Yurianto, Sekertaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan memberikan briefing praktek lapangan di Tanah Ampo Karangasem. dr. Yurianto menunjukkan pos pos pelaksanaan kegiatan melalui peta dan menjelaskan alur mulai dari registrasi kedatangan ke pos klaster, penanganan pasien, proses rujukan pasien, komposit tim, hingga pelaporan kepulangan EMT Internasional.

Reportase oleh Happy Pangaribuan, MPH dan Madelina Ariani, MPH

{slider title=”Reportase hari 3: 27 November 2019″ class=”green”}

h3 rcd 1

Dok. Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan: Sesi penerimaan EMT Internasional di HEOC/ klaster kesehatan

Hari ini adalah praktek lapangan di Tanah Ampo. Praktek penanganan bencana berdasarkan skenario Gunung Agung meletus dengan jumlah populasi terdampak 4.200.100 orang yang tersebar di 9 daerah terdampak. Kegiatan dimulai dengan upacara yang dipimpin oleh Bupati Karangasem. Selanjutnya EMT Internasional didampingi oleh EMT accompaniment menuju pos klaster kesehatan dan terlebih dahulu melakukan registrasi. Petugas registrasi akan mengecek kesesuaian data EMT Internasional dengan data yang sudah dikirimkan oleh Kementerian Kesehatan sesuai dengan EMT registration form, mengecek STR jika diperlukan, membuatkan kartu identitas selama bekerja, memberikan serta menjelaskan formulir formulir seperti medical record, pelaporan harian, dan lainnya kepada EMT, serta mengarahkan EMT untuk mendengarkan briefing dari koordinator klaster kesehatan. Koordinator klaster kesehatan menjelaskan kondisi terkini dampak bencana, menjelaskan alur dan peran penanganan korban bencana.

h3 rcd 2

Dok. Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan: ”Penanganan korban oleh EMT Thailand

Selanjutnya EMT Internasional menuju tenda masing masing untuk melakukan penanganan korban bencana. Korban bencana kemudian diarahkan untuk mendatangi tenda masing masing negara untuk mendapatkan pertolongan. Mereka datang dengan berbagai jenis luka atau penyakit akibat letusan gunung berapi. Jika korban membutuhkan pertolongan lanjutan maka EMT akan melakukan rujukan korban ke rumah sakit terdekat. Proses rujukan diketahui oleh EMTCC.

EMT melakukan pelaporan pelayanan kesehatan setiap hari ke EMTCC. untuk penyesuaian waktu maka dalam latihan ini EMTCC dibagi menjadi 3 ruangan tetapi bukan sub EMTCC yaitu ruangan 1 (Brunei, Kamboja, Indonesia, Laos); ruangan 2 (Malaysia, Myanmar, Filipina); ruangan 3 (Singapura, Thailand, Vietnam). EMTCC meeting dilakukan sebanyak 3 kali. Rapat pertama EMT AMS mengumpulkan laporan harian (MDS form), kemudian manajer data dan informasi EMT CC input data tersebut ke dalam tools MDS sehingga didapatkan feedback pelayanan yang dilakukan oleh seluruh EMT hari asumsi tersebut. Koordinator EMTCC menfasilitasi rapat, menanyakan secara umum bagaimana pelayanan kesehatan EMT dan kendala yang mereka hadapi selama bekerja. Koordinator EMT CC mencatat semua laporan dan mengarahkan penyelesaian masalah atau kendala serta rencana tindak lanjut penanganan korban.

 h3 rcd 3

Dok. Pusat Krisis Kesehatan Kementerian, Kesehatan: Rapat EMTCC dan tim data informasi

            Koordinator EMTCCC menyampaikan informasi dari tim SAR bahwa terdapat satu desa terisolasi yaitu desa Tejakusuma, dimana disana ribuan dari korban yang belum mendapatkan pertolongan. Sehingga rencana selanjutnya EMT harus melakukan Health Need Assessment (HNA) di desa Tejakusuma. Pada rapat kedua hasil HNA tersebut juga dilaporkan kembali ke EMTCC meeting. Skenario selanjutnya korban desa Tejakusuma membutuhkan penambahan tenaga kesehatan 3 dokter, 9 perawat dan 1 ambulans. EMT CC melakukan rapat dengan EMT untuk negosiasi komposit tim. EMT CC menyampaikan kebutuhan di desa Tejakusuma dan mereka bersedia mengirimkan EMT mereka untuk tergabung dalam komposit tim. EMT Internasional dan nasional yang bersedia membantu dan bergabung dengan tim nasional ditugaskan di desa Tejakusuma. Di desa Tejakusuma mereka kemudian bertugas di bawah komando EMT Nasional Type 1 mobile yang terlebih dahulu ada di sana. Di EMTCC meeting ketiga semua peserta melaporkan pelayanan secara keseluruhan dan memberikan dokumen terkait serta melaporkan kalau masa bertugas EMT internasional akan berakhir.

            Seluruh EMT yang habis masa tugasnya harus membuat exit report yang mengkalkulasi seluruh layanan kesehatan yang diberikan, mencatat hal hal penting, termasuk masalah kesehatan masyarakat serta rekomendasi bagi EMTCC dan klaster kesehatan. Pada simulasi ini, kegiatan ini diberikan satu sesi tersendiri yakni exit report di HEOC. Di sini ketua HEOC menyampaikan situation report hari asumsi hari ke 18 pasca erupsi, mengumpulkan semua kartu identitas EMT, mengecek kelengkapan laporan, serta mengucapkan terimakasih atas bantuan internasional kepada Indonesia.

h3 rcd 4

Dok. Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan: Sesi exit report di HEOC

 

Reportase oleh Happy Pangaribuan, MPH dan Madelina Ariani, MPH

{slider title=”Reportase hari 4: 28 November 2019″ class=”blue”}

h4 rcd

Dok. Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan: ”Pengecekan imigrasi pada proses demobilisasi”

EMT internasional menuju ruang Reception and Departure Center (RDC) untuk persiapan kembali ke negara asal (demobilisasi). EMT internasional melapor ke bagian imigrasi, custom dan bagian kesehatan. Di custom, kembali dicek logistik mereka oleh petugas, apakah ada yang ditinggal di Indonesia atau ada membawa logistik lainnya ke luar. Sedangkan di bagian kesehatan, KKP akan mengecek kesehatan, petugas dinas kesehatan bisa mengecek bahwa EMT Internasional sudah ACC klaster kesehatan untuk pulang dari tanda tangan koordinator klaster kesehatan di kartu identitas EMT yang dibawa masing masing anggota EMT.

Setelah proses demobilisasi selesai, peserta kembali ke ruangan untuk melakukan review secara keseluruhan kegiatan mulai dari hari pertama. Setiap negara melakukan evaluasi kegiatan kemudian mempresentasikan hasil evaluasi. Secara keseluruhan kegiatan berjalan dengan baik, kendala yang dihadapi adalah terkait komunikasi ketika melakukan proses rujukan korban, koneksi internet terbatas.

Mentor dari ARCH project dan tim JICA memberi apresiasi kepada Indonesia karena project berjalan dengan baik dan memang sudah dipersiapkan dengan baik. Ada dua hal yang sangat diapresiasi oleh mentor dari ARCH project dan tim JICA. Pertama terkait pengerjaan data dan informasi melalui tools MDS, Indonesia menjadi negara host pertama yang menyiapkan dan melaksakannya dengan sangat baik. Kedua terkait dengan pelaksanaan Komposit Tim yang hanya ada di Indonesia akan diadopsi menjadi SOP se ASEAN dan tetap masuk dalam ARCH project selanjutnya di Myanmar. Indonesia juga berterima kasih kepada para mentor atas semua bimbingan mentor selama persiapan kegiatan ini.

            h4 rcd 2Dok. Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan: Penutupan dari Panitia Indonesia dr Ina Agustina (kiri), Foto Mentor ARCH dan JICA (kanan)

Reportase oleh Happy Pangaribuan, MPH dan Madelina Ariani, MPH

{/sliders}

Materi Dokumentasi Kegiatan  Reportase PPK Kemenkes  Video

 

Reportase oleh : Happy Pangaribuan, MPH dan Madelina Ariani, MPH

Laporan Kegiatan Launching Buku : Relawan Kesehatan di Medan Bencana dan Pameran Ilmiah Manajemen Bencana Kesehatan Indonesia 2019

launcing buku audit

Laporan Kegiatan

Launching Buku : Relawan Kesehatan di Medan Bencana dan Pameran Ilmiah Manajemen Bencana Kesehatan Indonesia 2019

Rabu- Jumat, 30 Oktober – 1 November 2019


launcing buku audit

{tab title=”Pengantar” class=”blue” align=”justify”}

Sejak pertama kali diselenggarakan, pameran ilmiah bencana menjadi kegiatan dan salah satu metode pembelajaran yang disukai oleh mahasiswa dan dirasakan mampu memberikan pemahaman lebih mengenai gambaran penanggulangan bencana bidang kesehatan yang riil bagi mahasiswa. Pokja Bencana FK – KMK UGM juga selalu terlibat dalam penanganan bencana yang pernah terjadi di Indonesia berupa bantuan tenaga medis, logistik dan manajemen klaster kesehatan. Pengalaman – pengalaman tersebut telah didokumentasikan dalam bentuk buku berjudul “Relawan Kesehatan di Medan Bencana” dimana buku ini menceritakan bagaimana kondisi dan penanganan saat bencana dari sektor kesehatan. FK – KMK UGM pada kesempatan ini mengajak semua pihak untuk kembali terlibat dalam Launching Buku “Relawan Kesehatan di Medan Bencana” dan Pameran Ilmiah Manajemen Bencana Bidang Kesehatan di Indonesia.

{tab title=”Launching Buku” class=”blue”}

Launching buku dilaksanakan bersamaan dengan pembukaan pameran ilmiah manajemen bencana bidang kesehatan. MC membuka kegiatan launching dengan membacakan ulang rangkaian kegiatan launching buku dan pelaksanaan pameran. MC juga memperkenalkan penulis buku dan menceritakan sekilas tentang rangkuman isi buku. Selanjutnya sambutan dari dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc, PhD selaku Ketua Blok D.2 Pendidikan Dokter reguler/internasional FK-KMK UGM. Dr Yodi mengatakan bahwa tantangan terbesar bidang kesehatan secara global adalah bagaimana menghadapi bencana. Statistik 2018 menunjukkan korban bencana yang tinggi ada di Indonesia. Lulusan kedokteran Indonesia seyogiyanya siap berperan dalam penanganan bencana. Pokja bencana FK – KMK UGM sudah berinovasi untuk memudahkan mahasiswa dalam pembelajaran bencana melalui pameran ilmiah kebencanaan. Event ini mendorong mahasiswa bisa bertemu langsung dengan para pelaku penanganan bencana di lapangan. Demikian juga halnya dengan adanya buku relawan yang dituliskan oleh tim pokja bencana sangat bagus untuk menambah pengetahuan dalam penanganan bencana.

Selanjutnya adalah pemaparan dari dr. Hendro SpB. KBD, salah satu penulis buku relawan kesehatan di medan bencana. dr. Hendro menyampaikan bahwa buku ini seperti brainstorming atau lesson learnt yang ditangkap oleh para penulis selama bekerja di lapangan. Bahasa yang digunakan dalam buku ini sederhana sehingga mudah dimengerti oleh masyarakat awam. Kekurangan dari buku ini adalah semua penulis masih pemula tidak ada pengalaman menulis sebelumnya. Kelebihan buku ini adalah mencakup pengalaman yang sangat lama sejak 2004 – 2018. Kemudian Pokja Bencana mendapatkan dukungan yang konsistensi dari institusi sehingga pokja bencana dapat berinovasi dalam pengembangan manajemen bencana sector kesehatan di Indonesia. Beberapa produk dari pokja bencana adalah Hospital Disaster Plan, Dinkes Disaster Plan, Puskesmas Disaster Plan dan disaster kit.

Setelah pemaparan selesai, MC mengajak semua penulis untuk duduk di depan dan memulai diskusi dengan peserta. Peserta yang mengikuti webinar yaitu 4 orang.

launcing buku audit 1

Dok. Pokja Bencana “Diskusi dengan penulis buku relawan kesehatan di medan bencana”

{tab title=”Diskusi” class=”green”}

1.      Bagaimana menyusun kebencanaan ini sehingga bisa masuk dalam perkuliahan?

  • dr. Hendro : disusun sesuai dengan bidangnya masing – masing. Tim Pokja Bencana mempunyai keahlian di bidang masing – masing, jadi semuanya saing berkoordinasi untuk mengemas segala pengalaman dan pengetahuan ke dalam pendidikan kedokteran.
  • dr Bella : diawali oleh pembentukan Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) Divisi Manajemen Bencana. Kemudian Prof. Laksono meminta supaya dibuatkan untuk mahasiswa. Awalnya kebutuhannya ada disaster manajemen dikembangkan menjadi disaster medicine.
  • dr Handoyo : penyusunan tersebut tidak mudah, yang dibutuhkan itu fasilitator dan komitmen serta dukungan dari institusi institusi. Jadi kurikulum ini diimplementasikan makin lama makin bagus. Untuk knowledge sudah cukup baik jadi next level ke arah relief.
  • Sutono : di perawatan juga sudah dikembangan disaster manajemen perawat, kemudian kita juga ada council nursing yang memiliki kurikulum sehingga berdasarkan itu kami kembangkan menjadi kurikulum peran perawat saat bencana dan post bencana.
  • dr. Sulanto : yang perlu dipahami adalah kita tidak bisa mencegah bencana, yang bisa dilakukan mengurangi risiko akibat bencana. Bagaimana menyiapkan manusia siap menghadapi bencana. Jogja dimulai dengan memasukkan dalam pendidikan pada kurikulum kedokteran.

2.      Bagaimana melibatkan mahasiswa dalam kebencanaan?

  • dr. Hendro : ilmu kebencanaan di kita belum terstruktur. Pengalaman langsung ke lapangan baru bisa sah jadi petugas atau pengajar kebencanaan. Mahasiswa mana dulu yang dimaksud. Kita bisa melibatkan sesuai dengan kapasitas mereka. Jika mahasiswa kedokteran masih dianggap masyarakat awam. Artinya tergantung dari mahasiswa mana. Jika mahasiswa teknik dari awal dilibatkan mungkin sudah bisa.

{tab  title=”Pameran” class=”red”}

launcing buku audit 2

Dok. Pokja Bencana “Peserta Stand Pameran”

Kegiatan selanjutnya adalah pembukaan acara pameran oleh Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed. Ph.D.,SpOG(K). Prof. Ova menegaskan kembali bahwa tim pokja bisa terus belajar, berkembang menjadi lebih bagus, sudah 25 tahun mampu menuliskan dalam sebuah buku. Musibah bisa suatu kesenangan bisa juga suatu kesedihan bagi kita jadi kita tidak bisa mengatur musibah. Tim ini memberikan semangat bagi kita. Sebagai institusi pendidikan harus siap menyiapkan profesi untuk menanggapi perubahan alam dengan baik dan membawa outcome yang lebih baik. Seluruh peserta diajak ke luar ruangan untuk pemotongan pita sebagai simbol pembukaan pameran.

Selanjutnya peserta bebas mengunjungi pameran. Beberapa organisasi yang mengisi pameran adalah FK – KMK UGM (Pokja Bencana, Divisi Bencana Kesehatan PKMK, Prodi Keperawatan, Prodi Kedokteran Umum, dan Prodi Gizi Kesehatan); Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY; PMI Provinsi Yogyakarta; TBMM FK – KMK UGM; dan Pusbankes 118 PERSI DIY. Pameran dilaksanakan sampai dengan 1 November 2019.

{tab  title=”Penutup” class=”grey”}

Demikian laporan kegiatan Launching Buku dan Pameran Bencana 2019. Kegiatan ini bermanfaat bagi mahasiswa untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang manajemen penanggulangan bencana bidang kesehatan. Pengalaman – pengalaman peserta saat menangani bencana yang dibagikan pada pameran dan juga yang sudah terdokumentasi dalam satu buku bisa menjadi pelajaran untuk perbaikan manajemen bencana kesehatan.

{/tabs}