Reportase Launching dan Bedah Buku Relawan Kesehatan di Medan Bencana

launcing buku

Reportase

Launching dan Bedah Buku Relawan Kesehatan di Medan Bencana

2 Oktober 2019

launcing buku


Pengantar

                Pokja Bencana FK – KMK UGM selalu terlibat dalam penanganan bencana yang pernah terjadi di Indonesia berupa bantuan tenaga medis, logistik dan manajemen klaster kesehatan. Pengalaman – pengalaman tersebut telah didokumentasikan dalam bentuk buku berjudul “Relawan Kesehatan di Medan Bencana” dimana buku ini menceritakan bagaimana kondisi dan penanganan saat bencana dari sektor kesehatan. Berkaitan dengan hal tersebut, FK – KMK UGM menggelar soft launching dan bedah buku “Relawan Kesehatan di Medan Bencana” untuk memperkenalkan karya buku dan mensosialisasikan bagaimana pengalaman relawan kesehatan menolong korban bencana. Narasumber acara ini adalah Suparlan dari Yayasan SHEEP Indonesia; Danang Syamsurizal, ST dari BPBD DIY dan dr. Hendro Wartatmo, Sp.B., KBD mewakili tim penulis buku. Bedah buku dilaksanakan di Ruang Theater, Gedung Perpustakaan lantai 2,FK – KMK UGM pada Rabu, 2 Oktober 2019.

Pelaksanaan

Pemaparan pendahuluan dari dr. Hendro yang menceritakan bagaimana awalnya terlibat dalam penanganan bencana dan akhirnya menulis buku. Semua penulis belum pernah menulis buku. Pada 2016, ada momentum Presiden Joko Widodo menyampaikan saat ini Indonesia perlu meninjau bencana dari segi pendidikan. Maka setelah didiskusikan dengan Prof. Laksono maka disusunlah buku ini. Rencana awalnya pada buku ini akan ditulis tentang pengalaman dan keilmuan bencana. Namun akhirnya diputuskan untuk menulis lesson learnt dulu, selanjutnya buku kedua menulis dari segi keilmuannya. Hal yang menarik adalah sekitar 11 tahun yang lalu dr. Hendro sudah ingin menulis buku dan sudah menentukan judulnya. Ternyata setelah dr. Hendro membuka file – file yang lama ternyata judul yang ditulis dulu sama dengan judul buku ini sementara judul ini diputuskan bersama dengan tim.

Selanjutnya pemaparan dari BPBD DIY oleh Danang. Danang mengatakan bahwa buku ini sangat menarik, enak dibaca dan tanpa sadar mengira buku ini novel padahal berdasarkan kisah nyata. Dalam buku ini, terlihat kerinduan atau panggilan untuk menolong. Buku ini bisa menjadi pembelajaran bagi orang – orang yang terjun menangani bencana. Pesan yang disampaikan buku ini yaitu jika ada niat pasti ada jalan. Pada situasi kritispun masih ditemukan optimisme. Selanjutnya Danang memilah perkembangan penanganan bencana ini per periode, terlihat perkembangan penanganan bencana dari tahun ke tahun.

Selanjutnya pemaparan dari Yayasan Sheep oleh Suparlan. Suparlan menyampaikan bahwa buku ini umurnya lebih tua daripada undang – undang kebencanaan. Ada banyak pembelajaran dalam buku ini. Pertama terdapat pola perubahan model penanganan bencana dimana dulu belum terlihat sistem manajemennya. Model penanganan sekarang, bencana tidak boleh lagi kita tunggu tapi kita sudah harus mempersiapkan bagaimana pentingnya mengurangi risiko bencana. Pelajaran kedua adalah kemauan saja tidak cukup tetapi penting disiapkan rencana kontijensi. Ketiga dalam buku ini juga ada tentang perkembangan informasi teknologi dalam kebencanaan. Bahwa dari teknologi terdapat percepatan penyebaran informasi. Keempat terdapat sistem rotasi pengiriman dan kelengkapan tim. Bagaimana pemenuhan logistik bagi tim juga diceritakan supaya tidak menyusahkan pemerintah setempat. Kelima buku ini juga banyak bercerita tentang klaster kesehatan, dimana sistem klaster kesehatan ini sudah terlihat bagus saat gempa Lombok. Keenam, ada ancaman bencana yang beragam dan terlihat perbedaan penangan bencananya. Ini akan lebih memberikan edukasi jika ini lebih spesifik lagi. Model penanganan bencana sesuai dengan jenis bencananya juga dicantumkan dalam buku ini. Pesan Suparlan yang terakhir adalah bahwa buku ini menggarisbawahi jika terjun ke lokasi bencana tidak hanya bermodalkan nekat akan tetapi perlu ilmu.

Sesi Diskusi I:

  1. Apakah dalam buku disebutkan penanganan bencana kebakaran hutan? Dari pengalaman kami di Kalimantan Tengah dari segi kesehatan belum sama sekali.
  2. dr Hendro menyatakan untuk kebakaran hutan sebenarnya sudah ada sendiri. Type of injury, itu yang perlu dipahami sebelum berangkat ke lapangan jadi sudah bisa diperhitungkan apa yang harus dilakukan. Contohnya kebakaran hutan pasti sudah ada, misalnya efek ke mata dan paru – paru. Perkara sosialisasi ke masyarakat setempat itu juga sudah ada dari Depkes.Tri : apakah dalam buku ini juga diterangkan bagaimana seharusnya kita memberikan pendidikan tentang bencana kepada mahasiswa, masyarakat ataupun kepada relawan?
    • dr Hendro menjawab, belum ada di buku ini. Tapi kami berniat akan menyusun buku terkait keilmuan kebencanaan. Gangguan sosial yang terjadi paling utama dalam kebencanaan adalah gangguan kesehatan pribadi dan gangguan kesehatan masyrakat. Pendidikan ini akan disusun di buku yang kedua tapi khusus bidang kesehatan.
    • Suparlan menambahi terkait pada pendidikan,poin penting yang disampaikan adalah bagaimana mengurangi risiko bencananya. Fokus kita lebih ke masyarakat karena merekalah yang langsung terdampak bencana. Pendidikan kepada masyarakat tentu berbeda dengan kepada relawan. Misalnya kepada relwan akan diberikan edukasi terkait kode etik selama di lapangan. Pendidikan secara luas tentang “pengurangan risiko bencana” ada tiga yaitu ancaman, kerentanan dan kapasitas. Bagaimana ancaman itu dikelola biar tidak menjadi bencana.
  3. Sekar : Bagaimana BPBD mengkoordinir program siaga bencana ini untuk kemudian disosialisasikan kepada masyarakat. Siapa yang berwenang mensosialisasikan. Seberapa kesiapsiagaan masyarakat Indonesia dalam menghadapi bencana?
    • Danang menyatakan terdapat fase informasi pada pra bencana, saat bencana dan saat pemulihan. Informasi pada pra bencana terdapat standar pelaksanaannya juga. Misalnya BPBD harus mengetahui daerah yang berpotensi banjir, kemudian harus tahu syarat rumah yang tangguh gempa. BPBD sudah memanfaatkan teknologi dengan penggunaan beberapa aplikasi sebagai media informasi yang akurat, misalnya tentang perkiraan cuaca dan kondisi di beberapa daerah yang rawan banjir. Kemudian ada juga melalui website dan infografis. Informasi ini juga diberikan kepada masyarakat secara langsung misalnya terkait triase. BPBD selalu melakukan pendekatan kepada masyarakat bahkan dengan spesialis-spesialis tertentu dalam pengembangan informasi terkait kebencanaan ini.

Diskusi Sesi II

  1. Ayu : dari pengalaman yang sudah ada, apakah dibuku ini dituliskan juga saran-saran kepada pemerintah, misalnya apakah peraturan yang sudah ada selama ini dapat diimplementasikan atau masih perlu direvisi?
    • dr Hendro menyatakan jadi rekomendasi kebijakan di buku ini tidak ada karena jarak dari bencana yang terjadi ke penulisan buku ini sudah lama sementara rekomendasi ini perlu update. Rekomendasi kita sampaikan tapi lewat media lain.
  2. Nugroho : apakah ada regulasi tentang rumah yang ditinggal kemudian korslet?
    • Tim penyidik akan menentukan dulu apakah terdebut disengaja atau tidak disengaja, kemudian dilihat apakah menyebabkan kematian atau tidak. Semua ada aturannya.
  3. Ario : berdasarkan evidence based yang ada dibuku ini terkait kebijakan, aspek apa sekiranya yang belum ada regulasinya?
    • dr Hendro menjawab secara umum di bencana itu terdapatdua masalah yaitu di manajemen (disaster management) dan teknis (disaster medicine). Satu masalah di kebijakan itu menurut saya adalah aspek koordinasi. Misalnya antara SAR dan BNPB titik koordinasinya belum terbangun dengan baik
    • Terkait dengan sistem penanggulangan bencana, kita itu sudah bagus, tapi itu benar memang koordinasi ini belum terimplementasi dengan rapi. Setiap daerah berbeda kebijakannya. Kemarin saya baru dari Kalteng, dari segi kesehatan kuranag mereka perhatikan. Mereka fokus bagaimana untuk memadamkan api saja.

Reporter : Happy R Pangaribuan

Reportase Bimbingan Teknis Hospital Disaster Plan

hdp panti rapih 1

Reportase

Bimbingan Teknis Hospital Disaster Plan

H Boutique Hotel


hdp panti rapih 1

Bimbingan teknis dilakukan selama 3 hari, hari pertama penyampaian materi, hari kedua penugasan penyusunan dokumen dan hari ketiga kunjungan lapangan ke RS Panti Rapih. Jumlah peserta sebanyak 7 orang yang berasal dari 6 rumah sakit yaitu RS Tadulako, RS Permata Bunda, RS Mitra Paramedika, RS Sultan Imanuddin, RS. H.L. Manamabai Abdulkadir, dan RSUD Perbatasan Malaka.

Rabu, 28 Agustus 2019

Overview HDP

hdp panti rapih 2Penyampaian materi pertama tentang overview hospital disaster plan (HDP) oleh dr. Sulanto Saleh Danu, SpFK. Rumah sakit perlu memperhatikan potensi bencana yang dihadapi. Bencana yang sering dihadapi adalah bencana dari luar rumah sakit (eksternal). Misalnya gempa di Bantul, tiba – tiba rumah sakit menerima banyak pasien. Apakah kapasitas rumah sakit dapat memenuhi kebutuhan pasien? Untuk meminimalisir hal tersebut, maka perlu disusun dokumen hospital disaster plan. Pada HDP hospital incident command system sesederhana mungkin, komunikasi yang dibangun tidak birokatis.

hdp panti rapih 3Materi kedua tentang pengorganisasian disampaikan oleh dr. Handoyo Pramusinto, SpBS(K). Pemateri menanyakan bencana apa yang pernah terjadi di masing – masing rumah sakit. Kemudian pemateri juga menanyakan apa poin penting yang didapatkan dari materi overview HDP. Peserta juga diberi kesempatan untuk memberikan pendapat apa yang akan dibahas dalam materi pengorganisasian ini. Dalam struktur organisasi ini tidak perlu ada struktur baru, struktur yang dipakai tetap yang ada pada struktur sehari – hari. Namun struktur ini harus lebih sederhana tetapi mencakup semua kebutuhan.

Materi ketiga terkait logistik kesehatan oleh dr. Sulanto. Buffer stock di daerah perlu diperhatikan. Logistik mendukung semua kegiatan operasional saat bencana. Persiapan logistik ada pada sebelum bencana, pada saat bencana dan sesudah bencana. Jenis dan jumlah obat sesuai dengan jenis bencana yang terjadi dan prediksi populasi yang terkena. Dalam persiapan logistik ini juga perlu dipikirkan alternatif gudang logistik jika dalam sehari – hari gudang logistik rumah sakit sempit. Pengelola logistik harus paham tentang manajemen logistik ini mulai dari perencanaan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian.

Materi keempat tentang pengenalan penyusunan HDP disampaikan oleh Happy R Pangaribuan SKM, MPH. Pemateri memaparkan template dokumen hospital disaster plan. Template ini tidak baku, namun sudah disusun berdasarkan kebutuhan penanganan bencana di rumah sakit. Dokumen hospital disaster plan adalah dokumen yang dinamis artinya perlu di – update/revisi setiap tahunnya. Hal lain yang perlu diperhatikan pada template ini adalah kegiatan rencana tindak lanjut, yaitu merencanakan sosialisasi dokumen kepada lintas sektor terkait dan lintas program serta waktu monitoring dan evaluasi dokumen.

 

Kamis, 29 Agustus 2019

hdp panti rapih 4Kegiatan hari ini diawali dengan penugasan pengorganisasian. Semua peserta mencoba menyusun sistem komando sesuai dengan ketenagaan yang ada di rumah sakit. Jika mengalami kesulitan selama pengerjaan, peserta berdiskusi langsung dengan fasilitator dan narasumber. Salah satu kesulitan peserta dalam menyusun sistem komando adalah belum ada tenaga terlatih terkait kebencanaan di rumah sakit, sehingga hal ini menjadi catatan bagi rumah sakit untuk rencana tindak lanjut.

hdp panti rapih 5Materi kelima tentang komponen HDP dalam akreditasi SNARS disampaikan oleh dr. Bella Donna, M.Kes. Pemateri mengawali dengan menanyakan apakah rumah sakit sudah memiliki HDP dan sudah pernah disimulasikan. Sebagian besar rumah sakit peserta belum memiliki HDP. Pemateri menyampaikan kembali bahwa HDP ini penting untuk mengurangi kekacauan yang terjadi di rumah sakit saat bencana. Setiap rumah sakit dalam akreditasi SNARS diwajibkan memiliki HDP. HDP disiapkan kemudian disimulasikan sehingga bisa lolos akreditasi.

hdp panti rapih 6Materi keenam tentang analisis risiko, HIS dan SOP disampaikan oleh Madelina Ariani SKM, MPH. Pemateri menyampaikan bahwa saat melakukan analisis risiko dalam menentukan jenis bencana, peserta jangan takut untuk mencantumkan sebanyak mungkin bencana yang berpotensi mungkin akan terjadi. Dari jenis bencana tersebut maka akan dihitung kembali bencana apa yang menjadi prioritas penanganan. Misalnya di RS Tadulako Palu ada gempa, banjir, tsunami, likuifaksi, kerusuhan antar desa dan kebakaran, maka setelah melakukan analisis risko kemungkinan yang menjadi prioritas adalah gempa.

Materi ketujuh tentang sistem informasi dan manajemen relawan disampaikan oleh dr. Bella Donna. Data dan informasi yang dimaksud ini adalah semua data dan informasi yang dibutuhkan pada saat bencana.Relawan pada dasarnya datang untuk menolong tapi perlu diingat juga bukan untuk membebani fasilitas kesehatan. Seharusnya relawan yang datang sudah memahami apa yang menjadi kewajibannya dan mengikuti prosedur yang ada di rumah sakit. Selanjutnya setelah selesai sesi diskusi peserta melanjutkan pengerjaan penugasan dokumen HDP dan pelatihan teknik penyusunan peta respon.

hdp panti rapih 7

Fasilitator membuat satu skenario gempa, dimana beberapa relawan sudah ada yang datang ke rumah sakit. Perwakilan peserta membagi tugas yang bertanggung jawab di meja penerimaan dan penempatan relawan serta penerimaan logistik. Selebihnya menjadi relawan. Relawan yang datang dari berbagai profesi. Peserta dilatih bagaimana menangani relawan yang datang dan membaca peta respon.

 

Jumat, 40 Agustus 2019

Kunjungan Lapangan Ke RS Panti Nugroho

hdp panti rapih 1

Kegiatan ini diawali dengan pembukaan dari dr. Bella. Bella mengatakan bahwa dalam kunjungan ini peserta aktif untuk berdiskusi. Selanjutnya peemaparan dari dr. Tendean selaku direktur RS Panti Nugroho tentang pengalaman dan kebijakan terkait penanganan bencana di rumah sakit. RS Panti Nugroho tidak luput dari gempa. HDP yang disusun RS Panti Nugroho berdasarkan scenario Gunung Merapi. dr. Tendean menunjukkan peta radius jarak datar Gunung Merapi, menampilkan video simulasi Merapi dan simulasi gempa. Selanjutnya peserta berkeliling untuk melihat fasilitas – fasiltas rumah sakit yang sudah disiapkan jika terjadi bencana. Peserta didampingi oleh ketua bencana pada stuktur organisasi system komando di RS Panti Nugroho.

 

Penutup

Demikian laporan kegiatan bimbingan teknis Hospital Disaster Plan. Kegiatan ini akan bermanfaat untuk meningkatkan kesiapan rumah sakit dalam penanganan bencana. Penyelenggara kegiatan akan memfasilitasi rumah sakit untuk menyelesaikan dokumen berupa konsultasi atau diskusi jarak jauh.

Reporter              : Happy R Pangaribuan

Foto                    : Dokumentasi PKMK FK-KMK UGM

Laporan Kegiatan Refreshing First Aid for Doctors, Nurses, and Midwives Puskesmas Marawola Kabupaten Sigi

marawola report dokter 1

Laporan Kegiatan

Refreshing First Aid for Doctors, Nurses, and Midwives

Puskesmas Marawola –  Kabupaten Sigi


marawola report dokter 1 

Pengantar

Puskesmas Marawola menerima banyak pasien korban gempa Sulawesi Tengah pada September 2019. Tenaga medis puskesmas saling berkolaborasi untuk menangani korban bencana secara cepat dan tepat. Mereka dituntut tetap mampu melakukan pelayanan kesehatan secara menyeluruh saat terjadi gempa. Tenaga medis juga harus memahami penanganan korban bencana berbasis kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, kekacauan/chaos yang terjadi di puskesmas saat bencana dapat dicegah/ diminimalkan sejak dini. Pelatihan ini menyajikan pertolongan pertama saat bencana pada tenaga medis.

Pelaksanaan

Pada Selasa (6/9/2019) Tim Pokja Bencana Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK – KMK) Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan Himpunan Perawat Gawat Darurat dan Bencana Indonesia (HIPGABI) Provinsi Sulawesi Tengah mengadakan refreshing pertolongan pertama pada gawat darurat di Puskesmas Marawola, Kabupaten Sigi. Kegiatan tersebut berlangsung selama 4 Hari. Pada hari pertama kegiatan pertolongan pertama pada gawat darurat berfokus pada materi kegawatdaruratan dengan peserta adalah dokter, perawat dan bidan yang bertugas di Puskesmas Marawola.

Selasa, 6 Agustus 2019

marawola report dokter 2Hari pertama tim langsung disambut oleh kepala Puskesmas Marawola. Materi pertama mengenai Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) dan Initial Assessment disampaikan oleh Sutono, S.Kp., M.Sc., M.Kep. Dalam paparannya, Sutono, S.Kp., M.Sc., M. Kep menyatakan bahwa petugas kesehatan perlu cermat dan teliti dalam mengenali dan menangani korban dengan kondisi gawat darurat. Lebih lanjut dijelaskan bahwa petugas kesehatan harus mengetahui mana korban yang perlu ditangani terlebih dahulu dan mana korban yang memiliki prioritas kedua. Hal tersebut didasarkan pada prinsip yang dinamakan triase.

marawola report dokter 3Pembicara Kedua dalam kegiatan ini adalah Dr. Sri Setiyarini, S.Kp., M. Kes yang menjelaskan mengenai manajemen jalan napas. Sri yang juga sebagai Ketua Departemen Keperawatan Dasar dan Emergensi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada menjelaskan berbagai teknik dalam membuka dan mempertahankan kepatenan jalan napas bagi korban dengan penurunan kesadaran. Pada kesempatan yang sama, Dr. Sri Setiyarini, S.Kp., M.Kes menyatakan penggunaan alat bantu pernapasan yang tidak tepat bagi pasien justru dapat meningkatkan kematian pada pasien sehingga beliau berpesan agar petugas kesehatan selalu meng – update keilmuannya sesuai perkembangan jaman.

marawola report dokter 4Paparan ketiga disampaikan oleh perwakilan dari HIPGABI Sulawesi Tengah, Surianto, S.Kep., Ns., M.Kes. Dengan topik konsep luka dan teknik pembalutan. Dalam penjelasan yang disampaikan bahwa teknik pembalutan yang baik adalah teknik balut yang dapat menghentikan perdarahan yang terjadi, namun tidak menimbulkan gangguan sirkulasi pasca pembalutan. Untuk itu, Surianto, S.Kep., Ns., M.Kes menekankan pentingnya pengecekan nadi, suhu, dan capillary refill pada organ distal setelah selesai dilakukan pembalutan agar tidak terjadi nekrosis.

marawola report dokter 5Materi keempat disampaikan oleh Bayu Fandhi Achmad, S.Kep., Ns., M.Kep. dengan tema Basic Life Support (BLS). Pada kesempatan ini, Bayu menjelaskan mengenai pentingnya Resusitasi Jantung Paru (RJP) untuk dilakukan sesegera mungkin pada korban dengan kondisi henti jantung. Lebih jauh Bayu juga menjelaskan mengenai teknik dalam melakukan RJP.

marawola report dokter 6Pembicara terakhir dalam kegiatan ini adalah Eri Yanuar A.B.S., S.Kep., Ns., M.NSc.IC., dengan tema patah tulang dan pembidaian. Dalam paparannya dijelaskan bahwa petugas kesehatan sering terkecoh oleh fraktur tertutup karena secara fisik tidak terdapat luka di kulit pasien sehingga diharapkan petugas kesehatan lebih teliti dalam melakukan pengkajian patah tulang pada pasien.

Rabu, 7 Agustus 2019

pelatihan hari kedua ini peserta dilatih empat skill yaitu resusitasi jantung paru (RJP), manajemen jalan napas, pembalutan dan pembidaian, serta ambulasi dan transportasi. Pada kesempatan ini peserta secara antusias mencoba praktik keempat skill secara bergantian dan didampingi oleh instruktur sehingga setiap peserta dapat melatih skill – nya secara lebih mendalam.

Sebagian peserta kegiatan pelatihan ini menyatakan bahwa rutinitas pekerjaan yang dijalaninya membuatnya kesulitan untuk meng – update keilmuannya sehingga dengan adanya pelatihan ini membuat pengetahuan dan keterampilan kegawatdaruratan kembali dan dirinya dapat mengasah kemampuan medisnya lebih jauh.

Penutup

Demikian Laporan Kegiatan Refreshing First Aid untuk tenaga medis di Puskesmas Marawola. Kegiatan tersebut direspon positif oleh seluruh peserta yang terdiri dari tim medis Puskesmas Marawola, Kabupaten Sigi. Dengan adanya kegiatan ini dapat menambah wawasan peserta dan menjadi pengingat kembali konsep dan materi kegawatdaruratan medis.

 

Foto                 : PKMK FK – KMK UGM
Reporter           : Bayu Fandhi Achmad

Laporan Kegiatan Refreshing First Aid for Refreshing Basic First Aid Training for Non Medical Staff and Community Puskesmas Marawola Kabupaten Sigi

marawola report 1

Laporan Kegiatan

Refreshing First Aid for Refreshing Basic First Aid Training for Non Medical Staff and Community

Puskesmas Marawola – Kabupaten Sigi

marawola report 1


PENGANTAR

Pada saat bencana terjadi tenaga non medis harus mampu melakukan pertolongan pertama pada korban karena puskesmas pasti menerima pasien dalam jumlah besar. Masyarakat juga perlahan menyadari bahwa mereka tinggal di daerah rawan bencana. Penting bagi masyarakat siap siaga dalam penanggulangan bencana. Belakangan ini bannyak daerah yang mencanangkan program desa tangguh bencana atau masyarakat tangguh bencana. Manajemen penanganan bencana harus berbasis masyarakat karena pada dasarnya saat bencana terjadi yang dilakukan adalah menyelamatkan diri sendiri dan orang terdekat mereka. Pelatihan ini menyajikan terkait pertolongan pertama saat bencana terjadi pada tenaga non medis dan masyarakat.

 

PELAKSANAAN

Kamis, 8 Agustus 2019

Pada Kamis (8/8/2019)Tim dari Pokja Bencana Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK – KMK) Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan Himpunan Perawat Gawat Darurat dan Bencana Indonesia (HIPGABI) Provinsi Puskesmas Sulawesi Tengah mengadakan refresh mengenai pertolongan pertama pada gawat darurat di Marawola, Kabupaten Sigi. Pada Hhri ketiga kegiatan pertolongan pertama pada gawat darurat berfokus pada materi kegawatdaruratan dengan peserta adalah tenaga non medis Puskesmas Marawola dan Masyarakat. Mereka dibagi menjadi dua ruangan, karena mempertimbangkan ada sedikit perbedaan isi materi dan teknis penyampaian materi. Masyarakat yang dimaksud sebagai peserta terdiri dari kader kesehatan, kepala dan perangkat desa di Kecamatan Marawola. Materi yang diberikan sama dan system penyampaian materi dengan role play, narasumber bergantian untuk menyampaikan materi di dua kelas sekaligus.

marawola report 2Materi pertama mengenai Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) oleh Sutono, S.Kp., M.Sc., M. Kep. Dalam paparannya, Sutono, S.Kp., M.Sc., M.Kep menyatakan bahwa masyarakat merupakan pihak pertama yang menjumpai kondisi kegawatan sehingga mereka memiliki peran penting dalam menyelamatkan jiwa saat kondisi kegawatan terjadi di masyarakat. Tenaga non medis juga mereka partner kerja tenaga medis dan masyarakat sehingga SPGDT penting untuk dipahami.

Pembicara kedua dalam kegiatan ini adalah Dr. Sri Setiyarini, S.Kp., M.Kes yang menjelaskan mengenai manajemen jalan napas. Sri juga sebagai Ketua Departemen Keperawatan Dasar dan Emergensi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada menjelaskan mengenai berbagai teknik dalam membuka dan mempertahankan kepatenan jalan napas bagi korban dengan penurunan kesadaran.

Paparan ketiga disampaikan oleh perwakilan dari HIPGABI Sulawesi Tengah, Surianto, S.Kep., Ns., M.Kes. dengan topik konsep luka dan teknik pembalutan. Dalam penjelasan yang disampaikan bahwa teknik pembalutan yang baik adalah teknik balut yang dapat menghentikan perdarahan yang terjadi, namun tidak menimbulkan gangguan sirkulasi pasca pembalutan.

Materi keempat disampaikan oleh Bayu Fandhi Achmad, S.Kep., Ns., M.Kep. dengan tema Basic Life Support (BLS). Pada kesempatan itu beliau menjelaskan mengenai pentingnya Resusitasi Jantung Paru (RJP) untuk dilakukan sesegera mungkin pada korban dengan kondisi henti jantung. Lebih jauh Bayu Fandhi Achmad, S.Kep., Ns., M.Kep. juga menjelaskan mengenai teknik dalam melakukan RJP pada awam.

marawola report 3Pembicara terakhir dalam kegiatan ini adalah Eri Yanuar A.B.S., S.Kep., Ns., M.NSc.IC., dengan tema patah tulang dan pembidaian. Dalam paparannya dijelaskan bahwa masyarakat sering terkecoh oleh fraktur tertutup karena secara fisik tidak terdapat luka di kulit pasien sehingga diharapkan masyarakat lebih teliti dalam melakukan pengkajian patah tulang pada pasien.

 

Jumat, 9 Agustus 2019

Pokja Bencana Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan Himpunan Perawat Gawat Darurat dan Bencana Indonesia (HIPGABI) Provinsi Sulawesi Tengah kembali mengadakan refresh mengenai pelatihan pertolongan pertama pada gawat darurat di Puskesmas Marawola, Kabupaten Sigi. Pada Hari kedua ini kegiatan berfokus pada praktik managemen kegawatdaruratan.

marawola report 4

Pada pelatihan ini peserta dilatih empat skill yaitu resusitasi jantung paru (RJP), managemen jalan napas, pembalutan dan pembidaian, serta ambulasi dan transportasi. Pada kesempatan ini peserta secara antusias mencoba praktik keempat skill secara bergantian dan didampingi oleh instruktur sehingga setiap peserta dapat melatih skill – nya secara lebih mendalam.

Sebagian peserta kegiatan pelatihan ini mengatakan bahwa masyarakat jarang sekali terpapar dengan kegiatan semacam ini sehingga dengan adanya kegiatan pelatihan ini membuat pengetahuan dan keterampilan kegawatdaruratan dapat mengasah kemampuan yang dimiliki yang dimiliki.

Penutup

Pelatihan ini bermanfaat bagi tenaga non medis di puskesmas untuk upgrade pengetahuan dan keterampilan terkait pertolongan pertama saat bencana. Demikian juga bagi masyarakat, melalui peatihan ini masyarakat dapat terlibat dalam sistem penanganan bencana sektor kesehatan.

 

Foto                 : PKMK FK-KMK UGM
Reporter           : Bayu Fandhi Achmad

Laporan Kegiatan Bimbingan Teknis Puskesmas Disaster Plan

sigi 1

Laporan Kegiatan

Bimbingan Teknis Puskesmas Disaster Plan

Di Puskesmas Marawola Kabupaten Sigi
Provinsi Sulawesi Tengah

Sigi, 01-03 Agustus 2019

sigi 1

Pengantar

Puskesmas Marawola merupakan salah satu puskesmas yang terkena dampak gempa dengan kategori tidak aman. Pada minggu pertama pasca gempa Puskesmas Marawola juga merasakan kekacauan/chaos pada layanan kesehatan karena beberapa dari tenaga kesehatan juga merupakan korban gempa. Wilayah kerja Puskesmas Marawola juga banyak yang berpotensi bencana. Dengan demikian, penting sekali Puskesmas Marawola menyusun perencanaan penanggulangan bencana (Puskesmas Disaster Plan). Dokumen ini akan disinkronisasikan dengan dinkes disaster plan provinsi dan Kab. Sigi sehinga penanganan bencana bisa lebih terkoordinasi.

 

Pelaksanaan

Kegiatan berlangsung selama 3 hari di Puskesmas Marawola Kab. Sigi, dimana jumlah peserta sekitar 55 orang yang berasal dari dinas kesehatan kabupaten Sigi, RS Torabelo, Puskesmas Marawola, Puskesmas Dolo, Puskesmas Biromaru, Puskesmas Pandere, Puskesmas Kulawi, Puskesmas Banpres, Puskesmas Tinggede, Puskesmas Baluase, dan Puskesmas Nokilalaki.

 

Kamis, 1 Agustus 2019

Pembukaan

sigi2Pada Kamis (1/8/2019) pembukaan dimulai pada pukul 09.00 WIB. Dalam sambutanny,a drg. Hari Setyono selaku kepala Puskesmas Marawola mengatakan belajar dari pengalaman bencana, memang Puskesmas sempat mengalami chaos. Karena wilayah kerja puskesmas termasuk rawan bencana maka penting untuk mempersiapkan penanganan bencana sejak dini. Sedangkan dr. Redison selaku kepala bidang pengendalian masalah kesehatan dinas kesehatan kabupaten Sigi dalam membuka acara secara resmi mengatakan bahwa sebenarnya sudah ada beberapa kegiatan untuk penanggulangan banjir. Tetapi kejadian kemarin itu benar – benar di luar kendali, sehingga Sigi memang harus lebih siap dalam menghadapi bencana. dr. Bella sebagai perwakilan PKMK FK – KMK UGM menyampaikan harapannya agar Puskesmas Marawola bisa menjadi pilot untuk puskesmas lainnya di Kabupaten Sigi serta mampu mendampingi masyarakat dalam kesiapsiagaan bencana.

sigi3Selanjutnya penyampaian materi pertama terkait puskesmas model. Pemateri menyampaikan ke depannya, pemerintah pusat akan menetapkan bahwa seluruh fasilitas kesehatan harus aman. Bukan hanya aman dari segi bangunan saja melainkan juga isinya secara keseluruhan yang ada di dalam seperti SDM dan sistemnya. Karena itu pelatihan penanggulangan bencana penting bagi petugas di fasilitas kesehatan. Namun, pada kenyataannya banyak petugas bencana yang sudah dilatih tetapi masih bingung pada saat terjadi bencana. Seharusnya fasilitas kesehatan harus bisa operasional dalam situasi gawat darurat dan bencana. Fasilitas kesehatan yang aman berdasarkan kebutuhan ekonomi, sosial, moral, dan keharusan etis.

sigi4Materi kedua tentang komponen puskesmas disaster plan. Pakem yang disampaikan adalah pakem secara umum, nantinya masing – masing puskesmas yang akan mengembangkan sendiri bagaimana sebaiknya aturan penulisan dalam dokumen disaster plan. Apakah akan mengikuti penulisan yang sudah ada? Atau penulisan sesuai akreditasi puskesmas?. Komponen – komponen puskesmas disaster plan antara lain, pendahuluan, gambaran umum puskesmas, pengorganisasian, analisis resiko, SPO/prosedur penanganan, rencana tindak lanjut, dan penutup.

Selanjutnya penyampaian materi ketiga tentang dasar – dasar pengorganisasian. Pemateri menyampaikan dengan adanya sistem pengorganisasian yang operasional dalam puskesmas disaster plan diharapkan, kesiapsiagaan bencana dapat berjalan sehingga tidak menyebabkan chaos dalam waktu yang lama. Pengorganisasian menjelaskan tugas dan fungsi petugas puskesmas sehari – hari ketika terjadi bencana atau dalam situasi gawat darurat. Misalnya, pelaporan kejadian bencana di luar jam kerja, dokter jaga bisa menjadi komandan sementara pada saat tersebut sebelum diketahui oleh komandan yang terstruktur. Dokter jaga dapat mengarahkan tindakan apa yang bisa dilakukan segera saat itu.

Diskusi

  1. Pak Arif (Puskesmas Marawola) : Kami sudah pernah mendapatkan pelatihan tetapi belum bisa diaplikasikan secara langsung. Saat bencana petugas kami juga mengalami chaos. Berapa lama normalnya petugas kesehatan chaos untuk kembali bertugas? Sarannya ke dinkes, agar masyarakat dilibatkan secara langsung. Karena petugas kesehatan kami juga terdampak, baik secara materi maupun psikis.

→ dr. Bella : untuk normalnya chaos ini agak sedikit dilema. Dari saya pribadi saat kejadian letusan gunung Merapi Jogja tahun 2010 saya tetap mengevakuasi keluarga saya dan melaksanakan tugas saya karena saya memang bertanggung jawab di bidang bencana. Harus ada SK dari kepala puskesmas atau dari dinas untuk mengapresiasi petugas.

 

Juma’at, 02 Agustus 2019

sigi4Pada hari kedua materi keempat adalah tentang Dinkes Disaster Plan Kabupaten Sigi. Materi ini disampaikan oleh Sutarto, SKM selaku ketua tim penyusun dokumen disaster plan dinas kesehatan Kab. Sigi. Materi Dinkes Disaster Plan bertujuan untuk mengenalkan dan mencocokkan dokumen disaster plan dinkes Sigi yang telah disusun sebelumnya oleh tim penyusun dokumen disaster plan dinas kesehatan Kab. Sigi bersama tim PKMK UGM dengan dokumen disaster plan yang akan dibuat oleh Puskesmas.Dokumen disaster plan Dinkes Sigi belum baku dan belum bagus. Tapi ini bisa menjadi acuan untuk diajukan dalam perencanan penanggulangan bencana ke depannya.

Materi kelima adalah peran puskesmas dalam bencana. Puskesmas mempunyai peran dalam penanggulangan bencana pada fase pra bencana (kesiapsiagaan), fase saat bencana (respon tanggap bencana, operasi pertolongan, dan pemberdayaan masyarakat), dan fase pasca bencana (pemulihan). Pemateri menyampaikan bahwa sebaiknya pengalaman pada saat bencana kemarin dicatatkan. Kemudian setelah selesai tanggap darurat akan ada RTL lalu sesuaikan dengan program dan pengalaman. Hal tersebut akan dipelajari, sehingga dapat mengetahui kekurangan dan hal yang harus diperbaiki dalam perencanaan ke depannya.

sigi5Materi keenam terkait analisis risiko yang bertujuan untuk mengetahui potensi ancaman di daerah sekitar sehingga kita dapat menentukan prioritas. Analisis resiko dilakukan dengan menghitung ancaman dan seberapa besar berdampak pada masyarakat yang pernah terjadi di wilayah kerja puskesmas hingga 25 tahun yang lalu. Potensi ancaman bencana dalam wilayah puskesmas akan menyesuaikan dengan potensi ancaman bencana yang telah dibuat oleh dinas kesehatan Kabupaten Sigi. Jangan sampai potensi bencana tidak ada di dinkes Kab.Sigi tapi ada di wilayah kerja Puskesmas.

 

Sabtu, 3 Agustus 2019

sigi6Pada hari ini, disampaikan materi ketujuh terkait data dan informasi. Seluruh kegiatan relawan akan direkap setiap harinya oleh bagian data dan informasi. Data Informasi dimaksudkan agar kita bisa menyediakan data yang diperlukan orang – orang di atas untuk mengambil kebijakan. Jangan sampai data kesehatan yang diterima di pusat bukan dari sektor kesehatan. Contohnya di Pandeglang Banten, data fasilitas kesehatan yang rusak didapatkan dari BPBD. Di puskesmas data dan Informasi bisa dikerjakan oleh petugas sistem pencatatan dan pelaporan tingkat puskesmas (SP2TP).

sigi7Materi kedelapan terkait standar pelayanan minimal. Batas minimal kebutuhan hidup bagi korban/pengungsi yang bila tidak terpenuhi, akan menimbulkan masalah kesehatan. Dalam penanggulangan krisis kesehatan diperlukan standar sebagai acuan dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi yang terdiri dari standar manajemen kesehatan dan pelayanan kesehatan dasar (sub-subklaster). Setiap puskesmas rawat inap minimal memiliki tim EMT tipe 1-fixed sedangkan puskesmas non rawat inap minimal memiliki tim EMT tipe 1-mobile. Jika di puskesmas sudah memiliki TRC, namanya bisa diganti menjadi tim EMT mobile.

Selanjutnya praktek pembuatan peta respon untuk memudahkan petugas puskesmas mengetahui sebaran relawan di wilayah kerja Puskesmas Marawola. Praktek dilakukan dengan beberapa adegan simulasi segala kemungkinan yang terjadi di meja pendaftaran relawan kesehatan yang bertujuan untuk melatih petugas kesehatan saat menerima atau menghadapi relawan saat terjadi bencana. Peta respon adalah peta yang dibuat pada saat terjadi bencana sedangkan peta kesiapsiagaan adalah peta yang sudah disiapkan sebelum terjadi bencana yang berisi titik-titik rawan yang ada di wilayah kerja puskesmas.

 

Penutup

sigi8

Demikian laporan bimbingan teknis Puskesmas Disaster Plan di Puskesmas Marawola. Keseluruhan kegiatan ini berjalan dengan baik. Selanjutnya, kegiatan ini akan diteruskan dengan penyelesaian dokumen rencana penanggulangan bencana dan krisis kesehatan di wilayah kerja puskesmas Marawola.

 

Reporter  : Andi Tri Wangi
Foto        : Dokumentasi PKMK FK – KMK UGM Divisi Manajemen Bencana Kesehatan

Laporan Kegiatan Bimbingan Teknis Hospital Disaster Plan RSUD Tora Bello Kabupaten Sigi

foto sigi

Laporan Kegiatan

Bimbingan Teknis Hospital Disaster Plan RSUD Tora Bello Kabupaten Sigi

Sigi, 12 – 14 Agustus 2019


foto sigi

Pengantar

RSUD Tora Bello Sigi adalah salah satu rumah sakit yang terkena dampak bencana Sulawesi Tengah. Fasilitas kesehatan berupa bangunan gedung rumah sakit mengalami kerusakan dan banyak alat kesehatan yang hilang saat bencana. Pelayanan di rumah sakit chaos seminggu pasca bencana. Berdasarkan hasil rapat internal dengan RSUD Tora Bello, rumah sakit belum ada pelatihan khusus terkait penanggulangan bencana dan belum memiliki dokumen Hospital Dosaster Plan (HDP). Hal ini mendasari kebutuhan RSUD Tora Bello untuk mempersiapkan Hospital Disaster Plan – nya. Workshop/bimbingan teknis Hospital Disaster Plan ini berupa pemberian materi, penugasan dan praktek teknik pembuatan peta respon.

Pelaksanaan

Kegiatan berlangsung selama 3 hari di RSUD Tora Bello Kab. Sigi, dimana jumlah peserta sekitar 40 orang yang terdiri dari direktur, kepala bidang, bidang rujukan, bidang pelayanan, dokter IGD dan bidang lainnya yang berhubungan dengan penanganan krisis kesehatan dan bencana.

 

Senin, 12 Agustus 2019

foto sigi2Materi pertama adalah Overview HDP dan SNARS. Pemateri menanyakan mengapa harus menyiapkan HDP? Karena pada saat bencana akan mengalami kekacauan, hal tersebut bisa berkurang jika kita sudah memiliki kesiapan. Secara tertulis koordinasi sangat mudah, namun pada saat kejadian sistem koordinasi ini yang sering bermasalah. Setiap rumah sakit dalam akreditasi SNARS diwajibkan memiliki HDP. HDP disiapkan kemudian disimulasikan sehingga bisa lolos akreditasi. Namun perlu dipahami juga kalau penyusunan ini jangan semata – mata hanya untuk akreditasi, namun melihat wilayah kita yang sangat rawan bencana jadi dokumen ini memang penting bagi rumah sakit. Artinya harus dipersiapkan sebaik mungkin.

foto sigi3Materi selanjutnya tentang Pengorganisasian dan Logistik Kesehatan saat Bencana. Pemateri mengawali dengan menanyakan kapasitas rumah sakit Tora Bello pada saat penanganan pasien. Titik kumpul dimana, jumlah bed, ruang IGD. RS memiliki 16 bed, jika pada saat bencana ada pasien datang dalam 1 jam 1000 orang, apakah rumah sakit siap? Hal – hal seperti ini yang penting disiapkan dalam komponen HDP RS. Pasien datang berlebih diluar pasien harian. Penyusunan organisasi berdasarkan dengan organisasi sehari – hari. Penyusunan organisasi harus sesederhana mungkin tetapi mencakup semua kebutuhan.

Materi ketiga tentang Hospital Safety Index (HSI). Pemateri menyampaikan bahwa kita patut berbangga Kab. Sigi sudah punya dokumen perencanaan penanggulangan bencana yaitu di dinas kesehatan. Harapannya RS Torabelo bisa membuat dokumen yang sama seperti Dinas kesehatan kemudian menyesuaikan dengan kondisi RS. Pada analisis resiko yang perlu ditambahkan adalah kebakaran lahan, keracunan makanan, dan wabah. Hospital Safety Index bukunya terdiri dari 15 halaman dengan sekitar 150 pertanyaan. HIS mempunyai 4 modul dimana modul 1 terkait teknik bangunan, modul 2 tentang structural, modul 3 tentang non structural dan modul 4 tentang management. Perhitungan Hospital Safety Index harus dihitung secara bersama – sama oleh orang rumah sakit. Agar hasilnya bisa benar – benar sesuai.

Materi keempat terkait fasilitas, masteri ini bertujuan untuk mengenalkan fasilitas yang dibutuhkan pada saat terjadi bencana. Beberapa fasilitas yang diperlukan saat terjadi bencana contoh pos komando, titik berkumpul, ruang media, staging area untuk relawan yang sudah siap bertugas. Jangan disamakan ruangan relawan yang datang untuk registrasi dengan relawan yang sudah siap bertugas supaya tim manajemen relawan tidak bingung.

Selanjutnya materi terakhir tentang pengembangan scenario, data dan informasi. Skenario yang disusun sama dengan rencana Simulasi. Pemateri menampilkan form – form data dan informasi sehari – hari yang dibutuhkan saat bencana dan bentuk data rekapan harian untuk dilaporkan ke dinas kesehatan. Beberapa form tersebut antara lain adalah pelaporan harian penyakit, alur pelaporan surveilans, daftar hadir, form penerimaan donasi barang, form penerimaan obat – obatan dan perbekalan kesehatan. Harapannya data kesehatan bersumber dari instansi kesehatan. Biasanya data kesehatan bersumber dari BNPB.

Sesi Diskusi :

  1. Nyoman: Terkait dengan pembuatan peta, tadi kelihatan denah-denah RS dan puskesmas. Bagaimana dengan RS, kalau melihat situasi kemarin sebelumnya sudah kita susun petanya. Namun bencana terjadi fasilitas rusak. Bagaimana mensinkronkan peta respon ini dengan denah evakuasi?
    – Ada dua peta yaitu peta respon dan peta preparedness. Peta respon pada saat bencana itu yang kita buat. Peta rumah sakit itu yang kita buat (peta preparedness) menjadi peta respon, penempatan relawan itu yang kita tempelkan di peta preparedness, itulah yang menjadi peta respon.
  2. Nyoman: Terkait dengan simulasi, 1/3 staf terlibat dalam simulasi. Apakah pasien yang sedang dirawat juga dilibatkan?
    – Stafnya ya, tapi kalau korban tidak melibatkan korban yang benar. Tapi kita mengambil orang lain yang berperan sebagai korban. Peran korban ini sesuai dengan hazard di RS.
  3. Ketika bencana besar terjadi pasti RS akan collapse. SOP tidak berlaku. Secara otomatis, BPJS tidak menanggung. Sampai sekarang status pasien klaim dari BNPB sampai sekarang tidak dibayarkan. Ini bagaimana? Kemudian pertanyaan pamungkas saya, kepada menteri kesehatan, saat bencana terjadi menteri pendidikan diberi uang jasa. Ada istilah TNI, Polri, dapat remunasi, Guru dapat sertifikasi, Kesehatan dapat terima kasih.
    • dr. Sulanto:  Kita tidak pernah tahu bencana kapan terjadi. Ini memang sulit. Terkait uang atau penganggaran sebenarnya kita bisa mencari relawan dari NGO/LSM atau lembaga lain yang bisa menyumbangkan uang saat bencana. Kemudian harus disiapkan APBD RS kira – kira 10%, serta tenaga – tenaga yang sudah tersertifikasi untuk kejadian bencana. Bekerjasama dengan LSM – LSM yang ada.
    • dr. Bella : Dana DSP diberikan sebelum selesai tanggap darurat. Jika sudah lengkap administrasi, daftar hadir rapat, bisa diajukan sebelum tanggap darurat berakhir. Kalau di Sigi pun belum cair wajar karena sampai sekarang di Lombok pun belum ada. BPBD bisa menganggarkan untuk itu, karena Sigi merupakan daerah rawan bencana. Dinas kesehatan tetap bekerjasama dengan BPJS untuk penganggaran penyakit – penyakit, seperti hipertensi,yang tidak dimasukkan adalah penyakit akibat bencana.

Untuk jasa, jangankan guru, antar sesama profesi kesehatan masih ada kecemburuan karena yang ini menerima sedangkan yang lain tidak. Guru diberikan insentif karena dilindungi undang – undang. Sedangkan kita tidak.

Selasa, 13 Agustus 2019

Hari ini adalah penugasan penyusunan dokumen hospital disaster plan. Peserta dibagi menjadi 4 kelompok sesuai degan bidangnya. Bidang perawatan medis mengerjakan SOP, bidang perencanaan mengerjakan system komando dan tupoksi, bidang pelayanan kesehatan mengerjakan fasilitas saat bencana. Setiap kelompok didampingi oleh fasilitator sehingga jika ada kesulitan dan pertanyaan bisa langsung didiskusikan. Setelah penugasanan selesai, peserta sepakat akan mensosialisasikan hasil penugasan kepada internal rumah sakit besok harinya. Pada saat sosialisasi akan diundang bidang terkait yang mausk dalam sistem komando.

Rabu, 14 Agustus 2019

Presentasi Penugasan Dokumen Hospital Disaster Plan

foto sigi 8

Presentasi awal oleh tim struktur organisasi. Secara keseluruhan sistem komando sudah disetujui oleh peserta. Tupoksi juga tidak ada masalah. Ada koreksi dan penambahan pada sistem komando yaitu seksi keamanan sebaiknya dimasukkan ke bagian humas saja karena sehari hari seksi keamanan diatur oleh kasubag kepegawaian. Presentasi kedua oleh tim fasilitas. Beberapa perbaikan fasilitas adalah pada peta respon, ruang triase diwarnai sesuai dengan warna triase (merah, kuning, hijau). Area triase di dalam gerbang kemudian alur pasien masuk juga dibuat dalam peta. Keterangan tanda/symbol/warna pada peta jangan lupa dibuat dibawah peta. Direktur RS dr. Graf menyampaikan bahwa selanjutnya juga sudah direncanakan dibangun ruang untuk dekontaminasi dekat IGD.

Presentasi ketiga oleh tim SOP. Penggunaan jabatan di SOP disinkronkan dengan jabatan di struktur organisasi. Kemudian kita sudah tentukan fasilitas, maka nama fasilitas yang di SOP disinkronkan dengan fasilitas saat bencana. Penambahan penting lainnya adalah perlu dibuat SOP terkait penggunaan ruang IGD, misalnya jika ruang IGD tidak cukup apakah perlu punya IGD cadangan mengingat pada saat respon biasanya pasien yang diterima melebihi kapasitas IGD.

 

Penutup

Demikian laporan bimbingan teknis Hospital Disaster Plan RSUD Tora Bello Kab. Sigi. Rencana tindak lanjut dari RSUD Tora Bello adalah meningkatkan pelatihan tim bencana sehingga terbentuk Tim Reaksi Cepat yang terlatih. Proses pembentukan dan pelatihan tersebut akan bekerja sama dengan Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes. PKMK FK – KMK UGM Divisi Manajemen Bencana bersama dengan Caritas Germany akan mendampingi RSUD Tora Bello dalam penguatan manajemen krisis kesehatan dan bencana di rumah sakit.

 

Download Materi

 

Reporter           : Happy R Pangaribuan
Foto                 : Dokumentasi PKMK FK – KMK UGM Div. Manajemen Bencana Kesehatan


 

 

 

 

 

Pelatihan Aktivasi Klaster Kesehatan

workshop dinkes 1

Laporan Kegiatan

Workshop Aktivasi Klaster Kesehatan

Dinas Kesehatan Kabupaten Sigi dan Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah

Palu, 27-28 Mei 2019

workshop dinkes 1

Pada fase pemulihan bencana Dinkes Provinsi Sulawesi Tengah menyusun rencana aksi penanggulangan bencana. Isu strategik dalam rencana aksi tersebut berupa penyusunan program pengurangan risiko bencana dan mitigasi pada pra bencana; penyelamatan dan pemenuhan kebutuhan pada saat bencana; serta koordinasi dan pelaksanaan pemulihan pasca bencana. Workshop Aktivasi Klaster Kesehatan ini sesuai dengan kegiatan mitigasi dan kesiapsiagaan bencana pada isu strategik Dinkes Provinsi. Pada workshop ini akan dibahas apa itu bagaimana pengaktifan klaster kesehatan, siapa saja yang bertugas dam klaster kesehatan dan bagaimana pembuatan peta respon dalam klaster kesehatan.

 

Pelaksanaan

{tab title=”Hari 1″ class=”green”}

 

Senin, 27 Mei 2019

Materi 1. Manajemen klaster kesehatan saat bencana

Salah satu kebutuhan saat terjadi bencana yaitu bagaimana kemampuan kita mengaktifkan klaster kesehatan. Dinas kesehatan akan membentuk klaster kesehatan dimana semua komando terkait pelayanan kesehatan berpusat dalam klaster kesehatan. Untuk kesehatan punya 6 subklaster kesehatan (subklaster pelayanan kesehatan, sub klaster pengendalian penyakit, penyehatan lingkungan dan penyiapan air bersih, sub klaster kesehatan reproduksi, sub klaster kesehatan jiwa, sub klaster DVI, subklaster gizi) dan 3 tim (tim data dan informasi, tim logistik kesehatan dan tim promotif kesehatan).

 

Materi 2. Manajemen Relawan

Manajemen relawan sudah diatur pada perka BNPB no17/2011. Penting bagi relawan harus tahu apa yang dilakukannya setibanya di lokasi bencana. Relawan harus membawa peralatan sendiri, bukan meminjam barang yang diperlukan di daerah bencana. Selain memiliki kualifikasi dan pelatihan khusus, Tim Penanggulangan Bencana harus proaktif, transparan, dan bersedia berkolaborasi.

workshop dinkes 2 

Dok. PKMK FK-KMKUGM “Manajemen Relawan”

 

Diskusi :

  1. Ibu Misnawati (Dinkes Sigi) :
    • Apakah setiap subklaster harus duduk di klaster bersama-sama di dalam tenda (pos komando)?
    • Saat bencana kemarin orang Surveilans hanya mencatat dalam klaster kesehatan sedangkan orang surveilans biasanya lebih sering turun ke lapangan. Sehingga timbul masalah, laporan yang selalu diminta oleh pusat tidak tersedia. Karena orang-orang yang turun ke lapangan bukan orang-orang surveilans. Sebaiknya ada kejelasan siapa yang harus melakukan pencatatan, pelaporan dan siapa yang turun ke lapangan. Supaya tidak tumpang tindih seperti yang terjadi di Sigi .
  2. Ibu Nining (Dinkes Sigi): Apakah pergantian waktu RHA1 – RHA2 – RHA3 sudah ditentukan?
    Tanggapan dari PKMK FK-KMK UGM
    • Setiap subklaster tidak harus duduk bersama dalam satu tenda (pos komando). Tetapi jika memang mau duduk bersama tidak masalah. Misalnya subklaster yankes duduk di depan, dan surveilans berada di belakang mencatat pelaporan penyakit. Yang penting kita sudah punya tempat berkumpul, meski tidak dalam satu tenda yang penting jangan jauh-jauh dan wajib berkumpul pada waktu yang ditentukan.
    • Jangan sampai saat bencana terjadi One Man Show. “Merasa kalau saya tidak turun ke lapangan saya tidak tahu”. Tidak ada yang tahu pencatatan surveilans kalau bukan orang surveilans sendiri. Walaupun orang surveilans yang paling sering ke lapangan. Kita bisa percayakan ke tenaga relawan tetapi dengan form yang sesuai dengan standar surveilans.
    • Pencatatan surveilans sebaiknya dimasukan dalam SOP bencana. Pengalaman di Lombok tidak adanya bagian Surveilans. Sehingga pencatatan Surveilans tidak diadakan oleh relawan, karena tidak ada yang mengolah data surveilans di pos komando. Ditakutkan data bisa keluar dari klaster kesehatan dan diambil alih oleh wartawan melalui relawan. Pentingnya surveilans adalah mengelola data yang telah dikumpulkan oleh relawan. Data yang dikumpulkan harus menghasilkan informasi agar relawan bisa merasa dihargai.
    • Waktu pergantian RHA 1 – RHA 2 – RHA 3 tidak ditentukan, waktu pergantian melihat kondisi sesuai dengan keputusan kepala daerah.

 

Materi 3. SOP, Data, dan Informasi

Laporan harian data informasi klaster kesehatan penting untuk menentukan strategi penanggulangan bencana. Pada materi SOP, data, dan informasi masing-masing kelompok Dinkes Provinsi dan Dinkes Sigi diberikan contoh mengisi laporan harian klaster kesehatan. Misalnya pada subklaster pelayanan kesehatan meliputi total tenaga relawan kesehatan harian, tim relawan kesehatan harian, kapasitas relawan kesehatan harian, sebaran tim relawan medis, data korban, layanan rumah sakit, dan fasilitas kesehatan rusak. Subklaster pengendalian penyakit meliputi laporan 3 besar penyakit, dan potensi wabah. Serta subklaster lainnya.

workshop dinkes 3

Dok. PKMK FK-KMK UGM “SOP, Data dan Informasi”

 

{tab title=”Hari 2″ class=”orange”}

 

Selasa, 28 Mei 2019

Pada hari ini masing-masing kelompok Dinkes Provinsi dan Dinkes Sigi diberikan tugas membuat alur manajemen bencana berdasarkan kasus skenario. Beberapa alur yang dibuat diantaranya alur pengaktifan klaster kesehatan, alur manajemen relawan, alur pencatatan dan pelaporan kegiatan, serta alur kerja tim RHA (Rapid Health Assesment). Dalam skenario masing-masing kelompok juga ditugaskan untuk menentukan lokasi berkumpul, siapa yang berkoordinasi dengan BPBD, dan laporan bagaimana yang harus dilaporkan ke pusat.

workshop dinkes 4

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Teknik Penyusunan Peta Respon

Selain pembuatan beberapa alur, hari ini juga dipraktekan pembuatan peta respon. Peta respon dibuat secara bersama-sama oleh kedua kelompok. Peta respon dimaksudkan untuk mengetahui sebaran relawan medis di tempat-tempat pelayanan kesehatan pasca bencana. Praktek dilakukan dengan beberapa adegan simulasi segala kemungkinan yang terjadi di meja pendaftaran relawan kesehatan. Hal ini bertujuan untuk melatih petugas kesehatan saat menerima atau menghadapi relawan saat terjadi bencana.

{/tabs} 

Penutup

Demikian laporan penyelenggaraan workshop ini kami buat. Secara keseluruhan kegiatan ini berjalan dengan baik. Dinas kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah dan Dinas kesehatan kabupaten Sigi sangat antusias dengan adanya kegiatan ini. Selanjutnya, kegiatan ini akan diteruskan dengan pendampingan penyusunan dokumen rencana penanggulangan bencana dan krisis kesehatan di masing-masing daerah Dinas Kesehatan pada bulan Juni mendatang. Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FKKMK UGM dan Caritas Germany sebagai penyelenggara program akan berkomitmen demi tercapainya tujuan program.

Reportase : Happy R Pangaribuan

Laporan Kegiatan Bimbingan Teknis Dinas Kesehatan Disaster Plan

dinkes disaster plan 1

Laporan Kegiatan

Bimbingan Teknis Dinas Kesehatan Disaster Plan

Sulawesi Tengah, 22-25 Mei 2019

 dinkes disaster plan 1

 

Dinkes disaster plan untuk provinsi dan kabupaten merupakan langkah paling awal dan penting untuk rencana penanggulangan bencana daerah khususnya bidang kesehatan karena akan menjadi acuan pembuatan kontijensi plan kedepannya, termasuk untuk rencanan penanggulangan bencana rumah sakit, puskesmas, dan fasilitas kesehatan lainnya di daerah. Workshop Dinkes Disaster Plan ini akan membahas bagaimana upaya penyusunan dokumen dinkes Disaster Plan, apa saja komponen dan indikatornya, bagaimana pengaktifan klaster kesehatan pada saat bencana, hingga sharing pengalaman dalam mengembangkan Dinkes Disaster Plan.

Pelaksanaan

{tab title=”Hari 1″ class=”blue” }

Hari I : 22 Mei 2019

Pembukaan

Kegiatan dimulai dengan menyampaikan tujuan dan bentuk kegiatan selama 4 hari dimana 2 hari penyampaian materi dan 2 hari penugasan. Selanjutnya akan di dampingi oleh PKMK FK-KMK UGM untuk meyelesaikan dokumen perencanaan penanganan bencana. Kepala Dinkes Provinsi berterima kasih kepada PKMK FK-KMK UGM karena selalu mendampingi Dinkes dalam penanganan bencana. Harapannya semua peserta dapat mengikuti kegiatan dengan seksama dan jika ada hal yang perlu ditanya atau didiskusikan silakan disampaikan ke PKMK FK-KMK UGM. Kegiatan ini akan menghasilkan dokumen perencanaan penanganan bencana dan akan kita pakai selanjutnya.

Materi 1. Pengantar Penyusunan Renkon/Dinkes Disaster Plan

Rencana kontijensi adalah proses identifikasi dan penyusunan rencana yang didasarkan pada keadaan kontijensi atau situasi yang akan diperkirakan akan segera terjadi. Renkon akan diaktifkan jika akan benar-benar terjadi. Kapan waktu penyusunan renkon? Segera setelah tanda-tanda awal akan terjadi bencana. Berapa lama masa berlakunya renkon? Apabila terjadi bencana maka renkon diaktifkan, apabila tidak terjadi bencana maka perlu dikaji ulang. Skenario dan tujuan renkon disepakati bersama. Renkon harus dapat dioperasionalkan dalam rencana operasi tanggap darurat.

dinkes disaster plan 2

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Pengantar Penyusunan Dinkes Disaster Plan”

Materi 2. Komponen Dinas Kesesehatan Disaster Plan

Dokumen yang disusun harus seoperasional mungkin, disusun sesuai dengan karakteristik dinas kesehatan. Regulasi/kebijakan dalam dokumen perencanaan penanganan bencana berupa SK daerah, SK Dinkes (Tim), SK Klaster Kesehatan, SK Manajemen Relawan dan sebagainya. Relawan yang ada di Sulawesi Tengah harus tercatat juga di Dinkes Provinsi dan BPBD. Pengorganisasian berupa sistem komando, organisasi seluruh tim dan organisasi tiap bidang. Analisis risiko berupa potensi bencana, perhitungan analisis risiko dan prioritas. Fasilitas berupa penetapan fasilitas, denah evakuasi dan daftar kontak internal dan eksternal. Rencana tindak lanjut adalah setelah dokumen selesai maka perlu disosialisasikan ke internal dinas kesehatan dan minyiapkan SK.

dinkes disaster plan 3

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Diskusi Komponen Dinas Kesehatan Disaster Plan”

Diskusi :

  1. Boleh saja, harus tetap disesuaikan dengan renkon BPBD. Jika mereka memiliki renkon longsor dan banjir makan kita akan mengembangkan skenarionya dalam bidang kesehatan.
    • Ibu Misnah dari Dinkes Kab. Sigi : absen dan form dimana disiapkan dan siapa yang duduk untuk memegang itu? Karena berdasarkan pengalaman ada kekacauan dalam memegang form tersebut karena tidak dijelaskan siapa yang harusnya bertanggung jawab.

Akan dijelaskan di pengorganisasian, namun biasanya ada yang bertugas sebagai liason yang bertanggung jawab atas absen dan form. Kala dalam struktur organisasi biasanya di bidang sekretariat.

Materi 3. Standar Minimum Pelayanan Kesehatan dalam Penanggulangan Krisis Kesehatan

Standar pelayanan manajemen kesehatan pertama sekali melakukan RHA, aktivasi klaster kesehatan dan mobilisasi EMT dan PHRRT. Penting untuk memastikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat terdampak berjalan sesuai standar dengan memperhatikan kebutuhan kelompok rentan. Dalam siklus penanganan bencana ada pre disaster, respone dan post-disaster. Penilaian risiko, mitigasi dan persiapan dilakukan pada pre-disaster. Pembentukan EMT disesuaikan dengan kapasitas di daerah, paling tidak satu daerah memiliki EMT type-1 moile.

dinkes disaster plan 4

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Penyampaian Standar Pelayanan Minimum Kesehatan”

Diskusi :

  1. P2 Dinkes Prov Ibu Santi : ada beberapa program lain tidak lengkap laporannya misalnya rabies yang terjadi di pengungsian. Apakah semua program harus dilaporkan atau hanya program tertentu. Kemudian ada informasi yang tidak benar kami terima, bagaimana mengatasi kejadian tersebut?
    • Sifat manusia pada kondisi darurat takut terhadap isu sensitif, tidak semua laporan kita terima harus berdasarkan pada faktor pendukung. Semua program-program dan penyakit standar harus dilaporkan. Kemudian penyakit tambahan yang spesifik yang bisa terjadi di daerah tersebut juga harus diperhatikan dan dilaporkan. Form-form dalam surveilance ditambahkan penyakit spesifik tersebut.
    • Dalam form ada keterangan “dan lain-lain” yang terkait dengan penyakit dan kronologis. Kalau ada penyakit seperti rabies maka kita informasikan kepada relawan sehingga kita yang mendapatkan laporan bisa langsung kita crosscheck ke lapangan.
  2. Ibu Misnah dari Dinkes Kab. Sigi :Terkait makanan yang expired biasa ditentukan tanggal dan tahun. Misalnya expired bulan Agustus, apakah bulan Agustus masih bisa kita konsumsi?
    • Kalau untuk dikonsumsi terakhir 31 Agustus, namun jika menerima obat dari bantuan luar, maka waktu penerimaan minimal 1 tahun akan expired. Khusus untuk vaksin juga harus lebih ketat pengawasannya.

 

Materi 4. Pengorganisasian

Pengorganisasian ini penting terkait dengan siapa melakukan apa. Pengorganisasian tidak membentuk struktur organisasi baru namun pengembangan organisasi yang sudah ada. Organisasi harus sederhana dan jelas, dapat dimobilisasi dalam waktu singkat. Metode yang digunakan adalah crosswalk yaitu memindahkan SOTK yang ada ke struktur organisasi penanggulangan bencana, misalnya bagian sekretariat di ICS bisa diisi oleh sekretaris dinas, kalau sehari-hari mengurus keuangan maka dalam ICS dimasukkan ke dalam bidang keuangan. Catatan penting tetap memperhatikan kemampuan dan kapasitas bidang tersebut.

{tab title=”Hari 2″ class=”green”}

Hari II : 23 Mei 2019

Materi 5 . Disaster Logistik dan Fasilitas

Logistik merupakan unsur pokok yang menentukan berhasil atau gagalnya manajemen bencana. Logistik bertanggung jawab pengadaan dan penyiapan personil, peralatan (menid dan nonmedis) mendukung pelayanan kegiatan, komuniksi, transportasi, supply nutrisi, dan supply materi. Untuk itu harus ada manajemen logistik meliputi fungsi seleksi, penyediaan/belanja barang, penyimpanan dan distribusi serta penggunaan. Persiapan logistik ada 3 fase , sebelum bencana, saat bencana (tanggap darurat), dan pasca bencana.

dinkes disaster plan 5

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Penyampaian Materi Disaster Logistik dan Fasilitas”

Materi 6. Materi Analisis Skenario

Analisis resiko merupakan langkah awal untuk membuat ancaman bencana dan menentukan prioritas. 3 langkah melakukan analisis resiko adalah : menentukan kemungkinan ancaman bencana, menilai dampak bencana, dan analisis potensi bencana 25 tahun terakhir. Jenis potensi bencana di Sulawesi Tengah: gempa bumi, tsunami, tanah longsor, angin puting beliung, konflik sosial. Menghitung dampak bencana dilihat dari dampak terhadap manusia (kematian, luka, kunjungan IGD), gangguan yankes (ketersediaan tenaga kesehatan), dampak bagi masyarakat (jumlah pengungsi), dan gangguan fasyankes (kerusakan fasyankes). Hasil analisis resiko akan dimasukan dalam rencana kontijensi

dinkes disaster plan 6

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Diskusi Materi Analisis Risiko”

{tab title=”Hari 3″ class=”red”}

Hari III : 24 Mei 2019

Penugasan Penyusunan Dinkes Disaster Plan

Peserta kembali dibagi sesuai dengan kelompoknya. Peserta mulai mengerjakan penugasan Dokumen Dinkes Disaster Plan. Komponen Dinkes Disaster Plan yang sudah mulai disusun pada penyampaian materi hari sebelumnya digabung menjadi satu template. Peserta melengkapi dokumen dan saling berdiskusi dengan narasumber dan fasilitator.

dinkes disaster plan 7

Dok. PKMK FK-KMK UGM “Penugasan Penyusunan Dokumen Dinkes Disaster Plan”

{tab title=”Hari 4″ class=”orange”}

Hari IV : 25 Mei 2019

Presentasi Draft Dinkes Disaster Plan Dinkes Provinsi

Dinkes Provinsi dan Dinkes Kab. Sigi mempresentasikan dokumen perencanaan penanganan bencana yang sudah mereka susun. Potensi bencana yang terjadi di wilayah dinas kesehatan provinsi adalah gempa bumi, tsunami, likuifaksi, banjir, tanah longsor, kerusuhan, demam berdarah, diare dan angin ribut. Setelah melakukan perhitungan risiko maka bencana yang memiliki risiko sangat tinggi adalah gempa dan banjir.

Ancaman bencana Dinkes Kab. Sigi yang menjadi prioritas adalah gempa bumi dengan penilaian resiko sangat tinggi, disusul jenis bencana dengan resiko tinggi yaitu likuifaksi, Banjir Bandang & tanah longsor, Banjir, Perkelahian antar desa. Hasil penilaian resiko yang sedang yaitu angin puting beliung & Demam berdarah. Berdasarkan risiko ini, maka yang diambil untuk disusun rencana kontijensinya terlebih dahulu adalah Gempa Bumi.

Penutup

Demikian laporan kegiatan Rencana Penyusunan Penanggulangan Bencana Dinas Kesehatan (Dinkes Disaster Plan). Secara keseluruhan kegiatan berjalan dengan baik. Kegiatan ini bermanfaat bagi Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah dan Dinas Kesehatan Kab. Sigi yaitu tersusunnya draft dokumen Dinkes Disaster Plan. Selanjutnya akan dilakukan pendampingan untuk menyempurnakan dokumen disaster plan di provinsi dan kabupaten. Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FKKMK UGM sebagai penyelenggara program akan berkomitmen demi tercapainya tujuan program.

{/tabs}

 

 

 

 

 

 

Pengantar Program Penguatan Sistem Manajemen dan Kapasitas Sumber Daya Sektor Kesehatan Pasca Bencana Sulawesi Tengah

Strengthening Management System and Human Resource Capacity in Health Sector after Disaster in Central Sulawesi as an Initial Step for Community Disaster Preparedness

 

PENGANTAR

Pasca gempa, tsunami, dan likuifaksi di Palu, Sigi dan Donggala tercatat dari 49 Puskesmas ada sebanyak 9 puskesmas terkena dampak dengan rusak berat dan 12 puskesmas dengan rusak ringan. Selain itu terdapat 2 rumah sakit mengalami kerusakan berat dan 11 rumah sakit mengalami kerusakan ringan. Pasca bencana masalah kesehatan yang timbul semakin kompleks. Banyak hal yang harus diperbaiki untuk mengembalikan pelayanan seperti semula sebelum terjadi bencana. Penguatan sistem manajemen dan peningkatan kapasasitas SDM kesehatan menjadi prioritas sasaran perbaikan sektor kesehatan pada masa recovery.

PKMK FKKMK UGM bekerja sama dengan Caritas Germany akan melakukan program pendampingan rutin dalam menguatkan sistem manajemen dan kapasitas SDM kesehatan pasca bencana Sulawesi Tengah. Fasilitas kesehatan yang menjadi sasaran program ini adalah Dinkes Provinsi Sulawesi Tengah, Dinkes Kabupaten Sigi, RS Tora Belo dan Puskesmas Marawola. Fasilitas kesehatan tersebut terkena dampak langsung bencana gempa, tsunami, dan likuifaksi. Program pendampingan ini akan dilakukan selama satu tahun melibatkan pemangku kebijakan, pemegang program dan masyarakat di lingkungan sasaran program.

 

TUJUAN

Penguatan sistem layanan kesehatan dan kapasitas sumber daya manusia dalam manajemen penanggulangan bencana sektor kesehatan pasca bencana Sulteng.

 

WAKTU PELAKSANAAN

Seluruh rangkaian kegiatan akan dilaksanakan mulai April 2019 – April 2020

 

KEGIATAN

Beberapa rencana kegiatan untuk mencapai tujuan program diantaranya :

  1. Koordinasi dan bekerja sama dengan pemerintah daerah Sulawesi Tengah dalam mencapai tujuan program dan menfasilitasi kegiatan di Dinas Kesehatan Provinsi Sulteng, Dinas Kesehatan Kabupaten Sigi, RS Tora Belo, Puskesmas Marawola dan masyarakat.
  2. Seminar kedaruratan medis dan manajemen klaster kesehatan
  3. Bimbingan teknis penyusunan dokumen perencanaan penanggulangan bencana (Dinkes Disaster Plan) di Dinkes Prov. Sulawesi Tengah dan Dinkes Kab. Sigi.
  4. Pelatihan aktivasi klaster kesehatan
  5. Bimbingan teknis penyusunan Hospital Disaster Plan di RS Tora Bello Kab. Sigi.
  6. Bimbingan teknis penyusunan dokumen perencanaan penanggulangan bencana (Puskesmas Disaster Plan) di Puskesmas Marawola Kab. Sigi
  7. Refreshing pelatihan pertolongan pertama (First Aid Training) untuk tenaga medis di Puskesmas Marawola.
  8. Refreshing pelatihan pertolongan pertama (First Aid Training) untuk tenaga non medis dan masyarakat di Puskesmas Marawola.
  9. Table Top Exercises (TTX) Dinkes Disaster Plan Provinsi Sulawesi Tengah dan Kabupaten Sigi.

 

LAPORAN KEGIATAN :

Seluruh rangkaian dan pencapaian kegiatan yang sudah terlaksana akan dilaporkan melalui website ini. Silakan Klik pada kotak dibawah untuk melihat perkembangan pelaksananaan program.

Seminar Kedaruratan Medis dan Manajemen Klaster Kesehatan

Penyusunan Dinkes Disaster Plan

Pelatihan Aktivasi Klaster Kesehatan

Penyusunan Hospital Disaster Plan

Penyusunan Puskesmas Disaster Plan

First Aid Training Tenaga Medis

First Aid Training Non Tenaga Medis

First Aid Training Community

Sosialisasi dan Persiapan Table Top Exercise

Table Top Exercise RSUD Tora Bello

Table Top Exercise Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah

Table Top Exercise (TTX) di Puskesmas Marawola Kabupaten Sigi

Table Top Exercise (TTX) di Dinas Kesehatan Kabupaten Sigi  

Penguatan Kapasitas Sistem Manajemen dan SDM Kesehatan pasca Bencana Sulawesi Tengah 2019-2020

Training of Trainer (TOT) PSC 119 Dinas Kesehatan Sulawesi Tengah dalam Penanganan Kasus Emergensi

Sosialisasi Dokumen Penanggulangan Bencana Sektor Kesehatan Sulawesi Tengah

 

PENUTUP

Demikian rencana dan pelaksanaan program penguatan sistem manajemen dan kapasitas sumber daya sektor kesehatan pasca bencana Sulawesi Tengah. Program ini merupakan langkah awal untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan ketangguhan masyarakat menghadapi bencana. PKMK FK-KMK UGM Divisi Manajemen Bencana Kesehatan bersama dengan Caritas melalui program akan terus mendukung perbaikan dan peningkatan pelayanan kesehatan Suawesi Tengah khususnya dalam krisis kesehatan dan bencana kesehatan.

Reportase Penggalangan Dana Bencana Melalui Konser Lagu – Lagu Nostalgia 70 – 80 an

konser penggalangan dana bencana 1

Reportase

Penggalangan Dana Bencana

Melalui Konser Lagu – Lagu Nostalgia 70 – 80 an

20 Juli 2019

konser penggalangan dana bencana 1

“Pemaparan Program Penggalangan Dana”, Dok. Pokja Bencana FK – KMK UGM

Semboyan Pokja Bencana FK – KMK UGM “Mendampingi Secara Utuh”, menjadi dasar yang kuat bagi tim Pokja Bencana untuk terus terlibat dalam penanganan bencana baik dalam bidang medis maupun manajemen pengendalian bencana sektor kesehatan. Pokja Bencana melakukan penggalangan dana setiap tahunnya untuk mendukung kesiapsiagaan pelaksanaan program pada masa mendatang. Konser lagu – lagu nostalgia tahun 70 – 80 yang diselenggarakan pada 20 Juli 2019 di taman Hotel Mustokoweni Yogyakarta merupakan penggalangan dana ketiga oleh Tim Bencana FK- K MK UGM. Penggalangan dana dihadiri oleh para alumnus yang pernah terlibat dalam penanganan bencana.

konser penggalangan dana bencana 2

“Konser Lagu Nostalgia”, Dok. Pokja Bencana FK-KMK UGM

Kegiatan konser diawali dengan pemaparan selayang pandang penanganan bencana Pokja Bencana FK – KMK UGM. Dalam selayang pandang tersebut terdapat beberapa foto dan video keterlibatan Pokja Bencana FK – KMK dalam penanganan bencana sejak tsunami Aceh 2004, gempa Nias, gempa Padang, gempa Bantul, gempa dan tsunami Pangandaran, erupsi Gunung Merapi, gempa Lombok 2018, likuifaksi Sulawesi Tengah, dan tsunami Selat Sunda. Selanjutnya disampaikan pula program penggalangan dana kali ini dilaksanakan melalui Virtual Account dan sistem Go Pay. Tim Bencana mengundang salah satu peserta praktek langsung untuk mencoba penggalangan dana menggunakan Go Pay. Bagi individu atau kelompok yang bersedia memberikan donasi dikelompokkan menjadi dua kategori yaitu kategori Gold dan kategori Platinum. Beberapa peserta langsung memberikan donasi pada saat konser. Total dana yang diperoleh per 29 Juli 2019 sebesar Rp. 32.750.000,00. Program penggalangan dana akan berjalan sepanjang tahun ini dan dikoordinir oleh tim Pokja Bencana FK – KMK UGM.